Minyak Kayu Putih di Bulan Puasa

asparagus-2169305__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dulu ada pengalaman lucu yang kami alami di bulan puasa. Waktu itu kami berlima tinggal di sebuah kontrakan sederhana milik orang Betawi di wilayah Kelurahan Cilandak Jakarta Selatan. Kami berlima masih bujangan semua, biasa kalau urusan belanja keperluan dapur kami sudah tak aneh kalau pergi ke pasar Mede untuk sekedar beli sayur dan segala macam bumbu masaknya. Apalagi di bulan puasa kami berlima tetap konsekuen melaksanakan perintah agama untuk berpuasa, apapun kondisinya.

Di antara kami berlima tentu ada salah seorang yang kami anggap sebagai yang kami tuakan/senior yaitu abang kami, dia sudah bekerja sebagai pegawai negeri guru di sebuah sekolah dasar (SD) dan SMP di wilayah kelurahan Cilandak. Beliaulah yang dulu mengajak kami ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah dan alhamdulillah kami berlima bisa menyelesaikan sekolah sampai SMA dan bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri di beberapa instansi yang berbeda. Beliau meninggal dunia sekitar tahun 1998, semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, amien.

Kita kembali saja ke fokus, ceritanya di meja dapur ada sederetan botol yang tersimpan di situ ada botol minyak kelapa/goreng, ada botol minyak tanah dan juga ada botol minyak kayu putih. Nah, bagaimana ceritanya sampai bisa lucu. Begini, ketika waktu bangun untuk mempersiapkan santap sahur, waktunya sudah mauh imsyak makanya saya bersama seorang teman sebut saja A buru-buru mulai memasak nasi, waktu itu hidup masih prihatin jadi harus masak nasi pake kompor belum punya rice cooker yang praktis.

Kemudian sambil memasak nasi saya langsung memasak sayur/tumisan kangkung yang sudah tersedia dan dibersihkan oleh teman tadi. Saya ambil penggorengan lalu saya tuangkan minyak goreng ke penggorengan. Tak lama setelah kangkung dibolak-balik akhirnya tumisan pun matang. Lalu dilanjutkan dengan memasak/menggoreng ikan, rupanya masih menggunakan minyak di botol yang sama tapi tak kusadari juga kalau itu minyak kayu putih. Mungkin karena hidung belum normal daya menciumnya karena masih setengah ngantuk. Singkat cerita semua masakan sudah siap beres semua tersaji di atas meja makan.

Kini tiba giliran saya membangunkan kakak untuk bersama-sama makan sahur. Kakakpun bangun, dan kami berlima pun sudah berada di meja siap untuk santap sahur bersama. Setelah sejenak berdoa, Bismillah…kami mulai menyantap hidangan yang ada. Anehnya tak ada satupun di antara kami berlima yang merasakan adanya keanehan. Kamipun terus melanjutkan makan hingga selesai. Tak ada di antara kami yang mencium bau minyak kayu putih dalam masakan malam itu. Kami semua fokus menikmati masakan santap sahur yang alhamdilillah cukup enak, tak tercium sedikitpun rasa ataupun bau minyak kayu putih malam itu.

Sayangnya, kenapa setelah kami selesai makan barulah sedikit demi sedikit aroma itu terasa begitu kuat menyengat hidung kami, sehingga membuat kami penasaran. Dan, akhirnya ternyata setelah dicek kembali ke sisa tumisan kangkung dan juga gorengan ikan yang masih tersisa di piring, barulah ketahuan bahwa minyak kayu putih lah sebenarnya yang saya pake sebagai minyak goreng kami malam itu, subhanallah.

Itulah saudara, sekelumit kisah masa lalu saya di Jakarta bersama Almarhum abang saya juga teman-teman serta adik-adiknya di perantauan. Sungguh aneh dan lucu kisahnya, tapi dengan meninjau kembali cerita ini saya jadi bisa mengingat kembali perjalanan hidup saya bersama mereka yang penuh dengan suka dan duka.

 

Advertisements

Catatan Selayang Pandang 2017

061324300_1480648520-20161202-Aksi-Damai-2-Desember-Jakarta-Monas-FP2 (1)
Sumber gambar : Di sini

Bismillaahir Raahmaanir Rahiim

Sebenarnya, tulisan ini sudah agak  telat diposting alias sudah tak hangat lagi yah, mengingat kejadiannya di penghujung tahun 2016, sementara tahun 2017 sudah lewat kurang lebih tiga bulan. Namun demikian, saya merasa tidak enak di hati jika saya tidak membuat catatan untuk dikenang. Apalagi di tahun 2017 banyak peristiwa yang terjadi di negeri ini yang nyaris saja membuat kita terpecah belah sebagai satu bangsa. Apalagi kalau bukan peristiwa paling menggemparkan yang dipicu oleh kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Cahaya Purnama alias Ahok.

Kita semua tahu bahwa kasus yang satu ini begitu menarik dan menyita perhatian publik. Kasus penodaan agama ini telah menimbulkan kemarahan umat Islam di seluruh tanah air bahkan yang ada di luar negeri, yang merasa kitab sucinya dinodai dan agamanya dilecehkan. Karena itu, maka terjadilah peristiwa yang sangat menegangkan kita semua dengan digelarnya berbagai aksi protes. Aksi damai ini dilakukan karena penanganan proses hukum bagi si pelaku penista agama sangat lamban dirasakan oleh umat Islam, sehingga berbagai aksi unjuk rasa damai dilakukan oleh umat Islam bersama Ormas Islam di Jakarta.

Aksi 4 November 2016 disebut juga Aksi Bela Al-Qur’an atau Aksi Damai 4 November (Aksi Damai 411) terjadi pada 4 November 2016 ketika demonstran berjumlah antara 50.000–200.000 turun ke jalan-jalan di Jakarta untuk memprotes pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (atau yang dikenal sebagai “Ahok”) yang dianggap menghina agama Islam. (wikipedia.com)

Ada dua aksi damai yang digelar umat Islam pada waktu itu, yaitu ada Aksi Damai 411 alias 4 November 2016 dan Aksi Damai 212 alias 2 Desember 2016. Meski kedua aksi damai ini masih di tahun 2016, tapi gaungnya masih terasa hingga sekarang di tahun 2017. Mengacu pada berita Liputan6.com ada perbedaan antara Aksi Damai 411 dengan Aksi Damai 212. Aksi damai 212 telah berlangsung damai di silang monas Jakarta Pusat. Jutaan orang tumpah ruah memadati kawasan monumen nasional yang menjadi icon ibu kota itu. Namun aksi kali ini berakhir dengan tertib dan damai.

Jika dibandingkan dengan aksi sebelumnya pada 4 November 2016, banyak perbedaannya, misalnya pada aksi Bela Islam jilid II berakhir ricuh, tapi pasti yang membuat ricuh bukan peserta demo akan tetapi provokator yang mencoba mengacaukan aksi damai menjadi sebuah konflik, sementara pada aksi damai jum’at itu berakhir dengan tertib. Ini sesuai julukannya sebagai aksi super damai yang menakjubkan karena melibatkan jutaan orang, (jumlah pastinya saya tidak tahu).

Yang lebih menggembirakan lagi pada aksi damai 212 ini presiden Jokowi turun menemui para pendemo, sementara pada aksi 411 presiden Jokowi tidak menemui para pengunjuk rasa karena alasan menghadiri acara peninjauan proyek. Saat peserta melakukan demonstrasi di depan Istana Merdeka, Joko Widodo tidak ada di dalam Istana. Ia pergi meninjau proyek hanggar pesawat dan kereta Bandara Soekarno Hatta. Ah… entahlah, saya tidak tahu apa yang ada di benaknya presiden Jokowi sehingga tidak mau menemui para pendemo yang sungguh sangat ingin menyampaikan aspirasinya pada beliau.

Sebelum aksi damai 212 berlangsung, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) sempat merencanakan aksi akan digelar di sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin termasuk menggelar sholat Juma’at.

Polda Metro Jaya bersama GNPF-MUI akhirnya sepakat aksi damai digelar di Monas. Larangan tersebut berkaitan dengan kepentingan umum dan merugikan orang banyak. Jika aksi damai 411 ada sedikit ricuh di saat-saat akhir, aksi damai 212 berlangsung super damai. Dan kedua aksi damai ini terkait kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok, yang kali ini hanya diisi dengan orasi dan doa bersama atau istighosah. Setelah sholat Jum’at massa langsung membubarkan diri dengan tertib hingga pada pukul 17.00 WIB. Lalu lintas di kawasan itu berjalan normal.

Jakarta (SI Online) –  Islam kembali melakukan aksi unjuk rasa yang dikenal dengan Aksi 313 di kawasan Patung Kuda, JL MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (31/3/2017). Massa kembali menuntut kepada aparat penegak hukum (kepolisian) agar segera menahan tersangka penista agama yakni Ahok yang masih menjadi Gubernur DKI Jakarta non aktif. (Suara-Islam.com)

Untuk itu tuntutan umat Islam hanya satu yakni segera copot dan penjarakan Ahok selaku penista agama. Ia meminta agar pemerintah melalui Mendagri Tjahjo Kumolo segera mencopot Ahok. Demikian juga pihak kepolisian sebagai kepanjangan tangan presiden untuk segera menangkap dan memenajarakan Ahok. (Suara-Islam.com).

Aksi_313_b.jpg
Gambar : Di sini

Meski saya tidak terjun langsung di lapangan dan hanya menonton di TV namun atmosfir dari dua aksi damai itu, betul betul membuat hati saya berharap-harap cemas, jangan sampai ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memprovokasi massa yang begitu banyak. Tapi alhamdulillah Allah Swt tidak ngantuk dan tidak tidur, Dia senantiasa bersama saudara-saudara kita yang hatinya ikhlas hanya menuntut keadilan atas sebuah pelanggaran hukum, bukan yang lain.

Pada tanggal 5 Mei 2017 puluhan ribu umat Islam yang akan mengikuti Aksi 505 di depan Mahkamah Agung, akhirnya bertahan di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sedianya, usai mengikuti shalat Jumat mereka hendak long march ke depan Gedung Mahkamah Agung RI untuk menuntut keadilan dalam kasus penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta Ahok.

Pantauan di lapangan, usai menunaikan shalat Jumat, puluhan ribu jamaah yang sebagian besar adalah peserta aksi damai ini, kemudian melaksanakan salat gaib untuk saudara sesama muslim mereka yang telah meninggal dunia. Setelah itu, mereka terlihat berbondong-bondong ke luar dari masjid.

Tapi tidak lama kemudian, salah seorang orator dalam aksi ini melalui pengeras suara di Masjid Istiqlal memberikan sejumlah pemberitahuan terkait aksi hari ini. Salah satunya mengimbau, agar peserta aksi menjaga kedamaian dan ketertiban selama menjalankan aksi. Selain itu, diinformasikan susunan acara dalam Aksi 505 ini.

Dalam aksi tersebut, tidak ada arahan long march ke Mahkamah Agung. Mereka hanya akan diam dan berkumpul di Masjid Istiqlal.

“Acara hari ini, setelah pembukaan penjelasan dari Ketua GNPF MUI (Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia), Ustaz Bachtiar Natsir, selanjutnya dilanjutkan dengan pengajian dan tausiyah dari Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nazarudin Umar dan Aa’ Gym,” ujar orator melalui pengeras suara.

Massa yang berada di Istiqlal, kemudian bertakbir dan bersalawat. Karena, tidak adanya long march, orator mengarahkan massa, agar tetap berkumpul di dalam dan di pelataran Masjid Istiqlal.

“Kita lakukan pengajian dan tausiyah, sambil kita tunggu utusan kita akan berangkat ke MA,” ujarnya.

Dan aksi 505 ini setelah tersampaikannya aspirasi mereka melalui perwakilannya yang diterima oleh pihak MA akhirnya membubarkan diri secara tertib dan damai tanpa adanya aksi provokasi yang bisa menimbulkan konflik yang sangat dikhawatrikan oleh banyak pihak.

Sementara itu sejumlah tokoh GNPF-MUI menuju ke Gedung MA untuk menyampaikan sikap. Mereka adalah KH Didin Hafiduddin, KH A Shobri Lubis, HM Luthfie Hakim, KH Ahmad Luthfi Fathullah, Nasrullah Nasution, Kapitra Ampera, Nasrullah Nasution, Ahmad Dolli Kurnia dan beberapa orang lagi.

Demikian catatan selayang pandang peristiwa yang terjadi di penghujung tahun 2016 itu yang hingga memasuki tahun 2017 ini, gaungnya masih kita rasakan sampai saat ini. Semoga peristiwa dan kejadian seperti ini (penodaan agama) tidak terulang lagi di masa-masa yang datang. Dan berharap ini dapat kita jadikan pelajaran berharga agar semua pihak bisa saling menghormati agama dan keyakinan masing-masing demi kerukunan bersama di antara kita semua anak bangsa, amien..

Referensi :

1. news.liputan6.com

2. wikipedia.com

3. Suara-Islam.com

Kisah Para Pemuda Penghuni Gua yang Hidup Selama 309 Tahun

amazing-736877__340
Pixabay.com

Kisah paling kesohor se dunia, khususnya di kalangan umat Islam, yaitu kisah para pemuda penghuni gua (Ashabul Kahfi) yang hidup selama 309 tahun dalam gua. Kisah ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi (18). Kisahnya sudah didokumentasikan dalam berbagai bentuk file cetak maupun audio visual dan di sini saya hanya ingin menyajikan kembali kisahnya agar bisa menjadi bahan renungan dan pelajaran bagi kita, semoga bermanfaat.

INSPIRASIKU

Kisah ini begitu kesohor. Dengan kekuasaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menidurkan sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua selama 309 tahun,kisah ini trmaktub dalam Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi. Simak kisah ini dan Apa hikmah di balik ini semua?

Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:

رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)

Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan…

View original post 1,009 more words

A Very Touching Story Of Two Orphans

child-60766__340
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pada postingan kali ini saya hadirkan satu kisah inspiratif tentang dua orang anak kecil yang baru sebulan ditinggal mati oleh ayahnya. Tidak diketahui dalam kisah ini tentang ibunya, apakah masih hidup tapi berada di tempat yang jauh, atau apakah ibunya pun sudah meninggal. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk reot peninggalan orang tuanya di sebuah perkampungan kumuh. Tak ada lagi orang lain di rumah itu selain mereka berdua. Apa yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidup mereka? Siapa atau adakah orang-orang yang melihat dan mengetahui keadaan mereka? Adakah orang-orang yang memberikan mereka makan dan minum? Jawaban nya ada pada kisah berikut ini, semoga bermanfaat.

Dunia memang aneh dan penuh dengan selimut misteri. Misteri dunia yang sungguh memang sudah menjadi rahasia Allah ini, hendaknya membuat manusia senantiasa waspada, mengontrol segala aktivitas, baik aktivitas yang positif maupun yang negatif. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari. Kadang kala, tanpa diduga dan tanpa dinyana, kita dipertemukan dengan suatu peristiwa yang membuat hati kita tersentuh, terenyuh dan tergugah lalu kemudian melakukan satu kebaikan yang lebih besar dari sebelumnya.

Peristiwa yang sempat menyentuh perasaan ini, pernah dialami oleh seorang tokoh sufi yang bernama Abdullah bin Mubarrak. Pada suatu ketika dia pergi menempuh perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji sunat. Sebab ia telah melakukan ibadah haji fardu pada tahun sebelumnya dan pada tahun ini ia melakukan ibadah haji sunat.

Dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji kali ini, ia melewati suatu perkampungan kumuh dan terpencil. Bekal yang dibawanya dalam perjalanan hajinya adalah termasuk seekor ayam, yang akan disembelihnya sewaktu-waktu apabila dirinya merasa lapar. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Karena, ketika dia melewati perkampungan kumuh itu, ayam yang dibawanya mati. Apa boleh buat, tanpa pikir panjang lagi, Abdullah bin Mubarrak segera membuang bangkai ayam ke tempat sampah yang terdekat dengan posisinya pada saat itu. Agak menyesal juga dia, mengapa ayamnya harus mati sebelum dia sempat menikmati dagingnya. Andaikata ayam itu ia sembelih dari kemarin-kemarin, pastilah dia tidak akan membuang bangkai ayam seperti ini.

Cukup lama juga ia merenung, dan di tengah-tengah renungannya, alangkah terkejutnya ia karena bangkai ayam yang baru saja dibuangnya ke tempat sampah itu langsung disambut oleh seorang anak perempuan kecil, kemudian dibawanya lari dengan sangat kencangnya. Sungguh, ia benar-benar tersentak dan kaget setengah mati. Dengan perasaan yang penuh tanda tanya Abdullah bin Mubarrak segera lari menyusul anak kecil itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Seperti bermain petak umpet, Abdullah bin Mubarrak berlari adu kecepatan dengan anak perempuan kecil itu. Bukannya hendak meminta kembali bangkai ayamnya yang dibawa lari, tetapi rasa ingin tahunya, untuk apakah anak itu membawa lari bangkai ayam yang baru saja dibuangnya..?

Setelah dekat dia segera memegang anak kecil itu dari belakang, lalu bertanya, “Wahai anakku sayang, apakah engkau mau memakan bangkai ayam ini?”.

Dengan bangkai ayam yang masih terpegang di tangannya, anak kecil itu menjawab, “Banar, aku akan memakannya karena sejak sebulan yang lalu bangkai dihalalkan bagi kami. Ayahku tercinta telah mati terbunuh, tak ada siapa pun di pondok ini kecuali aku dan adikku yang masih kecil. Kami berdua tidak memiliki keluarga. Untuk mendapatkan makanan, aku selalu duduk di tempat sampah itu. Jika ada orang yang melemparkan sesuatu, aku akan cepat-cepat mengambilnya, kemudian aku dan adikku makan !”

Rasa haru biru segera merambahi relung hati Abdullah bin Mubarrak, begitu mendengar penuturan anak perempuan kecil itu. Hatinya tergerak untuk membahagiakan anak kecil itu beserta adiknya dengan memberinya sedekah. Air matanya mengucur deras, karena rasa empati dan ikut merasakan betapa hebatnya penderitaan anak kecil dan adiknya dalam memperjuangkan hidup mereka yang harus tetap berlangsung. Mereka yatim piatu dan masih kecil. Tidak ada tempat untuk memperlindungkan diri mereka, kecuali gubuk reot warisan orang tua mereka. Tidak ada lagi tangan kekar ayah mereka dan tidak ada tangan lembut ibu mereka yang membelainya untuk menghapus duka laranya. Demi kelangsungan hidup dirinya sendiri dan juga adiknya yang harus tetap dipertahankan, dan demi memenuhi tuntutan perut keroncongan mereka, apa saja dimakan. Tak terkecuali sisa-sisa makan orang yang seharusnya menjadi bagian nya ulat-ulat sampah. Dan juga bangkai ayam yang bagi sebagian orang adalah haram. Yah,..hidup memang selalu diselimuti misteri tak terpecahkan akal dan pikiran manusia, kecuali dengan bimbingan iman kepada Allah Swt. Apakah kedua anak yatim piatu ini akan terus mengalami hidup yang seperti ini, ataukah dalam sekejap mereka akan mengalami hidup yang bahagia? Itu, rahasia Allah dan Dia pula yang punya kuasa dan berkehendak.

Rasa belas kasihan segera memenuhi rongga dada Abdullah bin Mubarrak. Kemudian dengan ucapan yang terbata-bata, dia berkata :”Demi Dzat yang memelihara diriku, aku akan menyedekahkan semua harta benda yang aku bawa ini, kecuali sebagian kecil saja untuk bekal pulang ke negeri ku. Akan aku sedekahkan biaya ibadah hajiku tahun ini kepada anak yatim piatu ini. Mudah-mudahan Engkau memberikan pahala ibadah haji kepada ku dan kepada kedua anak yatim piatu ini, ya Allah..!”

Dengan kemurahan hati Abdullah bin Mubarrak itu,senanglah hati kedua anak yatim-piatu ini. Dengan sedekah yang baru diterimanya, minimal ia tak usah lagi menunggui tong sampah, menanti ada orang yang melepar sesuatu, lalu diambilnya untuk dimakan bersama adik tercintanya.

Rupanya matinya ayam Abdullah bin Mubarrak, hanyalah isyarat dari Allah Ta’ala untuknya. dimana Dia hendak menunjukkan kepadanya sebuah amal yang paling utama di dunia, yakni bersedekah pada anak yatim-piatu. Dimana sedekahnya tersebut bisa memberikan kebahagiaan bagi keduanya.

Kejadian seperti ini bisa juga terjadi pada lingkungan masyarakat kita atau pada diri kita sendiri, yang hidup di zaman sekarang ini. Cuma konteksnya yang mungkin berbeda. Yang terpenting adalah intinya, yaitu menyedekahkan harta benda yang dimiliki kepada orang-orang yang membutuhkannya atau membelanjakannya di jalan Allah, adalah sifat orang-orang yang berhati mulia, berakhlak agung yang dalam hatinya telah tertanan suatu keyakinan bahwa sedekah bisa mendatangkan berbagai keajaiban hidup di dunia.

Kisah ini tidak harus membuat kita malu untuk meneteskan air mata haru dan sedih serta tidak pula harus membuat kita ragu akan balasan pahala yang akan diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala nanti di akhirat kelak, atas sedekah tulus kita kepada yatim piatu seperti mereka. Allahu a’lam.

Wassalam, semoga bermanfaat.

Dari Pemeluk Hindu Hingga Menjadi Profesor Hadits Universitas Madinah

amazing-736886__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tidak ada yang menyangka, seorang anak laki-laki yang terlahir di sebuah keluarga Hindu di kemudian hari menjadi guru hadits di Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi. Profesor Azmi merupakan orang yang istimewa. Perjalanan hidupnya mengajarkan kita bahwa kehidupan ini bagaikan roda yang berputar. Seseorang bisa di berada di putaran bawah menghadapi kesulitan. Kemudian berada di bagian atas menikmati kesuksesan. Seseorang harus berusaha menyelesaikan putaran kesulitan yang ia hadapi sampai ia berhasil membuktikan kepada dunia -dengan izin Allah-, ia mampu berkontribusi untuk peradaban.

Kesederhanaan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Karena kesederhanaan mampu menahan seorang untuk berbuat yang tidak semestinya ia lakukan. Kesederhanaan juga menjadi perisai yang menghalangi sifat sombong. Kesederhanaan adalah kunci untuk kesalehan dan baiknya perbuatan. Kesederhanaan, sopan santun, dan kerendahan hati begitu tampak pada sosoknya.

Baca teks lengkapnya di sini.

*RAHASIA BESAR SEORANG AYAH YANG TIDAK DIKETAHUI SEORANG ANAK, BAHKAN SETIAP ANAK DI DUNIA*

Rahasia besar seorang ayah. Mengapa disebut rahasia, karena kenyataan ini memang benar-benar nyata ada, akan tetapi seringkali mungkin tidak diketahui atau tidak disadari oleh setiap orang, tetapi pasti dan terutama oleh anak-anak kita karena sifatnya hanya tersirat. Karena perhatian, kepedulian, cinta dan kasih sayang seorang ayah pada anak-anaknya biasanya tidak nampak, namun disalurkan melalui ibunya dan jarang sekali ditunjukkan langsung oleh ayah kepada anak. Mengapa ini dikatakan besar, karena kehadiran seorang ayah mempunyai pengaruh besar pada kepribadian anak-anak di dalam satu keluarga, tentunya sama sekali tanpa meremehkan peranan dan pengaruh seorang ibu. Postingan di bawah ini saya reblog dari blog teman karena menurut saya tulisan ini bagus dan mempunyai nilai edukatif, dan saya turut menyebarkannya semoga bermanfaat dan selamat mengikuti kisah berikut ini.

Ummu Yasir|Syahrul|Hasna|Khansa|Tazkiya

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh…
Bismillahirrahmanirrahim

INI ADALAH SEPENGGAL KISAH. TENTANG AYAH. KUNCI SURGA YANG KERAP KITA…LUPA

RAHASIA BESAR SEORANG AYAH YANG TIDAK DIKETAHUI SEORANG ANAK, BAHKAN SETIAP ANAK DI DUNIA

Mungkin ibuku lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibuku lah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku Sudah diberitahu, Jangan minum es!

Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis di depan ibu.
Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan…

View original post 471 more words

Mengenal Dan Memiliki Visi Ke Surga

 

imageedit_13_5735186126
Spreadthepearl.wordpress.com

Indahnya Surga! Ketika umat muslim telah mengenal surga dan memiliki visi ke surga, maka hal itu akan memberikan motivasi untuk melakukan hal-hal yang mendukung untuk tercapainya maksud tersebut, diantaranya :

Pertama, Menjadikan Allah sebagai tujuan. Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan selalu mencari ridha-Nya disetiap amal yang dilakukan.

KeduaMenjadikan Rasulullah SAW sebagai tauladan dalam semua sisi kehidupan, mengikuti dan menjalankan semua sunnahnya serta menjauhi semua bentuk bid’ah dalam ibadah.

Ketiga. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan dan petunjuk hidup. Berinteraksi dengan cara membacanya, memahami dan mengamalkannya.

Keempat. Melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar mulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Kelima. Selalu memberikan manfaat dan keselamatan kepada orang lain.

Keenam. Menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Memahami bahwa dunia adalah tempat untuk beramal. Berusaha bersungguh-sungguh untuk kerja dunia sebagaimana kesungguhan dalam beramal untuk akhirat.

Ketujuh. Selalu berusaha mencapai prestasi yang terbaik dalam semua hal. Baik dalam menuntut ilmu, bekerja, ataupun yang lainnya.

Kedelapan. Mengatur dan memanfaatkan waktu dengan benar dan teliti. Tidak memmanfaatkan waktu untuk hal-hal yang sia-sia apalagi untuk maksiat.

Kesembilan. Selalu bermuhasabah (mengoreksi diri) dengan cara mengingat apa yang dilakukan selama ini. Yang kurang baik diperbaiki dan yang sudah baik ditingkatkan lagi.

Kesepuluh. Selalu berdoa kepada Allah agar selalu mendapat petunjuk-Nya dan dianugerahkan kesudahan yang baik atau khusnul khotimah.

Visi Ke Surga

Sudah selayaknya seseorang itu memiliki visi kehidupan yang jelas. Karena visi yang jelas dapat menuntun dia untuk berusaha mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuannya. Di samping itu juga akan menjadikan seseorang lebih fokus terhadap hasil akhir tanpa mudah goyah ketika mendapat gangguan atau hambatan.

Visi adalah tujuan jangka panjang yang bersifat umum yang akan dicapai melalui perjuangan yang panjang. Ia berbeda dengan misi, karena misi lebih bersifat khusus dan perwujudannya hanya untuk mendukung visi.

Seseorang yang memiliki visi selalu melihat semua kegiatan sepanjang hidupnya sama atau sudah sesuai pada jalan yang akan membawa dirinya kepada visi atau belum. Sekiranya belum, maka ia akan segera memutar arah(hijrah) menempuh jalan yang mampu membawanya pada visi yang sudah ditargetkan.

Karena hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, sedangkan di dunia adalah tempat persinggahan untuk mengumpulkan bekal untuk dibawa ke kehidupan yang mendatang.

Ketika hidup tanpa visi maka akan memungkinkan seseorang lalai terhadap tujuan hidup itu sendiri atau pun lupa terhadap tujuan utama manusia diciptakan yakni untuk mengabdi kepada Allah swt.

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada Ku” (QS Adz Dzariyat (51) : 56).

Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa kehidupan ini mempunyai tuga fase. Pertama, adalah fase ketika manusia berada dalam rahim. Pada fase ini manusia bergantung kepada individu lain yakni ibu. Meskipun demikian sudah sempurna sebagai satu kehidupan.

Kedua, kehidupan dunia yang diawali dengan kelahiran manusia sampai pada kematiannya. Pada fase ini manusia mampu berdiri sendiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya. Ketiga, fase kehidupan setelah kematian. Pada fase ini manusia memeroleh hasil dari usahanya di fase kedua.

Pada fase pertama waktunya sangat terbatas kurang lebih hanya sembilan bulan atau pada beberapa kasus ada yang lebih cepat  dari itu. Kemudian fase kedua juga memiliki waktu yang tebatas. Tidak bisa ditentukan secara pasti, namun secara rata-rata adalah antara enam puluh sapai tujuh puluh tahun umur manusia. Tentu saja ada yang lebih dari itu namun sangat sedikit.

Dan yang kurang dari umur rata-rata juga sangat banyak. Kalau diibaratkan seperti buah kelapa. Lalu jatuhnya buah kelapa itu sebagai kematian, maka yang memiliki kemungkinan jatuh itu semestinya  kelapa yang sudah tua dan berwarna coklat. Tetapi kelapa yang muda atau yang masih bunga juga sangat berkemungkinan gugur.

Sedangkan fase kehidupan setelah kematian tidak terbatas waktunya. Dan inilah sebenarnya tempat kehidupan yang hakiki. Cuma terkadang manusia mudah melalaikan fasei ini. Padahal fase ini disediakan hanya untuk dua tempat saja, surga dan neraka. Tidak ada pilihan lain. Dan untuk menetapkan tempat yang mana manusia akan menuju, semuanya bergantung pada visi yang telah dibuat ketika di dunia dan sejauh mana usaha yang dilakukan untuk mencapainya.

Mengenal Surga

Hal yang penting untuk menumbuhkan rasa tertarik dan mencintai sesuatu adalah dengan mengenalnya. Demikian juga dengan surga. Jika ingin berusaha memasukinya sudah sepantasnya kita untuk mengenalnya. Sebagai umat yang memiliki petunjuk berupa wahyu Al Qur’an, kita dapat mengenal surga melalui apa yang disampaikan dalam wahyu.

Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menceritakan tentang surga, baik tentang keberadaan, keindahan dan kenikmatannya. Namun semuanya berupa gambaran, karena surga adalah hal ghaib. Yang tidak mungkin dilihat oleh mata, tidak mampu didengar oleh telinga dan tidak terbayangkan oleh hati dan pikiran.

Surga identik dengan keindahan dan kenikmatan. Sebagaimana fitrah manusia juga sangat mencintai keindahan dan kenikmatan, maka surga disediakan sebagai balasan bagi umat yang taat.

Keindahan dan kenikmatan surga sungguh luar biasa, hal ini bisa dipahami karena ia tidak dapat disetarakan dengan keindahan dan kenikmatan dunia yang sifatnya fana dan menipu, sementara keindahan dan kenikmatan surga bersifat kekal. Maka bagi orang yang sudah mengenal surga, baginya dunia tidak memiliki nilai apa-apa. Sebagai contoh adalah asiah istri Fir’aun, ia tidak gentar disiksa oleh Fir’aun karena ia yakin pada Allah dan mengenal surganya, maka ketika itu ia berdoa supaya dibangunkan rumah untuk nya di surga.

Segala keindahan dan kenikmatan yang terlihat di dunia akan ada di surga bahkan jauh lebih baik. Misalnya tempat tinggal, di surga telah disediakan rumah-rumah dan istana yang megah. Makan dan minuman, di surga tersedia buah-buahan dan segala minuman yang paling lezat, seperti madu dan susu bahkan minuman yang di dunia haram di surga bisa dinikmati, seperti khamara. Wanita, di surga akan ada  bidadari-bidadari cantik yang akan mendampingi manusia. Perhiasan, di surga semua peralatan makan dan minum terbuat dari emas dan perak. Pakaian, di surga akan dipakaikan pakaian yang indah dari sutera.

Puncak Kenikmatan Surga

Puncak kenikmatan surga adalah melihat wajah Allah secara langsung dan jelas (QS 75,22-23). Inilah yang paling diimpikan oleh semua umat. Dan masih banyak lagi keindahan yang lain seperti sungai-sungai yang mengalir dan pohon-pohon yang rindang. Dan surga adalah sebaik-baik  tempat di akhirat…..Itulah sebabnya, doa yang dianjurkan bagi kita adalah : “Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.”@

Demikian gambaran singkat tentang indahnya surga, semoga dapat mengispirasi dan memotivasi kita untuk terus beramal saleh dan beribadah hanya kepada Allah sebagai syarat untuk masuk surga, amien.