Tidak Meremehkan Hal-Hal Yang Berbahaya

music-844034__180
Pixabay.com

Tulisan ini saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007. Saya kira ini bermanfaat sebagai bahan renungan bagi kita semua, karena apa yang dibahas dalamnya sangat relevan dengan aktivitas kehidupan kita semua, terutama tatkala  berada di luar rumah. Bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku dan apa konsekwensi jika kita bersikap dan berperilaku tertentu di luar sana…Ikuti teks selengkapnya berikut ini.

Pertarungan remeh-temeh yang kerap kita saksikan di jalan-jalan, sesungguhnya tidak jarang terjadi karena hal-hal yang memang berbahaya, tetapi sebagian orang menganggapnya sepele dan biasa saja. Ini barangkali masalah persepsi, kesenangan, atau kepentingan pribadi sehingga membuat seseorang merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Akan tetapi ketika kita sedang berada di tengah jalan, di mana keselamatan dan nyawa sedang kita pertaruhkan, maka egoisme tidak boleh lagi dikedepankan. Hal yang memang serius harus dianggap serius. Tidak boleh diremehkan. Kita tidak boleh berfikir bahwa, yang penting orang lain tidak tahu, atau alasan apa saja yang kesannya tidak menghargai kondisi dan situasi yang memang tidak kondusif un tuk melakukan hal-hal tertentu.

Ada berita menarik tentang situasi perjalanan yang dimuat oleh sebuah media harian untuk membuktikan hal ini. Di sana ditulas sebuah survey di Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa pengendara mobil menggunakan salah satu tangannya untuk memegang kemudi. Sebaliknya, tangan yang lain lagi usil melakukan aktivitas yang lain. Perilaku demikian, ternyata dilakukan oleh lebih dari 81 porsen pengemudi di negeri itu.

music-844035__180
Pixabay.com

Survey yang dilakukan terhadap 1.200 penegmudi berusia antara 18 sampai 60 tahun, itu menunjukkan delapan dari sepuluh pengemudi mengaku mengubah stasiun radio saat mengemudi. Kemudian 73 porsen mengaku berbicara di telepon, 68 porsen makan,19 porsen mengirim SMS, dan 5 porsen membuka e-mail. Sebanyak 19 porsen pengemudi menyisir rambutnya, 12 porsen memakai riasan, dan 2 porsen mencukur kumis ketika mengemudi. Wakil presiden lembaga survey itu, Bil Windsor mengatakan, “Gejala itu menunjukkan bahwa saat ini orang mempunyai banyak kesibukan, tetapi hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit.”

care-583240__180
Pixabay.com

Orang boleh saja berpendapat seperti itu, yang seolah membenarkan dan mentoleransi perileku-perileku itu terjadi, dan setiap pengendara bisa semaunya beraktivitas untuk menuntaskan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan, meskipun di sela-sela waktunya di tengah perjalanan. Namun, semua kita pasti sepakat bahwa hal-hal itu tidak saja akan mengundang pertarungan-pertarungan kecil, bahkan bencana yang lebih besar pun bisa saja terjadi.

Sering ada hal-hal yang kita anggap kecil padahal berakibat pada masalah-masalah besar, haruslah dianggap sebagai perkara besar. Seperti yang difirmankan Allah swt, “Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah dia adalah besar.” (QS.An Nur:15)

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s