Antara Islam, Muslim dan Perilaku Islami

homberg-1959229__340.jpg

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Postingan blog kali ini saya isi dengan sebuah artikel menarik  yang saya salinkan dari website http://www.dakwatuna.com semoga bermanfaat untuk menambah wawasan keislaman kita, sekaligus juga sebagai upaya saya untuk membantu menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan tentang Islam sebagai dakwah. Ikuti teks nya berikut ini.

Sebuah studi menarik dilakukan oleh Hossein Askari, seorang guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington, Amerika Serikat. Askari melakukan studi untuk mengetahui di negara manakah di dunia ini nilai-nilai Islam yang universal (bukan aspek akidah, ibadah, dan syariah-hudud) paling banyak diaplikasikan.

Salah satu indikator yang digunakan adalah kebersihan, ketertiban, dan kerapian. Selain aspek penegakan hukum, indeks korupsi, pemerataan ekonomi, pemimpin yang adil. Hasil penelitian Askari yang meliputi 208 negara itu ternyata sangat mengejutkan karena tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar.

Dari studi itu, Askari mendapatkan Irlandia, Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru sebagai negara lima besar yang “paling Islami” di dunia. Negara-negara lain yang menurut Askari juga menerapkan jalan Islam paling nyata adalah Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.

Lalu, bagaimana dengan negara-negara Islam? Malaysia hanya menempati peringkat ke-33. Sementara itu, negara Islam lain di posisi 50 besar adalah Kuwait di peringkat ke-48, sedangkan Arab Saudi di posisi ke-91 dan Qatar ke-111. Di manakah urutan Indonesia?

Saya pikir kita tak perlu kebakaran jenggot membaca hasil studi Askari. Terlepas barangkali metode riset yang masih bisa diperdebatkan, marilah kita introspeksi diri dalam konteks tugas dakwah kita sebagai muslim. Terlebih kita yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Saya ingin memulai diskusi kita dengan mengkaji surat Ali ‘Imran ayat 104, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada ‘khair’, menyuruh berbuat ‘makruf’ dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Mari kita cermati ayat di atas! Apa perbedaan makna antara ‘khair’ dan ‘makruf’? Dalam Al-Qur’an terjemah kedua kata ini diterjemahkan dengan ‘kebajikan’. Secara etimologi keduanya memang bisa diterjemahkan dengan kata kebajikan. Namun, dalam kaidah Bahasa Arab, “Kullu ma zadal mabna, zadal ma’na” (Setiap bertambah susunan huruf, maka bisa membedakan makna). Apalagi kedua kata ini (khair dan makruf), bukan hanya berbeda satu huruf, namun jelas berbeda susunan semua hurufnya. Jelas sekali memiliki makna yang berbeda.

‘Khair’ adalah kebajikan yang baru bisa dipahami oleh manusia bila menggunakan kaca mata Islam. Misalnya, shalat dan puasa. Orang di luar Islam bertanya-tanya dan tidak paham, ngapain muslimin capek-capek shalat lima kali sehari semalam dan menahan lapar dan haus puasa selama sebulan? Mereka nggak ngerti dan paham karena tidak menggunakan sudut pandang Islam.

Sedangkan, ‘makruf’ adalah kebajikan yang bisa dipahami oleh semua orang tanpa harus menggunakan sudut pandang Islam. Misalnya, disiplin, jujur, tertib, bersih, amanah, adil, santun, pemurah. Orang-orang di luar Islam, apapun agamanya, ngerti dan paham bahwa sifat-sifat di atas adalah kebajikan. Inilah yang kemudian populer disebut sebagai nilai-nilai Islam yang universal. Ini pula yang kerap dijadikan indikator penelitian untuk meneliti negara atau kota paling Islami di dunia.

Itulah mengapa redaksi Al-Qur’an pada surat Ali ‘Imran ayat 104 di atas menggunakan kata “yad’una” (mengajak) untuk khair dan “ya’muruna” (memerintahkan) untuk makruf. Karena, makruf itu kebajikan universal, maka pesan Al-Qur’an perintahkan manusia melakukan makruf. Siapa pun orangnya dan agamanya mesti mengakui dan memahami makruf itu kebajikan. Sedangkan, kepada “khair” pesan Al-Qur’an ajaklah manusia menuju “khair”. Karena, khair adalah kebajikan yang baru bisa dipahami dengan sudut pandang Islam. Maka, ajaklah dan serulah manusia, bukan perintahkan.

Apa pelajarannya? Dengan penggunaan redaksi yang berbeda dalam ayat di atas, Al-Qur’an ingin berpesan kepada kita (muslimin), “Jadilah kalian yang terdepan dan terbaik dalam hal-hal makruf agar kalian bisa mengajak manusia (diluar Islam) menuju kepada khair (tertarik kepada Islam dan akhirnya memeluk Islam).”

Bila kita berantakan dalam hal-hal makruf (disiplin, jujur, amanah, tertib, bersih, santun, adil, pemurah, dll), bagaimana bisa kita mengajak orang-orang di luar Islam menuju khair? Bagaimana bisa mereka akan tertarik kepada Islam jika melihat contoh perilaku tidak Islami dari umat muslim sendiri.

Surat Ali ‘Imran ayat 104 ini adalah ayat perintah dakwah. Demikianlah strategi dan metode dakwah yang diajarkan Al-Qur’an dan telah diteladankan dengan sempurna oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi sahabat. Simaklah Sirah Nabawiyah, berapa banyak orang-orang kafir Quraisy tertarik memeluk Islam karena keindahan dan keluhuran akhlak dan pribadi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sudahkah kita menjadi teladan dalam hal-hal makruf agar tersyiar indah ajaran Islam ini kepada orang-orang di luar Islam? Sehingga, dengan keteladanan dalam hal-hal makruf, ajakan kita kepada mereka menuju khair menjadi powerful. Dan, pada akhirnya, mereka tertarik kepada Islam dan semoga memeluk Islam. Wallahu a’lam. (pradila/dakwatuna.com)

Sumber: www.dakwatuna.com

 

Advertisements

Mukjizat Ilmiah dari Kisah Al Kahfi

holy-three-kings-364902__340

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

img_20161219_110944Di awal ayat Al-Qur’an, dengan tegas Allah Swt menegaskan :

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (QS. Al-Baqoroh 2: 1-2)

Kisah Ashabul Kahfi sendiri telah diterangkan dengan begitu jelas dalam Alquran Surat Al-Kahfi. Tujuan Allah menurunkan Surat Al-Kahfi adalah untuk menjawab tantangan kaum kafir terhadap Nabi Muhammad Saw. tentang ‘manusia gua’ yang hidup selama ratusan tahun sebelum Nabi dilahirkan dan menjadi legenda bagi kaum Yunani dan Yahudi.

Kisah tidur panjang tujuh pemuda dan seekor anjing ini dimulai ketika mereka lari untuk menyelamatkan diri ke dalam sebuah gua setelah dikejar pasukan tentara yang ingin membunuh mereka disebabkan keteguhan hati mereka yang tidak mau menyeru kepada Tuhan lain selain Allah. Lantas Allah pun menunjukkan kebesarannya dengan menidurkan mereka selama 309 tahun, lalu kemudian Allah membangunkannya.

img_20161219_110958Mungkinkah itu terjadi? Masuk akalkah?. Bagi orang yang minim ilmu pasti menganggap kisah ini tidak lebih dari sekedar dongeng seperti kisah Lampu Aladin. Meskipun kisah ini diluar batas kewajaran, Allah Swt justru berfirman menepis anggapan salah dari fikiran kita :
“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) anjing itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan (QS. Al-Kahfi 18 : 9)

Ingat, dalam keajaiban lembaran alam ini, masih ada ciptaan yang melebihi keajaiban pada kisah ini. Ibnu Katsir mengatakan :
“Apa yang terjadi pada Ashabul Kahfi, bukanlah hal yang mengherankan bila kita menilik kekuasaan Allah yang lain. Seperti, penciptaan langit, bumi, pergantian siang dan malam, penundukan bulan dan bintang dan yang lainnya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang istimewa pada kisah Ashabul Kahfi, sehingga Allah tidak sanggup melakukannya.

Pengbuktian Ilmiah Kisah Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi bisa dengan tenang dan tetap sehat tidur selama kurun waktu yang lama tanpa mengalami sakit dan terluka. Tempat ini pun tidak ada penghuninya, sehingga tempat ini sesuai untuk kehidupan mereka. Allah Swt telah memenuhi semua kebutuhan mereka.
Semua itu disebabkan beberapa faktor berikut :

a. Penonaktifan fungsi indra pendengar. Suara dari luar bisa membangunkan orang yang sedang tidur. Ini seperti dijelaskan dalam ayat:

“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu” (QS.Al-Kahfi 18:11)

Yang dimaksud dengan “tutup telinga” disini adalah dengan menonaktifkan fungsi telinga. Indra pendengar adalah satu-satunya indra yang bekerja terus menerus dalam semua kondisi yang juga menghubungkan seseorang dengan sesuatu yang berasal dari luar. Sistem penting ini bertanggung jawab atas kondisi bangun dan sadar, juga pengaktifan operasionalisasi sistem tubuh secara menyeluruh.

Dalam kondisi penonaktifan, seperti dalam kasus pembiusan, seseorang bisa masuk ke dalam tidur yang dalam. Semua sistem operasional yang utama dan sistem panas tubuhnya juga menurun seperti dalam kondisi tidur dan terputus dengan dunia luar.

Allah berfirman : “Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (Qs. An-Naba’ 78 : 9 )

Kondisi ini menyebabkan dua hal :

Pertama : Menjaga sistem tubuh mereka dari kehilangan fungsinya agar tetap hidup dan bekerja secara minimal. Bagi mereka, jarum waktu berhenti selama mereka berada di dalam gua. Padahal, jarum waktu masih berputar di luar gua. Ini seperti terjadi pada sel dan kulit luar yang terjaga pada kadar panas yang rendah. Sel dan kulit itu berhenti berkembang, meskipun masih hidup.

Kedua : penonaktifan katalisator bagian dalam yang bisa membangunkan orang yang sedang tidur normal dengan perantara sistem yang telah disebutkan diatas, seperti sakit, lapar, haus atau mimpi yang mengejutkan.

b. Allah Swt juga menjaga tubuh mereka dalam keadaan sehat secara medis dan melindunginya baik dari dalam maupun luar, dengan cara berikut :

Pertama : Membolak-balikkan badan secara terus menerus selama tidur.
Seperti dalam bunyi ayat :

“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, (QS. Al-Kahfi 18:18)

Cara ini dilakukan agar tanah tidak memakan tubuh mereka saat tikar membusuk di kulit mereka, juga saat pembuluh darah dan paru-paru menggumpal. Hal inilah yang disarankan oleh kedokteran modern dalam memberikan terapi pasien yang kehilangan kesadaran atau orang-orang yang tidak mampu bergerak karena lumpuh dan yang lain.

Kedua : Tubuh Ashabul Kahfi dan halaman gua menghadap sinar matahari dengan kadar yang seimbang dan memadai di awal dan akhir siang hari untuk melindungi tubuh mereka dari kadar basah dan keracunan di dalam gua yang gelap.

Seperti dijelaskan dalam ayat ini :
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan,dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, (QS. Al-Kahfi 18 : 17)

Seperti diketahui secara medis, matahari itu penting seklai untuk pembersihan, penguatan tulang dan kulit manusia dengan pembentukan vitamin D melalui kulit dan manfaat lainnya.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya berkata tentang ayat : “Bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri” maksudny adalah bagian kiri mereka terkena sengatan matahari.

Mukjizat Alqur'an Bagian dalam Gua Ashabul Kahfi

Ketiga : Ada celah di atas atap gua yang menghubungkan halaman gua dengan dunia luar. Celah dan halaman itu memungkinkan gua mendapat cukup ventilasi dan cahaya. Ini terlihat dalam firman Allah Swt berikut :

“… mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (QS. Al-Kahfi 18:17)

Keempat : Allah Swt melengkapi mereka dengan keamanan dari gangguan apapun. Mereka seakan tidak mati dan tidak tidur karena tubuh mereka selalu bergerak ke kanan dan ke kiri. Ditambah dengan adanya anjing yang berada di pintu halaman gua sebagai security ala zaman sekarang.

Allah berfirman :
“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. (QS. Al-Kahfi 18:18).

Kelima : Allah menjaga kesehatan mata mereka dengan kondisi tidur. Seperti diketahui dalam ilmu medis, mata yang tertidur akan lebih terjaga kerusakannya dibandingkan jika mata selalu dalam kondisi terjaga. Karena jika kondisi mata terbuka di dalam goa yang gelap gulita pada waktu yang lama, akan mengalami kerusakan mata yang berakibat kebutaan. Sehingga kondisi tidurlah yang paling tepat untuk menjaga tubuh dan terutama mata.

Allah berfirman : “Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; (Qs. Al-Kahfi : 18)

Dalam ayat ini seakan Allah mengatakan bahwa kondisi tidur mereka seperti orang bangun. Selain ditandai dengan bergerak-geraknya tubuh mereka, juga bisa tersirat bahwa mata mereka sesekali terbuka (berkedip) untuk menjaga mata mereka dari kebutaan.

Mukjizat Alqur'an Monumen Gua Ashabul Kahfi

Kesimpulan
Bahwa Allah Swt ingin menunjukkan dengan kisah ini kepada seluruh umat manusia, keajaiban secara ilmiah bagi mereka yang mau berfikir dan meneliti. Padahal sekiranya Allah berkehendak, tanpa perlu dengan proses ilmiah untuk menjaga Ashabul Kahfi inipun bisa saja terjadi. Dan itu sangat mudah bagi Allah.

Seakan Allah juga ingin menunjukkan bahwa Al-Qur’an yang seharusnya diyakini oleh seluruh manusia, adalah benar-benar Kitab yang tidak hanya mengajarkan ibadah pada Allah saja, tapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan yang luar biasa.
Subhaanallah.. laa haula walaa kuata illa billah. (Alquin/BaitulMaqdis.com)

Sumber : Buku Mukjizat Al-Qur’an dan Hadits

Disalin dari : www.eramuslim.com

Keajaiban Ucapan Bismillah

mosque-581446__180

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Sungguh Allah Maha Benar dengan segala firman-Nya. Dia lah Al-Haqqu yang Maha Benar dan tak mungkin salah atau keliru dalam perintah dan larangan-Nya. Apa yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya pastilah ada kebaikan dan manfaat bagi kita, dan apa-apa yang dilarang-Nya di sana pasti ada kebaikan dan manfaat bagi hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. AL-An’aam: 118)Sebuah tim dari para peneliti senior dan Profesor universitas di negeri Suriah sampai pada suatu penemuan ilmiah yang menunjukkan bahwa ada perbedaan besar dalam hal perkembangbiakan mikroba antara daging yang dibacakan takbir ketika disembelih dengan daging yang tidak dibacakan.Tim medis yang terdiri dari 30 Profesor spesialis di berbagai bidang yang berbeda dalam ilmu kedokteran laboratorium, bakteri, virus, dan ilmu pengetahuan gizi dan kesehatan daging dan patologi anatomi, kesehatan hewan dan penyakit pada sistem pencernaan melakukan penelitian biologi dan anatomi selama tiga tahun. Penelitian itu untuk mempelajari perbedaan antara sembelihan yang dibacakan nama Allah (Bismillah) dan membandingkannya dengan sembelihan yang disembelih dengan cara yang sama, akan tetapi tanpa menyebut nama Allah (Bismillah) .

Dan penelitian tersebut telah menunjukkan pentingnya dan perlunya menyebutkan nama Allah (Bismillahi Allahu Akbar) ketika menyembelih binatang ternak dan burung. Dan hasil penelitian itu sungguh mengejutkan dan mengherankan dan yang digambarkan oleh anggota tim medis sebagai sebuah Mukjizat (keajaiban) yang tidak bisa digambarkan dan dikhayalkan. Penanggung jawab Humas dari penelitian ini yaitu Dr.Khalid Halawah berkata bahwa uji coba laboratorium membuktikan bahwa serat daging yang disembelih tanpa Bismillah dan Takbir selama tes uji serat dan perkembangbiakan bakteri ini penuh dengan kuman dan darah yang tertahan dalam daging, sementara daging yang disembelih dengan Bismillah dan Takbir benar-benar bebas dari bakteri dan steril tidak mengandung darah yang tersisa/tertahan. Dan Halawah mendeskripsikan dalam pembicaraannya kepada kantor berita Kuwait (KUNA) bahwa penemuan ini merupakan revolusi ilmiah besar di bidang kesehatan manusia dan keselamatannya yang terkait dengan kesehatan apa uang dia konsumsi berupa daging binatang ternak. Dan yang telah terbukti dengan secara pasti bahwa daging tersebut bersih dan steril dari kuman dengan membacakan Bismillah dan Takbir ketika menyembelihnuya.

Sementara itu, kata peneliti Abdul Qadir al-Dirani bahwa ketidaktahuan orang-orang di zaman kita terhadap Hikmah yang tersembunyi di balik penyebutan Bismillah ketika menyembelih menyebabkan manusia mengabaikan dan enggan untuk menyebutkan Bismillah dan Takbir ketika melakukan penyembelihan binatang ternak dan burung. Dia berkata:”Yang mendorong saya untuk mempersembahkan tema/pembahasan ini dalam gaya bahasa akademi yang ilmiah, yang membangun arti penting dan keseriusan persoalan ini masyarakat, adalah berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Profesor Muhammad Amin Syaikhu dalam kajian beliau tentang al-Quran dan apa yang beliau sampaikan dan kami dengar bahwa daging sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah (Bismillah) maka di dalamnya ada darah yang tersisa/tertahan serta tidak terbebas dari bakteri dan kuman.”

Dia menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan manusia untuk membaca Bismillah ketika menyembelih binatang, Dia Yang Mahakuasa berfirman dalam Surat al-Anam:

“فكلوا مما ذكر اسم الله عليه ان كنتم باياته مؤمنين ” (ايه 118)

” Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’aam: 118)

Dia Yang Mahamulia berfirman:

“ولا تأكلوا مما لم يذكر اسم الله عليه وانه لفسق “

” Dan janganlah kamu mamakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan…“ (QS. Al-An’aam: 121)

Dia juga berfirman:

وأنعام لايذكرون اسم الله عليها افتراء عليه” (ايه 138)

” Dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. …“ (QS. Al-An’aam: 138)

Sumberhttps://www.eramuslim.com

Bila Jodoh Tak Kunjung Tiba

imageedit_14_3238355185.jpg

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Siang datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu Kapan aku menikah ??“.

Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai “bujang lapuk” atau”perawan tua” , “tidak laku“.Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.

Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.

Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini. Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina, mendekati saja diharamkan,

Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”. (QS. Al-Israa’:32 )

Al-Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, “Di dalam larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-, karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram menurut konteks hadits”.[Lihat Fathul Qodir (3/319)]

Pembaca yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang mulia,

Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)“. (QS.Thohaa :1-3)

Allah I berfirman

Allah tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.”(QS. : Al-Maidah: 6)

Namun sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu jalan zina !!

Di sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya; orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah seorang pria yang diridhoi agamanyadan akhlaknya serta memiliki kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

Jika datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi “[HR.At-Tirmidziy dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1022)]

Jadi, yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan, dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hanya karena perasaan “malu” dan “gengsi” hingga rela mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini. Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya“. [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa’iy (2246)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan sabdanya,

مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا

Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya“. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2231)]

Oleh karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata,”Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita.” Beliau bersabda, “Engkau menikahinya dengan mahar berapa?” orang ini berkata:”empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)”. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ

Dengan empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan (penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)“. [HR, Muslim(1424)].

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, “Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami“.[Lihat Syarh Shohih Muslim (6/214)]

Perkara meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَلَا لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ أُوْقِيَةٌ

Ingatlah, jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan 40 dirham)” .[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887), Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3204)]

Pembaca yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah. Yang jelas ia adalah seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.

Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ

Ada tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri”. [HR. At-Tirmidziy (1655), An-Nasa’iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]

Orang tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan“. [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa’iy(5034)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam sabda Beliau,

يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا

permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari“. [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]

Syaikh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, “Kalau sekiranya manusia mencukupkan dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki maupun wanitanya”.[Lihat Az-Zawaaj]

Link sumber : https://qurandansunnah.wordpress.com

 

Wajibnya Sholat Fardhu di Masjid

th (35).jpg

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dari Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, kepada kaum muslimin, semoga Allah memberi mereka taufiq menuju apa yang dia ridloi dan mengumpulkan kita semua bersama orang-orang takut dan bertaqwa kepada Allah. Amin.

As Salamu ‘alaikum wa rahmatulahi wa barakatuhu. Amma ba’du:

Sampai berita kepada saya bahwa kebanyakan orang telah melalaikan penunaian shalat dengan berjama’ah. Mereka beralasan dengan penggampangan oleh sebagian ulama dalam masalah itu. Maka wajib bagiku untuk menjelaskan perkara yang agung dan hebat ini.

Dari Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, kepada kaum muslimin, semoga Allah memberi mereka taufiq menuju apa yang dia ridloi dan mengumpulkan kita semua bersama orang-orang takut dan bertaqwa kepada Allah. Amin.

As Salamu ‘alaikum wa rahmatulahi wa barakatuhu. Amma ba’du:

Sampai berita kepada saya bahwa kebanyakan orang telah melalaikan penunaian shalat dengan berjama’ah. Mereka beralasan dengan penggampangan oleh sebagian ulama dalam masalah itu. Maka wajib bagiku untuk menjelaskan perkara yang agung dan hebat ini.

Selayaknya seorang muslim tidak meremehkan suatu perkara yang Allah malah menganggapnya besar dalam Al Qur’an. Dan rasul-Nya juga melakukan demikian. Semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau dengan sebaik-baik shalawat dan salam. Allah sering sekali menyebut tentang shalat dalam Al Qur’an. Dan juga membuat masalahnya besar. Allah menyuruh untuk menjaganya dan menunaikannya dengan berjama’ah. Allah mengabarkan bahwa sikap meremehkannya dan bermalas-malas menunaikannya termasuk sifat orang munafik. Allah mengatakan dalam Kitab-Nya yang Jelas:

Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha. Dan berdirilah (kalian semua) karena Allah (dalam shalat) dengan khusyu’ ” (Al Baqarah: 238)

Bagaimana seseorang akan dianggap “menjaga” shalat-shalat tersebut dan mengagungkannya, bila kenyataannya dia tidak mau menunaikannya bersama saudara-saudaranya dan meremehkannya. Allah Ta’ala berfirman:

Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Al Baqarah:43)

Ayat yang mulia ini mengaskan wajibnya shalat dengan berjama’ah. Dan bersama-samanya orang yang shalat dalam shalat mereka. Kalau maksudnya hanya menegakkannya saja, tentu tidak akan sesuai dengan akhir ayatnya, yaitu: Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” Karena pada Allah memerintahkan untuk menegakkannya di awal ayat. Allah berfirman:

Dan apabila kalian berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu merekashalat bersamamu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.” (An Nisa’: 102)

Walau dalam keadaan perang, Allah tetap mewajibkan shalat berjama’ah, maka bagaimana pula dalam keadaan aman?!

Kalau seseorang diperbolehkan meninggalkan shalat berjama’ah, tentu orang-orang yang sedang menghadapi musuh dan yang sedang bersiap menyerang mereka tentu lebih pantas untuk diperbolehkan meninggalkan shalat berjama’ah. Ketika realitanya tidak demikian, tahulah kita bahwa menunaikan shalat dengan berjama’ah adalah termasuk perkara wajib yang sangat penting. Dan tidak boleh bagi seorang pun untuk terlambat darinya.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Saya sangat ingin agar ada yang memimpin pelaksanaan shalat, kemudian saya pergi bersama beberapa orang sambil membawa kayu bakar mendatangi rumah-rumah orang yang tidak mengikuti shalat berjama’ah, kemudian kubakar rumah mereka.”

Dalam shahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa tidak ada orang yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali dia adalah seorang munafik atau orang sakit. Dan pada masa itu orang sakit dipapah untuk bisa sampai kemasjid melaksanakan shalat.”

Ibnu Mas’ud berkata lagi: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamm telah mengajarkan kami Sunnah-Sunnah yang berisi hidayah, dan diantara Sunnah-Sunnah itu: Shalat di masjid yang disitu dilakukan adzan.”

Dalam shahih Muslim dari Ibnu Mas’ud juga, ia berkata: “Siapa yang ingin bertemu dengan Allah esok hari dalam keadaan sebagai seorang muslim, maka hendaklah dia menjaga shalat-shalat ini ketika diserukan adzan baginya. Karena Allah telah mensyari’atkan Sunnah-Sunnah yang berisi petunjuh bagi Nabi kalian, dan shala-shalat pada saat ada adzan baginya termasuk Sunnah-Sunnah yang berisi petunjuk itu. Kalau kalian shalat di rumah-rumah kalian , sebagaimana orang-orang yang tidak turut berjama’ah shalat di rumahnya, niscaya kalian akan meninggalkan Sunnah Nabi kalian. Dan bila kalian meninggalkan Sunnah Nabi kalian, pasti kalian akan sesat. Bila seseorang bersuci kemudian dia melakukannya dengan baik, kemudian menuju salah satu mesjid, maka Allah akan mencatatkan untuknya satu pahala bagi satu langkahnya. Dan mengangkatnya karena satu langkah itu satu derajat. Dan menghilangkan baginya karena langkah itu satu dosa. Kami (para sahabat) berpendapat bahwa tidak ada seseorang yang tidak ikut berjama’ah, kecuali doa seorang munafik yang tidak diragukan kemunafikannya. Dan dimasa itu seseorang ada yang mendatangi masjid untuk shalat berjama’ah dalam keadaan dipapah dua orang sampai masuk kedalam shaf.”

Dalam shahih Muslim juga dari Abu Hurairah, radliyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seorang buta berkata: Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang tetap ke mesjid. Maka apakah saya memiliki keringanan untuk boleh shalat di rumahku? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: Apakah engkau mendengar suara adzan memanggil untuk shalat? Kata orang itu: Ya. Kata Nabi: Maka penuhilah.”

Hadits-hadits tadi menunjukkan wajibnya shalat berjama’ah dan wajibnya menegakkannya di rumah-rumah Allah yang Allah mengizinkan kita untuk meninggikan dan menyebut-nyebut Nama-Nya didalamnya, banyak sekali. Maka wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan hal ini. Dan bersegera kepadanya serta saling berwasiat dengannya bersama anak-anaknya, keluarganya, tetangganya dan seluruh saudaranya kaum muslimin. Itu sebagai sikap melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan sebagai sikap waspada terhadap apa yang Allah larang dan Rasul-Nya. Dan sebagai sikap untuk tidak meniru-niru kaum munafik yang Allah banyak mencela mereka karena akhlak-akhlak mereka yang jelek dan yang paling jeleknya: Mereka bermalas-malas menunaikan shalat. Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir) : tidakmasuk kedalam golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan 9untuk memberi petunjuk) baginya.”(An Nisa’: 142-143)

Karena meninggalkannya dalam penunaian dengan berjama’ah adalah sebab terbesar untuk meningalkannya secara menyeluruh. Dan kita sudah tahu bahwa meninggalkan shalat adalah kufur, sesat dan keluar dari Islam. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Antara seseorang dan antara kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat.”(HR Muslim dalam shahihnya dari Jabir radliyallahu ‘anhu)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat. Maka siapa yang meninggalkannya, dia telah kafir.”

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menerangkan tentang pengagungan kepada masalah shalat, wajib menjaganya dan menegakkannya sebagaimana yang disyri’atkan Allah serta peringatan kepada orang yang meninggalkannya, banyak sekali.

Maka wajib atas setiap muslim untuk mejaganya pada waktunya dan menegakkannya seperti yang disyari’atkan Allah. Dan agar menunaikannya bersama saudara-saudaranya dengan berjama’ah di rumah-rumah Allah. Sebagai sikap taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta sebagai sikap waspada dari kemurkaan Allah dan sakitnya hukuman-Nya.

Bila kebenaran telah tampak dan jelas dalil-dalilnya, tidak boleh bagi seorang pun untuk berkilah darinya dengan berdalih kepada pendapat si A atau si B. karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(An Nisa’: 59)

Allah Subhanahu juga berfirman:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An Nur:63)

Kita tahu banyak sekali faedah dalam shalat berjama’ah, yang paling jelasnya adalah adanya sikap saling mengenal dan tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran untuk terus mengamalkannya.

Juga disana kita bisa memberikan semangat kepada orang-orang yang suka meninggalkannya, memberitahu kepada yang tidak mengetahuinya, menjauhi jalan mereka, menampakkan simbol-simbol Allah diantara hamba-Nya, mengajak kepada Allah dengan ucapan dan amalan dan banyak lagi faedah yang lainnya.

Semoga Allah memberi taufiqnya kepadaku dan juga kepada kalian untuk bisa mengamalkan apa-apa yang membuat-Nya ridla dan kebaikan dalam urusan dunia dan akhirat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari kejelekan-kejelekan diri-diri kita dan amal-amal kita serta melindungi kita agar jangan sampai meniru-niru sifat kaum munafik. Karena Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.

Judul Asli: Rasa’il fit Thoharoti wash Sholah, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah

Link Sumber : https://qurandansunnah.wordpress.com

Sejarah, Keistimewaan, dan Keutamaan (puasa) 10 Muharam

cafe-1629208__340.jpg

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt. Kepada hamba-Nya, adalah ditetapkan-Nya hari/tanggal 10 Muharam sebagai hari yang memiliki keistimewaan dan keutamaan bagi orang-orang yang mau beribadah kepada Allah Swt khususnya ibadah puasa sunat.

Di bawah ini ada rahasia yang sangat besar di balik 10 muharram– SEJARAH, KEISTIMEWAAN, DAN KEUTAMAAN (PUASA) 10 MUHARRAM akan di jelaskan sejelas-jelasnya dan di jabarkan semua di artikel di bawah ini, maka dari itu jangan sampai anda tidak membaca artikel di bawah ini.

Dari Ibnu Abbas ra. berkata Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) maka Allah SWT akan memberi kepadanya pahala 10.000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10.000 orang berhaji dan berumrah, dan 10.000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah SWT akan menaikkan dengan setiap rambut satu derajat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari ‘Asyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh umat Rasulullah saw. yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.”

Lalu para sahabat bertanya Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah saw, adakah Allah telah melebihkan hari ‘Asyura daripada hari-hari lain?” Maka berkata Rasulullah saw: ” Ya, memang benar, Allah Ta’ala menjadikan langit dan bumi pada hari ‘Asyura, menjadikan laut pada hari ‘Asyura, menjadikan bukit-bukit pada hari ‘Asyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari ‘Asyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari ‘Asyura, dan Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari ‘Asyura, Allah SWT menenggelamkan Fir’aun pada hari ‘Asyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari ‘Asyura, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari ‘Asyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Asyura!”.

Dari riwayat tersebut terdapat setidaknya 12 kejadian besar dibalik 10 Muharram.

Hadits lainnya:

Artinya: “Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Dari berbagai referensi, maka keistimewaan/keutamaan 10 Muharam berlaku:

1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah dan dipertemukan dengan Siti Hawa..
2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
7. Penglihatan Nabi Ya’kub yang kabur dipulihkkan Allah.
8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
12. Nabi Sulaiman dikaruniakan Allah kerajaan yang besar.
13. Nabi Isa diangkat ke langit.
14. Nabi Muhammad saw. terbebas dari racun orang-orang Yahudi.
15. Hari pertama Allah menciptakan alam.
16. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
17. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
18. Allah menjadikan ‘Arsy.
19. Allah menjadikan Luh Mahfuz.
20. Allah menjadikan alam.
21. Allah menjadikan Malaikat Jibril.

Di dalam Kitab Hadits Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan beberapa hadits berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari ‘ASYURA (10 Muharram) dan TASU’A (9 Muharram), yaitu:

1. Dari Ibnu Abbas, “Bahwa Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
* ‘muttafaq ‘alaihi‘ secara bahasa berarti disepakati atasnya. Istilah ini biasanya digunakan untuk hadits yang diriwayatkan dan disepakati keshahihannya oleh 2 imam hadits besar: Imam Al-Bukhâri dan Imam Muslim, jadi tingkat keshahihannya menempati posisi ‘paling shahih’.

2. Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa (dosa-dosa kecil) satu tahun yang lalu.”(HR. Muslim)

3. Dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Rasulullah saw. bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan.” (HR. Muslim)

Hadits populer:

“Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘ASYURA (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu.”[Shahih riwayat Imam Muslim, Abu Dawud , Ahmad , Baihaqi, dan lain-lain]
—————————————————————-

Nah, yang menjadi beberapa kekeliruan adalah tentang bagaimana cara menyelisihi orang kafir/Yahudi (KARENA mereka juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram). Dan ini terbukti ketika penulis pernah 1 rumah dengan teman non muslim, ternyata mereka juga ikut berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Beberapa hadits tentang hal ini:
1. “Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah saw. pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa’i dalam Al-Kubra, Al-Humaidi, Al-Baihaqi, Abdurrazaq, Ad-Darimy, Ath-Thohawi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

2. “Nabi saw. tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka kami berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dalam Al-Kubra, Ahmad, Abdurrazaq, Ibnu Majah, Baihaqi, Al-Humaidi, Ath-Thoyalisi)

Dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari ‘Asyura di masa jahiliyah, dan “sebelum hijrah” pun Nabi saw. telah mengerjakannya. Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa.

Pada tanggal 9 Muharram (disebut hari Tasu’a) dinamakan “sunnah taqririyah” dimana Rasulullah belum sempat menjalankan ibadah puasa ini. Orang Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram karena sebagai rasa syukur atas diselamatkan Nabi Musa as. dari Fir’aun, kemudian Rasulullah juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram, tetapi salah seorang sahabat ada yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengapa kita menyamai umat nabi Musa as. Kemudian Rasulullah SAW menjawab puasa tanggal 10 Muharram ini adalah hakku dan untuk membedakannya maka tahun depan aku akan berpuasa 2 hari (Tasu’a dan ‘Asyura) tetapi Rasulullah belum sempat menjalankannya (karena wafat).

Dari berbagai riwayat dan pendapat, ada 4 Cara Menyikapi Puasa ‘Asyura:
1. Berpuasa tiga hari pada 9, 10, dan 11 Muharram.
2. Berpuasa pada hari 9 dan 10 Muharram.
3. Berpuasa pada hari 10 dan 11 Muharram seandainya pada tanggal 9 Muharram nya tidak berpuasa.
4. Berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) saja, sebagian saja ulama memakruhkannya karena Nabi saw. memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makruh).

PENJELASANNYA:

(1) BERPUASA 9,10, dan 11 Muharram
“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan SELISIHILAH orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi.
Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma’al): “Ini adalah derajat yang paling sempurna.” Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan:”Inilah yang utama.”

Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10 dan 11 Muharram) adalah Asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma’arifus Sunan.

Namun ulama-ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.

*Meskipun hadits tersebut dha’if, tetapi secara umum boleh diamalkan jika itu HANYA TERKAIT FADHILAH AMAL yang tidak menyangkut aqidah dan hukum.
Inilah tiga syarat penting diperbolehkannya beramal dengan hadits-hadits dha’if dalam keutamaan amal;
– Hadits itu tidak sampai derajat maudlu’ (=palsu).
– Orang yang mengamalkannya ‘mengetahui’ bahwa hadits itu adalah dha’if.
– Tidak memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits shahih.

(2) BERPUASA 9 dan 10 Muharram
MAYORITAS HADITS menunjukkan cara ini. Juga pada Kitab Hadits Riyadhus Shalihin pun hanya dibahas mengenai puasa 9 dan 10 Muharram, dan tidak dikutip dalil satu pun tentang puasa 11 Muharram di sana.

(3) BERPUASA 10 dan 11 Muharram
“Berpuasalah pada hari Asyura dan SELISIHILAH orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”
Hadits marfu’ ini tidak shahih karena ada illat (cacat). Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal 49): “Dalam sebagian riwayat disebutkan “atau sesudahnya” maka kata ‘atau’ di sini mungkin karena keraguan dari perawi atau memang menunjukkan kebolehan….”

Al-Hafidz berkata dalam Fathul Baari: “Dan ini adalah akhir perkara Rasulullah saw., dahulu beliau suka menyocoki ahli kitab dalam hal yang tidak ada perintah, lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termahsyur, beliau suka MENYELISIHI AHLI KITAB SEBAGAIMANA DALAM HADITS SHAHIH. Maka ini (masalah puasa ‘Asyura) termasuk dalam hal itu. Bisa menambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi ahli kitab.”

(4). BERPUASA DI 10 MUHARAM SAJA

Demikian penjelasan mengenai keistimewaan puasa di 10 Muharam, semoga bermanfaat menambah wawasan ke-Islam-an kita. Wallahu a’lam bishawab.

Referensi : Websites, Hadits Riyadhus Shalihin, 1001 Kisah Teladan, Kitab Hisnul Muslim e-book.

Sumber : http://muhammadsyukronfauzi.blogspot.co.id

 

 

Semoga Allah Mengampuniku Dan Dirimu

family-1517179__340

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tulisan ini adalah sebuah nasihat, yang tentu saja sangat bermanfaat buat kita dalam menghadapi dan menyikapi berbagai masalah dalam hidup kita. Teks alsinya saya salin dari Majalah Tarbawi Edisi 151-15 Maret 2007, selengkapnya berikut ini semoga bermanfaat.

Saudaraku, Menyirami api kemarahan itu tidak sederhana. Menenangkan diri untuk tidak bereaksi spontan, tidak melakukan pembalasan terhadap penghinaan, tidak melampiaskan kebencian atas rasa sakit, kepada orang yang menghina dan menyakiti, itu tidak mudah. Itulah sebabnya Rasulullah saw menggarisbawahi, “Orang yang kuat itu bukan orang menang dalam bergulat. Tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

Bagaimana orang-orang shalih mempraktekkan sabda Rasulullah saw tersebut? Bagaimana kemampuan mereka menjaga dan menahan diri dari kemarahan yang umumnya bisa membakar? Ibnul Jauzi dalam kitab Shifatu Shafwah menuturkan kisah tentang tenangnya orang-orang shalih dalam menyikapi kondisi yang seharusnya membuat jiwa bergolak. Ia menuliskan, “Seseorang datang kepada Ali bin Husein bin Ali radhiyallahu anhum ajma’in. “Wahai Ali bin Husein, seseorang telah menyakitimu dan menginjak kehormatanmu.” Ali bin Husein mendengarkan perkataan orang itu lalu terdiam. Tapi itu tidak lama, Ali bin Husein tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengejutkan si pemberi informasi. “Bawa saya kepada orang tersebut…” Katanya.

Si pemberi informasi menduga, Ali bin Husein akan melakukan pembalasan atas orang yang telah menghina dan mencaci dirinya. Ali bin Husein akan balik menyakiti, mencaci dan menghinanya lebih dari apa yang telah dilakukan orang tersebut atas dirinya.”

Saudaraku, Banyak sekali di antara kita yang sejalan dengan dugaan si pemberi informasin tadi. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Penghinaan berbalas penghinaan yang lebih menyakitkan. Tapi yang dilakukan oleh Ali bin Husein tidak begitu. Ia justru meninggalkan rumahnya dan berangkat menuju rumah orang yang menyakitinya. Lalu, saat ia bertemu dengan orang yang menyakiti dan menghinanya, Ali bin Husein berkata, ” Jika apa yang engkau katakan tentang diriku itu benar, aku berharap Allah mengampuni kesalahanku itu. Tapi jika apa yang engkau katakan tentang diriku itu tidak benar, semoga Allah mengampunimu…”

Saudaraku, Lihatlah bagaimana kemampuan Ali bin Husein radhiyallahu anhum, menguasai gejolak jiwanya ketika itu. Perhatikanlah bagaimana seseorang bisa tetap menahan lidah, menahan diri untuk berbicara, bahkan bisa mengeluarkan kata-kata yang bergitu baik untuk seseorang yang telah menyakitinya. Sikap seperti ini pasti sangat sulit dilakukan, dan bila dilakukan, itu sebenarnya seperti menyingkap karakter asli yang luar biasa dari kepribadian seseorang. Dan itulah hasil dari pendidikan Islam.

Tenang menyikapi hempasan gelombang tuduhan. Menahan diri menghadapi pukulan yang menyakitkan. Bergeming menghadapi kedzaliman terhadap dirinya. Datang kepada orang yang menuduh, memukul dan mendzalimi. Mengetuk pintu rumahnya, dan mengatakan, “Saudaraku, jika apa yang kau katakan tentang diriku itu benar, aku berharap Allah mengampuni kesalahanku itu. Tapi jika apa yang engkau katakankatakan tentang diriku itu tidak benar, semoga Allah mengampunimu…” Ali bin Husein lalu pulang. Dan, ternyata orang yang melontarkan tuduhan itu berlari dan mengejarnya. Ia mengatakan, “Tidak benar wahai Ali, Aku tidak akan mengulangi melakukan apa yang engkau tidak suka.”

Saudaraku, Kita bisa lebih banyak lagi memperhatikan dan merenungkan keistimewaan salafu shalihdalam mketangguhan jiwa mereka menghadapi api amarah yang biasanya membakar seseorang. Dua orang sahabat Rasulullah saw, Khalid bin Walif dan Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhum pernah terlibat perselisihan tajam. Seseorang lalu menyampaikan Khalid kepada Sa’ad. Sa’ad justru mengatakan kalimat pendek kepada orang itu, “Diam, apa yang antara saya dengan Khalid, tidak menyentuh agama kami.”

Saudaraku, Perselisihan yang terjadi di antara kita, pembicaraan keras yang boleh jadi terlontar di antara kita, kebencian yang memunculkan jarak di antara kita, sebenarnya banyak yang tidak memasuki wilayah urusan agama. Maksudnya berbagai permaslahan yang menjadi masalah di antara kita, umumnya tidak mengenai masalah agama. Sehingga bila efeknya sampai menodai kehormatan sesama, mengambil haknya atau bahkan menumpahkan darahnya, tetaplah haram karena dia adalah seorang Muslim. Itulah barangkali yang sangat dipahami oleh Sa’ad bin Abi Waqqas.

Baginya, garis merah permasalahan adalah kehormatan agama, bukan yang lain. Garis merah itulah yang tidak boleh dilanggar dalam kondisi apapun. Garis merah itulah yang menjadi pembatas setiap orang untuk bisa bersikap. Garis merah itulah yang sebenarnya merupakan batas pemeliharaan hak bersaudara sesama Muslim.

Itulah sebabnya Sa’ad bin Al Ash merasa sangat khawatir bila sepeninggalnya, anak keturunannya berlaku tidak pantas dengan saudara-saudaranya sesama Muslim. Detik-detik menjelang wafatnya, Sa’ad bin Al Ash berpesan kepada anak-anaknya, ” Anakku, jangan engkau lupakan saudara-saudaraku sepeninggalku. Berlakulah kepada mereka sebagaimana aku berlaku kepada mereka…”

Saudaraku, Perhatikanlah bagaimana perkataan Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah kepada para tahanan yang dipenjara bersamanya. “Semoga Allah meridhoi kalian. Saya tidak suka bila ada salah seorang yang disakiti. Apalagi ia adalah salah satu sahabat kita. Saya tidak menyukai kondisi itu, lahir dan batin. Saya tidak mengecam siapapun dari mereka, saya juga tidak akan mengeluarkan kata-kata mencaci mereka. Bagi saya mereka tetap terhormat dan mulia.” (Qawa’id Dzahabiyah fi Al Ukhuwwah Al Islamiyah, Abdullah Farraj Allah)

Ingat saudaraku, Semoga, bila kita mendapatkan fitnah dan tuduhan keras dari seseorang, kita bisa mengatakan padanya dengan tenang, “Jika apa yang engkau katakan tentang diriku itu benar, aku berharap Allah mengampuni kesalahanku itu. Tapi jika apa yang engkau katakan tentang diriku itu tidak benar, semoga Allah mengampunimu.@

Source : Tarbawi Edisi 151-15 Maret 2007

Mereka Adalah Kaum Anshar

christmas-934167__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Mereka itu siapa sih? Itu mungkin pertanyaan kita ketika sepintas mendengar kabar atau informasi tentang mereka. Penasaran siapa mereka? Mereka itu adalah kaum Anshar. Begitu pemurah dan penolong pada saudara seiman. Pemilik rumah yang memberikan segalanya. Tidak ada golongan manusia yang begitu mudah memberikan pertolongan sepenuh kemampuan seperti orang-orang Anshar. Sebelumnya, mereka sedikitpun tidak mengenal orang-orang yang mereka tolong. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka adalah sesama muslim.

Sifat-Sifat Kaum Anshar ini begitu istimewa dan mulianya seperti yang Allah jelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajrin) ; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang di pelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.Al Hasyr : 9)

Saudara macam apa ini, yang bersedia membagi dua semua miliknya. Dari kebun, toko, rumah, budak, bahkan jika isterinya disukai ia akan ceraikan segera dan menikahkannya dengan sang saudara. Masya Allah…

Itsar adalah mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri meski sangat membutuhkan. Ini adalah amal kedermawanan tertinggi dari diri seorang muslim. Kaum Anshar adalah contoh konkret yang dicatat sejarah sebagai pemilik sifat ini.

Setelah diizinkan Allah berhijrah, kaum muslimin Mekkah menetap di Kota Madinah. Kaum Anshar sangat antusias menerima saudara-saudara seiman mereka, kaum Muhajirin. Mereka membagi tempat tinggal dan makanan dengan senang hati. Bahkan, mengutamakan segala sesuatu bagi kaum Muhajirin melebihi diri mereka sendiri.

Mengenai hal ini Abdurrahman bin ‘Auf ra menceritakan kisahnya sendiri, “Ketika kami tiba di Madinah, Nabi SAW. telah mempersaudarakan saya dengan Said bin Rabiah. Beliau berkata kepada saya, “Saya adalah orang yang paling kaya dikalangan kaum Anshar. Ambillah setengah dari harta kekayaan saya. Saya juga memiliki 2 orang istri, pilihlah salah seorang yang kamu senangi, saya akan menceraikannya. Jika iddahnya selesai maka kamu dapat mengawininya” (HR.Al-Bukhari)

Sifat istimewa yang kedua ialah mereka sangat mencintai kaum Muhajirin. Jika seseorang membaca sejarah permulaan Islam, maka ia akan heran dengan keadaan kasih sayang
yang terjalin dikalangan sahabat.
Ketika hijrah ke Madinah Nabi SAW. telah mengadakan hubungan persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajrin sehingga setiap seorang Muhajirin mendapat saudara seorang Anshar sebagai saudara kaitan khusus. Setiap orang Muhajrin dipersaudarakan dengan seorang Anshar, karena kaum Muhajirin adalah para pendatang sedangkan kaum Anshar adalah orang-orang setempat (Madinah). Ditempat baru ini kaum Muhajirin akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kaum Anshar sebagai orang tempatan membantu kaum Muhajrin jika mereka mengalami kesulitan sehingga mereka akan mendapat kemudahan. Betapa suatu aturan yang sungguh istimewa yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW dimana kaum Muhajirin mendapat kemudahan dan kaum Anshar pun tidak mendapat kesulitan. Karena seseorang bertanggung jawab atas seseorang adalah mudah.

Sifat ketiga, dalam ayat suci diatas yang menerangkan tentang orang Anshar ialah bahwa jika kaum Muhajirin mendapatkan sesuatu dari harta rampasan perang atau dari yang lainnya, maka hati orang-orang Anshar tidak merasa sempit dan cemburu. Hasan Basri rah a berkata, “Maksudnya ialah jika kaum Muhajirin memperoleh kelebihan umum daripada kaum Anshar, maka hal ini tidak menyusahkan hati orang Anshar”. (Durrul Mantsur)

Sifat keempat yang diterangkan diatas ialah walaupun mereka dalam kemiskinan dan kelaparan tetapi mereka masih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Banyak cerita-cerita seperti itu yang dapat ditemui didalam sejarah hidup mereka.

Seorang sahabat telah datang kepada Nabi SAW dan mengadukan kelaparan dan kesempitannya. Nabi SAW telah mengirim utusan kepada istri-istri Beliau untuk mencari makanan, tetapi diberitahukan bahwa tidak ada makanan disana. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada orang-orang yang berada diluar “Adakah diantaramu yang sanggup melayani tamu ini?”
Seorang Anshar yang disebut dalam beberapa riwayat bernama Abu Thalha ra telah membawa tamu itu kerumahnya. Lalu ia berkata kepada istrinya, “Ini adalah tamu Nabi SAW kita mesti melayaninya dengan baik dan hidangkanlah apapun makanan yang kita miliki”.
Istrinya menjawab “Dirumah kita hanya ada sedikit makanan untuk anak-anak kita. Selain itu tidak ada apa-apa lagi”.
Abu Thalha ra berkata “Tidurkanlah anak-anak. Dan jika saya telah duduk dengan tamu untuk makan, maka padamkanlah lampu dengan berpura-pura untuk membetulkannya, supaya tamu dapat makan dengan puas dan kita tidak perlu makan,” maka demikianlah yang dilakukan oleh istrinya.

Masih adakah manusia-manusia seperti ini di zaman sekarang? Jawabannya pastilah sudah tak ada, atau paling tidak, masih ada tapi bisa dihitung dengan jari.

Itulah sekelumit kisah persaudaraan sejati di antara orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar. Semoga bermanfaat. @spreading the pearl.wordpress.com

|=====================================================|

KOMENTAR DI SINI VIA AKUN FB ANDA

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (3/3)

caravan-339564__340 (1)
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, ada empat tokoh besar yang duduk bertemu. Dua orang di antaranya telah kita uraikan di tulisan sebelumnya. Banyak pelajaran yang kita dapati dan kaji dari keduanya. Pelajaran yang bisa kita adaptasi dengan realita kekinian. Berikutnya, tokoh ketiga adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Abu Thalib

Mungkin, penolakan Abu Jahal terhadap Islam membuat kita terheran. Bagaimana seorang yang dijuluki Abu al-Hakam, bapak kebijaksanaan, bisa menolak Islam dengan alasan gengsi kesukuan. Sebaliknya, kita juga takjub dengan Abdullah bin Abi Umayyah. Bagaimana lika-liku kehidupan yang ia alami hingga mengantarkannya pada hidayah dan syahid di akhir hayat. Tapi, kisah Abu Thalib akan membuat kita lebih terheran lagi. Bagaimana ia bisa menolak Islam?!

Begitu banyak jalan dan sebab yang memungkinkan Abu Thalib menerima Islam dan menjadi seorang mukmin. Ia seorang yang cerdas. Matanya menyaksikan, bagaimana wahyu turun pada anak saudaranya sejak hari pertama. Ia tahu dan yakin wahyu itu benar. Tak pernah ia dustakan keponakannya yang mengklaim diri sebagai nabi. Rasulullah sangat mencintainya. Demikian juga dia, keponakannya ini berada di tempat istimewa di hatinya. Ia laki-laki terhormat. Tokoh bani Hasyim yang turut berbangga, terlahir seorang nabi dari kabilahnya. Rasulullah berjanji membelanya di hari kiamat jika ia mengucapkan laa ilaaha illallaah. Tapi tak diindahkannya. Setelah semua itu, ia akhiri hayatnya dengan berpegang pada agama ayah dan kakek-kakeknya.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)

caravan-339564__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Di tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana peristiwa wafatnya paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Bagaimana Nabi berusaha mendakwahi sang paman di akhir hayat. Dan bagaimana pula tokoh-tokoh kekufuran, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tak mau kalah menyerukan kekufuran untuk teman mereka.

Orang pertama yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini adalah Abu Jahal.

Abu Jahal

Namanya adalah Amr bin Hisyam al-Makhzumi. Ia dikenal sebagai seorang yang bijaksana. Mampu menyelesaikan perselisihan antara dua orang dengan putusan yang membuat keduanya lapang. Karena itu ia digelari Abul Hakam (tokoh yang bijaksana) oleh orang-orang Mekah. Saat risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, ia menolaknya. Alasannya, hanya dengan alasan fanatik kesukuan. Sehingga dalam Islam ia disebut dengan Abu Jahal (bapak kebodohan).

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, kita bisa mengetahui bahwa Abu Jahal adalah seorang yang sangat bersemangat turut andil dalam peristiwa penting di Mekah. Ia senantiasa memperhatikan setiap perkembangan yang dapat mengokohkan syiar kekufuran. Ia gelontorkan seluruh daya upaya. Kesungguhan maksimal, waktu siang dan malam yang bernilai, harta hasilnya berniaga, tak membuatnya reda rasa luka, ia tahan kantuk yang membuat mata tekatup, semua itu ia lakukan demi menghalangi dakwah Rasulullah.

Baca teks selengkapnya di sini>>