Cara Bersyukur Pada Allah

imageedit_33_6498153213
spreadthepearl.com

 

بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ

Pengantar

Ketika memikirkan dan merenungkan secara mendalam tentang kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya terutama manusia, maka dapatlah kita memahami dan menyadari betapa besar dan luasnya kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah itu untuk manusia. Pada diri kita Allah telah menyempurnakan nikmat penciptaannya baik secara fisik maupun psikis sehingga menjadilah kita makhluk dengan sosok dan bentuk yang sebaik-baiknya. Dan, karena nikmat Allah berupa iman dan Islam, maka manusia bisa menjadi makhluk atau hamba yang melambung tinggi derajatnya di sisi Allah, tetapi juga bisa jatuh terjerembab dalam lumpur dosa bila kufur nikmat, sehingga ia berada pada derajat yang paling rendah di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Tin ayat 4-5 berikut ini :

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4

5) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

Dalam tulisan ini, istilah cinta, kasih sayang dan kebaikan Allah itu, saya sebut sebagai nikmat atau lebih jelasnya nikmat Allah. Jadi oleh karena itu, alangkah sombong dan tidak tahu dirinya manusia jika ia tidak mau bersyukur atas semua pemberian Allah itu padanya. Kalau bukan karena kebaikan Allah berupa taufik dan hidayahNya maka pastilah kesesatan dan kegelapan jualah yang akan kita alami dalam kehidupan di dunia ini. Sesat karena tak tahu kemana arah yang seharusnya dituju, dan gelap karena tak ada cahaya iman yang akan menerangi jalan yang dilalui. Oleh karenanya, adalah sudah sepantasnyalah kalau kita pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah tanpa diperintah oleh si pemberi nikmat, apalagi ada perintah  yang sifatnya wajib. Kenapa? karena setiap saat tanpa di sadari, kita selalu mendapat curahan rahmat dan nikmat Allah, seperti setiap halaan atau keluar masuknya nafas kita, itu pertanda bahwa kita mendapat curahan nikmat Allah berupa oksigen yang sangat kita butuhkan untuk keberlangsungan hidup kita, belum lagi nikmat-nikmat Allah yang lainnya yang tak terbilang.

Pengertian

Yang dimaksud pada judul di atas adalah cara mensyukuri nikmat. Sudah pasti yang dimaksud adalah nikmat Allah yang kita nikmati sepanjang hidup kita. Apa yang dimaksud dengan syukur nikmat, dan apa pula yang dimaksud dengan kufur nikmat? Secara sederhana syukur nikmat adalah merawat dan menggunakan segala nikmat yang ada pada kita sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhananhu wata’ala. Sebaliknya kufur nikmat adalah kebalikannya, yaitu mengingkari atau tidak mau merawat dan menggunakan segala nikmat Allah yang ada padanya  sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Syukur nikmat atau mensyukuri nikmat Allah tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kalimat syukur alhamdulillah, akan tetapi adalah dengan menggunakan segala nikmat Allah itu sesuai dengan fungsi dan peruntukkannya yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Hal ini dapat kita ambil sebagai salah satu contoh misalnya, nikmat mata. Allah telah memberi kita sepasang mata yang fungsinya untuk melihat. Pertanyaannya, sudahkah kita menggunakan mata kita untuk melihat hal-hal yang sesuai dengan ketentuan dan diridhai oleh Allah? Kalau ya/sudah, maka berarti kita telah mensyukuri nikmat Allah berupa mata tadi, dan itulah syukur nikmat. Tetapi kalau belum/tidak, maka itu artinya kita belum atau tidak mensyukuri nikmat Allah berupa mata, dan itulah kufur nikmat. Saya berikan penegasan di sini, bahwa mensyukuri nikmat itu adalah menggunakannya sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Jadi penggunaan di luar batasan tersebut tidak bisa disebut sebagai syukur nikmat akan tetapi kufur nikmat.

Cara Mensyukuri Nikmat

Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif, iHaqi, Ustaz Erick Yusuf mengatakan bahwa ucapan hamdallah hanya satu cara. Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah SWT.

Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta’ati aturan Allah dalam segala aspek kehidupan

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini dapat mengingatkan kita untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong tak tahu diri, dan mereka adalah orang-orang yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Penjelasan Al Qur’an

Mensyukuri nikmat adalah perintah Allah yang wajib diimplementasikan oleh setiap orang yang beriman, sebagaimana firman Allah berikut ini : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. 2:172)

Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) pada sesama manusia yaitu kepada kedua orang ibu bapak kita, sebagaimana Allah menjelaskan dalam firmanNya berikut ini :“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12)

Penutup

Sebagai penutup, saya ingin mengajak saudaraku muslim semuanya yang kebetulan mampir dan membaca tulisan singkat ini, marilah kita saling ingat-meningatkan tentang apapun perihal Islam ini. Karena masih banyak sekali tentunya, hal-hal yang masih perlu kita sama-sama ketahui dan dalami tentang agama ini. Di sini saya mengajak pada kita semua, pikirkanlah dan renungkanlah dengan hati yang bersih dan jernih tentang betapa besar dan luasnya kasih sayang dan kebaikan Allah subhanahu wata’ala kepada kita semua, yang mana itu semua adalah nikmat Allah yang telah kita nikmati selama ini dalam hidup kita. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Mengapa dan apa pentingnya kita saling ingat-mengingatkan? Pentingnya, adalah karena tidak jarang di antara kita masih ada bahkan masih banyak yang tidak juga mau bersyukur, meskipun sebenarnya dia sudah tahu dan paham tentang hal itu, tetapi karena godaan dan bisikan syetan yang senantiasa mengajak kita kepada kufur nikmat, maka sering kali kita kalah dalam mempertahankan kebenaran yang kita yakini. Subhanallah, kalau sudah demikian dan tidak juga mau bersyukur, maka Allah Azza wajalla bertanya kepada kita, فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan? Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  Pertanyaan ini berulang sampai 31 kali dalam Al Qur’an surat Ar-Rahman dari awal hingga akhir surat. Betapa ini menunjukkan bahwa Allah Azza Wajalla sungguh ingin mengingatkan kita agar jangan sampai kita kufur nikmat.

Demikianlah sekelumit goresan pena ku malam ini, semoga ada manfaatnya bagi pembaca dan mohon maaf dan koreksinya bila ada kekurangan dan kekeliruan  di dalamnya. Allahu a’lam 

 

AL-HADITS :

“Apabila seseorang melihat orang cacat lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi) Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhlukNya”, maka dia tidak akan terkena ujian seperti itu betapapun keadaannya.” (HR. Abu Dawud)

Baca juga 

Barisan Hizbullah Peran Jihad Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Begini analisa menarik penulis Tionghoa soal kasus Ahok

Desa di Sulawesi mendadak jadi kampung cina

Enytime Reflection

water-880462__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pernahkah saat kau duduk santai menikmati harimu lalu terpikir untuk berbuat kebaikan untuk seseorang? Jawabannya, hampir semua orang yang berkarakter baik pasti pernah punya pikiran seperti itu dalam hidupnya. Dan, percayalah bahwa itu adalah #ALLAH ﷻ yang sedang berbicara denganmu dan mengetuk pintu hatimu. Dan, percayalah bahwa apabila itu adalah niat baik yang belum tuntas kau tunaikan, maka kamu sudah mendapatkan pahala untuk niat baikmu itu. Dan pahala dari pikiran dan niat baik akan menjadi berlipat ganda ketika kamu merealisasikannya dalam sekecil apapun kebaikan untuk sesama. Sebaliknya jika kamu berniat untuk melakukan kejahatan namun tidak jadi kamu laksanakan maka tidak berdosa, tetapi jika kamu merealisasikan keinginan jahat itu, maka ia berdosa. Seperti dijelaskan dalam hadits berikut ini :

Dan dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda :

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً ، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، لَـمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا ، كُتِبَتْ سَيِّـئَةً وَاحِدَةً.

Barangsiapa menginginkan kebaikan kemudian tidak mengerjakannya, maka satu kebaikan ditulis untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, maka sepuluh kebaikan ditulis baginya. Dan barangsiapa menginginkan kesalahan kemudian tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis apa-apa baginya. Jika ia mengerjakan kesalahan tersebut, maka ditulis satu kesalahan baginya.

Pernahkah kau merasa hidupmu penuh masalah, kacau, kau jenuh, dan semua tidak menyenangkan dan kosong? Itu adalah #ALLAH ﷻ Yang Maha Penyayang yang sedang mengujimu. Dan #ALLAH ﷻ ingin mendengar rintihanmu dalam doa kepadaNya. Agar kamu menyadari keberadaanNya. Karena Dia tahu kau sudah mulai melupakanNya dalam kesenangan dunia.

Kehidupan ini tidak pernah sepi dari kesulitan. Selalu ada bencana baru yang menjadikan kita tertekan, yang mengakibatkan naiknya tekanan darah memikirkan semuanya. Mungkin bencana itu berupa naiknya harga-harga kebutuhan primer kita, atau banjir dan kemarau panjang yang mengakibatkan seluruh tanaman kita gagal panen, atau kebakaran yang menghanguskan seluruh harta dan tempat tinggal kita. Semua itu, jika selalu menjadi fokus perhatian dalam kehidupan kita maka selamanya kita akan tersiksa.

Dunia tidak akan pernah berhenti menghadirkan cobaannya. Maka janganlah kita terlalu menanggung beban dunia di atas pundak kita. Biarkan saja dunia ini menanggung beban segala sesuatu yang telah dan atau yang akan terjadi. Jika kita selalu berpegang teguh kepada prinsip dan senantiasa berada di jalan yang benar, kita tidak akan tergoyahkan oleh kesulitan. Justru sebaliknya, kesulitan akan membantu kita memperkuat ketetapan hati dan keyakinan kita. Namun jika kita berhati lemah, dan selalu pesimis karena dunia yang kita kejar kelihatannya semakin jauh, maka menghadapi kesulitan adalah masalah yang akan menambah rasa takut kita sendiri.

Di saat malapetaka tiba, tidak ada yang lebih bermanfaat bagi diri kita selain memiliki hati yang berani dan jiwa yang penuh dengan kepuasan (qana’ah). Orang yang memilki hati yang berani dan jiwa yang qana’ah, berarti ia memilki dirinya sendiri. Ia memiliki keyakinan yang kuat dan dan sel-sel saraf yang tenang. Sementara, orang yang hatinya pengecut dan jiwa yang tidak pernah puas akan anugerah Allah, ia akan berkali-kali membunuh dirinya sendiri dengan kekhawatiran dan firasat malapetaka yang akan tiba.

Karenanya, jika kita meninginkan hidup yang stabil di dunia dan mengharapkan keberuntungan dari kesulitan, kita harus berani menghadapi segala situasi dengan penuh keberanian dan ketabahan. Tidak menjadikan fokus utama kehidupan kita untuk mengejar dunia sebanyak-banyaknya.

Kita harus bersikap tegas terhadap kondisi lingkungan dan dengan berani menghadapi segala angin malapetaka. Orang yang terlalu rakus dengan dunia ia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah atas setiap bencana yang menimpanya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba pada kehidupan (dunia).” (QS.Al Baqarah :96)

Sebaliknya, bagi mereka yang tegar, merasa cukup dengan karunia Allah kepadanya, mereka akan mendapatkan pertolongan dari Allah dan dilimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya. “Lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan atas mereka.” (QS.Al Fath; 18)

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan #ALLAH ﷻ, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya #ALLAH ﷻ menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Al- Qur’an 2:195
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan #ALLAH ﷻ, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Al- Qur’an 4:114

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan #ALLAH ﷻ kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana #ALLAH ﷻ telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Al- Qur’an 28:77

Pernahkah saat kau sedang sedih namun kau tak memiliki seorang pun untuk kau ajak bicara dan berbagi keluh kesah? Itu adalah #ALLAH ﷻ sedang rindu padamu dan ingin kau berbicara padaNya lewat doa.

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada #ALLAH ﷻ aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari #ALLAH ﷻ apa yang kamu tiada mengetahuinya”.

Al-Qur’an 12:86

Pernahkah kau merindukan seseorang, lalu tiba-tiba kamu mendapat telpon/pesan darinya, atau kau bertemu dengannya? Itu adalah #ALLAH ﷻ sedang menghiburmu. Karna tak ada yg namanya kebetulan.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Al- Qur’an 3:190
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Al- Qur’an 3:191
رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. –

Al- Qur’an 3:192

Pernahkah kau mendapatkan sesuatu yang selama ini kau inginkan tapi sangat sulit untuk kamu dapatkan? Itu adalah #ALLAH ﷻ Yang Maha Mengetahui dan mengabulkan doa yang telah kau tabur sebelumnya.

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena #ALLAH ﷻ. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada #ALLAH ﷻ dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada #ALLAH ﷻ niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Al- Qur’an 65:2
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada #ALLAH ﷻ niscaya #ALLAH ﷻ akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

Al- Qur’an 65:3
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Al- Qur’an 32:21

Hidayah selalu datang bagi hambaNya yang mau berfikir. #ALLAH ﷻ itu sangat dekat. Selalu dekat. Tulisan ini, kita baca sekarang juga bukan kebetulan. Pilihan ada ditangan kita, ingin menjadi golongan yang lalai atau bukan. Bahkan ketika engkau lalai, kau telah diberi nikmat yang begitu berlimpah.

Hasbunallah wanikmal wakil-Wasslamu’alaikum warahmatullah wabaraktuh.

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

dalil-tentang-berbakti-kepada-orang-tua-140x100
Yahoo.image

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Salah satu jalan untuk menggapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla adalah berbuat baik pada kedua orang tua (birrul walidain). Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Berbakti atau berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perbuatan yang sudah sepantasnya untuk dilakukan oleh setiap umat muslim, karena hal ini merupakan salah satu dari tiga hal yang sangat dicintai dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Yaitu pertama, mendirikan shalat fardhu lima waktu pada awal waktu, kedua, Birrul walidain, dan ketiga, Jihad fi sabilillah. Jelasnya seperti dalam hadits berikut ini.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata.

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّالْوَالِدَيْنِ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

Seperti tersurat dalam surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24)

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa’ ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil , dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (An-Nisaa’ : 36)

Berbakti kepada kedua orang tua tidak dibatasi saat mereka masih hidup, setelah mereka meninggal pun kita masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepadanya, seperti dijelaskan dalam hadits berikut ini.

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi r.a., ia berkata: Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba datang seorang laki-laki dari suku Bani Salamah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada sesuatu yang dapat aku lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya wafat?” Beliau bersabda, “Ya, yaitu mendo’akan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, menunaikan janji keduanya setelah mereka tiada, menyambung persaudaraan yang tidak disambung kecuali karena keduanya, dan memuliakan kawan keduanya.” (HR.Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya)

Berikut ada 3 cara berbakti kepada orang tua yang masih hidup dan sudah meninggal, berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal yaitu:

Mendo’akannya

Mendo’akan agar mereka diampuni dosa-dosaNya, dirahmati, diberi kemuliaan di sisi-Nya, dan dilapangkan di alam kuburnya. Do’a ini bisa kita panjatkan kapan dan di mana saja kita mau.ini bisa kita doakan kapan saja,terlebih selesai shalat fardhu,

Mendo’akan orang tua yang telah wafat tidak dibatasi dengan ziarah kubur, karena tujuan utama ziarah kubur adalah untuk mengingatkan akhirat (mati). Nabi saw bersabda: fazuuruha fainnaha tudzakkirul aakhirah (ziarahi kubur, karena dapat mengingatkan kepada akhirat) (HR. Tirmidzi) Tapi sayang, banyak yang beranggapan tujuan ziarah kubur untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal.

Pernyataan di atas tidak bermaksud menafikan do’a kepada almarhum saat ziarah, kita tegaskan bahwa berdo’a untuk orang tua yang telah wafat bukan saat ziarah, tapi kapan dan di mana pun kita dianjurkan untuk selalu mendo’akannya. Berdo’a bisa menggunakan bahasa arab (dikutip dari Qur’an atau hadits) ataupun dengan bahasa apa saja yang bisa kita fahami.
Kemudian hal yang perlu diingat, apabila orang tua yang telah wafat itu berbeda agama (non-muslim), kita dilarang mendo’akannya sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut,

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam.” (At-Taubah 9: 113).

Tapi kalau orang tua yang berbeda agama itu masih hidup, kita diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk mendo’akannya agar diberi hidayah oleh Allah swt. (masuk Islam). Rasulullah saw. pernah mendo’akan agar pamannya, Abu Thalib masuk Islam, ini bukti bahwa kita boleh mendo’akan non muslim agar masuk Islam.

Menunaikan janjinya

Kemudian apabila kita pernah mendengar orang tua mempunyai janji atau niat untuk melakukan suatu kebajikan, namun belum terlaksana karena maut menjemputnya, kita sebagai anaknya dianjurkan untuk merealisasikan niat baiknya itu. Misalnya, mereka pernah berniat mendirikan panti asuhan, sebelum niat baik ini terwujud, Allah swt. memanggilnya, sebagai wujud bakti anak terhadap orang tua adalah merealisasikan niat baiknya tersebut.

Silaturrahim

Kemudian Sebagai makhluk sosial,kedua orang tua kita tentu mempunyai Sodara, sahabat, wujud ber bakti kepada mereka yaitu menyambungkan silaturahmi dengan orang-orang yang biasa bersilaturahmi dengannya. Misalnya, saat hidup orang tua suka bersilaturahmi kepada pak Ridwan, bila orang tua kita telah meninggal, kitalah yang menggantikannya berkunjung ke rumah pak Ridwan.

Demikian uraian singkat tentang birrul walidain, wallahu a’lam bishshawab, semoga bermanfaat.

*RAHASIA BESAR SEORANG AYAH YANG TIDAK DIKETAHUI SEORANG ANAK, BAHKAN SETIAP ANAK DI DUNIA*

Rahasia besar seorang ayah. Mengapa disebut rahasia, karena kenyataan ini memang benar-benar nyata ada, akan tetapi seringkali mungkin tidak diketahui atau tidak disadari oleh setiap orang, tetapi pasti dan terutama oleh anak-anak kita karena sifatnya hanya tersirat. Karena perhatian, kepedulian, cinta dan kasih sayang seorang ayah pada anak-anaknya biasanya tidak nampak, namun disalurkan melalui ibunya dan jarang sekali ditunjukkan langsung oleh ayah kepada anak. Mengapa ini dikatakan besar, karena kehadiran seorang ayah mempunyai pengaruh besar pada kepribadian anak-anak di dalam satu keluarga, tentunya sama sekali tanpa meremehkan peranan dan pengaruh seorang ibu. Postingan di bawah ini saya reblog dari blog teman karena menurut saya tulisan ini bagus dan mempunyai nilai edukatif, dan saya turut menyebarkannya semoga bermanfaat dan selamat mengikuti kisah berikut ini.

Ummu Yasir|Syahrul|Hasna|Khansa|Tazkiya

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh…
Bismillahirrahmanirrahim

INI ADALAH SEPENGGAL KISAH. TENTANG AYAH. KUNCI SURGA YANG KERAP KITA…LUPA

RAHASIA BESAR SEORANG AYAH YANG TIDAK DIKETAHUI SEORANG ANAK, BAHKAN SETIAP ANAK DI DUNIA

Mungkin ibuku lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibuku lah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku Sudah diberitahu, Jangan minum es!

Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis di depan ibu.
Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan…

Lihat pos aslinya 471 kata lagi

Benefits Of Prayer Movement

th
Yahoo image

Bismillahir Rahmanir Rahim !

Thank God for all the outpouring of His grace to this point where I can write again an article in English. Now I would like to offer you a rarely but very useful infomation about the benefits of the prayer movement for you physically as well as mentally. Surely among comrades still do not understand why should such prayer movement, which started from takbiratul ikhram, bowing, i’tidal, prostration, sit and greetings. The movement is not a movement that is arbitrary, but behind it all there is meaning and benefits are so great. Here are the contents .

The five daily prayers is one of the obligations for Muslims. Shalat turned out to not only be a major practice in the hereafter, but it turns out the movements of prayer is the most proportional movement to the anatomy of the human body. Even from the medical side, the prayer is the storehouse of drugs of various diseases.

During this prayer is performed five times daily by Muslims, have made an investment in health for those who perform the prayers. Prayer movement with regards to the meaning is amazingly good for physical health, mental and even spiritual and emotional balance. But unfortunately only a few of Muslims who understand it.

Here are some of the benefits of prayer movement for human health:

1. Prayer intentions

On meaningful prayer intentions to leave the decision to the heart to pray the totality of our humanity which is always physical and spiritual worship to Allah.

2. Takbiratul ihram.

Posture: upright, raised both arms parallel to the ear, and then folded in front of the abdomen or lower chest. By voicing takbir or Allahu Akbar, then it means that we leave and resigned on all matters that we have done and ask for protection and love of Allah

Benefits: This movement is blood flow, lymph and arm muscle strength. The position of the heart below the brain allows blood to flow smoothly to all part of the  body. When held up both hands, stretching the shoulder muscles so that the flow of oxygen-rich blood to be smooth. Then the hands folded in front of the abdomen or lower chest. This avoids the attitude of various joint problems, especially in the upper body. In takbiratul ihram, we stand upright position of the body, raising both hands parallel to the ear, and then folded the front area of the abdomen or lower chest. This position is beneficial for blood circulation, and to train the arm muscle strength. The position of the heart that is under the brain would allow blood to flow smoothly leads into the whole body. At the time raised both hands, shoulder muscles are stretched so that the flow of blood containing rich-oxygen will move smoothly. Then on both hands brought together closer to the front or chest area .This movement is to avoid of all kinds of joint problems, especially in the upper body.

3. Bow.

Posture: The perfect bow marked a straight spine so when placed in a glass of water on the back will not be spilled. Head position with the spine straight. In this position, the man representing the worship of angels who always worship God in this position by consistently and animals always stand in their four feet below them. Bowing interpret majesty of the Creator with the whole universe that always hang ourselves as human beings is creature the weak and did not have anything to mention “Subhana robbial ‘adzim” .. for always trying to instill Godly values in our hearts and when we looked up of bowing then we will obtain the grace of God by repeating Allah the great.

Benefits: This posture is to maintain the perfection of the position and function of the spine (vertebrae corpus) as a buffer body and nerve centers. Heart position parallel to the brain, the maximal blood flow in the middle of the body. At the position of bowing where that perfect bow marked the spine is straight so that when placed on the back of a glass of water then the water will not spill. Then the position of the head should be straight as straight as the spine. Bowing movement is beneficial for keeping the shape perfect position and function of the spine (vertebrae corpus) as a way to support the body and central nervous system. The position will align with the heart of the brain, so that blood can flow optimally in the middle of the body. Then the hands are resting on the knee will serve to relax the muscles of the shoulder to bottom, except that the bow is bladder training to prevent prostate disorders. Hand resting on the knee function of relaxation for the muscles shoulder to bottom. In addition, the bow is bladder training to prevent disruption of the prostate.

4. I’tidal

Posture: Wake up from the bow, the body back upright after, raised both hands as high as the ears.

Benefits: Itidal is a variation of posture after bowing and before prostration. The motion stood hunched standing bow down is exercise good digestion. Digestive organs in the abdomen experienced massage and relaxation alternately. In effect, the digestion becomes more smoothly. In i’tidal position or get up from bowing, which the body re-enforced, then raised both hands as high as the ear helpful to train our digestive tract where the organs contained in the abdomen will experience a massage and relaxation alternately and affect digestion.

5. Prostration

Posture: Prostration by putting both hands, knees, toes, and forehead on the floor.

Benefits: On the motion of prostration in which we will prostrate by putting both forehead, forehands, knees and ujung kaki on the floor. Prostration movement is beneficial to drain the lymph and pumping leads to the armpits and neck. Then for the position of the heart that are above the brain causing the brain to be fed oxygen-rich blood. Blood flow to the brain will affect a person’s thinking. Therefore, do prostrations with tuma’ninah, do not be in a hurry so that blood can fulfill all the spaces in the brain. In prostration also would avoid disruption of hemorrhoids. Especially for women, the bow and prostrate have extraordinary benefits for fertility and health of the female organs
lymph flow pumped into the neck and armpits. The position of the heart over the brain causes oxygen-rich blood to the brain flowing or circulating maximum. This flow effect on a person’s thinking. Therefore, do prostrations with tuma’ninah not to run – so that the blood rushed insufficient capacity in the brain. This posture is also avoiding disruption of hemorrhoids. Especially for women, both bowing and prostrating to have tremendous benefits for fertility and health of the female organs.

6. Sit

Posture: There are two kinds of sitting, namely iftirosy (tahiyyat early) and tawarruk (tahiyyat end). The difference lies in the position of the feet.

Benefits: When iftirosy, we rely on the groin that are connected with nerve Ischiadius. This position to avoid pain in the groin that often causes the sufferer unable to walk. Sitting tawarruk very good for men because the heel to suppress your bladder (urethra), male sex glands (prostate) and channel vas deferens. If done. correctly, posture IRFI prevent impotence. Variations in the position of the feet on iftirosy and tawarruk helped cause the entire limb muscles stretched and then relaxed again. Harmonic motion and pressure is keeping. Flexibility and strength organs of our movement in a sitting position consists of two kinds, namely begining tahiyat and ending tahiyat. The difference in the position of her feet. This movement which time iftrosy or tahiyya beginning where we rely diarea groin linking with nerve nerve Ischiadius. Tahiyyat initial position will also avoid pain in the groin that often causes the sufferer unable to walk. Then in a sitting position or tahiyyat end tawarruk have excellent benefits for men because the heel will suppress your bladder (urethra), male sex glands (prostataa) and channel vas deferens. If it can be done properly then this position may prevent impotence. The soles position of the feet on iffirosy and tawarruk will cause the entire limb muscles will also be stretched and relaxed again. Harmonious motion and pressure is what will keep the strength and elasticity of the organs of our body movement.

7. Regards

Movement: Rotate the head to the right and left to the fullest.

Benefits: Muscles relaxation around the neck and head improve blood flow in the head. This movement to prevent headaches and keep the facial skin firmness. Continuous worship manner is not only nourish the faith, but women beautify themselves outside and inside. In regards movement where we rotate the head pointing to the right and left maximally useful to relax the muscles in the neck and head area will optimize blood flow in the head. This movement can also prevent the occurrence of headaches and will be maintaining firmness on the skin.

If you perform it correctly and slowly and also sincere and patient, you will get the benefits of the prayer movement,  may God bless you.

PERCIKAN :

Shalat dapat mencegah kepikunan, karena gerakannya meningkatkan brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Yakni sejenis protein yang berfungsi menguatkan neuron. Otak yang mengandung banyak BDNF mampu menampung lebih banyak informasi. Bila shalat dilakukan dengan terburu-buru maka akan memperberat kerja jantung dan paru-paru. Karena itu, lakukanlah sahalat dengan tenang. Peregangan otot perut saat sujud dan rukuk memperlancar sistem pencernaan karena organ pencernaan dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian.

Sumber : Majalah Ummi No.2/XXI/April 2010/1431

Selalu Ada Kebahagiaan Di Penghujung Kesedihan

download (15)
pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Ini merupakan kelanjutan dari kisah sedih yang keluarga saya alami atas kematian putra tercinta kami Muhammad ‘Alauddin Ramiz, yang saya tulis pada postingan sebelumnya dengan judul “Semuanya Sudah Sangat Terlambat”. Ikutilah kisah selanjutnya berikut ini.

Malam itu, ba’da shalat maghrib, kami berempat, saya bersama istri dan anak serta bibi-nya berangkat menuju rumah sakit Bio Medika Mataram. Beberapa saat sesampai di sana dan mendaftarkan, saya langsung dipanggil masuk oleh dokter, lalu sayapun masuk bersama anak. Setelah memeriksa anak saya, dokter menyuruh saya untuk mengantarkan anak keluar ke ibunya di ruang tunggu, karena ada yang mau dibicarakan hanya berdua dengan saya saja. Melihat kejadian itu, rupanya istriku dan kakaknya yang berada di ruang tunggu merasa aneh dengan gelagat yang terjadi. Mereka merasa ada yang tak beres, mengapa dokter harus berbicara berdua saja dengan suamiku, tanpa boleh didengar oleh pasien (anakku).”Ini pasti ada yang dirahasiakan”. Itu perasaan mereka pada waktu itu.

Hal ini adalah wajar, karena sebelumnya mereka memang tak menyangka kalau penyakit yang diderita anak kami (Amy) belumlah separah itu. Sayapun sebenarnya punya anggapan seperti itu sebelum diberitahu oleh dokter. Mengapa demikian?karena pada kurung waktu kurang lebih 3 minggu sebelumnya, belum nampak perubahan drastis pada kondisi fisik putra kami, (seperti yang terjadi di saat-saat terakhir kami membawanya ke dokter). Namun, karena saya sudah terlebih dahulu mengetahui hasil pemeriksaan dokter, jadi saya sudah punya sedikit kesiapan mental untuk menghadapi apapun yang terjadi.

Ketika saya selesai berbicara dengan dokter,  saya pun keluar untuk menemui mereka di ruang tunggu. Saat itu saya bingung, bagaimana saya harus menjelaskan hal ini kepada mereka, agar mereka tidak sampai sok dan juga tidak sampai didengar oleh anak kami Amy. Pasti mereka akan sok jika saya langsung memberitahukan status penyakit anakku.

Karena itu, saya coba “bersandiwara” mengajak istri ke kamar kecil sebentar, sambil ke apotik untuk membayar obat agar masalah ini tidak sampai diketahui oleh anak kami dan di sana saya bisa menjelaskan masalah ini kepada istriku. Di situlah saya memberitahukan hal itu kepada istriku, bahwa penyakit anak kami sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk bisa disembuhkan. Mendengar itu, istriku langsung berurai air matanya dan kami berdua saling berpelukan dalam kesedihan yang amat sangat.

Orang-orang yang melihat kami tidak ada yang bertanya, mungkin karena mereka tidak mengenal kami.  Karena tidak enak dengan banyak orang di tempat itu (toilet), kami pun kembali ke ruang tunggu sambil mengusap dan membersihkan bekas linangan air mata di wajah kami berdua. Setelah ngobrol sebentar dengan anak kami dan tantenya, lalu kamipun pulang. Dalam perjalanan pulang ke kos kakaknya tempat kami menginap selama di Mataram, kami mampir dulu di agen bis “Dunia Mas” untuk memesan tiket pulang ke Dompu lusa paginya. Waktu itu kami menginap lagi dua malam di Mataram, berhubung besok paginya kami harus menghadiri upacara wisuda kakaknya (anak saya yang pertama). Tentunya, dalam acara semacam itu, seharusnya kami semua merasa bahagia dan gembira, apalagi anak pertama kami yang diwisuda pada acara itu, lulus dengan predikat Cumlaude. Sesuatu yang tentunya, layak dibanggakan dan juga membanggakan kami kedua orang tuanya.

Akan tetapi apa yang terjadi? Suasana bahagia dan gembira yang dirasakan orang pada saat itu sama sekali tidak bisa kami rasakan. Yang kami rasakan dan pikirkan hanyalah nasib si bungsu yang telah divonis oleh dokter. Yang umurnya hanya tinggal tiga bulan lagi hidup bersama dengan kami. Meski demikian, kami dan terutama saya masih punya keyakinan, bahwa sesungguhnya di penghujung kesedihan itu akan selalu ada kebahagiaan. Karena sesuai dengan janji Allah yang saya yakini, bahwa kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Kita harus terus berusaha apa pun dan bagaimanapun kondisinya. Itulah kurang lebihnya, yang saya rasakan dan yakini dalam merawat anak kami sepulang dari Mataram. Kurang lebih satu setengah bulan setelah kami kembali dari Rumah Sakit Bio Medika Mataram dan merawatnya, si bungsu anak kami tercinta meninggal dunia. Hal ini berarti lebih cepat dari perkiraan dokter pada waktu itu, yaitu kurang lebih 3 bulan menurut vonis dokter.

Meskipun kami sekeluarga telah menemani dan merawatnya dengan segala usaha pengobatan alternatif yang ada di daerah kami, namun tetaplah Allah Swt yang menentukan. Pada hari itu, almarhum terakhir memberi tahu ibunya bahwa ia pengen istirahat dulu (tidur). Ibunya yang selalu setia menemani disampingnya mengiayakan. Iapun tidur, dan mamanya seperti biasa selalu standby di samping anaknya. Saya sendiri, pada hari itu kebetulan menyempatkan diri ke kantor karena sudah cukup lama tidak masuk kantor secara rutin selama menjaga dan merawat dia di rumah, dan pihak kantorpun memberikan dispensasi untuk itu. Pada waktu itu, sekitar jam 11.00 siang, saya pamit pulang sama teman-teman di kantor, karena ada perasaan tidak nyaman dalam hati, seperti ada yang “menyuruh” untuk segera pulang. Setiba di rumah, saya langsung ke kamar untuk mengecek keadaan, ternyata benar ia sedang tidur. Mamanya bilang, bahwa ia minta diri untuk istirahat tidur.

Mendengar itu sayapun ke belakang dan berwudhu’ untuk shalat sunnat dhuha. Selesai shalat sayapun langsung kembali melihat keadaannya. Apa yang terjadi, ternyata anak kami dalam sakratul maut. Dan saya pun segera membimbing ruhnya dengan kalimat Laa ilaaha illallaah, dan akhirnya iapun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Innaa lillaahi wa innaa ilaihiraaji’uun. Ia telah berpulang ke rahmatullah dengan damai. Suara tangisan dari semua anggota keuarga-pun segera bergema mengantarkan kepergian anak kami untuk selamanya.

Dia telah pergi meninggalkan kami. Kami semua dalam keadaan duka dan kesedihan yang amat dalam. Kami sekeluarga semuanya sangat berduka atas kehilangan ini. Namun yang paling terpukul adalah istriku. Sementara saya sendiri tidak bisa menangis secara terbuka seperti dia. Hanya bisa menangis dalam hati dan itulah yang membuat saya sedikit kurus pada saat itu.

Bagi istri, peristiwa ini betul-betul sangat membuatnya berduka hingga nyaris lupa diri. Tiada hari tanpa menangis, tanpa berurai air mata, bahkan meskipun peristiwa itu sudah berlangsung dalam kurun waktu bulanan hingga tahunan, dia belum bisa segera rikaveri.

Hari berganti minggu dan selanjutnya berganti bulan, sang waktu terus bergulir. Hingga tiba saatnya, kami sekeluarga diberi beberapa kegembiraan (hiburan) oleh Allah Swt. Di mana putri kami yang nomor 2 lulus dari SMA dan selanjutnya dalam proses mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, ia pun lulus di IKIP Mataram.

Kemudian hiburan yang cukup besar lagi adalah bahwa putri kami yang nomor 1 yang baru saja diwisuda beberapa bulan sebelumnya dan mendapat predikat cumlaude juga dalam proses mengikuti seleksi penerimaan PNS lulus test CPNS sebagai tenaga pendidikan Kimia. Itulah beberapa kejadian yang menurut saya merupakan hikmah di balik musibah yang menimpa keluarga saya. Subhaanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallaahuakbar. Dan kutulis puisi ini untuk mengenangnya.

SPARK OF CONTENT :

Having passed all this time, our grief because of the death of my beloved son was finally relieved. There was some consolation that God has given to us. Our daughter number two who has just graduated from high school accepted at a university and our daughter number 1 has passed the test as a candidate for a civil servant or a high school chemistry teacher. So this is the entertainment given by God to us so that we are increasingly convinced that in this life, there is always happy at the end of sadness, like the phrase that I use as the title of this article.

Selalu Berdoa Setiap Kali Akan Melangkah

imageedit_29_9916784469
Pixabay.com

Hidup ini adalah perjalanan panjang. Tetapi dalam keseharian kita ada perjalan-perjalanan singkat yang memaksa kita keluar dari rumah. Hidup ini juga merupakan pertarungan-pertarungan besar. Tetapi dalam keseharian kita ada pula pertarungan-pertarungan kecil yang tidak semestinya menyita banyak energi dan perhatian, apalagi sampai mengakhiri hidup kita yang belum banyak memberikan arti buat diri kita sendiri

Oleh karean itu, perjalanan-perjalanan singkat yang mengharuskan kita keluar rumah, semestinya dihindarkan dari pertarungan-pertarungan yang tidak perlu, yang bisa jadi akan memberikan banyak kerugian. Dan agar itu bisa terwujud dalam setiap langkah kita, hal berikut mudah-mudahan bisa menjadi pengingat.

Keluar dari rumah, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan. Kalaulah bukan karena ingin menjemput kesenangan, kemudahan, atau mencari dan mengambil pembelajaran hidup, tentulah kita lebih memilih untuk tinggal di rumah, bercengkerama bersama sana-anak dan keluarga, lebih aman dan lebih nikmat.

Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda, “Perjalanan itu bagian dari azab. Ia menghalangi seseorang dari tidurnya, dari makan dan minumnya. Apabila seseorang telah memenuhi kebutuhan dan keinginannya hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR.Bukhari)

Akan tetapi kita butuh makan, kita butuh ilmu, kita butuh bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang dan dunia luar, kita butuh wawasan dan informasi, kita buth suasana yang berbeda dengan yang kita rasakan dalam keseharian, atau karena kita butuh sesuatu yang lain dalam hidup ini, yang semuanya itu sulit untuk dipenuhi tanpa keluar rumah, maka mau tidak mau kita harus melangkahkan kaki, berjalan dan keluar meninggalkan rumah.

Untuk memenuhi kebutuhan kita yang banyak itu, kita butuh rasa aman, ketenangan dan juga keselamatan dalam setiap langkah kita. Sementara di luar sana telah menanti banyak rintangan yang siap mengacaukannya. Untuk itu, agar kita selalu mendapatkan perlindungan dari Allah, dan agar kita senantiasa dalam rasa aman dan selamat hingga kembali ke pangkuan keluarga, maka hendaklah ingatan kita tidak pernah lepas pada Allah swt, sejak kali pertama kaki kita melangkah keluar rumah, lalu menaiki kendaraan, hingga kita kembali lagi ke rumah.

Abdullah bin Umar ra mengajarkan para sahabatnya satu doa yang ia dengar dari Rasulullah ketika akan keluar rumah. Katanya, ketika Rasulullah saw telah duduk di atas untanya saat hendak melakukan perjalanan, beliau bertakbir sebanyak tiga kali, lalu membaca doa, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan, dan dari amal perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah mudahkanlah pada perjalanan kami, dan pendedkkanlah jauhnya perjalanan. Ya Allah, Engkau teman dalam perjalanan dan pemimpin bagi keluarga. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari susahnya perjalanan, buruknya pemandangan dan jeleknya kesudahan pada harta dan keluarga.”

Ketika akan pulang, kata Ibnu Umar pula, beliau membaca doa serupa dan ditambah, “Kami kembali, bertaubat, beribadah dan memuji kepada Allah.”(HR.Muslim)

Keharusan berdoa bukan hanya kepada kita yang akan keluar rumah. Akan tetapi orang-orang yang kita tinggalkan; orang tua, ibu, atau anak hendaknya selslu diminta doanya demi keselamatan kita selama dalam perjalanan hingga kita kembali ke rumah. Meski perjalanan itu tidak terlalu jauh atau mungkin perjalanan yang memang setiap hari kita lakukan.

Doa itu mungkin hanya sejemput kata, tetapi itu tetap penting. Paling tidak akan menyelamtakan kita dari pertarungan-pertarungan sia-sia yang banyak berserakan di luar rumah sana. Sebab, tidak selamnya kita mampu menguasai diri kita sendiri, sehingga kita butuh akan penguasaan Allah atas hal-hal yang tidak kita sadari, sangat kita butuhkan@

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007

SPARK OF CONTENT :

Prayer (do’a) is maybe only a little bit of  words, but it is still important. At least,it will be in saving us from the struggles in vain that many scattered outside the house there. Therefore, we always unable to control ourselves, so we need God’s mastery over the things that we do not realize, so we need. A prayer that is done properly then the petitioner will have the strength and power to change is very remarkable. A hadith says, “No one can change destiny but pray and nothing can extend the life cycle but kindness.” So every good prayer will always be granted, as narrated by Imam Ahmad in a hadith, “No Muslim can pray to God, that is where his prayers are not directed to disobedience or sin and severing the rope families, except that Allah will grant it . ” Must pray not only for us to be out of the house, but the people we leave behind such as parents, mother, or child should always requested prayer for our salvation during the journey until we return home, eventhough the trip was not too far away, or maybe a trip that is every day we do.

 

Rabbanaa Atmim Lanaa Nuurana

imageedit_32_6486245959
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

رَبَّنا أَتمِم لَنا نورَنا وَاغفِر لَنا ۖ إِنَّكَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ

“Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu”. Demikianlah do’a orang-orang beriman di akhirat kelak, ketika mereka berjalan di atas Shirath Almustaqiem.  Betapa pentingnya cahaya dalam gelap. Betapa berharganya secercah cahaya di tengah gulita. Betapa mahalnya memiliki pelita cahaya yang bisa menuntun kita berjalan di antara gelap yang tak menyisakan sinar sama sekali.

Di hari akhir yang gelap gulita nanti, hanya orang-orang beriman yang memiliki cahaya. Yang dengan sinar cahaya itu, mereka sangat tertolong untuk meniti perjalanan melintasi ash shiraat (jembatan). Itulah salah satu dari dua cahaya yang disebutkan Sayyid Quthub dalam kitab Fii Dzilaali Al Qur’aan. 

Ia menyebutkan dua kategori cahaya, pertama, adalah nuur hissy atau cahaya materil berupa cahaya Allah swt yang menyinari semua alam semesta. Tanpa Nuur Allah, maka alam semesta ini gelap gulita dan tak ada yang dapat dilihat.

Kedua, adalah nuur ma’nawi atau cahaya immateril. “Ia adalah cahaya yang terbit dalam hati orang beriman dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw yang menyinari hati, pendengaran dan penglihatan hamba Allah yang beriman. lalu cahaya itu pula yang akan menjadi penerang seorang hamba di dunia dan akhirat.(Fii Dzilalil Qur’an, Sayyid Quthub,6/3485)

Ya. Cahaya itulah yang disinggung oleh Allah swt dalam firmanNya surat Al Hadiid ayat 12. “Yaitu pada hari ketika kalian melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan disebelah kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Betapa benderangnya secuil cahaya yang diperoleh di tengah gelapnya kiamat. Saat sinar cahaya berkilauan dan menerangi jalan orang-orang beriman, sementara di sekeliling mereka hanya kegelapan di atas kegelapan. Betapa besar rasa syukur orang-orang yang mendapatkan cahaya dan mendengar berita gembira dari Allah swt, tentang kenikmatan surga yang tak pernah bisa tergambarkan.

Ini adalah informasi tentang kondisi kaum mukminin yang shadiq di hari kiamat. Bahwa amal-amal merekalah yang menyebabkan mereka memiliki cahaya, yang memandu mereka berjalan di tengah gelapnya hari itu. Dalam sebuah atsar, Abdullah bin Mas’ud ra pernah mengatakan, “Sebatas amal-amal yang mereka kerjakan, mereka  meliwati ash shiraat (jembatan). 

Adh Dhahak mengatakan, “Tak seorangpun yang diberikan cahaya di hari kiamat. Jika mereka telah tiba di ash shirat, cahaya untuk orang munafiqin dimatikan. Lalu ketika kondisi mereka terlihat oleh orang-orang, mereka berharap agar cahaya mereka  tidak dimatikan sebagaimana cahaya orang-orang munafiqin itu. Mereka lalu berucap, “Rabbana atmim lanaa nuuranaa” (ya Allah, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami)

Perhatikanlah bagaimana bunyi firman Allah swt yang menceritakan situasi tersebut. “Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama denganya, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim :8)

Orang-orang munafiq, cahaya yang mereka miliki mati saat mereka berada di ash shiraat. Berkata Abul Qashim Ath Thabrani, dari ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda…”Ketika sampai di ash shiraat, Allah memberikan setiap orang mukmin cahaya dan setiap orang munafiq cahaya.

Tapi ketika mereka berada di tengah-tengah ash shiraat, Allah mematikan cahaya orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sehingga mereka mengatakan kepada orang-orang mukmin, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Lalu orang-orang beriman mengatakan, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.” (lihat surat Al Hadiid ayat 13)

Saudaraku, tergambarkah dalam benak kita betapa kesedihan dan hancurnya orang-orang yang tak mendapatkan cahaya ketika itu? Bagaimana dahsyatnya rasa takut dan kengerian mereka orang-orang yang cahayanya dimatikan oleh Allah di tengah gelap gulitanya ash shiraat itu?

Saudaraku,  cahaya orang mukmin adalah salah satu di antara cara atau tanda bagi Rasulullah saw untuk mengenal umatnya. Berkata ibnu Abi Hatim, “Smoga Allah merahmati Abdurrahman bin Jabir. Dia mendengar Abu Darda dan Abu Dzar memberitakan dari Rasulullah saw, “Aku orang pertama yang diijinkan untuk bersujud di hari kiamat. Dan orang pertama yang dijinkan mengangkat kepalanya. lalu aku melihat siapa yang ada dihadapanku, yang di belakangku, yang ada disebelah kananku, yang berada di sisi kiriku. Aku mengenal umatku di antara sekian banyak umat manusia. “Berkatalah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, bagaimana engkau mengenal umatmu di antara sekian banyak umat manusia dari zaman Nabi Nuh hingga umatmu?” Ralulullah mengatakan, “Aku mengenal mereka bersinar karena bekas air wudhu, dan hal itu tidak dialami seorangpun selain mereka. Aku juga mengenal mereka karena mereka menerima kitab mereka dari tangan kanan mereka. Aku mengenal mereka dengan tanda-tanda sujud di wajah mereka. Aku mengenal mereka dengan cahaya mereka yang ada di hadapan mereka.” (HR.Ahmad)

Saudaraku, mari tengadahkan tangan dan sama-sama berdoa, رَبَّنَا أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ “Rabbanaa atmim lanaa nuuranaa waghfir lanaa innaka ‘alaa kulli syaiinqodiir…“Ya Tuhan kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu”@

Sumber : Tarbawi Edisi Spesial-Rasa, karya, Cinta dari Muslim Berbeda Bangsa.

SPARK OF CONTENT :

This is the information about the true condition of the believers are in the Day of Judgment. Deeds that they were the cause of their own light, which leads them to walk in the dark of the day. In an atsar, Abdullah bin Mas’ud ra said, “To the extent deeds that they do, they are crossing the ash shiraat (bridge). Notice how the Almighty God tells the situation. “On the day when God does not humiliate the Prophet and the believers were together with him, being light they radiate in front and to the right of them, while they say,” Our Lord! Perfect for us our light and forgive us, verily Thou Supreme power over all things. “(QS. At Tahrim: 8) How bright the light piece acquired in the dark apocalypse. When light rays sparkle and shine the way the believers, while all around them only darkness over darkness. How thankful people get light and hear the glad tidings of Allah, about the pleasures of heaven that could never be portrayed.

Etika Memberi Nama Anak Dalam Islam

th (45)
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tulisan ini saya salin dari blog Qur’an dan Sunnah Agama Itu Nasihat, yang menurut saya sangat bermanfaat dan penting untuk diketahui oleh para orang tua muslim dalam hal pemberian nama bagi anak-anak mereka. Mengapa ini penting, karena sebuah nama bukan hanya sebagai penanda bagi orang lain untuk mengenal diri kita, akan tetapi nama juga merupakan sebuah doa dan harapan dari kedua orang tuannya agar anak tersebut bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah atau anak-anak yang baik, yang menyenangkan hati kedua orang tuanya, dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan agamanya.

Teks selengkapnya berikut ini…

Pengantar

Menanggapi e-mail dari seorang ikhwan tentang etika memberi nama dalam Islam, maka berikut kami susun makalah yang berkenaan dengan masalah yang dimaksud.Kami mengira permasalahan ini sangat penting untuk diketahui oleh kaum muslimin dikarenakan banyaknya kaum muslimin yang masih asal-asalan atau salah dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Akhirnya semoga makalah yang ringkas ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amiin.

Pentingnya Pemberian Nama

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan.  Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (tidak dikenal) oleh masyarakat.

Waktu Pemberian Nama

Telah datang sunnah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu pemberian nama, yaitu:

  1. Memberikan nama kepada anak pada saat ia lahir.
  2. Memberikan nama kepada anak pada hari ketiga setelah ia lahir.
  3. Memberikan nama kepada anak pada hari ketujuh setelah ia lahir.

Pemberian Nama Kepada Anak Adalah Hak (Kewajiban) Bapak.

Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (=tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.

Nasab Anak Kepada Bapak Bukan Kepada Ibu

Sebagaimana hak memberikan nama kepada anak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya, oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah.

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ (5) سورة الأحزاب

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5)

Oleh karena itu manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: Fulan bin fulan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 2).

Memilih Nama Terbaik Untuk Anak

Kewajiban bagi seorang bapak adalah memilih nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai dengan syar’iy dan lisan arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh telinga/pendangaran akan tetapi nama tersebut tidak sesuai dengan syari’at.

Tata Tertib Pemberian Nama Seorang Anak

  1. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Dua Suku Kata, misalAbdullah, Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimanaditerangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll. Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah.

Dan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.

  1. Disukai Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim.

Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.

  1. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi.

Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi3).

Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih.

Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya penggabungan dua nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama kunyahnya, Muhammad Abul Qasim.

Berkata Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah:”Dan yang benar adalah pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad, pent) adalah boleh. Sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang dan pelarangan menggunakan kunyahnya pada saat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan kunyah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga terlarang”4).

  1. Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.

Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:

أنهم كانوا يسمون بأسماء أنبيائهم والصالحين (رواه مسلم).

Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim).

Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang-orang sholih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.

Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak-anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.

Syarat-syarat Dalam Pemberian Nama

  1. Nama tersebut menggunakan bahasa arab.
  2. Nama tersebut dibangun dengan makna yang baik secara bahasa dan syari’at. Oleh karenanya dengan adanya syarat ini tidak boleh menggunakan nama-nama yang haram atau makruh baik dalam segi lafadz ataupun maknanya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik dari segi lafadz dan maknanya.

Nama-nama yang Diharamkan

  1. Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, missal: Abdur Rasul (=hambanya Rasul), Abdun Nabi (=hambanya Nabi) dll. Sedangkan selain nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, misal: Abdul ‘Izza (=hambanya Al-‘Izza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (=hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (=hmabanya Matahari) dll.
  2. Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dll.
  3. Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
  4. Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Ta’ala, misal: Al-Lat, Al-‘Uzza dll.
  5. Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dll.
  6. Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إن أخنع إسم عند الله رجل تسمى ملك الأملاك (رواه البخاري؛ مسلم).

Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (=rajanya diraja)” (HR. Bukhori; Muslim).

  1. Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.

Nama-nama Yang Dimakruhkan

  1. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.
  2. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.
  3. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’un, misal: Fir’un, Qarun, Haman.
  4. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifat-sifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.
  5. Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama” (الدين) , dan lafadz “Islam” (الإسلام), misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.
  6. Dimakruhkan memberi nama ganda5), misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id dll.
  7. Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.

Jalan Keluar Dari Pemberian Nama-nama Yang Diharamkan Dan Yang Dimakruhkan

Jalan keluar dari kedua hal ini adalah merubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/depertemen yang mengurusi masalah ini.6)

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah kepada nama-nama Islamiy, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhaiallahu ‘anha, ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغير الإسم القبيح إلى الإسم الحسن (رواه الترمذي).

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).

Demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang baik, seperti beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti merubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll….Semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Giving the name of both parents to a child is very important in Islam. Why this is important, because a name not only as a marker for others to know ourselves, but the name is also a prayer and expectations of both their parents so that the child could be good kids or shaleh dan shalehah, pleasing to both parents, society, nation and religion. The name is a feature or a sign, meaning the person named can recognize himself or known by others. In Qur’an Al Kareem mentioned; يا زكريا إنا نبشرك بغلام اسمه يحيى لم نجعل له من قبل سميا (7) سورة مريم “O Zakaria! We give thee glad tidings will (receive) a child whose name is Yahya, who previously We have not been creating people who are similar to him” (QS. Maryam: 7) And the essence of giving a name to the child is that he is known and glorify it. Therefore, the scholars agreed will be obligatory to give a name hello to the boys and girls. Therefore, if a person is not named, then he will be a majhul (unknown) by the public.

Semuanya Sudah Sangat Terlambat

imageedit_104_9604955624
pixabay.com

Pada judul di atas, saya hendak mengungkapkan betapa ikhtiar dan usaha yang kami lakukan dalam mengobati penyakit yang diderita anak kami sudah sangat terlambat, mengapa terlambat? Ikuti kisah selengkapnya berikut ini.

Sebenarnya tidak ingin mengingatnya kembali. Karena hanya akan membuat hati ini sedih, lalu lebih baik melupakannya. Mungkin ada saja orang yang berpikiran seperti itu. Tapi rasanya..tidak tega hati ini, bila kenangan manis bersama orang-orang yang kita cintai, bahkan amat kita cintai dibiarkan sirna begitu saja dari memori kita. Karena apa? Ya karena tidak adil rasanya. Dan, kalau itu yang kita lakukan, sepertinya kita sudah tak mencintai dia lagi dan tidak mau lagi mengingatnya. Karena itu, meski harus menahan rasa rindu dan sedih, saya coba merangkai kembali kisah sedih 6 tahun silam dalam artikel ini.

Saya coba merangkai dan menghadirkan kembali kisah-kisah bersamanya. Sedih memang, tapi saya menikmatinya, menikmati rasa sedih dan rindu itu karena mencintainya, karena menyayanginya. Dia anak bungsu tercinta kami (Muhammad ‘Alauddin Ramiz). Dia sudah tiada.

Kurang lebih 13 tahun kami telah bersama dalam sebuah keluarga yang menurutku amat bahagia, sebelum ia pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Saya sendiri termasuk orang yang betah di rumah, senang berkumpul dengan mereka, makan bersama, bepergian bersama, pokoknya selalu bersama. Tentu, sebagai seorang ayah yang hanya punya anak laki-laki satu-satunya, saya menjadi begitu protektif terhadapnya.

Saya juga tidak jarang menegur agak keras, bahkan marah bila kakak-kakanya membuat dia menangis. Saya sering mencemaskan ketiga anak ku, lebih-lebih si bungsu. Menghawatirkan keamanannya dan keselamatannya. Bahkan tidak jarang dalam tidur, saya bermimpi dan melihat dia mendapat musibah, seperti jatuh di sumur dan banyak mimpi-mimpi buruk lain sejenisnya. Tapi untuk menghibur diri, saya menganggap itu hanya mimpi dan bunga tidur saja. Dia, anak baik dan penurut, dan tidak pernah bermasalah dengan teman sebaya, namun terkadang justru ada di antara teman-temannya yang menjahili dia. Namun kebanyakan menyenangi dia, bahkan di hari-hari libur sekolah mereka datang menemuinya di rumah untuk bermain.

Ketika di SD, dia aktif ikut serta dalam berbagai kegiatan sekolahnya. Berbagai kegiatan lomba yang diselenggarakan pada setiap peringatan hari-hari besar nasional di kabupaten, seperti lomba gerak jalan, lomba upacara bendera, dan sejenisnya, baik lokal kabupaten maupun tingkat provinsi,, selalu dilibatkan oleh sekolahnya. Bahkan sekolah memilihnya sebagai komandan, baik komandan upacara maupun komandan regu gerak jalan. Dari berbagai lomba yang dikutinya, dia bersama timnya, selalu mendapat piagam pernghargaan. Tentunya, semua ini merupakan hal yang menyenangkan bagi kami, kedua orang tuanya.

Ada satu ketika di tahun 2007, dimana pihak sekolah sudah sekian lama mempersiapkan mereka, dalam arti melatih mereka dalam sebuah tim lomba upacara bendera tingkat provinsi, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustusan, dan dia lagi-lagi terpilih sebagai komandan dalam lomba upacara bendera itu.

Tetapi sialnya, lomba yang sudah lama dipersiapkan itu, tiba-tiba batal diselenggarakan, karena ada sesuatu hal yang menurut pihak sekolahnya, kalau tidak salah pada saat itu, menyangkut masalah dana transportasi, konsumsi dan akomodasi mereka di sana. Karena dia dipercaya sebagai komandan, maka pada saat pertemuan dengan pihak sekolah untuk memberitahukan pembatalan itu, diapun diundang dalam pertemuan itu termasuk saya sebagai orang tua murid turut diundang. Disitu, sepertinya dia tidak terima dan kelihatan sangat kecewa sekali. Mungkin karena dia bersama timnya sudah sangat yakin untuk berlaga di tingkat provinsi dan siap untuk mempersembahkan kembali piagam penghargaan untuk mengangkat nama daerahnya dan juga nama sekolahnya. Pertemuan selesai dan kamipun pulang. Dia nampak masih sangat kecewa, apalagi di luar, teman-teman timnya sudah menunggu untuk menanyakan berita hasil pertemuan itu.

Dia hanya menjelaskan kepada teman-temanya, “batal”. Melihat situasi itu, saya putuskan untuk mengajak dia pulang ke rumah. Dia sempat mengelak pulang, mungkin karena pikirannya masih kacau. Tapi akhirnya dia mau, dan saya langsung membonceng dia pulang. Di tengah jalan, saya memberi semangat dia, bahwa masih ada kesempatan lain, kalian belum gagal, hanya kesempatan ini tertunda, karena ada sesuatu halangan. Itulah, kisah terakhir dia berlaga di berbagai kegiatan lomba sekolahnya di SD.

Dari segi kesehatan, memang sakit yang sering diderita adalah demam. Bahkan demamnya cenderung berulang dalam kurung waktu satu hingga dua bulanan, tapi saya mengira itu sakit panas biasa seperti malaria atau tipes, sesuai penjelasan dokter yang memeriksanya pada beberapa tahun sebelumnya. Tidak ada sakit yang lain, hanya demam itu, dan setelah berobat ke dokter, biasa sakit panasnya, segera sembuh dan biasa kembali lincah bermain dengan teman-temannya.

Memang pernah ada kecurigaan dan kekhawatiran dalam hati saya, jangan-jangan ada penyakit dalam yang berat. Tapi kecurigaan dan kekhawatiran saya itu, lambat laun hilang, karena melihat keadaan dia yang kian hari semakin lincah bermain dan tidak menunjukkan tanda-tanda ada penyakit lain selain demam tipes seperti yang dijelaskan dokter. Ketika di SD, memang saya hanya membawa dia ke dokter umum, karena pada kala itu di daerah kami belum ada dokter spesialis penyakit dalam. Barulah pada akhir -akhir dia di sekolah dasar, yakni pada saat dia kelas 5 dan kelas 6, ada dokter spesialis penyakit dalam. Saya coba bawa dia ke dokter itu dan pada saat itu, dokter mengatakan bahwa yang diderita oleh anak saya adalah penyakit hepatitis.

Karena pada saat itu, wawasan saya tentang hepatitis ini masih bleng alias awam, maka saya pun menanyakan pada dokter, sebenarnya hepatitis itu penyakit apa dokter? dokter bilang bahwa hepatitis itu kalau istilah yang umum dikenal masyarakat kita, adalah penyakit kuning. Dalam hati saya berkata, kalau yang ini, saya sering mendengarnya, namun demikian saya masih juga awam tentang apa dan bagaimana sifat penyakit ini. Karena itu sayapun bertanya lagi pada dokter, jadi penyakit anak saya ini bisa disembuhkan atau tidak , dokter? Kata dokter pada waktu itu, “bisa , bisa disembuhkan dengan obat saya”, begitu jawab dokter pada saat itu. Tidak ada penjelasan atau nasihat dokter yang menganjurkan agar saya segera memeriksakan penyakit anak saya ke dokter/rumah sakit lain yang lebih tinggi misalnya di provinsi. Karena itu, sayapun yakin kalau penyakit anak saya akan bisa sembuh di tangan dokter spesialis itu.

Di pertengahan tahun 2007, dia tamat sekolah dasar, dan saya melanjutkan sekolahnya di SMP negeri 1 Dompu, yang merupakan SMP favorit di daerah kami. Di sanapun (di SMP negeri 1 Dompu) dia masih dipakai oleh sekolahnya dalam berbagi kegiatan lomba terutama untuk memperkuat tim lomba gerak jalan dan upacara bendera. Hari demi hari waktu terus berlau, dia pun sudah hampir naik ke kelas yang lebih tinggi yaitu kelas 2. Pada kala itulah, saya melihat kondisi kesehatannya terus menurun. Pakaian seragam sekolahnya yang selama ini pas dengan badannya, sekarang sudah mulai longgar, karena badannya mulai kurus karena asupan makanan sudah tak bisa banyak lagi akibat terganjal oleh kanker.

Ternyata, stadium penyakitnya pada saat itu sudah berada pada stadium lanjut, dan segera saya putuskan untuk membawa ke Mataram tepatnya di Rumah Sakit Bio-Medika Mataram. Di sana, diketahui setelah melalui pemeriksaan darah dan USG, ternyata penyakitnya sudah berubah nama, yaitu menjadi Hepatoma atau biasa dikenal dengan kanker hati, yang tingkat keparahannya sudah mencapai 80 %. Namun, sebelum semua itu menjadi jelas, yaitu pada saat saya bersama dia menunggu giliran dipanggil oleh dokter, dia sempat memberi tahu saya, kalau di perut bagian ulu hatinya mengeras dan membengkak. Saya kaget dan penasaran, lalu saya coba meraba di bagian tubuh yang dikatakannya, dan ternyata memang ada benjolan besar sekira buah mangga. Lalu dengan nafas sesak karena terkejut, saya tanya dia, kenapa tidak bilang papa sejak dulu nak? Dia menjawab, tidak tau papa. Di saat itu pula, dokter memanggil, dan kami berduapun masuk. Setelah saya memberi tahu dokter tentang maksud kami, lalu dokter menyuruh dia tidur telentang di ranjang.

Di saat itulah pertama kali saya melihat dan mengetahui bahwa sebenarnya penyakit anak saya sudah sangat parah. Setelah melihat dan memeriksa, dokter hendak memberitahu saya apa dan bagaimana status penyakit anak saya, namun untuk tidak didengar oleh anak saya, dokter meminta saya untuk berbicara berdua saja dengan saya, dan anak disuruh menunggu di luar bersama mama nya. Setelah mengantar anak ke mama nya, saya kembali lagi ke dokter. Dokter bilang, bahwa penyakit anak saya sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk bisa disembuhkan. Mendengar perkataan dokter itu, saya merasa seperti disambar petir, dunia seakan kiamat, karena merasa kaget, tidak percaya bercampur sedih…”cepat atau lambat dalam kurun waktu tiga bulan, anak saya akan meninggal dunia”, itu vonis dokter pada saat itu. Jadi, Bapak bersabar yah, sambil berdoa mudah-mudahan ada keajaiban. Itu saran dokter pada saya saat itu. Mendengar itu, saya pun teringat pada sebuah ungkapan :

“Anak adalah anugerah terindah. Kehilangannya membuat duka tak terperi. Namun anak kita bukan milik kita, anak hanyalah titipan dari Allah Swt Yang Maha Pencipta. Allah Swt dapat mengambilnya kapan saja Dia mau. Anak bisa menjadi ujian buat kita dan bila kita bersabar menerima ketentuan Allah Swt maka Allah Swt menyukai hamba-hamba-nya yang sabar.”

Sebenarnya, kisah ini masih cukup panjang untuk diuraikan di sini, namun untuk segmen ini saya cukupkan sampai di sini saja, dan kelanjutan kisah ini bisa anda baca di sini dengan judul “Selalu Ada Kebahagiaan Di Penghujung Kesedihan”.

SPARK OF CONTENT :

Maybe there are people who think that death no longer need to remember, but for me it’s not fair, because if so then it means we have hated him or forget him. , when the sweet memories with those we love, even so we love left just vanished from our memory. Because of what? Yes because it would be grossly unfair. And, if that’s what we do, we seem to have not love him anymore and no longer want to remember. Therefore, although I had to withstand a sense of longing and sadness, I tried reassembling the sad story six years ago in this an article. I try to assemble and bring back stories with him. Sad indeed, but I enjoyed it, enjoyed the feeling of sadness and longing that because of love, because love him. He was our beloved youngest son (Muhammad Alauddin Ramiz). He was gone. Approximately 13 years we have been together in a very happy family, at least on my thought, before he left us for ever. I myself among those who feel at home happy hanging out with them, eating together, traveling together, just be together. Naturally, as a father who just had a son the only one, I become so protective of him. I write this article and also a poem to remember him.

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan

download (36)
Yahoo image

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Berbagai penelitian telah mengungkapkan adanya mukjizat puasa ditinjau dari perspektif medis modern. Dalam penelitian ilmiah tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin hemotologi dan fungsi neuro psikiatri.

Penelitian untuk analisis atau penelitian terhadap berbagai abstrak terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait

Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehtan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi ke dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Bulan Ramadha adalah bulan yang paling dinanti oleh umaat muslim.Ia adalah bulan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Saat itu dianggap sebagai bulan yang penuh berkah, rahmah dan ampunan. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang, ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah Swt berupa kebahagiaan, pahala berlipat dan bahkan terdapat mukjizat dalam kesehatan

Bulan ramadhan adalah bulan yang spesial bagi umat Islam, kedatangannya merupakan suatu kegembiraan. Pantas saja, karena pada bulan ini Allah Subhanahu Wata’alamelimpahkan segala rahmat dan ampunan-Nya.

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi, dari Abu Mas’ud Rasulullah bersabda: “Seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang tersedia di bulan Ramadhan, niscaya dia berharap bulan Ramadhan itu sepanjang tahun.”

Hadits tersebut jelas menggambarkan akan betapa banyaknya keutamaan yang terdapat pada bulan ramadhan. Namun ternyata, tidak saja keutamaan yang berdimensi ukhrowi, ramadhan dengan ibadah puasanya juga memberikan keutamaan ilmiah bagi kesehatan tubuh manusia yang menjalaninya.

Berbagai penelitian dan analisa medis telah menyebutkan bahwa puasa -sebagai salah satu ibadah utama pada bulan ramadhan- memiliki dampak positif yang sangat besar bagi kesehatan organ tubuh.

380124_354x50

Berikut adalah 10 manfaat puasa bagi kesehatan:

1. Membuang Racun Dalam Tubuh

Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya hidup pada zaman seperti sekarang ini cenderung lebih mengedepankan segala sesuatu yang bersifat instan, termasuk dalam hal makanan. Dan faktanya, makanan yang bersifat saji ini banyak mengandung zat kimia yang bisa menjadi racun serta berbahaya bagi tubuh.

Ternyata aktivitas puasa mampu menghilangkan racun yang sebagian besar tersimpan dalam lemak tubuh. Pada saat puasa lemak akan dibakar, dan terjadilah proses detoksifikasi atau pembuangan racun dalam tubuh.

2. Menjaga Kesehatan Jantung

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada saat berpuasa, terjadi peningkatan HDL (High Density Lipoprotein) dan apoprotein alfa 1, serta penurunan LDL (Low Density Lipoprotein) atau yang sering disebut koleterol jahat. Yang mana proses tersebut baik untuk jantung dan pembuluh darah.

Tingginya kadar LDL akan berbahaya bagi jantung, dikarenakan hal tersebut berpotensi penumpukan di dinding pembuluh nadi koroner, yang akan menyebabkan penyempitan dan penyumbatan aliran darah (arteriosclerosis). Akibatnya jantung akan kesulitan memompa darah. Namun aktivitas puasa mampu menurunkan LDL pada tubuh.

3. Baik untuk Kesehatan Mental

Dr. Ehret seorang ilmuwan bidang kejiwaan mengatakan: “Beberapa hari berpuasa akan memberikan dampak pada kesehatan fisik, dan lebih lanjut untuk mendapatkan kesehatan mental, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari.” Hal tersebut -sebagaimana pernyataan Dr. Ehret- terjadi, dikarenakan otak manusia memiliki fungsi pembersih dan penyehat otak dengan bantuan sel yang disebut “neuroglial cells”. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang sakit atau mati akan “dimakan” oleh sel-sel neurogial ini, yang mana hal tersebut akan berdampak baik pada mental seseorang.

4. Memperlancar Sistem Pencernaan

Selama berpuasa, maka organ-organ pencernaan akan beristirahat. Namun fungsi fisiologis pencernaan tetap berjalan normal, terutama produksi sekresi pencernaan. Sehingga membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan membersihkan tubuh dari sisa-sisa atau endapan makanan. Pengolahan makanan dalam sistem pencernaan juga relatif tetap stabil, pelepasan energi juga mengikuti pola yang bertahap.

Puasa juga akan membuat sistem pencernaan memperoleh waktu untuk merevitalisasi dan meningkatkan fungsinya. Namun untuk diperhatikan, aktivitas puasa tidak menghentikan produksi asam lambung. Sehingga bagi penderita maag terutama yang sudah akut, disarankan untuk tetap berkonsultasi dengan ahlinya sebelum memilih berpuasa.

5. Mengurangi Gula Darah dan Lemak

Selama berpuasa tubuh melakukan peningkatan glukosa agar bisa memperoleh energi. Glukagon juga diproduksi untuk membantu pemecahan glukosa. Hal ini berdampak pada pengurangan produksi insulin, yang dengan demikian maka akan mengurangi gula darah dalam tubuh. Dan ketika produksi glukosa habis, lemak yang tersimpan juga akan dibakar untuk menghasilkan energi. Ternyata puasa pun mampu membakar lemak tanpa harus melakukan diet berlebihan.

6. Menurunkan Hipertensi

Puasa juga menjadi salah satu metode untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Suasana spiritual yang tenang dan jauh dari amarah membuat adrenalin menurun dan menjadikan hormon lebih stabil. Hal ini mampu menurunkan tekanan darah dalam tubuh.

7. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Berdeda dengan Starvasi atau kelaparan yang dalam keadaan tertentu dapat mengganggu kesehatan tubuh, puasa justru sebaliknya. Ketika berpuasa maka terjadi peningkatan Limfosit dalam tubuh, yang mampu memberikan pengaruh sangat baik terhadap sistem kekebalan tubuh. Sehingga imunitas tubuh menjadi lebih kuat dan tidak mudah terserang virus dan penyakit.

8. Meningkatkan Hormon Seksual

Dalam sebuah penelitian, dikatakan bahwa terdapat hubungan antara puasa dengan hormone dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati terjadinya penurunan kadar hormon kejantanan (testoteron_, perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH) pada awal minggu pertama puasa. Namun dalam jangka panjang setelahnya, hormon testoteron dan performa seksual justru meningkat pesat melebihi sebelumnya.

9. Memperbaiki Fungsi Ginjal

Pengurangan konsumsi air selama puasa, ternyata sangat efektif untuk meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal, juga meningkatkan kekuatan osmosis urin mencapai 12.000 ml osmosis/kg air. Hal ini sangat baik bagi kinerja dan fungsi ginjal. Selain itu, pengurangan konsumsi air juga dapat meminimalkan volume air dalam darah, sehingga mampu memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang akhirnya akan memacu fungi dan kerja sel darah merah.

10. Meningkatkan Kinerja Otak

Aktivitas puasa juga mampu meningkatkan neurotropik yang dapat membantu tubuh untuk memproduksi lebih banyak sel-sel otak, sehingga dapat meningkatkan fungsi otak. Juga kaitannya otak dengan pikiran, puasa yang mampu membuat pikiran menjadi lebih tenang dan melambat, ternyata justru mampu membuat pikiran menjadi lebih tajam.

Dalam penelitiannya, Mark Mattson, Ph.D ilmuwan bidang neurologi yang juga seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging menunjukkan bahwa secara signifikan puasa bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson.

Tidak hanya sebagai implementasi keimanan, dalam hal menjalankan perintah Allah. Ibadah puasa nyatanya juga mempunyai banyak keistimewaan termasuk manfaat kesehatan bagi tubuh manusia.

Dengan niat yang lurus puasa tidak saja mengharap pahala, tetapi juga kesehatan yang harganya mahal itu. Semoga dengan ini, mampu membuat kita untuk lebih bersemangat dalam menjalani ibadah puasa. Wallahu ‘alam bishawab.

380124_354x50

Sumber : http://www.hidayatullah.com/

SPARKS :

Ramadan is a special month for Muslims, it’s arrival was a joy. No wonder, because in this month, God gives all the glory to Him bestow His mercy and forgiveness. As in the hadith narrated by Ath-Thabrani, Ibn Khuzaimah and Al-Bayhaqi, from Abu Mas’ud Prophet said: “If the man knows the amount of reward available in the month of Ramadan, surely he wished Ramadan was the time of year.” This hadith clearly will illustrate how many virtues contained in the month of ramadhan. However it turns out, not only virtue dimension ukhrowi, Ramadan with fasting worship also provide scientific primacy to human health is living it.

Dzikir Pagi Dan Petang Dan Keutamaannya

imageedit_93_8195141125
pixabay.com

Berdzikir berarti mengingat.  Berdzikir kepada Allah atau dzikrullah adalah mengingat kepada Allah shubhanahu wata’ala, zat yang maha pencipta alam semesta ini termasuk di dalamnya kita manusia. Pada dasarnya semua makhluk senantiasa berdzikir kepada Allah shubhanahu wata’ala dengan caranya masing-masing. Tetapi manusialah seharusnya yang paling berkewajiban untuk selalu mengingat atau berdzikir kepada Allah shubhanahu wata’ala. Mengapa, karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk-makhluk yang lain. Berikut ini saya sajikan sebuah artikel yang membahas tentang keutamaan dzikir pagi dan petang, semoga bermanafaat bagi kita dalam mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Straight Path

Sangat banyak ayat ataupun hadits yang menerangkan keutamaan berdzikir kepada Allah. Bahkan Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan dan menganjurkan kepada kita agar senantiasa berdzikir dan mengingat-Nya (lihat edisi 29/III tentang dzikir-dzikir setelah shalat wajib). Jangan sampai harta, anak-anak ataupun kegiatan duniawi melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun:9)

Di antara dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk dibaca dan diamalkan adalah dzikir pagi dan sore. Dzikir pagi dilakukan setelah shalat shubuh sampai terbit matahari atau sampai matahari meninggi saat waktu dhuha, kira-kira jam tujuh atau jam delapan. Adapun dzikir sore dilakukan setelah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari atau sampai menjelang waktu ‘isya.

Banyak sekali keutamaan dzikir pagi dan sore…

Lihat pos aslinya 1.660 kata lagi

Sabar Adalah Karunia Terindah

imageedit_10_2887677930

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa, “Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” Hal ini bisa terjadi karena pada diri orang tersebut ada karunia yang amat berharga dari Allah shubhanahu wata’ala, yaitu sabar. Jadi di sini yang memegang peranan penting adalah sabar. Karena hanya dengan kesabaranlah kita dapat mengendalikan diri kita dalam situasi yang menekan (stressful situation). Kesabaran menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang silih berganti.

Meski terkadang pahit dan getir dalam menjalaninya, namun satu hal yang menyemangati kita untuk terus bersabar adalah buah manis dari kesabaran itu sendiri. Amat disayangkan jika kita tidak dapat meraihnya, karena Allah Swt telah berjanji akan memberikan ganjaran yang sangat besar bagi orang-orang yang bersabar dalam menghadapi ujian-Nya.

Sabar adalah akhlak yang sangat mulia. Ia menjadi hiasan para Nabi untuk menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang. Berhias diri dengan sabar hanyalah akan membuahkan kebaikan.

Inilah firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu beruntung. (QS.Ali-‘Imran [3]:200).

“Bersabarlah!”

Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad  di dalam Al Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan sabar kaitannya dengan keimanan kepada Allah dan kaitannya dengan perwujudan iman tersebut dalam kehidupan dan terlebih sebagai pemikul amanat dakwah. Tentu jika anda menyambut seruan tersebut niscaya anda akan berhasil sebagaimana berhasilnya Rasulullah, keberhasilan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Al Ahqaf: 35)

Sabarnya Ulul ‘Azmi

Siapakah yang dimaksud oleh Allah dengan ulul ‘azmi yang kita diperintahkan untuk mencontohnya?

  1. Nabi Nuh ‘Alahi salam sebagai rasul yang pertama kali diutus ke muka bumi ini adalah salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada kaum yang pertama kali menumbuhkan akar kesyirikan di muka bumi. Tahukah anda bagaimana besar tantangan yang dihadapi? Coba anda renungkan ketika seseorang ingin mencabut sebuah pohon yang sangat besar yang akarnya telah menjalar ke segala penjuru, sungguh betapa berat pengorbanannya. Allah sendiri telah memberitahukan kepada kita dengan firman-Nya:

Dan demikianlah kami menjadikan bagi setiap para nabi seorang musuh dari syetan baik dari kalangan jin dan manusia.”(Al An’am: 112)

Yang dipilih pertama kali dari sederetan kaumnya yang menghadang dakwah beliau adalah keluarga yang paling dekat anak dan isterinya. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, beliau dengan kesabaran bisa meraih kemenangan di dunia dan di akhirat. Allah mengatakan tentang beliau:

Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” ( Al Isra’: 3)

  1. Nabi Ibrahim  sebagai bapak orang-orang yang bertauhid juga sebagai salah satu ulul ‘azmi. Mendobrak keangkaramurkaan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri dan kaumnya yang dipimpin oleh seorang raja yang dzalim.Bagaimanakah perasaan anda jika anda diusir dari belaian kasih sayang dan perlindungan bapak anda? Bapaknya yang dipilih oleh Allah untuk menghadang dakwah beliau yang berada di bawah cengkeraman raja yang mengaku diri sebagai tuhan. Dia harus menelan pil pahit angkara murka kaumnya yang dengan tega melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat. Namun apakah yang mereka bisa perbuat terhadap jasad beliau? Sia-sialah perbuatan mereka.

Di sisi lain beliau harus juga menerima ujian yang lebih pahit yaitu amanat dari Allah untuk menyembelih putra yang disayangi dan diharapkan sebagai calon penerusnya.

Bisakah anda membayangkan hal yang demikian itu? Kesabaranlah yang menyelamatkan dari semua ujian dan cobaan yang menimpa beliau.

  1. Nabi Musa dan ‘Isa adalah dua rasul yang diutus kepada Bani Israil dan sekaligus sebagai ulul ‘azmi. Tantangan yang dihadapi beliau berdua, tentu tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan para rasul Allah. Siapa yang tidak mengenal Fir’aun si raja kufur yang menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, raja tak berperikemanusiaan yang membunuh anak-anak yang menurutnya akan bisa menggoyahkan tahta kekuasaannya. Kesabaranlah yang menjadi kuncinya sehingga beliau berdua dibebaskan dari segala bentuk tantangan dan ujian yang sangat dahsyat.
  2. Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dan imam para rasul juga termasuk salah satu dari ulul ‘azmi. Yang diutus kepada semua umat yang berada di atas dekadensi moral, kejahiliyahan dan keberingasan. Tentu tantangan yang beliau hadapi tidak kalah hebat dengan para rasul pendahulu beliau. Para rasul pendahulu beliau hanya diutus kepada kaum tertentu sedangkan beliau diutus kepada seluruh umat. Ini menggambarkan betapa besar tantangan yang beliau harus hadapi. Allah memilih keluarga beliau yang paling dekat menjadi penjegal perjalanan dakwah beliau. Mereka tidak berbeda dengan kaum sebelumnya dalam memusuhi para rasul Allah. Kesabaranlah yang menjadi kunci semua perjuangan beliau.

Anda pasti menginginkan keberhasilan dalam setiap usaha yang anda lakukan. Maka dari itu jadikanlah seluruh para Nabi dan Rasul Allah sebagai suri tauladan anda dalam kesabaran sehingga anda akan mendapatkan keberhasilan seperti apa yang mereka telah dapatkan.

Abdurrahman As Sa’di mengatakan di dalam tafsir beliau: “Dan adapun orang yang telah diberikan taufiq oleh Allah untuk bersabar ketika ditimpa ujian lalu dia menahan dirinya untuk tidak benci terhadap ketentuan tersebut baik dengan ucapan dan perbuatan dan berharap pahala dari Allah dan dia mengetahui bahwa apa yang dia dapatkan dari pahala karena kesabaran tersebut atas musibah yang menimpanya, bahkan baginya ujian itu menjadi nikmat karena telah menjadi jalan terwujudnya sesuatu yang lebih baik, maka sungguh dia telah melaksanakan perintah Allah dan berhasil meraih ganjaran yang besar dari sisi-Nya.”

Kemalangan yang menimpa kita, misalnya kerupa kehilangan orang-orang yang amat kita cintai, kehilangan harta benda yang telah lama dan dengan susah payah kita kumpulkan, ketika tubuh kita yang sebelumnya sehat dan kuat harus terbaring lemah tanpa daya. Apa yang harus dilakukan? Pasrah tanpa usaha, berputus asa, merasa kecewa dan jengkel kepada Allah, kemudian menjauhkan diri dari-Nya? Tidak, tapi tetaplah kita bersabar dan terus berusaha untuk keluar dari kesulitan itu.

Tetap bersabar dan menerima semua ketentuan Allah Swt dan semakin taqarrub kepada Allah, sambil terus berusaha dan berdoa hingga Allah Swt mengabulkan doa dan memberikan pertolongan-Nya. Dengan merapat kepada Yang Maha Perkasa, maka kita akan menjadi semakin kuat.

Allah Swt menjanjikan dalam firman-Nya, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah [94]:5-6) Bila bersabar, kita akan menjadi orang yang kuat, meski bukan kuat secara fisik, tetapi kesabaran menjadikan kuat dalam menghadapi segala ketentuan Allah Swt. Dengan bekal kesabaran, kita akan kuat bertahan dalam menjalani hidup yang tidak selamanya mulus.

Jangan sampai kesulitan membuat kita berpaling dari Allah Swt, justru sebaliknya membuat kita semakin merapatkan diri kepada Allah Swt. Sesungguhnya kesabaran itu dibutuhkan pada saat awal kejadian yang menimpa kita agar perlindungan Allah Swt selalu menyertai kita dan roda kehidupan tetap dapat berjalan pada jalur yang benar dan di diridhoi oleh Allah Swt. Tetaplah percaya, bahwa Allah Swt sangat mencintai dan mengasihi hamba-Nya dan mustahil Ia memberikan ujian dan cobaan yang melebihi kadar kesanggupan hamba-Nya. Jadi, sepahit apapun ujian dan cobaan yang dialami, dengan bekal kesabaran, kita akan kuat dan mampu menghadapinya, karena Allah Swt selalu bersama orang-orang yang sabar. Innallaha ma’ashshaabiriin. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

PERCIKAN :

Limitations of the circumstances that exist in ourselves, material or physical is not a barrier to doing good deeds. If we accept this provision patiently then Allah will continue to provide guidance and mercy. With guidance from Allah the narrow path became widespread, it is difficult becomes easy and the darkness was lit up. Satan is upset not to play when looking at the man began to find the light of truth. Instantly they launched various actions to turn us from the straight path. Only those who know Allah, have a strong faith with patience thick to be saved from the trap of the devil. Faith and patience to make a weak man become mighty. Cruel torment, all scorn, and offer worldly possessions do not mean anything because the pleasures of heaven is waiting for these holy souls.

Saudariku, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu

download-39

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Islam datang untuk menyempurnakan segalanya di muka bumi ini. Memperbaiki yang belum baik melengkapi yang belum lengkap, dan menyempurnkan segala sesuatu yang belum disempurnakan oleh risalah dan ajaran-ajaran sebelumnya. Ajaran dan risalah para nabi dan rasul sebelum Muhammad ditujukan hanya untuk kaumnya masing-masing, seperti nabi Musa dengan risalahnya hanya untuk bani Israil demikian pula dengan nabi Isa hanya untuk kaumnya saja. Dan setelah datang Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad maka selesailah berlakunya risalah nabi Isa karena semua masalah dan segala urusan sudah tercakup dalam dan oleh ajaran Muhammad.

Asmadi Tsaqib

Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Allah Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justeru jelek menurut Allah. Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216).

Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.

Lihat pos aslinya 428 kata lagi

Bersafar Atau Bepergian Dan Etikanya

imageedit_28_3106255020
pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setiap orang pasti membutuhkan sesuatu yang baru yang hanya ada di luar dirinya. Ia membutuhkan pengetahuan, wawasan, ilmu dan suasana yang baru. Memang kebutuhan akan wawasan, pengetahuan dan juga ilmu bisa kita dapatkan dalam rumah bahkan dalam kamar tidur kita, karena semua itu bisa kita akses melalui berbagai media elektronik dan internet yang ada dalam rumah kita, tetapi sebagai manusia kita tidak akan pernah puas dengan cara pemenuhan kebutuhan seperti itu. Kita pasti ingin mengalami dan marasakan sesuatu itu langsung di lapangan. Khusus yang berkaitan dengan kebutuhan akan suasana, maka untuk memenuhinya, mau atau tidak mau kita harus keluar meninggalkan rumah.

Kita butuh rekreasi untuk merefresh jiwa dan raga kita, misalnya pada suasana pergantian tahun yang di situ ada waktu luang yang cukup panjang (long weekend). Misalnya ada hari libur nasional di mana sangat bermanfaat sekali bagi para pegawai pemerintah maupun swasta untuk memulihkan kembali kondisi fisik maupun mentalnya setelah sekian lama dijejali dengan tugas dan pekerjaanya.

Tetapi tentu saja, yang dimaksud dengan safar atau bepergian di sini tidak hanya untuk rekreasi akan tetapi menyangkut juga bepergian yang berkaitan dengan ibadah yang khusus, seperti haji dan umrah dan lain-lain yang memerlukan perjalanan panjang.

Semua ini adalah hal yang wajar kita lakukan bersama anggota keluarga pergi ke suatu tempat atau obyek wisata tertentu. Tetapi sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah, kita perlu mengetahui apa dan bagaimana seharusnya safar atau bepergian yang sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah.

Saudara, sebenarnya saya masih sangat awam tentang hukum agama, dan saya masih terus belajar, termasuk mengenai aturan atau etika dalam bebergian. Namun demikian, saya coba membuka dan membaca buku dan literatur terkait dan juga tentunya melalui googling, akhirnya saya mendapatkan yang saya butuhkan.  Dan pada postingan kali ini saya akan coba berbagi dengan anda tentang hal dimaksud. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala  meridhoinya, aamiin.

Saudara, ada sebuah ungkapan yang mengatakan, bahwa hidup ini bagaikan roda yang terus berputar, ada yang datang dan ada pula yang pergi, ada suka dan ada pula duka. Semua itu bukanlah sesuatu peristiwa atau kejadian yang terjadi secara kebetulan, akan tetapi merupakan ketetapan Allah Subhanahu wata’ala yang berlaku di alam semesta. Dunia adalah tempat persinggahan sementara kita dalam perjalanan menuju akhirat. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang tersebut. Dalam Al Qur’an Allah berfirman :

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah:197)

Saudara, dalam surat lain Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman;

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.( QS. Al-Jumu’ah: 10).

Sesuai dengan pokok bahasan atau judul postingan di atas, pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan  beberapa etika atau adab bepergian sesuai tuntunan Al Qur’an dan Sunnah;

1. Berpamitan kepada keluarga dan kerabat.

Ketika  hendak bepergian, dianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga, kerabat dan kawan-kawan. Sebab Allah menjadikan berkah di dalam doa mereka. Inilah sunnah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin pada hari ini, yaitu melepas kepergian dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَ اَمَانَتَكَ وَ خَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan penuntup amalmu”.[HR. Abu Dawud (2600). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 14)]

Al-Imam Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menjadikan agama dan amanah seseorang sebagai titipan, karena di dalam safar seseorang akan tertimpa rasa berat, dan takut sehingga hal itu menjadi sebab tersepelekannya sebagian perkara-perkara agama. Lantaran itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan kebaikan bagi orang yang safar berupa bantuan dan taufiq. 

Seseorang dalam safarnya tersebut tak akan lepas dari kegiatan yang ia perlukan di dalamnya berupa mengambil dan memberi sesuatu, bergaul dengan manusia. Karena itulah, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakannya agar dipelihara sifat amanahnya, dan dijauhkan dari sifat khianat.

Kemudian, jika ia kembali kepada keluarganya, maka akhir urusannya aman dari sesuatu yang membuatnya buruk dalam perkara agama dan dunianya”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidziy (8/338)]

Inilah hikmahnya seseorang saling mendoakan saat seseorang bepergian. Selain itu, berpamitan juga memiliki manfaat lain, yaitu ia merupakan kesempatan untuk memberi wasiat, pesan, dan lainnya. Sebab banyak orang yang pergi, dan tak diketahui lagi rimbanya sehingga putuslah hubungan silaturahim, atau lainnya

2. Hendaklah bepergian secara berjamaah

Islam menyerukan kepada pemeluknya untuk senantiasa bersatu dan berjama’ah, bukan berpecah belah. Begitu pula ketika bersafar dianjurkan untuk berjama’ah dan berombongan. Oleh karena itu, jika seseorang ingin melakukan suatu perjalanan, maka hendaklah ia mencari teman-teman dalam perjalanan dan jangan ia pergi seorang diri. Sebab dalam perjalanan banyak ditemukan kesusahan, bahaya, dan penderitaan.

AlKhoththobiy –rahimahullah– berkata, “Orang yang bepergian sendiri, andaikan ia meninggal, maka tidak ada yang memandikannya dan menguburkannya serta mengurus segala sesuatunya. Juga tidak ada orang yang bisa menerima wasiatnya untuk mengurus harta bendanya dan membawanya kepada keluarganya serta tidak ada yang memberi kabar kepada keluarganya. Tidak ada orang yang membantu membawa perbekalannya selama perjalanannya. Sedangkan jika ia pergi bertiga atau berombongan, maka mereka bisa saling membantu, bahu-membahu, berbagi tugas, bergiliran jaga, melaksanankan shalat secara berjama’ah dan memperoleh bagian dari berjama’ah.”[Lihat ‘Aunul Ma’bud (7/125) cet.Daar Ihya’ At-Turats Al-Arabiyyah.]

Lantaran itu, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– melarang seseorang untuk bepergian sendiri  dalam sabdanya,

لَوْ يَعْلَمُ اْلنَّّاسُ مَا فِيْ اْلوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ                                                   

 Andaikata manusia mengetahui apa (bahaya) kesendirian sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak ada seorang pengendara pun yang akan berjalan di malam hari dalam keadaan seorang diri. ” [HR. Al-Bukhoriy (no. 2998). ]

Larangan dalam hadits ini mencakup pengendara maupun pejalan kaki. Penyebutan pengendara dalam hadits ini disebabkan karena kebanyakan orang yang bepergian itu memakai kendaraan. Larangan ini pula berlaku pada waktu malam maupun siang hari. Sebab disebutkan dalam hadits ini pada waktu malam, karena malam hari lebih rawan kejahatan dan lebih besar resikonya.

3. Hendaklah ada salah seorang sebagai ketua rombongan

Tatkala melakukan safar secara berombongan maka ia memiliki keterikatan diantara banyak orang. Oleh karenanya, dianjurkan bagi orang yang bepergian secara berombongan dan yang berjumlah tiga atau lebih, agar menunjuk salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan. Tugasnya ialah memimpin dan mengurus segala sesuatu untuk kepentingan mereka bersama. Keputusannya harus dipatuhi oleh seluruh anggota rombongan dengan syarat tidak memerintahkan berbuat maksiat kepada Allah.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ,

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍفَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

Apabila ada tiga orang yang keluar dalam sebuah perjalanan, maka hendaklah mereka menunjuk salah satu dari mereka menjadi amir(ketua rombongan).”[HR. Abu Dawud (2608). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-shohihah (no. 1322)]

4. Larangan bepergian tanpa ada mahram bagi wanita.

Di dalam syariat Islam, seorang wanita tidak boleh bersafar tanpa disertai oleh mahramnya. Sebab hal itu akan menimbulkan fitnah (malapetaka) bagi dirinya dan para lelaki yang ada disekelilingnya. Oleh karenanya, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لاَيَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيْرَةً يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sepanjang sehari semalam tanpa ditemani mahram.“ [HR. Al-Bukhari(1088)]

Bahkan Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu– pernah mendengar Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِاِمْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرَنَّ اِمْرَأَةٌ إِلاََّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اُكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا وَخَرَجَتِ امْ رَأَتِيْ حَاجَةً قَالَ اِذْهَبْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

“Jangan sekali-kali seorang lelaki berada di tempat yang sepi dengan seorang wanita, dan jangan sekali-kali seorang wanita safar (bepergian jauh), kecuali bersama mahramnya.”

Kemudian ada seorang lelaki berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku sudah mendapat tugas dalam perang begini dan begini,sementara istriku pergi haji. Beliau lantas bersabda,”Berangkatlah pergi haji berrsama istrimu!!”. [HR.Al-Bukhari (3006)]

Hadits diatas adalah dalil yang paling tegas menunjukkan haramnya seorang wanita bersafar tanpa ada mahram yang meyertainya. Sebab Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– lebih mendahulukan sahabatnya untuk menemani istrinya pergi berhaji daripada ikut berperang. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat, aamiin.

SPARK OF CONTENT:

Appropriate guidance or according to the Qur’an and Sunnah there are some ethics in traveling, among them: 1. Inform the family and relatives before leaving. 2. Let go congregation, 3. Let someone as a head of the group, 4. Prohibition traveling without a mahram (some one who can not be maried) for women. “Never a man to be in a quiet place with a woman, and never a woman Safar (traveling distance), except along with her mahram.” In Islamic law, a woman should not traveling without being accompanied by a mahram. Because it will cause fitnah (catastrophe) for herself and the men around her.

Riya’ Dan Cara Menghindarinya

imageedit_5_8457466341
Pixabay

Riya’ atau boleh juga disebut pamer amal. Jadi, apapun yang kita miliki, kita lakukan, kita tampakkan kepada manusia dengan tujuan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, adalah riya’. Salah satu, atau mungkin satu-satunya sifat manusia yang sulit dihindari kemunculannya dari dalam hati kita adalah sifat riya’. Saking sulitnya untuk dihindari, hingga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun sangat mengkhawatirkan sifat riya’ ini akan menghinggapi umatnya di dalam beribadah dan melakukan amal-amal kebaikan mereka.

Kekhawatiran Nabi ini bisa kita ketahui dari sabdanya, berikut ini :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

Yang artinya : “Sesungguhnya yang paling ditakuti dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashgar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashgar ya Rasulullah? Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab ‘ar riya’.” (HR Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid no.27742).

Strategi Atau Cara Mengatasi Riya’

Dari beberapa referensi yang ada, cukup banyak cara atau strategi untuk mengatasi sifat riya’. Pada postingan ini, saya mengutip 4 (empat) strategi atau cara yang bisa kita upayakan untuk mengatasi bahaya dari sifat riya’ ini, yaitu sebagai berikut :

Pasang niat dalam hati kita, agar semua amal ibadah yang akan kita kerjakan tidak untuk mengharapkan sanjungan dan pujian dari orang lain, tetapi semata-mata ikhlas karena Allah Ta’ala.
Upayakan amalan-amalan yang sekiranya bisa disekitambunyikan pelaksanaannya, agar disembunyikan atau dirahasiakan dari mata orang lain. Misalnya amalan seperti sedekah, berdzikir, puasa, dan lain-lain.
Menyadari akan bahaya riya. Dengan kesadaran bahwa sifat riya; sesungguhnya merupakan sebuah virus penyakit yang dapat menggerogoti semua amal kebaikan , yang dengan kesadaran itu insya Allah kita akan dapat mengontrol hati kita untuk tetap fokus beramal hanya untuk mengharapkan ridho dan rahmat Allah.
Iringi selalu semua amal ibadah yang kita lakukan dengan do’a. Bacalah do’a untuk menghindari riya’ atau syirik kecil ini, sesuai yang diajarkan oleh Nabi kita, berikut ini.
اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه

“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”(HR.Ahmad)

Beberapa Bentuk Riya’

Bentuk-bentuk riya’ beraneka ragam warnanya dan coraknya. Bisa berupa perbuatan, perkataan, atau pun penampilan yang diniatkan sekedar mencari popularitas dan sanjungan orang lain, maka ini semua tergolong dari bentuk-bentuk perbuatan riya’ yang dilarang dalam agama Islam.

Hukum Riya’

Riya’ merupakan dosa besar. Karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil. Sebagaimana hadits di atas dari shahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.”
Selain riya’ merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam mara bahaya.

Jika terlintas di hati kita keinginan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, maka sadarlah bahwa hal itu adalah salah satu penyakit riya yang membawa kepada kemurkaan Allah, dan segeralah mengusirnya dari pikiran dan hati kita, karena itu bisikan syetan. Sebagaimana diketahui bahwa keinginan agar orang lain mengetahui dan menyanjung apa yang kita lakukan merupakan syahwat yang dihembuskan setan untuk membawa kepada perbuatan riya. Oleh karenanya, dengan mengetahui bahaya dari perbuatan riya semoga akan menimbulkan kebencian terhadap melakukan perbuatan itu.
Riya’ atau syirik kecil ini sangat berbahaya bagi keikhlasan amal ibadah kita kepada Allah, karena itu hendaknya kita bisa membangun komitmen dan tekad yang kuat untuk melawan dan menolak kehadirannya dalam hati kita. Itulah riya’ dengan segala bentuk rupa, dan bahayanya. Semoga dengan empat cara di atas, kita bisa mengatasi bahaya riya’ dan semoga tulisan ini bermafaat, aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab
Dikutip dari beberapa sumber terkait…

SPARK OF CONTENT :

One, or perhaps the only human nature that is difficult to avoid emergence of our hearts is the nature of riya ‘. Because of the difficulty to be avoided, until our Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam was very concerned about the nature of riya’ will befall his people in worship and doing their good deeds. When it comes to our hearts the desire for adulation and praise from others, then realized that it was one of riya disease that leads to wrath, and immediately expelled from our minds and hearts, as it satanic whispers. As we know that the desire to let others know and flatter what we do is lust exhaled devil to bring to deed riya. Therefore, knowing the dangers of the act of riya hopefully will lead to hatred against committing such crimes.
Riya ‘or minor shirk is very dangerous for our deeds sincerity to God, therefore we should be able to build commitment and determination to resist and reject the presence in our hearts. That riya ‘with all such forms, and all of its dangerous impacts.

Berjanji ? Yuk, Kita Tepati Jangan diingkari

imageedit_30_7116062443
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam hidup ini, setiap orang pasti pernah berjanji, atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, dan hal itu adalah sesuatu yang lazim dalam hubungan kita dengan orang lain atau hidup bermasyarakat. Apakah janji itu berupa iming-iming suatu pemberian yang membuat orang lain merasa senang dan sangat mengharapkannya, atau hanya berupa janji untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat dan waktu tertentu, dan tentu masih banyak lagi macam janji.

Yang pasti janji atau lebih tepatnya berjanji itu boleh dan tidak dilarang dalam Islam, asalkan janji itu ditepati. Yang dilarang adalah mengingkari janji dan apabila itu terjadi, maka itu adalah dosa.

Dalam Al qur’an Allah Subhanahu wata’aala berfirman,

“Dan tunaikanlah janji kalian. Sungguh, janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra`:34).

Kemudian di surat lain dalam Al Qur’an Allah berfirman,

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (QS. An-Nahl:91).

Lalu Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengobral janji mereka (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka, mereka itu tidak akan mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan menyapa mereka dan tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka.

Bagi mereka azab yang pedih” (QS. Ali ‘Imran:77).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka” (QS. Annisa:145).

Itulah beberapa ayat suci Al ur’an yang menerangkan tentang janji, dimana apabila janji ditepati maka pelakunya akan diganjar dengan pahala berupa ditempatkan di surga, dan orang yang tidak menepati janji atau ingkar janji, maka dia termasuk golongan orang munafik, maka tempatnya adalah di neraka, bahkan di neraka paling bawah.

Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalaam dalam sabdanya,

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Muslim)

“Tiga hal, siapa pun yang ada pada tiga hal itu disebut munafik, kendati ia berpuasa, mengerjakan shalat, dan mengaku dirinya Muslim. Yaitu apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyalahi janji, dan apabila dipercayai ia berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim).

Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati. Oleh karena itu, Allah SWT. memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah SWT., janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar.

Itulah perbedaan antara seorang mukmin dan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya, bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)

Semua orang tidak akan suka kepada orang yang “ingkar janji”. Karenanya, cepat atau lambat dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka. Karena Ingkar janji terhadap siapapun tidak dibenarkan dalam Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela.

imageedit_4_2315913699
Pixabay.com

Dari penjelasan Al Qur’an dan hadits di atas, kita dapat mengatakan bahwa berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain (untuk kebaikan) itu tidaklah dilarang, asalkan yang membuat janji itu menepatinya, dan menepati janji itu hukumnya wajib. Oleh karena itu, ketika berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, maka biasakanlah berjanji, dengan mengucapkan kalimat, Insya Allah. semoga Allah mengijinkan kita.

Apabila karena ada satu dan lain hal janji tersebut tidak atau belum bisa ditepati, maka hendaknya harus ada penjelasan kembali mengenai alasan-alasan mengapa sebuah janji belum bisa dipenuhi, termasuk di dalamnya penjadwalan kembali (rescheduling) waktu-waktunya. Ini semua harus dilakukan agar orang lain di mana janji tersebut ditujukan, tidak merasa dibohongi dan tidak kecewa.

Semoga kita tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang suka mengingkari janji untuk selamanya hingga ajal menjemput, aamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

SPARK OF CONTENT :

In Islam, the promise is actually equal to the debt. So it must be kept and shall not be denied. As in the case of the debt, if we owe something to someone then let the debt was paid in accordance with the contract or agreement that was created earlier. So, keeping promises is part of the faith. Those who do not keep the agreement then there is no religion for him. So anyway such broken promises, including signs and proof of their hypocrisy that ugly treason and destruction of the heart. Therefore, Allah the Almighty God commanded His believing servants to always keep, maintain, and carry out his promise. This includes the appointment of a servant to Allah, promise slave with a slave, and a promise to himself as nadzar.

Untuk Apa Kita Diciptakan?

imageedit_1_4036582253.jpg
pixabay.com

Sebuah pertanyaan penting yang harus segera kita temukan jawabannya agar hidup kita di dunia yang fana ini terarah dan memiliki tujuan yang jelas. Bila kita sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan ini, maka kita sudah memiliki pemahaman tentang makna dari pertanyaan judul di atas, dan dengan demikian minimal kita sudah memiliki arah yang jelas dan pasti untuk dituju dalam perjalanan panjang atau pendek hidup kita di dunia ini. Untuk itu, berikut ini saya ambilkan sebuah artikel yang saya reblog dari bekas blog saya yang sudah tidak bisa lagi saya kelola karena akunnya sudah disuspend yah. Namun masih bisa diakses dari luar untuk melihat dan membaca kembali konten-konten yang ada di sana. Selamat membaca!

Straight Path

Kehidupan di dunia pada dasarnya hanyalah senda gurau atau main-main saja. Orang akan semakin merugi bila tidak tahu untuk apa ia diciptakan Allah dan menjalani kehidupan di dunia ini.

Kalau kita melihat besarnya kekuasaan Allah, niscaya kita akan segera mengucapkan “Allahu Akbar”, “Subhanallah”. Allah menciptakan langit tanpa tiang serta semua bintang yang menghiasinya dan Allah turunkan darinya air hujan dan tumbuh dengannya segala jenis tumbuh-tumbuhan. Bumi terhampar sangat luas, segala jenis makhluk bertempat tinggal di atasnya, berbagai kenikmatan dikandungnya dan setiap orang dengan mudah bepergian ke mana yang dia inginkan.

Binatang ada dengan berbagai jenis, bentuk, dan warnanya. Tumbuh-tumbuhan dengan segala jenisnya dan buah-buahan dengan segala rasa dan warnanya. Laut yang sangat luas dan segala rizki yang ada di dalamnya semuanya mengingatkan kita kepada kebesaran Allah dan ke-Mahaagungan-Nya.

Kita meyakini bahwa Allah menciptakan semuanya itu memiliki tujuan dan tidak sia-sia. Maka dari itu mari kita berlaku jujur pada…

Lihat pos aslinya 1.235 kata lagi

Hati-Hati Mencari Kebahagiaan

imageedit_6_3146320875
pixabay.com

Terinspirasi oleh fenomena sosial yang saya lihat setiap saat baik yang dijumpai langsung dalam masyarakat maupun melalui media cetak dan online, lalu sayapun menulis artikel ini dengan judul seperti di atas. Apa sih fenomena sosial itu ? Dia adalah gaya hidup atau life style sebagian masyarakat kita di era-era terakhir ini. Saya tidak mengatakan bahwa gaya hidup sebagai sebuah fenomena sosial yang tidak boleh ditiru atau dilakukan. Tetapi ada kecenderungan orang-orang menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tak peduli apakah cara yang mereka tempuh halal atau haram. Demi mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang bersifat materi dan hanya sementara sifatnya.

Benarkah dengan mendapatkan harta atau kekayaan berlimpah dari cara-cara yang tidak halal bisa membahagiakan mereka dalam arti sebenarnya ?  Jangan salah, dan harus berhati-hati dalam menggapai kebahagiaan. Sebab, jika salah dalam memilih cara menggapai bahagia, petualangan anda dalam mencari kebahagiaan akan berakhir dengan kekecewaan. Ada contoh, yang bisa kita ceritakan di sini bahwa ada orang atau sebagian orang yang berakhir kecewa, setelah petualangannya dalam mencari bahagia melalui korupsi, penipuan, pelacuran dan lain-lain, lalu ditangkap KPK atau polisi dan berakhir di penjara, entah berapa lama.

Padahal, kebahagiaan adalah hal yang amat sederhana. Karena dengan membangun pikiran positif dalam diri kita, maka bahagia itu segera kita gapai. Dan kebahagiaan adalah banyak bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan banyak anugerah dan karunia-Nya pada kita.

Begitu pun Islam mengajarkan umatnya, bagaimana cara memiliki dan mencari harta. Seorang Muslim dilarang untuk mencari harta dengan cara menipu, korupsi, mencuri dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah berikut ini.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 2 : 188)

Sadarkah kita bahwa pada diri kita begitu banyak, lengkap dan sempurnanya nikmat itu diberikan, ada mata, telinga, otak, hati, jantung dan lain-lain. Sudahkah semua nikmat itu kita syukuri dan kita gunakan sesuai dengan peruntukannya ?

Terkait dengan rasa syukur, saya mengutip pendapat yang mengatakan bahwa, “Syukur itu penting. Ketika kita memilih dan membangun pikiran syukur, kita tidak hanya mengubah sudut pandang kita, tetapi juga keadaan menjalani rasa syukur tersebut. Bersyukur adalah cara yang sangat baik untuk mengubah “anggapan kegagalan” kita; syukur dapat menolong untuk mengeluarkan kita dari suasana hati yang murung, membawa kita kembali ke jalur yang tepat, dan membuat kita maju terus ke arah yang positif. Emosi dari syukur, singkatnya, mempunyai pengaruh yang ajaib terhadap cara kita memandang dunia dan kehidupan ini.” (Roni Ismail, Menjadi bahagia dalam 60 menit, hal. 12).

imageedit_22_5788432557
pixabay.com

Gaya hidup yang mengedepankan kemewahan materi sebenarnya hanyalah kesenangan dan kebahagiaan yang semu dan tidak sejati sifatnya.  Mungkin kita mengira kalau yang punya rumah mewah, mobil mewah itu lebih bahagia dari si pemulung yang setiap hari hanya dapat cukup untuk makan hari itu, belum tentu, demikian pula sebaliknya. Jadi, berhati-hatilah dalam mencari kebahagiaan.

Alhamdulillah, mari senantiasa bersyukur atas segala rahmat dan karunia yang Allah berikan pada kita hingga saat ini, agar tetap bisa merasakan kebahagiaan dalam hati kita, yaitu kebahagiaan yang sejati@..Wallahu a’lam.

Demikian coretan singkat, semoga bermanfaat, amien.

Munajat Tak Pernah Putus

Oleh: M.Anis Matta

imageedit_51_9447566304
Pixabay.com

Beginilah sang musafir, bila mulai terbangun dari tidur panjangnya. Ia mulai membersihkan wajahnya dengan wudhu dan menjalani hari-harinya dengan menujat yang tak pernah putus. Hatinya telah terbang tinggi ke langit dan terpaut di sana. Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat lain dalam bumi, hatinya bercengkerama di ketinggian langit.

Kini, sang Musafir telah menyadari bahwa doa bukanlah pekerjaan sederhana. Doa bukanlah kumpulan kata yang kering. Doa bukanlah harapan yang dingin. Doa bukanlah sekadar menengadahkan kedua tangan ke langit.

Tidak! Kini, sang musafir menyesali mengapa ia terlambat memahami makna dan hakikat doa. Ternyata doa adalah “surat” dari sang jiwa yang senantiasa terpaut pada langit. Doa adalah rindu kepada Allah yang tak pernah selesai. Maka, setiap kata dalam doa adalah gelombang jiwa yang getarannya niscaya terdengar ke semua lapisan langit. Di sini, tiada tempat bagi kepura-puraan. Di sini, tak ada ruang bagi kebohongan. Begitulah jiwa sang musafir, terus berlari ke perhentian terakhir, ketika raganya masih berada dalam gerbong kereta waktu. Dengarlah munajat sang musafir. “Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan menyembah-Mu dengan cara yang baik.” (h.r. Abu Dawud dari Muadz bin Jabal)-

Ingat Dan Pelihara Selalu Tujuan Baik

imageedit_1_3529510941
pixabay.com

Bismillaah Hirahmaanir Rahiim

Setiap orang pasti akan pergi meninggalkan rumah, entah karena ada kebutuhan yang amat penting atau karena hanya sekedar berjalan mengitari rumah atau komplek di lingkungan tempat tinggal kita. Oleh karena itu, melangkahkan kaki meninggalkan rumah, entah untuk jarak yang cukup jauh atau hanya beberapa langkah saja hendaknya selalu dalam bingkai kebaikan. Karena kebaikan itulah yang akan menjadikan setiap langkah dalam perjalanan kita akan bernilai pahala.

Bukan hanya itu, perlindungan Allah swt atas keselamatan kita pun akan selalu turut serta dalam setiap langkah kita di luar rumah.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak seorangpun yang keluar dari rumahnya kecuali ada dua panj-panji (yang mengiringinya), salah satu di antaranya berada di tangan malaikat. Sedang yang lainnya berada di atangan syetan, Maka jika keluarnya untuk sesuatu urusan yang diridhoi Allah swt, ia akan diiringi oleh malaikat dengan panji-panjinya. Demikianlah ia akan selalu berada di bawah panji-panji malaikat sampai ia kembali ke rumah. Sebaliknya jika keluarnya untuk sesuatu hal yang dimurkai Allah, maka orang itu akan diiringi syetan dengan panji-panjinya. Dan demikianlah ia akan selalu di baah panji-panji syetan sampai ia pulang kembali ke rumahnya.” (HR.Ahmad dan Thabrani)

Hadits di atas tidak saja menegaskan pentingnya niat dan maksud baik sebelum melangkah, tetapi juga mengandung pengajaran agar kita senantiasa menjaga dan memeliharanya. Karena dengan mengingat dan memelihara niat dan maksud baik, tentu kita juga akan terpelihara dari pertarungan-pertanrungan yang banyak bertebaran di sepanjang jalan-jalan yang kita lalui dan tempat-tempat yang kita singgahi. Dan tentu pula kita tidak ingin langkah-langkah kita yang tadinya telah disertai dengan niat dan maksud baik, menjadi sis-sia dan ternoda oleh pertarungan-pertarungan yang remeh-temeh. Oleh karena itu, tetaplah mengingat dan memelihara niat baik yang telah kita pasangkan sejak awal di hati kita.

Al Qur’an memberikan contoh sebuah niat dan amal yang baik, yang kemudian rusak oleh pertarungan yang sia-sia. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melihat perniagaan dan permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu yang sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dari permainan dan perniagaan,” dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS.Al Jumu’ah: 11)

Pertarungan sia-sia karena sebab yang sepele, di luar sana sungguh banyak. Dan sejatinya kitapun sudah mengenalnya dengan baik, karena hidup kita yang barangkali setiap hari tidak pernah lepas dari menyusuri jalan-jalan yang panjang; untuk mengais rezeki, berdagang, menuntut ilmu, mengajar, berdakwah, dan sebagainya.

Berada di luar rumah untuk tujuan-tujuan itu, hendaknya semua berada dalam lingkaran kebaikan, yang harus terus terpelihara dengan kebaikan pula; yaitu dengan mengingat dan memelihara niat awalnya. Maka itu, sikap ini harus terus-menerus terpelihara dengan baik… Catatan ini dimaksudkan untuk mengingatkan diri saya pribadi, dan tentu saja pastilah untuk mengingatkan kita semua, semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007<

Cerita Ta’aruf (Akhwat Version)

ronald-van-der-meulen-1232510__180

Ta’aruf dari bahasa Arab لِتَعَارَفُوا “Ta’aruf” = Saling Mengenal. Menurut rujukan Al Quran sebagai sumber hukum tertinggi, kata Ta’aruf ada di Surah Al Hujurat ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَلِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Lihat, di bawah ini satu contoh pola pacaran atau lebih tepatnya ta’aruf dalam Islam, yang saya reblog dari blog teman mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa pun yang mengaku muslim/muslimah,…aamiin.

 

Portal Wong Sukses

27 November 2011

Hari Ahad pagi, mbak SF teman satu kantorku tiba-tiba meminta saya untuk datang ke rumahnya.Meskipun  sedikit bingung saya langsung katakan iya. Sekitar jam 2 siang, dengan rasa penasaran saya segera meluncur ke rumah mbak SF. Setelah sampai di rumahnya, tanpa basa basi mbak SFlangsung menyerahkan sebuah ampop besar berwarna coklat. Sambil senyum-senyum beliau bilang, “Mau dibuka sekarang atau di rumah terserah Vita.”Saya  berfikir sejenak, karena saya orang yang tidak bisa dibuat penasaran, akhirnya:

Lihat pos aslinya 1.185 kata lagi

Menghargai Hak Dan Kepentingan Orang Lain

peony-800109__180Untuk berada di luar rumah bagi masing-masing orang tentu berbeda-beda porsentasenya. Hal ini semua bergantung pada pekerjaan dan profesi masing-masing. Ada yang karena tuntutan pekerjaan dan profesinya, sesorang harus berada di luar rumah atau meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang lama. Misalnya, dalam kurun waktu berhari-hari dan berminggu-minggu, bahkan ada yang bulanan dan juga tahunan.

Berada di luar rumah, sudah tentu berbeda situasinya dengan ketika kita berada di dalam rumah. Di dalam rumah kita hanya berhubungan dengan orang-orang yang kita kenal dekat seperti anggota keluarga sendiri ataupun anggota keluarga besar kita. Di luar, kita akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.

Dan di saat itu pula kita akan menemukan banyak karakter manusia yang berbeda-beda, banyak kepentingan, dan banyak hak orang lain yang tentu saja tetap harus terpenuhi, sehingga kita harus mengerti dan memahami kondisi itu demi memudahkan urusan dan kepentingan kita sendiri, menjauhkannya dari gesekan dan pertarungan yang tidak perlu.

Begitu pentingnya kesadaran ini harus dihadirkan, dan agar kita tidak menjadi pemicu munculnya pertarungan-pertarungan di perjalanan. Rasulullah saw bahkan mengingatkan kita untuk tidak memarkir kendaraan di pinggir jalan ketika ingin beristirahat. Beliau bersabda,”Bila kamu berjalan di tempat yang subur (banyak rerumputan), maka berikanlah unta itu haknya. Bila kamu berjalan di tempat yang kering maka percepatlah jalanmu. Dan jika kamu ingin beristirahat, maka menjauhlah dari jalan.”(HR.Abu Daud)

Bahkan untuk mempercepat kendaraan pun, sebagaimana hadits di atas, Rasulullah juga membolehkan dan melakukannya sendiri, tetapi tentu dengan memperhatikan kondisi jalan yang akan dilewati. Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Usamah bin Zaid ra yang pernah dibonceng Rasulullah saw dari Arafah. Zubair bertanya kepadanya, “Bagaimana perjalanan Rasulullah saw ketika beliau keluar dari Arafah?” Usamah menjawab, “Beliau berjalan tidak terlalu cepat, tetapi jika beliau menemukan jalan yang kosong beliau berjalan lebih cepat.” (HR.Muslim)
Di dalam berjalan dan mengendarai kendaraannya, menurut Anas ra, Rasulullah saw sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan.” (HR.Abu Daud)

Ini baru satu contoh. Hanya di perjalanan. Di tempat-tempat lain sama saja etikanya. Hak dan kepentingan orang lain selalu ada dan kita pun harus pandai menghargainya, demi menghindarkan diri dari pertarungan yang sis-sia . Jadi, hargailah hak dan kepentingan orang lain…Semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007

Tidak Meremehkan Hal-Hal Yang Berbahaya

burglar-1216195__180
Pixabay

Tulisan ini saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007. Saya kira ini bermanfaat sebagai bahan renungan bagi kita semua, karena apa yang dibahas dalamnya sangat relevan dengan aktivitas kehidupan kita semua, terutama tatkala  berada di luar rumah. Bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku dan apa konsekwensi jika kita bersikap dan berperilaku tertentu di luar sana…Ikuti teks selengkapnya berikut ini.

Pertarungan remeh-temeh yang kerap kita saksikan di jalan-jalan, sesungguhnya tidak jarang terjadi karena hal-hal yang memang berbahaya, tetapi sebagian orang menganggapnya sepele dan biasa saja. Ini barangkali masalah persepsi, kesenangan, atau kepentingan pribadi sehingga membuat seseorang merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Akan tetapi ketika kita sedang berada di tengah jalan, di mana keselamatan dan nyawa sedang kita pertaruhkan, maka egoisme tidak boleh lagi dikedepankan. Hal yang memang serius harus dianggap serius. Tidak boleh diremehkan. Kita tidak boleh berfikir bahwa, yang penting orang lain tidak tahu, atau alasan apa saja yang kesannya tidak menghargai kondisi dan situasi yang memang tidak kondusif un tuk melakukan hal-hal tertentu.

Ada berita menarik tentang situasi perjalanan yang dimuat oleh sebuah media harian untuk membuktikan hal ini. Di sana ditulas sebuah survey di Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa pengendara mobil menggunakan salah satu tangannya untuk memegang kemudi. Sebaliknya, tangan yang lain lagi usil melakukan aktivitas yang lain. Perilaku demikian, ternyata dilakukan oleh lebih dari 81 porsen pengemudi di negeri itu.

Survey yang dilakukan terhadap 1.200 penegmudi berusia antara 18 sampai 60 tahun, itu menunjukkan delapan dari sepuluh pengemudi mengaku mengubah stasiun radio saat mengemudi. Kemudian 73 porsen mengaku berbicara di telepon, 68 porsen makan,19 porsen mengirim SMS, dan 5 porsen membuka e-mail. Sebanyak 19 porsen pengemudi menyisir rambutnya, 12 porsen memakai riasan, dan 2 porsen mencukur kumis ketika mengemudi. Wakil presiden lembaga survey itu, Bil Windsor mengatakan, “Gejala itu menunjukkan bahwa saat ini orang mempunyai banyak kesibukan, tetapi hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit.”

Orang boleh saja berpendapat seperti itu, yang seolah membenarkan dan mentoleransi perileku-perileku itu terjadi, dan setiap pengendara bisa semaunya beraktivitas untuk menuntaskan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan, meskipun di sela-sela waktunya di tengah perjalanan. Namun, semua kita pasti sepakat bahwa hal-hal itu tidak saja akan mengundang pertarungan-pertarungan kecil, bahkan bencana yang lebih besar pun bisa saja terjadi.

Sering ada hal-hal yang kita anggap kecil padahal berakibat pada masalah-masalah besar, haruslah dianggap sebagai perkara besar. Seperti yang difirmankan Allah swt, “Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah dia adalah besar.” (QS.An Nur:15)

Tulisan ini mungkin hanya sebuah peringatan yang relatif biasa sifatnya bagi semua atau setiap orang, namun bagi saya pribadi ini menjadi pengingat ketika hendak melangkahkan kaki keluar meninggalkan rumah untuk selalu berdo’a memohon keselamatan dan perlindungan dari Allah subhanahu wata’ala untuk kita dan keluarga yang kita tinggalkan. Semoga bermanfaat.

Bersikap Tenang Dan Kendalikan Emosi

boy-183306__180
Pixabay.com

Kondisi di luar rumah; di pasar, di jalan, dan di tempat-tempat umum lainnya yang ramai dan terkadang semrawut, tentu akan sangat melelahkan fisik. Dan ketika kondisi ini yang terjadi, jiwa kita akan mudah diguncang amarah dan emosi yang sulit dikendalikan, dan telah pula menyatu dengan berbagai kepentingan yang harus segera terlaksana.

Di sana, di luar rumah kita, kita akan bertemu dan bergesekan dengan orang-orang yang punya waktu singkat dan kebutuhan yang sangat mendesak; sedang menuju ke tempat kerja, sedang dinanti oleh keluarga yang sakit, sedang ada janji dengan orang lain, sedang mengejar jadwal keberangkatan, sedang bersiap menghadapi ujian, dan sederetan kepentingan yang mungkin tidak bisa ditunda. Sama seperti kita yang juga sedang berpacu dengan waktu untuk urusan dan kepentingan yang berbeda.

Situasi seperti itu seringkali memancing timbulnya pertarungan-pertarungan yang melelahkan, namun tidak penting dan tidak menghasilkan apa-apa. Dan kalau kita terbawa dengan adegan itu, tidak bersikap tenang, terburu-buru, dan tidak pandai meredam amarah dan emosi, tentu akan melibatkan kita sebagai petarung yang ketika kalah dihina, tetapi jika menangpun tidak dihargai.

Ini sebenarnya bukan perkara rumit, hanya butuh beberapa sikap; kesadaran, ketenangan, dan pengendalian emosi. Tetapi mungkin tidak sempat kita lakukan karena terpikir oleh kita, bagaimana kita bisa segera sampai di tujuan dan menyelesaikan urusan-urusan kita, tanpa mau tahu urusan dan kepentingan orang lain. Padahal sesungguhnya di sinilah pertarungan-pertarungan itu biasanya bermuara. Karena kita saling mempertahankan ego; ingin saling mendahului, berebut di tempat yang terdepan, pada possi yang sebenarnya tidak memberi keuntungan apa-apa.

Padahal, andaikata kita mau bersikap tenang, tidak terburu-buru, dan mau menahan emosi mungkin urusan kita akan lebih cepat selesai, dan pasti kita tidak akan terlibat dalam pertarungan yang remeh-temeh. Sebab, jika kita tetap dalam kekeukeuhan kita yang tidak berdasar itu, sebenarnya apa yang ada di benak kita juga ada dibenak orang lain. Sehingga pertarungan pun akan sulit kita hindari.

Alangkah indahnya, jika mau mendengarkan nasehat Rasulullah seperti yang diceritakan oleh Usamah bin Zaid. Ia berkata, “Aku pernah dibonceng Rasulullah menjelang malam dari Arafah. Tatkala matahari hendak tenggelam beliaupun melangkah, dan ketika mendengar hiruk-pikuk orang-orang di belakangnya, beliau berkata, “Pelan-pelanlah kalian! hendaklah kalian tetap tenang, karena kebaikan itu bukanlah ketika kalian memacu tunggangan kalian.”

Demikianlah beberapa catatan yang saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007, semoga bermanfaat.

Keutamaan Menjaga Lisan Dan Buah hasilnya

imageedit_49_5248624719
pixabay.com

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )

Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya.

Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

  1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
  2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
  3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
  4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
  5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
  6. Abu Hatim : “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya.Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
  7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”
  8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”

(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

Buah Menjaga Lisan

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

  1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah Rad. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)

  1. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

  1. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk masuk ke surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d :

Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah Rad. , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalambersabda:

Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

  1. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah Rad. :

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu a’lam.

Belajar Ikhlas Dalam Beramal Dan Beribadah

imageedit_119_9047593072
pixabay.com

Kata ikhlas adalah mudah untuk diucapkan namun tidak mudah atau cukup sulit untuk dilaksanakan. Seperti sering kita mendengar orang mengatakan, “Saya ikhlas menerima apapun keputusan pimpinan atas kesalahan saya”. Pertanyaannya, apakah benar dia ikhlas atau tidak? tentu jawabannya hanya dia yang tahu dan tentunya Tuhan saja yang maha mengetahuinya. Mengapa demikian, karena ikhlas merupakan perbuatan atau fungsi dari hati. Dengan demikian berarti untuk bisa kita melakukan amal kebaikan dengan ikhlas, kita perlu mengetahui cara atau kiat-kiatnya melalui proses belajar. Untuk itu, mari sama-sama kita ikuti pembahasan tentang hal tersebut pada artikel berikut ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Butir-Butir Mutiara

Berbuat sesuatu diawali dengan niat, apakah itu niat baik atau niat tidak baik. Jika kita ingin mendapatkan ganjaran pahala dari apa yang akan kita kerjakan, maka tentu niatnya harus baik dulu, lalu kemudian niat baik itu dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala (lillahi ta’aala), bukan karena mengharapkan pujian dari manusia.

Setiap amal perbuatan baik yang kita lakukan akan memperoleh imbalan sesuai dengan tingkat kesulitannya. Semakin berat amalan itu untuk dilakukan maka pahalanyapun semakin besar. Karena pada sejatinya, saat kita berupaya secara maksimal untuk melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala, saat itu pulalah kita sedang melakukan pertempuran yang maha dahsyat dengan menghadapi hawa nafsu.

Hawa nafsu adalah musuh yang amat berbahaya, selain karena dia tidak tampak saat menyerang. Dan hawa nafsu memiliki ribuan cara untuk mengelabuhi kita agar terperosok dalam hasutannya, bahkan terkadang dia mengelabuhi kita dengan asupan pahala yang justru kemudian untuk menyesatkan kita.

Dalam menyikapi tentang bahaya hawa nafsu…

Lihat pos aslinya 733 kata lagi

Syukurilah Semua Pemberian Allah Pada Kita

th (6)
pixabay.com

Dalam buku “Tazkiyatun Nafs” yang memaparkan intisari Ihya Ulumuddin Al-Ghazali, Said Hawwa menuliskan bahwa syukur adalah mengerahkan secara total segenap potensi yang ada untuk hal yang paling dicintai oleh Allah Swt.

Di kala kita berada dalam suasana penuh kesenangan, kegembiraan dan segala macam kemudahan sering kali kita lalai dari bersyukur kepada Allah Swt yang telah memberikan segala kenikmatan itu. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an yang artinya, “…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (QS.Saba[34]:13).

Setan juga menggunakan segala macam cara untuk membuat manusia lalai dari bersyukur kepada Allh Swt. Sebagaimana dijelaskan Allh dalam Al Qur’an yang artinya, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’ay).” (QS.Al A’raf[7]:17)

Untuk itu semua, sudah seharusnya kita menggunakan seluruh nikmat yang telah Allah Swt berikan itu di jalan yang diridhoi-Nya dan tidak menggunakannya untuk perbuatan maksiat kepada Allah. Inilah perwujudan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Kita hendaknya menyadari, bahwa segala yang kita miliki mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, semuanya adalah pemberian gratis dari Allah, dan dengan itu pula kita dapat mengelola dan memanfaatkan akal dan pikiran kita untuk mendapatkan atau memenuhi kebutuhan kita. Kita boleh memiliki apa saja yang kita inginkan sepanjang kita mampu untuk mendapatkannya. Tapi jangan pula dilupakan bahwa untuk mendapatkanya hendaklah dengan cara-cara yang diridhoi oleh Allah, jangan sampai menghalalkan segala cara.

Jika kita orang yang beriman dan mengharapkan pertemuan dengan Allah di akhirat kelak dalam suasana yang menyenangkan dalam surga, maka mulai detik ini syukurilah semua pemberian Allah dan gunakanlah semua itu untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.

 

Dan jangan pernah bermain-main atau meremehkan pemberian Allah. Dialah yang menyediakan untuk kita oksigen secara gratis sehingga kita bisa tetap bernafas dan jantung kita dapat terus berdetak memompa darah agar bisa dialirkan ke seluruh jaringan tubuh kita. Sadarkah kita akan semua itu? lalu nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kau dustakan? Subhaanallah…

Penglihatan, pendengaran, tangan dan kaki kita adalah bagian dan nikmat Allah Swt yang diberikan-Nya kepada kita. Sudahkah kita mensyukurinya? Dan, bisakah kita menerima dengan ikhlas seandainya Allah Swt mencabut kembali pemberian-Nya itu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.Saya dan juga anda hanya berkewajiban untuk saling mengingatkan sebagai sesama muslim. Karena itu, marilah mulai detik ini juga, kita tunduk rukuk dan bersujud kepada Allah. Bayangkanlah semua kelalaian kita selama ini, dari mengingat dan menyukuri pemberian-Nya Yang Maha Luas itu untuk kita dan segeralah beristigfar dan mohonlah pengampunan atas dosa dan kesalahan kita selama ini. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Bentuk lain dari rasa syukur kita kepada Allah Swt adalah dengan menjaga lisan yang juga merupakan nikmat pemberian Allah Swt. Menjaganya dari hal-hal yang dapat mengundang murka Allah Swt, seperti membicarakan kejelekan orang, menfitnah, berdusta, mengolok atau mencaci maki. Kita juga hendaknya menggunakan lisan untuk berkata yang baik-baik, seperti mengajak orang pada kebaikan, mengucapkan kalimat thoyibah seperti dzikir kepada Allah juga saling menasihti untuk kebenaran, kebaikan dan kesabaran. Ingatlah selalu, bahwa “Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan taubatan yang sebenar-benarnya.”

Mengenal Dan Memiliki Visi Ke Surga

 

imageedit_13_5735186126
Spreadthepearl.wordpress.com

Indahnya Surga! Ketika umat muslim telah mengenal surga dan memiliki visi ke surga, maka hal itu akan memberikan motivasi untuk melakukan hal-hal yang mendukung untuk tercapainya maksud tersebut, diantaranya :

Pertama, Menjadikan Allah sebagai tujuan. Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan selalu mencari ridha-Nya disetiap amal yang dilakukan.

KeduaMenjadikan Rasulullah SAW sebagai tauladan dalam semua sisi kehidupan, mengikuti dan menjalankan semua sunnahnya serta menjauhi semua bentuk bid’ah dalam ibadah.

Ketiga. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan dan petunjuk hidup. Berinteraksi dengan cara membacanya, memahami dan mengamalkannya.

Keempat. Melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar mulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Kelima. Selalu memberikan manfaat dan keselamatan kepada orang lain.

Keenam. Menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Memahami bahwa dunia adalah tempat untuk beramal. Berusaha bersungguh-sungguh untuk kerja dunia sebagaimana kesungguhan dalam beramal untuk akhirat.

Ketujuh. Selalu berusaha mencapai prestasi yang terbaik dalam semua hal. Baik dalam menuntut ilmu, bekerja, ataupun yang lainnya.

Kedelapan. Mengatur dan memanfaatkan waktu dengan benar dan teliti. Tidak memmanfaatkan waktu untuk hal-hal yang sia-sia apalagi untuk maksiat.

Kesembilan. Selalu bermuhasabah (mengoreksi diri) dengan cara mengingat apa yang dilakukan selama ini. Yang kurang baik diperbaiki dan yang sudah baik ditingkatkan lagi.

Kesepuluh. Selalu berdoa kepada Allah agar selalu mendapat petunjuk-Nya dan dianugerahkan kesudahan yang baik atau khusnul khotimah.

Visi Ke Surga

Sudah selayaknya seseorang itu memiliki visi kehidupan yang jelas. Karena visi yang jelas dapat menuntun dia untuk berusaha mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuannya. Di samping itu juga akan menjadikan seseorang lebih fokus terhadap hasil akhir tanpa mudah goyah ketika mendapat gangguan atau hambatan.

Visi adalah tujuan jangka panjang yang bersifat umum yang akan dicapai melalui perjuangan yang panjang. Ia berbeda dengan misi, karena misi lebih bersifat khusus dan perwujudannya hanya untuk mendukung visi.

Seseorang yang memiliki visi selalu melihat semua kegiatan sepanjang hidupnya sama atau sudah sesuai pada jalan yang akan membawa dirinya kepada visi atau belum. Sekiranya belum, maka ia akan segera memutar arah(hijrah) menempuh jalan yang mampu membawanya pada visi yang sudah ditargetkan.

Karena hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, sedangkan di dunia adalah tempat persinggahan untuk mengumpulkan bekal untuk dibawa ke kehidupan yang mendatang.

Ketika hidup tanpa visi maka akan memungkinkan seseorang lalai terhadap tujuan hidup itu sendiri atau pun lupa terhadap tujuan utama manusia diciptakan yakni untuk mengabdi kepada Allah swt.

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada Ku” (QS Adz Dzariyat (51) : 56).

Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa kehidupan ini mempunyai tuga fase. Pertama, adalah fase ketika manusia berada dalam rahim. Pada fase ini manusia bergantung kepada individu lain yakni ibu. Meskipun demikian sudah sempurna sebagai satu kehidupan.

Kedua, kehidupan dunia yang diawali dengan kelahiran manusia sampai pada kematiannya. Pada fase ini manusia mampu berdiri sendiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya. Ketiga, fase kehidupan setelah kematian. Pada fase ini manusia memeroleh hasil dari usahanya di fase kedua.

Pada fase pertama waktunya sangat terbatas kurang lebih hanya sembilan bulan atau pada beberapa kasus ada yang lebih cepat  dari itu. Kemudian fase kedua juga memiliki waktu yang tebatas. Tidak bisa ditentukan secara pasti, namun secara rata-rata adalah antara enam puluh sapai tujuh puluh tahun umur manusia. Tentu saja ada yang lebih dari itu namun sangat sedikit.

Dan yang kurang dari umur rata-rata juga sangat banyak. Kalau diibaratkan seperti buah kelapa. Lalu jatuhnya buah kelapa itu sebagai kematian, maka yang memiliki kemungkinan jatuh itu semestinya  kelapa yang sudah tua dan berwarna coklat. Tetapi kelapa yang muda atau yang masih bunga juga sangat berkemungkinan gugur.

Sedangkan fase kehidupan setelah kematian tidak terbatas waktunya. Dan inilah sebenarnya tempat kehidupan yang hakiki. Cuma terkadang manusia mudah melalaikan fasei ini. Padahal fase ini disediakan hanya untuk dua tempat saja, surga dan neraka. Tidak ada pilihan lain. Dan untuk menetapkan tempat yang mana manusia akan menuju, semuanya bergantung pada visi yang telah dibuat ketika di dunia dan sejauh mana usaha yang dilakukan untuk mencapainya.

Mengenal Surga

Hal yang penting untuk menumbuhkan rasa tertarik dan mencintai sesuatu adalah dengan mengenalnya. Demikian juga dengan surga. Jika ingin berusaha memasukinya sudah sepantasnya kita untuk mengenalnya. Sebagai umat yang memiliki petunjuk berupa wahyu Al Qur’an, kita dapat mengenal surga melalui apa yang disampaikan dalam wahyu.

Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menceritakan tentang surga, baik tentang keberadaan, keindahan dan kenikmatannya. Namun semuanya berupa gambaran, karena surga adalah hal ghaib. Yang tidak mungkin dilihat oleh mata, tidak mampu didengar oleh telinga dan tidak terbayangkan oleh hati dan pikiran.

Surga identik dengan keindahan dan kenikmatan. Sebagaimana fitrah manusia juga sangat mencintai keindahan dan kenikmatan, maka surga disediakan sebagai balasan bagi umat yang taat.

Keindahan dan kenikmatan surga sungguh luar biasa, hal ini bisa dipahami karena ia tidak dapat disetarakan dengan keindahan dan kenikmatan dunia yang sifatnya fana dan menipu, sementara keindahan dan kenikmatan surga bersifat kekal. Maka bagi orang yang sudah mengenal surga, baginya dunia tidak memiliki nilai apa-apa. Sebagai contoh adalah asiah istri Fir’aun, ia tidak gentar disiksa oleh Fir’aun karena ia yakin pada Allah dan mengenal surganya, maka ketika itu ia berdoa supaya dibangunkan rumah untuk nya di surga.

Segala keindahan dan kenikmatan yang terlihat di dunia akan ada di surga bahkan jauh lebih baik. Misalnya tempat tinggal, di surga telah disediakan rumah-rumah dan istana yang megah. Makan dan minuman, di surga tersedia buah-buahan dan segala minuman yang paling lezat, seperti madu dan susu bahkan minuman yang di dunia haram di surga bisa dinikmati, seperti khamara. Wanita, di surga akan ada  bidadari-bidadari cantik yang akan mendampingi manusia. Perhiasan, di surga semua peralatan makan dan minum terbuat dari emas dan perak. Pakaian, di surga akan dipakaikan pakaian yang indah dari sutera.

Puncak Kenikmatan Surga

Puncak kenikmatan surga adalah melihat wajah Allah secara langsung dan jelas (QS 75,22-23). Inilah yang paling diimpikan oleh semua umat. Dan masih banyak lagi keindahan yang lain seperti sungai-sungai yang mengalir dan pohon-pohon yang rindang. Dan surga adalah sebaik-baik  tempat di akhirat…..Itulah sebabnya, doa yang dianjurkan bagi kita adalah : “Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.”@

Demikian gambaran singkat tentang indahnya surga, semoga dapat mengispirasi dan memotivasi kita untuk terus beramal saleh dan beribadah hanya kepada Allah sebagai syarat untuk masuk surga, amien.

Cinta Dan Benci Karena Allah

tulip-landscape-1405386__180
Pixabay.com

Sebenarnya, cinta dan benci hanyalah dua sisi dari satu mata uang yang sama (just two sides of the same coin). Tetapi, cinta tidak selalu membawa kebaikan, demikian pula benci tidak selalu merupakan keburukan. Keduanya bergantung pada apa dasar atau alasan dari keduanya. Tentu kita sepakat bahwa apabila keduanya (cinta dan benci) didasarkan pada ridho Allah shubhanahu wata’ala semata dan bukan karena nafsu, harta maupun kecantikan/ kegantengan, maka pastilah keduanya menjadi kebaikan dan keberkahan. Itulah yang akan dikupas dalam artikel berikut ini mudah-mudahan bermanfaat.

Straight Path

Artikel ini saya salin dari media Bulletin At Tauhid, yang di dalamnya berbicara tentang Cinta dan Benci karena Allah. Jadi bukan karena selain Allah, Bukan karena kecantikan/ ketampanan, jabatan, kekayaan,atau hal-hal lain selain dari pada “karena” Allah Subhanahu wataala Azza wa Jalla. Menarik untuk dipahami lebih lanjut, semoga bermanfaat.

Ini teksnya :

Cinta dan benci karena Allah. Dengan kecintaan semacam itulah seorang hamba akan bisa meraih manisnya iman. Setiap mukmin tentu mencintai Allah. Karena Allah lah yang paling berjasa kepada umat manusia dan alam semesta seluruhnya. Konsekuensi dari kecintaannya kepada Allah adalah dia akan mencintai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci. Maka, dia akan mencintai keimanan, ketaatan, dan sunnah. Sebagaimana dia akan membenci kekafiran, kemaksiatan, dan bid’ah.

Oleh sebab itu orang yang beriman (bertauhid) akan mencintai orang beriman yang lain. Dan sosok yang paling layak dia cintai adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesudah…

Lihat pos aslinya 961 kata lagi

Hiburan Bagi Orang Tua Yang Anaknya Meninggal Dunia

imageedit_34_3141848236
Spreadthepearl.com

Kehilangan orang-orang yang kita cintai sudah pasti akan membawa kesedihan dan duka yang mendalam, seolah menghapus semua kebahagiaan yang selama ini kita rasakan ketika masih bersamanya. Itu yang kita rasakan ketika ada salah satu dari keluarga kita meninggal dunia, apalagi dia adalah tulang punggung dalam keluarga, misalnya ayah atau suami,atau juga anak-anak serta orang-orang yang sangat kita cintai dan mempunyai arti yang sangat signifikan dalam hidup kita (significant others).

th (39).jpg
Pixabay.com

Memang tidak ada yang menyangkal, bahwa kita pasti akan sangat sedih ketika anak, orang tua, saudara atau kerabat dekat kita tiba-tiba saja di panggil oleh sang Khaliq? Tentu sedih dan mungkin putus asa karena kehilangan seseorang yang kita sayangi dan bahkan menjadi tumpuan hidup kita. Kehilangan orang tercinta memang sungguh menyedihkan tapi taukah anda, ada berkah di balik setiap peristiwa, seperti juga kematian tentu jika kita mampu menyikapinya secara bijak, penuh kesabaran dan keikhlasan.

Coba renungkanlah lebih dalam makna sepotong ayat al Qur’an berikut ini,

”Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Sesungguhnya kita milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya, (Allah Ta’ala).

th (40)
Pixabay.com

Mungkin karena ayat ini sudah sangat familiar di telinga kita sehingga mungkin kita menggangapnya hal yang biasa, padahal sesungguhnya inilah hakikat keberadaan kita di dunia ini. Dengan menghayati ayat ini insya Allah kita akan dapat menyikapi setiap musibah yang menimpa kita dengan tenang dan bijak. Tidak berlebih-lebihan dalam kesedihan, karena sesungguhnya yang pergi atau hilang itu bukan milik kita, tapi milik Allah. Kita hanya dititipi amanat untuk merawat dan mendidiknya untuk sementara waktu dan pada saatnya Allah pasti akan mengambil kembali milik-Nya itu.

Lalu apa hiburan yang dijanjikan untuk orang tua yang anaknya meninggal dunia?

imageedit_13_8103248644
pixabay.com

Baiklah,  kita coba dengarkan sabda Rasulullah berikut ini: ’Diriwayatkan dari Anas ra, dia berkata : ”Rasulullah saw bersabda, tidaklah seorang muslim yang kematian tiga anaknya yang belum baligh, kecuali, Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayang-Nya kepada anak-anaknya tersebut, ”(HR Bukhori muslim).

Ada beberapa hal yang mesti diketahui oleh orang tua juga kita semua, agar kematian tersebut tidak hanya menjadi sebuah peristiwa yang menyedihkan, tetapi juga bisa membawa berkah bagi kedua orang tuanya dan mengantarkan kita menuju surga Allah. Diantaranya, seperti yang telah saya katakan diawal,

1. Orang tua mesti sabar dan iklas menerima kepergian sang anak, tidak meratapi kepergiannya secara berlebihan boleh menangis dan bersedih asal tidak berlarut-larut sehingga dapat menimbulkan keburukan bagi kesehatanya.

2). Sadar dan memuji Allah

imageedit_45_5963919360.jpg
pixabay.com

Yaitu dengan mengucapkan kalimat istirja (Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun) dan merenungi kandungan maknanya seperti yang singgung di atas.. Kita , anak kita, dan segala sesuatu yang ada disekitar kita semuanya adalah milik Allah. Anak adalah amanah, titipan dari Allah, yang mesti kita jaga dan pelihara dengan sebaik-baiknya. Karena anak ibarat barang titipan tentu suatu saat jika sang pemilik akan mengambil kembali miliknya tersebut kita mudan berlapang dada menyerahkan barang titipan tersebut kepada sang pemilik

3) Mengharap pahala atas kematian sang anak.

Seperti yang telah saya katakan diawal, bahwa, kematian seorang anak bukanlah suatu musibah melainkan himpunan berkah yang mesti dipetik oleh orang yang di tinggalkan. Orang tua semestinyalah memohon pahala dan keberkahan dari peristiwa tersebut, maka dengan senang hati Allah akan melimpahkan banyak kebaikan dan pahala kepada hambanya yang meminta dengan setulus hati.

imageedit_3_7720537137.jpg
pixabay.com

Nah, bukankah hal ini merupakan kabar gembira bagi orang tua yang ditinggal mati oleh anak-anaknya yang belum baligh dan janji Allah tersebut merupakan bukti karunia dan kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan jika pun mendatangi neraka, itu hanya bagian dari janji Allah yang telah menjadi ketetapannya.

Lho, menetapi janji apa ?

Mungkin saudara bertanya-tanya akan hal ini. Janji ini berkaitan dengan firman Allah dalam surat maryam (19) : 71 ”dan tidak seorang pun dari kalian, melaikan dia pasti mendatangi neraka itu ”.

Belum jelas?

th (35)
Pixabay.com

Maksud mendatangi disini adalah menyeberanginya di atas shiraat, yaitu sebuah jembatan yang di bentangkan di atas neraka jahanam, tidaklah akan mencapai pintu surga, seorang hamba mesti melewati jembatan tersebut ? dan ketahuilah wahai para orang tua, anak-anak anda yang telah meninggalkan anda terlebih dahulu tersebut, kelak akan menunggu anda di pintu tersebut (surga-red).

Haruskah tiga anak ?

Apakah mesti tiga atau 2 anak baru orang tua dapat menikmati kemewahan surga? Kalau begitu bagaimana dengan orang tua yang kematian satu anak ? atau malah tidak kematian sama sekali?

Sesungguhnya Allah Maha pemurah lagi Maha Bijaksana, hal di atas ternyata tak hanya berlaku bagi orang tua yang kehilangan 3 atau 2 anaknya, maka orang tua yang hanya kehilangan satu anak pun dapat merasakan nikmatnya surga lalu bagaimana dengan orang yang tidak kematian anak sama sekali dari umat Rasullullah ? ingat ! Rasulullah adalah pemberi syafaat (pertolongan ). Dan syafaat Rasulullah ini akan di bagikan bagi umatnya yang Rasulullah kehendaki, jadi tenanglah orang tua yang tidak di tinggal mati oleh anaknya, karena syafaat Allah akan menjadi penolong kita di akhirat kelak.

Meski kematian anak membuka jalan bagi orang tua di taman surga, namun tidak diperkenankan orang tua kemudian mengharapkan agar anaknya meninggal dunia. Surga ini hanya pengganti anaknya yang di minta oleh Allah. Sesunguhnya anak merupakan ladang berkah, ketika masih hidup ataupun telah mati, anak senantiasa memberikan manfaat bagi orang tua…Wallaahu a’lam bishawab.

Demikian semoga artikel ini bisa bermanfaat.

SPARKS :

Kids are the most beautiful grace. Disappearance made untold grief. But our children are not ours, children are on loan from Allah the Creator. Allah can take it anytime he wants. Children can be a test for us and if we are patient accepts the provisions of Allah then Allah likes the servants of his patient

Menyegerakan Berbuat Kebaikan Dan Bahaya Menundanya

imageedit_99_9358591601.jpg
pixabay.com

Kata menyegerakan ini mengandung suatu makna bukan hanya penting tetapi harus segera dilaksanakan pada waktu itu juga. Jadi berkaitan dengan hal itu, maka apapun bentuk kebaikan yang ingin dan bisa kita lakakukan, segeralah dilaksanakan jangan ditunda-tunda lagi, karena apabila kita menundanya maka berarti kita telah kehilangan satu momentum yang seharusnya bisa kita manfaatkan untuk berbuat kebaikan dan pasti ada balasan kebaikan/pahala pula dari perbuatan itu. Di sisi lain, hal ini juga mengandung makna sebuah bahaya atau kerugian, karena sang waktu akan terus berjalan dan jatah usia kita akan terus berkurang untuk melakukan kebaikan-kebaikan sebagai bekal perjalanan panjang setelah kita meninggalkan dunia ini. Berikut ini saya sajikan sebuah artikel yang saya reblog dari blog saya yang lain, sebagai inspirasi bagi para pembaca dan terutama bagi saya sendiri, mudah-mudahan bermanfaat.

Straight Path

Tulisan ini saya ambil dari buku Ihya ‘Ulumuddin karangan imam Al Gazali. Saya angkat topik ini karena sangat bermanfaat sebagai pengingat kita agar tidak terlalaikan oleh kesibukan dunia, sehingga melupakan bekal perjalanan panjang menuju alam baqa nanti. Semoga kita bisa senantiasa mengingatkan diri kita akan pentingnya menyegerakan diri untuk berbuat kebaikan.

Rasulullah saw bersabda, “Rebutlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara, yaitu : Selagi engkau muda sebelum datang masa tuamu, selagi engkau sehat sebelum datang masa sakitmu, selagi engkau kaya sebelum datang masa miskinmu, selagi engkau lapang sebelum datang masa sempitmu, selagi engkau masih hidup sebelum datang masa kematianmu.” (HR.Baihaqi, ibnu Abuddun-ya dan ibnu Mubarak)

Semua kita menyadari bahwa memang kesibukan kita sehari-hari untuk urusan dunia kita begitu banyak menyita waktu atau umur kita. Bahkan kesibukan yang kita lakukan seringkali merupakan hal yang sia-sia dan juga kemaksiatan.

Lihat pos aslinya 405 kata lagi

Demi Masa

alarm-clock-1193291__340
Pixabay.com

  

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”.(QS.Al’Ashar :1-3).

Demikianlah arti dari sebuah firmah Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Ashr ayat 1-3, yang menjelaskan bahwa Allah Yang Maha Benar (AL-Haqqu) itu sudah bersumpah demi waktu (masa) atas kebenaran firman-Nya akan begitu pentingnya sang waktu. Tentang dan untuk siapakah ini ? Sudah pasti semuanya tentang manusia dan untuk manusia. Tersirat namun amatlah nyata dalam firman ini, bahwa betapa Allah sangat mencintai kita manusia, agar memperhatikan dengan sungguh-sungguh akan waktu. Agar manusia tidak menyia-nyiakan umur yang amat terbatas ini untuk diisi dengan kebaikan sekecil apapun. Agar kita tidak mengalami penyesalan yang abadi di akhirat kelak.

Apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita perbuat di dunia ini, hendaknya selalu dalam koridor iman dan taqwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala. Karena semuanya senantiasa dalam pantauan dan pengawasan-Nya.

Sudah sejak lama saya ingin menulis tentang topik di atas. Namun, terkendala oleh keraguan dalam hati saya sendiri karena mempertimbangkan keluasan wawasan dan pemahaman agama saya yang masih sangat minim. Akan tetapi sayapun teringat akan penjelasan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah sendiri memerintahkan kepada kita umatnya, untuk “menyampaikan atau mengabarkan berita atau pesan yang datang dari beliau walau hanya satu ayat”. Dari situlah saya mencoba untuk menulis ini untuk yang pertama kali menyangkut soal-soal keagamaan. Mudah-mudahan saya diberikan kesehatan dan umur yang panjang serta pemahaman yang baik oleh Allah tentang Islam, aamiin.

Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, “ Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru, “wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh karena itu, manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak akan kembali lagi hingga hari pengadilan ( HR. Turmudzi).”

Iman dan amal shaleh, kebenaran dan kesabaran adalah karunia Allah yang amat berharga untuk kita masnusia. Mereka yang memilikinya akan tampil di dunia ini dalam sosok yang cemerlang dan berkilau. Uraian dalam tulisan ini sangat sederhana dan mungkin belum sampai pada kedalaman yang sesungguhnya dari sosok orang-orang yang memiliki ke empat karunia Allah di atas. Namun, saya berharap dari yang sedikit ini bisa mendorong kita untuk terus meningkatkan iman dan amal shaleh kita juga untuk terus saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, agar tidak hanya sekadar menjadi catatan belaka. Buatlah satu langkah dahulu, mudah-mudahan jejak langkah pertama kita akan diikuti oleh jejak-jejak langkah berikutnya hingga sampai pada alkhir masa di dunia dan kita memperoleh keberuntungan karena telah menjadi orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, dan saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

Lama sebelum menulis artikel ini saya banyak belajar dan mengamati tentang peristiwa dan kisah orang-orang yang memiliki dan mengamalkan karunia iman, amal shaleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Di antaranya ialah saya melihat banyak sekali di sekitar kita mutiara-mutiara yang berkilau, yaitu orang-orang yang bisa menjadi guru dalam bersabar. Saya melihat sosok Ferrasta’Pepeng’Soebardi, seorang komedian dan presenter yang sangat aktif, siapa yang mengira dan bahkan dirinya pun tidak menyangka kalau beliau akan menderita penyakit langka bernama multiple sceleriosis yang menyebabkan dirinya tidak lagi bisa aktif seperti dulu. Namun, bagaimana beliau menghadapi penyakitnya itulah satu hal yang sungguh luar biasa.

Sungguh luar biasa, karena meski penyakit tersebut telah melumpuhkan raganya, namun kreativitasnya tetap hidup. Jiwanya semakin bersinar cemerlang dengan kesabarannya.

Pelajaran yang lain pun bisa kita ambil dari kesabaran isteri beliau, Mbak Tami beserta anak-anaknya yang sungguh luar biasa. Tidak semua orang bisa menghadapi hal seperti itu sebagaimana Mas Pepeng dan Mbak Tami menghadapinya.

Di sisi lain, ialah bagaimana kita saling menasihati untuk terus menetapi kebenaran. Berfikir, bersikap, dan bertindak dengan senantiasa bersandar pada nilai-nilai keberanan. Tentu, kebenaran yang dimaksud adalah sesuai dengan ajaran Islam bukan kebenaran ilmiah yang bersifat relatif. Hal ini hendaknya dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari meski tentu banyak sekali godaan dan tantangannya dalam menegakkan kebenaran. Tetapi jika dalam diri kita sudah terbangun fondasi iman yang kuat, maka godaan dan tantangan tersebut dapat kita abaikan dan kebenaran akan tetap dapat kita tegakkan.

Menegakkan kebenaran tidak hanya mendatangkan keuntungan dan manfaat bagi kehidupan kita di akhirat kelak, akan tetapi dapat kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan dunia. Nabi menyuruh kita untuk berkata benar walau akibatnya pahit. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menetapi atau menegakkan kebenaran itu dalam kehidupan bersama manusia. Dan, barang siapa yang berkata dan bertindak benar dalam hubungannya dengan sesama, maka akan lahir suatu masyarakat yang aman, tenteram dan damai.

Kemudian, sayapun menyoroti diri saya, apakah saya sudah berlaku sabar? Apa yang saya ucapkan ketika lsitrik mati saat saya mengetik naskah artikel ini di laptop? Apakah saya marah, kesal, atau mengucap inna lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’uun?. Saya banyak mengoreksi diri bahwa saya masih harus banyak berlatih menjadi penyabar karena bila dibandingkan dengan mereka semua saya bukanlah apa-apa. Namun, saya semakin yakin bahwa ujian dan cobaan yang Allah Swt berikan kepada setiap hamba-Nya pastilah sesuai dengan kapasitas dan kesanggupan masing-masing. Siapa saja yang mendapatkan suatu ujian tertentu, itu berarti dia memang mampu dan bisa melewati ujian tersebut jika bersabar.

Jika kebetulan saat ini kita mendapatkan ujian kesenangan misalnya, hidup berkecukupan, anak-anak yang sehat, suami yang ganteng dan istri yang cantik, karir bagus, maka kita perlu bersyukur tetapi juga perlu waspada. Dengan waspada bukan berarti kita terus berjaga-jaga sehingga kita malah menjadi tidak tenang dalam menjalani hidup karena khawatir semua kenikmatan yang sedang kita rasakan akan hilang. Namun yang perlu kita tanamkan dalam hati, adalah apapun yang akan menimpa kita, baik senang ataupun susah, berkecukupan atau berkekurangan, suka ataupun duka, semuanya harus kita hadapi dengan sabar bila kita ingin menjadi orang yang beruntung. Terima saja semua keteapan Allah untuk diri kita, selalu berprasangka baik atau berpikir positif saja. Sedih dan tangis jangan berlebihan, tawa dan gembira juga jangan berlebihan.

Ar-Razi menulis pula dalam tafsirnya: “Dalam Surat ini terkandung peringatan yang keras. Karena sekalian manusia dianggap rugilah adanya, kecuali barangsiapa yang berpegang dengan keempatnya ini. Yaitu: Iman, Amal Shalih, Pesan-memesan kepada Kebenaran dan Pesan-memesan kepada Kesabaran. Itu menunjukkan bahwa keselamatan hidup bergantung kepada keempatnya, jangan ada yang tinggal. Dan dapat juga diambil kesimpulan dari Surat ini bahwa mencari selamat bukanlah untuk diri sendiri saja, melainkan disuruh juga menyampaikan, atau sampai-menyampaikan dengan orang lain. Menyeru kepada Agama, Nasihat atas Kebenaran, Amar ma’ruf nahyi munkar, dan supaya mencintai atas saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya. Dua kali diulang tentang pesan-memesan, wasiat mewasiati, karena pada yang pertama menyerunya kepada jalan Allah dan pada yang kedua supaya berteguh hati menjalankannya. Atau pada yang pertama menyuruh dengan ma’ruf dan pada yang kedua mencegah dari yang munkar. Di dalam Surat Luqman, 21:17 dengan terang-terang ditulis wasiat Luqman kepada anaknya agar dia suka menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat munkar dan bersabar atas apa pun jua yang menimpa diri.

Menurut keterangan Ibnu Katsir pula di dalam tafsirnya: “Suatu keterangan daripada Ath-Thabrani yang ia terima dari jalan Hamaad bin Salmah, dari Tsabit bin ‘Ubaidillah bin Hashn: “Kalau dua orang sahabat Rasulullah SAW bertemu, belumlah mereka berpisah melainkan salah seorang di antara mereka membaca Surat Al-‘Ashr ini terlebih dahulu, barulah mereka mengucapkan salam tanda berpisah.”

Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan Hadis pertemuan dan perpisahan dua sahabat ini berkata: “Ada orang yang menyangka bahwa ini hanya semata-mata tabarruk (mengambil berkat) saja. Sangka itu salah. Maksud membaca ketika akan berpisah ialah memperingatkan isi ayat-ayat, khusus berkenaan dengan pesan-memesan Kebenaran dan pesan-memesan atas Kesabaran itu, sehingga menimbulkan kesan yang baik.”

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Kalau manusia seanteronya sudi merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya.”

Syaikh Muhammad Abduh menafsirkan Surat ini dengan tersendiri, dan Sayid Rasyid Ridha pernah mencetak tafsir gurunya ini dengan sebuah buku tersendiri pula, dan menjadi salah satu pelajaran kami di Sumatera Thawalib, Padang Panjang pada tahun 1922.

Selanjutnya tetaplah berpegang pada tali agama Allah, bersandar pada kekuatan-Nya dan serahkan segala urusan pada-Nya, maka Allah akan membukakan jalan-Nya un tuk kita.

Lain bila kita marah, kesal dan berpikir negatif kepada Allah, maka semuanya akan terlihat jelek. Kita tidak bisa melihat jalan keluar walau sebenarnya sudah ada di depan mata kita. Ini baru kerugian kecil yang akan dialami bila kita tidak pandai bersabar. Belum lagi kerugian dan penyesalan yang akan menimpa kita di akhirat. Mereka yang mendapat ujian, kemudian bersabar adalah orang-orang pilihan karena tidak semua kita bisa bersikap seperti itu. Mereka, adalah guru bagi sesama untuk terus belajar berbuat kebaikan, berlaku sabar dan kita harus senantiasa menguatkan iman agar bisa seperti mereka, karena iman adalah energi hidup itu sendiri.

Sebagai sesama muslim, kita berkewajiban untuk saling menasihati agar senantiasa berada di jalan lurus yang diridhoi Allah Swt. Menasihati dengan tulus dan sabar agar kelak kita bisa bersama-sama meraih kemenangan dan keberuntungan yang dijanjikan Allah, yaitu kenimatan surga

Demikianlah beberapa hal yang bisa saya sampaikan melalui tulisan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallah a’lam.

SPARKS:

Who is sincere in its efforts to find the truth, always be patient and do not despair then Allah will show him the way. Goodness will be gained not only in the world, but also in the hereafter.

Living a family life like across the ocean. The water was not always calm, there will be a small wave, even that hit ark. Therefore, patience is needed because the test can come from any direction, including from our spouse. When we put Allah above all else then Allah will always keep us and Allah will not waste the good deeds of His servants

Bolehkah Menonton Permainan Sulap ?

magician-33922__340
Pixabay.com

Ternyata menonton permainan sulap itu hukumnya haram ya, saya dan mungkin juga para pembaca artikel ini pasti pernah menonton sulap kan ? Semoga Allah mengampuni saya dan kita semua yang pernah menonton karena belum tahu hukumnya, aamiin. Artikel berikut ini akan mengupas lebih jauh tentang permasalahan ini dari perspektif Islam.

Seringkali kami mendengar tentang apa yang dilakukan oleh para penyulap berupa atraksi-atraksi mereka yang disaksikan oleh anak-anak muslimin, baik melalui layar televisi atau secara langsung di sebagian daerah dengan atraksi yang cepat dan tersembunyi sehingga mengundang perhatian mata.

Seperti mematikan dan menghidupkan burung, mengeluarkan telur dari dua tangan, dan hal-hal semacam ini. Lantas apa hukum dari menyaksikan hal itu dan apakah hal tersebut termasuk sihir?

Jawab:

Ya, itu termasuk salah satu macam sihir, yang disebut sihir takhyil (pengkhayalan/ilusi) semacam sihir yang dilakukan para tukang sihir Fir’aun, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan dalam surat Thaha ayat 66:

يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى

Terbayang kepada Musa seakan-akan ia (tali-tali dan tongkat-tongkat mereka) merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (Thaha: 66)

Juga firman-Nya:

قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Musa menjawab: ‘Lemparkanlah (lebih dahulu)!’ Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (Al-A’raf: 116)

Hal-hal yang dilakukan para tukang sulap dalam sihir jenis ini adalah tidak sebenarnya. Bahkan hanya penipuan khayalan yang dilakukan penyulap untuk mengundang perhatian mata orang kepada apa yang dilakukannya dengan kecepatan tangannya.

Adapun itu disebut sebagai sihir, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya demikian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang para tukang sihir Fir’aun:

وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

…Serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (Al-A’raf: 116)

Akan tetapi, tanpa diragukan, tidak boleh menyaksikannya dan haram bagi seseorang melihatnya. Semestinya seseorang memperingatkan anak-anaknya agar tidak melihat yang semacam itu. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka mengalihkan pada pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.

Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (An-Nisa’: 140)

Melihat sesuatu yang mungkar, padahal kita tidak mampu mengingkari. Kita juga dilarang duduk-duduk bersama orang yang melakukannya, karena dengan duduk di situ mengisyaratkan bahwa ia rela dengan perbuatan tersebut. Sementara sihir merupakan kemungkaran yang besar. Semestinya kita menjauhi tempat-tempatnya dan orang yang melakukannya. Demikian pula dalam permainan ini terkandung kesyirikan dan kekafiran, karena pesulap yang melakukan hal ini beranggapan bahwa ia memiliki sifat Rububiyyah (ketuhanan) yaitu kemampuan untuk menghidupkan sesuatu yang mati.

Orang yang menganggap dirinya mampu melakukan demikian maka dia telah kafir, karena ini adalah kekhususan Rabb yang Maha Suci dan Tinggi.

Yang penting di sini, kami katakan bahwa tidak boleh menyaksikan permainan yang dilakukan para pesulap dan mengandung sihir takhyil yang juga memuat hal-hal yang kufur (kekafiran), syirik, atau haram, baik melalui media penyiaran atau yang lain. (Diambil dari kitab Kaifa Tatakhallas minas Sihr)

Sumber Asysyariah.com Penulis : Redaksi Judul: Bolehkah Menonton Sulap?

Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya

kartun-dua-akhwat-putih-kuning
Yahoo image

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.(QS. Al Waqiah : 22-23)

Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

  1. Bertakwa.
  2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
  3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
  4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
  5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
  6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
  7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
  8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
  9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
  10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
  11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
  12. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
  13. Berbakti kepada kedua orang tua.
  14. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu A’lam Bish shawab

Bertaubatlah Sebelum Ajal Menjemput

imageedit_1_3292212132
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Jika telah datang kematian dan kita belum sempat bertaubat, maka jangan kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengadzabnya di alam kubur, maka Allah mengadzabnya dengan keadilan. Jika Allah menghimpitkan bumi ke tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, maka Allah menyiksanya dengan keadilan-Nya. Dan jika mereka merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Dan ketika mereka diadzab di neraka, itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Allah tetap Maha Adil dan tidak berbuat dhalim kepada makhluk-Nya.

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

قَالَ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا بْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا بْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغْتَ ذُنُوْبَكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا بْنَ آدَمَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. (رواهالترمذيوحس

“Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” (HR. Tirmidzi dan di Hasankan oleh beliau).

Pintu Taubat Belum Ditutup

Setelah kita mengetahui, bahwa kematian adalah suatu kepastian, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan dan semua telah tertulis dalam catatan takdir, maka seorang yang beriman tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian itu.

Untuk itu perbanyaklah bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala, wahai saudaraku kaum muslimin dan beramallah! Minta ampunlah kepada Allah dari dosa- dosa yang telah lalu dengan bertekad untuk menempuh hidup baru di jalan Allah Ta’ala. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang pasti akan mengampuni dan menyayangi hamba-nya yang mau bertaubat.

Allah berfirman: Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan. (HR. Tirmidzi –dan beliau menghasankannya).

Bertaubatlah! Dan janganlah putus asa dari rahmat Allah. Rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosamu, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengatakan dengan kasih sayang-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. ]الزمر: 53[

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (az-Zumar: 53)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالَ لاَ تَخْتَصِمُوْا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيْدِ. مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَآ أَنَا بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. ]ق: 28-29[

Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat dhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (Qaf: 28-29)

Allah Subhanahu wata’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya. Allah telah memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.

Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang bermudharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: كُلُّ أُمَتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. فَقَالُوْا: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى. (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan”. (HR. Bukhari)

Dengan demikian orang-orang yang enggan untuk masuk surga adalah mereka yang memilih kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغَ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ. (أخرجه ابن أبي عاصم في السنة)

“Telah kutinggalkan bagi kalian petunjuk yang nyata. Malamnya seperti siangnya sama (terangnya), tidaklah menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”-nya)

Hanya orang yang sombonglah yang engan untuk masuk surga. Hanya manusia yang kejilah yang mengingkari kenikmatan Allah dan tidak mensyukurinya.

Saat Pintu Taubat Akan Ditutup

Ingatlah wahai saudaraku, kematian terus mendekat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; hal itu berarti pintu taubat semakin dekat untuk ditutup.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه الترمذي وقال حديث حسن)

Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab (semoga Allah meridhai keduanya) dari Nabi beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya. (HR. Tirmidzi dan beliau katakan haditsnya hasan).

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ. (رواه مسلم)

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang terlalu yakin umurnya akan panjang, maka dia akan kecewa. Barangsiapa yang merasa akan terus hidup dan tidak akan mati pasti dia akan merugi. Dan barangsiapa yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka dialah Yahudi yang cinta dunia dan takut mati.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

…يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللهُ بَصِيْرٌ بِمَا يَعْمَلُوْنَ. ]البقرة: 96[

“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. “(Al-Baqarah: 96).

Dengan iman dan amal shalih-lah seharusnya kita menyongsong kematian ini dengan tenang, hingga kita akan dipanggil oleh Allah dengan ucapan:

يَآ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ]27[ ارْجِعِيْ إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَّةً مَرْضِيَّةً. ]الفجر: 27-28[

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. “(al-Fajr: 27-28).

Lebih rinci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam riwayat dari al- Bara’ bin ‘Azib: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila dia menghadap kematian dan meninggalkan dunia, turunlah para malaikat kepadanya, seakan-akan wajah-wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan kapur barus dari surga, dan duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai ruh yang baik, keluarlah engkau kepada ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan kisahnya: “Maka keluarlah ruh tersebut, mengalir bagaikan aliran air dari bibir ceret (tempat air minum). Kemudian malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Dan ketika mengambilnya dia tidak membiarkannya di tangannya, bahkan mereka langsung mengambil dan memasukannya ke dalam kafan dan kapur barus yang mereka bawa. Keluarlah dari jiwa tersebut wewangian yang lebih harum dari misik yang terbaik di muka bumi ini”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan: “Kemudian mereka membawa naik ruh tersebut ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat, kecuali mereka berkata: “Ruh siapakah yang harum ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan”. Mereka menyebutkan dengan sebaik-baik nama yang dia dipanggil dengan nama tersebut di dunia sampai berakhir di pintu langit.

Dan mereka minta untuk dibukakan untuknya, maka dibuka-kanlah pintu langit untuknya. Seluruh penduduk langit dari kalangan malaikat yang didekatkan mengantarkan ruh tersebut ke langit yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai berakhir pada langit yang di atasnya Allah beristiwa’. Allah pun berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyin….”

Adapun tentang orang kafir Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ketika orang kafir akan mati, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah yang hitam. Mereka membawa kain kafan, dan duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut dari sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Maka berpencarlah ruh itu di seluruh jasadnya (menolak untuk keluar –pent.)

Kemudian dicabutlah ruhnya seperti dicabutnya duri dari bulu- bulu wol yang basah. Setelah (ruh itu) diambil, tidak dibiarkan di tangannya sekejap mata pun, hingga diletakkannya di kafan tadi yang mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Kemudian mereka naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata: “Siapakah ruh yang jelek ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan” dengan disebutkan sejelek-jelek nama yang dia dipanggil di dunia sampai berakhir ke akhir langit dunia dan meminta untuk dibukakan langit, tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat Alllah Subhanahu wata’ala:

…لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ… ]الأعراف: 40[

sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum(al-A’raaf: 40)

Kemudian Allah berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling rendah”. Kemudian dilemparkan ruhnya dengan satu lemparan, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ… ]الحج: 31[

Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh(al-Hajj: 31)

Maka kembalilah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya: “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi: “Siapakah orang yang diutus kepadamu?” Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Maka dikatakan oleh penyeru dari langit: “Dia berdusta. Hamparkanlah hamparan dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka”. Maka sampailah kepadanya hawa panas api neraka…. (HSR. Imam Ahmad , Abu Dawud, Hakim, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah)

Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 56/Th. II, tgl 28 Shafar 1426 H, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli: Menyongsong Kematian.

Sumber : http://qurandansunnah.wordpress.com/

SPARKS:

Once we know that the death is a certainty, can not be moved forward and become irreversible and all have been written in the notes destiny, then the believer would be preparing for the arrival of death. So ask forgiveness of Allah glory to Him, O my brother Muslims and do more goodness! Ask Allah! Forgive the sins of the past by committing to a new life in the path of Allah Ta’ala. Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful will accept the repentance of His servants for whatever sins.