Minyak Kayu Putih di Bulan Puasa

asparagus-2169305__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dulu ada pengalaman lucu yang kami alami di bulan puasa. Waktu itu kami berlima tinggal di sebuah kontrakan sederhana milik orang Betawi di wilayah Kelurahan Cilandak Jakarta Selatan. Kami berlima masih bujangan semua, biasa kalau urusan belanja keperluan dapur kami sudah tak aneh kalau pergi ke pasar Mede untuk sekedar beli sayur dan segala macam bumbu masaknya. Apalagi di bulan puasa kami berlima tetap konsekuen melaksanakan perintah agama untuk berpuasa, apapun kondisinya.

Di antara kami berlima tentu ada salah seorang yang kami anggap sebagai yang kami tuakan/senior yaitu abang kami, dia sudah bekerja sebagai pegawai negeri guru di sebuah sekolah dasar (SD) dan SMP di wilayah kelurahan Cilandak. Beliaulah yang dulu mengajak kami ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah dan alhamdulillah kami berlima bisa menyelesaikan sekolah sampai SMA dan bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri di beberapa instansi yang berbeda. Beliau meninggal dunia sekitar tahun 1998, semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, amien.

Kita kembali saja ke fokus, ceritanya di meja dapur ada sederetan botol yang tersimpan di situ ada botol minyak kelapa/goreng, ada botol minyak tanah dan juga ada botol minyak kayu putih. Nah, bagaimana ceritanya sampai bisa lucu. Begini, ketika waktu bangun untuk mempersiapkan santap sahur, waktunya sudah mauh imsyak makanya saya bersama seorang teman sebut saja A buru-buru mulai memasak nasi, waktu itu hidup masih prihatin jadi harus masak nasi pake kompor belum punya rice cooker yang praktis.

Kemudian sambil memasak nasi saya langsung memasak sayur/tumisan kangkung yang sudah tersedia dan dibersihkan oleh teman tadi. Saya ambil penggorengan lalu saya tuangkan minyak goreng ke penggorengan. Tak lama setelah kangkung dibolak-balik akhirnya tumisan pun matang. Lalu dilanjutkan dengan memasak/menggoreng ikan, rupanya masih menggunakan minyak di botol yang sama tapi tak kusadari juga kalau itu minyak kayu putih. Mungkin karena hidung belum normal daya menciumnya karena masih setengah ngantuk. Singkat cerita semua masakan sudah siap beres semua tersaji di atas meja makan.

Kini tiba giliran saya membangunkan kakak untuk bersama-sama makan sahur. Kakakpun bangun, dan kami berlima pun sudah berada di meja siap untuk santap sahur bersama. Setelah sejenak berdoa, Bismillah…kami mulai menyantap hidangan yang ada. Anehnya tak ada satupun di antara kami berlima yang merasakan adanya keanehan. Kamipun terus melanjutkan makan hingga selesai. Tak ada di antara kami yang mencium bau minyak kayu putih dalam masakan malam itu. Kami semua fokus menikmati masakan santap sahur yang alhamdilillah cukup enak, tak tercium sedikitpun rasa ataupun bau minyak kayu putih malam itu.

Sayangnya, kenapa setelah kami selesai makan barulah sedikit demi sedikit aroma itu terasa begitu kuat menyengat hidung kami, sehingga membuat kami penasaran. Dan, akhirnya ternyata setelah dicek kembali ke sisa tumisan kangkung dan juga gorengan ikan yang masih tersisa di piring, barulah ketahuan bahwa minyak kayu putih lah sebenarnya yang saya pake sebagai minyak goreng kami malam itu, subhanallah.

Iklan

Islamlah Yang Terbaik

camel-316894__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dulu ketika Islam disebut maka siapapun yang mendengar akan langsung berkata “woowww,, hebat, kotanya maju, ilmuwannya banyak, sistem pemerintahannya mantap.

Kini ketika Islam disebut maka kebanyakan yang terpikir adalah teroris, bodoh, tertinggal, dan sederet stigma negative lainnya.

Banyak yang menganggap bahwa kejayaan umat Islam hanyalah romantisme sejarah. Ok, tidak ada masalah. Yang jelasnya, saat ini tugas kita adalah ambil bagian untuk bergerak melawan musuh Islam dan menyadarkan kaum muslim akan kekeliruannya. Hingga Islam kembali berjaya dalam naungan Khilafah Islamiyah sesuai bisyarah Rasululah Muhammad SAW. Mari kita kembali ke Islam.

Awalnya saya pun tak pernah tahu bahwa ada suatu masa dimana kejayaan Islam meliputi 2/3 dunia selama 13 abad atau 1300 tahun. Silau sensai dunia barat membuat saya selalu berdecak kagum, terlebih setiap penemu dalam buku pelajaran pasti non muslim. Padahal peradaban itu baru beberapa saat saja. Hingga akhirnya saya seolah menemukan Islam melalui ceramah dan buku-buku karya Ust. Felix Y Siauw.

Baca teks selengkapnya di sini

Mendurhakai Orang Tua

care-2024469__340.png
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Walaupun hanya sampai usia balita, seorang anak tidak akan mampu menghitung dan membalas jasa orang tuanya terkhusus ibunya. Jika ibunya mau, dia akan menggugurkan kandungannya ketika usia awal kehamilannya, namun tidak, dia tetap merawat  kehamilannya dengan sangat payah hingga perutnya membesar dan tidak enak dipandang. Kemudian sang ibu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, mengalirkan darah dan air mata, nafas yang hampir terputus serta 57 del rasa sakit yang mana sesungguhnya manusia hanya sanggup menerima 45 del rasa sakit. Bisa dibayangkan betapa sakitnya seorang ibu melahirkan, 57 del adalah setara sakitnya dengan 7 tulang yang patah secara bersamaan. Kemudian ibu tetap tersenyum melihat seorang bayi yang hampir membunuhnya. Seorang ibu tidak akan pernah membeda-bedakan senyumnya terhadap setiap kelahiran anaknya. Kemudian ibu memberikan darahnya melalui air susu kepada anaknya, sangat sakit dan nyeri ketika pertamakali air susu itu dihisap oleh sang anak. Sungguh tidaklah pantas dan teramat durhaka jika seorang anak merasa bisa hidup atas jerih payahnya sendiri, kemudian meniadakan peran orang tuanya apalagi ibunya.

Baca teks selanjutnya di sini

Catatan Selayang Pandang 2017

061324300_1480648520-20161202-Aksi-Damai-2-Desember-Jakarta-Monas-FP2 (1)
Sumber gambar : Di sini

Bismillaahir Raahmaanir Rahiim

Sebenarnya, tulisan ini sudah agak  telat diposting alias sudah tak hangat lagi yah, mengingat kejadiannya di penghujung tahun 2016, sementara tahun 2017 sudah lewat kurang lebih tiga bulan. Namun demikian, saya merasa tidak enak di hati jika saya tidak membuat catatan untuk dikenang. Apalagi di tahun 2017 banyak peristiwa yang terjadi di negeri ini yang nyaris saja membuat kita terpecah belah sebagai satu bangsa. Apalagi kalau bukan peristiwa paling menggemparkan yang dipicu oleh kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Cahaya Purnama alias Ahok.

Kita semua tahu bahwa kasus yang satu ini begitu menarik dan menyita perhatian publik. Kasus penodaan agama ini telah menimbulkan kemarahan umat Islam di seluruh tanah air bahkan yang ada di luar negeri, yang merasa kitab sucinya dinodai dan agamanya dilecehkan. Karena itu, maka terjadilah peristiwa yang sangat menegangkan kita semua dengan digelarnya berbagai aksi protes. Aksi damai ini dilakukan karena penanganan proses hukum bagi si pelaku penista agama sangat lamban dirasakan oleh umat Islam, sehingga berbagai aksi unjuk rasa damai dilakukan oleh umat Islam bersama Ormas Islam di Jakarta.

Aksi 4 November 2016 disebut juga Aksi Bela Al-Qur’an atau Aksi Damai 4 November (Aksi Damai 411) terjadi pada 4 November 2016 ketika demonstran berjumlah antara 50.000–200.000 turun ke jalan-jalan di Jakarta untuk memprotes pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (atau yang dikenal sebagai “Ahok”) yang dianggap menghina agama Islam. (wikipedia.com)

Ada dua aksi damai yang digelar umat Islam pada waktu itu, yaitu ada Aksi Damai 411 alias 4 November 2016 dan Aksi Damai 212 alias 2 Desember 2016. Meski kedua aksi damai ini masih di tahun 2016, tapi gaungnya masih terasa hingga sekarang di tahun 2017. Mengacu pada berita Liputan6.com ada perbedaan antara Aksi Damai 411 dengan Aksi Damai 212. Aksi damai 212 telah berlangsung damai di silang monas Jakarta Pusat. Jutaan orang tumpah ruah memadati kawasan monumen nasional yang menjadi icon ibu kota itu. Namun aksi kali ini berakhir dengan tertib dan damai.

Jika dibandingkan dengan aksi sebelumnya pada 4 November 2016, banyak perbedaannya, misalnya pada aksi Bela Islam jilid II berakhir ricuh, tapi pasti yang membuat ricuh bukan peserta demo akan tetapi provokator yang mencoba mengacaukan aksi damai menjadi sebuah konflik, sementara pada aksi damai jum’at itu berakhir dengan tertib. Ini sesuai julukannya sebagai aksi super damai yang menakjubkan karena melibatkan jutaan orang, (jumlah pastinya saya tidak tahu).

Yang lebih menggembirakan lagi pada aksi damai 212 ini presiden Jokowi turun menemui para pendemo, sementara pada aksi 411 presiden Jokowi tidak menemui para pengunjuk rasa karena alasan menghadiri acara peninjauan proyek. Saat peserta melakukan demonstrasi di depan Istana Merdeka, Joko Widodo tidak ada di dalam Istana. Ia pergi meninjau proyek hanggar pesawat dan kereta Bandara Soekarno Hatta. Ah… entahlah, saya tidak tahu apa yang ada di benaknya presiden Jokowi sehingga tidak mau menemui para pendemo yang sungguh sangat ingin menyampaikan aspirasinya pada beliau.

Sebelum aksi damai 212 berlangsung, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) sempat merencanakan aksi akan digelar di sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin termasuk menggelar sholat Juma’at.

Polda Metro Jaya bersama GNPF-MUI akhirnya sepakat aksi damai digelar di Monas. Larangan tersebut berkaitan dengan kepentingan umum dan merugikan orang banyak. Jika aksi damai 411 ada sedikit ricuh di saat-saat akhir, aksi damai 212 berlangsung super damai. Dan kedua aksi damai ini terkait kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok, yang kali ini hanya diisi dengan orasi dan doa bersama atau istighosah. Setelah sholat Jum’at massa langsung membubarkan diri dengan tertib hingga pada pukul 17.00 WIB. Lalu lintas di kawasan itu berjalan normal.

Jakarta (SI Online) –  Islam kembali melakukan aksi unjuk rasa yang dikenal dengan Aksi 313 di kawasan Patung Kuda, JL MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (31/3/2017). Massa kembali menuntut kepada aparat penegak hukum (kepolisian) agar segera menahan tersangka penista agama yakni Ahok yang masih menjadi Gubernur DKI Jakarta non aktif. (Suara-Islam.com)

Untuk itu tuntutan umat Islam hanya satu yakni segera copot dan penjarakan Ahok selaku penista agama. Ia meminta agar pemerintah melalui Mendagri Tjahjo Kumolo segera mencopot Ahok. Demikian juga pihak kepolisian sebagai kepanjangan tangan presiden untuk segera menangkap dan memenajarakan Ahok. (Suara-Islam.com).

Aksi_313_b.jpg
Gambar : Di sini

Meski saya tidak terjun langsung di lapangan dan hanya menonton di TV namun atmosfir dari dua aksi damai itu, betul betul membuat hati saya berharap-harap cemas, jangan sampai ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memprovokasi massa yang begitu banyak. Tapi alhamdulillah Allah Swt tidak ngantuk dan tidak tidur, Dia senantiasa bersama saudara-saudara kita yang hatinya ikhlas hanya menuntut keadilan atas sebuah pelanggaran hukum, bukan yang lain.

Pada tanggal 5 Mei 2017 puluhan ribu umat Islam yang akan mengikuti Aksi 505 di depan Mahkamah Agung, akhirnya bertahan di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sedianya, usai mengikuti shalat Jumat mereka hendak long march ke depan Gedung Mahkamah Agung RI untuk menuntut keadilan dalam kasus penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta Ahok.

Pantauan di lapangan, usai menunaikan shalat Jumat, puluhan ribu jamaah yang sebagian besar adalah peserta aksi damai ini, kemudian melaksanakan salat gaib untuk saudara sesama muslim mereka yang telah meninggal dunia. Setelah itu, mereka terlihat berbondong-bondong ke luar dari masjid.

Tapi tidak lama kemudian, salah seorang orator dalam aksi ini melalui pengeras suara di Masjid Istiqlal memberikan sejumlah pemberitahuan terkait aksi hari ini. Salah satunya mengimbau, agar peserta aksi menjaga kedamaian dan ketertiban selama menjalankan aksi. Selain itu, diinformasikan susunan acara dalam Aksi 505 ini.

Dalam aksi tersebut, tidak ada arahan long march ke Mahkamah Agung. Mereka hanya akan diam dan berkumpul di Masjid Istiqlal.

“Acara hari ini, setelah pembukaan penjelasan dari Ketua GNPF MUI (Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia), Ustaz Bachtiar Natsir, selanjutnya dilanjutkan dengan pengajian dan tausiyah dari Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nazarudin Umar dan Aa’ Gym,” ujar orator melalui pengeras suara.

Massa yang berada di Istiqlal, kemudian bertakbir dan bersalawat. Karena, tidak adanya long march, orator mengarahkan massa, agar tetap berkumpul di dalam dan di pelataran Masjid Istiqlal.

“Kita lakukan pengajian dan tausiyah, sambil kita tunggu utusan kita akan berangkat ke MA,” ujarnya.

Dan aksi 505 ini setelah tersampaikannya aspirasi mereka melalui perwakilannya yang diterima oleh pihak MA akhirnya membubarkan diri secara tertib dan damai tanpa adanya aksi provokasi yang bisa menimbulkan konflik yang sangat dikhawatrikan oleh banyak pihak.

Sementara itu sejumlah tokoh GNPF-MUI menuju ke Gedung MA untuk menyampaikan sikap. Mereka adalah KH Didin Hafiduddin, KH A Shobri Lubis, HM Luthfie Hakim, KH Ahmad Luthfi Fathullah, Nasrullah Nasution, Kapitra Ampera, Nasrullah Nasution, Ahmad Dolli Kurnia dan beberapa orang lagi.

Demikian catatan selayang pandang peristiwa yang terjadi di penghujung tahun 2016 itu yang hingga memasuki tahun 2017 ini, gaungnya masih kita rasakan sampai saat ini. Semoga peristiwa dan kejadian seperti ini (penodaan agama) tidak terulang lagi di masa-masa yang datang. Dan berharap ini dapat kita jadikan pelajaran berharga agar semua pihak bisa saling menghormati agama dan keyakinan masing-masing demi kerukunan bersama di antara kita semua anak bangsa, amien..

Referensi :

1. news.liputan6.com

2. wikipedia.com

3. Suara-Islam.com