Anak-Anak Dalam Keluarga Tanpa Ayah

imageedit_13_8103248644.jpg
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Ketika kita memikirkan tentang keluarga, maka mungkin yang ada dalam pikiran kita adalah sebuah keluarga utuh ada ayah dan ibu serta dua anak atau lebih, hidup dalam suasana menyenangkan berkecukupan secara fisik, psikis dan sosial. Ini adalah contoh sebuah keluarga yang relatih ideal, bukan keluarga ideal. Dan, mungkin tak sempat terpikir bahwa di sana ada banyak keluarga dengan anak-anak tanpa kehadiran figur seorang ayah. Pemikiran atau anggapan seperti itu adalah biasa/wajar karena kita bukanlah kelompok pemerhati atau peneliti sosial atau keluarga. Bagi pemerhati dan peneliti masalah sosial, keluarga tanpa ayah adalah sebuah masalah atau ancaman yang sangat serius bagi anak-anak yang tumbuh dan berkembang di dalamnya, baik anak laki-laki maupun perempuan. Pada anak-anak (laki-laki) dalam sebuah keluarga tanpa ayah, di sana ada masalah sosial dan psikologis yang sangat serius yang dihadapi oleh anak-anak selain masalah sekonomi.

Seorang anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk belajar berbagai hal yang tidak dia dapatkan dari ibunya, begitu pun dengan anak perempuan, ada sesuatu yang dia butuhkan dari kehadiran figur ayah, misalnya bagaimana ia belajar membangun relasi interpersonal pria dan wanita yang sesuai etika dan tatakrama yang ada dalam masyarakat. Namun beberapa hasil penelitian menjelaskan, bahwa ketiadaan figur ayah sangat berpengaruh buruk pada anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Mengapa, karena bagi anak laki-laki ketiadaan figur ayah adalah sama halnya dengan kehilangan objek contoh atau tempat dia untuk belajar bagaimana menampilkan peranan sebagai seorang laki-laki. Sementara bagi anak perempuan, kehilangan figur ayah meskipun berpengaruh buruk akan tetapi tingkatan bed efffectnya agak rendah, karena objek belajar peranan sebagai perempuan masih ada, yaitu si ibu.

Di sisi lain, ketiadaan ayah atau figur ayah akan berkonsekuensi pada kedudukan ibu dalam keluarga itu menjadi orang tua tunggal. Pertanyaannya, apakah seorang ibu mampu mengemban kedua peran itu dalam keluarga, dalam merawat, membesarkan dan mendidik serta mengawasi anak-anaknya? Karena kesiapan si ibu dalam menjalani perannya sebagai orangtua tunggal juga akan mempengaruhi bagaimana dia bersikap terhadap anaknya. Para ibu yang tidak siap dengan keadaan dan merasa terpaksa menjalaninya akan cenderung menyalahkan kehadiran si anak, dan inilah bahayanya.

Belum lagi jika si ibu memiliki sifat pencemas dan mudah panik, hal ini tentu saja berpengaruh pada si anak, terlebih anak- anak masih memiliki keterbatasan kemampuan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan perasaannya. Di sinilah diperlukan komunikasi terbuka dan kepekaan dari si ibu untuk menggali perasaan si anak dan mencari tahu apa kebutuhan anaknya. Menjadi orangtua tunggal berarti harus siap menjadi tulang punggung keluarga, tak jarang karena ingin memenuhi kebutuhan finansial, seorang ibu bekerja terlalu keras sehingga tidak punya waktu lagi untuk anak-anaknya, dan inilah pula bahayanya.

Apa masalah sosial psikologis yang akan menimpa anak-anak dalam keluarga tanpa ayah ini? Sebagai gambaran tentang masalah ini, saya kemukakan beberapa hasil penelitian di Amerika, yang mengungkapkan bahwa anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga tanpa ayah berkecenderungan tinggi dalam hal-hal sebagai berikut:

Sexual activity. In a study of 700 adolescents, researchers found that “compared to families with two natural parents living in the home, adolescents from single-parent families have been found to engage in greater and earlier sexual activity.”
Source: Carol W. Metzler, et al. “The Social Context for Risky Sexual Behavior Among Adolescents,” Journal of Behavioral Medicine 17 (1994).

Dalam sebuah penelitian tentang 700 remaja, para peneliti menemukan bahwa keluarga tanpa ayah berkecenderungan melahirkan remaja dengan aktivitas seksual yang lebih besar dan lebih dini, ketimbang anak-anak dari keluarga utuh ada ayah dan ibu (sumber data di atas).

A myriad of maladies. Fatherless children are at a dramatically greater risk of drug and alcohol abuse, mental illness, suicide, poor educational performance, teen pregnancy, and criminality.
Source: U.S. Department of Health and Human Services, National Center for Health Statistics, Survey on Child Health, Washington, DC, 1993.

Kemudian dalam penelitian lain menemukan, bahwa anak-anak tanpa ayah secara daramatik lebih beresiko lebih tinggi pada penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, sakit mental, bunuh diri, prestasi akademik rendah, kehamilan usia dini, dan kriminalitas (sumber data di atas).

Drinking problems. Teenagers living in single-parent households are more likely to abuse alcohol and at an earlier age compared to children reared in two-parent households
Source: Terry E. Duncan, Susan C. Duncan and Hyman Hops, “The Effects of Family Cohesiveness and Peer Encouragement on the Development of Adolescent Alcohol Use: A Cohort-Sequential Approach to the Analysis of Longitudinal Data,”Journal of Studies on Alcohol 55 (1994).

Anak-anak remaja dari keluarga tanpa ayah berkecenderungan lebih besar untuk penyalahgunaan obat-obatan di usia dini ketimbang anak-anak dari keluarga utuh (sumbar data di atas).

Suicidal Tendencies. In a study of 146 adolescent friends of 26 adolescent suicide victims, teens living in single-parent families are not only more likely to commit suicide but also more likely to suffer from psychological disorders, when compared to teens living in intact families.
Source: David A. Brent, et al. “Post-traumatic Stress Disorder in Peers of Adolescent Suicide Victims: Predisposing Factors and Phenomenology.” Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry 34, 1995.

Keluarga tanpa ayah tidak hanya mengakibatkan anak-anak mengalami masalah bunuh diri, tetapi juga menyebabkan kekacauan mental dibandingkan anak-anak dari keluarga utuh (sumber data di atas).

Confused identities. Boys who grow up in father-absent homes are more likely that those in father-present homes to have trouble establishing appropriate sex roles and gender identity.
Source: P.L. Adams, J.R. Milner, and N.A. Schrepf, Fatherless Children, New York, Wiley Press, 1984.

Anak laki-laki dari keluarga tanpa ayah lebih berkecenderungan mengalami masalah dalam penyesuaian peranan seksual dan identitas gender mereka ketimbang anak-anak dari keluarga utuh (sumber data di atas).

Oleh karena itu, saya mengutip pendapat yang mengatakan atau menyarankan, bahwa ‘Para ayah sebaiknya memiliki waktu dan kesempatan untuk bercengkerama dengan buah hati, minimal 15 – 30 menit per harinya. Keterlibatan dengan anak ini bisa termasuk mengajaknya bercerita, bermain, mengungkapkan rasa cinta dan sayang, serta mengajaknya berdiskusi ringan. Percayalah, ini akan sangat bermakna bagi perkembangan jiwa anak. Ayah yang positif akan memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang anak. Seperti yang dikatakan Irma Gustiana A, M.Psi., psikolog Anak dan Keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Peran ayah dalam kehidupan anak sangat berarti, terutama dalam membangun kecerdasan emosi, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan motivasi anak di kemudian hari. Buat para ibu, ayo bantu ayah dan berikan kesempatan agar ia dan anak menjalin hubungan yang hangat. Pasalnya, anggapan bahwa masalah pengasuhan hanya ranah ibu, sementara bekerja dan mencari nafkah adalah ranah ayah, mengakibatkan anak mengalami ketiadaan peran ayah. “Ini sangat disayangkan karena ketiadaan peran ayah (fatherless) dalam kehidupan anak, memungkinkan anak mengalami masalah perilaku sosial emosi yang semakin besar. Anak cenderung berperilaku tidak adaptif sehingga timbul istilah kenakalan anak.”  Irma mengalaskan pendapatnya pada hasil penelitian yang menyebutkan tentang dampak buruk dari ketiadaan peran ayah, seperti hasil studi tentang peran ayah dalam kehidupan anak yang dilakukan Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan. Dikemukakan, apabila tak ada peran ayah dalam kehidupan anak, dampaknya tak bisa dianggap sepele. Apa saja?

– 63 persen anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati yang mudah berubah, fobia, dan depresi.

– 56 persen anak memilik kemampuannya berada di bawah rata-rata.

– 43 persen anak melakukan agresi terhadap orangtua.’ (Sumber : tabloidnova.com).

Dan saya berpendapat, bahwa sebenarnya masalah ketiadaan figur ayah bagi anak-anak, terutama bagi anak laki-laki dapat diatasi dengan menyediakan figur pengganti ayah. Siapa itu? Ini bisa kakeknya, pamannya, atau figur pria lain dalam sebuah keluarga yang bisa menampilkan diri sebagai pelindung, pengawas dan pendidik bagi mereka. Tapi masalahnya, tidak selalu tersedia dalam setiap keluarga figur-figur penganti seperti itu, karena berbagai faktor dan situasi. Oleh karena itu, barangkali perlu dicarikan alternatif pelayanan sosial yang diberikan oleh negara disesuaikan dengan tingkat usia dan kebutuhan mereka, sehingga anak-anak dari keluarga tanpa ayah ini, khususnya yang ibunya tidak mampu mengakomodir semua kebutuhan anak karena berbagai alasan, bisa terselamatkan dari ancaman bahaya kemanusiaan seperti diuraikan di atas.

Nabi kita Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam, adalah seorang fatherless boy, bahkan beliau telah yatim piatu tak lama setelah kelahiran, karena ayahnya Abdullah telah meninggal dunia sebelum beliau lahir dan ibunya pun menyusul tak lama setelah melahirkan Muhammad. Tapi alhmadulillah, beliau masih punya kakek yang bisa menggantikan figur ayahnya, yaitu Abdul Muthallib. Setelah kakeknya meninggal, Muhammad diambil dan pelihara serta dilindungi oleh pamannya Abu Thalib meskipun pamannya bukan muslim, tetapi ia sangat menyayangi keponakannya. Subhanallah. walhamdulilah, wa laa ilaha illallah, wallahuakbar.

Demikian, semoga bermanfaat, amien Ya Rabbal ‘alamin.

Advertisements

6 thoughts on “Anak-Anak Dalam Keluarga Tanpa Ayah

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s