Siapakah Yang Menyesal?

3685174927_8db0d385d1_z
Gambar di sini

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Apa jawaban dari pertanyaan judul di atas? Ya..pasti ada jawabannya, nanti pada hari kiamat akan diperlihatkan oleh Allah Azza wajalla semua apa yang menjadi kesudahan dari kehidupan ini. “Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari, (di waktu mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.”(QS Yunus:45) Yaitu, di hari pembalasan nanti akan ada orang-orang atau sekelompok orang yang menyesal, mereka meminta untuk dikembalikan lagi ke dunia agar mereka bisa melakukan amal-amal kebaikan yang belum atau tidak sempat atau bahkan tidak mau (enggan) mereka tunaikan selama di dunia. Semacam si tersangka meminta penangguhan penahanan pada polisi, tapi tentu saja permintaan seperti ini hanya mungkin bisa dikabulkan oleh polisi berdasarkan pertimbangan tidak melarikan diri ke luar negeri atau menghilangkan barang bukti, misalnya.  Tetapi bagaimana dengan permintaan orang-orang yang menyesal di hari pembalasan nanti, apakah dikabulkan oleh Allah? Tentu mustahil Allah mau mengabulkannya….dan untuk penjelasan selengkapnya ikuti paparan pada artikel berikut ini.

 

Onabasite

Pada hari itu, siapakah yang menyesal? Siapakah yang merugi? Jawaban spontan kita pastilah, bahwa yang menyesal ialah mereka orang-orang yang sewaktu di dunia tidak percaya akan adanya hari pembalasan. Bahkan mereka mengingkari adanya kehidupan sesudah kematian. Itu memang betul, bahkan 100% betulnya. Tapi juga bukan hanya mereka itu saja yang menyesal, bahkan orang-orang yang percaya akan adanya hari pembalasan pun akan menyesal, mereka berbuat baik sekalipun akan menyesal, mengapa?

Lihat pos aslinya 551 kata lagi

Cinta Allah Kepada Manusia

heart-283146__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setiap orang pada pemahamannya masing-masing, pasti mengenal cinta. Di kala bayi kita semua cinta atau suka pada yang namanya (maaf) puting susu ibu kita, karena dapat mengenyangkan perut kecil kita. Ketika usia bocah kita mengenal dan mencintai orang tua (ibu dan bapak) kita karena mereka melindungi kita dari berbagai ancaman. Begitu pula ketika kita mulai memasuki usia remaja (aqil balik) kita mulai mengenal, menyukai dan mencintai lawan jenis, dan selanjutnya ketika dewasa kita mulai mengenal, menyukai dan mencintai hal-hal yang bersifat duniawi seperti harta, wanita dan tahta. Demikianlah hakikat rasa cinta manusia pada apa yang dilihat dan didengar serta dipahaminya sebagai yang menyenangkan hatinya. Cinta kita tidak sepenuhnya tulus, ada pamrihnya yaitu ingin dapat ridha Allah dan pahala surga di akhirat kelak.

Lalu kita bertanya di sini, bagaimana dengan cinta Allah kepada manusia, atau bagaimanakah Allah mencintai manusia? Dan bagaimana pula manusia mencintai Allah? Samakah kadar rasa cinta di antara keduanya? Ketahuilah saudaraku, bahwa sesungguhnya cinta Allah pada kita tak mampu akal dan pikiran kita untuk membayangkannya, dan harus kita yakini seyakin-yakinnya bahwa cinta Allah tak terbatas, sedangkan cinta kita adalah terbatas. Meskipun kita sangat ingin mencintai Allah dengan sepenuh jiwa dan raga kita (dan itu wajib), namun pastilah cinta kita kepada-Nya tidaklah sebanding dengan cinta dan kasih sayang Allah kepada manusia.

Saudaraku, oleh karena itu janganlah pernah kita berpikir atau mengklaim bahwa kita sudah berbuat baik pada Allah, sudah mencintai Allah karena kita telah melaksanakan semua perintah-Nya seperti shalat, zakat, puasa dan juga haji, misalnya. Lalu dengan serta merta kita mengklaim bahwa semua ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah dan lalu kita berpikir kita sudah mencintai Allah,  belum saudara.

Ketahuilah saudara, bahwa kita bisa melaksanakan semua ibadah-ibadah itu, sesungguhnya itu adalah karena kebaikan dan kecintaan Allah kepada kita, bukan karena kebaikan dan kecintaan kita semata kepada Allah. Karena ketika kita merasa sangat mencintai Allah, itupun pasti terlebih dahulu atas rahmat Allah jua (taufik dan hidayah-Nya) yang tercurahkan dalam hati kita. Apatah lagi diklaim karena kehebatan dan kekuasaan kita. Cinta dan kebaikan kita tidaklah seberapa atau hanya secuil saja bila dibandingkan dengan luasnya cinta dan kasih sayang serta kebaikan Allah kepada kita.

“ Dari Anas r.a. dari Nabi saw. Bersabda: “ Barang siapa ada tiga perkara padanya, ia telah mendapatkan manisnya iman, yaitu hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya dari apa yang selain keduanya, hendaklah ia mencintai dan membenci seseorang semata karena Allah, dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana ia benci jika akan dicampakkan ke dalam neraka”. (H.R. Bukhari Muslim).

Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa ada tiga kriteria atau syarat yang dapat menjelaskan seseorang bisa mendapatkan atau merasakan manisnya iman, itu baru kita bisa merasakan manisnya iman, tetapi itu belumlah berarti bahwa itu pertanda kadar rasa cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya sudah sempurna. Saudara, kita masih harus terus berikhtiar  untuk mendekat dan mendekat lagi dan belajar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mari kita terus belajar mensyukuri segala nikmat-Nya belajar membalas cinta dan kebaikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan jangan pernah telah marasa berbuat baik kepada dan telah mencintai Allah dan rasul-Nya.

Ketika kita berpikir bahwa cinta adalah perasaan yang tumbuh karena ada daya tarik, itu artinya kita belum benar-benar paham hakikat cinta. Jika kita berpikir bahwa cinta bisa patah, bisa berkurang, bahkan cinta bisa menghilang. Lalu bagaimana kita bisa mengerti cinta Allah?…Hakikatnya, kita tidak benar-benar mengerti apa makna cinta sesungguhnya sampai kita paham cinta Allah…Yang mengalir terus tanpa henti untuk kita.

Dia menciptakan kita, memberi kita pakaian, mengajari kita bicara, memberi kita ilmu, nikmat tiada henti, menjaga kita, mengampuni dosa-dosa kita, mengasihi kita…Dia memberi kita ujian sebagai kebaikan untuk kita, membuat kita dekat dengan-Nya lagi setelah kita menjauh, melihat kita berbuat dosa, mengampuni saat kita memohon ampunan. Dia tersenyum pada kita, takkan kita temui Dia lelah mendengar segala keluh kesah kita, selalu peduli.

Dia ijinkan kita berdoa, membuat kita kembali..Maka ingatlah berapa kali kita berpaling dari-Nya, dari peringatan-Nya, namun tak pernah sekalipun Dia berpaling dari kita. It was love!~Berapa sering kita tidak mematuhi-Nya, namun tak pernah sekalipun Dia menahan rezeki-Nya dari mencapai piring kita, dan mencukupi kebutuhan kita. .Berapa kali kita meminta pada-Nya, dan Dia tak pernah meminta apapun dari ciptaan-Nya, Maha Kaya Allah. 

Yang memerlukan adalah kita, bukan Dia..Lalu bagaimana mungkin kita mengklaim bahwa kita paham hakikat cinta, mengaku sedang mencinta, sedang kita belum mengerti besarnya cinta Sang Pencipta?…Renungan buat kita. dengan perasaan cinta tanpa tuntunan syariat, yang kita tahu hanya bagaimana memahami cinta Allah dan menjaganya…Saudaraku, sesungguhnya Allah tahu kalau cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya tidaklah pernah sebanding dengan cinta Allah kepada kita.

Saudaraku, memang cinta bagaikan sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Cinta bagaikan rembulan yang tak pernah padam, ia selalu menerangi hati yang sedang dilanda asmara. Seperti dikatakan di awal, bahwa setiap manusia memiliki perasaan cinta, cinta kepada Ayah dan Ibu, cinta kepada kakak adik, cinta sanak keluarga, dan juga cinta pada hal-hal duniawi. Tetapi lebih dari semua itu cinta yang paling utama adalah cinta kepada sang Pencipta, Allah SWT.dan juga Rasul-Nya. Maka rawat dan tumbuhkanlah  terus cinta kita itu hingga ajal menjemput.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqarah :165)

Kandungan dari Al-Quran di atas menerangkan bahwa manusia menyembah dan mencintai selain Allah, maka ia termasuk orang-orang yang zhalim yang di akhirat nanti akan mendapatkan siksa yang pedih, niscaya mereka akan menyesal. Sebaliknya jika manusia itu tulus menyembah dan mencintai hanya kepada Allah SWT, maka mereka adalah termasuk golongan orang yang beriman.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran : 31)

Kandungan ayat Al-Quran di atas bahwasanya kita umat muslim harus benar-benar mencintai Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni segala dosa-dosa kita karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

“… tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat : 7)

Kandungan dari ayat Al-Quran di atas adalah bahwa cinta ini datangnya dari Allah dan Allah menjadikan cinta-Nya ini untuk keimanan karena keimanan itu akan menjadi indah di dalam hati kita serta menjadikan kita ini benci terhadap kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan (naudzubillahmindzalik). Sehingga kita termasuk orang-orang yang mengikuti jalan Allah yang lurus.

Bukti paling aktual dan dahsyatnya cinta Allah kepada kita (manusia) adalah bahwa Allah telah menurunkan kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya yaitu Al-Qur’an dan telah mengutus seorang hamba dan kekasih-Nya yang bernama Muhammad bin Abdullah sebagai pembawa berita gembira dan penyelamat bagi manusia yang mau mendengarkan dan menerima seruannya….Saudaraku, itulah Al-Qur’an, itulah surat cinta sejati Sang Khaliq kepada kita hamba-Nya yang bernama manusia. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, amien.

Keberkahan Yang Tak Pernah Pudar

italy-2080072__340
Pixabay.com

Bismilllaahir Rahmaanir Rahiim

[Yang dimaksud adalah keberkahan waktu pagi]. Pagi adalah bagian dari waktu-waktu Allah yang terus berputar. Ia juga merupakan ungkapan yang sangat lekat dengan makna kesegaran, keceriaan, semangat, dan hidup baru. Begitu banyak makna positif yang memberi spirit dan optimisme dalam hidup yang datang menyertai pagi. Mungkin masih banyak lagi hikmah dan keistimewaan di balik pujian Allah terhadapnya, “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS.At Takwir: 18), yang mungkin belum dapat kita singkap karena keterbatasn ilmu kita.

Bertemu pagi adalah sebuah keniscayaan. Tetapi mengambil manfaat dari keistimewaannya adalah sesuatu yang harus diupayakan. Jalannya hanya satu, bangun lebih pagi, Lalu mengintip apa saja kebaikan-kebaikan yang dapat kita petik di pagi itu.

Karena Suatu Pagi Bisa Merubah Hidupmu

Waktu adalah wadah pembentukan. Di sanalah garis edar hidup kita, tumbuh dan menjadi dewasa, dari lahir hingga kembali ke hadirat-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Waktu memiliki tiga makna dan dilandaskan pada tiga derajat. Di antara makna-makna itu adalah saat mampu dan benar, karena melihat cahaya karunia yang ditarik kebersihan harapan, atau karena ada perlindungan yang ditarik kebenaran ketakutan, atau karena kobaran rindu yang ditarik cinta.” (Madarijus Salikin)

Satu di antara bagian-bagian waktu yang menghimpun makna-makna itu, yang memiliki urgensi pembentukan adalah pagi. Ia adalah simbol permulaan dan perubahan, kepada dan terhadap apa saja, termasukbabak-babak kehidupan kita. Kisah seorang wanita Nashrani yang bersahabat dan hidup serumah dengan seorang wanita Muslimah, adalah contoh perubahan yang dibawa oleh pagi.

Sahabat Muslimah si wanita tadi, sering terbangun di penghujung malam untuk melaksanakan qiyamulail, bermunajat dan berdoa kepada Allah swt. Terkadang, selesai berdoa ia teruskan lagi dengan tilawah Al Qur’an, hingga menjelang shalat subuh.

Awalnya, si wanita nashrani sering merasa terganggu dengan suara temannya yang kerap menangis tersedu-sedu dalam shalat malamnya, atau saat melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, yang begitu asing di telingannya. Suara “berisik” itulah yang sering memangkas jatah tidurnya.

Tetapi lama kelamaan, dalam diamnya ia mulai menyimpan rasa cemburu dan kagum kepada sahabatnya itu. Betapa tidak, sebagai seorang yang beragama ia merasa tidak begitu akrab dengan tuhannya. Jauh berbeda dengan sahabatnya yang selalu rajin menyapa Sang Penciptanya di kala orang-orang masih terlelap dalam tidurnya. Ia kagum karena sahabatnya begitu mudah terbangun di waktu pagi dan menyelesaikan sebagian tugas-tugasnya, sementara dia sendiri terkadang baru beranjak dari kasur empuknya saat matahari sudah meninggi.

Di sinilah awal mula hidayah itu datang, di kegelapan subuh, di tengah dinginnya udara pagi, rasa cemburunya menyeruak. Si wanita nashrani mulai ntertarik, menanti lantunan kalimat-kalimat “asing” dari mulut sahabatnya. Karena seperti ada ketenteraman batin yang datang bersamanya.

Suatu ketika, sahabatnya sedang tidak di rumah. Saat itu rasa penasarannya menggodanya untuk mengetahui isi Al Qur’an. Ia lalu memberanikan diri membuka lembaran-lembaran Al Qur’an, bacaan favorit sahabanya itu. Ketika ia buka, yang tampak hanya garis-garis hitam yang entah apa arti dan maksudnya. Tetapi ketika ia membaca terjemahannya, di situlah ia menemukan petunjuk yang luar biasa. Ayat-ayat dalam surat Al Ikhlas seakan menghentak batinnya untuk mengakui kebenaran konsep ketuhanan yang diajarkan kitab di tangannya.

Di suatu pagi berikutnya, di sahabatnya baru saja usai menjalankan shalat Shubuhnya, si wanita nashrani datang menghampiri. Ia duduk bersimpuh di dekat sahabatnya dan mendekapnya, seraya memohon agar dituntun untuk mengucapkan syahadat. Begitu cepat dan mudah hidayah itu datang. Suasana menjelang pagi telah mengubah semuanya.

Karena Kehidupan Pagi Adalah Ciri Orang-Orang Shalih

Tidur, bagi manusia adalah sifat kesempurnaan. Orang yang tak bisa tidur berarti memiliki kekurangan; kesehatan fisiknya sedang terganggu. Tetapi memperpanjang jatah tidur juga bukan ciri manusia yang baik. Tidur berlama-lama akan membuat badan terasa berat, membuang waktu secara percuma, membentuk jiwa yang lalai dan malas, serta banyak hal negatif lainnya. Karena itu, hidup ini perlu keseimbangan.

Manusia terbaik di bumi ini adalah mereka yang beriman kepada Allah. Mereka yang mendisiplinkan waktunya,yang mengatur keseimbangan antar hak dan kewajibannya. Ketika malam tiba, mereka bersegera tidur supaya di penghujung malam bisa terbangun dan bercengkerama dengan keindahan dan kedamaian pagi. Muawiyah bin Qurrah menirukan nasehat bapaknya ketika mereka sekeluarga telah melaksanakan shalat Isya, “Wahai anak-anakku, tidurlah sekarang. Semoga Allah menganugerahkan kepada kalian kebaikan malam ini.”

Ada banyak hal yang dilakukan orang-orang shalih di kala pagi, setelah mereka mendirikan shalat malam, mereka duduk berdoa dan bermunajat “menagih” janji-janji Allah, membaca dan mentadabur Al Qur’an. Fudhail bin Iyad pernah menceritakan,”Aku menjumpai suatu kaum yang malu kepada Allah di kegelapan malam karena kelamaan tidur. Pasalnya, mereka terbiasa hanya rebahan dan jika terjaga mereka berkata,”Ini bukanlah untukmu, maka bangkitlah untuk mengambil bagianmu di akhirat.”

Tidur bagi mereka hanyalah sisa waktu yang sangat dibatasi dan melaksanakan amal-amal ketaatan di pagi hari adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kehilangan pagi bagi mereka adalah kerugian yang bisa memunculkan banyak sekali dugaan keburukan. Sampai-sampai Ibnu Umar mengatakan, “Jika kami kehilangan seseorang pada shalat shubuh dan Isya (di masjid), kami mempunyai prasangka buruk kepadanya.”

Karena Ilmu-Ilmu Allah Turun Pada Waktu Pagi

Setiap fase waktu, antara siang dan malam yang telah dibentangkan oleh Allah swt untuk kita, memiliki kualifikasi dan keistimewaan yang tak tergantikan dengan fase-fase waktu yang lain. Antara mencari nafkah, ibadah, belajar, dan berisitirahat semua telah diatur oleh Allah. Hanya saja, kita kadang tidak memahami hikmah di balik ketentuan-ketentuan itu, atau bahkan sengaja tidak mempedulikannya dengan bermacam alasan, sehingga sering kali kita melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan nhasil yang maksimal, yang tentu saja hal itu akan merugikan diri kita sendiri.

Rasulullah saw yang selalu mengajak umatnya untuk bangun sebelum shubuh, melaksanakan shalat sunnah dan shalat Shubuh berjamaah, bukan tanpa alasan. Di sana, dibalik heningnya suasana pagi  ada banyak hikmah yang mendalam. Di antaranya, berlimpahnya pahala dari Allah, kesegaran udara Shubuh yang menyehatkan fisik, konsentrasi pikiran dan daya ingat yang kuat untuk menyambut datangnya hikmah dan ilmu-ilmu Allah swt.

Konsentrasi dan kemampuan memahami di waktu shubuh yang tenang, adalah suasana yang tidak pernah dilewatkan oleh para ulama. Mereka mendalami suatu ilmu, menggali dan merenungi hikmah dari banyak peristiwa yang mereka saksikan, sehingga benar-benar paham dan menguasai banyak ilmu. Ibnu Jarir Ath Thabari, misalnya, seperti diceritakan Al Khatib Al Baghdadi, selama  empat puluh tahun dari usianya yang terakhir, ia mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari.

Yang istimewa dari prestasi Ibnu Jarir ini, meskipun ia menulis artikelnya selepas zhuhur hingga waktu ashar tiba. Tetapi murajaahnya akan ilmu serta ide-ide yang akan ia tuangkan dalam tulisannya, ia dapatkan di awal-awal Shubuh, setelah menunaikan qiyamullail.

Salah seorang murid Ibnu Jarir, Abu Bakar Asy Syajari mengisahkan, “Setelah selesai sarapan pagi, Ibnu Jarir Ath Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun, ia mengerjakan shalat zhuhur, lalu menulis hingga waktu Ashar. Kemudian keluar untuk shalat Ashar. Selanjutnya ia duduk di majelis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu Maghrib. Setelah itu mengajar fiqh serta pelajaran-pelajaran lain sampai masuk shalat Isya. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat. Tengah malam ia bangun shalat malam dan medalami ilmu-ilmunya.”

Kemuliaan pagi serta mudahnya akal menyerap ilmu di saat itu, pernah pula diingatkan Lukman Al Hakim kepada putranya, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.” (Tafsir Al Qurthubi)

Karena Pagi Tidak Berubah, Yang Berubah Adalah Kita

Pagi seperti tak pernah bosan menyapa kita. Kala kita sakit, bersedih, berduka, atau sedang bersuka cita, pagi selalu datang dengan  sejuta optimisme dan harapan.

Hingga sekarang mungkin tak terhitung lagi, sudah berapa kali pagi menyambangi kita. Suasananya tak pernah berubah, pagi yang dulu tetap pagi yang sekarang, penuh dengan kesejukan dan kesegaran. Tetapi itulah karakter waktu. Ia tidak akan pernah berubah kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain, atau masa yang telah ditentukan telah tiba, yang berarti keberlangsungan dunia ini akan segera berakhir.

Tanpa kita sadari, ternyata pagi telah mengantarkan kita pada usia yang sekarang. Usia yang barangkali tidak lagi bisa dikatakan muda, karena kekuatan fisik yang dulu kita banggakan kini mulai melemah, ketampanan dan kecantikan mulai memudar, ketajaman panfangan mata mulai berkurang, rambut juga mungkin sudah mulai berganti warna, dan anak-anak di sekitar kita sudah semakin besar. Itu semua menjadi pertanda bahwa kita semakin tua, meskipun belum tentu dewasa.

Waktu memang terkadang menggilas kita. Tetapi, tentu karena ulah kita sendiri yang sering lupa, sering hilang kesadaran, bahwa kita harus berubah;  lebih dewasa, lebih berilmu, lebih beriman, dan lebih dekat kepada Allah swt karena kualitas ibadah yang terus meningkat. Karena itu Rasulullah mengingatkan kita, “Jangan sekali-kali mencela waktu, karena sesungguhnya Akulah waktu itu.” (HR.Ahmad)

Seorang salafushalih memberi nasihat, “Beramallah untuk diri kalian di malam yang gelap gulita ini. Karena sesungguhnya orang yang tertipu adalah orang yang tertipu oleh kebaikan siang dan malam. Orang yang terhalangi adalah orang yang tidak mampu memperoleh kebaikan yang ada pada keduanya. Ia merupakan jalan kebaikan bagi kaum Muslimin untuk mentaati Rabbnya, dan bencana bagi mereka yang melalaikan dirinya. Maka, hidupkanlah diri kalian dengan selalu mengingat Allah.”

Tidak ada jalan lain memang, bahwa kita harus berani melihat pagi. Karena bisa jadi pagi ini adalah pagi yang terakhir untuk kita, sebelum sempat memperbaiki diri.

Karena Pagi Adalah Sumber Keberkahan

Kesegaran Shubuh tidak hanya menemani kekhusyukan ibadah kita, atau mengiringi terkabulnya untaian doa dan munajat kita, atau mengasah ketajaman akal dan kemampuan berpikir kita. Tetapi kesegaran shubuh juga membuka pintu-pintu rezeki yang telah Allah hamparkan di hari itu. Karena itu, Islam mengajak kita untuk berlomba menyambut dan mendapatkan rezeki Allah dengan bersegera bangun pagi.

Fatimah ra. putri Rasulullah saw pernah bercerita, “Ayahku lewat di sampingku, sedang aku masih berbaring di waktu pagi. Lalu beliau menggerakkan badanku dengan kakinya dan berkata, “Wahai anakku, bangunlah, saksikan rezeki Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai karena Allah membagikan rezeki kepada hamba-Nya, antara terbit fajar dan terbit matahari.” (HR.Ahmad dan Baihaqi)

Ini pula yang dilakukan Nabi Daud as. Ia membagi waktu hidupnya sehari untuk urusan dunia dan sehari lagi untuk akhiratnya, dengan berpuasa dan beribadah. Ketika harus memenuhi urusan dunianya, pagi-pagi sekali Nabi Daud sudah bangun, ia bersiap lalu berangkat mencari nafkah. Rasulullah saw memujinya dengan sabdanya, “Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan yang lebih baik dari pada hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya Nabi Daud adalah makan dari hasil usahanya sendiri.”

Keberkahan Shubuh bukan hanya pada rezeki. Rasulullah saw jika ingin mengirimkan tentaranya ke medan perang, dilepaskannya di waktu pagi. Ketika berhijrah ke Madinahpun beliau berangkat pada waktu pagi. Shakar, salah seorang sahabat beliau yang meriwayatkan hadits di atas, adalah seorang saudagar.  Jika ia ingin mengirimkan barang-barang dagangannya, selalu ia lakukan di pagi hari, dan itulah puncaknya Allah memberikan banyak kekayaan kepadanya.

Aisyah ra berkata, “Rasulullah bersabda, “Berpagi-pagilah mencari rezeki, karena sesungguhnya berpagi-pagi itu membawa berkah dan menghasilkan kemenangan.”

Kunci keberkahan dimulai dari membiasakan diri mendirikan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Dan bisa dibayangkan, jika setiap Muslim di negeri ini melakukan shalat Shubuh berjamaah di masjid dan mereka rajin melakukan dzikir, maka keberkahan akan muncul di mana-mana. Karena itu, cariilah keberkahan dan kemenangan di waktu pagi, dan hindarilah tidur di saat itu, karena sebenarnya kebiasaan itu hanya akan menjauhkan kita dari rezeki Allah swt.@

Sumber : Tarbawi-Edisi 103  3 Maret 2005

Mestinya Kita Malu Pada Se-ekor Lebah

imageedit_3_3161357522
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Belajar Dari Seekor Lebah

Seekor hewan kecil mungil yang bermanfaat besar bagi mahluk yang lainnya terutama manusia. Itulah dia seekor lebah, yang pola dan gaya hidupnya penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan. Cara kerjanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya begitu mengagumkan, bukan hanya karena ia selalu memakan sari bunga yang bersih dan manis, tapi juga ia tak pernah membawa masalah atau kerusakan pada dahan dan ranting pohon atau bunga tempat ia mengambil sarinya. Ia hanya mengambil sari dari setiap bunga secukupnya, tidak akan pernah berlebihan, sehingga pohon dan bunganya tetap hidup dan tidak akan terganggu hidupnya karena dihisap sarinya oleh seekor lebah. Dan, di sini “mestinya kita malu pada seekor lebah.”

Masya Allah, mengapa kita harusnya malu? Ya karena manusia (kita ini), sudah diberi akal dan pikiran dan juga hati untuk membaca dan menganalisa serta merenungkan ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’ala, baik ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah-Nya yang bisa kita jadikan pelajaran (ibrah) sebagaimana halnya pada seekor lebah. Memang sih, seekor lebah yang pola dan gaya hidupnya yang penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan itu sudah diseting sedemikian rupa dari sananya oleh Allah Shubhanahu wata’ala, tapi pertanyaannya, apakah kita tidak merasa malu pada Tuhan yang telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya pada kita? Tentu saja kita pasti merasa malu jika kita memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Karena hanya orang-orang beriman yang memiliki rasa malu.

Agar kehidupan ini menjadi indah, menyenangkan dan sejahtera tentu membutuhkan manusia-manusia seperti itu, yang sifat dan karakter dirinya seperti lebah.  Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Hal ini memberi inspirasi dan pelajaran kepada kita, bagaimana seharusnya kita mencari dan mendapatkan rezeki yang halal dan baik untuk kita dan anak serta istri kita di rumah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)-(Dakwatuna.com)

Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)-(Dakwatuna.com)

Ada beberapa sifat dan karakter dari seekor lebah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dan sebagai pola hidup, di antaranya :

1.  Kehadirannya bermanfaat dan tidak merusak.

Tubuhnya yang kecil mungil membuat ia mampu terbang dan hinggap di mana saja tanpa merusak tempat di mana ia berhenti. Sekecil apapun dahan dan ranting pada pohon atau bunga yang ia hinggapi tak akan ada yang patah. Hal ini memberikan inspirasi kepada kita untuk selalu bisa beradaptasi dengan baik di manapun kita berada, dan tidak membawa masalah atau kerusakan di lingkungan itu dan sedapat mungkin bisa membawa manfaat dan kebaikan bagi lingkungan di manapun kita berada.

2.  Tidak mengganggu jika tidak diganggu.

Yang ini adalah sifat kesatria, di mana ia akan bersikap bersahabat dan tidak membahayakan siapapun sepanjang tidak diganggu. Tetapi sekali ia diganggu, maka mereka serempak akan menyerang dan mengejar musuh atau pengganggunya ke manapun pergi meskipun musuhnya bersembunyi (menyelam)di sungai, mereka tetap akan menunggu hingga muncul kembali dan segera menyerang dan menyengat. Hal ini merupakan pelajaran bagi kita dalam mempertahankan harga diri dan kehormatan diri maupun keluarga, bangsa dan negara kita apabila ada orang atau pihak yang mencoba menggangu dan menginjak-injak kehormatan diri dan bangsa, maka taruhannya adalah nyawa sekalipun.

3.  Tidak menghasilkan kecuali yang terbaik.

imageedit_13_9838238824
Pixabay.com

Seekor lebah dalam mencari bahan makanan tidak akan pernah mendatangi tempat atau sumber yang kotor. Ia akan selalu memilih sumber-sumber makanan yang bersih, segar dan tentunya yang manis, sehingga ia tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali dengan kualitas terbaik. Dengan sifat dan karakter lebah seperti ini, maka kita dapat mengambil pelajaran, tentang bagaimana seharusnya kita memilih yang terbaik di antara sekian banyak rezeki dan karunia yang disediakan oleh Allah shubhanahu wata’ala untuk kita persembahkan buat keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Dengan demikian kita bisa berharap akan menghasilkan juga kemanfaatan dan kebaikan bagi keluarga dan mansyarakat di lingkungan kita.

Demikian catatan singkat ini, semoga bermafaat dan kita bisa mengambil pelajaran dari sifat dan falsafah hidup seekor lebah. Wallah a’lam.

SPARK OF CONTENT :

Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam said, “The Parable of the believers are like bees. He is eating clean, pull something clean, perched on a clean and does not damage or break (its host). “(Ahmad, Al-Hakim, and al-Bazzar). There are several nature and character of a bee that we can take it as a lesson and as a pattern of life, including: 1. It’s beneficial presence and not damage  2. Unobtrusive if it is not  disturbed  3. It does not produce but the best. How it works in meeting their needs so remarkable, not just because he always takes the nectar of flowers were clean and sweet, but he never brought any problems or damage to the branches and twigs of trees or flowers where he took the juice. He just took the essence of each flower to taste, will never be excessive, so the trees and flowers are still alive and will not be disrupted her life because the juice is sucked by a bee. And, “we should be ashamed of a bee.”

Related articles :

  1. Ya Allah, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami
  2. Mengenal dan memiliki visi ke surga
  3. Demi masa
  4. Manfaat puasa bagi kesehatan
  5. Syukurilah semua pemberian Allah pada kita
  6. Maafkanlah orang lain dengan ikhlas, anda akan sehat
  7. Cinta dan benci karena Allah
  8. Belajar ikhlas dalam beramal dan beribadah
  9. Bait-bait rindu
  10. Ijinkan aku bercerita

Mau Bahagia? Buatlah Orang Lain Bahagia

imageedit_22_4533264037
Spreadthepearl.com

Hanya Bila Anda Sungguh Percaya. Ada semacam hukum kausalitas, sebab akibat atau apalah istilahnya. Dan itu, memang demikianlah adanya hidup ini. Jika kita ingin senang maka buatlah orang lain senang. Berbagilah kesenangan itu sekecil apapun dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, jika ingin hidup kita sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Lalu, Siapa sih yang dimaksud dengan orang lain itu? Orang lain itu adalah semua orang selain diri kita sendiri. Mulai dari orang-orang di lingkungan keluarga kita sendiri, hingga seluas-luasnya (semampu kita) untuk menjangkaunya.

Kembali pada kalimat sebelumnya, bahwa jika kita ingin hidup sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Ah sadis benar, masa sih ada orang yang mau sengsara, tak mungkinlah itu, pasti semua pengen senang dan bahagia, nah itu yang benar. Dan Lakukanlah itu, hanya jika anda sungguh-sungguh percaya akan kebenaran pernyataan judul artikel di atas.

Memang, hukum atau rumus seperti yang kita diskusikan di atas juga bisa terbantahkan oleh sebagian realita kehidupan sosial kita. Kenyataannya, ada loh orang atau sebagian orang yang baru merasakan senang atau sukacita apabila melihat teman atau tetangganya susah. Percaya nggak anda, bahwa ada kenyataan semacam itu? Subhanallah, tapi kenyataan seperti itu memang ada, namun tidak perlu kita perpanjang membahasnya di sini.

Contoh Kecil Saja

Lalu yang penting kita bicarakan di sini adalah, bagaimana kita bisa menyenangkan orang lain, itu dulu.

Mengapa? karena hal ini amat sangat erat kaitannya dengan diri kita sendiri. Sesungguhnya, pada saat kita menyenangkan hati orang lain,  maka orang yang pertama kali merasakan kesenangan itu adalah diri kita sendiri, benarkan? Tapi dengan cara apa kita bisa menyenangkan orang lain? Anda tentu mengerti, bahwa untuk menyenangkan hati orang lain, tidak perlu dengan memberinya sesuatu yang mahal, atau yang sifatnya material, tapi mungkin cukup dengan hanya senyum yang tulus dan sapaan yang ramah tatkala bertemu. Atau juga ketika anak-anaknya rewel minta sesuatu, kebetulan ada uang receh di saku kita lalu dengan itu anaknya diam. Contoh kecil saja, Betapa senangnya anda, atau kita, ketika blogwalking kemana-mana, memberikan like dan juga komentar di blog teman, lalu temannya membalas memberikan komentar dan juga likenya, tidak hanya itu diapun membalas mengunjungi blog kita dan memberikan komentar dan likenya di blog kita, masya Allah, Indahnya hidup yang diwarnai silaturrahmi semacam ini. Sungguh, mungkin ini skenario Allah Shubhanahu wata’ala, yang menggerakkan hati dan juga tangan saya untuk menuliskan sekelumit catatan akhir tahun ini. Semoga menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi saya ke depan.

Karakter Manusia Beda-Beda

Tapi ingat, jangan terlalu banyak berharap pada sesama manusia, karena jika anda terlalu berharap banyak pada sesama manusia, anda akan kecewa. Mengapa, karena manusia karakternya beda-beda. Ada yang humanis, religius, egois, sosial, individualis dsb. Ada yang kejam, bengis, dan banyak lagi yang lainnya. Tapi jika digolongkan secara garis besar, maka karakter manusia itu hanya ada dua, yaitu manusia yang berkarakter baik dan manusia yang berkarakter buruk. Tapi di sini, kita juga perlu hati-hati dalam melihat dan menilai kondisi seseorang dengan siapa kita berinteraksi. Sebab belum tentu niat baik kita ingin menyenangkan orang lain akan direspon dengan baik pula. Karena akan sangat tergantung pada kondisi sosial psikologis seseorang pada saat itu. Ah…kejauhan pembahasannya. Saya hanya ingin membicarakan karakter manusia yang baik, karena dialah yang bisa diharapkan bisa memberikan atau membuat orang lain merasa bahagia, dan tak akan pernah bisa diemban oleh orang-orang dengan karakter buruk kecuali dia telah mendapatkan hidayah dari Tuhan. Tapi tentu, dengan banyak berharap kepada Allah, bukan berarti kita tidak lagi membutuhkan sesama, nah yang ini justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jadi yang benar adalah keseimbangan atau keselarasan antara hubungan kita dengan sesama dan hubungan kita dengan Allah. “Hablum minannaas wa hablum minallaah”.

Berharaplah Kepada Allah Swt

Berharap kepada manusia atau orang lain adalah hal yang lumrah bagi kita, karena kita saling membutuhkan dan saling ketergantungan dengan orang lain dalam hidup kita bermasyarakat. Tapi jangan terlalu berharap banyak. Berharaplah banyak-banyak kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang, maka anda dan kita semua pasti tidak akan pernah kecewa. Karena Dia-lah yang menjamin dan mengenggam di tangan-Nya nasib dan peruntungan semua hamba-Nya. Karena itu, jika anda ingin bahagia maka buatlah orang lain bahagia. Buatlah mereka senang ketika bersama anda, jangan pernah anda membuat mereka kecewa apalagi sengsara, dan berharaplah sebanyak-banyaknya kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah menyalahi janji-“Innallaha laa yukhliful mii’aad.

Demikianlah sekelumit cetusan pemikiran saya minggu ini, semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Share the slightest pleasure with others to see you happy, and vice versa if you want to be miserable then make others difficult. Why is that? because we as a people can not be separated from the others and therefore, their happiness is our happiness too