Cara Bersyukur Pada Allah

doa-setelah-sholat
Yahoo image

 

بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ

Pengantar

Ketika memikirkan dan merenungkan secara mendalam tentang kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya terutama manusia, maka dapatlah kita memahami dan menyadari betapa besar dan luasnya kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah itu untuk manusia. Pada diri kita Allah telah menyempurnakan nikmat penciptaannya baik secara fisik maupun psikis sehingga menjadilah kita makhluk dengan sosok dan bentuk yang sebaik-baiknya. Dan, karena nikmat Allah berupa iman dan Islam, maka manusia bisa menjadi makhluk atau hamba yang melambung tinggi derajatnya di sisi Allah, tetapi juga bisa jatuh terjerembab dalam lumpur dosa bila kufur nikmat, sehingga ia berada pada derajat yang paling rendah di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Tin ayat 4-5 berikut ini :

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4

5) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

Dalam tulisan ini, istilah cinta, kasih sayang dan kebaikan Allah itu, saya sebut sebagai nikmat atau lebih jelasnya nikmat Allah. Jadi oleh karena itu, alangkah sombong dan tidak tahu dirinya manusia jika ia tidak mau bersyukur atas semua pemberian Allah itu padanya. Kalau bukan karena kebaikan Allah berupa taufik dan hidayahNya maka pastilah kesesatan dan kegelapan jualah yang akan kita alami dalam kehidupan di dunia ini. Sesat karena tak tahu kemana arah yang seharusnya dituju, dan gelap karena tak ada cahaya iman yang akan menerangi jalan yang dilalui. Oleh karenanya, adalah sudah sepantasnyalah kalau kita pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah tanpa diperintah oleh si pemberi nikmat, apalagi ada perintah  yang sifatnya wajib. Kenapa? karena setiap saat tanpa di sadari, kita selalu mendapat curahan rahmat dan nikmat Allah, seperti setiap halaan atau keluar masuknya nafas kita, itu pertanda bahwa kita mendapat curahan nikmat Allah berupa oksigen yang sangat kita butuhkan untuk keberlangsungan hidup kita, belum lagi nikmat-nikmat Allah yang lainnya yang tak terbilang.

Pengertian

Yang dimaksud pada judul di atas adalah cara mensyukuri nikmat. Sudah pasti yang dimaksud adalah nikmat Allah yang kita nikmati sepanjang hidup kita. Apa yang dimaksud dengan syukur nikmat, dan apa pula yang dimaksud dengan kufur nikmat? Secara sederhana syukur nikmat adalah merawat dan menggunakan segala nikmat yang ada pada kita sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhananhu wata’ala. Sebaliknya kufur nikmat adalah kebalikannya, yaitu mengingkari atau tidak mau merawat dan menggunakan segala nikmat Allah yang ada padanya  sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Syukur nikmat atau mensyukuri nikmat Allah tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kalimat syukur alhamdulillah, akan tetapi adalah dengan menggunakan segala nikmat Allah itu sesuai dengan fungsi dan peruntukkannya yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Hal ini dapat kita ambil sebagai salah satu contoh misalnya, nikmat mata. Allah telah memberi kita sepasang mata yang fungsinya untuk melihat. Pertanyaannya, sudahkah kita menggunakan mata kita untuk melihat hal-hal yang sesuai dengan ketentuan dan diridhai oleh Allah? Kalau ya/sudah, maka berarti kita telah mensyukuri nikmat Allah berupa mata tadi, dan itulah syukur nikmat. Tetapi kalau belum/tidak, maka itu artinya kita belum atau tidak mensyukuri nikmat Allah berupa mata, dan itulah kufur nikmat. Saya berikan penegasan di sini, bahwa mensyukuri nikmat itu adalah menggunakannya sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Jadi penggunaan di luar batasan tersebut tidak bisa disebut sebagai syukur nikmat akan tetapi kufur nikmat.

Cara Mensyukuri Nikmat

Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif, iHaqi, Ustaz Erick Yusuf mengatakan bahwa ucapan hamdallah hanya satu cara. Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah SWT.

Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta’ati aturan Allah dalam segala aspek kehidupan

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini dapat mengingatkan kita untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong tak tahu diri, dan mereka adalah orang-orang yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Penjelasan Al Qur’an

Mensyukuri nikmat adalah perintah Allah yang wajib diimplementasikan oleh setiap orang yang beriman, sebagaimana firman Allah berikut ini : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. 2:172)

Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) pada sesama manusia yaitu kepada kedua orang ibu bapak kita, sebagaimana Allah menjelaskan dalam firmanNya berikut ini :“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12)

Penutup

Sebagai penutup, saya ingin mengajak saudaraku muslim semuanya yang kebetulan mampir dan membaca tulisan singkat ini, marilah kita saling ingat-meningatkan tentang apapun perihal Islam ini. Karena masih banyak sekali tentunya, hal-hal yang masih perlu kita sama-sama ketahui dan dalami tentang agama ini. Di sini saya mengajak pada kita semua, pikirkanlah dan renungkanlah dengan hati yang bersih dan jernih tentang betapa besar dan luasnya kasih sayang dan kebaikan Allah subhanahu wata’ala kepada kita semua, yang mana itu semua adalah nikmat Allah yang telah kita nikmati selama ini dalam hidup kita. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Mengapa dan apa pentingnya kita saling ingat-mengingatkan? Pentingnya, adalah karena tidak jarang di antara kita masih ada bahkan masih banyak yang tidak juga mau bersyukur, meskipun sebenarnya dia sudah tahu dan paham tentang hal itu, tetapi karena godaan dan bisikan syetan yang senantiasa mengajak kita kepada kufur nikmat, maka sering kali kita kalah dalam mempertahankan kebenaran yang kita yakini. Subhanallah, kalau sudah demikian dan tidak juga mau bersyukur, maka Allah Azza wajalla bertanya kepada kita, فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan? Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  Pertanyaan ini berulang sampai 31 kali dalam Al Qur’an surat Ar-Rahman dari awal hingga akhir surat. Betapa ini menunjukkan bahwa Allah Azza Wajalla sungguh ingin mengingatkan kita agar jangan sampai kita kufur nikmat.

Demikianlah sekelumit goresan pena ku malam ini, semoga ada manfaatnya bagi pembaca dan mohon maaf dan koreksinya bila ada kekurangan dan kekeliruan  di dalamnya. Allahu a’lam 

AL-HADITS :

“Apabila seseorang melihat orang cacat lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi) Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhlukNya”, maka dia tidak akan terkena ujian seperti itu betapapun keadaannya.” (HR. Abu Dawud)

 

Baca juga 

Barisan Hizbullah Peran Jihad Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Begini analisa menarik penulis Tionghoa soal kasus Ahok

Desa di Sulawesi mendadak jadi kampung cina

Enytime Reflection

water-880462__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pernahkah saat kau duduk santai menikmati harimu lalu terpikir untuk berbuat kebaikan untuk seseorang? Jawabannya, hampir semua orang yang berkarakter baik pasti pernah punya pikiran seperti itu dalam hidupnya. Dan, percayalah bahwa itu adalah #ALLAH ﷻ yang sedang berbicara denganmu dan mengetuk pintu hatimu. Dan, percayalah bahwa apabila itu adalah niat baik yang belum tuntas kau tunaikan, maka kamu sudah mendapatkan pahala untuk niat baikmu itu. Dan pahala dari pikiran dan niat baik akan menjadi berlipat ganda ketika kamu merealisasikannya dalam sekecil apapun kebaikan untuk sesama. Sebaliknya jika kamu berniat untuk melakukan kejahatan namun tidak jadi kamu laksanakan maka tidak berdosa, tetapi jika kamu merealisasikan keinginan jahat itu, maka ia berdosa. Seperti dijelaskan dalam hadits berikut ini :

Dan dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda :

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً ، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، لَـمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا ، كُتِبَتْ سَيِّـئَةً وَاحِدَةً.

Barangsiapa menginginkan kebaikan kemudian tidak mengerjakannya, maka satu kebaikan ditulis untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, maka sepuluh kebaikan ditulis baginya. Dan barangsiapa menginginkan kesalahan kemudian tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis apa-apa baginya. Jika ia mengerjakan kesalahan tersebut, maka ditulis satu kesalahan baginya.

Pernahkah kau merasa hidupmu penuh masalah, kacau, kau jenuh, dan semua tidak menyenangkan dan kosong? Itu adalah #ALLAH ﷻ Yang Maha Penyayang yang sedang mengujimu. Dan #ALLAH ﷻ ingin mendengar rintihanmu dalam doa kepadaNya. Agar kamu menyadari keberadaanNya. Karena Dia tahu kau sudah mulai melupakanNya dalam kesenangan dunia.

Kehidupan ini tidak pernah sepi dari kesulitan. Selalu ada bencana baru yang menjadikan kita tertekan, yang mengakibatkan naiknya tekanan darah memikirkan semuanya. Mungkin bencana itu berupa naiknya harga-harga kebutuhan primer kita, atau banjir dan kemarau panjang yang mengakibatkan seluruh tanaman kita gagal panen, atau kebakaran yang menghanguskan seluruh harta dan tempat tinggal kita. Semua itu, jika selalu menjadi fokus perhatian dalam kehidupan kita maka selamanya kita akan tersiksa.

Dunia tidak akan pernah berhenti menghadirkan cobaannya. Maka janganlah kita terlalu menanggung beban dunia di atas pundak kita. Biarkan saja dunia ini menanggung beban segala sesuatu yang telah dan atau yang akan terjadi. Jika kita selalu berpegang teguh kepada prinsip dan senantiasa berada di jalan yang benar, kita tidak akan tergoyahkan oleh kesulitan. Justru sebaliknya, kesulitan akan membantu kita memperkuat ketetapan hati dan keyakinan kita. Namun jika kita berhati lemah, dan selalu pesimis karena dunia yang kita kejar kelihatannya semakin jauh, maka menghadapi kesulitan adalah masalah yang akan menambah rasa takut kita sendiri.

Di saat malapetaka tiba, tidak ada yang lebih bermanfaat bagi diri kita selain memiliki hati yang berani dan jiwa yang penuh dengan kepuasan (qana’ah). Orang yang memilki hati yang berani dan jiwa yang qana’ah, berarti ia memilki dirinya sendiri. Ia memiliki keyakinan yang kuat dan dan sel-sel saraf yang tenang. Sementara, orang yang hatinya pengecut dan jiwa yang tidak pernah puas akan anugerah Allah, ia akan berkali-kali membunuh dirinya sendiri dengan kekhawatiran dan firasat malapetaka yang akan tiba.

Karenanya, jika kita meninginkan hidup yang stabil di dunia dan mengharapkan keberuntungan dari kesulitan, kita harus berani menghadapi segala situasi dengan penuh keberanian dan ketabahan. Tidak menjadikan fokus utama kehidupan kita untuk mengejar dunia sebanyak-banyaknya.

Kita harus bersikap tegas terhadap kondisi lingkungan dan dengan berani menghadapi segala angin malapetaka. Orang yang terlalu rakus dengan dunia ia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah atas setiap bencana yang menimpanya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba pada kehidupan (dunia).” (QS.Al Baqarah :96)

Sebaliknya, bagi mereka yang tegar, merasa cukup dengan karunia Allah kepadanya, mereka akan mendapatkan pertolongan dari Allah dan dilimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya. “Lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan atas mereka.” (QS.Al Fath; 18)

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan #ALLAH ﷻ, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya #ALLAH ﷻ menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Al- Qur’an 2:195
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan #ALLAH ﷻ, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Al- Qur’an 4:114

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan #ALLAH ﷻ kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana #ALLAH ﷻ telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Al- Qur’an 28:77

Pernahkah saat kau sedang sedih namun kau tak memiliki seorang pun untuk kau ajak bicara dan berbagi keluh kesah? Itu adalah #ALLAH ﷻ sedang rindu padamu dan ingin kau berbicara padaNya lewat doa.

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada #ALLAH ﷻ aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari #ALLAH ﷻ apa yang kamu tiada mengetahuinya”.

Al-Qur’an 12:86

Pernahkah kau merindukan seseorang, lalu tiba-tiba kamu mendapat telpon/pesan darinya, atau kau bertemu dengannya? Itu adalah #ALLAH ﷻ sedang menghiburmu. Karna tak ada yg namanya kebetulan.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Al- Qur’an 3:190
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Al- Qur’an 3:191
رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. –

Al- Qur’an 3:192

Pernahkah kau mendapatkan sesuatu yang selama ini kau inginkan tapi sangat sulit untuk kamu dapatkan? Itu adalah #ALLAH ﷻ Yang Maha Mengetahui dan mengabulkan doa yang telah kau tabur sebelumnya.

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena #ALLAH ﷻ. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada #ALLAH ﷻ dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada #ALLAH ﷻ niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Al- Qur’an 65:2
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada #ALLAH ﷻ niscaya #ALLAH ﷻ akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

Al- Qur’an 65:3
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Al- Qur’an 32:21

Hidayah selalu datang bagi hambaNya yang mau berfikir. #ALLAH ﷻ itu sangat dekat. Selalu dekat. Tulisan ini, kita baca sekarang juga bukan kebetulan. Pilihan ada ditangan kita, ingin menjadi golongan yang lalai atau bukan. Bahkan ketika engkau lalai, kau telah diberi nikmat yang begitu berlimpah.

Hasbunallah wanikmal wakil-Wasslamu’alaikum warahmatullah wabaraktuh.

A Very Touching Story Of Two Orphans

child-60766__340
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pada postingan kali ini saya hadirkan satu kisah inspiratif tentang dua orang anak kecil yang baru sebulan ditinggal mati oleh ayahnya. Tidak diketahui dalam kisah ini tentang ibunya, apakah masih hidup tapi berada di tempat yang jauh, atau apakah ibunya pun sudah meninggal. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk reot peninggalan orang tuanya di sebuah perkampungan kumuh. Tak ada lagi orang lain di rumah itu selain mereka berdua. Apa yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidup mereka? Siapa atau adakah orang-orang yang melihat dan mengetahui keadaan mereka? Adakah orang-orang yang memberikan mereka makan dan minum? Jawaban nya ada pada kisah berikut ini, semoga bermanfaat.

Dunia memang aneh dan penuh dengan selimut misteri. Misteri dunia yang sungguh memang sudah menjadi rahasia Allah ini, hendaknya membuat manusia senantiasa waspada, mengontrol segala aktivitas, baik aktivitas yang positif maupun yang negatif. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari. Kadang kala, tanpa diduga dan tanpa dinyana, kita dipertemukan dengan suatu peristiwa yang membuat hati kita tersentuh, terenyuh dan tergugah lalu kemudian melakukan satu kebaikan yang lebih besar dari sebelumnya.

Peristiwa yang sempat menyentuh perasaan ini, pernah dialami oleh seorang tokoh sufi yang bernama Abdullah bin Mubarrak. Pada suatu ketika dia pergi menempuh perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji sunat. Sebab ia telah melakukan ibadah haji fardu pada tahun sebelumnya dan pada tahun ini ia melakukan ibadah haji sunat.

Dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji kali ini, ia melewati suatu perkampungan kumuh dan terpencil. Bekal yang dibawanya dalam perjalanan hajinya adalah termasuk seekor ayam, yang akan disembelihnya sewaktu-waktu apabila dirinya merasa lapar. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Karena, ketika dia melewati perkampungan kumuh itu, ayam yang dibawanya mati. Apa boleh buat, tanpa pikir panjang lagi, Abdullah bin Mubarrak segera membuang bangkai ayam ke tempat sampah yang terdekat dengan posisinya pada saat itu. Agak menyesal juga dia, mengapa ayamnya harus mati sebelum dia sempat menikmati dagingnya. Andaikata ayam itu ia sembelih dari kemarin-kemarin, pastilah dia tidak akan membuang bangkai ayam seperti ini.

Cukup lama juga ia merenung, dan di tengah-tengah renungannya, alangkah terkejutnya ia karena bangkai ayam yang baru saja dibuangnya ke tempat sampah itu langsung disambut oleh seorang anak perempuan kecil, kemudian dibawanya lari dengan sangat kencangnya. Sungguh, ia benar-benar tersentak dan kaget setengah mati. Dengan perasaan yang penuh tanda tanya Abdullah bin Mubarrak segera lari menyusul anak kecil itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Seperti bermain petak umpet, Abdullah bin Mubarrak berlari adu kecepatan dengan anak perempuan kecil itu. Bukannya hendak meminta kembali bangkai ayamnya yang dibawa lari, tetapi rasa ingin tahunya, untuk apakah anak itu membawa lari bangkai ayam yang baru saja dibuangnya..?

Setelah dekat dia segera memegang anak kecil itu dari belakang, lalu bertanya, “Wahai anakku sayang, apakah engkau mau memakan bangkai ayam ini?”.

Dengan bangkai ayam yang masih terpegang di tangannya, anak kecil itu menjawab, “Banar, aku akan memakannya karena sejak sebulan yang lalu bangkai dihalalkan bagi kami. Ayahku tercinta telah mati terbunuh, tak ada siapa pun di pondok ini kecuali aku dan adikku yang masih kecil. Kami berdua tidak memiliki keluarga. Untuk mendapatkan makanan, aku selalu duduk di tempat sampah itu. Jika ada orang yang melemparkan sesuatu, aku akan cepat-cepat mengambilnya, kemudian aku dan adikku makan !”

Rasa haru biru segera merambahi relung hati Abdullah bin Mubarrak, begitu mendengar penuturan anak perempuan kecil itu. Hatinya tergerak untuk membahagiakan anak kecil itu beserta adiknya dengan memberinya sedekah. Air matanya mengucur deras, karena rasa empati dan ikut merasakan betapa hebatnya penderitaan anak kecil dan adiknya dalam memperjuangkan hidup mereka yang harus tetap berlangsung. Mereka yatim piatu dan masih kecil. Tidak ada tempat untuk memperlindungkan diri mereka, kecuali gubuk reot warisan orang tua mereka. Tidak ada lagi tangan kekar ayah mereka dan tidak ada tangan lembut ibu mereka yang membelainya untuk menghapus duka laranya. Demi kelangsungan hidup dirinya sendiri dan juga adiknya yang harus tetap dipertahankan, dan demi memenuhi tuntutan perut keroncongan mereka, apa saja dimakan. Tak terkecuali sisa-sisa makan orang yang seharusnya menjadi bagian nya ulat-ulat sampah. Dan juga bangkai ayam yang bagi sebagian orang adalah haram. Yah,..hidup memang selalu diselimuti misteri tak terpecahkan akal dan pikiran manusia, kecuali dengan bimbingan iman kepada Allah Swt. Apakah kedua anak yatim piatu ini akan terus mengalami hidup yang seperti ini, ataukah dalam sekejap mereka akan mengalami hidup yang bahagia? Itu, rahasia Allah dan Dia pula yang punya kuasa dan berkehendak.

Rasa belas kasihan segera memenuhi rongga dada Abdullah bin Mubarrak. Kemudian dengan ucapan yang terbata-bata, dia berkata :”Demi Dzat yang memelihara diriku, aku akan menyedekahkan semua harta benda yang aku bawa ini, kecuali sebagian kecil saja untuk bekal pulang ke negeri ku. Akan aku sedekahkan biaya ibadah hajiku tahun ini kepada anak yatim piatu ini. Mudah-mudahan Engkau memberikan pahala ibadah haji kepada ku dan kepada kedua anak yatim piatu ini, ya Allah..!”

Dengan kemurahan hati Abdullah bin Mubarrak itu,senanglah hati kedua anak yatim-piatu ini. Dengan sedekah yang baru diterimanya, minimal ia tak usah lagi menunggui tong sampah, menanti ada orang yang melepar sesuatu, lalu diambilnya untuk dimakan bersama adik tercintanya.

Rupanya matinya ayam Abdullah bin Mubarrak, hanyalah isyarat dari Allah Ta’ala untuknya. dimana Dia hendak menunjukkan kepadanya sebuah amal yang paling utama di dunia, yakni bersedekah pada anak yatim-piatu. Dimana sedekahnya tersebut bisa memberikan kebahagiaan bagi keduanya.

Kejadian seperti ini bisa juga terjadi pada lingkungan masyarakat kita atau pada diri kita sendiri, yang hidup di zaman sekarang ini. Cuma konteksnya yang mungkin berbeda. Yang terpenting adalah intinya, yaitu menyedekahkan harta benda yang dimiliki kepada orang-orang yang membutuhkannya atau membelanjakannya di jalan Allah, adalah sifat orang-orang yang berhati mulia, berakhlak agung yang dalam hatinya telah tertanan suatu keyakinan bahwa sedekah bisa mendatangkan berbagai keajaiban hidup di dunia.

Kisah ini tidak harus membuat kita malu untuk meneteskan air mata haru dan sedih serta tidak pula harus membuat kita ragu akan balasan pahala yang akan diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala nanti di akhirat kelak, atas sedekah tulus kita kepada yatim piatu seperti mereka. Allahu a’lam.

Wassalam, semoga bermanfaat.

Anak-Anak Dalam Keluarga Tanpa Ayah

imageedit_13_8103248644.jpg
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Ketika kita memikirkan tentang keluarga, maka mungkin yang ada dalam pikiran kita adalah sebuah keluarga utuh ada ayah dan ibu serta dua anak atau lebih, hidup dalam suasana menyenangkan berkecukupan secara fisik, psikis dan sosial. Ini adalah contoh sebuah keluarga yang relatih ideal, bukan keluarga ideal. Dan, mungkin tak sempat terpikir bahwa di sana ada banyak keluarga dengan anak-anak tanpa kehadiran figur seorang ayah. Pemikiran atau anggapan seperti itu adalah biasa/wajar karena kita bukanlah kelompok pemerhati atau peneliti sosial atau keluarga. Bagi pemerhati dan peneliti masalah sosial, keluarga tanpa ayah adalah sebuah masalah atau ancaman yang sangat serius bagi anak-anak yang tumbuh dan berkembang di dalamnya, baik anak laki-laki maupun perempuan. Pada anak-anak (laki-laki) dalam sebuah keluarga tanpa ayah, di sana ada masalah sosial dan psikologis yang sangat serius yang dihadapi oleh anak-anak selain masalah sekonomi.

Seorang anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk belajar berbagai hal yang tidak dia dapatkan dari ibunya, begitu pun dengan anak perempuan, ada sesuatu yang dia butuhkan dari kehadiran figur ayah, misalnya bagaimana ia belajar membangun relasi interpersonal pria dan wanita yang sesuai etika dan tatakrama yang ada dalam masyarakat. Namun beberapa hasil penelitian menjelaskan, bahwa ketiadaan figur ayah sangat berpengaruh buruk pada anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Mengapa, karena bagi anak laki-laki ketiadaan figur ayah adalah sama halnya dengan kehilangan objek contoh atau tempat dia untuk belajar bagaimana menampilkan peranan sebagai seorang laki-laki. Sementara bagi anak perempuan, kehilangan figur ayah meskipun berpengaruh buruk akan tetapi tingkatan bed efffectnya agak rendah, karena objek belajar peranan sebagai perempuan masih ada, yaitu si ibu.

Di sisi lain, ketiadaan ayah atau figur ayah akan berkonsekuensi pada kedudukan ibu dalam keluarga itu menjadi orang tua tunggal. Pertanyaannya, apakah seorang ibu mampu mengemban kedua peran itu dalam keluarga, dalam merawat, membesarkan dan mendidik serta mengawasi anak-anaknya? Karena kesiapan si ibu dalam menjalani perannya sebagai orangtua tunggal juga akan mempengaruhi bagaimana dia bersikap terhadap anaknya. Para ibu yang tidak siap dengan keadaan dan merasa terpaksa menjalaninya akan cenderung menyalahkan kehadiran si anak, dan inilah bahayanya.

Belum lagi jika si ibu memiliki sifat pencemas dan mudah panik, hal ini tentu saja berpengaruh pada si anak, terlebih anak- anak masih memiliki keterbatasan kemampuan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan perasaannya. Di sinilah diperlukan komunikasi terbuka dan kepekaan dari si ibu untuk menggali perasaan si anak dan mencari tahu apa kebutuhan anaknya. Menjadi orangtua tunggal berarti harus siap menjadi tulang punggung keluarga, tak jarang karena ingin memenuhi kebutuhan finansial, seorang ibu bekerja terlalu keras sehingga tidak punya waktu lagi untuk anak-anaknya, dan inilah pula bahayanya.

Apa masalah sosial psikologis yang akan menimpa anak-anak dalam keluarga tanpa ayah ini? Sebagai gambaran tentang masalah ini, saya kemukakan beberapa hasil penelitian di Amerika, yang mengungkapkan bahwa anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga tanpa ayah berkecenderungan tinggi dalam hal-hal sebagai berikut:

Sexual activity. In a study of 700 adolescents, researchers found that “compared to families with two natural parents living in the home, adolescents from single-parent families have been found to engage in greater and earlier sexual activity.”
Source: Carol W. Metzler, et al. “The Social Context for Risky Sexual Behavior Among Adolescents,” Journal of Behavioral Medicine 17 (1994).

Dalam sebuah penelitian tentang 700 remaja, para peneliti menemukan bahwa keluarga tanpa ayah berkecenderungan melahirkan remaja dengan aktivitas seksual yang lebih besar dan lebih dini, ketimbang anak-anak dari keluarga utuh ada ayah dan ibu (sumber data di atas).

A myriad of maladies. Fatherless children are at a dramatically greater risk of drug and alcohol abuse, mental illness, suicide, poor educational performance, teen pregnancy, and criminality.
Source: U.S. Department of Health and Human Services, National Center for Health Statistics, Survey on Child Health, Washington, DC, 1993.

Kemudian dalam penelitian lain menemukan, bahwa anak-anak tanpa ayah secara daramatik lebih beresiko lebih tinggi pada penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, sakit mental, bunuh diri, prestasi akademik rendah, kehamilan usia dini, dan kriminalitas (sumber data di atas).

Drinking problems. Teenagers living in single-parent households are more likely to abuse alcohol and at an earlier age compared to children reared in two-parent households
Source: Terry E. Duncan, Susan C. Duncan and Hyman Hops, “The Effects of Family Cohesiveness and Peer Encouragement on the Development of Adolescent Alcohol Use: A Cohort-Sequential Approach to the Analysis of Longitudinal Data,”Journal of Studies on Alcohol 55 (1994).

Anak-anak remaja dari keluarga tanpa ayah berkecenderungan lebih besar untuk penyalahgunaan obat-obatan di usia dini ketimbang anak-anak dari keluarga utuh (sumbar data di atas).

Suicidal Tendencies. In a study of 146 adolescent friends of 26 adolescent suicide victims, teens living in single-parent families are not only more likely to commit suicide but also more likely to suffer from psychological disorders, when compared to teens living in intact families.
Source: David A. Brent, et al. “Post-traumatic Stress Disorder in Peers of Adolescent Suicide Victims: Predisposing Factors and Phenomenology.” Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry 34, 1995.

Keluarga tanpa ayah tidak hanya mengakibatkan anak-anak mengalami masalah bunuh diri, tetapi juga menyebabkan kekacauan mental dibandingkan anak-anak dari keluarga utuh (sumber data di atas).

Confused identities. Boys who grow up in father-absent homes are more likely that those in father-present homes to have trouble establishing appropriate sex roles and gender identity.
Source: P.L. Adams, J.R. Milner, and N.A. Schrepf, Fatherless Children, New York, Wiley Press, 1984.

Anak laki-laki dari keluarga tanpa ayah lebih berkecenderungan mengalami masalah dalam penyesuaian peranan seksual dan identitas gender mereka ketimbang anak-anak dari keluarga utuh (sumber data di atas).

Oleh karena itu, saya mengutip pendapat yang mengatakan atau menyarankan, bahwa ‘Para ayah sebaiknya memiliki waktu dan kesempatan untuk bercengkerama dengan buah hati, minimal 15 – 30 menit per harinya. Keterlibatan dengan anak ini bisa termasuk mengajaknya bercerita, bermain, mengungkapkan rasa cinta dan sayang, serta mengajaknya berdiskusi ringan. Percayalah, ini akan sangat bermakna bagi perkembangan jiwa anak. Ayah yang positif akan memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang anak. Seperti yang dikatakan Irma Gustiana A, M.Psi., psikolog Anak dan Keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Peran ayah dalam kehidupan anak sangat berarti, terutama dalam membangun kecerdasan emosi, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan motivasi anak di kemudian hari. Buat para ibu, ayo bantu ayah dan berikan kesempatan agar ia dan anak menjalin hubungan yang hangat. Pasalnya, anggapan bahwa masalah pengasuhan hanya ranah ibu, sementara bekerja dan mencari nafkah adalah ranah ayah, mengakibatkan anak mengalami ketiadaan peran ayah. “Ini sangat disayangkan karena ketiadaan peran ayah (fatherless) dalam kehidupan anak, memungkinkan anak mengalami masalah perilaku sosial emosi yang semakin besar. Anak cenderung berperilaku tidak adaptif sehingga timbul istilah kenakalan anak.”  Irma mengalaskan pendapatnya pada hasil penelitian yang menyebutkan tentang dampak buruk dari ketiadaan peran ayah, seperti hasil studi tentang peran ayah dalam kehidupan anak yang dilakukan Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan. Dikemukakan, apabila tak ada peran ayah dalam kehidupan anak, dampaknya tak bisa dianggap sepele. Apa saja?

– 63 persen anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati yang mudah berubah, fobia, dan depresi.

– 56 persen anak memilik kemampuannya berada di bawah rata-rata.

– 43 persen anak melakukan agresi terhadap orangtua.’ (Sumber : tabloidnova.com).

Dan saya berpendapat, bahwa sebenarnya masalah ketiadaan figur ayah bagi anak-anak, terutama bagi anak laki-laki dapat diatasi dengan menyediakan figur pengganti ayah. Siapa itu? Ini bisa kakeknya, pamannya, atau figur pria lain dalam sebuah keluarga yang bisa menampilkan diri sebagai pelindung, pengawas dan pendidik bagi mereka. Tapi masalahnya, tidak selalu tersedia dalam setiap keluarga figur-figur penganti seperti itu, karena berbagai faktor dan situasi. Oleh karena itu, barangkali perlu dicarikan alternatif pelayanan sosial yang diberikan oleh negara disesuaikan dengan tingkat usia dan kebutuhan mereka, sehingga anak-anak dari keluarga tanpa ayah ini, khususnya yang ibunya tidak mampu mengakomodir semua kebutuhan anak karena berbagai alasan, bisa terselamatkan dari ancaman bahaya kemanusiaan seperti diuraikan di atas.

Nabi kita Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam, adalah seorang fatherless boy, bahkan beliau telah yatim piatu tak lama setelah kelahiran, karena ayahnya Abdullah telah meninggal dunia sebelum beliau lahir dan ibunya pun menyusul tak lama setelah melahirkan Muhammad. Tapi alhmadulillah, beliau masih punya kakek yang bisa menggantikan figur ayahnya, yaitu Abdul Muthallib. Setelah kakeknya meninggal, Muhammad diambil dan pelihara serta dilindungi oleh pamannya Abu Thalib meskipun pamannya bukan muslim, tetapi ia sangat menyayangi keponakannya. Subhanallah. walhamdulilah, wa laa ilaha illallah, wallahuakbar.

Demikian, semoga bermanfaat, amien Ya Rabbal ‘alamin.

Benefits Of Prayer Movement

th
Yahoo image

Bismillahir Rahmanir Rahim !

Thank God for all the outpouring of His grace to this point where I can write again an article in English. Now I would like to offer you a rarely but very useful infomation about the benefits of the prayer movement for you physically as well as mentally. Surely among comrades still do not understand why should such prayer movement, which started from takbiratul ikhram, bowing, i’tidal, prostration, sit and greetings. The movement is not a movement that is arbitrary, but behind it all there is meaning and benefits are so great. Here are the contents .

The five daily prayers is one of the obligations for Muslims. Shalat turned out to not only be a major practice in the hereafter, but it turns out the movements of prayer is the most proportional movement to the anatomy of the human body. Even from the medical side, the prayer is the storehouse of drugs of various diseases.

During this prayer is performed five times daily by Muslims, have made an investment in health for those who perform the prayers. Prayer movement with regards to the meaning is amazingly good for physical health, mental and even spiritual and emotional balance. But unfortunately only a few of Muslims who understand it.

Here are some of the benefits of prayer movement for human health:

1. Prayer intentions

On meaningful prayer intentions to leave the decision to the heart to pray the totality of our humanity which is always physical and spiritual worship to Allah.

2. Takbiratul ihram.

Posture: upright, raised both arms parallel to the ear, and then folded in front of the abdomen or lower chest. By voicing takbir or Allahu Akbar, then it means that we leave and resigned on all matters that we have done and ask for protection and love of Allah

Benefits: This movement is blood flow, lymph and arm muscle strength. The position of the heart below the brain allows blood to flow smoothly to all part of the  body. When held up both hands, stretching the shoulder muscles so that the flow of oxygen-rich blood to be smooth. Then the hands folded in front of the abdomen or lower chest. This avoids the attitude of various joint problems, especially in the upper body. In takbiratul ihram, we stand upright position of the body, raising both hands parallel to the ear, and then folded the front area of the abdomen or lower chest. This position is beneficial for blood circulation, and to train the arm muscle strength. The position of the heart that is under the brain would allow blood to flow smoothly leads into the whole body. At the time raised both hands, shoulder muscles are stretched so that the flow of blood containing rich-oxygen will move smoothly. Then on both hands brought together closer to the front or chest area .This movement is to avoid of all kinds of joint problems, especially in the upper body.

3. Bow.

Posture: The perfect bow marked a straight spine so when placed in a glass of water on the back will not be spilled. Head position with the spine straight. In this position, the man representing the worship of angels who always worship God in this position by consistently and animals always stand in their four feet below them. Bowing interpret majesty of the Creator with the whole universe that always hang ourselves as human beings is creature the weak and did not have anything to mention “Subhana robbial ‘adzim” .. for always trying to instill Godly values in our hearts and when we looked up of bowing then we will obtain the grace of God by repeating Allah the great.

Benefits: This posture is to maintain the perfection of the position and function of the spine (vertebrae corpus) as a buffer body and nerve centers. Heart position parallel to the brain, the maximal blood flow in the middle of the body. At the position of bowing where that perfect bow marked the spine is straight so that when placed on the back of a glass of water then the water will not spill. Then the position of the head should be straight as straight as the spine. Bowing movement is beneficial for keeping the shape perfect position and function of the spine (vertebrae corpus) as a way to support the body and central nervous system. The position will align with the heart of the brain, so that blood can flow optimally in the middle of the body. Then the hands are resting on the knee will serve to relax the muscles of the shoulder to bottom, except that the bow is bladder training to prevent prostate disorders. Hand resting on the knee function of relaxation for the muscles shoulder to bottom. In addition, the bow is bladder training to prevent disruption of the prostate.

4. I’tidal

Posture: Wake up from the bow, the body back upright after, raised both hands as high as the ears.

Benefits: Itidal is a variation of posture after bowing and before prostration. The motion stood hunched standing bow down is exercise good digestion. Digestive organs in the abdomen experienced massage and relaxation alternately. In effect, the digestion becomes more smoothly. In i’tidal position or get up from bowing, which the body re-enforced, then raised both hands as high as the ear helpful to train our digestive tract where the organs contained in the abdomen will experience a massage and relaxation alternately and affect digestion.

5. Prostration

Posture: Prostration by putting both hands, knees, toes, and forehead on the floor.

Benefits: On the motion of prostration in which we will prostrate by putting both forehead, forehands, knees and ujung kaki on the floor. Prostration movement is beneficial to drain the lymph and pumping leads to the armpits and neck. Then for the position of the heart that are above the brain causing the brain to be fed oxygen-rich blood. Blood flow to the brain will affect a person’s thinking. Therefore, do prostrations with tuma’ninah, do not be in a hurry so that blood can fulfill all the spaces in the brain. In prostration also would avoid disruption of hemorrhoids. Especially for women, the bow and prostrate have extraordinary benefits for fertility and health of the female organs
lymph flow pumped into the neck and armpits. The position of the heart over the brain causes oxygen-rich blood to the brain flowing or circulating maximum. This flow effect on a person’s thinking. Therefore, do prostrations with tuma’ninah not to run – so that the blood rushed insufficient capacity in the brain. This posture is also avoiding disruption of hemorrhoids. Especially for women, both bowing and prostrating to have tremendous benefits for fertility and health of the female organs.

6. Sit

Posture: There are two kinds of sitting, namely iftirosy (tahiyyat early) and tawarruk (tahiyyat end). The difference lies in the position of the feet.

Benefits: When iftirosy, we rely on the groin that are connected with nerve Ischiadius. This position to avoid pain in the groin that often causes the sufferer unable to walk. Sitting tawarruk very good for men because the heel to suppress your bladder (urethra), male sex glands (prostate) and channel vas deferens. If done. correctly, posture IRFI prevent impotence. Variations in the position of the feet on iftirosy and tawarruk helped cause the entire limb muscles stretched and then relaxed again. Harmonic motion and pressure is keeping. Flexibility and strength organs of our movement in a sitting position consists of two kinds, namely begining tahiyat and ending tahiyat. The difference in the position of her feet. This movement which time iftrosy or tahiyya beginning where we rely diarea groin linking with nerve nerve Ischiadius. Tahiyyat initial position will also avoid pain in the groin that often causes the sufferer unable to walk. Then in a sitting position or tahiyyat end tawarruk have excellent benefits for men because the heel will suppress your bladder (urethra), male sex glands (prostataa) and channel vas deferens. If it can be done properly then this position may prevent impotence. The soles position of the feet on iffirosy and tawarruk will cause the entire limb muscles will also be stretched and relaxed again. Harmonious motion and pressure is what will keep the strength and elasticity of the organs of our body movement.

7. Regards

Movement: Rotate the head to the right and left to the fullest.

Benefits: Muscles relaxation around the neck and head improve blood flow in the head. This movement to prevent headaches and keep the facial skin firmness. Continuous worship manner is not only nourish the faith, but women beautify themselves outside and inside. In regards movement where we rotate the head pointing to the right and left maximally useful to relax the muscles in the neck and head area will optimize blood flow in the head. This movement can also prevent the occurrence of headaches and will be maintaining firmness on the skin.

If you perform it correctly and slowly and also sincere and patient, you will get the benefits of the prayer movement,  may God bless you.

PERCIKAN :

Shalat dapat mencegah kepikunan, karena gerakannya meningkatkan brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Yakni sejenis protein yang berfungsi menguatkan neuron. Otak yang mengandung banyak BDNF mampu menampung lebih banyak informasi. Bila shalat dilakukan dengan terburu-buru maka akan memperberat kerja jantung dan paru-paru. Karena itu, lakukanlah sahalat dengan tenang. Peregangan otot perut saat sujud dan rukuk memperlancar sistem pencernaan karena organ pencernaan dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian.

Sumber : Majalah Ummi No.2/XXI/April 2010/1431

Rabbanaa Atmim Lanaa Nuurana

imageedit_32_6486245959
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

رَبَّنا أَتمِم لَنا نورَنا وَاغفِر لَنا ۖ إِنَّكَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ

“Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu”. Demikianlah do’a orang-orang beriman di akhirat kelak, ketika mereka berjalan di atas Shirath Almustaqiem.  Betapa pentingnya cahaya dalam gelap. Betapa berharganya secercah cahaya di tengah gulita. Betapa mahalnya memiliki pelita cahaya yang bisa menuntun kita berjalan di antara gelap yang tak menyisakan sinar sama sekali.

Di hari akhir yang gelap gulita nanti, hanya orang-orang beriman yang memiliki cahaya. Yang dengan sinar cahaya itu, mereka sangat tertolong untuk meniti perjalanan melintasi ash shiraat (jembatan). Itulah salah satu dari dua cahaya yang disebutkan Sayyid Quthub dalam kitab Fii Dzilaali Al Qur’aan. 

Ia menyebutkan dua kategori cahaya, pertama, adalah nuur hissy atau cahaya materil berupa cahaya Allah swt yang menyinari semua alam semesta. Tanpa Nuur Allah, maka alam semesta ini gelap gulita dan tak ada yang dapat dilihat.

Kedua, adalah nuur ma’nawi atau cahaya immateril. “Ia adalah cahaya yang terbit dalam hati orang beriman dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw yang menyinari hati, pendengaran dan penglihatan hamba Allah yang beriman. lalu cahaya itu pula yang akan menjadi penerang seorang hamba di dunia dan akhirat.(Fii Dzilalil Qur’an, Sayyid Quthub,6/3485)

Ya. Cahaya itulah yang disinggung oleh Allah swt dalam firmanNya surat Al Hadiid ayat 12. “Yaitu pada hari ketika kalian melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan disebelah kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Betapa benderangnya secuil cahaya yang diperoleh di tengah gelapnya kiamat. Saat sinar cahaya berkilauan dan menerangi jalan orang-orang beriman, sementara di sekeliling mereka hanya kegelapan di atas kegelapan. Betapa besar rasa syukur orang-orang yang mendapatkan cahaya dan mendengar berita gembira dari Allah swt, tentang kenikmatan surga yang tak pernah bisa tergambarkan.

Ini adalah informasi tentang kondisi kaum mukminin yang shadiq di hari kiamat. Bahwa amal-amal merekalah yang menyebabkan mereka memiliki cahaya, yang memandu mereka berjalan di tengah gelapnya hari itu. Dalam sebuah atsar, Abdullah bin Mas’ud ra pernah mengatakan, “Sebatas amal-amal yang mereka kerjakan, mereka  meliwati ash shiraat (jembatan). 

Adh Dhahak mengatakan, “Tak seorangpun yang diberikan cahaya di hari kiamat. Jika mereka telah tiba di ash shirat, cahaya untuk orang munafiqin dimatikan. Lalu ketika kondisi mereka terlihat oleh orang-orang, mereka berharap agar cahaya mereka  tidak dimatikan sebagaimana cahaya orang-orang munafiqin itu. Mereka lalu berucap, “Rabbana atmim lanaa nuuranaa” (ya Allah, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami)

Perhatikanlah bagaimana bunyi firman Allah swt yang menceritakan situasi tersebut. “Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama denganya, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim :8)

Orang-orang munafiq, cahaya yang mereka miliki mati saat mereka berada di ash shiraat. Berkata Abul Qashim Ath Thabrani, dari ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda…”Ketika sampai di ash shiraat, Allah memberikan setiap orang mukmin cahaya dan setiap orang munafiq cahaya.

Tapi ketika mereka berada di tengah-tengah ash shiraat, Allah mematikan cahaya orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sehingga mereka mengatakan kepada orang-orang mukmin, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Lalu orang-orang beriman mengatakan, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.” (lihat surat Al Hadiid ayat 13)

Saudaraku, tergambarkah dalam benak kita betapa kesedihan dan hancurnya orang-orang yang tak mendapatkan cahaya ketika itu? Bagaimana dahsyatnya rasa takut dan kengerian mereka orang-orang yang cahayanya dimatikan oleh Allah di tengah gelap gulitanya ash shiraat itu?

Saudaraku,  cahaya orang mukmin adalah salah satu di antara cara atau tanda bagi Rasulullah saw untuk mengenal umatnya. Berkata ibnu Abi Hatim, “Smoga Allah merahmati Abdurrahman bin Jabir. Dia mendengar Abu Darda dan Abu Dzar memberitakan dari Rasulullah saw, “Aku orang pertama yang diijinkan untuk bersujud di hari kiamat. Dan orang pertama yang dijinkan mengangkat kepalanya. lalu aku melihat siapa yang ada dihadapanku, yang di belakangku, yang ada disebelah kananku, yang berada di sisi kiriku. Aku mengenal umatku di antara sekian banyak umat manusia. “Berkatalah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, bagaimana engkau mengenal umatmu di antara sekian banyak umat manusia dari zaman Nabi Nuh hingga umatmu?” Ralulullah mengatakan, “Aku mengenal mereka bersinar karena bekas air wudhu, dan hal itu tidak dialami seorangpun selain mereka. Aku juga mengenal mereka karena mereka menerima kitab mereka dari tangan kanan mereka. Aku mengenal mereka dengan tanda-tanda sujud di wajah mereka. Aku mengenal mereka dengan cahaya mereka yang ada di hadapan mereka.” (HR.Ahmad)

Saudaraku, mari tengadahkan tangan dan sama-sama berdoa, رَبَّنَا أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ “Rabbanaa atmim lanaa nuuranaa waghfir lanaa innaka ‘alaa kulli syaiinqodiir…“Ya Tuhan kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu”@

Sumber : Tarbawi Edisi Spesial-Rasa, karya, Cinta dari Muslim Berbeda Bangsa.

SPARK OF CONTENT :

This is the information about the true condition of the believers are in the Day of Judgment. Deeds that they were the cause of their own light, which leads them to walk in the dark of the day. In an atsar, Abdullah bin Mas’ud ra said, “To the extent deeds that they do, they are crossing the ash shiraat (bridge). Notice how the Almighty God tells the situation. “On the day when God does not humiliate the Prophet and the believers were together with him, being light they radiate in front and to the right of them, while they say,” Our Lord! Perfect for us our light and forgive us, verily Thou Supreme power over all things. “(QS. At Tahrim: 8) How bright the light piece acquired in the dark apocalypse. When light rays sparkle and shine the way the believers, while all around them only darkness over darkness. How thankful people get light and hear the glad tidings of Allah, about the pleasures of heaven that could never be portrayed.

Semuanya Sudah Sangat Terlambat

imageedit_104_9604955624
pixabay.com

Pada judul di atas, saya hendak mengungkapkan betapa ikhtiar dan usaha yang kami lakukan dalam mengobati penyakit yang diderita anak kami sudah sangat terlambat, mengapa terlambat? Ikuti kisah selengkapnya berikut ini.

Sebenarnya tidak ingin mengingatnya kembali. Karena hanya akan membuat hati ini sedih, lalu lebih baik melupakannya. Mungkin ada saja orang yang berpikiran seperti itu. Tapi rasanya..tidak tega hati ini, bila kenangan manis bersama orang-orang yang kita cintai, bahkan amat kita cintai dibiarkan sirna begitu saja dari memori kita. Karena apa? Ya karena tidak adil rasanya. Dan, kalau itu yang kita lakukan, sepertinya kita sudah tak mencintai dia lagi dan tidak mau lagi mengingatnya. Karena itu, meski harus menahan rasa rindu dan sedih, saya coba merangkai kembali kisah sedih 6 tahun silam dalam artikel ini.

Saya coba merangkai dan menghadirkan kembali kisah-kisah bersamanya. Sedih memang, tapi saya menikmatinya, menikmati rasa sedih dan rindu itu karena mencintainya, karena menyayanginya. Dia anak bungsu tercinta kami (Muhammad ‘Alauddin Ramiz). Dia sudah tiada.

Kurang lebih 13 tahun kami telah bersama dalam sebuah keluarga yang menurutku amat bahagia, sebelum ia pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Saya sendiri termasuk orang yang betah di rumah, senang berkumpul dengan mereka, makan bersama, bepergian bersama, pokoknya selalu bersama. Tentu, sebagai seorang ayah yang hanya punya anak laki-laki satu-satunya, saya menjadi begitu protektif terhadapnya.

Saya juga tidak jarang menegur agak keras, bahkan marah bila kakak-kakanya membuat dia menangis. Saya sering mencemaskan ketiga anak ku, lebih-lebih si bungsu. Menghawatirkan keamanannya dan keselamatannya. Bahkan tidak jarang dalam tidur, saya bermimpi dan melihat dia mendapat musibah, seperti jatuh di sumur dan banyak mimpi-mimpi buruk lain sejenisnya. Tapi untuk menghibur diri, saya menganggap itu hanya mimpi dan bunga tidur saja. Dia, anak baik dan penurut, dan tidak pernah bermasalah dengan teman sebaya, namun terkadang justru ada di antara teman-temannya yang menjahili dia. Namun kebanyakan menyenangi dia, bahkan di hari-hari libur sekolah mereka datang menemuinya di rumah untuk bermain.

Ketika di SD, dia aktif ikut serta dalam berbagai kegiatan sekolahnya. Berbagai kegiatan lomba yang diselenggarakan pada setiap peringatan hari-hari besar nasional di kabupaten, seperti lomba gerak jalan, lomba upacara bendera, dan sejenisnya, baik lokal kabupaten maupun tingkat provinsi,, selalu dilibatkan oleh sekolahnya. Bahkan sekolah memilihnya sebagai komandan, baik komandan upacara maupun komandan regu gerak jalan. Dari berbagai lomba yang dikutinya, dia bersama timnya, selalu mendapat piagam pernghargaan. Tentunya, semua ini merupakan hal yang menyenangkan bagi kami, kedua orang tuanya.

Ada satu ketika di tahun 2007, dimana pihak sekolah sudah sekian lama mempersiapkan mereka, dalam arti melatih mereka dalam sebuah tim lomba upacara bendera tingkat provinsi, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustusan, dan dia lagi-lagi terpilih sebagai komandan dalam lomba upacara bendera itu.

Tetapi sialnya, lomba yang sudah lama dipersiapkan itu, tiba-tiba batal diselenggarakan, karena ada sesuatu hal yang menurut pihak sekolahnya, kalau tidak salah pada saat itu, menyangkut masalah dana transportasi, konsumsi dan akomodasi mereka di sana. Karena dia dipercaya sebagai komandan, maka pada saat pertemuan dengan pihak sekolah untuk memberitahukan pembatalan itu, diapun diundang dalam pertemuan itu termasuk saya sebagai orang tua murid turut diundang. Disitu, sepertinya dia tidak terima dan kelihatan sangat kecewa sekali. Mungkin karena dia bersama timnya sudah sangat yakin untuk berlaga di tingkat provinsi dan siap untuk mempersembahkan kembali piagam penghargaan untuk mengangkat nama daerahnya dan juga nama sekolahnya. Pertemuan selesai dan kamipun pulang. Dia nampak masih sangat kecewa, apalagi di luar, teman-teman timnya sudah menunggu untuk menanyakan berita hasil pertemuan itu.

Dia hanya menjelaskan kepada teman-temanya, “batal”. Melihat situasi itu, saya putuskan untuk mengajak dia pulang ke rumah. Dia sempat mengelak pulang, mungkin karena pikirannya masih kacau. Tapi akhirnya dia mau, dan saya langsung membonceng dia pulang. Di tengah jalan, saya memberi semangat dia, bahwa masih ada kesempatan lain, kalian belum gagal, hanya kesempatan ini tertunda, karena ada sesuatu halangan. Itulah, kisah terakhir dia berlaga di berbagai kegiatan lomba sekolahnya di SD.

Dari segi kesehatan, memang sakit yang sering diderita adalah demam. Bahkan demamnya cenderung berulang dalam kurung waktu satu hingga dua bulanan, tapi saya mengira itu sakit panas biasa seperti malaria atau tipes, sesuai penjelasan dokter yang memeriksanya pada beberapa tahun sebelumnya. Tidak ada sakit yang lain, hanya demam itu, dan setelah berobat ke dokter, biasa sakit panasnya, segera sembuh dan biasa kembali lincah bermain dengan teman-temannya.

Memang pernah ada kecurigaan dan kekhawatiran dalam hati saya, jangan-jangan ada penyakit dalam yang berat. Tapi kecurigaan dan kekhawatiran saya itu, lambat laun hilang, karena melihat keadaan dia yang kian hari semakin lincah bermain dan tidak menunjukkan tanda-tanda ada penyakit lain selain demam tipes seperti yang dijelaskan dokter. Ketika di SD, memang saya hanya membawa dia ke dokter umum, karena pada kala itu di daerah kami belum ada dokter spesialis penyakit dalam. Barulah pada akhir -akhir dia di sekolah dasar, yakni pada saat dia kelas 5 dan kelas 6, ada dokter spesialis penyakit dalam. Saya coba bawa dia ke dokter itu dan pada saat itu, dokter mengatakan bahwa yang diderita oleh anak saya adalah penyakit hepatitis.

Karena pada saat itu, wawasan saya tentang hepatitis ini masih bleng alias awam, maka saya pun menanyakan pada dokter, sebenarnya hepatitis itu penyakit apa dokter? dokter bilang bahwa hepatitis itu kalau istilah yang umum dikenal masyarakat kita, adalah penyakit kuning. Dalam hati saya berkata, kalau yang ini, saya sering mendengarnya, namun demikian saya masih juga awam tentang apa dan bagaimana sifat penyakit ini. Karena itu sayapun bertanya lagi pada dokter, jadi penyakit anak saya ini bisa disembuhkan atau tidak , dokter? Kata dokter pada waktu itu, “bisa , bisa disembuhkan dengan obat saya”, begitu jawab dokter pada saat itu. Tidak ada penjelasan atau nasihat dokter yang menganjurkan agar saya segera memeriksakan penyakit anak saya ke dokter/rumah sakit lain yang lebih tinggi misalnya di provinsi. Karena itu, sayapun yakin kalau penyakit anak saya akan bisa sembuh di tangan dokter spesialis itu.

Di pertengahan tahun 2007, dia tamat sekolah dasar, dan saya melanjutkan sekolahnya di SMP negeri 1 Dompu, yang merupakan SMP favorit di daerah kami. Di sanapun (di SMP negeri 1 Dompu) dia masih dipakai oleh sekolahnya dalam berbagi kegiatan lomba terutama untuk memperkuat tim lomba gerak jalan dan upacara bendera. Hari demi hari waktu terus berlau, dia pun sudah hampir naik ke kelas yang lebih tinggi yaitu kelas 2. Pada kala itulah, saya melihat kondisi kesehatannya terus menurun. Pakaian seragam sekolahnya yang selama ini pas dengan badannya, sekarang sudah mulai longgar, karena badannya mulai kurus karena asupan makanan sudah tak bisa banyak lagi akibat terganjal oleh kanker.

Ternyata, stadium penyakitnya pada saat itu sudah berada pada stadium lanjut, dan segera saya putuskan untuk membawa ke Mataram tepatnya di Rumah Sakit Bio-Medika Mataram. Di sana, diketahui setelah melalui pemeriksaan darah dan USG, ternyata penyakitnya sudah berubah nama, yaitu menjadi Hepatoma atau biasa dikenal dengan kanker hati, yang tingkat keparahannya sudah mencapai 80 %. Namun, sebelum semua itu menjadi jelas, yaitu pada saat saya bersama dia menunggu giliran dipanggil oleh dokter, dia sempat memberi tahu saya, kalau di perut bagian ulu hatinya mengeras dan membengkak. Saya kaget dan penasaran, lalu saya coba meraba di bagian tubuh yang dikatakannya, dan ternyata memang ada benjolan besar sekira buah mangga. Lalu dengan nafas sesak karena terkejut, saya tanya dia, kenapa tidak bilang papa sejak dulu nak? Dia menjawab, tidak tau papa. Di saat itu pula, dokter memanggil, dan kami berduapun masuk. Setelah saya memberi tahu dokter tentang maksud kami, lalu dokter menyuruh dia tidur telentang di ranjang.

Di saat itulah pertama kali saya melihat dan mengetahui bahwa sebenarnya penyakit anak saya sudah sangat parah. Setelah melihat dan memeriksa, dokter hendak memberitahu saya apa dan bagaimana status penyakit anak saya, namun untuk tidak didengar oleh anak saya, dokter meminta saya untuk berbicara berdua saja dengan saya, dan anak disuruh menunggu di luar bersama mama nya. Setelah mengantar anak ke mama nya, saya kembali lagi ke dokter. Dokter bilang, bahwa penyakit anak saya sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk bisa disembuhkan. Mendengar perkataan dokter itu, saya merasa seperti disambar petir, dunia seakan kiamat, karena merasa kaget, tidak percaya bercampur sedih…”cepat atau lambat dalam kurun waktu tiga bulan, anak saya akan meninggal dunia”, itu vonis dokter pada saat itu. Jadi, Bapak bersabar yah, sambil berdoa mudah-mudahan ada keajaiban. Itu saran dokter pada saya saat itu. Mendengar itu, saya pun teringat pada sebuah ungkapan :

“Anak adalah anugerah terindah. Kehilangannya membuat duka tak terperi. Namun anak kita bukan milik kita, anak hanyalah titipan dari Allah Swt Yang Maha Pencipta. Allah Swt dapat mengambilnya kapan saja Dia mau. Anak bisa menjadi ujian buat kita dan bila kita bersabar menerima ketentuan Allah Swt maka Allah Swt menyukai hamba-hamba-nya yang sabar.”

Sebenarnya, kisah ini masih cukup panjang untuk diuraikan di sini, namun untuk segmen ini saya cukupkan sampai di sini saja, dan kelanjutan kisah ini bisa anda baca di sini dengan judul “Selalu Ada Kebahagiaan Di Penghujung Kesedihan”.

SPARK OF CONTENT :

Maybe there are people who think that death no longer need to remember, but for me it’s not fair, because if so then it means we have hated him or forget him. , when the sweet memories with those we love, even so we love left just vanished from our memory. Because of what? Yes because it would be grossly unfair. And, if that’s what we do, we seem to have not love him anymore and no longer want to remember. Therefore, although I had to withstand a sense of longing and sadness, I tried reassembling the sad story six years ago in this an article. I try to assemble and bring back stories with him. Sad indeed, but I enjoyed it, enjoyed the feeling of sadness and longing that because of love, because love him. He was our beloved youngest son (Muhammad Alauddin Ramiz). He was gone. Approximately 13 years we have been together in a very happy family, at least on my thought, before he left us for ever. I myself among those who feel at home happy hanging out with them, eating together, traveling together, just be together. Naturally, as a father who just had a son the only one, I become so protective of him. I write this article and also a poem to remember him.

Saudariku, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu

download-39

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Islam datang untuk menyempurnakan segalanya di muka bumi ini. Memperbaiki yang belum baik melengkapi yang belum lengkap, dan menyempurnkan segala sesuatu yang belum disempurnakan oleh risalah dan ajaran-ajaran sebelumnya. Ajaran dan risalah para nabi dan rasul sebelum Muhammad ditujukan hanya untuk kaumnya masing-masing, seperti nabi Musa dengan risalahnya hanya untuk bani Israil demikian pula dengan nabi Isa hanya untuk kaumnya saja. Dan setelah datang Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad maka selesailah berlakunya risalah nabi Isa karena semua masalah dan segala urusan sudah tercakup dalam dan oleh ajaran Muhammad.

Asmadi Tsaqib

Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Allah Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justeru jelek menurut Allah. Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216).

Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.

Lihat pos aslinya 428 kata lagi

Mestinya Kita Malu Pada Se-ekor Lebah

imageedit_3_3161357522
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Belajar Dari Seekor Lebah

Seekor hewan kecil mungil yang bermanfaat besar bagi mahluk yang lainnya terutama manusia. Itulah dia seekor lebah, yang pola dan gaya hidupnya penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan. Cara kerjanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya begitu mengagumkan, bukan hanya karena ia selalu memakan sari bunga yang bersih dan manis, tapi juga ia tak pernah membawa masalah atau kerusakan pada dahan dan ranting pohon atau bunga tempat ia mengambil sarinya. Ia hanya mengambil sari dari setiap bunga secukupnya, tidak akan pernah berlebihan, sehingga pohon dan bunganya tetap hidup dan tidak akan terganggu hidupnya karena dihisap sarinya oleh seekor lebah. Dan, di sini “mestinya kita malu pada seekor lebah.”

Masya Allah, mengapa kita harusnya malu? Ya karena manusia (kita ini), sudah diberi akal dan pikiran dan juga hati untuk membaca dan menganalisa serta merenungkan ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’ala, baik ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah-Nya yang bisa kita jadikan pelajaran (ibrah) sebagaimana halnya pada seekor lebah. Memang sih, seekor lebah yang pola dan gaya hidupnya yang penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan itu sudah diseting sedemikian rupa dari sananya oleh Allah Shubhanahu wata’ala, tapi pertanyaannya, apakah kita tidak merasa malu pada Tuhan yang telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya pada kita? Tentu saja kita pasti merasa malu jika kita memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Karena hanya orang-orang beriman yang memiliki rasa malu.

Agar kehidupan ini menjadi indah, menyenangkan dan sejahtera tentu membutuhkan manusia-manusia seperti itu, yang sifat dan karakter dirinya seperti lebah.  Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Hal ini memberi inspirasi dan pelajaran kepada kita, bagaimana seharusnya kita mencari dan mendapatkan rezeki yang halal dan baik untuk kita dan anak serta istri kita di rumah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)-(Dakwatuna.com)

Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)-(Dakwatuna.com)

Ada beberapa sifat dan karakter dari seekor lebah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dan sebagai pola hidup, di antaranya :

1.  Kehadirannya bermanfaat dan tidak merusak.

Tubuhnya yang kecil mungil membuat ia mampu terbang dan hinggap di mana saja tanpa merusak tempat di mana ia berhenti. Sekecil apapun dahan dan ranting pada pohon atau bunga yang ia hinggapi tak akan ada yang patah. Hal ini memberikan inspirasi kepada kita untuk selalu bisa beradaptasi dengan baik di manapun kita berada, dan tidak membawa masalah atau kerusakan di lingkungan itu dan sedapat mungkin bisa membawa manfaat dan kebaikan bagi lingkungan di manapun kita berada.

2.  Tidak mengganggu jika tidak diganggu.

Yang ini adalah sifat kesatria, di mana ia akan bersikap bersahabat dan tidak membahayakan siapapun sepanjang tidak diganggu. Tetapi sekali ia diganggu, maka mereka serempak akan menyerang dan mengejar musuh atau pengganggunya ke manapun pergi meskipun musuhnya bersembunyi (menyelam)di sungai, mereka tetap akan menunggu hingga muncul kembali dan segera menyerang dan menyengat. Hal ini merupakan pelajaran bagi kita dalam mempertahankan harga diri dan kehormatan diri maupun keluarga, bangsa dan negara kita apabila ada orang atau pihak yang mencoba menggangu dan menginjak-injak kehormatan diri dan bangsa, maka taruhannya adalah nyawa sekalipun.

3.  Tidak menghasilkan kecuali yang terbaik.

imageedit_13_9838238824
Pixabay.com

Seekor lebah dalam mencari bahan makanan tidak akan pernah mendatangi tempat atau sumber yang kotor. Ia akan selalu memilih sumber-sumber makanan yang bersih, segar dan tentunya yang manis, sehingga ia tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali dengan kualitas terbaik. Dengan sifat dan karakter lebah seperti ini, maka kita dapat mengambil pelajaran, tentang bagaimana seharusnya kita memilih yang terbaik di antara sekian banyak rezeki dan karunia yang disediakan oleh Allah shubhanahu wata’ala untuk kita persembahkan buat keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Dengan demikian kita bisa berharap akan menghasilkan juga kemanfaatan dan kebaikan bagi keluarga dan mansyarakat di lingkungan kita.

Demikian catatan singkat ini, semoga bermafaat dan kita bisa mengambil pelajaran dari sifat dan falsafah hidup seekor lebah. Wallah a’lam.

SPARK OF CONTENT :

Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam said, “The Parable of the believers are like bees. He is eating clean, pull something clean, perched on a clean and does not damage or break (its host). “(Ahmad, Al-Hakim, and al-Bazzar). There are several nature and character of a bee that we can take it as a lesson and as a pattern of life, including: 1. It’s beneficial presence and not damage  2. Unobtrusive if it is not  disturbed  3. It does not produce but the best. How it works in meeting their needs so remarkable, not just because he always takes the nectar of flowers were clean and sweet, but he never brought any problems or damage to the branches and twigs of trees or flowers where he took the juice. He just took the essence of each flower to taste, will never be excessive, so the trees and flowers are still alive and will not be disrupted her life because the juice is sucked by a bee. And, “we should be ashamed of a bee.”

Related articles :

  1. Ya Allah, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami
  2. Mengenal dan memiliki visi ke surga
  3. Demi masa
  4. Manfaat puasa bagi kesehatan
  5. Syukurilah semua pemberian Allah pada kita
  6. Maafkanlah orang lain dengan ikhlas, anda akan sehat
  7. Cinta dan benci karena Allah
  8. Belajar ikhlas dalam beramal dan beribadah
  9. Bait-bait rindu
  10. Ijinkan aku bercerita

Berjanji ? Yuk, Kita Tepati Jangan diingkari

imageedit_30_7116062443
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam hidup ini, setiap orang pasti pernah berjanji, atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, dan hal itu adalah sesuatu yang lazim dalam hubungan kita dengan orang lain atau hidup bermasyarakat. Apakah janji itu berupa iming-iming suatu pemberian yang membuat orang lain merasa senang dan sangat mengharapkannya, atau hanya berupa janji untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat dan waktu tertentu, dan tentu masih banyak lagi macam janji.

Yang pasti janji atau lebih tepatnya berjanji itu boleh dan tidak dilarang dalam Islam, asalkan janji itu ditepati. Yang dilarang adalah mengingkari janji dan apabila itu terjadi, maka itu adalah dosa.

Dalam Al qur’an Allah Subhanahu wata’aala berfirman,

“Dan tunaikanlah janji kalian. Sungguh, janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra`:34).

Kemudian di surat lain dalam Al Qur’an Allah berfirman,

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (QS. An-Nahl:91).

Lalu Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengobral janji mereka (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka, mereka itu tidak akan mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan menyapa mereka dan tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka.

Bagi mereka azab yang pedih” (QS. Ali ‘Imran:77).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka” (QS. Annisa:145).

Itulah beberapa ayat suci Al ur’an yang menerangkan tentang janji, dimana apabila janji ditepati maka pelakunya akan diganjar dengan pahala berupa ditempatkan di surga, dan orang yang tidak menepati janji atau ingkar janji, maka dia termasuk golongan orang munafik, maka tempatnya adalah di neraka, bahkan di neraka paling bawah.

Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalaam dalam sabdanya,

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Muslim)

“Tiga hal, siapa pun yang ada pada tiga hal itu disebut munafik, kendati ia berpuasa, mengerjakan shalat, dan mengaku dirinya Muslim. Yaitu apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyalahi janji, dan apabila dipercayai ia berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim).

Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati. Oleh karena itu, Allah SWT. memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah SWT., janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar.

Itulah perbedaan antara seorang mukmin dan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya, bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)

Semua orang tidak akan suka kepada orang yang “ingkar janji”. Karenanya, cepat atau lambat dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka. Karena Ingkar janji terhadap siapapun tidak dibenarkan dalam Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela.

imageedit_4_2315913699
Pixabay.com

Dari penjelasan Al Qur’an dan hadits di atas, kita dapat mengatakan bahwa berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain (untuk kebaikan) itu tidaklah dilarang, asalkan yang membuat janji itu menepatinya, dan menepati janji itu hukumnya wajib. Oleh karena itu, ketika berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, maka biasakanlah berjanji, dengan mengucapkan kalimat, Insya Allah. semoga Allah mengijinkan kita.

Apabila karena ada satu dan lain hal janji tersebut tidak atau belum bisa ditepati, maka hendaknya harus ada penjelasan kembali mengenai alasan-alasan mengapa sebuah janji belum bisa dipenuhi, termasuk di dalamnya penjadwalan kembali (rescheduling) waktu-waktunya. Ini semua harus dilakukan agar orang lain di mana janji tersebut ditujukan, tidak merasa dibohongi dan tidak kecewa.

Semoga kita tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang suka mengingkari janji untuk selamanya hingga ajal menjemput, aamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

SPARK OF CONTENT :

In Islam, the promise is actually equal to the debt. So it must be kept and shall not be denied. As in the case of the debt, if we owe something to someone then let the debt was paid in accordance with the contract or agreement that was created earlier. So, keeping promises is part of the faith. Those who do not keep the agreement then there is no religion for him. So anyway such broken promises, including signs and proof of their hypocrisy that ugly treason and destruction of the heart. Therefore, Allah the Almighty God commanded His believing servants to always keep, maintain, and carry out his promise. This includes the appointment of a servant to Allah, promise slave with a slave, and a promise to himself as nadzar.

Untuk Apa Kita Diciptakan?

imageedit_1_4036582253.jpg
pixabay.com

Sebuah pertanyaan penting yang harus segera kita temukan jawabannya agar hidup kita di dunia yang fana ini terarah dan memiliki tujuan yang jelas. Bila kita sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan ini, maka kita sudah memiliki pemahaman tentang makna dari pertanyaan judul di atas, dan dengan demikian minimal kita sudah memiliki arah yang jelas dan pasti untuk dituju dalam perjalanan panjang atau pendek hidup kita di dunia ini. Untuk itu, berikut ini saya ambilkan sebuah artikel yang saya reblog dari bekas blog saya yang sudah tidak bisa lagi saya kelola karena akunnya sudah disuspend yah. Namun masih bisa diakses dari luar untuk melihat dan membaca kembali konten-konten yang ada di sana. Selamat membaca!

Straight Path

Kehidupan di dunia pada dasarnya hanyalah senda gurau atau main-main saja. Orang akan semakin merugi bila tidak tahu untuk apa ia diciptakan Allah dan menjalani kehidupan di dunia ini.

Kalau kita melihat besarnya kekuasaan Allah, niscaya kita akan segera mengucapkan “Allahu Akbar”, “Subhanallah”. Allah menciptakan langit tanpa tiang serta semua bintang yang menghiasinya dan Allah turunkan darinya air hujan dan tumbuh dengannya segala jenis tumbuh-tumbuhan. Bumi terhampar sangat luas, segala jenis makhluk bertempat tinggal di atasnya, berbagai kenikmatan dikandungnya dan setiap orang dengan mudah bepergian ke mana yang dia inginkan.

Binatang ada dengan berbagai jenis, bentuk, dan warnanya. Tumbuh-tumbuhan dengan segala jenisnya dan buah-buahan dengan segala rasa dan warnanya. Laut yang sangat luas dan segala rizki yang ada di dalamnya semuanya mengingatkan kita kepada kebesaran Allah dan ke-Mahaagungan-Nya.

Kita meyakini bahwa Allah menciptakan semuanya itu memiliki tujuan dan tidak sia-sia. Maka dari itu mari kita berlaku jujur pada…

Lihat pos aslinya 1.235 kata lagi

Empty Nest Syndrome

imageedit_10_2305972535
Pixabay

Dulu sewaktu masa-masa kuliah, saya masih ingat ada pelajaran atau mata kuliah yang membahas tetang topik seperti yang saya jadikan judul tulisan ini. Iya, ini mata kuliah psikologi karena membahas perilaku manusia sebagai refleksi dari kondisi emosional dan sosialnya. Saya juga masih ingat betul ketika dosen mata kuliah tersebut menjelaskan, bahwa sindroma atau gejala perasaan kehilangan yang dialami oleh orang tua (parent) pada saat dimana anak-anak mulai meninggalkan rumah mereka (orang tua mereka) karena berbagai alasan. Pada saat itu, orang tua akan mengalami apa yang disebut dengan Empty Nest Syndrome.

Mereka merasa seakan berada di sebuah sarang kosong atau rumah tanpa seorangpun kecuali mereka berdua. Dalam wikipedia.com yang saya kutip dijelaskan bahwa, “Empty nest syndrome is a feeling of grief and loneliness parents may feel when their children leave home for the first time, such as to live on their own or to attend a college oruniversity. It is not a clinical condition.”

Perasaan seperti ini memang akan dialami oleh setiap orang tua terutama si ibu ketika anak-anak mulai meningalkan rumah karena berbagai alasan, misalnya mereka pergi merantau ke luar kota atau keluar negeri untuk kuliah, menikah dan membentuk rumah tangga sendiri, meninggal dunia atau karena berbagai sebab lainnya. Orang tua akan merasa sedih dan rindu serta kesepian yang cukup bahkan sangat menekan perasaan untuk pertama kali, namun simptom ini biasanya akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Adalah hal yang wajar dan normal ketika anak-anak dewasa muda ini pergi meninggalkan rumah untuk sesuatu alasan seperti yang dipaparkan di atas. Namun akan dirasakan sekali oleh orang tua mereka, terutama oleh si ibu yang biasanya hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurus dan merawat anak-anak mereka sejak kecil hingga dewasa.

Pertanyaannya, apakah semua orang tua atau pasangan usia lanjut ini akan mengalami sindroma sarang kosong ini? Jawabannya relatif, bergantung pada kesiapan mental dan juga pemahaman dan penghayatan mereka tentang nilai-nilai dan agama yang mereka anut. Juga tergantung apakah mereka tergolong orang tua yang sulit menerima perubahan yang terjadi dalam hidup mereka, atau sebaliknya. Karena ada orang tua yang tidak terlalu peduli dengan perasaan kehilangan semacam itu dan mereka bisa menyiasatinya dengan membuat agenda-agenda kesibukan sendiri untuk mengisi waktu luang di hari tua mereka, misalnya setelah pension dari pekerjaan, meskipun di rumah hanya tinggal mereka berdua.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa seorang ibu yang bertindak sebagai pengasuh

utama bagi anak-anaknya lebih mungkin akan mengalami sindroma sarang kosong ini dibanding seorang ayah. Namun penelitian lain juga menunjukkan bahwa beberapa ayah mengungkapkan perasaan bahwa mereka tidak siap dalam menghadapi transisi emosional yang terjadi sebagai akibat anak-anak mereka meninggalkan rumah. Sementara yang lain menyatakan perasaan bersalahnya atas kehilangan kesempatan untuk lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka, sebelum mereka meninggalkan rumah.

Menurut Rahmah (2006), penyesuaian awal yang harus dilakukan adalah penyesuaian terhadap keluarga yang dalam hal ini berarti pasangan hidup atau suami, dan secara otomatis menyebabkan harus dilakukannya perubahan peran.

Perubahan peran seorang ibu akan menjadi awal penyesuaian diri menghadapi sindrom sarang kosong. Seorang ibu yang masih memiliki pasangan, cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan ibu yang sudah tidak memiliki pasangan. Keberadaan pasangan sangat berpengaruh dalam mencapai keseimbangan diri seorang ibu setelah kepergian anak, karena orientasi peran dalam hidup kembali berpusatkan pada pasangan. Selain itu, keberadaan pasangan juga mampu mereduksi kesedihan dan rasa sepi pada diri seorang ibu. Untuk ibu yang sudah tidak didampingi pasangan, cenderung mengorientasikan diri pada kegiatan diluar rumah. Dengan melibatkan diri pada kesibukan dan keramaian di luar rumah, seorang ibu mendapatkan kompensasi atas rasa kehilangannya terhadap anak-anak.

Kemudian bersamaan dengan berjalannya waktu sebagai pemicu munculnya kebiasaan, seorang ibu akan keluar dari sindrom sarang kosong. (Rahmah, N. (2006) Penyesuaian Diri Ibu Menghadapi Sindrom Sarang Kosong. http://www.adln.lib.unair.ac.id. Diakses 26 Agustus 2008.)

Dari uraian di atas saya hanya bisa mengatakan bahwa gejala sarang kosong ini tidak perlu menjadi momok bagi siapapun, asalkan kita bisa menyiasati masa-masa itu dengan berbagai aktivitas positif dan bisa membangun kembali hubungan yang lebih baik lagi dengan pasangan kita, juga dengan orang lain di sekitar rumah kita.

Demikian beberapa coretan singkat di pagi hari ini, semoga bermanfaat. Atau ada pandangan dan pemikiran yang berbeda dari para pembaca? silakan dishare di kolom komentar di bawah ini.

SPARK OF CONTENT :.

In wikipedia.com I quoted an opinion that explains that, “Empty nest syndrome is a feeling of grief and loneliness parents may feel when Reviews their children leave home for the first time, such as to live on their own or to Attend a college or university. It is not a clinical condition. “This kind of feeling will indeed be experienced by every parent, especially the mother when the children started leaving home for various reasons, for example, they go wander out of town or out of state for college, marry and form households alone, dies or for various other reasons. From the above, I can only say that the symptoms of empty nest does not have to be a scourge for anyone, as long as we can get around that period with a variety of positive activities and can rebuild a better relationship again with our partner, also with others in around our homes and with our social environment more broadly.

Artikel lainnya :

  1. Keutamaan menjaga lisan
  2. Cara membuat halaman depan statis pada blog
  3. Bolehkan menonton permainan sulap?
  4. Menyegerakan berbuat kebaikan dan bahaya menundanya
  5. Semuanya sudah sangat terlambat
  6. Selalu ada bahagia di penghujung kesedihan
  7. Riya’ dan cara menghindarinya
  8. Dikir pagi dan petang dan keutamaannya
  9. Untuk apa kita diciptakan?
  10. Munajat tak pernah putus

Bahagia Itu Milik Orang Beriman

6335767853_8074207337_z
Yahoo image.com

Sungguh kebahagiaan itu benar-benar menjadi dambaan setiap orang, siapapun dia  dan apapun agama dan keyakinan yang dianutnya. Maka berimanlah anda secara penuh pada agama yang anda peluk saat ini, jangan setengah-setengah, insya Allah anda pasti bahagia. Bahagia yang dimaksudkan pada judul tersebut adalah kebahagiaan yang hakiki dan langgeng yang letaknya di dalam hati setiap orang yang beriman. Jadi bahagia itu betul-betul hanya miliki orang-orang beriman. bukan milik orang-orang yang tidak beriman. Mengapa bisa begitu keadaannya? Karena kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang beriman itu adalah bersumber dari keimanannya kepada Tuhan (Allah Shubhanahu wata’ala) untuk muslim/mukmin.

Terkait hal ini saya mengutip beberapa alenia dari tulisan Ibnu Anwar berikut ini.

“Kebahagiaan adalah sebuah keadaan di mana hati manusia merasakan kedamaian dan ketenteraman. Keadaan tersebut tidak bergantung pada wujud kebendaan atau raga manusia, melainkan bergantung pada suasana dan keadaan ruhani mereka masing-masing. Semenjak kebahagiaan selalu terletak di dalam hati, maka keterbatasan raga seperti apapun yang dimiliki oleh manusia pada dasarnya tak akan pernah menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka.” (Era Muslim-Media Islam Rujukan)

Ketenangan dan kebahagiaan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Tentang hal ini Allah berfirman:

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al Fath [48]: 4)

Demikian Allah shubhanahu wata’ala menjelaskan dalam firman-Nya bahwa orang-orang beriman akan mendapatkan tambahan dalam hati mereka ketenangan (sakinah) dari Allah shubhanahu wata’ala sehingga keimanan mereka akan selalu bertambah dari waktu ke waktu, tentu saja sesuai dengan keteguhan hati (istiqomah) mereka dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)

Mengapa orang-orang beriman selalu bahagia? Beberapa kutipan berikut ini adalah jawabannya, juga karena :

  1. Visi dan misi hidupnya di dunia yang sebentar ini sangat jelas arah tujuannya yaitu ingin sekali ridho Alloh, tidak geer karena pujian, tidak sakit hati karena hinaan, tidak minder karena keadaan, tidak mudah menyerah menghadapi ujian hidup (QS. Al-Bayyinah : 5) “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
  2. “Al iimaan al amnu”, iman kepada Alloh itu membuat hidupnya tenang, damai, aman dan bahagia sekali (QS. al-An’am : 82) Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
  3. Tidak ada yang ditakutinya selain Alloh (QS. Al-Baqoroh : 150) “Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”
  4. Ia serius taat, tidak maksiat (QS. Yunus : 62). “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
  5. Selalu baik sangka, tidak berprasangka buruk, tidak ada dengki dan tidak suka mencari aib orang lain, justru ia sibuk dan asyik muhasabah diri (QS. Al-Hujarat : 12) “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
  6. Keinginannya yang kuat untuk bahagia di akhirat itulah yang membuatnya sibuk dengan ibadah, amal sholeh, kemuliaan akhlak dan semangat dalam perbaikan dan kebaikan (QS. Al-Ankabut : 69) Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
  7. Tawakkalnya yang kuat kepada Alloh sehingga ia pun dalam perlindungan Alloh (QS. Ath-Tholaq : 3). “……Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Muhammad W.Budiman, Cahaya Wahyu-Menerangi Seluruh Alam Raya)
th (85)
Yahoo image

Dari urairan di atas dapat saya simpulkan bahwa bahagia itu hanya milik orang-orang beriman. Mengapa, karena orang-orang beriman sajalah yang senantiasa inggat pada Allah Shubhanahu wata’ala. “ALAA BIDZIKRILLAHI TATHMAINNUL QULUB” Yang artinya : “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang” (QS. Ar Ra’du :28). Tidak akan pernah ada kebahagiaan dalam diri dan hati orang-orang yang tidak beriman, selain hanya kesenangan dan kepuasan yang sifatnya sesaat karena hanya bersumber dari harta dan dunia. Karena mereka tidak punya visi yang ingin di raih di akhirat kelak@ Wallahu a’lam.

Demikian yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini, barangkali ada pandangan yang berbeda dari para pembaca, saya tunggu share-nya.

SPARK OF CONTENT :

Tranquility and happiness is a gift of God which is given only to those who believe. Concerning this Allah says: “It is He Who sent down tranquility into the hearts of the believers so that their faith to grow in addition to their faith (which already exist). And Allah belong the armies of heaven and earth and Allah is ever Knower, Wise. “(QS. Al-Fath [48]: 4) Why are people of faith are always happy? because: 1. The vision and mission of his life in a world that is very clear briefly toward his goal of wanting all the blessings of Allah, 2. “Al iimaan al amnu” faith in Allah that makes life calm, peaceful, secure and happy once, 3. No feared besides Allah, 4. he seriously disobedient, immoral, 5. Always good thought, no prejudice, no envy and dislike looking disgrace of others, instead he was busy and engrossed muhasabah themselves, 6. strong desire to happy in the afterlife that’s what makes it busy with worship, pious charity, moral glory and the spirit of improvement and kindness, 7. Strong faith to Allah that he was under the protection of Allah Almighty God.

Related articles :

  1. Bertaubatlah sebelum ajal menjemput
  2. Etika memberi nama anak dalam Islam
  3. Ingat dan pelihara selalu tujuan baik
  4. Bersikap tenang dan kendalikan emosi
  5. Menghargai hak dan kepentingan orang lain

Lihatlah Ke Bawah

children-63175__340
Pixabay

Dengan sedikit menyimak judul di atas, anda sudah bisa menebak apa sebenarnya makna yang terkandung dalam ungkapan itu. Dalam sebuah hadisnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan para sahabatnya dan tentunya kepada kita semua, agar melihat ke bawah yaitu melihat dengan mata hati akan orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Beliau juga mengingatkan bahwa ketika anda melihat orang-orang di level atas yang memiliki beberapa kelebihan harta dan segala fasilitas yang tidak atau belum kita miliki, maka segeralah anda merenungkan bahwa ternyata kita masih lebih beruntung dibandingkan orang-orang di level bawah kita dalam hal harta dan dunia.

Dengan demikian, mudah-mudahan kita tersadarkan dan segera bersyukur atas begitu banyak nikmat Allah shubhanahu wata’ala yang telah kita terima selama hidup. Dan insya Allah kita akan tetap merasa bahagia secara batiniah meski tidak berlimpah harta.

Dalam hidup ini kita pasti menginginkan punya harta dan segala fasilitas yang memudahkan kita untuk mendapatkan kenyamanan hidup atau boleh disebut dengan kebahagiaan hidup di dunia (sifatnya materi). Dan hal ini adalah sesuatu yang wajar, dan agama juga tidak melarang kita untuk itu, asalkan tidak sampai berlebihan dan menghalalkan segala cara dalam mendapatkanya. Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil, dan seterusnya sampai pesawat pun dia inginkan. Itulah watak manusia yang tidak pernah puas.

Agar kita tidak mudah melupakan atau meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan-Nya kepada kita, maka Rasulullah mengingatkan kita sebagaimana sabdanya berikut ini :

Rasulullah SAW bersabda: “lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari pada kamu dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka hal itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah atasmu.” (Muutafaq ‘Alaih)

Penjelasan Hadits

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menyuruh kaum muslimin agar memandang orang yang berada di bawah mereka, baik mengenai bentuk dan rupa tubuhnya, kesehatan dan kesejahteraannya, harta dan kekayaannya maupun yang lain-lainnya. Dengan cara demikian, mereka akan merasa beruntung dan lebih baik keadaan mereka dibandingkan dengan yang dibawah standar nasib mereka.

Sebaliknya Rasulullah SAW melarang kaum muslimin memandang orang yang di atas mereka sebab dapat menimbulkan rasa kecil hati dan rendah diri dan bahkan bukan mustahil dapat menimbulkan rasa kecewa, menyesal diri dan mungkin timbul persangkaan yang buruk kepada Allah SWT bahwa Dia tidak memperhatikan keadaan dirinya atau pilih kasih dalam pemberian nikmat.

Jika orang sudah tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia punya, maka dia akan terus berangan-angan dan bahagiakah yang dia rasakan? Hanya dia yang tahu jawabannya, tetapi umumnya orang mengatakan bahwa orang seperti itu, tidak bahagia karena tidak pernah merasa puas. Karena itu, sekali lagi saya harus mengatakan di sini, bahwa bahagia itu sederhana sekali, yaitu cukup menerima apa yang kita miliki, lalu mensyukurinya karena itu pemberian Allah shubhanahu wata’ala.

Melihat ke atas, tidak juga dilarang asalkan dalam hal-hal yang bisa memotivasi kita untuk mendapatkanya, seperti melihat orang-orang yang tingkat pendidikannya tinggi. Kaum muslimin dibenarkan melihat orang yang lebih tinggi derajatnya, khusus dalam masalah ketaatan dalam menjalankan agama (dalam hal kebaikan yang bernilai agama) atau dalam menuntut ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan yang bernilai agama. Melihat ke bawah, sebenarnya adalah sebuah jalan menuju kebahagiaan batin, yang pada gilirannya akan menjadikan badan kita sehat. Melihat ke bawah dalam hal harta dan dunia insya Allah akan membuat kita bisa lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi hidup ini…Wallahu a’lam.

Demikian catatan singkat sebagai refleksi hari-hari ku, semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Look down, to those who are less fortunate than us. Thus, hopefully we awakened and immediately give thanks to Allah Almighty God for so many blessings that we have received during our life. And God willing, we will continue to feel happy inwardly though not abundant treasures. Looking up, nor prohibited as long as the things that can motivate us to obtain them, such as seeing people who are high-level education and we are motivated. Looking down, is actually a path to inner happiness, which in turn will make our body healthy. Looking down the world in terms of wealth and God willing, will allow us to be wise and prudent in dealing with this life.

Mau Bahagia? Buatlah Orang Lain Bahagia

imageedit_22_4533264037
Spreadthepearl.com

Hanya Bila Anda Sungguh Percaya. Ada semacam hukum kausalitas, sebab akibat atau apalah istilahnya. Dan itu, memang demikianlah adanya hidup ini. Jika kita ingin senang maka buatlah orang lain senang. Berbagilah kesenangan itu sekecil apapun dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, jika ingin hidup kita sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Lalu, Siapa sih yang dimaksud dengan orang lain itu? Orang lain itu adalah semua orang selain diri kita sendiri. Mulai dari orang-orang di lingkungan keluarga kita sendiri, hingga seluas-luasnya (semampu kita) untuk menjangkaunya.

Kembali pada kalimat sebelumnya, bahwa jika kita ingin hidup sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Ah sadis benar, masa sih ada orang yang mau sengsara, tak mungkinlah itu, pasti semua pengen senang dan bahagia, nah itu yang benar. Dan Lakukanlah itu, hanya jika anda sungguh-sungguh percaya akan kebenaran pernyataan judul artikel di atas.

Memang, hukum atau rumus seperti yang kita diskusikan di atas juga bisa terbantahkan oleh sebagian realita kehidupan sosial kita. Kenyataannya, ada loh orang atau sebagian orang yang baru merasakan senang atau sukacita apabila melihat teman atau tetangganya susah. Percaya nggak anda, bahwa ada kenyataan semacam itu? Subhanallah, tapi kenyataan seperti itu memang ada, namun tidak perlu kita perpanjang membahasnya di sini.

Contoh Kecil Saja

Lalu yang penting kita bicarakan di sini adalah, bagaimana kita bisa menyenangkan orang lain, itu dulu.

Mengapa? karena hal ini amat sangat erat kaitannya dengan diri kita sendiri. Sesungguhnya, pada saat kita menyenangkan hati orang lain,  maka orang yang pertama kali merasakan kesenangan itu adalah diri kita sendiri, benarkan? Tapi dengan cara apa kita bisa menyenangkan orang lain? Anda tentu mengerti, bahwa untuk menyenangkan hati orang lain, tidak perlu dengan memberinya sesuatu yang mahal, atau yang sifatnya material, tapi mungkin cukup dengan hanya senyum yang tulus dan sapaan yang ramah tatkala bertemu. Atau juga ketika anak-anaknya rewel minta sesuatu, kebetulan ada uang receh di saku kita lalu dengan itu anaknya diam. Contoh kecil saja, Betapa senangnya anda, atau kita, ketika blogwalking kemana-mana, memberikan like dan juga komentar di blog teman, lalu temannya membalas memberikan komentar dan juga likenya, tidak hanya itu diapun membalas mengunjungi blog kita dan memberikan komentar dan likenya di blog kita, masya Allah, Indahnya hidup yang diwarnai silaturrahmi semacam ini. Sungguh, mungkin ini skenario Allah Shubhanahu wata’ala, yang menggerakkan hati dan juga tangan saya untuk menuliskan sekelumit catatan akhir tahun ini. Semoga menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi saya ke depan.

Karakter Manusia Beda-Beda

Tapi ingat, jangan terlalu banyak berharap pada sesama manusia, karena jika anda terlalu berharap banyak pada sesama manusia, anda akan kecewa. Mengapa, karena manusia karakternya beda-beda. Ada yang humanis, religius, egois, sosial, individualis dsb. Ada yang kejam, bengis, dan banyak lagi yang lainnya. Tapi jika digolongkan secara garis besar, maka karakter manusia itu hanya ada dua, yaitu manusia yang berkarakter baik dan manusia yang berkarakter buruk. Tapi di sini, kita juga perlu hati-hati dalam melihat dan menilai kondisi seseorang dengan siapa kita berinteraksi. Sebab belum tentu niat baik kita ingin menyenangkan orang lain akan direspon dengan baik pula. Karena akan sangat tergantung pada kondisi sosial psikologis seseorang pada saat itu. Ah…kejauhan pembahasannya. Saya hanya ingin membicarakan karakter manusia yang baik, karena dialah yang bisa diharapkan bisa memberikan atau membuat orang lain merasa bahagia, dan tak akan pernah bisa diemban oleh orang-orang dengan karakter buruk kecuali dia telah mendapatkan hidayah dari Tuhan. Tapi tentu, dengan banyak berharap kepada Allah, bukan berarti kita tidak lagi membutuhkan sesama, nah yang ini justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jadi yang benar adalah keseimbangan atau keselarasan antara hubungan kita dengan sesama dan hubungan kita dengan Allah. “Hablum minannaas wa hablum minallaah”.

Berharaplah Kepada Allah Swt

Berharap kepada manusia atau orang lain adalah hal yang lumrah bagi kita, karena kita saling membutuhkan dan saling ketergantungan dengan orang lain dalam hidup kita bermasyarakat. Tapi jangan terlalu berharap banyak. Berharaplah banyak-banyak kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang, maka anda dan kita semua pasti tidak akan pernah kecewa. Karena Dia-lah yang menjamin dan mengenggam di tangan-Nya nasib dan peruntungan semua hamba-Nya. Karena itu, jika anda ingin bahagia maka buatlah orang lain bahagia. Buatlah mereka senang ketika bersama anda, jangan pernah anda membuat mereka kecewa apalagi sengsara, dan berharaplah sebanyak-banyaknya kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah menyalahi janji-“Innallaha laa tukhliful mii’aad.

Demikianlah sekelumit cetusan pemikiran saya minggu ini, semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Share the slightest pleasure with others to see you happy, and vice versa if you want to be miserable then make others difficult. Why is that? because we as a people can not be separated from the others and therefore, their happiness is our happiness too

Hati-Hati Mencari Kebahagiaan

imageedit_6_3146320875
pixabay.com

Terinspirasi oleh fenomena sosial yang saya lihat setiap saat baik yang dijumpai langsung dalam masyarakat maupun melalui media cetak dan online, lalu sayapun menulis artikel ini dengan judul seperti di atas. Apa sih fenomena sosial itu ? Dia adalah gaya hidup atau life style sebagian masyarakat kita di era-era terakhir ini. Saya tidak mengatakan bahwa gaya hidup sebagai sebuah fenomena sosial yang tidak boleh ditiru atau dilakukan. Tetapi ada kecenderungan orang-orang menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tak peduli apakah cara yang mereka tempuh halal atau haram. Demi mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang bersifat materi dan hanya sementara sifatnya.

Benarkah dengan mendapatkan harta atau kekayaan berlimpah dari cara-cara yang tidak halal bisa membahagiakan mereka dalam arti sebenarnya ?  Jangan salah, dan harus berhati-hati dalam menggapai kebahagiaan. Sebab, jika salah dalam memilih cara menggapai bahagia, petualangan anda dalam mencari kebahagiaan akan berakhir dengan kekecewaan. Ada contoh, yang bisa kita ceritakan di sini bahwa ada orang atau sebagian orang yang berakhir kecewa, setelah petualangannya dalam mencari bahagia melalui korupsi, penipuan, pelacuran dan lain-lain, lalu ditangkap KPK atau polisi dan berakhir di penjara, entah berapa lama.

Padahal, kebahagiaan adalah hal yang amat sederhana. Karena dengan membangun pikiran positif dalam diri kita, maka bahagia itu segera kita gapai. Dan kebahagiaan adalah banyak bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan banyak anugerah dan karunia-Nya pada kita.

Begitu pun Islam mengajarkan umatnya, bagaimana cara memiliki dan mencari harta. Seorang Muslim dilarang untuk mencari harta dengan cara menipu, korupsi, mencuri dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah berikut ini.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 2 : 188)

Sadarkah kita bahwa pada diri kita begitu banyak, lengkap dan sempurnanya nikmat itu diberikan, ada mata, telinga, otak, hati, jantung dan lain-lain. Sudahkah semua nikmat itu kita syukuri dan kita gunakan sesuai dengan peruntukannya ?

Terkait dengan rasa syukur, saya mengutip pendapat yang mengatakan bahwa, “Syukur itu penting. Ketika kita memilih dan membangun pikiran syukur, kita tidak hanya mengubah sudut pandang kita, tetapi juga keadaan menjalani rasa syukur tersebut. Bersyukur adalah cara yang sangat baik untuk mengubah “anggapan kegagalan” kita; syukur dapat menolong untuk mengeluarkan kita dari suasana hati yang murung, membawa kita kembali ke jalur yang tepat, dan membuat kita maju terus ke arah yang positif. Emosi dari syukur, singkatnya, mempunyai pengaruh yang ajaib terhadap cara kita memandang dunia dan kehidupan ini.” (Roni Ismail, Menjadi bahagia dalam 60 menit, hal. 12).

imageedit_22_5788432557
pixabay.com

Gaya hidup yang mengedepankan kemewahan materi sebenarnya hanyalah kesenangan dan kebahagiaan yang semu dan tidak sejati sifatnya.  Mungkin kita mengira kalau yang punya rumah mewah, mobil mewah itu lebih bahagia dari si pemulung yang setiap hari hanya dapat cukup untuk makan hari itu, belum tentu, demikian pula sebaliknya. Jadi, berhati-hatilah dalam mencari kebahagiaan.

Alhamdulillah, mari senantiasa bersyukur atas segala rahmat dan karunia yang Allah berikan pada kita hingga saat ini, agar tetap bisa merasakan kebahagiaan dalam hati kita, yaitu kebahagiaan yang sejati@..Wallahu a’lam.

Demikian coretan singkat, semoga bermanfaat, amien.

Persahabatan

imageedit_36_3099932659
Pixabay

Persahabatan, pertemanan atau perkawanan, itu adalah sebuah kata bahasa Indonesia yang bila dijadikan kata kerja menjadi bersahabat, berteman dan berkawan. Saya tidak atau belum tahu betul apa sebenarnya makna juga hikmah dibalik kata persahabatan. Tapi yang pasti, yang saya ketahui bahwa membangun persahabatan adalah sesuatu yang positif sifatnya. Terlepas dari apa maksud dan tujuan orang dalam membangun persahabatan itu sendiri. Di dunia maya yang kini sedang kita geluti begitu marak istilah ini muncul di berbagai komentar kita untuk menunjukkan rasa persahabatan ini. Seperti ucapan salam, salam kenal, salam persahabatan, salam hormat, salam takzim, salam untuk keluarga dan lain-lain.

Ada yang bilang atau kalau saya tidak salah, dalam satu puisi yang pernah saya baca di salah satu postingan teman mengatakan, bahwa pertemanan di dunia maya sekarang ini semakin marak, sementara dengan tetangga kiri-kanan jarang bertegur-sapa. Subhanallah, saya kira sebait puisi di atas adalah peringatan atau teguran yang sangat bermanfaat. Mengapa demikian, karena memang kecenderungan pola hidup atau gaya hidup manusia di era sekarang ini sedang mengarah atau bahkan sudah berada pada pola hidup yang individualistis dan hedonistis. Terutama dalam pola hidup dan gaya hidup masyarakat di perkotaan, yang mana sedikit demi sedikit akan merambat juga pada gaya hidup masyarakat pedesaan. Terkait dengan gaya hidup individualistik ini berikut saya mengutip pendapat seorang tokoh.

“Sikap individualistik tidak sejalan dengan nilai Islam. Dalam hidup bermasyarakat, Islam mengajarkan untuk hidup berdampingan secara harmonis, saling menghargai, toleran, dan tolong menolong,” seru Prof. Anas.Gaya hidup individualistik yang berujung pada materialistik kini telah merebak di Indonesia. Menurut Prof. Anas, gaya hidup ini lebih mengutamakan nafsu duniawi sebagai tujuan hidup. Akibatnya, kebahagiaan yang didapat justru hanya melahirkan sebuah kebahagiaan semu.”

Jadi, mari kita membangun pola hidup atau gaya hidup yang egaliter saja jangan yang individualistik, karena seperti kata beliau di atas bahwa gaya hidup individualistis tidak akan menghasilkan kecuali hanya kebahagiaan yang semu.

Kemudian terkait dengan arti atau makna dari kata pertemanan atau persahabatan saya mengutip dari http://www.bacaislam.com.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Maukah aku tunjukkan pada kalian tentang sesuatu yang derajatnya lebih utama daripada sholat, puasa, sedekah?”

Para sahabat: ‘Mau, wahai Rasulullah!’
Beliau saw: “perbaiki pergaulan, karena rusaknya hubungan baik berarti mencukur, aku tidak mengatakan mencukur rambut, tapi mencukur AGAMA”
(HR At-Tirmidzi)
Seorang ulama  mengatakan :
  1. Seorang sahabat adalah orang yang tidak ingin dirimu menderita, akan terus memberimu semangat ketika engkau sedang terpuruk.
  2. Tidak ikut mencaci ketika orang lain mencacimu.

Lalu bagaimana kriteria sahabat yang baik?

Lukman alhakim menasihati anaknya:
  1. Wahai anakku setelah kau mendapatkan keimanan pada Allah, maka carilah teman yg baik dan tulus..
  2. Perumpamaan teman yg baik seperti “pohon” jika kau duduk di bawahnya dia dpt menaungimu, jika kau mengambil buahnya dpt kau makan.
  3. Jika ia tak bermanfaat untuk mu ia juga tak akan membahayakan-mu.

Kembali pada fokus pembicaraan kita tentang persahabatan, bahwa kita dalam hidup bisa bersahabat atau berteman dengan siapa saja, kapan saja  dan di mana saja. Mau di dunia maya atau dunia nyata yang penting dalam membangun persahabatan adalah dengan niat yang baik, syukur-syukur punya niat berteman karena Allah shubhanahu wata’ala dan berharap untuk mendapatkan pahala di akhirat kelak, yakni sama-sama diperkenankan untuk memasuki surga-Nya. Karena sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits, bahwa ” Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niat.” Jadi, peranan niat dalam segala amal ibadah kita sangatlah vital.

Karena itu, kita bersahabat di mana saja dengan siapapun asalkan dengan niat seperti yang dijelaskan di atas adalah sesuatu yang baik (positif). Dan bagi saya, justru ada nilai plus bagi yang juga membangun persahabatan di dunia maya dari sekedar hanya punya sahabat atau teman di dunia nyata. Asalkan, sekali lagi dengan niat yang baik dan mengharapkan ridho dan kasih sayang dari Allah shubhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Demikian catatan singkat saya mengenai persahabatan, mudah-mudahan bermanfaat. aamien.

Kita Tak Pernah Tahu Kapan Ajal Kita Datang

imageedit_23_8376141630Dengan postingan ini mudah-mudahan kita semua tidak sampai melupakan kematian. Karena sesungguhnya ia sangatlah dekat dengan kita, bahkan ia akan senantiasa mengikuti kita kemanapun kita pergi. Tapi seringkali kita tidak menyadarinya atau bahkan luput dari ingatan kita karena kesibukan dan keasyikan kita dengan dunia. Dunia dengan segala pernak-pernik nya mampu membuai dan melenakan manusia sehingga seringkali manusia menganggap itulah kebahagiaan yang sebenarnya. Karena itu, manusia rela mengorbankan kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti demi kebahagian semu dunia yang hanya fana, bahkan mereka berani menghalalkan segala cara demi mendapatkan kebahagiaan yang mereka dambakan. Semoga bermanfaat.

Straight Path

Yang akan saya uraikan dalam postinganku kali ini adalah soal kematian, tepatnya adalah kisah-kisah kematian. Saya angkat masalah kematian semata-mata untuk mengingatkan kita bahwa dia (kematian) itu pasti akan datang menemui kita…jangan serem dulu aahhh. Ikuti kisahnya berikut ini :

Sebuah Surat kabar Al-Qasham yang telah lama terbit di Saudi–menyebutkan bahwa seorang pemuda di Damaskus telah bersiap-siap untuk melakukan sebuah perjalanan. Dia memberi tahu ibunya bahwa waktu take off pesawat adalah jam sekian. Ibunya diminta untuk membangunkannya jika telah dekat waktunya. Pemuda itu pun tidur. Sementara itu si ibu mengikuti berita cuaca dari radio yang menjelaskan bahwa angin bertiup kencang dan langit sedang mendung. Sang ibu merasa sayang pada anak satu-satunya itu.

Lihat pos aslinya 551 kata lagi

Dua Ribu Enam Belas

background-1009243__180
pixabay.com

Pergantian tahun sudah berlangsung semalam pada pukul 01.00 wita. Ada banyak harapan yang semoga terwujud di tahun yang baru. Di sekitar rumah telah bersahut-sahutan bunyi petasan dan juga mercon, hampir-hampir rasa ngantuk tak mampu mengajakku untuk segera tidur. Ya, itulah eforia anak-anak dan kita semua dalam menyambut tahun baru. Di internet apalagi, berseliweran kata-kata uacapan selamat tahun baru 2016 dan juga harapan dan doa, semogalah Allah Shubhanahu wata’ala segera mendengarkan dan mengabulkan doa-doa itu.

Ucapan selamat tahun baru merupakan ungkapan yang menggambarkan lembaran sejarah hidup kita, yang secara rinci kelak akan disodorkan kepada kita untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Dengan demikian, semoga momentum yang mengandung nilai-nilai postif ini bisa kita manfaatkan sebaik mungkin untuk menjadi insan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya langkah hidup kita senantiasa dipenuhi keraguan, maka inilah saatnya di tahun baru 2016 untuk memupuk keyakinan dan keberanian dalam berbuat baik.

Harapan dan Doa

Berharap dan berdoa untuk memohon kebaikan di tahun yang baru dan waktu-waktu yang akan datang adalah hak setiap orang, bahkan hal ini adalah wajib bagi seorang muslim, karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan hal itu. Doa adalah senjata orang beriman. Doa adalah harapan hamba yang disampaikan kepada Khaliknya dengan kata-kata yang merayu dan memelas sekalipun. Jika doa berangkat dari hati hamba-hamba yang ikhlas di bumi, maka itulah yang bisa menembus langit.

Berharap kebaikan yang banyak adalah naluiri manusiawi kita, namun kadang sering melalaikan kita dari hal-hal yang utama. Ada yang utama dari banyak hal yang kita idam-idamkan. Misalnya, kita ingin sukses di banyak hal di luar sana, yaitu kesalehan sosial. Tetapi kadang sering lupa membenahi keluarga kita, anak-anak kita, pendidikannya, kesehatannya, terutama agamanya.

Ukirlah Prestasi Terbaik

Maka di tahun yang baru ini, iringilah doa dan harapan itu dengan kebaikan yang banyak. Ukirlah prestasi terbaik sesuai dengan kapasitas dan kemampuan di mana saja kita berkiprah.

Kita bangga pada berbagai keberhasilan yang kita capai secara pribadi dalam masyarakat. Tapi, jangan pernah melupakan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai pemimpin dalam rumah tangga, yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah di akhirat kelak. Istri dan anak-anak kita, juga harta dan ilmu yang ada pada kita bisa mengantarkan kita ke surga dan sekaligus juga bisa menjerumuskan kita ke neraka.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam urusan ini. Kendalikanlah mereka dengan penuh kearifan, jangan biarkan mereka tanpa pemahaman agama yang baik. Jangan sampai mereka terjebak dalam berbagai kenikmatan dunia yang menipu. Melupakan tugas utamanya sebagai hamba yang harus menghambakan diri kepada Sang Khalik.

Saya akhiri tulisan ini dengan beberapa kutipan beriktu ini,

Hidup adalah kesempatan yang harus di ambil, jalan yang harus dilalui, dan teka-teki yang harus dipecahkan. Selamat memulai tantangan baru di tahun ini***Jangan pernah menyerah dan temukanlah ribuan alasan untuk tetap berjuang menyambut awal yang baru***Apalah arti tahun baru jika tanpa semangat dan tantangan baru serta pencapaian dan kesuksesan***Selamat tahun baru kawan semoga tahun ini menjadi ajang pembuktian atas segala usaha yang kita lakukan sepenuh hati***Jadikanlah hidupmu lebih bermakna dan bermanfaat di tahun ini*** Ingat kebohongan hanya akan menyelamatkanmu sebentar lalu menghancurkanmu selamanya. Semoga kita terhindar dari kebohongan yang menghancurkan itu.

Demikianlah coretan singkat menyambut tahun baru 2016, semoga bermanfaat. Selamat tahun baru 2016 semoga keselamatan dan kesuksesan selalu menyertai kita semua, amien.

Menghargai Hak Dan Kepentingan Orang Lain

peony-800109__180Untuk berada di luar rumah bagi masing-masing orang tentu berbeda-beda porsentasenya. Hal ini semua bergantung pada pekerjaan dan profesi masing-masing. Ada yang karena tuntutan pekerjaan dan profesinya, sesorang harus berada di luar rumah atau meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang lama. Misalnya, dalam kurun waktu berhari-hari dan berminggu-minggu, bahkan ada yang bulanan dan juga tahunan.

Berada di luar rumah, sudah tentu berbeda situasinya dengan ketika kita berada di dalam rumah. Di dalam rumah kita hanya berhubungan dengan orang-orang yang kita kenal dekat seperti anggota keluarga sendiri ataupun anggota keluarga besar kita. Di luar, kita akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.

Dan di saat itu pula kita akan menemukan banyak karakter manusia yang berbeda-beda, banyak kepentingan, dan banyak hak orang lain yang tentu saja tetap harus terpenuhi, sehingga kita harus mengerti dan memahami kondisi itu demi memudahkan urusan dan kepentingan kita sendiri, menjauhkannya dari gesekan dan pertarungan yang tidak perlu.

Begitu pentingnya kesadaran ini harus dihadirkan, dan agar kita tidak menjadi pemicu munculnya pertarungan-pertarungan di perjalanan. Rasulullah saw bahkan mengingatkan kita untuk tidak memarkir kendaraan di pinggir jalan ketika ingin beristirahat. Beliau bersabda,”Bila kamu berjalan di tempat yang subur (banyak rerumputan), maka berikanlah unta itu haknya. Bila kamu berjalan di tempat yang kering maka percepatlah jalanmu. Dan jika kamu ingin beristirahat, maka menjauhlah dari jalan.”(HR.Abu Daud)

Bahkan untuk mempercepat kendaraan pun, sebagaimana hadits di atas, Rasulullah juga membolehkan dan melakukannya sendiri, tetapi tentu dengan memperhatikan kondisi jalan yang akan dilewati. Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Usamah bin Zaid ra yang pernah dibonceng Rasulullah saw dari Arafah. Zubair bertanya kepadanya, “Bagaimana perjalanan Rasulullah saw ketika beliau keluar dari Arafah?” Usamah menjawab, “Beliau berjalan tidak terlalu cepat, tetapi jika beliau menemukan jalan yang kosong beliau berjalan lebih cepat.” (HR.Muslim)
Di dalam berjalan dan mengendarai kendaraannya, menurut Anas ra, Rasulullah saw sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan.” (HR.Abu Daud)

Ini baru satu contoh. Hanya di perjalanan. Di tempat-tempat lain sama saja etikanya. Hak dan kepentingan orang lain selalu ada dan kita pun harus pandai menghargainya, demi menghindarkan diri dari pertarungan yang sis-sia . Jadi, hargailah hak dan kepentingan orang lain…Semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007

Bersikap Tenang Dan Kendalikan Emosi

boy-183306__180
Pixabay.com

Kondisi di luar rumah; di pasar, di jalan, dan di tempat-tempat umum lainnya yang ramai dan terkadang semrawut, tentu akan sangat melelahkan fisik. Dan ketika kondisi ini yang terjadi, jiwa kita akan mudah diguncang amarah dan emosi yang sulit dikendalikan, dan telah pula menyatu dengan berbagai kepentingan yang harus segera terlaksana.

Di sana, di luar rumah kita, kita akan bertemu dan bergesekan dengan orang-orang yang punya waktu singkat dan kebutuhan yang sangat mendesak; sedang menuju ke tempat kerja, sedang dinanti oleh keluarga yang sakit, sedang ada janji dengan orang lain, sedang mengejar jadwal keberangkatan, sedang bersiap menghadapi ujian, dan sederetan kepentingan yang mungkin tidak bisa ditunda. Sama seperti kita yang juga sedang berpacu dengan waktu untuk urusan dan kepentingan yang berbeda.

Situasi seperti itu seringkali memancing timbulnya pertarungan-pertarungan yang melelahkan, namun tidak penting dan tidak menghasilkan apa-apa. Dan kalau kita terbawa dengan adegan itu, tidak bersikap tenang, terburu-buru, dan tidak pandai meredam amarah dan emosi, tentu akan melibatkan kita sebagai petarung yang ketika kalah dihina, tetapi jika menangpun tidak dihargai.

Ini sebenarnya bukan perkara rumit, hanya butuh beberapa sikap; kesadaran, ketenangan, dan pengendalian emosi. Tetapi mungkin tidak sempat kita lakukan karena terpikir oleh kita, bagaimana kita bisa segera sampai di tujuan dan menyelesaikan urusan-urusan kita, tanpa mau tahu urusan dan kepentingan orang lain. Padahal sesungguhnya di sinilah pertarungan-pertarungan itu biasanya bermuara. Karena kita saling mempertahankan ego; ingin saling mendahului, berebut di tempat yang terdepan, pada possi yang sebenarnya tidak memberi keuntungan apa-apa.

Padahal, andaikata kita mau bersikap tenang, tidak terburu-buru, dan mau menahan emosi mungkin urusan kita akan lebih cepat selesai, dan pasti kita tidak akan terlibat dalam pertarungan yang remeh-temeh. Sebab, jika kita tetap dalam kekeukeuhan kita yang tidak berdasar itu, sebenarnya apa yang ada di benak kita juga ada dibenak orang lain. Sehingga pertarungan pun akan sulit kita hindari.

Alangkah indahnya, jika mau mendengarkan nasehat Rasulullah seperti yang diceritakan oleh Usamah bin Zaid. Ia berkata, “Aku pernah dibonceng Rasulullah menjelang malam dari Arafah. Tatkala matahari hendak tenggelam beliaupun melangkah, dan ketika mendengar hiruk-pikuk orang-orang di belakangnya, beliau berkata, “Pelan-pelanlah kalian! hendaklah kalian tetap tenang, karena kebaikan itu bukanlah ketika kalian memacu tunggangan kalian.”

Demikianlah beberapa catatan yang saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007, semoga bermanfaat.

Cara Membuat Halaman Depan Statis Blog Wp Anda

autumn-1004868__340
Pixabay

Membuat halaman depan suatu website atau blog, sebenarnya merupakan pilihan (optional) sifatnya. Apakah anda ingin atau tidak, membuat halaman depan (Front page) pada blog WordPress, itu terserah anda saja. Tetapi jika anda menginginkan adanya satu halaman depan pada blog anda, maka ada beberapa tahapan yang perlu anda ketahui dan ikuti. Untuk jelasnya,  silakan ikuti penjelasan teknis berikut ini.

Read more

Bait-Bait Rindu

Oleh : Ar Syamsuddin

3708039769_52e531968b_m
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Hai Amy, sudah sekian lama kita tak bersama, apa kabar kau di sana? Amy, apa kau ingat hari apa ini ? Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke 15 (semestinya). Atau hari ulang tahun kepergianmu yang ke -2. Pada hari ini aku menemuimu kembali lewat goresan pena. Pena yang senatiasa mengukir setiap bait rinduku padamu. Amy, apa kau merasakan hembusan angin yang membawa seribu pesan rinduku untukmu?.

Apa kau melihat ribuan bintang yang melukiskan betapa besar kerinduanku padamu. Amy, masih terbayang tatapan lembut matamu. Dalam bingkai yang mengangtarku ke masa lalu. Melintas bayang ke saat itu. Saat kau terbaring lemah namun kau sabar menghadapi lara. Meski dengan nafas yang tersisa. Duka yang kau simpan, lebur dalam senyuman.

Kau yang tegar melawan pilu. Meski maut menantimu. Melewati detik demi detik yang menghantam harapan. Katika jerit tangis menjadi irama yang akan mengiringi kepergianmu. Hari ini, mata kembali tak dapat membendung linangannya. Selaras detik demi detik berjalan. Sejalan dengan menit demi menit yang terus berlalu. Seiring dengan jam demi jam yang terus bergulir. Seirama dengan waktu yang terus menampakkan kekejamannya.

Tanpa terasa, sudah hampir tiga tahun berlalu semenjak kepergianmu. Hari-hariku terasa begitu sepi dan hampa. Dan, hatiku masih sangat merindukanmu. Kata-katamu di hari-hari menjelang kepergianmu masih terngiang. Terayun lemah tanganmu menggapai dan merangkul tubuhku. Kau hendak berkata, “Maafkan Amy Papa”. Dan itu sudah terucap sayang. Aku membalas ucapanmu, ” Papa memaafkanmu Amy. Tapi kau belum ada dosa sayang”.

Saat itu, jiwaku menjerit. Hatiku hancur terkeping-keping. Aku sadar, saat-saat yang menakutkan itu akan segera tiba. Dan, Innalillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Aku membimbing roh mu dengan kalimat Laa ilaha illallah…Amy selamat jalan sayang. Selamat jalan anakku. Berbahagialah engkau di sisi Tuhanmu. Nafas rindu dan doa papa menyertaimu. Meski kau tidak lagi berada di sini, tapi di hatiku kau tak akan pernah sirna…Baca juga puisi ini !

Dompu, 17 Mei 2010

 

Bertaubatlah Sebelum Ajal Menjemput

imageedit_1_3292212132
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Jika telah datang kematian dan kita belum sempat bertaubat, maka jangan kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengadzabnya di alam kubur, maka Allah mengadzabnya dengan keadilan. Jika Allah menghimpitkan bumi ke tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, maka Allah menyiksanya dengan keadilan-Nya. Dan jika mereka merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Dan ketika mereka diadzab di neraka, itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Allah tetap Maha Adil dan tidak berbuat dhalim kepada makhluk-Nya.

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

قَالَ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا بْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا بْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغْتَ ذُنُوْبَكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا بْنَ آدَمَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. (رواهالترمذيوحس

“Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” (HR. Tirmidzi dan di Hasankan oleh beliau).

Pintu Taubat Belum Ditutup

Setelah kita mengetahui, bahwa kematian adalah suatu kepastian, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan dan semua telah tertulis dalam catatan takdir, maka seorang yang beriman tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian itu.

Untuk itu perbanyaklah bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala, wahai saudaraku kaum muslimin dan beramallah! Minta ampunlah kepada Allah dari dosa- dosa yang telah lalu dengan bertekad untuk menempuh hidup baru di jalan Allah Ta’ala. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang pasti akan mengampuni dan menyayangi hamba-nya yang mau bertaubat.

Allah berfirman: Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan. (HR. Tirmidzi –dan beliau menghasankannya).

Bertaubatlah! Dan janganlah putus asa dari rahmat Allah. Rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosamu, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengatakan dengan kasih sayang-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. ]الزمر: 53[

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (az-Zumar: 53)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالَ لاَ تَخْتَصِمُوْا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيْدِ. مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَآ أَنَا بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. ]ق: 28-29[

Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat dhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (Qaf: 28-29)

Allah Subhanahu wata’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya. Allah telah memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.

Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang bermudharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: كُلُّ أُمَتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. فَقَالُوْا: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى. (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan”. (HR. Bukhari)

Dengan demikian orang-orang yang enggan untuk masuk surga adalah mereka yang memilih kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغَ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ. (أخرجه ابن أبي عاصم في السنة)

“Telah kutinggalkan bagi kalian petunjuk yang nyata. Malamnya seperti siangnya sama (terangnya), tidaklah menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”-nya)

Hanya orang yang sombonglah yang engan untuk masuk surga. Hanya manusia yang kejilah yang mengingkari kenikmatan Allah dan tidak mensyukurinya.

Saat Pintu Taubat Akan Ditutup

Ingatlah wahai saudaraku, kematian terus mendekat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; hal itu berarti pintu taubat semakin dekat untuk ditutup.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه الترمذي وقال حديث حسن)

Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab (semoga Allah meridhai keduanya) dari Nabi beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya. (HR. Tirmidzi dan beliau katakan haditsnya hasan).

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ. (رواه مسلم)

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang terlalu yakin umurnya akan panjang, maka dia akan kecewa. Barangsiapa yang merasa akan terus hidup dan tidak akan mati pasti dia akan merugi. Dan barangsiapa yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka dialah Yahudi yang cinta dunia dan takut mati.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

…يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللهُ بَصِيْرٌ بِمَا يَعْمَلُوْنَ. ]البقرة: 96[

“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. “(Al-Baqarah: 96).

Dengan iman dan amal shalih-lah seharusnya kita menyongsong kematian ini dengan tenang, hingga kita akan dipanggil oleh Allah dengan ucapan:

يَآ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ]27[ ارْجِعِيْ إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَّةً مَرْضِيَّةً. ]الفجر: 27-28[

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. “(al-Fajr: 27-28).

Lebih rinci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam riwayat dari al- Bara’ bin ‘Azib: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila dia menghadap kematian dan meninggalkan dunia, turunlah para malaikat kepadanya, seakan-akan wajah-wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan kapur barus dari surga, dan duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai ruh yang baik, keluarlah engkau kepada ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan kisahnya: “Maka keluarlah ruh tersebut, mengalir bagaikan aliran air dari bibir ceret (tempat air minum). Kemudian malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Dan ketika mengambilnya dia tidak membiarkannya di tangannya, bahkan mereka langsung mengambil dan memasukannya ke dalam kafan dan kapur barus yang mereka bawa. Keluarlah dari jiwa tersebut wewangian yang lebih harum dari misik yang terbaik di muka bumi ini”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan: “Kemudian mereka membawa naik ruh tersebut ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat, kecuali mereka berkata: “Ruh siapakah yang harum ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan”. Mereka menyebutkan dengan sebaik-baik nama yang dia dipanggil dengan nama tersebut di dunia sampai berakhir di pintu langit.

Dan mereka minta untuk dibukakan untuknya, maka dibuka-kanlah pintu langit untuknya. Seluruh penduduk langit dari kalangan malaikat yang didekatkan mengantarkan ruh tersebut ke langit yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai berakhir pada langit yang di atasnya Allah beristiwa’. Allah pun berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyin….”

Adapun tentang orang kafir Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ketika orang kafir akan mati, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah yang hitam. Mereka membawa kain kafan, dan duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut dari sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Maka berpencarlah ruh itu di seluruh jasadnya (menolak untuk keluar –pent.)

Kemudian dicabutlah ruhnya seperti dicabutnya duri dari bulu- bulu wol yang basah. Setelah (ruh itu) diambil, tidak dibiarkan di tangannya sekejap mata pun, hingga diletakkannya di kafan tadi yang mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Kemudian mereka naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata: “Siapakah ruh yang jelek ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan” dengan disebutkan sejelek-jelek nama yang dia dipanggil di dunia sampai berakhir ke akhir langit dunia dan meminta untuk dibukakan langit, tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat Alllah Subhanahu wata’ala:

…لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ… ]الأعراف: 40[

sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum(al-A’raaf: 40)

Kemudian Allah berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling rendah”. Kemudian dilemparkan ruhnya dengan satu lemparan, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ… ]الحج: 31[

Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh(al-Hajj: 31)

Maka kembalilah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya: “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi: “Siapakah orang yang diutus kepadamu?” Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Maka dikatakan oleh penyeru dari langit: “Dia berdusta. Hamparkanlah hamparan dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka”. Maka sampailah kepadanya hawa panas api neraka…. (HSR. Imam Ahmad , Abu Dawud, Hakim, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah)

Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 56/Th. II, tgl 28 Shafar 1426 H, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli: Menyongsong Kematian.

Sumber : http://qurandansunnah.wordpress.com/

SPARKS:

Once we know that the death is a certainty, can not be moved forward and become irreversible and all have been written in the notes destiny, then the believer would be preparing for the arrival of death. So ask forgiveness of Allah glory to Him, O my brother Muslims and do more goodness! Ask Allah! Forgive the sins of the past by committing to a new life in the path of Allah Ta’ala. Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful will accept the repentance of His servants for whatever sins.