Mereka Adalah Kaum Anshar

christmas-934167__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Mereka itu siapa sih? Itu mungkin pertanyaan kita ketika sepintas mendengar kabar atau informasi tentang mereka. Penasaran siapa mereka? Mereka itu adalah kaum Anshar. Begitu pemurah dan penolong pada saudara seiman. Pemilik rumah yang memberikan segalanya. Tidak ada golongan manusia yang begitu mudah memberikan pertolongan sepenuh kemampuan seperti orang-orang Anshar. Sebelumnya, mereka sedikitpun tidak mengenal orang-orang yang mereka tolong. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka adalah sesama muslim.

Sifat-Sifat Kaum Anshar ini begitu istimewa dan mulianya seperti yang Allah jelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajrin) ; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang di pelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.Al Hasyr : 9)

Saudara macam apa ini, yang bersedia membagi dua semua miliknya. Dari kebun, toko, rumah, budak, bahkan jika isterinya disukai ia akan ceraikan segera dan menikahkannya dengan sang saudara. Masya Allah…

Itsar adalah mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri meski sangat membutuhkan. Ini adalah amal kedermawanan tertinggi dari diri seorang muslim. Kaum Anshar adalah contoh konkret yang dicatat sejarah sebagai pemilik sifat ini.

Setelah diizinkan Allah berhijrah, kaum muslimin Mekkah menetap di Kota Madinah. Kaum Anshar sangat antusias menerima saudara-saudara seiman mereka, kaum Muhajirin. Mereka membagi tempat tinggal dan makanan dengan senang hati. Bahkan, mengutamakan segala sesuatu bagi kaum Muhajirin melebihi diri mereka sendiri.

Mengenai hal ini Abdurrahman bin ‘Auf ra menceritakan kisahnya sendiri, “Ketika kami tiba di Madinah, Nabi SAW. telah mempersaudarakan saya dengan Said bin Rabiah. Beliau berkata kepada saya, “Saya adalah orang yang paling kaya dikalangan kaum Anshar. Ambillah setengah dari harta kekayaan saya. Saya juga memiliki 2 orang istri, pilihlah salah seorang yang kamu senangi, saya akan menceraikannya. Jika iddahnya selesai maka kamu dapat mengawininya” (HR.Al-Bukhari)

Sifat istimewa yang kedua ialah mereka sangat mencintai kaum Muhajirin. Jika seseorang membaca sejarah permulaan Islam, maka ia akan heran dengan keadaan kasih sayang
yang terjalin dikalangan sahabat.
Ketika hijrah ke Madinah Nabi SAW. telah mengadakan hubungan persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajrin sehingga setiap seorang Muhajirin mendapat saudara seorang Anshar sebagai saudara kaitan khusus. Setiap orang Muhajrin dipersaudarakan dengan seorang Anshar, karena kaum Muhajirin adalah para pendatang sedangkan kaum Anshar adalah orang-orang setempat (Madinah). Ditempat baru ini kaum Muhajirin akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kaum Anshar sebagai orang tempatan membantu kaum Muhajrin jika mereka mengalami kesulitan sehingga mereka akan mendapat kemudahan. Betapa suatu aturan yang sungguh istimewa yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW dimana kaum Muhajirin mendapat kemudahan dan kaum Anshar pun tidak mendapat kesulitan. Karena seseorang bertanggung jawab atas seseorang adalah mudah.

Sifat ketiga, dalam ayat suci diatas yang menerangkan tentang orang Anshar ialah bahwa jika kaum Muhajirin mendapatkan sesuatu dari harta rampasan perang atau dari yang lainnya, maka hati orang-orang Anshar tidak merasa sempit dan cemburu. Hasan Basri rah a berkata, “Maksudnya ialah jika kaum Muhajirin memperoleh kelebihan umum daripada kaum Anshar, maka hal ini tidak menyusahkan hati orang Anshar”. (Durrul Mantsur)

Sifat keempat yang diterangkan diatas ialah walaupun mereka dalam kemiskinan dan kelaparan tetapi mereka masih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Banyak cerita-cerita seperti itu yang dapat ditemui didalam sejarah hidup mereka.

Seorang sahabat telah datang kepada Nabi SAW dan mengadukan kelaparan dan kesempitannya. Nabi SAW telah mengirim utusan kepada istri-istri Beliau untuk mencari makanan, tetapi diberitahukan bahwa tidak ada makanan disana. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada orang-orang yang berada diluar “Adakah diantaramu yang sanggup melayani tamu ini?”
Seorang Anshar yang disebut dalam beberapa riwayat bernama Abu Thalha ra telah membawa tamu itu kerumahnya. Lalu ia berkata kepada istrinya, “Ini adalah tamu Nabi SAW kita mesti melayaninya dengan baik dan hidangkanlah apapun makanan yang kita miliki”.
Istrinya menjawab “Dirumah kita hanya ada sedikit makanan untuk anak-anak kita. Selain itu tidak ada apa-apa lagi”.
Abu Thalha ra berkata “Tidurkanlah anak-anak. Dan jika saya telah duduk dengan tamu untuk makan, maka padamkanlah lampu dengan berpura-pura untuk membetulkannya, supaya tamu dapat makan dengan puas dan kita tidak perlu makan,” maka demikianlah yang dilakukan oleh istrinya.

Masih adakah manusia-manusia seperti ini di zaman sekarang? Jawabannya pastilah sudah tak ada, atau paling tidak, masih ada tapi bisa dihitung dengan jari.

Itulah sekelumit kisah persaudaraan sejati di antara orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar. Semoga bermanfaat. @spreading the pearl.wordpress.com

|=====================================================|

KOMENTAR DI SINI VIA AKUN FB ANDA

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (3/3)

caravan-339564__340 (1)
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, ada empat tokoh besar yang duduk bertemu. Dua orang di antaranya telah kita uraikan di tulisan sebelumnya. Banyak pelajaran yang kita dapati dan kaji dari keduanya. Pelajaran yang bisa kita adaptasi dengan realita kekinian. Berikutnya, tokoh ketiga adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Abu Thalib

Mungkin, penolakan Abu Jahal terhadap Islam membuat kita terheran. Bagaimana seorang yang dijuluki Abu al-Hakam, bapak kebijaksanaan, bisa menolak Islam dengan alasan gengsi kesukuan. Sebaliknya, kita juga takjub dengan Abdullah bin Abi Umayyah. Bagaimana lika-liku kehidupan yang ia alami hingga mengantarkannya pada hidayah dan syahid di akhir hayat. Tapi, kisah Abu Thalib akan membuat kita lebih terheran lagi. Bagaimana ia bisa menolak Islam?!

Begitu banyak jalan dan sebab yang memungkinkan Abu Thalib menerima Islam dan menjadi seorang mukmin. Ia seorang yang cerdas. Matanya menyaksikan, bagaimana wahyu turun pada anak saudaranya sejak hari pertama. Ia tahu dan yakin wahyu itu benar. Tak pernah ia dustakan keponakannya yang mengklaim diri sebagai nabi. Rasulullah sangat mencintainya. Demikian juga dia, keponakannya ini berada di tempat istimewa di hatinya. Ia laki-laki terhormat. Tokoh bani Hasyim yang turut berbangga, terlahir seorang nabi dari kabilahnya. Rasulullah berjanji membelanya di hari kiamat jika ia mengucapkan laa ilaaha illallaah. Tapi tak diindahkannya. Setelah semua itu, ia akhiri hayatnya dengan berpegang pada agama ayah dan kakek-kakeknya.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)

caravan-339564__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Di tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana peristiwa wafatnya paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Bagaimana Nabi berusaha mendakwahi sang paman di akhir hayat. Dan bagaimana pula tokoh-tokoh kekufuran, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tak mau kalah menyerukan kekufuran untuk teman mereka.

Orang pertama yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini adalah Abu Jahal.

Abu Jahal

Namanya adalah Amr bin Hisyam al-Makhzumi. Ia dikenal sebagai seorang yang bijaksana. Mampu menyelesaikan perselisihan antara dua orang dengan putusan yang membuat keduanya lapang. Karena itu ia digelari Abul Hakam (tokoh yang bijaksana) oleh orang-orang Mekah. Saat risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, ia menolaknya. Alasannya, hanya dengan alasan fanatik kesukuan. Sehingga dalam Islam ia disebut dengan Abu Jahal (bapak kebodohan).

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, kita bisa mengetahui bahwa Abu Jahal adalah seorang yang sangat bersemangat turut andil dalam peristiwa penting di Mekah. Ia senantiasa memperhatikan setiap perkembangan yang dapat mengokohkan syiar kekufuran. Ia gelontorkan seluruh daya upaya. Kesungguhan maksimal, waktu siang dan malam yang bernilai, harta hasilnya berniaga, tak membuatnya reda rasa luka, ia tahan kantuk yang membuat mata tekatup, semua itu ia lakukan demi menghalangi dakwah Rasulullah.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (1/3)

caravan-339564__340 (1).jpg
Pixabay.com

Bismillaaahir Rahmaanir Raahiim

Saat Abu Thalib mendekati akhir usia, berkumpullah tokoh-tokoh besar di sekitarnya. Penghulu manusia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tokoh kekafiran juga pemuka Quraisy, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Kehadiran para tokoh yang kontradiktif inilah, membuat peristiwa wafatnya Abu Thalib memuat banyak pelajaran.

Ketika ajal Abu Thalib telah dekat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menuju rumah sang paman. Beliau berharap pamannya yang turut memperjuangkan dakwah ini, melisankan syahadat di akhir hayat. Meninggalkan dunia dengan menyandang status seorang muslim. Sehingga menjadi sebab bergantinya keadaan, dari berhadapan dengan ancaman neraka berganti dengan nikmat surga.

Akan tetapi bukan hanya Rasulullah saja yang mengetahui Abu Thalib sedang menghadapi sakaratul maut, Abu Jahal pun tahu kabar itu. Jadilah peristiwa wafatnya Abu Thalib sebuah pertemuan antara kebenaran dan tokohnya dengan kebatilan juga dan dedengkotnya.

Baca teks selengkapnya di sini>>