Mendurhakai Orang Tua

care-2024469__340.png
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Walaupun hanya sampai usia balita, seorang anak tidak akan mampu menghitung dan membalas jasa orang tuanya terkhusus ibunya. Jika ibunya mau, dia akan menggugurkan kandungannya ketika usia awal kehamilannya, namun tidak, dia tetap merawat  kehamilannya dengan sangat payah hingga perutnya membesar dan tidak enak dipandang. Kemudian sang ibu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, mengalirkan darah dan air mata, nafas yang hampir terputus serta 57 del rasa sakit yang mana sesungguhnya manusia hanya sanggup menerima 45 del rasa sakit. Bisa dibayangkan betapa sakitnya seorang ibu melahirkan, 57 del adalah setara sakitnya dengan 7 tulang yang patah secara bersamaan. Kemudian ibu tetap tersenyum melihat seorang bayi yang hampir membunuhnya. Seorang ibu tidak akan pernah membeda-bedakan senyumnya terhadap setiap kelahiran anaknya. Kemudian ibu memberikan darahnya melalui air susu kepada anaknya, sangat sakit dan nyeri ketika pertamakali air susu itu dihisap oleh sang anak. Sungguh tidaklah pantas dan teramat durhaka jika seorang anak merasa bisa hidup atas jerih payahnya sendiri, kemudian meniadakan peran orang tuanya apalagi ibunya.

Baca teks selanjutnya di sini

 

Iklan

4 thoughts on “Mendurhakai Orang Tua

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas AR Syamsuddin….

    Sukar dibayangkan jika hidup ini tanpa ibu dan ayah. Kita pasti rasa sunyi, sepi dan sangat rindu. Malah sudah berumur begini pun, tetap rindu kepada orang tua kita. Begitulah perasaan anak apabila kehilangan atau berjauhan dari orang tuanya. Saya yakin ibu bapa kita lebih lagi perasaannya terhadap anak-anak sehingga mereka sanggup memaafkan anak-anak yang selalu melukakan hati mereka.

    Apabila mengingati betapa besarnya pengorbanan mereka membesarkan kita, maka tidak wajar kita mendurhakai. Di dalam al-Quran Allah memberi amaran bahawa berkata “ah…” atau seumpamanya adalah dilarang. Mudahan kita menjadi anak yang mengenang jasa dan selalu perihatin kepada perasaan dan keinginan orang tua kita selagi mereka masih bernyawa.

    Terima kasih mas AR Syamsuddin sudah mengingatkan posisi kita sebagai anak. Semoga diberkati Allah SWT. Aamiin.

    Salam takzim dari Sarikei, Sarawak.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Wa’alaikum salam mba Fatimah…

      MashaAllah syukran ukhti… memang betul sekali mba Fatimah, saya pikir juga demikian yah, bagaimana mungkin sebegitu teganya kita jika semudah itu melupakan peran besar kedua orang tua kita yang semenjak dalam kandungan sudah menyusahkan keduanya terutama ibu, tapi apakah ibu kita mengeluh, tidak. Ibu kita justru senang membawa kemanapun pergi kandungannya yang semakin lama makin membesar dan berat, tak ada keluhan dari nya karena ada cinta harapan dan tanggung jawabnya sebagai orang tua pada seorang anak. Lalu saat melahirkan, ibu mempertaruhkan nyawa dan jiwanya demi hadirnya seorang anak yang diidam-idamkannya kelak akan menjadi pelita hatinya yang shaleh salehah. Tapi alangkah berdosanya, bila kita anaknya melupakan jasanya setelah besar dan sukses dalam kehidupannya, subhanallah…Semoga Allah senantiasa membantu kita untuk senantiasa bisa menghormati dan berbuat baik pada kedua orang tua kita, hingga mereka meninggal dunia dan juga dipertemukannya kembali kita di akhirat kelak, amien.
      Terima kasih mba Fatimah atas komentarnya yang menginspirasi pembaca dan kita semua pada posisi kita sebagai anak. Barakallah fik.
      Salam takzim selalu dari Dompu

      Suka

  2. Ping-balik: Perlis News

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s