Taqwa Versus Hubbud Dunia

haji-ali-shrine-234231__340

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pada postingan kali ini saya menyajikan tajuk Taqwa versus hubbud duniya. Sebuah tajuk yang memperlihatkan dua hal yang saling berlawanan atau saling mengalahkan. Mengapa demikian, karena memang keduanya akan selalu berada pada posisi yang saling mengalahkan. Ketika taqwa nya kuat maka hubbud duniya akan lemah dan kalah, dan orang yang berada pada posisi ini pasti dunia akhiratnya selamat.  Sebaliknya bila hubbud duniya menguat maka taqwa akan melemah dan kalah, dan ini adalah keadaan yang sangat berbahaya bagi seseorang yang berada di dalamnya, na’udzubillahi mindzaalik.

Yang dimaksud Hubbud Dunya adalah cinta seseorang terhadap dunia secara berlebihan. Hubbud Dunya dapat dikatakan sebagai sumber kehancuran umat, sebab dapat melemahkan dan juga menggerus keimanan seseorang kepada Allah SWT.

Hubbud dunya adalah sumber kehancuran umat. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan dan menggerus keimanan seseorang kepada Allah SWT. Ketika seorang Muslim sudah menjadikan dunia ini sebagai tujuannya, maka itu alamat dia telah terjebak dalam hubbud dunya.

Allah Shubhanahu wata’ala tidak melarang hambanya untuk berkiprah dan berjuang di dunia dalam rangka mencari kemakmuran dan kesejahteraan hidup semaksimal yang mampu kita usahakan, asalkan jangan sampai kita melupakan negeri akhirat tempat kita kembali dan hidup kekal selamanya di sana. Kita diperintahkan untuk berdoa,

“Ya Tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.”

Sesungguhnya Islam tidak mengharamkan dunia dan perhiasannya, akan tetapi menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kehidupan dan kebahagiaan akhirat.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR Bukhari-Muslim).

Oleh karena itu, jangan terlena dengan kesenangan dunia yang sifatnya sementara, jadikanlah dunia sebagai tempat beramal shaleh sebanyak-banyaknya agar kita memiliki persiapan bekal yang cukup untuk kembali menghadap Allah dan mempertanggungjawakan di hadapan Nya.

Manusia pada dasamya ingin kaya, pangkat tinggi, memiliki pangaruh yang besar, terkenal di mana-mana, dan mempunyai istri yang cantik. Manakala seseorang telah mencapai keinginannya sementara aturan-aturan Allah tidak dipergunakan dalam mengatur dan mengendalikan kekayaan dunianya, maka inilah yang disebut materialistis, alias cinta dunia. Cinta dunia ini satu paket dengan takut mati, atau dikenal dalam istilah penyakit wahan.

Seorang sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, apa penyakit al wahan itu?.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Al Wahan adalah penyakit cinta dunia dan takut mati’ “.  (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)

Faham materilisme ini sama sekali tidak dibolehkan dalam ajaran Islam, bahkan adalah merupakan musuh Islam yang tergolong utama. Faham ini merupakan warisan dari Iblis la’natullahi’alaihi, yang memang kehadiran dan keberadaanya di dalam diri hanya untuk menggoda agar manusia rusak, sehingga (pada akhirnya kelak) menjadi penghuni neraka bersama Iblis.

Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan timbulnya penyakit wahan di masyarakat muslim, yakni:

1. Kaum muslimin banyak yang belum memahami karakteristik ajaran Islam itu sendiri. Akibatnya, dengan mudah mereka menerima faham-faham yang tidak sesuai ajaran Islam. Mereka hanya menerima hal-hal yang sesuai dengan tuntutan hawa nafsunya. Sedangkan hal-hal yang jelas berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam dilihat dan disikapinya sebagai suatu beban dan menyusahkan kehidupan. Mereka merasa ragu dan telah phobi terhadap Islam.

2. Pengaruh racun berpikir yang disuntikan sejak lama oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin. Proses pencekokan tersebut berlangsung dengan demikian halus dan terorganisir, sehingga umat Islam menjadi lemah dan terpecah-pecah. Hal itu sesungguhnya amat kita lihat dan rasakan.

3.    Kekuasaan militer, politik dan pemerintahan yang tidak berada di tangan kaum muslim sehingga urusan umat Islam diserahkan kepada orang-orang kafir lagi fujur, fasik dan munafik. Mereka mengangkangi kaum muslimin dalam berbagai bidang.

4.    Untuk mewujudkan cita-citanya musuh-musuh Islam (Yahudi dan Nasrani) merancang taktik strategi untuk menghadapi umat Islam. Mereka memanfaatkan kekayaan, ilmu pangetahuan, dan teknologi yang mereka miliki untuk menghadapi dan memperdaya umat Islam. Sehingga situasi dan kondisi dunia lslam benar-benar dalam keadaan lemah, terbelakang, terpecah-pecah, dan malah sesama umat Islam itu sendiri saling beradu dan bermusuhan.

Di dalam Al Qur’an Allah memperingatkan kita, terutama khusus kepada orang-orang yang beriman dengan firman Nya  :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati melainkan dalam beragama Islam.” (QS. Ali Imran 102).

Kalau kita merenungkan ayat ini, insya Allah kita akan menyadari bahwa sesungguhnya ayat ini merupakan peringatan sekaligus vonis dan ultimatum dari Allah khusus untuk orang beriman. Mengapa orang beriman, karena tak mungkin orang kafir bisa menangkap makna ayat ini (kecuali mereka telah diberi hidayah oleh Allah).

Apa arti taqwa? Secara umum taqwa berarti melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua  larangan-Nya serta menjaga diri agar terhindar dari siksa api neraka. Bicara masalah taqwa bukan hal baru bagi kita umat Islam, bahkan disetiap khutbah Jum’at kita diingatkan oleh khatib agar kita tetap istikomah dalam Islam, dan jangan sampai kita mati selain dalam beragama Islam.

Tetapi meski kita paham akan makna ayat ini, masih saja mengabaikannya, meremehkannya dan seolah-olah perintah ini hanyalah peringatan biasa seperti halnya sebuah undangan  acara tertentu yang boleh saja kita berhalangan menghadirinya karena ada uzur, misalnya. Ternyata, kita masih lalai untuk menjalankan kepatuhan yang sempurna kepada-Nya. Mengapa semua ini bisa terjadi? Apakah ini karena kita terlalu berkiblat pada kepentingan dunia? Jangan-jangan kita telah terjebak dalam perangkap hubbud dunia. Benar sekali kawan, maka waspadalah…

Hubbud Dunia, atau cinta dunia ternyata begitu dahsyat menyeret kita menjauh dari Allah dan Rasulullah. Ketika azan berkumandang misalnya, kita tidak segera beranjak dari tempat kita duduk, bekerja, atau bahkan ketika kita asyik bercengkerama dengan istri dan anak-anak kita dirumah. Mengapa begitu berat untuk melepaskan diri kita dari semua itu? Sadarkah kita, kalau itu hanyalah kesenangan dan keasyikan dunia yang menipu? Karena itu, jangan biarkan diri kita berlama-lama dalam kebodohan yang nyata, padahal sudah sejak lama kita diberi pencerahan oleh Manusia pilihan Allah yang membawa risalah yang agung (Al Qur’an) yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Karena kecintaan kepada dunia telah sedemikian dominan mirip kaum kuffar, maka biasanya secara otomatis hilangnya kerinduan bahkan kesiapan menghadapi alam berikutnya, yakni al-akhirah. Dan mengingat bahwa pintu memasuki akhirat ialah kematian di dunia, maka muslimin yang telah lemah mental itu kehilangan kesiapan serta keberanian menghadapi al-maut alias kematian. Mereka menjadi takut menghadapi kematian. Padahal Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru menekankan kepada kita agar banyak-banyak mengingat kematian

Ingat, bahwa dunia dengan segala isinya yang kita bangga-banggakan itu tidak lebih dari sepotong daging yang diolah menjadi sebuah menu makanan yang enak, bahkan sangat enak dan lezat, akan tetapi sadarkah kita bahwa setelah makanan itu berproses beberapa saat dalam sistem metabolisme tubuh kita, ia akan keluar menjadi barang kotoran yang menjijikan. Ia mungkin akan bermanfaat untuk makanan hewan tertentu, namun pasti tidak semua hewan mau memakannya. Saudara, itulah dunia, dan hanya sedemikian itulah dunia yang membuat kita sampai melupakan perintah Allah dan Rasulullah.

Untuk itu sebagai penutup tulisan singkat ini aku berpesan, marilah dengan sekuat-kuatnya tenaga kita untuk tetap istikomah menjalankan kepatuhan dan ketaatan pada perintah Allah dan Rasul-Nya apapun kondisinya dalam kehidupan kita di dunia ini, agar kelak di akhirat Allah dan Rasul-Nya juga ridho menyambut kehadiran kita dan memasukkan kita semua ke dalam surga-Nya, amien. Wallahu ta’ala a’lam.

Oleh : Ar Syamsuddin

Referensi :

1. Eramuslim.com

2. Voa-islam.com

Advertisements

6 thoughts on “Taqwa Versus Hubbud Dunia

Hai Sobat, mari kita saling menyapa dan berbagi...

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s