Cinta Allah Kepada Manusia

heart-283146__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setiap orang pada pemahamannya masing-masing, pasti mengenal cinta. Di kala bayi kita semua cinta atau suka pada yang namanya (maaf) puting susu ibu kita, karena dapat mengenyangkan perut kecil kita. Ketika usia bocah kita mengenal dan mencintai orang tua (ibu dan bapak) kita karena mereka melindungi kita dari berbagai ancaman. Begitu pula ketika kita mulai memasuki usia remaja (aqil balik) kita mulai mengenal, menyukai dan mencintai lawan jenis, dan selanjutnya ketika dewasa kita mulai mengenal, menyukai dan mencintai hal-hal yang bersifat duniawi seperti harta, wanita dan tahta. Demikianlah hakikat rasa cinta manusia pada apa yang dilihat dan didengar serta dipahaminya sebagai yang menyenangkan hatinya. Cinta kita tidak sepenuhnya tulus, ada pamrihnya yaitu ingin dapat ridha Allah dan pahala surga di akhirat kelak.

Lalu kita bertanya di sini, bagaimana dengan cinta Allah kepada manusia, atau bagaimanakah Allah mencintai manusia? Dan bagaimana pula manusia mencintai Allah? Samakah kadar rasa cinta di antara keduanya? Ketahuilah saudaraku, bahwa sesungguhnya cinta Allah pada kita tak mampu akal dan pikiran kita untuk membayangkannya, dan harus kita yakini seyakin-yakinnya bahwa cinta Allah tak terbatas, sedangkan cinta kita adalah terbatas. Meskipun kita sangat ingin mencintai Allah dengan sepenuh jiwa dan raga kita (dan itu wajib), namun pastilah cinta kita kepada-Nya tidaklah sebanding dengan cinta dan kasih sayang Allah kepada manusia.

Saudaraku, oleh karena itu janganlah pernah kita berpikir atau mengklaim bahwa kita sudah berbuat baik pada Allah, sudah mencintai Allah karena kita telah melaksanakan semua perintah-Nya seperti shalat, zakat, puasa dan juga haji, misalnya. Lalu dengan serta merta kita mengklaim bahwa semua ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah dan lalu kita berpikir kita sudah mencintai Allah,  belum saudara.

Ketahuilah saudara, bahwa kita bisa melaksanakan semua ibadah-ibadah itu, sesungguhnya itu adalah karena kebaikan dan kecintaan Allah kepada kita, bukan karena kebaikan dan kecintaan kita semata kepada Allah. Karena ketika kita merasa sangat mencintai Allah, itupun pasti terlebih dahulu atas rahmat Allah jua (taufik dan hidayah-Nya) yang tercurahkan dalam hati kita. Apatah lagi diklaim karena kehebatan dan kekuasaan kita. Cinta dan kebaikan kita tidaklah seberapa atau hanya secuil saja bila dibandingkan dengan luasnya cinta dan kasih sayang serta kebaikan Allah kepada kita.

“ Dari Anas r.a. dari Nabi saw. Bersabda: “ Barang siapa ada tiga perkara padanya, ia telah mendapatkan manisnya iman, yaitu hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya dari apa yang selain keduanya, hendaklah ia mencintai dan membenci seseorang semata karena Allah, dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana ia benci jika akan dicampakkan ke dalam neraka”. (H.R. Bukhari Muslim).

Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa ada tiga kriteria atau syarat yang dapat menjelaskan seseorang bisa mendapatkan atau merasakan manisnya iman, itu baru kita bisa merasakan manisnya iman, tetapi itu belumlah berarti bahwa itu pertanda kadar rasa cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya sudah sempurna. Saudara, kita masih harus terus berikhtiar  untuk mendekat dan mendekat lagi dan belajar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mari kita terus belajar mensyukuri segala nikmat-Nya belajar membalas cinta dan kebaikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan jangan pernah telah marasa berbuat baik kepada dan telah mencintai Allah dan rasul-Nya.

Ketika kita berpikir bahwa cinta adalah perasaan yang tumbuh karena ada daya tarik, itu artinya kita belum benar-benar paham hakikat cinta. Jika kita berpikir bahwa cinta bisa patah, bisa berkurang, bahkan cinta bisa menghilang. Lalu bagaimana kita bisa mengerti cinta Allah?…Hakikatnya, kita tidak benar-benar mengerti apa makna cinta sesungguhnya sampai kita paham cinta Allah…Yang mengalir terus tanpa henti untuk kita.

Dia menciptakan kita, memberi kita pakaian, mengajari kita bicara, memberi kita ilmu, nikmat tiada henti, menjaga kita, mengampuni dosa-dosa kita, mengasihi kita…Dia memberi kita ujian sebagai kebaikan untuk kita, membuat kita dekat dengan-Nya lagi setelah kita menjauh, melihat kita berbuat dosa, mengampuni saat kita memohon ampunan. Dia tersenyum pada kita, takkan kita temui Dia lelah mendengar segala keluh kesah kita, selalu peduli.

Dia ijinkan kita berdoa, membuat kita kembali..Maka ingatlah berapa kali kita berpaling dari-Nya, dari peringatan-Nya, namun tak pernah sekalipun Dia berpaling dari kita. It was love!~Berapa sering kita tidak mematuhi-Nya, namun tak pernah sekalipun Dia menahan rezeki-Nya dari mencapai piring kita, dan mencukupi kebutuhan kita. .Berapa kali kita meminta pada-Nya, dan Dia tak pernah meminta apapun dari ciptaan-Nya, Maha Kaya Allah. 

Yang memerlukan adalah kita, bukan Dia..Lalu bagaimana mungkin kita mengklaim bahwa kita paham hakikat cinta, mengaku sedang mencinta, sedang kita belum mengerti besarnya cinta Sang Pencipta?…Renungan buat kita. dengan perasaan cinta tanpa tuntunan syariat, yang kita tahu hanya bagaimana memahami cinta Allah dan menjaganya…Saudaraku, sesungguhnya Allah tahu kalau cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya tidaklah pernah sebanding dengan cinta Allah kepada kita.

Saudaraku, memang cinta bagaikan sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Cinta bagaikan rembulan yang tak pernah padam, ia selalu menerangi hati yang sedang dilanda asmara. Seperti dikatakan di awal, bahwa setiap manusia memiliki perasaan cinta, cinta kepada Ayah dan Ibu, cinta kepada kakak adik, cinta sanak keluarga, dan juga cinta pada hal-hal duniawi. Tetapi lebih dari semua itu cinta yang paling utama adalah cinta kepada sang Pencipta, Allah SWT.dan juga Rasul-Nya. Maka rawat dan tumbuhkanlah  terus cinta kita itu hingga ajal menjemput.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqarah :165)

Kandungan dari Al-Quran di atas menerangkan bahwa manusia menyembah dan mencintai selain Allah, maka ia termasuk orang-orang yang zhalim yang di akhirat nanti akan mendapatkan siksa yang pedih, niscaya mereka akan menyesal. Sebaliknya jika manusia itu tulus menyembah dan mencintai hanya kepada Allah SWT, maka mereka adalah termasuk golongan orang yang beriman.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran : 31)

Kandungan ayat Al-Quran di atas bahwasanya kita umat muslim harus benar-benar mencintai Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni segala dosa-dosa kita karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

“… tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat : 7)

Kandungan dari ayat Al-Quran di atas adalah bahwa cinta ini datangnya dari Allah dan Allah menjadikan cinta-Nya ini untuk keimanan karena keimanan itu akan menjadi indah di dalam hati kita serta menjadikan kita ini benci terhadap kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan (naudzubillahmindzalik). Sehingga kita termasuk orang-orang yang mengikuti jalan Allah yang lurus.

Bukti paling aktual dan dahsyatnya cinta Allah kepada kita (manusia) adalah bahwa Allah telah menurunkan kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya yaitu Al-Qur’an dan telah mengutus seorang hamba dan kekasih-Nya yang bernama Muhammad bin Abdullah sebagai pembawa berita gembira dan penyelamat bagi manusia yang mau mendengarkan dan menerima seruannya….Saudaraku, itulah Al-Qur’an, itulah surat cinta sejati Sang Khaliq kepada kita hamba-Nya yang bernama manusia. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, amien.

Advertisements

2 thoughts on “Cinta Allah Kepada Manusia

  1. Pingback: Perlis News

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s