Rabbanaa Atmim Lanaa Nuurana

8207863814_078bd499f4_n
Yahoo image

Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami. Betapa pentingnya cahaya dalam gelap. Betapa berharganya secercah cahaya di tengah gulita. Betapa mahalnya memiliki pelita cahaya yang bisa menuntun kita berjalan di antara gelap yang tak menyisakan sinar sama sekali.

Di hari akhir yang gelap gulita nanti, hanya orang-orang beriman yang memiliki cahaya. Yang dengan sinar cahaya itu, mereka sangat tertolong untuk meniti perjalanan melintasi ash shiraat (jembatan). Itulah salah satu dari dua cahaya yang disebutkan Sayyid Quthub dalam kitab Fii Dzilaali Al Qur’aan. 

Ia menyebutkan dua kategori cahaya, pertama, adalah nuur hissy atau cahaya materil berupa cahaya Allah swt yang menyinari semua alam semesta. Tanpa Nuur Allah, maka alam semesta ini gelap gulita dan tak ada yang dapat dilihat.

imageedit_97_2507910739
Pixabay.com

Kedua, adalah nuur ma’nawi atau cahaya immateril. “Ia adalah cahaya yang terbit dalam hati orang beriman dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw yang menyinari hati, pendengaran dan penglihatan hamba Allah yang beriman. lalu cahaya itu pula yang akan menjadi penerang seorang hamba di dunia dan akhirat.(Fii Dzilalil Qur’an, Sayyid Quthub,6/3485)

Ya. Cahaya itulah yang disinggung oleh Allah swt dalam firmanNya surat Al Hadiid ayat 12. “Yaitu pada hari ketika kalian melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan disebelah kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

download
Yahoo image

Betapa benderangnya secuil cahaya yang diperoleh di tengah gelapnya kiamat. Saat sinar cahaya berkilauan dan menerangi jalan orang-orang beriman, sementara di sekeliling mereka hanya kegelapan di atas kegelapan. Betapa besar rasa syukur orang-orang yang mendapatkan cahaya dan mendengar berita gembira dari Allah swt, tentang kenikmatan surga yang tak pernah bisa tergambarkan.

Ini adalah informasi tentang kondisi kaum mukminin yang shadiq di hari kiamat. Bahwa amal-amal merekalah yang menyebabkan mereka memiliki cahaya, yang memandu mereka berjalan di tengah gelapnya hari itu. Dalam sebuah atsar, Abdullah bin Mas’ud ra pernah mengatakan, “Sebatas amal-amal yang mereka kerjakan, mereka  meliwati ash shiraat (jembatan). 

Adh Dhahak mengatakan, “Tak seorangpun yang diberikan cahaya di hari kiamat. Jika mereka telah tiba di ash shirat, cahaya untuk orang munafiqin dimatikan. Lalu ketika kondisi mereka terlihat oleh orang-orang, mereka berharap agar cahaya mereka  tidak dimatikan sebagaimana cahaya orang-orang munafiqin itu. Mereka lalu berucap, “Rabbana atmim lanaa nuuranaa” (ya Allah, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami)

imageedit_19_5589588094
Pixabay.com

Perhatikanlah bagaimana bunyi firman Allah swt yang menceritakan situasi tersebut. “Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama denganya, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim :8)

Orang-orang munafiq, cahaya yang mereka miliki mati saat mereka berada di ash shiraat. Berkata Abul Qashim Ath Thabrani, dari ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda…”Ketika sampai di ash shiraat, Allah memberikan setiap orang mukmin cahaya dan setiap orang munafiq cahaya.

imageedit_13_5875675510
Pixabay.com

Tapi ketika mereka berada di tengah-tengah ash shiraat, Allah mematikan cahaya orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sehingga mereka mengatakan kepada orang-orang mukmin, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Lalu orang-orang beriman mengatakan, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.” (lihat surat Al Hadiid ayat 13)

Saudaraku, tergambarkah dalam benak kita betapa kesedihan dan hancurnya orang-orang yang tak mendapatkan cahaya ketika itu? Bagaimana dahsyatnya rasa takut dan kengerian mereka orang-orang yang cahayanya dimatikan oleh Allah di tengah gelap gulitanya ash shiraat itu?

beach-323454__180
Pixabay.com

Saudaraku,  cahaya orang mukmin adalah salah satu di antara cara atau tanda bagi Rasulullah saw untuk mengenal umatnya. Berkata ibnu Abi Hatim, “Smoga Allah merahmati Abdurrahman bin Jabir. Dia mendengar Abu Darda dan Abu Dzar memberitakan dari Rasulullah saw, “Aku orang pertama yang diijinkan untuk bersujud di hari kiamat. Dan orang pertama yang dijinkan mengangkat kepalanya. lalu aku melihat siapa yang ada dihadapanku, yang di belakangku, yang ada disebelah kananku, yang berada di sisi kiriku. Aku mengenal umatku di antara sekian banyak umat manusia. “Berkatalah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, bagaimana engkau mengenal umatmu di antara sekian banyak umat manusia dari zaman Nabi Nuh hingga umatmu?” Ralulullah mengatakan, “Aku mengenal mereka bersinar karena bekas air wudhu, dan hal itu tidak dialami seorangpun selain mereka. Aku juga mengenal mereka karena mereka menerima kitab mereka dari tangan kanan mereka. Aku mengenal mereka dengan tanda-tanda sujud di wajah mereka. Aku mengenal mereka dengan cahaya mereka yang ada di hadapan mereka.” (HR.Ahmad)

Saudaraku, mari tengadahkan tangan dan sama-sama berdoa, رَبَّنَا أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ “Rabbanaa atmim lanaa nuuranaa waghfir lanaa innaka ‘alaa kulli syaiinqodiir…“Ya Tuhan kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami”@

Sumber : Tarbawi Edisi Spesial-Rasa, karya, Cinta dari Muslim Berbeda Bangsa.

SPARK OF CONTENT :

This is the information about the true condition of the believers are in the Day of Judgment. Deeds that they were the cause of their own light, which leads them to walk in the dark of the day. In an atsar, Abdullah bin Mas’ud ra said, “To the extent deeds that they do, they are crossing the ash shiraat (bridge). Notice how the Almighty God tells the situation. “On the day when God does not humiliate the Prophet and the believers were together with him, being light they radiate in front and to the right of them, while they say,” Our Lord! Perfect for us our light and forgive us, verily Thou Supreme power over all things. “(QS. At Tahrim: 8) How bright the light piece acquired in the dark apocalypse. When light rays sparkle and shine the way the believers, while all around them only darkness over darkness. How thankful people get light and hear the glad tidings of Allah, about the pleasures of heaven that could never be portrayed.

2 thoughts on “Rabbanaa Atmim Lanaa Nuurana

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s