Bersikap Tenang Dan Kendalikan Emosi

boy-183306__180
Pixabay.com

Kondisi di luar rumah; di pasar, di jalan, dan di tempat-tempat umum lainnya yang ramai dan terkadang semrawut, tentu akan sangat melelahkan fisik. Dan ketika kondisi ini yang terjadi, jiwa kita akan mudah diguncang amarah dan emosi yang sulit dikendalikan, dan telah pula menyatu dengan berbagai kepentingan yang harus segera terlaksana.

Di sana, di luar rumah kita, kita akan bertemu dan bergesekan dengan orang-orang yang punya waktu singkat dan kebutuhan yang sangat mendesak; sedang menuju ke tempat kerja, sedang dinanti oleh keluarga yang sakit, sedang ada janji dengan orang lain, sedang mengejar jadwal keberangkatan, sedang bersiap menghadapi ujian, dan sederetan kepentingan yang mungkin tidak bisa ditunda. Sama seperti kita yang juga sedang berpacu dengan waktu untuk urusan dan kepentingan yang berbeda.

Situasi seperti itu seringkali memancing timbulnya pertarungan-pertarungan yang melelahkan, namun tidak penting dan tidak menghasilkan apa-apa. Dan kalau kita terbawa dengan adegan itu, tidak bersikap tenang, terburu-buru, dan tidak pandai meredam amarah dan emosi, tentu akan melibatkan kita sebagai petarung yang ketika kalah dihina, tetapi jika menangpun tidak dihargai.

Ini sebenarnya bukan perkara rumit, hanya butuh beberapa sikap; kesadaran, ketenangan, dan pengendalian emosi. Tetapi mungkin tidak sempat kita lakukan karena terpikir oleh kita, bagaimana kita bisa segera sampai di tujuan dan menyelesaikan urusan-urusan kita, tanpa mau tahu urusan dan kepentingan orang lain. Padahal sesungguhnya di sinilah pertarungan-pertarungan itu biasanya bermuara. Karena kita saling mempertahankan ego; ingin saling mendahului, berebut di tempat yang terdepan, pada possi yang sebenarnya tidak memberi keuntungan apa-apa.

imageedit_3_2312662329
Pixabay.com

Padahal, andaikata kita mau bersikap tenang, tidak terburu-buru, dan mau menahan emosi mungkin urusan kita akan lebih cepat selesai, dan pasti kita tidak akan terlibat dalam pertarungan yang remeh-temeh. Sebab, jika kita tetap dalam kekeukeuhan kita yang tidak berdasar itu, sebenarnya apa yang ada di benak kita juga ada dibenak orang lain. Sehingga pertarungan pun akan sulit kita hindari.

Alangkah indahnya, jika mau mendengarkan nasehat Rasulullah seperti yang diceritakan oleh Usamah bin Zaid. Ia berkata, “Aku pernah dibonceng Rasulullah menjelang malam dari Arafah. Tatkala matahari hendak tenggelam beliaupun melangkah, dan ketika mendengar hiruk-pikuk orang-orang di belakangnya, beliau berkata, “Pelan-pelanlah kalian! hendaklah kalian tetap tenang, karena kebaikan itu bukanlah ketika kalian memacu tunggangan kalian.”

Demikianlah beberapa catatan yang saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007, semoga bermanfaat.

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s