Mestinya Kita Malu Pada Se-ekor Lebah

imageedit_3_3161357522
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Belajar Dari Seekor Lebah

Seekor hewan kecil mungil yang bermanfaat besar bagi mahluk yang lainnya terutama manusia. Itulah dia seekor lebah, yang pola dan gaya hidupnya penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan. Cara kerjanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya begitu mengagumkan, bukan hanya karena ia selalu memakan sari bunga yang bersih dan manis, tapi juga ia tak pernah membawa masalah atau kerusakan pada dahan dan ranting pohon atau bunga tempat ia mengambil sarinya. Ia hanya mengambil sari dari setiap bunga secukupnya, tidak akan pernah berlebihan, sehingga pohon dan bunganya tetap hidup dan tidak akan terganggu hidupnya karena dihisap sarinya oleh seekor lebah. Dan, di sini “mestinya kita malu pada seekor lebah.”

Masya Allah, mengapa kita harusnya malu? Ya karena manusia (kita ini), sudah diberi akal dan pikiran dan juga hati untuk membaca dan menganalisa serta merenungkan ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’ala, baik ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah-Nya yang bisa kita jadikan pelajaran (ibrah) sebagaimana halnya pada seekor lebah. Memang sih, seekor lebah yang pola dan gaya hidupnya yang penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan itu sudah diseting sedemikian rupa dari sananya oleh Allah Shubhanahu wata’ala, tapi pertanyaannya, apakah kita tidak merasa malu pada Tuhan yang telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya pada kita? Tentu saja kita pasti merasa malu jika kita memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Karena hanya orang-orang beriman yang memiliki rasa malu.

Agar kehidupan ini menjadi indah, menyenangkan dan sejahtera tentu membutuhkan manusia-manusia seperti itu, yang sifat dan karakter dirinya seperti lebah.  Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Hal ini memberi inspirasi dan pelajaran kepada kita, bagaimana seharusnya kita mencari dan mendapatkan rezeki yang halal dan baik untuk kita dan anak serta istri kita di rumah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)-(Dakwatuna.com)

Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)-(Dakwatuna.com)

Ada beberapa sifat dan karakter dari seekor lebah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dan sebagai pola hidup, di antaranya :

1.  Kehadirannya bermanfaat dan tidak merusak.

Tubuhnya yang kecil mungil membuat ia mampu terbang dan hinggap di mana saja tanpa merusak tempat di mana ia berhenti. Sekecil apapun dahan dan ranting pada pohon atau bunga yang ia hinggapi tak akan ada yang patah. Hal ini memberikan inspirasi kepada kita untuk selalu bisa beradaptasi dengan baik di manapun kita berada, dan tidak membawa masalah atau kerusakan di lingkungan itu dan sedapat mungkin bisa membawa manfaat dan kebaikan bagi lingkungan di manapun kita berada.

2.  Tidak mengganggu jika tidak diganggu.

Yang ini adalah sifat kesatria, di mana ia akan bersikap bersahabat dan tidak membahayakan siapapun sepanjang tidak diganggu. Tetapi sekali ia diganggu, maka mereka serempak akan menyerang dan mengejar musuh atau pengganggunya ke manapun pergi meskipun musuhnya bersembunyi (menyelam)di sungai, mereka tetap akan menunggu hingga muncul kembali dan segera menyerang dan menyengat. Hal ini merupakan pelajaran bagi kita dalam mempertahankan harga diri dan kehormatan diri maupun keluarga, bangsa dan negara kita apabila ada orang atau pihak yang mencoba menggangu dan menginjak-injak kehormatan diri dan bangsa, maka taruhannya adalah nyawa sekalipun.

3.  Tidak menghasilkan kecuali yang terbaik.

imageedit_13_9838238824
Pixabay.com

Seekor lebah dalam mencari bahan makanan tidak akan pernah mendatangi tempat atau sumber yang kotor. Ia akan selalu memilih sumber-sumber makanan yang bersih, segar dan tentunya yang manis, sehingga ia tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali dengan kualitas terbaik. Dengan sifat dan karakter lebah seperti ini, maka kita dapat mengambil pelajaran, tentang bagaimana seharusnya kita memilih yang terbaik di antara sekian banyak rezeki dan karunia yang disediakan oleh Allah shubhanahu wata’ala untuk kita persembahkan buat keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Dengan demikian kita bisa berharap akan menghasilkan juga kemanfaatan dan kebaikan bagi keluarga dan mansyarakat di lingkungan kita.

Demikian catatan singkat ini, semoga bermafaat dan kita bisa mengambil pelajaran dari sifat dan falsafah hidup seekor lebah. Wallah a’lam.

SPARK OF CONTENT :

Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam said, “The Parable of the believers are like bees. He is eating clean, pull something clean, perched on a clean and does not damage or break (its host). “(Ahmad, Al-Hakim, and al-Bazzar). There are several nature and character of a bee that we can take it as a lesson and as a pattern of life, including: 1. It’s beneficial presence and not damage  2. Unobtrusive if it is not  disturbed  3. It does not produce but the best. How it works in meeting their needs so remarkable, not just because he always takes the nectar of flowers were clean and sweet, but he never brought any problems or damage to the branches and twigs of trees or flowers where he took the juice. He just took the essence of each flower to taste, will never be excessive, so the trees and flowers are still alive and will not be disrupted her life because the juice is sucked by a bee. And, “we should be ashamed of a bee.”

Related articles :

  1. Ya Allah, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami
  2. Mengenal dan memiliki visi ke surga
  3. Demi masa
  4. Manfaat puasa bagi kesehatan
  5. Syukurilah semua pemberian Allah pada kita
  6. Maafkanlah orang lain dengan ikhlas, anda akan sehat
  7. Cinta dan benci karena Allah
  8. Belajar ikhlas dalam beramal dan beribadah
  9. Bait-bait rindu
  10. Ijinkan aku bercerita

Riya’ Dan Cara Menghindarinya

imageedit_5_8457466341
Pixabay

Riya’ atau boleh juga disebut pamer amal. Jadi, apapun yang kita miliki, kita lakukan, kita tampakkan kepada manusia dengan tujuan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, adalah riya’. Salah satu, atau mungkin satu-satunya sifat manusia yang sulit dihindari kemunculannya dari dalam hati kita adalah sifat riya’. Saking sulitnya untuk dihindari, hingga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun sangat mengkhawatirkan sifat riya’ ini akan menghinggapi umatnya di dalam beribadah dan melakukan amal-amal kebaikan mereka.

Kekhawatiran Nabi ini bisa kita ketahui dari sabdanya, berikut ini :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

Yang artinya : “Sesungguhnya yang paling ditakuti dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashgar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashgar ya Rasulullah? Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab ‘ar riya’.” (HR Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid no.27742).

Strategi Atau Cara Mengatasi Riya’

Dari beberapa referensi yang ada, cukup banyak cara atau strategi untuk mengatasi sifat riya’. Pada postingan ini, saya mengutip 4 (empat) strategi atau cara yang bisa kita upayakan untuk mengatasi bahaya dari sifat riya’ ini, yaitu sebagai berikut :

Pasang niat dalam hati kita, agar semua amal ibadah yang akan kita kerjakan tidak untuk mengharapkan sanjungan dan pujian dari orang lain, tetapi semata-mata ikhlas karena Allah Ta’ala.
Upayakan amalan-amalan yang sekiranya bisa disekitambunyikan pelaksanaannya, agar disembunyikan atau dirahasiakan dari mata orang lain. Misalnya amalan seperti sedekah, berdzikir, puasa, dan lain-lain.
Menyadari akan bahaya riya. Dengan kesadaran bahwa sifat riya; sesungguhnya merupakan sebuah virus penyakit yang dapat menggerogoti semua amal kebaikan , yang dengan kesadaran itu insya Allah kita akan dapat mengontrol hati kita untuk tetap fokus beramal hanya untuk mengharapkan ridho dan rahmat Allah.
Iringi selalu semua amal ibadah yang kita lakukan dengan do’a. Bacalah do’a untuk menghindari riya’ atau syirik kecil ini, sesuai yang diajarkan oleh Nabi kita, berikut ini.
اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه

“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”(HR.Ahmad)

Beberapa Bentuk Riya’

Bentuk-bentuk riya’ beraneka ragam warnanya dan coraknya. Bisa berupa perbuatan, perkataan, atau pun penampilan yang diniatkan sekedar mencari popularitas dan sanjungan orang lain, maka ini semua tergolong dari bentuk-bentuk perbuatan riya’ yang dilarang dalam agama Islam.

Hukum Riya’

Riya’ merupakan dosa besar. Karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil. Sebagaimana hadits di atas dari shahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.”
Selain riya’ merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam mara bahaya.

Jika terlintas di hati kita keinginan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, maka sadarlah bahwa hal itu adalah salah satu penyakit riya yang membawa kepada kemurkaan Allah, dan segeralah mengusirnya dari pikiran dan hati kita, karena itu bisikan syetan. Sebagaimana diketahui bahwa keinginan agar orang lain mengetahui dan menyanjung apa yang kita lakukan merupakan syahwat yang dihembuskan setan untuk membawa kepada perbuatan riya. Oleh karenanya, dengan mengetahui bahaya dari perbuatan riya semoga akan menimbulkan kebencian terhadap melakukan perbuatan itu.
Riya’ atau syirik kecil ini sangat berbahaya bagi keikhlasan amal ibadah kita kepada Allah, karena itu hendaknya kita bisa membangun komitmen dan tekad yang kuat untuk melawan dan menolak kehadirannya dalam hati kita. Itulah riya’ dengan segala bentuk rupa, dan bahayanya. Semoga dengan empat cara di atas, kita bisa mengatasi bahaya riya’ dan semoga tulisan ini bermafaat, aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab
Dikutip dari beberapa sumber terkait…

SPARK OF CONTENT :

One, or perhaps the only human nature that is difficult to avoid emergence of our hearts is the nature of riya ‘. Because of the difficulty to be avoided, until our Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam was very concerned about the nature of riya’ will befall his people in worship and doing their good deeds. When it comes to our hearts the desire for adulation and praise from others, then realized that it was one of riya disease that leads to wrath, and immediately expelled from our minds and hearts, as it satanic whispers. As we know that the desire to let others know and flatter what we do is lust exhaled devil to bring to deed riya. Therefore, knowing the dangers of the act of riya hopefully will lead to hatred against committing such crimes.
Riya ‘or minor shirk is very dangerous for our deeds sincerity to God, therefore we should be able to build commitment and determination to resist and reject the presence in our hearts. That riya ‘with all such forms, and all of its dangerous impacts.

Berjanji ? Yuk, Kita Tepati Jangan diingkari

imageedit_30_7116062443
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam hidup ini, setiap orang pasti pernah berjanji, atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, dan hal itu adalah sesuatu yang lazim dalam hubungan kita dengan orang lain atau hidup bermasyarakat. Apakah janji itu berupa iming-iming suatu pemberian yang membuat orang lain merasa senang dan sangat mengharapkannya, atau hanya berupa janji untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat dan waktu tertentu, dan tentu masih banyak lagi macam janji.

Yang pasti janji atau lebih tepatnya berjanji itu boleh dan tidak dilarang dalam Islam, asalkan janji itu ditepati. Yang dilarang adalah mengingkari janji dan apabila itu terjadi, maka itu adalah dosa.

Dalam Al qur’an Allah Subhanahu wata’aala berfirman,

“Dan tunaikanlah janji kalian. Sungguh, janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra`:34).

Kemudian di surat lain dalam Al Qur’an Allah berfirman,

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (QS. An-Nahl:91).

Lalu Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengobral janji mereka (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka, mereka itu tidak akan mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan menyapa mereka dan tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka.

Bagi mereka azab yang pedih” (QS. Ali ‘Imran:77).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka” (QS. Annisa:145).

Itulah beberapa ayat suci Al ur’an yang menerangkan tentang janji, dimana apabila janji ditepati maka pelakunya akan diganjar dengan pahala berupa ditempatkan di surga, dan orang yang tidak menepati janji atau ingkar janji, maka dia termasuk golongan orang munafik, maka tempatnya adalah di neraka, bahkan di neraka paling bawah.

Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalaam dalam sabdanya,

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Muslim)

“Tiga hal, siapa pun yang ada pada tiga hal itu disebut munafik, kendati ia berpuasa, mengerjakan shalat, dan mengaku dirinya Muslim. Yaitu apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyalahi janji, dan apabila dipercayai ia berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim).

Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati. Oleh karena itu, Allah SWT. memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah SWT., janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar.

Itulah perbedaan antara seorang mukmin dan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya, bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)

Semua orang tidak akan suka kepada orang yang “ingkar janji”. Karenanya, cepat atau lambat dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka. Karena Ingkar janji terhadap siapapun tidak dibenarkan dalam Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela.

imageedit_4_2315913699
Pixabay.com

Dari penjelasan Al Qur’an dan hadits di atas, kita dapat mengatakan bahwa berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain (untuk kebaikan) itu tidaklah dilarang, asalkan yang membuat janji itu menepatinya, dan menepati janji itu hukumnya wajib. Oleh karena itu, ketika berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, maka biasakanlah berjanji, dengan mengucapkan kalimat, Insya Allah. semoga Allah mengijinkan kita.

Apabila karena ada satu dan lain hal janji tersebut tidak atau belum bisa ditepati, maka hendaknya harus ada penjelasan kembali mengenai alasan-alasan mengapa sebuah janji belum bisa dipenuhi, termasuk di dalamnya penjadwalan kembali (rescheduling) waktu-waktunya. Ini semua harus dilakukan agar orang lain di mana janji tersebut ditujukan, tidak merasa dibohongi dan tidak kecewa.

Semoga kita tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang suka mengingkari janji untuk selamanya hingga ajal menjemput, aamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

SPARK OF CONTENT :

In Islam, the promise is actually equal to the debt. So it must be kept and shall not be denied. As in the case of the debt, if we owe something to someone then let the debt was paid in accordance with the contract or agreement that was created earlier. So, keeping promises is part of the faith. Those who do not keep the agreement then there is no religion for him. So anyway such broken promises, including signs and proof of their hypocrisy that ugly treason and destruction of the heart. Therefore, Allah the Almighty God commanded His believing servants to always keep, maintain, and carry out his promise. This includes the appointment of a servant to Allah, promise slave with a slave, and a promise to himself as nadzar.

Untuk Apa Kita Diciptakan?

imageedit_1_4036582253.jpg
pixabay.com

Sebuah pertanyaan penting yang harus segera kita temukan jawabannya agar hidup kita di dunia yang fana ini terarah dan memiliki tujuan yang jelas. Bila kita sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan ini, maka kita sudah memiliki pemahaman tentang makna dari pertanyaan judul di atas, dan dengan demikian minimal kita sudah memiliki arah yang jelas dan pasti untuk dituju dalam perjalanan panjang atau pendek hidup kita di dunia ini. Untuk itu, berikut ini saya ambilkan sebuah artikel yang saya reblog dari bekas blog saya yang sudah tidak bisa lagi saya kelola karena akunnya sudah disuspend yah. Namun masih bisa diakses dari luar untuk melihat dan membaca kembali konten-konten yang ada di sana. Selamat membaca!

Straight Path

Kehidupan di dunia pada dasarnya hanyalah senda gurau atau main-main saja. Orang akan semakin merugi bila tidak tahu untuk apa ia diciptakan Allah dan menjalani kehidupan di dunia ini.

Kalau kita melihat besarnya kekuasaan Allah, niscaya kita akan segera mengucapkan “Allahu Akbar”, “Subhanallah”. Allah menciptakan langit tanpa tiang serta semua bintang yang menghiasinya dan Allah turunkan darinya air hujan dan tumbuh dengannya segala jenis tumbuh-tumbuhan. Bumi terhampar sangat luas, segala jenis makhluk bertempat tinggal di atasnya, berbagai kenikmatan dikandungnya dan setiap orang dengan mudah bepergian ke mana yang dia inginkan.

Binatang ada dengan berbagai jenis, bentuk, dan warnanya. Tumbuh-tumbuhan dengan segala jenisnya dan buah-buahan dengan segala rasa dan warnanya. Laut yang sangat luas dan segala rizki yang ada di dalamnya semuanya mengingatkan kita kepada kebesaran Allah dan ke-Mahaagungan-Nya.

Kita meyakini bahwa Allah menciptakan semuanya itu memiliki tujuan dan tidak sia-sia. Maka dari itu mari kita berlaku jujur pada…

Lihat pos aslinya 1.235 kata lagi