Mendurhakai Orang Tua

images-7
Yahoo.image

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Walaupun hanya sampai usia balita, seorang anak tidak akan mampu menghitung dan membalas jasa orang tuanya terkhusus ibunya. Jika ibunya mau, dia akan menggugurkan kandungannya ketika usia awal kehamilannya, namun tidak, dia tetap merawat  kehamilannya dengan sangat payah hingga perutnya membesar dan tidak enak dipandang. Kemudian sang ibu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, mengalirkan darah dan air mata, nafas yang hampir terputus serta 57 del rasa sakit yang mana sesungguhnya manusia hanya sanggup menerima 45 del rasa sakit. Bisa dibayangkan betapa sakitnya seorang ibu melahirkan, 57 del adalah setara sakitnya dengan 7 tulang yang patah secara bersamaan. Kemudian ibu tetap tersenyum melihat seorang bayi yang hampir membunuhnya. Seorang ibu tidak akan pernah membeda-bedakan senyumnya terhadap setiap kelahiran anaknya. Kemudian ibu memberikan darahnya melalui air susu kepada anaknya, sangat sakit dan nyeri ketika pertamakali air susu itu dihisap oleh sang anak. Sungguh tidaklah pantas dan teramat durhaka jika seorang anak merasa bisa hidup atas jerih payahnya sendiri, kemudian meniadakan peran orang tuanya apalagi ibunya.

Baca teks selanjutnya di sini

Ulama Adalah Pewaris Para Nabi

advent-1577139__340
Gambar  di sini

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa ulama adalah pewaris nabi-nabi,sebagaimana beliau bersabda berikut ini :

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu), Para ulama semakin langka, dan semakin banyak orang-orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Apa yang akan terjadi bila ulama sudah dicabut oleh Allah dengan mewafatkan mereka, siapa yang akan memberikan penjelasan dan fatwa-fatwanya tentang berbagai persoalan umat bila para ulamanya sudah tiada dan digantikan oleh orang-orang yang mengaku ulama tetapi tidak punya kompetensi sebagai ulama? Untuk jelasnya simak risalah selengkapnya berikut ini, semoga bermanfaat.

Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rahmat dan pertolongan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi muslimin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”

Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60)

Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan barakah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ

Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Kita telah mengetahui bagaimana kedudukan mereka dalam kehidupan kaum muslimin dan dalam perjalanan kaum muslimin menuju Rabb mereka. Semua ini disebabkan mereka sebagai satu-satunya pewaris para nabi sedangkan para nabi tidak mewariskan sesuatu melainkan ilmu.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Ilmu merupakan warisan para nabi dan para nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar, akan tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan ilmu tersebut, sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi tersebut. Dan engkau sekarang berada pada kurun (abad, red) ke-15, jika engkau termasuk dari ahli ilmu engkau telah mewarisi dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ini termasuk dari keutamaan-keutamaan yang paling besar.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 16)

Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Quran) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/577)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi Al-’Ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: Maknanya adalah: “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu… dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para shahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.” (Fathul Qadir, hal. 1418)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)

Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali mengatakan: “Kebijaksanaan Allah atas makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas mereka. Maka barang siapa yang mendapat hidayah maka itu wujud fadhilah (keutamaan) dari Allah dan bentuk rahmat-Nya. Barangsiapa yang menjadi tersesat, maka itu dengan keadilan Allah dan hikmah-Nya atas orang tersebut. Sungguh para pengikut nabi dan rasul menyeru pula sebagaimana seruan mereka. Mereka itulah para ulama dan orang-orang yang beramal shalih pada setiap zaman dan tempat, sebab mereka adalah pewaris ilmu para nabi dan orang-orang yang berpegang dengan sunnah-sunnah mereka. Sungguh Allah telah menegakkan hujjah melalui mereka atas setiap umat dan suatu kaum dan Allah merahmati dengan mereka suatu kaum dan umat. Mereka pantas mendapatkan pujian yang baik dari generasi yang datang sesudah mereka dan ucapan-ucapan yang penuh dengan kejujuran dan doa-doa yang barakah atas perjuangan dan pengorbanan mereka. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya atas mereka dan semoga mereka mendapatkan balasan yang lebih dan derajat yang tinggi.” (Al-Manhaj Al-Qawim fi At-Taassi bi Ar-Rasul Al-Karim hal. 15)

Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin. Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya. Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 140)

Ulama Pelita dalam Kegelapan

Waktu senantiasa mengikuti perjalanan umat manusia. Termasuk di dalamnya adalah umat Islam, yang kini telah sampai pada perjalanan yang demikian panjang. Hari demi hari, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, jarak antara mereka dengan zaman risalah semakin jauh. Jarak antara mereka dengan zaman keemasan umat ini telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Sungguh, melihat keadaan umat ini sekarang, benar-benar membuat hati pilu dan dada sesak.

Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.

Dulu, di saat ilmu agama menguasai peradaban manusia dan ulama terbaik umat memandu perjalanan hidup mereka, para pelaku kesesatan dan kebatilan seolah-olah tersembunyi di balik batu yang berada di puncak gunung dalam suasana malam yang gelap gulita. Namun ketika para penjahat agama tersebut melihat peluang, mereka pun dengan sigap memanfaatkan peluang tersebut, turun dari tempat “pertapaan” mereka dan menampilkan diri seakan-akan mereka adalah para “penasihat yang terpercaya.”

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengobrak-abrik kekuatan dan keyakinan kaum muslimin. Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan mereka. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam keterlenaan, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak, gugur dalam amukan kesesatan tersebut. Para guru dengan merasa aman menggandeng tangan murid-muridnya menuju kegagalan hidup. Sementara orang tua dengan bangga melihat anaknya berjalan di tepi jurang menuju kehancuran dan kebinasaan.

Di masa-masa sekarang ini, gambaran kebenaran menjadi kejahatan yang harus dilabrak dan dihanguskan, sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bid’ah yang harus di kubur dan dimumikan. Tauhid menjadi lambang kesyirikan yang harus ditumbangkan dengan segala cara. Situasi dan kondisi kini telah berubah. Para pengikut kebenaran menjadi asing di tengah-tengah kaum muslimin. Kebatilan menjadi Al-Haq dan Al-Haq menjadi batil, berikut terasingnya orang yang bertauhid dan mengikuti sunnah. Di sinilah letak ‘kehebatan’ para penyesat dalam mengubah kebenaran hakekat agama, sehingga kaum muslimin menjalankan agama ini bagaikan robot yang berjalan membawa anggota badannya.

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak akan membiarkan para pelaku dan penyebar kesesatan itu merusak agama dan menyesatkan mereka secara menyeluruh. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji di dalam Kitab-Nya dan di dalam Sunnah Rasul-Nya untuk menjaga agama-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْناَ الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لحَاَفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Ad-Dzikri (Al-Qur’an) dan Kami pula yang menjagannya.” (Al-Hijr: 9)

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِئُوا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُوْرِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

Mereka berkeinginan memadamkan cahaya (Agama) Allah dan Allah tetap akan menyempurnakannya walaupun orang-orang kafir itu benci.” (Ash-Shaff: 8)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk Allah menangkan atas seluruh agama.” (Ash-Shaff: 9)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada Khabbab bin Art radhiallahu ‘anhu:

وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا اْلأَمْرَ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعاَءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخاَفُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ

Demi Allah, Allah akan benar-benar menyempurnakan urusan-Nya (agama) sehingga orang yang berkendaraan dari Shan’a1 menuju Hadhramaut (Yaman) tidak takut melainkan hanya kepada Allah atau kepada serigala yang akan menerkam kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR. Al-Bukhari)

Bentuk pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap agama-Nya

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Segala puji bagi Allah, tidaklah seseorang melakukan kebid’ahan melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pemberian nikmat-Nya membangkitkan orang yang akan membongkar kebid’ahan tersebut dan akan melumatkan dengan kebenaran. Dan ini merupakan perwujudan dari firman-Nya: “Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Adz-Dzikr dan Kami pula yang akan menjaganya.” Inilah bentuk pemeliharaan Allah terhadapnya.” (Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 25)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهاَ دِيْنَهاَ

Sesungguhnya Allah akan membangkitkan di setiap awal seratus tahun orang yang akan memperbaharui agama umat ini.” (HR. Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1874)

Dari sini diketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kemurniaan agama-Nya dari rongrongan para perusak agama dengan mengangkat ulama pada tiap generasi yang akan menjadi pembimbing umat ini.

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah mengatakan: “Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit. Apabila muncul, manusia akan diterangi jalannya dan bila gelap manusia akan mengalami kebingungan.” (Tadzkiratus Sami’, hal 34)

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan: “Telah sampai kepada kami bahwa Abu Dawud adalah termasuk ulama dari ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya sehingga sebagian imam mengatakan bahwa Abu Dawud serupa dengan Ahmad bin Hanbal dalam hal bimbingan dan kewibawaan. Dalam hal ini Ahmad menyerupai Waki’, dalam hal ini pula Waki’ menyerupai Sufyan dan Sufyan menyerupai Manshur dan Manshur menyerupai Ibrahim, Ibrahim serupa dengan ‘Alqamah dan ‘Alqamah dengan Abdullah bin Mas’ud. ‘Alqamah berkata: “Ibnu Mas’ud menyerupai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bimbingan dan arahannya.” (Tadzkiratul Huffadz, 2/592, lihat Wujub Irtibath bil ‘Ulama karya Hasan bin Qashim Ar-Rimi)

Dalam setiap generasi dan jaman, Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih sejumlah orang yang dikehendaki-Nya sebagai pelita dan lentera kegelapan dan perahu dalam mangarungi lautan yang diliputi guncangan ombak dahsyat sebagai tali penghubung antara diri-Nya dengan para hamba-Nya. Sebagai penunjuk jalan dan pemandu dalam perjalanan setiap insan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka adalah ulama.

Kedudukan Ulama

Permbahasan ulama, kedudukan mereka dalam agama berikut di hadapan umat, merupakan permasalahan yang menjadi bagian dari agama. Mereka adalah orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabbnya, agama dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sederetan orang yang akan menuntun umat kepada cinta dan ridha Allah, menuju jalan yang dirahmati yaitu jalan yang lurus. Oleh karena itu ketika seseorang melepaskan diri dari mereka berarti dia telah melepaskan dan memutuskan tali yang kokoh dengan Rabbnya, agama dan Rasul-Nya. Ini semua merupakan malapetaka yang dahsyat yang akan menimpa individu ataupun sekelompok orang Islam. Berarti siapapun atau kelompok mapapun yang mengesampingkan ulama pasti akan tersesat jalannya dan akan binasa.

Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah dalam muqaddimah kitab Akhlaq Al-Ulama mengatakan: “Amma ba’du, sesungguhnya Allah dengan nama-nama-Nya yang Maha Suci telah mengkhususkan beberapa orang dari makhluk yang dicintai-Nya lalu menunjuki mereka kepada keimanan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memilih dari seluruh orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang dicintai-Nya dan setelah itu memberikan keutamaan atas mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, mengajarkan kepada mereka ilmu agama dan tafsir Al-Qur’an yang jelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala utamakan mereka di atas seluruh orang-orang yang beriman pada setiap jaman dan tempat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat mereka dengan ilmu, menghiasi mereka dengan sikap kelemahlembutan. Dengan keberadaan mereka, diketahui yang halal dan haram, yang hak dan yang batil, yang mendatangkan mudharat dari yang mendatangkan manfaat, yang baik dan yang jelek. Keutamaan mereka besar, kedudukan mereka mulia. Mereka adalah pewaris para nabi dan pemimpin para wali. Semua ikan yang ada di lautan memintakan ampun buat mereka, malaikat dengan sayap-sayapnya menaungi mereka dan tunduk. Para ulama pada hari kiamat akan memberikan syafa’at setelah para Nabi, majelis-majelis mereka penuh dengan ilmu dan dengan amal-amal mereka menegur orang-orang yang lalai.

Mereka lebih utama dari ahli ibadah dan lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang zuhud. Hidup mereka merupakan harta ghanimah bagi umat dan mati mereka merupakan musibah. Mereka mengingatkan orang-orang yang lalai, mengajarkan orang-orang yang jahil. Tidak pernah terlintas bahwa mereka akan melakukan kerusakan dan tidak ada kekhawatiran mereka akan membawa menuju kebinasaan. Dengan kebagusan adab mereka, orang-orang yang bermaksiat terdorong untuk menjadi orang yang taat. Dan dengan nasihat mereka, para pelaku dosa bertaubat.

Seluruh makhluk butuh kepada ilmu mereka. Orang yang menyelisihi ucapan mereka adalah penentang, ketaatan kepada mereka atas seluruh makhluk adalah wajib dan bermaksiat kepada mereka adalah haram. Barangsiapa yang mentaati mereka akan mendapatkan petunjuk, dan barang siapa yang memaksiati mereka akan sesat. Dalam perkara-perkara yang rancu, ucapan para ulama merupakan landasan mereka berbuat. Dan kepada pendapat mereka akan dikembalikan segala bentuk perkara yang menimpa pemimpin-pemimpin kaum muslimin terhadap sebuah hukum yang tidak mereka ketahui. Maka dengan ucapan ulama pula mereka berbuat dan kepada pendapat ulama mereka kembali.

Segala perkara yang menimpa para hakim umat Islam maka dengan hukum para ulama-lah mereka berhukum, dan kepada ulama-lah merekalah kembali. Para ulama adalah lentera hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, lambang2 sebuah negara, lambang kekokohan umat, sumber ilmu dan hikmah, serta mereka adalah musuh syaithan. Dengan ulama akan menjadikan hidupnya hati para ahli haq dan matinya hati para penyeleweng. Keberadaan mereka di muka bumi bagaikan bintang-bintang di langit yang akan bisa menerangi dan dipakai untuk menunjuki jalan dalam kegelapan di daratan dan di lautan. Ketika bintang-bintang itu redup (tidak muncul), mereka (umat) kebingungan. Dan bila muncul, mereka (bisa) melihat jalan dalam kegelapan.”

Dari ucapan Al-Imam Al-Ajurri di atas jelas bagaimana kedudukan ulama dalam agama dan butuhnya umat kepada mereka serta betapa besar bahayanya meninggalkan mereka.

Dalil-dalil tentang keutamaan ilmu dan ulama

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ

Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu ke beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “(Kedudukan) ulama berada di atas orang-orang yang beriman sampai 100 derajat, jarak antara satu derajat dengan yang lain seratus tahun.” (Tadzkiratus Sami’, hal. 27)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِصْطِ

Allah telah mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia dan para malaikat dan orang yang berilmu (ikut mempersaksikan) dengan penuh keadilan.” (Ali ‘Imran: 18)

Al-Imam Badruddin rahimahullah berkata: “Allah memulai dengan dirinya (dalam persaksian), lalu malaikat-malaikat-Nya, lalu orang-orang yang berilmu. Cukuplah hal ini sebagai bentuk kemuliaan, keutamaan, keagungan dan kebaikan (buat mereka).” (Tadzkiratus Sami’, hal 27)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang keutamaan ilmu dan ulama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka secara khusus dari manusia lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan persaksian mereka dengan persaksian diri-Nya dan malaikat-malaikat-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan persaksian mereka (ulama) sebagai bukti besar tentang ketauhidan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agama, dan balasan-Nya. Dan wajib atas setiap makhluk menerima persaksian yang penuh keadilan dan kejujuran ini. Dan dalam kandungan ayat ini pula terdapat pujian kepada mereka (ulama) bahwa makhluk harus mengikuti mereka dan mereka (para ulama) adalah imam-imam yang harus diikuti. Semua ini menunjukkan keutamaan, kemuliaan dan ketinggian derajat mereka, sebuah derajat yang tidak bisa diukur.” (Tafsir As-Sa’di, hal 103).

Al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Di dalam ayat ini ada dalil tentang keutamaan ilmu dan kemuliaan ulama. Maka jika ada yang lebih mulia dari mereka, niscaya Allah akan menggandengkan nama mereka dengan nama–Nya dan nama malaikat-malaikat-Nya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan nama ulama.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2/27)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ

Katakan (wahai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” (Az-Zumar: 9)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan unsur kesamaan antara ulama dengan selain mereka sebagaimana Allah menafikan unsur kesamaan antara penduduk surga dan penduduk neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakan, tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” (Az-Zumar: 9), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Tidak akan sama antara penduduk neraka dan penduduk surga.” (Al-Hasyr: 20). Ini menunjukkan tingginya keutamaan ulama dan kemuliaan mereka.” (Miftah Dar As-Sa’adah, 1/221)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

Maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir (ahlinya/ ilmu) jika kalian tidak mengetahui.” (An-Naml: 43)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mengetahui untuk kembali kepada mereka (ulama) dalam segala hal. Dan dalam kandungan ayat ini, terdapat pujian terhadap ulama dan rekomendasi untuk mereka dari sisi di mana Allah memerintahkan untuk bertanya kepada mereka.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 394)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ

Dan tidak ada yang mengetahuinya (perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh Allah) melainkan orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Melainkan orang-orang yang berilmu secara benar di mana ilmunya sampai ke lubuk hatinya.” (Tafsir As-Sa’di, hal 581)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمآءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya aku mengira bahwa terlupakannya ilmu karena dosa, kesalahan yang dilakukan. Dan orang alim itu adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hal. 28)

Abdurrazaq mengatakan: “Aku tidak melihat seseorang yang lebih bagus shalatnya dari Ibnu Juraij. Dan ketika melihatnya, aku mengetahui bahwa dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hal 28)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa mereka (para ulama) adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan mereka dari mayoritas orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28). Ayat ini merupakan pembatasan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah ulama.” (Miftah Dar As-Sa’adah 1/225)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهً عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Ganjaran mereka di sisi Allah adalah jannah Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah, demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al-Bayyinah: 8)

Badruddin Al-Kinani rahimahullah berkata: “Kedua ayat ini (Fathir ayat 28 dan Al-Bayyinah ayat 8) mengandung makna bahwa ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang-orang yang takut kepada Allah adalah sebaik-baik manusia. Dari sini disimpulkan bahwa ulama adalah sebaik-baik manusia.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 29)

Ucapan yang serupa dan semakna dibawakan oleh Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Miftah Dar As-Sa’adah, jilid 1 hal. 225.

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah akan mengajarkannya ilmu agama.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Hadits ini menunjukkan, barangsiapa yang tidak dijadikan Allah faqih dalam agama-Nya, menunjukkan bahwa Allah tidak mengijinkan kepadanya kebaikan.” (Miftah Dar As-Sa’adah, 1/246)

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Badruddin Al-Kinani rahimahullah mengatakan: “Cukup derajat ini menunjukkan satu kebanggaan dan kemuliaan. Dan martabat ini adalah martabat yang tinggi dan agung. Sebagaimana tidak ada kedudukan yang tinggi daripada kedudukan nubuwwah, begitu juga tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan pewaris para nabi.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 29)

Dan masih banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang kedudukan mereka dalam agama dan peran mereka dalam kehidupan umat.

Wallahu a’lam.

1 Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Shan’a di Syam, dan sebagian yang lain mengatakan Shan’a di Yaman. Adapun Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang kedua, yaitu yang dimaksud adalah Shan’a di Yaman.

Link Sumber : di sini

Cara Bersyukur Pada Allah

imageedit_33_6498153213
spreadthepearl.com

 

بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ

Pengantar

Ketika memikirkan dan merenungkan secara mendalam tentang kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya terutama manusia, maka dapatlah kita memahami dan menyadari betapa besar dan luasnya kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah itu untuk manusia. Pada diri kita Allah telah menyempurnakan nikmat penciptaannya baik secara fisik maupun psikis sehingga menjadilah kita makhluk dengan sosok dan bentuk yang sebaik-baiknya. Dan, karena nikmat Allah berupa iman dan Islam, maka manusia bisa menjadi makhluk atau hamba yang melambung tinggi derajatnya di sisi Allah, tetapi juga bisa jatuh terjerembab dalam lumpur dosa bila kufur nikmat, sehingga ia berada pada derajat yang paling rendah di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Tin ayat 4-5 berikut ini :

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4

5) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

Dalam tulisan ini, istilah cinta, kasih sayang dan kebaikan Allah itu, saya sebut sebagai nikmat atau lebih jelasnya nikmat Allah. Jadi oleh karena itu, alangkah sombong dan tidak tahu dirinya manusia jika ia tidak mau bersyukur atas semua pemberian Allah itu padanya. Kalau bukan karena kebaikan Allah berupa taufik dan hidayahNya maka pastilah kesesatan dan kegelapan jualah yang akan kita alami dalam kehidupan di dunia ini. Sesat karena tak tahu kemana arah yang seharusnya dituju, dan gelap karena tak ada cahaya iman yang akan menerangi jalan yang dilalui. Oleh karenanya, adalah sudah sepantasnyalah kalau kita pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah tanpa diperintah oleh si pemberi nikmat, apalagi ada perintah  yang sifatnya wajib. Kenapa? karena setiap saat tanpa di sadari, kita selalu mendapat curahan rahmat dan nikmat Allah, seperti setiap halaan atau keluar masuknya nafas kita, itu pertanda bahwa kita mendapat curahan nikmat Allah berupa oksigen yang sangat kita butuhkan untuk keberlangsungan hidup kita, belum lagi nikmat-nikmat Allah yang lainnya yang tak terbilang.

Pengertian

Yang dimaksud pada judul di atas adalah cara mensyukuri nikmat. Sudah pasti yang dimaksud adalah nikmat Allah yang kita nikmati sepanjang hidup kita. Apa yang dimaksud dengan syukur nikmat, dan apa pula yang dimaksud dengan kufur nikmat? Secara sederhana syukur nikmat adalah merawat dan menggunakan segala nikmat yang ada pada kita sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhananhu wata’ala. Sebaliknya kufur nikmat adalah kebalikannya, yaitu mengingkari atau tidak mau merawat dan menggunakan segala nikmat Allah yang ada padanya  sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Syukur nikmat atau mensyukuri nikmat Allah tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kalimat syukur alhamdulillah, akan tetapi adalah dengan menggunakan segala nikmat Allah itu sesuai dengan fungsi dan peruntukkannya yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Hal ini dapat kita ambil sebagai salah satu contoh misalnya, nikmat mata. Allah telah memberi kita sepasang mata yang fungsinya untuk melihat. Pertanyaannya, sudahkah kita menggunakan mata kita untuk melihat hal-hal yang sesuai dengan ketentuan dan diridhai oleh Allah? Kalau ya/sudah, maka berarti kita telah mensyukuri nikmat Allah berupa mata tadi, dan itulah syukur nikmat. Tetapi kalau belum/tidak, maka itu artinya kita belum atau tidak mensyukuri nikmat Allah berupa mata, dan itulah kufur nikmat. Saya berikan penegasan di sini, bahwa mensyukuri nikmat itu adalah menggunakannya sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Jadi penggunaan di luar batasan tersebut tidak bisa disebut sebagai syukur nikmat akan tetapi kufur nikmat.

Cara Mensyukuri Nikmat

Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif, iHaqi, Ustaz Erick Yusuf mengatakan bahwa ucapan hamdallah hanya satu cara. Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah SWT.

Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta’ati aturan Allah dalam segala aspek kehidupan

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini dapat mengingatkan kita untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong tak tahu diri, dan mereka adalah orang-orang yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Penjelasan Al Qur’an

Mensyukuri nikmat adalah perintah Allah yang wajib diimplementasikan oleh setiap orang yang beriman, sebagaimana firman Allah berikut ini : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. 2:172)

Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) pada sesama manusia yaitu kepada kedua orang ibu bapak kita, sebagaimana Allah menjelaskan dalam firmanNya berikut ini :“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12)

Penutup

Sebagai penutup, saya ingin mengajak saudaraku muslim semuanya yang kebetulan mampir dan membaca tulisan singkat ini, marilah kita saling ingat-meningatkan tentang apapun perihal Islam ini. Karena masih banyak sekali tentunya, hal-hal yang masih perlu kita sama-sama ketahui dan dalami tentang agama ini. Di sini saya mengajak pada kita semua, pikirkanlah dan renungkanlah dengan hati yang bersih dan jernih tentang betapa besar dan luasnya kasih sayang dan kebaikan Allah subhanahu wata’ala kepada kita semua, yang mana itu semua adalah nikmat Allah yang telah kita nikmati selama ini dalam hidup kita. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Mengapa dan apa pentingnya kita saling ingat-mengingatkan? Pentingnya, adalah karena tidak jarang di antara kita masih ada bahkan masih banyak yang tidak juga mau bersyukur, meskipun sebenarnya dia sudah tahu dan paham tentang hal itu, tetapi karena godaan dan bisikan syetan yang senantiasa mengajak kita kepada kufur nikmat, maka sering kali kita kalah dalam mempertahankan kebenaran yang kita yakini. Subhanallah, kalau sudah demikian dan tidak juga mau bersyukur, maka Allah Azza wajalla bertanya kepada kita, فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan? Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  Pertanyaan ini berulang sampai 31 kali dalam Al Qur’an surat Ar-Rahman dari awal hingga akhir surat. Betapa ini menunjukkan bahwa Allah Azza Wajalla sungguh ingin mengingatkan kita agar jangan sampai kita kufur nikmat.

Demikianlah sekelumit goresan pena ku malam ini, semoga ada manfaatnya bagi pembaca dan mohon maaf dan koreksinya bila ada kekurangan dan kekeliruan  di dalamnya. Allahu a’lam 

 

AL-HADITS :

“Apabila seseorang melihat orang cacat lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi) Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhlukNya”, maka dia tidak akan terkena ujian seperti itu betapapun keadaannya.” (HR. Abu Dawud)

Baca juga 

Barisan Hizbullah Peran Jihad Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Begini analisa menarik penulis Tionghoa soal kasus Ahok

Desa di Sulawesi mendadak jadi kampung cina

Selalu Berdoa Setiap Kali Akan Melangkah

imageedit_29_9916784469
Pixabay.com

Hidup ini adalah perjalanan panjang. Tetapi dalam keseharian kita ada perjalan-perjalanan singkat yang memaksa kita keluar dari rumah. Hidup ini juga merupakan pertarungan-pertarungan besar. Tetapi dalam keseharian kita ada pula pertarungan-pertarungan kecil yang tidak semestinya menyita banyak energi dan perhatian, apalagi sampai mengakhiri hidup kita yang belum banyak memberikan arti buat diri kita sendiri

Oleh karean itu, perjalanan-perjalanan singkat yang mengharuskan kita keluar rumah, semestinya dihindarkan dari pertarungan-pertarungan yang tidak perlu, yang bisa jadi akan memberikan banyak kerugian. Dan agar itu bisa terwujud dalam setiap langkah kita, hal berikut mudah-mudahan bisa menjadi pengingat.

Keluar dari rumah, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan. Kalaulah bukan karena ingin menjemput kesenangan, kemudahan, atau mencari dan mengambil pembelajaran hidup, tentulah kita lebih memilih untuk tinggal di rumah, bercengkerama bersama sana-anak dan keluarga, lebih aman dan lebih nikmat.

Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda, “Perjalanan itu bagian dari azab. Ia menghalangi seseorang dari tidurnya, dari makan dan minumnya. Apabila seseorang telah memenuhi kebutuhan dan keinginannya hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR.Bukhari)

Akan tetapi kita butuh makan, kita butuh ilmu, kita butuh bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang dan dunia luar, kita butuh wawasan dan informasi, kita buth suasana yang berbeda dengan yang kita rasakan dalam keseharian, atau karena kita butuh sesuatu yang lain dalam hidup ini, yang semuanya itu sulit untuk dipenuhi tanpa keluar rumah, maka mau tidak mau kita harus melangkahkan kaki, berjalan dan keluar meninggalkan rumah.

Untuk memenuhi kebutuhan kita yang banyak itu, kita butuh rasa aman, ketenangan dan juga keselamatan dalam setiap langkah kita. Sementara di luar sana telah menanti banyak rintangan yang siap mengacaukannya. Untuk itu, agar kita selalu mendapatkan perlindungan dari Allah, dan agar kita senantiasa dalam rasa aman dan selamat hingga kembali ke pangkuan keluarga, maka hendaklah ingatan kita tidak pernah lepas pada Allah swt, sejak kali pertama kaki kita melangkah keluar rumah, lalu menaiki kendaraan, hingga kita kembali lagi ke rumah.

Abdullah bin Umar ra mengajarkan para sahabatnya satu doa yang ia dengar dari Rasulullah ketika akan keluar rumah. Katanya, ketika Rasulullah saw telah duduk di atas untanya saat hendak melakukan perjalanan, beliau bertakbir sebanyak tiga kali, lalu membaca doa, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan, dan dari amal perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah mudahkanlah pada perjalanan kami, dan pendedkkanlah jauhnya perjalanan. Ya Allah, Engkau teman dalam perjalanan dan pemimpin bagi keluarga. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari susahnya perjalanan, buruknya pemandangan dan jeleknya kesudahan pada harta dan keluarga.”

Ketika akan pulang, kata Ibnu Umar pula, beliau membaca doa serupa dan ditambah, “Kami kembali, bertaubat, beribadah dan memuji kepada Allah.”(HR.Muslim)

Keharusan berdoa bukan hanya kepada kita yang akan keluar rumah. Akan tetapi orang-orang yang kita tinggalkan; orang tua, ibu, atau anak hendaknya selslu diminta doanya demi keselamatan kita selama dalam perjalanan hingga kita kembali ke rumah. Meski perjalanan itu tidak terlalu jauh atau mungkin perjalanan yang memang setiap hari kita lakukan.

Doa itu mungkin hanya sejemput kata, tetapi itu tetap penting. Paling tidak akan menyelamtakan kita dari pertarungan-pertarungan sia-sia yang banyak berserakan di luar rumah sana. Sebab, tidak selamnya kita mampu menguasai diri kita sendiri, sehingga kita butuh akan penguasaan Allah atas hal-hal yang tidak kita sadari, sangat kita butuhkan@

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007

SPARK OF CONTENT :

Prayer (do’a) is maybe only a little bit of  words, but it is still important. At least,it will be in saving us from the struggles in vain that many scattered outside the house there. Therefore, we always unable to control ourselves, so we need God’s mastery over the things that we do not realize, so we need. A prayer that is done properly then the petitioner will have the strength and power to change is very remarkable. A hadith says, “No one can change destiny but pray and nothing can extend the life cycle but kindness.” So every good prayer will always be granted, as narrated by Imam Ahmad in a hadith, “No Muslim can pray to God, that is where his prayers are not directed to disobedience or sin and severing the rope families, except that Allah will grant it . ” Must pray not only for us to be out of the house, but the people we leave behind such as parents, mother, or child should always requested prayer for our salvation during the journey until we return home, eventhough the trip was not too far away, or maybe a trip that is every day we do.

 

Sabar Adalah Karunia Terindah

imageedit_10_2887677930

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa, “Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” Hal ini bisa terjadi karena pada diri orang tersebut ada karunia yang amat berharga dari Allah shubhanahu wata’ala, yaitu sabar. Jadi di sini yang memegang peranan penting adalah sabar. Karena hanya dengan kesabaranlah kita dapat mengendalikan diri kita dalam situasi yang menekan (stressful situation). Kesabaran menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang silih berganti.

Meski terkadang pahit dan getir dalam menjalaninya, namun satu hal yang menyemangati kita untuk terus bersabar adalah buah manis dari kesabaran itu sendiri. Amat disayangkan jika kita tidak dapat meraihnya, karena Allah Swt telah berjanji akan memberikan ganjaran yang sangat besar bagi orang-orang yang bersabar dalam menghadapi ujian-Nya.

Sabar adalah akhlak yang sangat mulia. Ia menjadi hiasan para Nabi untuk menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang. Berhias diri dengan sabar hanyalah akan membuahkan kebaikan.

Inilah firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu beruntung. (QS.Ali-‘Imran [3]:200).

“Bersabarlah!”

Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad  di dalam Al Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan sabar kaitannya dengan keimanan kepada Allah dan kaitannya dengan perwujudan iman tersebut dalam kehidupan dan terlebih sebagai pemikul amanat dakwah. Tentu jika anda menyambut seruan tersebut niscaya anda akan berhasil sebagaimana berhasilnya Rasulullah, keberhasilan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Al Ahqaf: 35)

Sabarnya Ulul ‘Azmi

Siapakah yang dimaksud oleh Allah dengan ulul ‘azmi yang kita diperintahkan untuk mencontohnya?

  1. Nabi Nuh ‘Alahi salam sebagai rasul yang pertama kali diutus ke muka bumi ini adalah salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada kaum yang pertama kali menumbuhkan akar kesyirikan di muka bumi. Tahukah anda bagaimana besar tantangan yang dihadapi? Coba anda renungkan ketika seseorang ingin mencabut sebuah pohon yang sangat besar yang akarnya telah menjalar ke segala penjuru, sungguh betapa berat pengorbanannya. Allah sendiri telah memberitahukan kepada kita dengan firman-Nya:

Dan demikianlah kami menjadikan bagi setiap para nabi seorang musuh dari syetan baik dari kalangan jin dan manusia.”(Al An’am: 112)

Yang dipilih pertama kali dari sederetan kaumnya yang menghadang dakwah beliau adalah keluarga yang paling dekat anak dan isterinya. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, beliau dengan kesabaran bisa meraih kemenangan di dunia dan di akhirat. Allah mengatakan tentang beliau:

Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” ( Al Isra’: 3)

  1. Nabi Ibrahim  sebagai bapak orang-orang yang bertauhid juga sebagai salah satu ulul ‘azmi. Mendobrak keangkaramurkaan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri dan kaumnya yang dipimpin oleh seorang raja yang dzalim.Bagaimanakah perasaan anda jika anda diusir dari belaian kasih sayang dan perlindungan bapak anda? Bapaknya yang dipilih oleh Allah untuk menghadang dakwah beliau yang berada di bawah cengkeraman raja yang mengaku diri sebagai tuhan. Dia harus menelan pil pahit angkara murka kaumnya yang dengan tega melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat. Namun apakah yang mereka bisa perbuat terhadap jasad beliau? Sia-sialah perbuatan mereka.

Di sisi lain beliau harus juga menerima ujian yang lebih pahit yaitu amanat dari Allah untuk menyembelih putra yang disayangi dan diharapkan sebagai calon penerusnya.

Bisakah anda membayangkan hal yang demikian itu? Kesabaranlah yang menyelamatkan dari semua ujian dan cobaan yang menimpa beliau.

  1. Nabi Musa dan ‘Isa adalah dua rasul yang diutus kepada Bani Israil dan sekaligus sebagai ulul ‘azmi. Tantangan yang dihadapi beliau berdua, tentu tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan para rasul Allah. Siapa yang tidak mengenal Fir’aun si raja kufur yang menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, raja tak berperikemanusiaan yang membunuh anak-anak yang menurutnya akan bisa menggoyahkan tahta kekuasaannya. Kesabaranlah yang menjadi kuncinya sehingga beliau berdua dibebaskan dari segala bentuk tantangan dan ujian yang sangat dahsyat.
  2. Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dan imam para rasul juga termasuk salah satu dari ulul ‘azmi. Yang diutus kepada semua umat yang berada di atas dekadensi moral, kejahiliyahan dan keberingasan. Tentu tantangan yang beliau hadapi tidak kalah hebat dengan para rasul pendahulu beliau. Para rasul pendahulu beliau hanya diutus kepada kaum tertentu sedangkan beliau diutus kepada seluruh umat. Ini menggambarkan betapa besar tantangan yang beliau harus hadapi. Allah memilih keluarga beliau yang paling dekat menjadi penjegal perjalanan dakwah beliau. Mereka tidak berbeda dengan kaum sebelumnya dalam memusuhi para rasul Allah. Kesabaranlah yang menjadi kunci semua perjuangan beliau.

Anda pasti menginginkan keberhasilan dalam setiap usaha yang anda lakukan. Maka dari itu jadikanlah seluruh para Nabi dan Rasul Allah sebagai suri tauladan anda dalam kesabaran sehingga anda akan mendapatkan keberhasilan seperti apa yang mereka telah dapatkan.

Abdurrahman As Sa’di mengatakan di dalam tafsir beliau: “Dan adapun orang yang telah diberikan taufiq oleh Allah untuk bersabar ketika ditimpa ujian lalu dia menahan dirinya untuk tidak benci terhadap ketentuan tersebut baik dengan ucapan dan perbuatan dan berharap pahala dari Allah dan dia mengetahui bahwa apa yang dia dapatkan dari pahala karena kesabaran tersebut atas musibah yang menimpanya, bahkan baginya ujian itu menjadi nikmat karena telah menjadi jalan terwujudnya sesuatu yang lebih baik, maka sungguh dia telah melaksanakan perintah Allah dan berhasil meraih ganjaran yang besar dari sisi-Nya.”

Kemalangan yang menimpa kita, misalnya kerupa kehilangan orang-orang yang amat kita cintai, kehilangan harta benda yang telah lama dan dengan susah payah kita kumpulkan, ketika tubuh kita yang sebelumnya sehat dan kuat harus terbaring lemah tanpa daya. Apa yang harus dilakukan? Pasrah tanpa usaha, berputus asa, merasa kecewa dan jengkel kepada Allah, kemudian menjauhkan diri dari-Nya? Tidak, tapi tetaplah kita bersabar dan terus berusaha untuk keluar dari kesulitan itu.

Tetap bersabar dan menerima semua ketentuan Allah Swt dan semakin taqarrub kepada Allah, sambil terus berusaha dan berdoa hingga Allah Swt mengabulkan doa dan memberikan pertolongan-Nya. Dengan merapat kepada Yang Maha Perkasa, maka kita akan menjadi semakin kuat.

Allah Swt menjanjikan dalam firman-Nya, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah [94]:5-6) Bila bersabar, kita akan menjadi orang yang kuat, meski bukan kuat secara fisik, tetapi kesabaran menjadikan kuat dalam menghadapi segala ketentuan Allah Swt. Dengan bekal kesabaran, kita akan kuat bertahan dalam menjalani hidup yang tidak selamanya mulus.

Jangan sampai kesulitan membuat kita berpaling dari Allah Swt, justru sebaliknya membuat kita semakin merapatkan diri kepada Allah Swt. Sesungguhnya kesabaran itu dibutuhkan pada saat awal kejadian yang menimpa kita agar perlindungan Allah Swt selalu menyertai kita dan roda kehidupan tetap dapat berjalan pada jalur yang benar dan di diridhoi oleh Allah Swt. Tetaplah percaya, bahwa Allah Swt sangat mencintai dan mengasihi hamba-Nya dan mustahil Ia memberikan ujian dan cobaan yang melebihi kadar kesanggupan hamba-Nya. Jadi, sepahit apapun ujian dan cobaan yang dialami, dengan bekal kesabaran, kita akan kuat dan mampu menghadapinya, karena Allah Swt selalu bersama orang-orang yang sabar. Innallaha ma’ashshaabiriin. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

PERCIKAN :

Limitations of the circumstances that exist in ourselves, material or physical is not a barrier to doing good deeds. If we accept this provision patiently then Allah will continue to provide guidance and mercy. With guidance from Allah the narrow path became widespread, it is difficult becomes easy and the darkness was lit up. Satan is upset not to play when looking at the man began to find the light of truth. Instantly they launched various actions to turn us from the straight path. Only those who know Allah, have a strong faith with patience thick to be saved from the trap of the devil. Faith and patience to make a weak man become mighty. Cruel torment, all scorn, and offer worldly possessions do not mean anything because the pleasures of heaven is waiting for these holy souls.

Saudariku, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu

download-39

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Islam datang untuk menyempurnakan segalanya di muka bumi ini. Memperbaiki yang belum baik melengkapi yang belum lengkap, dan menyempurnkan segala sesuatu yang belum disempurnakan oleh risalah dan ajaran-ajaran sebelumnya. Ajaran dan risalah para nabi dan rasul sebelum Muhammad ditujukan hanya untuk kaumnya masing-masing, seperti nabi Musa dengan risalahnya hanya untuk bani Israil demikian pula dengan nabi Isa hanya untuk kaumnya saja. Dan setelah datang Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad maka selesailah berlakunya risalah nabi Isa karena semua masalah dan segala urusan sudah tercakup dalam dan oleh ajaran Muhammad.

Asmadi Tsaqib

Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Allah Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justeru jelek menurut Allah. Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216).

Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.

Lihat pos aslinya 428 kata lagi

Hati-Hati Mencari Kebahagiaan

imageedit_6_3146320875
pixabay.com

Terinspirasi oleh fenomena sosial yang saya lihat setiap saat baik yang dijumpai langsung dalam masyarakat maupun melalui media cetak dan online, lalu sayapun menulis artikel ini dengan judul seperti di atas. Apa sih fenomena sosial itu ? Dia adalah gaya hidup atau life style sebagian masyarakat kita di era-era terakhir ini. Saya tidak mengatakan bahwa gaya hidup sebagai sebuah fenomena sosial yang tidak boleh ditiru atau dilakukan. Tetapi ada kecenderungan orang-orang menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tak peduli apakah cara yang mereka tempuh halal atau haram. Demi mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang bersifat materi dan hanya sementara sifatnya.

Benarkah dengan mendapatkan harta atau kekayaan berlimpah dari cara-cara yang tidak halal bisa membahagiakan mereka dalam arti sebenarnya ?  Jangan salah, dan harus berhati-hati dalam menggapai kebahagiaan. Sebab, jika salah dalam memilih cara menggapai bahagia, petualangan anda dalam mencari kebahagiaan akan berakhir dengan kekecewaan. Ada contoh, yang bisa kita ceritakan di sini bahwa ada orang atau sebagian orang yang berakhir kecewa, setelah petualangannya dalam mencari bahagia melalui korupsi, penipuan, pelacuran dan lain-lain, lalu ditangkap KPK atau polisi dan berakhir di penjara, entah berapa lama.

Padahal, kebahagiaan adalah hal yang amat sederhana. Karena dengan membangun pikiran positif dalam diri kita, maka bahagia itu segera kita gapai. Dan kebahagiaan adalah banyak bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan banyak anugerah dan karunia-Nya pada kita.

Begitu pun Islam mengajarkan umatnya, bagaimana cara memiliki dan mencari harta. Seorang Muslim dilarang untuk mencari harta dengan cara menipu, korupsi, mencuri dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah berikut ini.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 2 : 188)

Sadarkah kita bahwa pada diri kita begitu banyak, lengkap dan sempurnanya nikmat itu diberikan, ada mata, telinga, otak, hati, jantung dan lain-lain. Sudahkah semua nikmat itu kita syukuri dan kita gunakan sesuai dengan peruntukannya ?

Terkait dengan rasa syukur, saya mengutip pendapat yang mengatakan bahwa, “Syukur itu penting. Ketika kita memilih dan membangun pikiran syukur, kita tidak hanya mengubah sudut pandang kita, tetapi juga keadaan menjalani rasa syukur tersebut. Bersyukur adalah cara yang sangat baik untuk mengubah “anggapan kegagalan” kita; syukur dapat menolong untuk mengeluarkan kita dari suasana hati yang murung, membawa kita kembali ke jalur yang tepat, dan membuat kita maju terus ke arah yang positif. Emosi dari syukur, singkatnya, mempunyai pengaruh yang ajaib terhadap cara kita memandang dunia dan kehidupan ini.” (Roni Ismail, Menjadi bahagia dalam 60 menit, hal. 12).

imageedit_22_5788432557
pixabay.com

Gaya hidup yang mengedepankan kemewahan materi sebenarnya hanyalah kesenangan dan kebahagiaan yang semu dan tidak sejati sifatnya.  Mungkin kita mengira kalau yang punya rumah mewah, mobil mewah itu lebih bahagia dari si pemulung yang setiap hari hanya dapat cukup untuk makan hari itu, belum tentu, demikian pula sebaliknya. Jadi, berhati-hatilah dalam mencari kebahagiaan.

Alhamdulillah, mari senantiasa bersyukur atas segala rahmat dan karunia yang Allah berikan pada kita hingga saat ini, agar tetap bisa merasakan kebahagiaan dalam hati kita, yaitu kebahagiaan yang sejati@..Wallahu a’lam.

Demikian coretan singkat, semoga bermanfaat, amien.

Ingat Dan Pelihara Selalu Tujuan Baik

imageedit_1_3529510941
pixabay.com

Bismillaah Hirahmaanir Rahiim

Setiap orang pasti akan pergi meninggalkan rumah, entah karena ada kebutuhan yang amat penting atau karena hanya sekedar berjalan mengitari rumah atau komplek di lingkungan tempat tinggal kita. Oleh karena itu, melangkahkan kaki meninggalkan rumah, entah untuk jarak yang cukup jauh atau hanya beberapa langkah saja hendaknya selalu dalam bingkai kebaikan. Karena kebaikan itulah yang akan menjadikan setiap langkah dalam perjalanan kita akan bernilai pahala.

Bukan hanya itu, perlindungan Allah swt atas keselamatan kita pun akan selalu turut serta dalam setiap langkah kita di luar rumah.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak seorangpun yang keluar dari rumahnya kecuali ada dua panj-panji (yang mengiringinya), salah satu di antaranya berada di tangan malaikat. Sedang yang lainnya berada di atangan syetan, Maka jika keluarnya untuk sesuatu urusan yang diridhoi Allah swt, ia akan diiringi oleh malaikat dengan panji-panjinya. Demikianlah ia akan selalu berada di bawah panji-panji malaikat sampai ia kembali ke rumah. Sebaliknya jika keluarnya untuk sesuatu hal yang dimurkai Allah, maka orang itu akan diiringi syetan dengan panji-panjinya. Dan demikianlah ia akan selalu di baah panji-panji syetan sampai ia pulang kembali ke rumahnya.” (HR.Ahmad dan Thabrani)

Hadits di atas tidak saja menegaskan pentingnya niat dan maksud baik sebelum melangkah, tetapi juga mengandung pengajaran agar kita senantiasa menjaga dan memeliharanya. Karena dengan mengingat dan memelihara niat dan maksud baik, tentu kita juga akan terpelihara dari pertarungan-pertanrungan yang banyak bertebaran di sepanjang jalan-jalan yang kita lalui dan tempat-tempat yang kita singgahi. Dan tentu pula kita tidak ingin langkah-langkah kita yang tadinya telah disertai dengan niat dan maksud baik, menjadi sis-sia dan ternoda oleh pertarungan-pertarungan yang remeh-temeh. Oleh karena itu, tetaplah mengingat dan memelihara niat baik yang telah kita pasangkan sejak awal di hati kita.

Al Qur’an memberikan contoh sebuah niat dan amal yang baik, yang kemudian rusak oleh pertarungan yang sia-sia. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melihat perniagaan dan permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu yang sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dari permainan dan perniagaan,” dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS.Al Jumu’ah: 11)

Pertarungan sia-sia karena sebab yang sepele, di luar sana sungguh banyak. Dan sejatinya kitapun sudah mengenalnya dengan baik, karena hidup kita yang barangkali setiap hari tidak pernah lepas dari menyusuri jalan-jalan yang panjang; untuk mengais rezeki, berdagang, menuntut ilmu, mengajar, berdakwah, dan sebagainya.

Berada di luar rumah untuk tujuan-tujuan itu, hendaknya semua berada dalam lingkaran kebaikan, yang harus terus terpelihara dengan kebaikan pula; yaitu dengan mengingat dan memelihara niat awalnya. Maka itu, sikap ini harus terus-menerus terpelihara dengan baik… Catatan ini dimaksudkan untuk mengingatkan diri saya pribadi, dan tentu saja pastilah untuk mengingatkan kita semua, semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007<

Cerita Ta’aruf (Akhwat Version)

ronald-van-der-meulen-1232510__180

Ta’aruf dari bahasa Arab لِتَعَارَفُوا “Ta’aruf” = Saling Mengenal. Menurut rujukan Al Quran sebagai sumber hukum tertinggi, kata Ta’aruf ada di Surah Al Hujurat ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَلِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Lihat, di bawah ini satu contoh pola pacaran atau lebih tepatnya ta’aruf dalam Islam, yang saya reblog dari blog teman mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa pun yang mengaku muslim/muslimah,…aamiin.

 

Portal Wong Sukses

27 November 2011

Hari Ahad pagi, mbak SF teman satu kantorku tiba-tiba meminta saya untuk datang ke rumahnya.Meskipun  sedikit bingung saya langsung katakan iya. Sekitar jam 2 siang, dengan rasa penasaran saya segera meluncur ke rumah mbak SF. Setelah sampai di rumahnya, tanpa basa basi mbak SFlangsung menyerahkan sebuah ampop besar berwarna coklat. Sambil senyum-senyum beliau bilang, “Mau dibuka sekarang atau di rumah terserah Vita.”Saya  berfikir sejenak, karena saya orang yang tidak bisa dibuat penasaran, akhirnya:

Lihat pos aslinya 1.185 kata lagi

Menghargai Hak Dan Kepentingan Orang Lain

peony-800109__180Untuk berada di luar rumah bagi masing-masing orang tentu berbeda-beda porsentasenya. Hal ini semua bergantung pada pekerjaan dan profesi masing-masing. Ada yang karena tuntutan pekerjaan dan profesinya, sesorang harus berada di luar rumah atau meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang lama. Misalnya, dalam kurun waktu berhari-hari dan berminggu-minggu, bahkan ada yang bulanan dan juga tahunan.

Berada di luar rumah, sudah tentu berbeda situasinya dengan ketika kita berada di dalam rumah. Di dalam rumah kita hanya berhubungan dengan orang-orang yang kita kenal dekat seperti anggota keluarga sendiri ataupun anggota keluarga besar kita. Di luar, kita akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.

Dan di saat itu pula kita akan menemukan banyak karakter manusia yang berbeda-beda, banyak kepentingan, dan banyak hak orang lain yang tentu saja tetap harus terpenuhi, sehingga kita harus mengerti dan memahami kondisi itu demi memudahkan urusan dan kepentingan kita sendiri, menjauhkannya dari gesekan dan pertarungan yang tidak perlu.

Begitu pentingnya kesadaran ini harus dihadirkan, dan agar kita tidak menjadi pemicu munculnya pertarungan-pertarungan di perjalanan. Rasulullah saw bahkan mengingatkan kita untuk tidak memarkir kendaraan di pinggir jalan ketika ingin beristirahat. Beliau bersabda,”Bila kamu berjalan di tempat yang subur (banyak rerumputan), maka berikanlah unta itu haknya. Bila kamu berjalan di tempat yang kering maka percepatlah jalanmu. Dan jika kamu ingin beristirahat, maka menjauhlah dari jalan.”(HR.Abu Daud)

Bahkan untuk mempercepat kendaraan pun, sebagaimana hadits di atas, Rasulullah juga membolehkan dan melakukannya sendiri, tetapi tentu dengan memperhatikan kondisi jalan yang akan dilewati. Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Usamah bin Zaid ra yang pernah dibonceng Rasulullah saw dari Arafah. Zubair bertanya kepadanya, “Bagaimana perjalanan Rasulullah saw ketika beliau keluar dari Arafah?” Usamah menjawab, “Beliau berjalan tidak terlalu cepat, tetapi jika beliau menemukan jalan yang kosong beliau berjalan lebih cepat.” (HR.Muslim)
Di dalam berjalan dan mengendarai kendaraannya, menurut Anas ra, Rasulullah saw sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan.” (HR.Abu Daud)

Ini baru satu contoh. Hanya di perjalanan. Di tempat-tempat lain sama saja etikanya. Hak dan kepentingan orang lain selalu ada dan kita pun harus pandai menghargainya, demi menghindarkan diri dari pertarungan yang sis-sia . Jadi, hargailah hak dan kepentingan orang lain…Semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007

Tidak Meremehkan Hal-Hal Yang Berbahaya

burglar-1216195__180
Pixabay

Tulisan ini saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007. Saya kira ini bermanfaat sebagai bahan renungan bagi kita semua, karena apa yang dibahas dalamnya sangat relevan dengan aktivitas kehidupan kita semua, terutama tatkala  berada di luar rumah. Bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku dan apa konsekwensi jika kita bersikap dan berperilaku tertentu di luar sana…Ikuti teks selengkapnya berikut ini.

Pertarungan remeh-temeh yang kerap kita saksikan di jalan-jalan, sesungguhnya tidak jarang terjadi karena hal-hal yang memang berbahaya, tetapi sebagian orang menganggapnya sepele dan biasa saja. Ini barangkali masalah persepsi, kesenangan, atau kepentingan pribadi sehingga membuat seseorang merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Akan tetapi ketika kita sedang berada di tengah jalan, di mana keselamatan dan nyawa sedang kita pertaruhkan, maka egoisme tidak boleh lagi dikedepankan. Hal yang memang serius harus dianggap serius. Tidak boleh diremehkan. Kita tidak boleh berfikir bahwa, yang penting orang lain tidak tahu, atau alasan apa saja yang kesannya tidak menghargai kondisi dan situasi yang memang tidak kondusif un tuk melakukan hal-hal tertentu.

Ada berita menarik tentang situasi perjalanan yang dimuat oleh sebuah media harian untuk membuktikan hal ini. Di sana ditulas sebuah survey di Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa pengendara mobil menggunakan salah satu tangannya untuk memegang kemudi. Sebaliknya, tangan yang lain lagi usil melakukan aktivitas yang lain. Perilaku demikian, ternyata dilakukan oleh lebih dari 81 porsen pengemudi di negeri itu.

Survey yang dilakukan terhadap 1.200 penegmudi berusia antara 18 sampai 60 tahun, itu menunjukkan delapan dari sepuluh pengemudi mengaku mengubah stasiun radio saat mengemudi. Kemudian 73 porsen mengaku berbicara di telepon, 68 porsen makan,19 porsen mengirim SMS, dan 5 porsen membuka e-mail. Sebanyak 19 porsen pengemudi menyisir rambutnya, 12 porsen memakai riasan, dan 2 porsen mencukur kumis ketika mengemudi. Wakil presiden lembaga survey itu, Bil Windsor mengatakan, “Gejala itu menunjukkan bahwa saat ini orang mempunyai banyak kesibukan, tetapi hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit.”

Orang boleh saja berpendapat seperti itu, yang seolah membenarkan dan mentoleransi perileku-perileku itu terjadi, dan setiap pengendara bisa semaunya beraktivitas untuk menuntaskan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan, meskipun di sela-sela waktunya di tengah perjalanan. Namun, semua kita pasti sepakat bahwa hal-hal itu tidak saja akan mengundang pertarungan-pertarungan kecil, bahkan bencana yang lebih besar pun bisa saja terjadi.

Sering ada hal-hal yang kita anggap kecil padahal berakibat pada masalah-masalah besar, haruslah dianggap sebagai perkara besar. Seperti yang difirmankan Allah swt, “Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah dia adalah besar.” (QS.An Nur:15)

Tulisan ini mungkin hanya sebuah peringatan yang relatif biasa sifatnya bagi semua atau setiap orang, namun bagi saya pribadi ini menjadi pengingat ketika hendak melangkahkan kaki keluar meninggalkan rumah untuk selalu berdo’a memohon keselamatan dan perlindungan dari Allah subhanahu wata’ala untuk kita dan keluarga yang kita tinggalkan. Semoga bermanfaat.

Bersikap Tenang Dan Kendalikan Emosi

boy-183306__180
Pixabay.com

Kondisi di luar rumah; di pasar, di jalan, dan di tempat-tempat umum lainnya yang ramai dan terkadang semrawut, tentu akan sangat melelahkan fisik. Dan ketika kondisi ini yang terjadi, jiwa kita akan mudah diguncang amarah dan emosi yang sulit dikendalikan, dan telah pula menyatu dengan berbagai kepentingan yang harus segera terlaksana.

Di sana, di luar rumah kita, kita akan bertemu dan bergesekan dengan orang-orang yang punya waktu singkat dan kebutuhan yang sangat mendesak; sedang menuju ke tempat kerja, sedang dinanti oleh keluarga yang sakit, sedang ada janji dengan orang lain, sedang mengejar jadwal keberangkatan, sedang bersiap menghadapi ujian, dan sederetan kepentingan yang mungkin tidak bisa ditunda. Sama seperti kita yang juga sedang berpacu dengan waktu untuk urusan dan kepentingan yang berbeda.

Situasi seperti itu seringkali memancing timbulnya pertarungan-pertarungan yang melelahkan, namun tidak penting dan tidak menghasilkan apa-apa. Dan kalau kita terbawa dengan adegan itu, tidak bersikap tenang, terburu-buru, dan tidak pandai meredam amarah dan emosi, tentu akan melibatkan kita sebagai petarung yang ketika kalah dihina, tetapi jika menangpun tidak dihargai.

Ini sebenarnya bukan perkara rumit, hanya butuh beberapa sikap; kesadaran, ketenangan, dan pengendalian emosi. Tetapi mungkin tidak sempat kita lakukan karena terpikir oleh kita, bagaimana kita bisa segera sampai di tujuan dan menyelesaikan urusan-urusan kita, tanpa mau tahu urusan dan kepentingan orang lain. Padahal sesungguhnya di sinilah pertarungan-pertarungan itu biasanya bermuara. Karena kita saling mempertahankan ego; ingin saling mendahului, berebut di tempat yang terdepan, pada possi yang sebenarnya tidak memberi keuntungan apa-apa.

Padahal, andaikata kita mau bersikap tenang, tidak terburu-buru, dan mau menahan emosi mungkin urusan kita akan lebih cepat selesai, dan pasti kita tidak akan terlibat dalam pertarungan yang remeh-temeh. Sebab, jika kita tetap dalam kekeukeuhan kita yang tidak berdasar itu, sebenarnya apa yang ada di benak kita juga ada dibenak orang lain. Sehingga pertarungan pun akan sulit kita hindari.

Alangkah indahnya, jika mau mendengarkan nasehat Rasulullah seperti yang diceritakan oleh Usamah bin Zaid. Ia berkata, “Aku pernah dibonceng Rasulullah menjelang malam dari Arafah. Tatkala matahari hendak tenggelam beliaupun melangkah, dan ketika mendengar hiruk-pikuk orang-orang di belakangnya, beliau berkata, “Pelan-pelanlah kalian! hendaklah kalian tetap tenang, karena kebaikan itu bukanlah ketika kalian memacu tunggangan kalian.”

Demikianlah beberapa catatan yang saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007, semoga bermanfaat.

Syukurilah Semua Pemberian Allah Pada Kita

th (6)
pixabay.com

Dalam buku “Tazkiyatun Nafs” yang memaparkan intisari Ihya Ulumuddin Al-Ghazali, Said Hawwa menuliskan bahwa syukur adalah mengerahkan secara total segenap potensi yang ada untuk hal yang paling dicintai oleh Allah Swt.

Di kala kita berada dalam suasana penuh kesenangan, kegembiraan dan segala macam kemudahan sering kali kita lalai dari bersyukur kepada Allah Swt yang telah memberikan segala kenikmatan itu. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an yang artinya, “…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (QS.Saba[34]:13).

Setan juga menggunakan segala macam cara untuk membuat manusia lalai dari bersyukur kepada Allh Swt. Sebagaimana dijelaskan Allh dalam Al Qur’an yang artinya, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’ay).” (QS.Al A’raf[7]:17)

Untuk itu semua, sudah seharusnya kita menggunakan seluruh nikmat yang telah Allah Swt berikan itu di jalan yang diridhoi-Nya dan tidak menggunakannya untuk perbuatan maksiat kepada Allah. Inilah perwujudan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Kita hendaknya menyadari, bahwa segala yang kita miliki mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, semuanya adalah pemberian gratis dari Allah, dan dengan itu pula kita dapat mengelola dan memanfaatkan akal dan pikiran kita untuk mendapatkan atau memenuhi kebutuhan kita. Kita boleh memiliki apa saja yang kita inginkan sepanjang kita mampu untuk mendapatkannya. Tapi jangan pula dilupakan bahwa untuk mendapatkanya hendaklah dengan cara-cara yang diridhoi oleh Allah, jangan sampai menghalalkan segala cara.

Jika kita orang yang beriman dan mengharapkan pertemuan dengan Allah di akhirat kelak dalam suasana yang menyenangkan dalam surga, maka mulai detik ini syukurilah semua pemberian Allah dan gunakanlah semua itu untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.

 

Dan jangan pernah bermain-main atau meremehkan pemberian Allah. Dialah yang menyediakan untuk kita oksigen secara gratis sehingga kita bisa tetap bernafas dan jantung kita dapat terus berdetak memompa darah agar bisa dialirkan ke seluruh jaringan tubuh kita. Sadarkah kita akan semua itu? lalu nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kau dustakan? Subhaanallah…

Penglihatan, pendengaran, tangan dan kaki kita adalah bagian dan nikmat Allah Swt yang diberikan-Nya kepada kita. Sudahkah kita mensyukurinya? Dan, bisakah kita menerima dengan ikhlas seandainya Allah Swt mencabut kembali pemberian-Nya itu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.Saya dan juga anda hanya berkewajiban untuk saling mengingatkan sebagai sesama muslim. Karena itu, marilah mulai detik ini juga, kita tunduk rukuk dan bersujud kepada Allah. Bayangkanlah semua kelalaian kita selama ini, dari mengingat dan menyukuri pemberian-Nya Yang Maha Luas itu untuk kita dan segeralah beristigfar dan mohonlah pengampunan atas dosa dan kesalahan kita selama ini. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Bentuk lain dari rasa syukur kita kepada Allah Swt adalah dengan menjaga lisan yang juga merupakan nikmat pemberian Allah Swt. Menjaganya dari hal-hal yang dapat mengundang murka Allah Swt, seperti membicarakan kejelekan orang, menfitnah, berdusta, mengolok atau mencaci maki. Kita juga hendaknya menggunakan lisan untuk berkata yang baik-baik, seperti mengajak orang pada kebaikan, mengucapkan kalimat thoyibah seperti dzikir kepada Allah juga saling menasihti untuk kebenaran, kebaikan dan kesabaran. Ingatlah selalu, bahwa “Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan taubatan yang sebenar-benarnya.”

Bertaubatlah Sebelum Ajal Menjemput

imageedit_1_3292212132
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Jika telah datang kematian dan kita belum sempat bertaubat, maka jangan kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengadzabnya di alam kubur, maka Allah mengadzabnya dengan keadilan. Jika Allah menghimpitkan bumi ke tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, maka Allah menyiksanya dengan keadilan-Nya. Dan jika mereka merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Dan ketika mereka diadzab di neraka, itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Allah tetap Maha Adil dan tidak berbuat dhalim kepada makhluk-Nya.

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

قَالَ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا بْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا بْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغْتَ ذُنُوْبَكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا بْنَ آدَمَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. (رواهالترمذيوحس

“Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” (HR. Tirmidzi dan di Hasankan oleh beliau).

Pintu Taubat Belum Ditutup

Setelah kita mengetahui, bahwa kematian adalah suatu kepastian, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan dan semua telah tertulis dalam catatan takdir, maka seorang yang beriman tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian itu.

Untuk itu perbanyaklah bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala, wahai saudaraku kaum muslimin dan beramallah! Minta ampunlah kepada Allah dari dosa- dosa yang telah lalu dengan bertekad untuk menempuh hidup baru di jalan Allah Ta’ala. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang pasti akan mengampuni dan menyayangi hamba-nya yang mau bertaubat.

Allah berfirman: Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan. (HR. Tirmidzi –dan beliau menghasankannya).

Bertaubatlah! Dan janganlah putus asa dari rahmat Allah. Rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosamu, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengatakan dengan kasih sayang-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. ]الزمر: 53[

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (az-Zumar: 53)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالَ لاَ تَخْتَصِمُوْا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيْدِ. مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَآ أَنَا بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. ]ق: 28-29[

Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat dhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (Qaf: 28-29)

Allah Subhanahu wata’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya. Allah telah memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.

Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang bermudharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: كُلُّ أُمَتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. فَقَالُوْا: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى. (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan”. (HR. Bukhari)

Dengan demikian orang-orang yang enggan untuk masuk surga adalah mereka yang memilih kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغَ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ. (أخرجه ابن أبي عاصم في السنة)

“Telah kutinggalkan bagi kalian petunjuk yang nyata. Malamnya seperti siangnya sama (terangnya), tidaklah menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”-nya)

Hanya orang yang sombonglah yang engan untuk masuk surga. Hanya manusia yang kejilah yang mengingkari kenikmatan Allah dan tidak mensyukurinya.

Saat Pintu Taubat Akan Ditutup

Ingatlah wahai saudaraku, kematian terus mendekat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; hal itu berarti pintu taubat semakin dekat untuk ditutup.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه الترمذي وقال حديث حسن)

Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab (semoga Allah meridhai keduanya) dari Nabi beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya. (HR. Tirmidzi dan beliau katakan haditsnya hasan).

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ. (رواه مسلم)

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang terlalu yakin umurnya akan panjang, maka dia akan kecewa. Barangsiapa yang merasa akan terus hidup dan tidak akan mati pasti dia akan merugi. Dan barangsiapa yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka dialah Yahudi yang cinta dunia dan takut mati.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

…يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللهُ بَصِيْرٌ بِمَا يَعْمَلُوْنَ. ]البقرة: 96[

“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. “(Al-Baqarah: 96).

Dengan iman dan amal shalih-lah seharusnya kita menyongsong kematian ini dengan tenang, hingga kita akan dipanggil oleh Allah dengan ucapan:

يَآ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ]27[ ارْجِعِيْ إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَّةً مَرْضِيَّةً. ]الفجر: 27-28[

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. “(al-Fajr: 27-28).

Lebih rinci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam riwayat dari al- Bara’ bin ‘Azib: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila dia menghadap kematian dan meninggalkan dunia, turunlah para malaikat kepadanya, seakan-akan wajah-wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan kapur barus dari surga, dan duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai ruh yang baik, keluarlah engkau kepada ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan kisahnya: “Maka keluarlah ruh tersebut, mengalir bagaikan aliran air dari bibir ceret (tempat air minum). Kemudian malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Dan ketika mengambilnya dia tidak membiarkannya di tangannya, bahkan mereka langsung mengambil dan memasukannya ke dalam kafan dan kapur barus yang mereka bawa. Keluarlah dari jiwa tersebut wewangian yang lebih harum dari misik yang terbaik di muka bumi ini”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan: “Kemudian mereka membawa naik ruh tersebut ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat, kecuali mereka berkata: “Ruh siapakah yang harum ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan”. Mereka menyebutkan dengan sebaik-baik nama yang dia dipanggil dengan nama tersebut di dunia sampai berakhir di pintu langit.

Dan mereka minta untuk dibukakan untuknya, maka dibuka-kanlah pintu langit untuknya. Seluruh penduduk langit dari kalangan malaikat yang didekatkan mengantarkan ruh tersebut ke langit yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai berakhir pada langit yang di atasnya Allah beristiwa’. Allah pun berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyin….”

Adapun tentang orang kafir Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ketika orang kafir akan mati, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah yang hitam. Mereka membawa kain kafan, dan duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut dari sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Maka berpencarlah ruh itu di seluruh jasadnya (menolak untuk keluar –pent.)

Kemudian dicabutlah ruhnya seperti dicabutnya duri dari bulu- bulu wol yang basah. Setelah (ruh itu) diambil, tidak dibiarkan di tangannya sekejap mata pun, hingga diletakkannya di kafan tadi yang mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Kemudian mereka naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata: “Siapakah ruh yang jelek ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan” dengan disebutkan sejelek-jelek nama yang dia dipanggil di dunia sampai berakhir ke akhir langit dunia dan meminta untuk dibukakan langit, tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat Alllah Subhanahu wata’ala:

…لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ… ]الأعراف: 40[

sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum(al-A’raaf: 40)

Kemudian Allah berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling rendah”. Kemudian dilemparkan ruhnya dengan satu lemparan, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ… ]الحج: 31[

Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh(al-Hajj: 31)

Maka kembalilah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya: “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi: “Siapakah orang yang diutus kepadamu?” Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Maka dikatakan oleh penyeru dari langit: “Dia berdusta. Hamparkanlah hamparan dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka”. Maka sampailah kepadanya hawa panas api neraka…. (HSR. Imam Ahmad , Abu Dawud, Hakim, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah)

Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 56/Th. II, tgl 28 Shafar 1426 H, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli: Menyongsong Kematian.

Sumber : http://qurandansunnah.wordpress.com/

SPARKS:

Once we know that the death is a certainty, can not be moved forward and become irreversible and all have been written in the notes destiny, then the believer would be preparing for the arrival of death. So ask forgiveness of Allah glory to Him, O my brother Muslims and do more goodness! Ask Allah! Forgive the sins of the past by committing to a new life in the path of Allah Ta’ala. Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful will accept the repentance of His servants for whatever sins.