Keberkahan Yang Tak Pernah Pudar

italy-2080072__340
Pixabay.com

Bismilllaahir Rahmaanir Rahiim

[Yang dimaksud adalah keberkahan waktu pagi]. Pagi adalah bagian dari waktu-waktu Allah yang terus berputar. Ia juga merupakan ungkapan yang sangat lekat dengan makna kesegaran, keceriaan, semangat, dan hidup baru. Begitu banyak makna positif yang memberi spirit dan optimisme dalam hidup yang datang menyertai pagi. Mungkin masih banyak lagi hikmah dan keistimewaan di balik pujian Allah terhadapnya, “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS.At Takwir: 18), yang mungkin belum dapat kita singkap karena keterbatasn ilmu kita.

Bertemu pagi adalah sebuah keniscayaan. Tetapi mengambil manfaat dari keistimewaannya adalah sesuatu yang harus diupayakan. Jalannya hanya satu, bangun lebih pagi, Lalu mengintip apa saja kebaikan-kebaikan yang dapat kita petik di pagi itu.

Karena Suatu Pagi Bisa Merubah Hidupmu

Waktu adalah wadah pembentukan. Di sanalah garis edar hidup kita, tumbuh dan menjadi dewasa, dari lahir hingga kembali ke hadirat-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Waktu memiliki tiga makna dan dilandaskan pada tiga derajat. Di antara makna-makna itu adalah saat mampu dan benar, karena melihat cahaya karunia yang ditarik kebersihan harapan, atau karena ada perlindungan yang ditarik kebenaran ketakutan, atau karena kobaran rindu yang ditarik cinta.” (Madarijus Salikin)

Satu di antara bagian-bagian waktu yang menghimpun makna-makna itu, yang memiliki urgensi pembentukan adalah pagi. Ia adalah simbol permulaan dan perubahan, kepada dan terhadap apa saja, termasukbabak-babak kehidupan kita. Kisah seorang wanita Nashrani yang bersahabat dan hidup serumah dengan seorang wanita Muslimah, adalah contoh perubahan yang dibawa oleh pagi.

Sahabat Muslimah si wanita tadi, sering terbangun di penghujung malam untuk melaksanakan qiyamulail, bermunajat dan berdoa kepada Allah swt. Terkadang, selesai berdoa ia teruskan lagi dengan tilawah Al Qur’an, hingga menjelang shalat subuh.

Awalnya, si wanita nashrani sering merasa terganggu dengan suara temannya yang kerap menangis tersedu-sedu dalam shalat malamnya, atau saat melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, yang begitu asing di telingannya. Suara “berisik” itulah yang sering memangkas jatah tidurnya.

Tetapi lama kelamaan, dalam diamnya ia mulai menyimpan rasa cemburu dan kagum kepada sahabatnya itu. Betapa tidak, sebagai seorang yang beragama ia merasa tidak begitu akrab dengan tuhannya. Jauh berbeda dengan sahabatnya yang selalu rajin menyapa Sang Penciptanya di kala orang-orang masih terlelap dalam tidurnya. Ia kagum karena sahabatnya begitu mudah terbangun di waktu pagi dan menyelesaikan sebagian tugas-tugasnya, sementara dia sendiri terkadang baru beranjak dari kasur empuknya saat matahari sudah meninggi.

Di sinilah awal mula hidayah itu datang, di kegelapan subuh, di tengah dinginnya udara pagi, rasa cemburunya menyeruak. Si wanita nashrani mulai ntertarik, menanti lantunan kalimat-kalimat “asing” dari mulut sahabatnya. Karena seperti ada ketenteraman batin yang datang bersamanya.

Suatu ketika, sahabatnya sedang tidak di rumah. Saat itu rasa penasarannya menggodanya untuk mengetahui isi Al Qur’an. Ia lalu memberanikan diri membuka lembaran-lembaran Al Qur’an, bacaan favorit sahabanya itu. Ketika ia buka, yang tampak hanya garis-garis hitam yang entah apa arti dan maksudnya. Tetapi ketika ia membaca terjemahannya, di situlah ia menemukan petunjuk yang luar biasa. Ayat-ayat dalam surat Al Ikhlas seakan menghentak batinnya untuk mengakui kebenaran konsep ketuhanan yang diajarkan kitab di tangannya.

Di suatu pagi berikutnya, di sahabatnya baru saja usai menjalankan shalat Shubuhnya, si wanita nashrani datang menghampiri. Ia duduk bersimpuh di dekat sahabatnya dan mendekapnya, seraya memohon agar dituntun untuk mengucapkan syahadat. Begitu cepat dan mudah hidayah itu datang. Suasana menjelang pagi telah mengubah semuanya.

Karena Kehidupan Pagi Adalah Ciri Orang-Orang Shalih

Tidur, bagi manusia adalah sifat kesempurnaan. Orang yang tak bisa tidur berarti memiliki kekurangan; kesehatan fisiknya sedang terganggu. Tetapi memperpanjang jatah tidur juga bukan ciri manusia yang baik. Tidur berlama-lama akan membuat badan terasa berat, membuang waktu secara percuma, membentuk jiwa yang lalai dan malas, serta banyak hal negatif lainnya. Karena itu, hidup ini perlu keseimbangan.

Manusia terbaik di bumi ini adalah mereka yang beriman kepada Allah. Mereka yang mendisiplinkan waktunya,yang mengatur keseimbangan antar hak dan kewajibannya. Ketika malam tiba, mereka bersegera tidur supaya di penghujung malam bisa terbangun dan bercengkerama dengan keindahan dan kedamaian pagi. Muawiyah bin Qurrah menirukan nasehat bapaknya ketika mereka sekeluarga telah melaksanakan shalat Isya, “Wahai anak-anakku, tidurlah sekarang. Semoga Allah menganugerahkan kepada kalian kebaikan malam ini.”

Ada banyak hal yang dilakukan orang-orang shalih di kala pagi, setelah mereka mendirikan shalat malam, mereka duduk berdoa dan bermunajat “menagih” janji-janji Allah, membaca dan mentadabur Al Qur’an. Fudhail bin Iyad pernah menceritakan,”Aku menjumpai suatu kaum yang malu kepada Allah di kegelapan malam karena kelamaan tidur. Pasalnya, mereka terbiasa hanya rebahan dan jika terjaga mereka berkata,”Ini bukanlah untukmu, maka bangkitlah untuk mengambil bagianmu di akhirat.”

Tidur bagi mereka hanyalah sisa waktu yang sangat dibatasi dan melaksanakan amal-amal ketaatan di pagi hari adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kehilangan pagi bagi mereka adalah kerugian yang bisa memunculkan banyak sekali dugaan keburukan. Sampai-sampai Ibnu Umar mengatakan, “Jika kami kehilangan seseorang pada shalat shubuh dan Isya (di masjid), kami mempunyai prasangka buruk kepadanya.”

Karena Ilmu-Ilmu Allah Turun Pada Waktu Pagi

Setiap fase waktu, antara siang dan malam yang telah dibentangkan oleh Allah swt untuk kita, memiliki kualifikasi dan keistimewaan yang tak tergantikan dengan fase-fase waktu yang lain. Antara mencari nafkah, ibadah, belajar, dan berisitirahat semua telah diatur oleh Allah. Hanya saja, kita kadang tidak memahami hikmah di balik ketentuan-ketentuan itu, atau bahkan sengaja tidak mempedulikannya dengan bermacam alasan, sehingga sering kali kita melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan nhasil yang maksimal, yang tentu saja hal itu akan merugikan diri kita sendiri.

Rasulullah saw yang selalu mengajak umatnya untuk bangun sebelum shubuh, melaksanakan shalat sunnah dan shalat Shubuh berjamaah, bukan tanpa alasan. Di sana, dibalik heningnya suasana pagi  ada banyak hikmah yang mendalam. Di antaranya, berlimpahnya pahala dari Allah, kesegaran udara Shubuh yang menyehatkan fisik, konsentrasi pikiran dan daya ingat yang kuat untuk menyambut datangnya hikmah dan ilmu-ilmu Allah swt.

Konsentrasi dan kemampuan memahami di waktu shubuh yang tenang, adalah suasana yang tidak pernah dilewatkan oleh para ulama. Mereka mendalami suatu ilmu, menggali dan merenungi hikmah dari banyak peristiwa yang mereka saksikan, sehingga benar-benar paham dan menguasai banyak ilmu. Ibnu Jarir Ath Thabari, misalnya, seperti diceritakan Al Khatib Al Baghdadi, selama  empat puluh tahun dari usianya yang terakhir, ia mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari.

Yang istimewa dari prestasi Ibnu Jarir ini, meskipun ia menulis artikelnya selepas zhuhur hingga waktu ashar tiba. Tetapi murajaahnya akan ilmu serta ide-ide yang akan ia tuangkan dalam tulisannya, ia dapatkan di awal-awal Shubuh, setelah menunaikan qiyamullail.

Salah seorang murid Ibnu Jarir, Abu Bakar Asy Syajari mengisahkan, “Setelah selesai sarapan pagi, Ibnu Jarir Ath Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun, ia mengerjakan shalat zhuhur, lalu menulis hingga waktu Ashar. Kemudian keluar untuk shalat Ashar. Selanjutnya ia duduk di majelis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu Maghrib. Setelah itu mengajar fiqh serta pelajaran-pelajaran lain sampai masuk shalat Isya. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat. Tengah malam ia bangun shalat malam dan medalami ilmu-ilmunya.”

Kemuliaan pagi serta mudahnya akal menyerap ilmu di saat itu, pernah pula diingatkan Lukman Al Hakim kepada putranya, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.” (Tafsir Al Qurthubi)

Karena Pagi Tidak Berubah, Yang Berubah Adalah Kita

Pagi seperti tak pernah bosan menyapa kita. Kala kita sakit, bersedih, berduka, atau sedang bersuka cita, pagi selalu datang dengan  sejuta optimisme dan harapan.

Hingga sekarang mungkin tak terhitung lagi, sudah berapa kali pagi menyambangi kita. Suasananya tak pernah berubah, pagi yang dulu tetap pagi yang sekarang, penuh dengan kesejukan dan kesegaran. Tetapi itulah karakter waktu. Ia tidak akan pernah berubah kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain, atau masa yang telah ditentukan telah tiba, yang berarti keberlangsungan dunia ini akan segera berakhir.

Tanpa kita sadari, ternyata pagi telah mengantarkan kita pada usia yang sekarang. Usia yang barangkali tidak lagi bisa dikatakan muda, karena kekuatan fisik yang dulu kita banggakan kini mulai melemah, ketampanan dan kecantikan mulai memudar, ketajaman panfangan mata mulai berkurang, rambut juga mungkin sudah mulai berganti warna, dan anak-anak di sekitar kita sudah semakin besar. Itu semua menjadi pertanda bahwa kita semakin tua, meskipun belum tentu dewasa.

Waktu memang terkadang menggilas kita. Tetapi, tentu karena ulah kita sendiri yang sering lupa, sering hilang kesadaran, bahwa kita harus berubah;  lebih dewasa, lebih berilmu, lebih beriman, dan lebih dekat kepada Allah swt karena kualitas ibadah yang terus meningkat. Karena itu Rasulullah mengingatkan kita, “Jangan sekali-kali mencela waktu, karena sesungguhnya Akulah waktu itu.” (HR.Ahmad)

Seorang salafushalih memberi nasihat, “Beramallah untuk diri kalian di malam yang gelap gulita ini. Karena sesungguhnya orang yang tertipu adalah orang yang tertipu oleh kebaikan siang dan malam. Orang yang terhalangi adalah orang yang tidak mampu memperoleh kebaikan yang ada pada keduanya. Ia merupakan jalan kebaikan bagi kaum Muslimin untuk mentaati Rabbnya, dan bencana bagi mereka yang melalaikan dirinya. Maka, hidupkanlah diri kalian dengan selalu mengingat Allah.”

Tidak ada jalan lain memang, bahwa kita harus berani melihat pagi. Karena bisa jadi pagi ini adalah pagi yang terakhir untuk kita, sebelum sempat memperbaiki diri.

Karena Pagi Adalah Sumber Keberkahan

Kesegaran Shubuh tidak hanya menemani kekhusyukan ibadah kita, atau mengiringi terkabulnya untaian doa dan munajat kita, atau mengasah ketajaman akal dan kemampuan berpikir kita. Tetapi kesegaran shubuh juga membuka pintu-pintu rezeki yang telah Allah hamparkan di hari itu. Karena itu, Islam mengajak kita untuk berlomba menyambut dan mendapatkan rezeki Allah dengan bersegera bangun pagi.

Fatimah ra. putri Rasulullah saw pernah bercerita, “Ayahku lewat di sampingku, sedang aku masih berbaring di waktu pagi. Lalu beliau menggerakkan badanku dengan kakinya dan berkata, “Wahai anakku, bangunlah, saksikan rezeki Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai karena Allah membagikan rezeki kepada hamba-Nya, antara terbit fajar dan terbit matahari.” (HR.Ahmad dan Baihaqi)

Ini pula yang dilakukan Nabi Daud as. Ia membagi waktu hidupnya sehari untuk urusan dunia dan sehari lagi untuk akhiratnya, dengan berpuasa dan beribadah. Ketika harus memenuhi urusan dunianya, pagi-pagi sekali Nabi Daud sudah bangun, ia bersiap lalu berangkat mencari nafkah. Rasulullah saw memujinya dengan sabdanya, “Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan yang lebih baik dari pada hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya Nabi Daud adalah makan dari hasil usahanya sendiri.”

Keberkahan Shubuh bukan hanya pada rezeki. Rasulullah saw jika ingin mengirimkan tentaranya ke medan perang, dilepaskannya di waktu pagi. Ketika berhijrah ke Madinahpun beliau berangkat pada waktu pagi. Shakar, salah seorang sahabat beliau yang meriwayatkan hadits di atas, adalah seorang saudagar.  Jika ia ingin mengirimkan barang-barang dagangannya, selalu ia lakukan di pagi hari, dan itulah puncaknya Allah memberikan banyak kekayaan kepadanya.

Aisyah ra berkata, “Rasulullah bersabda, “Berpagi-pagilah mencari rezeki, karena sesungguhnya berpagi-pagi itu membawa berkah dan menghasilkan kemenangan.”

Kunci keberkahan dimulai dari membiasakan diri mendirikan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Dan bisa dibayangkan, jika setiap Muslim di negeri ini melakukan shalat Shubuh berjamaah di masjid dan mereka rajin melakukan dzikir, maka keberkahan akan muncul di mana-mana. Karena itu, cariilah keberkahan dan kemenangan di waktu pagi, dan hindarilah tidur di saat itu, karena sebenarnya kebiasaan itu hanya akan menjauhkan kita dari rezeki Allah swt.@

Sumber : Tarbawi-Edisi 103  3 Maret 2005

Iklan

4 thoughts on “Keberkahan Yang Tak Pernah Pudar

  1. Ping-balik: Perlis News

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s