Empty Nest Syndrome

imageedit_10_2305972535
Pixabay

Dulu sewaktu masa-masa kuliah, saya masih ingat ada pelajaran atau mata kuliah yang membahas tetang topik seperti yang saya jadikan judul tulisan ini. Iya, ini mata kuliah psikologi karena membahas perilaku manusia sebagai refleksi dari kondisi emosional dan sosialnya. Saya juga masih ingat betul ketika dosen mata kuliah tersebut menjelaskan, bahwa sindroma atau gejala perasaan kehilangan yang dialami oleh orang tua (parent) pada saat dimana anak-anak mulai meninggalkan rumah mereka (orang tua mereka) karena berbagai alasan. Pada saat itu, orang tua akan mengalami apa yang disebut dengan Empty Nest Syndrome.

Mereka merasa seakan berada di sebuah sarang kosong atau rumah tanpa seorangpun kecuali mereka berdua. Dalam wikipedia.com yang saya kutip dijelaskan bahwa, “Empty nest syndrome is a feeling of grief and loneliness parents may feel when their children leave home for the first time, such as to live on their own or to attend a college oruniversity. It is not a clinical condition.”

Perasaan seperti ini memang akan dialami oleh setiap orang tua terutama si ibu ketika anak-anak mulai meningalkan rumah karena berbagai alasan, misalnya mereka pergi merantau ke luar kota atau keluar negeri untuk kuliah, menikah dan membentuk rumah tangga sendiri, meninggal dunia atau karena berbagai sebab lainnya. Orang tua akan merasa sedih dan rindu serta kesepian yang cukup bahkan sangat menekan perasaan untuk pertama kali, namun simptom ini biasanya akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Adalah hal yang wajar dan normal ketika anak-anak dewasa muda ini pergi meninggalkan rumah untuk sesuatu alasan seperti yang dipaparkan di atas. Namun akan dirasakan sekali oleh orang tua mereka, terutama oleh si ibu yang biasanya hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurus dan merawat anak-anak mereka sejak kecil hingga dewasa.

Pertanyaannya, apakah semua orang tua atau pasangan usia lanjut ini akan mengalami sindroma sarang kosong ini? Jawabannya relatif, bergantung pada kesiapan mental dan juga pemahaman dan penghayatan mereka tentang nilai-nilai dan agama yang mereka anut. Juga tergantung apakah mereka tergolong orang tua yang sulit menerima perubahan yang terjadi dalam hidup mereka, atau sebaliknya. Karena ada orang tua yang tidak terlalu peduli dengan perasaan kehilangan semacam itu dan mereka bisa menyiasatinya dengan membuat agenda-agenda kesibukan sendiri untuk mengisi waktu luang di hari tua mereka, misalnya setelah pension dari pekerjaan, meskipun di rumah hanya tinggal mereka berdua.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa seorang ibu yang bertindak sebagai pengasuh

utama bagi anak-anaknya lebih mungkin akan mengalami sindroma sarang kosong ini dibanding seorang ayah. Namun penelitian lain juga menunjukkan bahwa beberapa ayah mengungkapkan perasaan bahwa mereka tidak siap dalam menghadapi transisi emosional yang terjadi sebagai akibat anak-anak mereka meninggalkan rumah. Sementara yang lain menyatakan perasaan bersalahnya atas kehilangan kesempatan untuk lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka, sebelum mereka meninggalkan rumah.

Menurut Rahmah (2006), penyesuaian awal yang harus dilakukan adalah penyesuaian terhadap keluarga yang dalam hal ini berarti pasangan hidup atau suami, dan secara otomatis menyebabkan harus dilakukannya perubahan peran.

Perubahan peran seorang ibu akan menjadi awal penyesuaian diri menghadapi sindrom sarang kosong. Seorang ibu yang masih memiliki pasangan, cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan ibu yang sudah tidak memiliki pasangan. Keberadaan pasangan sangat berpengaruh dalam mencapai keseimbangan diri seorang ibu setelah kepergian anak, karena orientasi peran dalam hidup kembali berpusatkan pada pasangan. Selain itu, keberadaan pasangan juga mampu mereduksi kesedihan dan rasa sepi pada diri seorang ibu. Untuk ibu yang sudah tidak didampingi pasangan, cenderung mengorientasikan diri pada kegiatan diluar rumah. Dengan melibatkan diri pada kesibukan dan keramaian di luar rumah, seorang ibu mendapatkan kompensasi atas rasa kehilangannya terhadap anak-anak.

Kemudian bersamaan dengan berjalannya waktu sebagai pemicu munculnya kebiasaan, seorang ibu akan keluar dari sindrom sarang kosong. (Rahmah, N. (2006) Penyesuaian Diri Ibu Menghadapi Sindrom Sarang Kosong. http://www.adln.lib.unair.ac.id. Diakses 26 Agustus 2008.)

Dari uraian di atas saya hanya bisa mengatakan bahwa gejala sarang kosong ini tidak perlu menjadi momok bagi siapapun, asalkan kita bisa menyiasati masa-masa itu dengan berbagai aktivitas positif dan bisa membangun kembali hubungan yang lebih baik lagi dengan pasangan kita, juga dengan orang lain di sekitar rumah kita.

Demikian beberapa coretan singkat di pagi hari ini, semoga bermanfaat. Atau ada pandangan dan pemikiran yang berbeda dari para pembaca? silakan dishare di kolom komentar di bawah ini.

SPARK OF CONTENT :.

In wikipedia.com I quoted an opinion that explains that, “Empty nest syndrome is a feeling of grief and loneliness parents may feel when Reviews their children leave home for the first time, such as to live on their own or to Attend a college or university. It is not a clinical condition. “This kind of feeling will indeed be experienced by every parent, especially the mother when the children started leaving home for various reasons, for example, they go wander out of town or out of state for college, marry and form households alone, dies or for various other reasons. From the above, I can only say that the symptoms of empty nest does not have to be a scourge for anyone, as long as we can get around that period with a variety of positive activities and can rebuild a better relationship again with our partner, also with others in around our homes and with our social environment more broadly.

Artikel lainnya :

  1. Keutamaan menjaga lisan
  2. Cara membuat halaman depan statis pada blog
  3. Bolehkan menonton permainan sulap?
  4. Menyegerakan berbuat kebaikan dan bahaya menundanya
  5. Semuanya sudah sangat terlambat
  6. Selalu ada bahagia di penghujung kesedihan
  7. Riya’ dan cara menghindarinya
  8. Dikir pagi dan petang dan keutamaannya
  9. Untuk apa kita diciptakan?
  10. Munajat tak pernah putus
Advertisements

Bahagia Itu Milik Orang Beriman

6335767853_8074207337_z
Yahoo image.com

Sungguh kebahagiaan itu benar-benar menjadi dambaan setiap orang, siapapun dia  dan apapun agama dan keyakinan yang dianutnya. Maka berimanlah anda secara penuh pada agama yang anda peluk saat ini, jangan setengah-setengah, insya Allah anda pasti bahagia. Bahagia yang dimaksudkan pada judul tersebut adalah kebahagiaan yang hakiki dan langgeng yang letaknya di dalam hati setiap orang yang beriman. Jadi bahagia itu betul-betul hanya miliki orang-orang beriman. bukan milik orang-orang yang tidak beriman. Mengapa bisa begitu keadaannya? Karena kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang beriman itu adalah bersumber dari keimanannya kepada Tuhan (Allah Shubhanahu wata’ala) untuk muslim/mukmin.

Terkait hal ini saya mengutip beberapa alenia dari tulisan Ibnu Anwar berikut ini.

“Kebahagiaan adalah sebuah keadaan di mana hati manusia merasakan kedamaian dan ketenteraman. Keadaan tersebut tidak bergantung pada wujud kebendaan atau raga manusia, melainkan bergantung pada suasana dan keadaan ruhani mereka masing-masing. Semenjak kebahagiaan selalu terletak di dalam hati, maka keterbatasan raga seperti apapun yang dimiliki oleh manusia pada dasarnya tak akan pernah menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka.” (Era Muslim-Media Islam Rujukan)

Ketenangan dan kebahagiaan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Tentang hal ini Allah berfirman:

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al Fath [48]: 4)

Demikian Allah shubhanahu wata’ala menjelaskan dalam firman-Nya bahwa orang-orang beriman akan mendapatkan tambahan dalam hati mereka ketenangan (sakinah) dari Allah shubhanahu wata’ala sehingga keimanan mereka akan selalu bertambah dari waktu ke waktu, tentu saja sesuai dengan keteguhan hati (istiqomah) mereka dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)

Mengapa orang-orang beriman selalu bahagia? Beberapa kutipan berikut ini adalah jawabannya, juga karena :

  1. Visi dan misi hidupnya di dunia yang sebentar ini sangat jelas arah tujuannya yaitu ingin sekali ridho Alloh, tidak geer karena pujian, tidak sakit hati karena hinaan, tidak minder karena keadaan, tidak mudah menyerah menghadapi ujian hidup (QS. Al-Bayyinah : 5) “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
  2. “Al iimaan al amnu”, iman kepada Alloh itu membuat hidupnya tenang, damai, aman dan bahagia sekali (QS. al-An’am : 82) Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
  3. Tidak ada yang ditakutinya selain Alloh (QS. Al-Baqoroh : 150) “Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”
  4. Ia serius taat, tidak maksiat (QS. Yunus : 62). “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
  5. Selalu baik sangka, tidak berprasangka buruk, tidak ada dengki dan tidak suka mencari aib orang lain, justru ia sibuk dan asyik muhasabah diri (QS. Al-Hujarat : 12) “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
  6. Keinginannya yang kuat untuk bahagia di akhirat itulah yang membuatnya sibuk dengan ibadah, amal sholeh, kemuliaan akhlak dan semangat dalam perbaikan dan kebaikan (QS. Al-Ankabut : 69) Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
  7. Tawakkalnya yang kuat kepada Alloh sehingga ia pun dalam perlindungan Alloh (QS. Ath-Tholaq : 3). “……Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Muhammad W.Budiman, Cahaya Wahyu-Menerangi Seluruh Alam Raya)
th (85)
Yahoo image

Dari urairan di atas dapat saya simpulkan bahwa bahagia itu hanya milik orang-orang beriman. Mengapa, karena orang-orang beriman sajalah yang senantiasa inggat pada Allah Shubhanahu wata’ala. “ALAA BIDZIKRILLAHI TATHMAINNUL QULUB” Yang artinya : “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang” (QS. Ar Ra’du :28). Tidak akan pernah ada kebahagiaan dalam diri dan hati orang-orang yang tidak beriman, selain hanya kesenangan dan kepuasan yang sifatnya sesaat karena hanya bersumber dari harta dan dunia. Karena mereka tidak punya visi yang ingin di raih di akhirat kelak@ Wallahu a’lam.

Demikian yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini, barangkali ada pandangan yang berbeda dari para pembaca, saya tunggu share-nya.

SPARK OF CONTENT :

Tranquility and happiness is a gift of God which is given only to those who believe. Concerning this Allah says: “It is He Who sent down tranquility into the hearts of the believers so that their faith to grow in addition to their faith (which already exist). And Allah belong the armies of heaven and earth and Allah is ever Knower, Wise. “(QS. Al-Fath [48]: 4) Why are people of faith are always happy? because: 1. The vision and mission of his life in a world that is very clear briefly toward his goal of wanting all the blessings of Allah, 2. “Al iimaan al amnu” faith in Allah that makes life calm, peaceful, secure and happy once, 3. No feared besides Allah, 4. he seriously disobedient, immoral, 5. Always good thought, no prejudice, no envy and dislike looking disgrace of others, instead he was busy and engrossed muhasabah themselves, 6. strong desire to happy in the afterlife that’s what makes it busy with worship, pious charity, moral glory and the spirit of improvement and kindness, 7. Strong faith to Allah that he was under the protection of Allah Almighty God.

Related articles :

  1. Bertaubatlah sebelum ajal menjemput
  2. Etika memberi nama anak dalam Islam
  3. Ingat dan pelihara selalu tujuan baik
  4. Bersikap tenang dan kendalikan emosi
  5. Menghargai hak dan kepentingan orang lain

Lihatlah Ke Bawah

children-63175__340
Pixabay

Dengan sedikit menyimak judul di atas, anda sudah bisa menebak apa sebenarnya makna yang terkandung dalam ungkapan itu. Dalam sebuah hadisnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan para sahabatnya dan tentunya kepada kita semua, agar melihat ke bawah yaitu melihat dengan mata hati akan orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Beliau juga mengingatkan bahwa ketika anda melihat orang-orang di level atas yang memiliki beberapa kelebihan harta dan segala fasilitas yang tidak atau belum kita miliki, maka segeralah anda merenungkan bahwa ternyata kita masih lebih beruntung dibandingkan orang-orang di level bawah kita dalam hal harta dan dunia.

Dengan demikian, mudah-mudahan kita tersadarkan dan segera bersyukur atas begitu banyak nikmat Allah shubhanahu wata’ala yang telah kita terima selama hidup. Dan insya Allah kita akan tetap merasa bahagia secara batiniah meski tidak berlimpah harta.

Dalam hidup ini kita pasti menginginkan punya harta dan segala fasilitas yang memudahkan kita untuk mendapatkan kenyamanan hidup atau boleh disebut dengan kebahagiaan hidup di dunia (sifatnya materi). Dan hal ini adalah sesuatu yang wajar, dan agama juga tidak melarang kita untuk itu, asalkan tidak sampai berlebihan dan menghalalkan segala cara dalam mendapatkanya. Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil, dan seterusnya sampai pesawat pun dia inginkan. Itulah watak manusia yang tidak pernah puas.

Agar kita tidak mudah melupakan atau meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan-Nya kepada kita, maka Rasulullah mengingatkan kita sebagaimana sabdanya berikut ini :

Rasulullah SAW bersabda: “lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari pada kamu dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka hal itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah atasmu.” (Muutafaq ‘Alaih)

Penjelasan Hadits

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menyuruh kaum muslimin agar memandang orang yang berada di bawah mereka, baik mengenai bentuk dan rupa tubuhnya, kesehatan dan kesejahteraannya, harta dan kekayaannya maupun yang lain-lainnya. Dengan cara demikian, mereka akan merasa beruntung dan lebih baik keadaan mereka dibandingkan dengan yang dibawah standar nasib mereka.

Sebaliknya Rasulullah SAW melarang kaum muslimin memandang orang yang di atas mereka sebab dapat menimbulkan rasa kecil hati dan rendah diri dan bahkan bukan mustahil dapat menimbulkan rasa kecewa, menyesal diri dan mungkin timbul persangkaan yang buruk kepada Allah SWT bahwa Dia tidak memperhatikan keadaan dirinya atau pilih kasih dalam pemberian nikmat.

Jika orang sudah tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia punya, maka dia akan terus berangan-angan dan bahagiakah yang dia rasakan? Hanya dia yang tahu jawabannya, tetapi umumnya orang mengatakan bahwa orang seperti itu, tidak bahagia karena tidak pernah merasa puas. Karena itu, sekali lagi saya harus mengatakan di sini, bahwa bahagia itu sederhana sekali, yaitu cukup menerima apa yang kita miliki, lalu mensyukurinya karena itu pemberian Allah shubhanahu wata’ala.

Melihat ke atas, tidak juga dilarang asalkan dalam hal-hal yang bisa memotivasi kita untuk mendapatkanya, seperti melihat orang-orang yang tingkat pendidikannya tinggi. Kaum muslimin dibenarkan melihat orang yang lebih tinggi derajatnya, khusus dalam masalah ketaatan dalam menjalankan agama (dalam hal kebaikan yang bernilai agama) atau dalam menuntut ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan yang bernilai agama. Melihat ke bawah, sebenarnya adalah sebuah jalan menuju kebahagiaan batin, yang pada gilirannya akan menjadikan badan kita sehat. Melihat ke bawah dalam hal harta dan dunia insya Allah akan membuat kita bisa lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi hidup ini…Wallahu a’lam.

Demikian catatan singkat sebagai refleksi hari-hari ku, semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Look down, to those who are less fortunate than us. Thus, hopefully we awakened and immediately give thanks to Allah Almighty God for so many blessings that we have received during our life. And God willing, we will continue to feel happy inwardly though not abundant treasures. Looking up, nor prohibited as long as the things that can motivate us to obtain them, such as seeing people who are high-level education and we are motivated. Looking down, is actually a path to inner happiness, which in turn will make our body healthy. Looking down the world in terms of wealth and God willing, will allow us to be wise and prudent in dealing with this life.

Mau Bahagia? Buatlah Orang Lain Bahagia

imageedit_22_4533264037
Spreadthepearl.com

Hanya Bila Anda Sungguh Percaya. Ada semacam hukum kausalitas, sebab akibat atau apalah istilahnya. Dan itu, memang demikianlah adanya hidup ini. Jika kita ingin senang maka buatlah orang lain senang. Berbagilah kesenangan itu sekecil apapun dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, jika ingin hidup kita sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Lalu, Siapa sih yang dimaksud dengan orang lain itu? Orang lain itu adalah semua orang selain diri kita sendiri. Mulai dari orang-orang di lingkungan keluarga kita sendiri, hingga seluas-luasnya (semampu kita) untuk menjangkaunya.

Kembali pada kalimat sebelumnya, bahwa jika kita ingin hidup sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Ah sadis benar, masa sih ada orang yang mau sengsara, tak mungkinlah itu, pasti semua pengen senang dan bahagia, nah itu yang benar. Dan Lakukanlah itu, hanya jika anda sungguh-sungguh percaya akan kebenaran pernyataan judul artikel di atas.

Memang, hukum atau rumus seperti yang kita diskusikan di atas juga bisa terbantahkan oleh sebagian realita kehidupan sosial kita. Kenyataannya, ada loh orang atau sebagian orang yang baru merasakan senang atau sukacita apabila melihat teman atau tetangganya susah. Percaya nggak anda, bahwa ada kenyataan semacam itu? Subhanallah, tapi kenyataan seperti itu memang ada, namun tidak perlu kita perpanjang membahasnya di sini.

Contoh Kecil Saja

Lalu yang penting kita bicarakan di sini adalah, bagaimana kita bisa menyenangkan orang lain, itu dulu.

Mengapa? karena hal ini amat sangat erat kaitannya dengan diri kita sendiri. Sesungguhnya, pada saat kita menyenangkan hati orang lain,  maka orang yang pertama kali merasakan kesenangan itu adalah diri kita sendiri, benarkan? Tapi dengan cara apa kita bisa menyenangkan orang lain? Anda tentu mengerti, bahwa untuk menyenangkan hati orang lain, tidak perlu dengan memberinya sesuatu yang mahal, atau yang sifatnya material, tapi mungkin cukup dengan hanya senyum yang tulus dan sapaan yang ramah tatkala bertemu. Atau juga ketika anak-anaknya rewel minta sesuatu, kebetulan ada uang receh di saku kita lalu dengan itu anaknya diam. Contoh kecil saja, Betapa senangnya anda, atau kita, ketika blogwalking kemana-mana, memberikan like dan juga komentar di blog teman, lalu temannya membalas memberikan komentar dan juga likenya, tidak hanya itu diapun membalas mengunjungi blog kita dan memberikan komentar dan likenya di blog kita, masya Allah, Indahnya hidup yang diwarnai silaturrahmi semacam ini. Sungguh, mungkin ini skenario Allah Shubhanahu wata’ala, yang menggerakkan hati dan juga tangan saya untuk menuliskan sekelumit catatan akhir tahun ini. Semoga menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi saya ke depan.

Karakter Manusia Beda-Beda

Tapi ingat, jangan terlalu banyak berharap pada sesama manusia, karena jika anda terlalu berharap banyak pada sesama manusia, anda akan kecewa. Mengapa, karena manusia karakternya beda-beda. Ada yang humanis, religius, egois, sosial, individualis dsb. Ada yang kejam, bengis, dan banyak lagi yang lainnya. Tapi jika digolongkan secara garis besar, maka karakter manusia itu hanya ada dua, yaitu manusia yang berkarakter baik dan manusia yang berkarakter buruk. Tapi di sini, kita juga perlu hati-hati dalam melihat dan menilai kondisi seseorang dengan siapa kita berinteraksi. Sebab belum tentu niat baik kita ingin menyenangkan orang lain akan direspon dengan baik pula. Karena akan sangat tergantung pada kondisi sosial psikologis seseorang pada saat itu. Ah…kejauhan pembahasannya. Saya hanya ingin membicarakan karakter manusia yang baik, karena dialah yang bisa diharapkan bisa memberikan atau membuat orang lain merasa bahagia, dan tak akan pernah bisa diemban oleh orang-orang dengan karakter buruk kecuali dia telah mendapatkan hidayah dari Tuhan. Tapi tentu, dengan banyak berharap kepada Allah, bukan berarti kita tidak lagi membutuhkan sesama, nah yang ini justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jadi yang benar adalah keseimbangan atau keselarasan antara hubungan kita dengan sesama dan hubungan kita dengan Allah. “Hablum minannaas wa hablum minallaah”.

Berharaplah Kepada Allah Swt

Berharap kepada manusia atau orang lain adalah hal yang lumrah bagi kita, karena kita saling membutuhkan dan saling ketergantungan dengan orang lain dalam hidup kita bermasyarakat. Tapi jangan terlalu berharap banyak. Berharaplah banyak-banyak kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang, maka anda dan kita semua pasti tidak akan pernah kecewa. Karena Dia-lah yang menjamin dan mengenggam di tangan-Nya nasib dan peruntungan semua hamba-Nya. Karena itu, jika anda ingin bahagia maka buatlah orang lain bahagia. Buatlah mereka senang ketika bersama anda, jangan pernah anda membuat mereka kecewa apalagi sengsara, dan berharaplah sebanyak-banyaknya kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah menyalahi janji-“Innallaha laa yukhliful mii’aad.

Demikianlah sekelumit cetusan pemikiran saya minggu ini, semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Share the slightest pleasure with others to see you happy, and vice versa if you want to be miserable then make others difficult. Why is that? because we as a people can not be separated from the others and therefore, their happiness is our happiness too