Riya’ Dan Cara Menghindarinya

imageedit_5_8457466341
Pixabay

Riya’ atau boleh juga disebut pamer amal. Jadi, apapun yang kita miliki, kita lakukan, kita tampakkan kepada manusia dengan tujuan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, adalah riya’. Salah satu, atau mungkin satu-satunya sifat manusia yang sulit dihindari kemunculannya dari dalam hati kita adalah sifat riya’. Saking sulitnya untuk dihindari, hingga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun sangat mengkhawatirkan sifat riya’ ini akan menghinggapi umatnya di dalam beribadah dan melakukan amal-amal kebaikan mereka.

Kekhawatiran Nabi ini bisa kita ketahui dari sabdanya, berikut ini :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

Yang artinya : “Sesungguhnya yang paling ditakuti dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashgar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashgar ya Rasulullah? Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab ‘ar riya’.” (HR Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid no.27742).

Strategi Atau Cara Mengatasi Riya’

Dari beberapa referensi yang ada, cukup banyak cara atau strategi untuk mengatasi sifat riya’. Pada postingan ini, saya mengutip 4 (empat) strategi atau cara yang bisa kita upayakan untuk mengatasi bahaya dari sifat riya’ ini, yaitu sebagai berikut :

Pasang niat dalam hati kita, agar semua amal ibadah yang akan kita kerjakan tidak untuk mengharapkan sanjungan dan pujian dari orang lain, tetapi semata-mata ikhlas karena Allah Ta’ala.
Upayakan amalan-amalan yang sekiranya bisa disekitambunyikan pelaksanaannya, agar disembunyikan atau dirahasiakan dari mata orang lain. Misalnya amalan seperti sedekah, berdzikir, puasa, dan lain-lain.
Menyadari akan bahaya riya. Dengan kesadaran bahwa sifat riya; sesungguhnya merupakan sebuah virus penyakit yang dapat menggerogoti semua amal kebaikan , yang dengan kesadaran itu insya Allah kita akan dapat mengontrol hati kita untuk tetap fokus beramal hanya untuk mengharapkan ridho dan rahmat Allah.
Iringi selalu semua amal ibadah yang kita lakukan dengan do’a. Bacalah do’a untuk menghindari riya’ atau syirik kecil ini, sesuai yang diajarkan oleh Nabi kita, berikut ini.
اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه

“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”(HR.Ahmad)

Beberapa Bentuk Riya’

Bentuk-bentuk riya’ beraneka ragam warnanya dan coraknya. Bisa berupa perbuatan, perkataan, atau pun penampilan yang diniatkan sekedar mencari popularitas dan sanjungan orang lain, maka ini semua tergolong dari bentuk-bentuk perbuatan riya’ yang dilarang dalam agama Islam.

Hukum Riya’

Riya’ merupakan dosa besar. Karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil. Sebagaimana hadits di atas dari shahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.”
Selain riya’ merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam mara bahaya.

Jika terlintas di hati kita keinginan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, maka sadarlah bahwa hal itu adalah salah satu penyakit riya yang membawa kepada kemurkaan Allah, dan segeralah mengusirnya dari pikiran dan hati kita, karena itu bisikan syetan. Sebagaimana diketahui bahwa keinginan agar orang lain mengetahui dan menyanjung apa yang kita lakukan merupakan syahwat yang dihembuskan setan untuk membawa kepada perbuatan riya. Oleh karenanya, dengan mengetahui bahaya dari perbuatan riya semoga akan menimbulkan kebencian terhadap melakukan perbuatan itu.
Riya’ atau syirik kecil ini sangat berbahaya bagi keikhlasan amal ibadah kita kepada Allah, karena itu hendaknya kita bisa membangun komitmen dan tekad yang kuat untuk melawan dan menolak kehadirannya dalam hati kita. Itulah riya’ dengan segala bentuk rupa, dan bahayanya. Semoga dengan empat cara di atas, kita bisa mengatasi bahaya riya’ dan semoga tulisan ini bermafaat, aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab
Dikutip dari beberapa sumber terkait…

SPARK OF CONTENT :

One, or perhaps the only human nature that is difficult to avoid emergence of our hearts is the nature of riya ‘. Because of the difficulty to be avoided, until our Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam was very concerned about the nature of riya’ will befall his people in worship and doing their good deeds. When it comes to our hearts the desire for adulation and praise from others, then realized that it was one of riya disease that leads to wrath, and immediately expelled from our minds and hearts, as it satanic whispers. As we know that the desire to let others know and flatter what we do is lust exhaled devil to bring to deed riya. Therefore, knowing the dangers of the act of riya hopefully will lead to hatred against committing such crimes.
Riya ‘or minor shirk is very dangerous for our deeds sincerity to God, therefore we should be able to build commitment and determination to resist and reject the presence in our hearts. That riya ‘with all such forms, and all of its dangerous impacts.

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s