Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)

caravan-339564__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Di tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana peristiwa wafatnya paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Bagaimana Nabi berusaha mendakwahi sang paman di akhir hayat. Dan bagaimana pula tokoh-tokoh kekufuran, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tak mau kalah menyerukan kekufuran untuk teman mereka.

Orang pertama yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini adalah Abu Jahal.

Abu Jahal

Namanya adalah Amr bin Hisyam al-Makhzumi. Ia dikenal sebagai seorang yang bijaksana. Mampu menyelesaikan perselisihan antara dua orang dengan putusan yang membuat keduanya lapang. Karena itu ia digelari Abul Hakam (tokoh yang bijaksana) oleh orang-orang Mekah. Saat risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, ia menolaknya. Alasannya, hanya dengan alasan fanatik kesukuan. Sehingga dalam Islam ia disebut dengan Abu Jahal (bapak kebodohan).

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, kita bisa mengetahui bahwa Abu Jahal adalah seorang yang sangat bersemangat turut andil dalam peristiwa penting di Mekah. Ia senantiasa memperhatikan setiap perkembangan yang dapat mengokohkan syiar kekufuran. Ia gelontorkan seluruh daya upaya. Kesungguhan maksimal, waktu siang dan malam yang bernilai, harta hasilnya berniaga, tak membuatnya reda rasa luka, ia tahan kantuk yang membuat mata tekatup, semua itu ia lakukan demi menghalangi dakwah Rasulullah.

Baca teks selengkapnya di sini>>