Semuanya Sudah Sangat Terlambat

imageedit_104_9604955624
pixabay.com

Pada judul di atas, saya hendak mengungkapkan betapa ikhtiar dan usaha yang kami lakukan dalam mengobati penyakit yang diderita anak kami sudah sangat terlambat, mengapa terlambat? Ikuti kisah selengkapnya berikut ini.

Sebenarnya tidak ingin mengingatnya kembali. Karena hanya akan membuat hati ini sedih, lalu lebih baik melupakannya. Mungkin ada saja orang yang berpikiran seperti itu. Tapi rasanya..tidak tega hati ini, bila kenangan manis bersama orang-orang yang kita cintai, bahkan amat kita cintai dibiarkan sirna begitu saja dari memori kita. Karena apa? Ya karena tidak adil rasanya. Dan, kalau itu yang kita lakukan, sepertinya kita sudah tak mencintai dia lagi dan tidak mau lagi mengingatnya. Karena itu, meski harus menahan rasa rindu dan sedih, saya coba merangkai kembali kisah sedih 6 tahun silam dalam artikel ini.

Saya coba merangkai dan menghadirkan kembali kisah-kisah bersamanya. Sedih memang, tapi saya menikmatinya, menikmati rasa sedih dan rindu itu karena mencintainya, karena menyayanginya. Dia anak bungsu tercinta kami (Muhammad ‘Alauddin Ramiz). Dia sudah tiada.

Kurang lebih 13 tahun kami telah bersama dalam sebuah keluarga yang menurutku amat bahagia, sebelum ia pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Saya sendiri termasuk orang yang betah di rumah, senang berkumpul dengan mereka, makan bersama, bepergian bersama, pokoknya selalu bersama. Tentu, sebagai seorang ayah yang hanya punya anak laki-laki satu-satunya, saya menjadi begitu protektif terhadapnya.

Saya juga tidak jarang menegur agak keras, bahkan marah bila kakak-kakanya membuat dia menangis. Saya sering mencemaskan ketiga anak ku, lebih-lebih si bungsu. Menghawatirkan keamanannya dan keselamatannya. Bahkan tidak jarang dalam tidur, saya bermimpi dan melihat dia mendapat musibah, seperti jatuh di sumur dan banyak mimpi-mimpi buruk lain sejenisnya. Tapi untuk menghibur diri, saya menganggap itu hanya mimpi dan bunga tidur saja. Dia, anak baik dan penurut, dan tidak pernah bermasalah dengan teman sebaya, namun terkadang justru ada di antara teman-temannya yang menjahili dia. Namun kebanyakan menyenangi dia, bahkan di hari-hari libur sekolah mereka datang menemuinya di rumah untuk bermain.

Ketika di SD, dia aktif ikut serta dalam berbagai kegiatan sekolahnya. Berbagai kegiatan lomba yang diselenggarakan pada setiap peringatan hari-hari besar nasional di kabupaten, seperti lomba gerak jalan, lomba upacara bendera, dan sejenisnya, baik lokal kabupaten maupun tingkat provinsi,, selalu dilibatkan oleh sekolahnya. Bahkan sekolah memilihnya sebagai komandan, baik komandan upacara maupun komandan regu gerak jalan. Dari berbagai lomba yang dikutinya, dia bersama timnya, selalu mendapat piagam pernghargaan. Tentunya, semua ini merupakan hal yang menyenangkan bagi kami, kedua orang tuanya.

Ada satu ketika di tahun 2007, dimana pihak sekolah sudah sekian lama mempersiapkan mereka, dalam arti melatih mereka dalam sebuah tim lomba upacara bendera tingkat provinsi, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustusan, dan dia lagi-lagi terpilih sebagai komandan dalam lomba upacara bendera itu.

Tetapi sialnya, lomba yang sudah lama dipersiapkan itu, tiba-tiba batal diselenggarakan, karena ada sesuatu hal yang menurut pihak sekolahnya, kalau tidak salah pada saat itu, menyangkut masalah dana transportasi, konsumsi dan akomodasi mereka di sana. Karena dia dipercaya sebagai komandan, maka pada saat pertemuan dengan pihak sekolah untuk memberitahukan pembatalan itu, diapun diundang dalam pertemuan itu termasuk saya sebagai orang tua murid turut diundang. Disitu, sepertinya dia tidak terima dan kelihatan sangat kecewa sekali. Mungkin karena dia bersama timnya sudah sangat yakin untuk berlaga di tingkat provinsi dan siap untuk mempersembahkan kembali piagam penghargaan untuk mengangkat nama daerahnya dan juga nama sekolahnya. Pertemuan selesai dan kamipun pulang. Dia nampak masih sangat kecewa, apalagi di luar, teman-teman timnya sudah menunggu untuk menanyakan berita hasil pertemuan itu.

Dia hanya menjelaskan kepada teman-temanya, “batal”. Melihat situasi itu, saya putuskan untuk mengajak dia pulang ke rumah. Dia sempat mengelak pulang, mungkin karena pikirannya masih kacau. Tapi akhirnya dia mau, dan saya langsung membonceng dia pulang. Di tengah jalan, saya memberi semangat dia, bahwa masih ada kesempatan lain, kalian belum gagal, hanya kesempatan ini tertunda, karena ada sesuatu halangan. Itulah, kisah terakhir dia berlaga di berbagai kegiatan lomba sekolahnya di SD.

Dari segi kesehatan, memang sakit yang sering diderita adalah demam. Bahkan demamnya cenderung berulang dalam kurung waktu satu hingga dua bulanan, tapi saya mengira itu sakit panas biasa seperti malaria atau tipes, sesuai penjelasan dokter yang memeriksanya pada beberapa tahun sebelumnya. Tidak ada sakit yang lain, hanya demam itu, dan setelah berobat ke dokter, biasa sakit panasnya, segera sembuh dan biasa kembali lincah bermain dengan teman-temannya.

Memang pernah ada kecurigaan dan kekhawatiran dalam hati saya, jangan-jangan ada penyakit dalam yang berat. Tapi kecurigaan dan kekhawatiran saya itu, lambat laun hilang, karena melihat keadaan dia yang kian hari semakin lincah bermain dan tidak menunjukkan tanda-tanda ada penyakit lain selain demam tipes seperti yang dijelaskan dokter. Ketika di SD, memang saya hanya membawa dia ke dokter umum, karena pada kala itu di daerah kami belum ada dokter spesialis penyakit dalam. Barulah pada akhir -akhir dia di sekolah dasar, yakni pada saat dia kelas 5 dan kelas 6, ada dokter spesialis penyakit dalam. Saya coba bawa dia ke dokter itu dan pada saat itu, dokter mengatakan bahwa yang diderita oleh anak saya adalah penyakit hepatitis.

Karena pada saat itu, wawasan saya tentang hepatitis ini masih bleng alias awam, maka saya pun menanyakan pada dokter, sebenarnya hepatitis itu penyakit apa dokter? dokter bilang bahwa hepatitis itu kalau istilah yang umum dikenal masyarakat kita, adalah penyakit kuning. Dalam hati saya berkata, kalau yang ini, saya sering mendengarnya, namun demikian saya masih juga awam tentang apa dan bagaimana sifat penyakit ini. Karena itu sayapun bertanya lagi pada dokter, jadi penyakit anak saya ini bisa disembuhkan atau tidak , dokter? Kata dokter pada waktu itu, “bisa , bisa disembuhkan dengan obat saya”, begitu jawab dokter pada saat itu. Tidak ada penjelasan atau nasihat dokter yang menganjurkan agar saya segera memeriksakan penyakit anak saya ke dokter/rumah sakit lain yang lebih tinggi misalnya di provinsi. Karena itu, sayapun yakin kalau penyakit anak saya akan bisa sembuh di tangan dokter spesialis itu.

Di pertengahan tahun 2007, dia tamat sekolah dasar, dan saya melanjutkan sekolahnya di SMP negeri 1 Dompu, yang merupakan SMP favorit di daerah kami. Di sanapun (di SMP negeri 1 Dompu) dia masih dipakai oleh sekolahnya dalam berbagi kegiatan lomba terutama untuk memperkuat tim lomba gerak jalan dan upacara bendera. Hari demi hari waktu terus berlau, dia pun sudah hampir naik ke kelas yang lebih tinggi yaitu kelas 2. Pada kala itulah, saya melihat kondisi kesehatannya terus menurun. Pakaian seragam sekolahnya yang selama ini pas dengan badannya, sekarang sudah mulai longgar, karena badannya mulai kurus karena asupan makanan sudah tak bisa banyak lagi akibat terganjal oleh kanker.

Ternyata, stadium penyakitnya pada saat itu sudah berada pada stadium lanjut, dan segera saya putuskan untuk membawa ke Mataram tepatnya di Rumah Sakit Bio-Medika Mataram. Di sana, diketahui setelah melalui pemeriksaan darah dan USG, ternyata penyakitnya sudah berubah nama, yaitu menjadi Hepatoma atau biasa dikenal dengan kanker hati, yang tingkat keparahannya sudah mencapai 80 %. Namun, sebelum semua itu menjadi jelas, yaitu pada saat saya bersama dia menunggu giliran dipanggil oleh dokter, dia sempat memberi tahu saya, kalau di perut bagian ulu hatinya mengeras dan membengkak. Saya kaget dan penasaran, lalu saya coba meraba di bagian tubuh yang dikatakannya, dan ternyata memang ada benjolan besar sekira buah mangga. Lalu dengan nafas sesak karena terkejut, saya tanya dia, kenapa tidak bilang papa sejak dulu nak? Dia menjawab, tidak tau papa. Di saat itu pula, dokter memanggil, dan kami berduapun masuk. Setelah saya memberi tahu dokter tentang maksud kami, lalu dokter menyuruh dia tidur telentang di ranjang.

Di saat itulah pertama kali saya melihat dan mengetahui bahwa sebenarnya penyakit anak saya sudah sangat parah. Setelah melihat dan memeriksa, dokter hendak memberitahu saya apa dan bagaimana status penyakit anak saya, namun untuk tidak didengar oleh anak saya, dokter meminta saya untuk berbicara berdua saja dengan saya, dan anak disuruh menunggu di luar bersama mama nya. Setelah mengantar anak ke mama nya, saya kembali lagi ke dokter. Dokter bilang, bahwa penyakit anak saya sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk bisa disembuhkan. Mendengar perkataan dokter itu, saya merasa seperti disambar petir, dunia seakan kiamat, karena merasa kaget, tidak percaya bercampur sedih…”cepat atau lambat dalam kurun waktu tiga bulan, anak saya akan meninggal dunia”, itu vonis dokter pada saat itu. Jadi, Bapak bersabar yah, sambil berdoa mudah-mudahan ada keajaiban. Itu saran dokter pada saya saat itu. Mendengar itu, saya pun teringat pada sebuah ungkapan :

“Anak adalah anugerah terindah. Kehilangannya membuat duka tak terperi. Namun anak kita bukan milik kita, anak hanyalah titipan dari Allah Swt Yang Maha Pencipta. Allah Swt dapat mengambilnya kapan saja Dia mau. Anak bisa menjadi ujian buat kita dan bila kita bersabar menerima ketentuan Allah Swt maka Allah Swt menyukai hamba-hamba-nya yang sabar.”

Sebenarnya, kisah ini masih cukup panjang untuk diuraikan di sini, namun untuk segmen ini saya cukupkan sampai di sini saja, dan kelanjutan kisah ini bisa anda baca di sini dengan judul “Selalu Ada Kebahagiaan Di Penghujung Kesedihan”.

SPARK OF CONTENT :

Maybe there are people who think that death no longer need to remember, but for me it’s not fair, because if so then it means we have hated him or forget him. , when the sweet memories with those we love, even so we love left just vanished from our memory. Because of what? Yes because it would be grossly unfair. And, if that’s what we do, we seem to have not love him anymore and no longer want to remember. Therefore, although I had to withstand a sense of longing and sadness, I tried reassembling the sad story six years ago in this an article. I try to assemble and bring back stories with him. Sad indeed, but I enjoyed it, enjoyed the feeling of sadness and longing that because of love, because love him. He was our beloved youngest son (Muhammad Alauddin Ramiz). He was gone. Approximately 13 years we have been together in a very happy family, at least on my thought, before he left us for ever. I myself among those who feel at home happy hanging out with them, eating together, traveling together, just be together. Naturally, as a father who just had a son the only one, I become so protective of him. I write this article and also a poem to remember him.

Sabar Adalah Karunia Terindah

imageedit_10_2887677930

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa, “Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” Hal ini bisa terjadi karena pada diri orang tersebut ada karunia yang amat berharga dari Allah shubhanahu wata’ala, yaitu sabar. Jadi di sini yang memegang peranan penting adalah sabar. Karena hanya dengan kesabaranlah kita dapat mengendalikan diri kita dalam situasi yang menekan (stressful situation). Kesabaran menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang silih berganti.

Meski terkadang pahit dan getir dalam menjalaninya, namun satu hal yang menyemangati kita untuk terus bersabar adalah buah manis dari kesabaran itu sendiri. Amat disayangkan jika kita tidak dapat meraihnya, karena Allah Swt telah berjanji akan memberikan ganjaran yang sangat besar bagi orang-orang yang bersabar dalam menghadapi ujian-Nya.

Sabar adalah akhlak yang sangat mulia. Ia menjadi hiasan para Nabi untuk menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang. Berhias diri dengan sabar hanyalah akan membuahkan kebaikan.

Inilah firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu beruntung. (QS.Ali-‘Imran [3]:200).

“Bersabarlah!”

Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad  di dalam Al Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan sabar kaitannya dengan keimanan kepada Allah dan kaitannya dengan perwujudan iman tersebut dalam kehidupan dan terlebih sebagai pemikul amanat dakwah. Tentu jika anda menyambut seruan tersebut niscaya anda akan berhasil sebagaimana berhasilnya Rasulullah, keberhasilan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Al Ahqaf: 35)

Sabarnya Ulul ‘Azmi

Siapakah yang dimaksud oleh Allah dengan ulul ‘azmi yang kita diperintahkan untuk mencontohnya?

  1. Nabi Nuh ‘Alahi salam sebagai rasul yang pertama kali diutus ke muka bumi ini adalah salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada kaum yang pertama kali menumbuhkan akar kesyirikan di muka bumi. Tahukah anda bagaimana besar tantangan yang dihadapi? Coba anda renungkan ketika seseorang ingin mencabut sebuah pohon yang sangat besar yang akarnya telah menjalar ke segala penjuru, sungguh betapa berat pengorbanannya. Allah sendiri telah memberitahukan kepada kita dengan firman-Nya:

Dan demikianlah kami menjadikan bagi setiap para nabi seorang musuh dari syetan baik dari kalangan jin dan manusia.”(Al An’am: 112)

Yang dipilih pertama kali dari sederetan kaumnya yang menghadang dakwah beliau adalah keluarga yang paling dekat anak dan isterinya. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, beliau dengan kesabaran bisa meraih kemenangan di dunia dan di akhirat. Allah mengatakan tentang beliau:

Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” ( Al Isra’: 3)

  1. Nabi Ibrahim  sebagai bapak orang-orang yang bertauhid juga sebagai salah satu ulul ‘azmi. Mendobrak keangkaramurkaan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri dan kaumnya yang dipimpin oleh seorang raja yang dzalim.Bagaimanakah perasaan anda jika anda diusir dari belaian kasih sayang dan perlindungan bapak anda? Bapaknya yang dipilih oleh Allah untuk menghadang dakwah beliau yang berada di bawah cengkeraman raja yang mengaku diri sebagai tuhan. Dia harus menelan pil pahit angkara murka kaumnya yang dengan tega melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat. Namun apakah yang mereka bisa perbuat terhadap jasad beliau? Sia-sialah perbuatan mereka.

Di sisi lain beliau harus juga menerima ujian yang lebih pahit yaitu amanat dari Allah untuk menyembelih putra yang disayangi dan diharapkan sebagai calon penerusnya.

Bisakah anda membayangkan hal yang demikian itu? Kesabaranlah yang menyelamatkan dari semua ujian dan cobaan yang menimpa beliau.

  1. Nabi Musa dan ‘Isa adalah dua rasul yang diutus kepada Bani Israil dan sekaligus sebagai ulul ‘azmi. Tantangan yang dihadapi beliau berdua, tentu tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan para rasul Allah. Siapa yang tidak mengenal Fir’aun si raja kufur yang menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, raja tak berperikemanusiaan yang membunuh anak-anak yang menurutnya akan bisa menggoyahkan tahta kekuasaannya. Kesabaranlah yang menjadi kuncinya sehingga beliau berdua dibebaskan dari segala bentuk tantangan dan ujian yang sangat dahsyat.
  2. Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dan imam para rasul juga termasuk salah satu dari ulul ‘azmi. Yang diutus kepada semua umat yang berada di atas dekadensi moral, kejahiliyahan dan keberingasan. Tentu tantangan yang beliau hadapi tidak kalah hebat dengan para rasul pendahulu beliau. Para rasul pendahulu beliau hanya diutus kepada kaum tertentu sedangkan beliau diutus kepada seluruh umat. Ini menggambarkan betapa besar tantangan yang beliau harus hadapi. Allah memilih keluarga beliau yang paling dekat menjadi penjegal perjalanan dakwah beliau. Mereka tidak berbeda dengan kaum sebelumnya dalam memusuhi para rasul Allah. Kesabaranlah yang menjadi kunci semua perjuangan beliau.

Anda pasti menginginkan keberhasilan dalam setiap usaha yang anda lakukan. Maka dari itu jadikanlah seluruh para Nabi dan Rasul Allah sebagai suri tauladan anda dalam kesabaran sehingga anda akan mendapatkan keberhasilan seperti apa yang mereka telah dapatkan.

Abdurrahman As Sa’di mengatakan di dalam tafsir beliau: “Dan adapun orang yang telah diberikan taufiq oleh Allah untuk bersabar ketika ditimpa ujian lalu dia menahan dirinya untuk tidak benci terhadap ketentuan tersebut baik dengan ucapan dan perbuatan dan berharap pahala dari Allah dan dia mengetahui bahwa apa yang dia dapatkan dari pahala karena kesabaran tersebut atas musibah yang menimpanya, bahkan baginya ujian itu menjadi nikmat karena telah menjadi jalan terwujudnya sesuatu yang lebih baik, maka sungguh dia telah melaksanakan perintah Allah dan berhasil meraih ganjaran yang besar dari sisi-Nya.”

Kemalangan yang menimpa kita, misalnya kerupa kehilangan orang-orang yang amat kita cintai, kehilangan harta benda yang telah lama dan dengan susah payah kita kumpulkan, ketika tubuh kita yang sebelumnya sehat dan kuat harus terbaring lemah tanpa daya. Apa yang harus dilakukan? Pasrah tanpa usaha, berputus asa, merasa kecewa dan jengkel kepada Allah, kemudian menjauhkan diri dari-Nya? Tidak, tapi tetaplah kita bersabar dan terus berusaha untuk keluar dari kesulitan itu.

Tetap bersabar dan menerima semua ketentuan Allah Swt dan semakin taqarrub kepada Allah, sambil terus berusaha dan berdoa hingga Allah Swt mengabulkan doa dan memberikan pertolongan-Nya. Dengan merapat kepada Yang Maha Perkasa, maka kita akan menjadi semakin kuat.

Allah Swt menjanjikan dalam firman-Nya, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah [94]:5-6) Bila bersabar, kita akan menjadi orang yang kuat, meski bukan kuat secara fisik, tetapi kesabaran menjadikan kuat dalam menghadapi segala ketentuan Allah Swt. Dengan bekal kesabaran, kita akan kuat bertahan dalam menjalani hidup yang tidak selamanya mulus.

Jangan sampai kesulitan membuat kita berpaling dari Allah Swt, justru sebaliknya membuat kita semakin merapatkan diri kepada Allah Swt. Sesungguhnya kesabaran itu dibutuhkan pada saat awal kejadian yang menimpa kita agar perlindungan Allah Swt selalu menyertai kita dan roda kehidupan tetap dapat berjalan pada jalur yang benar dan di diridhoi oleh Allah Swt. Tetaplah percaya, bahwa Allah Swt sangat mencintai dan mengasihi hamba-Nya dan mustahil Ia memberikan ujian dan cobaan yang melebihi kadar kesanggupan hamba-Nya. Jadi, sepahit apapun ujian dan cobaan yang dialami, dengan bekal kesabaran, kita akan kuat dan mampu menghadapinya, karena Allah Swt selalu bersama orang-orang yang sabar. Innallaha ma’ashshaabiriin. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

PERCIKAN :

Limitations of the circumstances that exist in ourselves, material or physical is not a barrier to doing good deeds. If we accept this provision patiently then Allah will continue to provide guidance and mercy. With guidance from Allah the narrow path became widespread, it is difficult becomes easy and the darkness was lit up. Satan is upset not to play when looking at the man began to find the light of truth. Instantly they launched various actions to turn us from the straight path. Only those who know Allah, have a strong faith with patience thick to be saved from the trap of the devil. Faith and patience to make a weak man become mighty. Cruel torment, all scorn, and offer worldly possessions do not mean anything because the pleasures of heaven is waiting for these holy souls.

Munajat Tak Pernah Putus

Oleh: M.Anis Matta

imageedit_51_9447566304
Pixabay.com

Beginilah sang musafir, bila mulai terbangun dari tidur panjangnya. Ia mulai membersihkan wajahnya dengan wudhu dan menjalani hari-harinya dengan menujat yang tak pernah putus. Hatinya telah terbang tinggi ke langit dan terpaut di sana. Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat lain dalam bumi, hatinya bercengkerama di ketinggian langit.

Kini, sang Musafir telah menyadari bahwa doa bukanlah pekerjaan sederhana. Doa bukanlah kumpulan kata yang kering. Doa bukanlah harapan yang dingin. Doa bukanlah sekadar menengadahkan kedua tangan ke langit.

Tidak! Kini, sang musafir menyesali mengapa ia terlambat memahami makna dan hakikat doa. Ternyata doa adalah “surat” dari sang jiwa yang senantiasa terpaut pada langit. Doa adalah rindu kepada Allah yang tak pernah selesai. Maka, setiap kata dalam doa adalah gelombang jiwa yang getarannya niscaya terdengar ke semua lapisan langit. Di sini, tiada tempat bagi kepura-puraan. Di sini, tak ada ruang bagi kebohongan. Begitulah jiwa sang musafir, terus berlari ke perhentian terakhir, ketika raganya masih berada dalam gerbong kereta waktu. Dengarlah munajat sang musafir. “Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan menyembah-Mu dengan cara yang baik.” (h.r. Abu Dawud dari Muadz bin Jabal)-

Ijinkan Aku Bercerita

Oleh : Ar Syamsuddin

4824771251_ffaf803327_z

Amy, pada puisi ini ijinkan aku bercerita. Bercerita tentang kelabunya awan yang mengiringi kepergianmu. Atau gerimis yang membasahi batu nisanmu. Pohon kamboja yang mulai meranggas dan bunga-bunga kecil yang berteduh di bawahnya. Amy, pada puisi ini aku datang menemuimu. Aku datang bukan untuk menggugat takdir kematianmu. Atau menghujat Sang Pemilik maut. Aku datang hanya untuk mengatakan. Bahwa kepergianmu adalah pelajaran penuh makna. Perjalanan panjang untuk direnungkan.

Bahwa hidup adalah pembuktian. Atau perwujudan sabar dan ikhlas. Ketika harus menjalani skenario-Nya. Amy, pada puisi ini aku kembali menemuimu. Lewat goresan pena untuk menumpahkan segala rinduku padamu. Engkau telah pergi untuk menghadap Tuhan Pencipta. Kepergian yang juga mengajariku tentang hakikat kematian. Meski kepergianmu adalah kepedihan dalam hatiku.

Amy, aku akan kembali bersama mu lewat untaian kata-kata rinduku yang tak bertepi. Kau telah pergi, dan kini kewajibanku hanya tersisa doa. Sementara kelalaian dan kehilafanku hanya menjadi tumpukan sesal. Dalam helaan nafas saat kutulis puisi ini, aku berdoa. Semoga kau bahagia bersama teman-teman sebayamu dalam belain kasih sayang Ilahi di surga.

Di balik nisan yang mengukir namamu, kau hanya diam membisu. Kepada-Nya aku memohon semoga engkau selalu bahagia. Walau kini kita tak bisa bersua, namun kau selalu di hatiku. Amy, aku tak mampu menatap tempat-tempat di mana dulu kau bermain. Tempat-tempat di mana dulu kau bersekolah. Tempat-tempat di mana dulu kau kuantar untuk berobat. Bahkan, aku tak sanggup menatap jasadmu memasuki liang lahat. Langit mendung, meredup turut berduka. Riuh rendah orang-orang bercerita tentang kisah-kisah hidup mu. Walau masa hidupmu tak sepanjang kami merindukanmu.

Dompu, 17 Mei 2013

!

Bait-Bait Rindu

Oleh : Ar Syamsuddin

3708039769_52e531968b_m
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Hai Amy, sudah sekian lama kita tak bersama, apa kabar kau di sana? Amy, apa kau ingat hari apa ini ? Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke 15 (semestinya). Atau hari ulang tahun kepergianmu yang ke -2. Pada hari ini aku menemuimu kembali lewat goresan pena. Pena yang senatiasa mengukir setiap bait rinduku padamu. Amy, apa kau merasakan hembusan angin yang membawa seribu pesan rinduku untukmu?.

Apa kau melihat ribuan bintang yang melukiskan betapa besar kerinduanku padamu. Amy, masih terbayang tatapan lembut matamu. Dalam bingkai yang mengangtarku ke masa lalu. Melintas bayang ke saat itu. Saat kau terbaring lemah namun kau sabar menghadapi lara. Meski dengan nafas yang tersisa. Duka yang kau simpan, lebur dalam senyuman.

Kau yang tegar melawan pilu. Meski maut menantimu. Melewati detik demi detik yang menghantam harapan. Katika jerit tangis menjadi irama yang akan mengiringi kepergianmu. Hari ini, mata kembali tak dapat membendung linangannya. Selaras detik demi detik berjalan. Sejalan dengan menit demi menit yang terus berlalu. Seiring dengan jam demi jam yang terus bergulir. Seirama dengan waktu yang terus menampakkan kekejamannya.

Tanpa terasa, sudah hampir tiga tahun berlalu semenjak kepergianmu. Hari-hariku terasa begitu sepi dan hampa. Dan, hatiku masih sangat merindukanmu. Kata-katamu di hari-hari menjelang kepergianmu masih terngiang. Terayun lemah tanganmu menggapai dan merangkul tubuhku. Kau hendak berkata, “Maafkan Amy Papa”. Dan itu sudah terucap sayang. Aku membalas ucapanmu, ” Papa memaafkanmu Amy. Tapi kau belum ada dosa sayang”.

Saat itu, jiwaku menjerit. Hatiku hancur terkeping-keping. Aku sadar, saat-saat yang menakutkan itu akan segera tiba. Dan, Innalillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Aku membimbing roh mu dengan kalimat Laa ilaha illallah…Amy selamat jalan sayang. Selamat jalan anakku. Berbahagialah engkau di sisi Tuhanmu. Nafas rindu dan doa papa menyertaimu. Meski kau tidak lagi berada di sini, tapi di hatiku kau tak akan pernah sirna…Baca juga puisi ini !

Dompu, 17 Mei 2010

 

Mutiara Hikmah

board-953154__340Bersyukurlah atas apa yang telah anda peroleh dalam hidup ini. Jangan terlalu merisaukan yang belum ada. Karena tidak akan pernah ada yang bisa menghentikan keinginan anda. @arsyam’58

Hargailah orang lain, meskipun itu mungkin tidak penting bagi anda. Tetapi percayalah bahwa bagi mereka itu adalah amat berati. @arsyam’58

Lupakanlah sesuatu yang telah anda berikan kepada orang lain dan janganlah melupakan sekecil apapun pemberian mereka. @arsyam’58

Anda tidak akan bisa memperbaiki hidup anda jika tetap berada dalam kondisi yang menyandera diri anda. @arsyam’58

Terimalah apa adanya diri anda karena Tuhan telah berkehendak, yang pada saatnya anda akan mengetahui apa alasannya. @arsyam’58

Tuhan tidak melihat pada sukses atau gagalnya apa yang anda usahakan, tetapi Dia hanya melihat pada niat dan kontinuitas serta kesungguhan anda. @arsyam’58

Jangan pernah mengorbankan kebahagian anda yang langgeng dan abadi, hanya karena bujukan kesenangan semu kehidupan dunia yang akan segera berlalu. @arsyam’58

Berdzikir dan berdoalah kepada-Nya sebagai tanda rasa syukur atas segala pemberian Tuhan, bukan hanya pada saat anda membutuhkan-Nya. @arsyam’58

Jika anda tidak bisa atau sulit untuk menghargai orang lain, maka bayangkanlah apa yang akan terjadi pada anda tanpa mereka. @arsyam’58

Kegagalan tidak selalu karena faktor kesalahan, tetapi mungkin itulah yang terbaik yang bisa anda lakukan. Kesalahan yang sesungguhnya adalah apabila anda berhenti berusaha. @arsyam’58

Janganlah anda kafir atau berhenti beriman karena tidak bisa melihat Tuhan, karena nyatanya anda masih terus bisa bernafas meskipun anda tidak bisa melihat udara. @arsyam’58

Hidup ini terlalu singkat untuk menunda atau menyembunyikan perasaan-perasaan anda, karena itu janganlah takut dan nyatakanlah apa yang anda rasakan itu sekarang juga. @arsyam’58

Kebahagiaan itu bukanlah karena anda memperoleh apa yang anda inginkan sepanjang waktu, tetapi karena anda menerima dan mensyukuri pemberian Tuhan. @arsyam’58

Adalah sulit untuk menunggu sesuatu yang anda tahu itu tidak terlalu penting bagi anda, tetapi akan lebih sulit lagi untuk tidak menunggu sesuatu yang sangat berarti bagi anda. @arsyam’58