Sejarah, Keistimewaan, dan Keutamaan (puasa) 10 Muharam

1

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt. Kepada hamba-Nya, adalah ditetapkan-Nya hari/tanggal 10 Muharam sebagai hari yang memiliki keistimewaan dan keutamaan bagi orang-orang yang mau beribadah kepada Allah Swt khususnya ibadah puasa sunat.

Di bawah ini ada rahasia yang sangat besar di balik 10 muharram– SEJARAH, KEISTIMEWAAN, DAN KEUTAMAAN (PUASA) 10 MUHARRAM akan di jelaskan sejelas-jelasnya dan di jabarkan semua di artikel di bawah ini, maka dari itu jangan sampai anda tidak membaca artikel di bawah ini.

Baca teks lengkapnya di sini

 

Advertisements

Semoga Allah Mengampuniku Dan Dirimu

family-1517179__340

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tulisan ini adalah sebuah nasihat, yang tentu saja sangat bermanfaat buat kita dalam menghadapi dan menyikapi berbagai masalah dalam hidup kita. Teks alsinya saya salin dari Majalah Tarbawi Edisi 151-15 Maret 2007, selengkapnya berikut ini semoga bermanfaat.

Saudaraku, Menyirami api kemarahan itu tidak sederhana. Menenangkan diri untuk tidak bereaksi spontan, tidak melakukan pembalasan terhadap penghinaan, tidak melampiaskan kebencian atas rasa sakit, kepada orang yang menghina dan menyakiti, itu tidak mudah. Itulah sebabnya Rasulullah saw menggarisbawahi, “Orang yang kuat itu bukan orang menang dalam bergulat. Tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

Bagaimana orang-orang shalih mempraktekkan sabda Rasulullah saw tersebut? Bagaimana kemampuan mereka menjaga dan menahan diri dari kemarahan yang umumnya bisa membakar? Ibnul Jauzi dalam kitab Shifatu Shafwah menuturkan kisah tentang tenangnya orang-orang shalih dalam menyikapi kondisi yang seharusnya membuat jiwa bergolak. Ia menuliskan, “Seseorang datang kepada Ali bin Husein bin Ali radhiyallahu anhum ajma’in. “Wahai Ali bin Husein, seseorang telah menyakitimu dan menginjak kehormatanmu.” Ali bin Husein mendengarkan perkataan orang itu lalu terdiam. Tapi itu tidak lama, Ali bin Husein tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengejutkan si pemberi informasi. “Bawa saya kepada orang tersebut…” Katanya.

Si pemberi informasi menduga, Ali bin Husein akan melakukan pembalasan atas orang yang telah menghina dan mencaci dirinya. Ali bin Husein akan balik menyakiti, mencaci dan menghinanya lebih dari apa yang telah dilakukan orang tersebut atas dirinya.”

Saudaraku, Banyak sekali di antara kita yang sejalan dengan dugaan si pemberi informasin tadi. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Penghinaan berbalas penghinaan yang lebih menyakitkan. Tapi yang dilakukan oleh Ali bin Husein tidak begitu. Ia justru meninggalkan rumahnya dan berangkat menuju rumah orang yang menyakitinya. Lalu, saat ia bertemu dengan orang yang menyakiti dan menghinanya, Ali bin Husein berkata, ” Jika apa yang engkau katakan tentang diriku itu benar, aku berharap Allah mengampuni kesalahanku itu. Tapi jika apa yang engkau katakan tentang diriku itu tidak benar, semoga Allah mengampunimu…”

Saudaraku, Lihatlah bagaimana kemampuan Ali bin Husein radhiyallahu anhum, menguasai gejolak jiwanya ketika itu. Perhatikanlah bagaimana seseorang bisa tetap menahan lidah, menahan diri untuk berbicara, bahkan bisa mengeluarkan kata-kata yang bergitu baik untuk seseorang yang telah menyakitinya. Sikap seperti ini pasti sangat sulit dilakukan, dan bila dilakukan, itu sebenarnya seperti menyingkap karakter asli yang luar biasa dari kepribadian seseorang. Dan itulah hasil dari pendidikan Islam.

Tenang menyikapi hempasan gelombang tuduhan. Menahan diri menghadapi pukulan yang menyakitkan. Bergeming menghadapi kedzaliman terhadap dirinya. Datang kepada orang yang menuduh, memukul dan mendzalimi. Mengetuk pintu rumahnya, dan mengatakan, “Saudaraku, jika apa yang kau katakan tentang diriku itu benar, aku berharap Allah mengampuni kesalahanku itu. Tapi jika apa yang engkau katakankatakan tentang diriku itu tidak benar, semoga Allah mengampunimu…” Ali bin Husein lalu pulang. Dan, ternyata orang yang melontarkan tuduhan itu berlari dan mengejarnya. Ia mengatakan, “Tidak benar wahai Ali, Aku tidak akan mengulangi melakukan apa yang engkau tidak suka.”

Saudaraku, Kita bisa lebih banyak lagi memperhatikan dan merenungkan keistimewaan salafu shalihdalam mketangguhan jiwa mereka menghadapi api amarah yang biasanya membakar seseorang. Dua orang sahabat Rasulullah saw, Khalid bin Walif dan Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhum pernah terlibat perselisihan tajam. Seseorang lalu menyampaikan Khalid kepada Sa’ad. Sa’ad justru mengatakan kalimat pendek kepada orang itu, “Diam, apa yang antara saya dengan Khalid, tidak menyentuh agama kami.”

Saudaraku, Perselisihan yang terjadi di antara kita, pembicaraan keras yang boleh jadi terlontar di antara kita, kebencian yang memunculkan jarak di antara kita, sebenarnya banyak yang tidak memasuki wilayah urusan agama. Maksudnya berbagai permaslahan yang menjadi masalah di antara kita, umumnya tidak mengenai masalah agama. Sehingga bila efeknya sampai menodai kehormatan sesama, mengambil haknya atau bahkan menumpahkan darahnya, tetaplah haram karena dia adalah seorang Muslim. Itulah barangkali yang sangat dipahami oleh Sa’ad bin Abi Waqqas.

Baginya, garis merah permasalahan adalah kehormatan agama, bukan yang lain. Garis merah itulah yang tidak boleh dilanggar dalam kondisi apapun. Garis merah itulah yang menjadi pembatas setiap orang untuk bisa bersikap. Garis merah itulah yang sebenarnya merupakan batas pemeliharaan hak bersaudara sesama Muslim.

Itulah sebabnya Sa’ad bin Al Ash merasa sangat khawatir bila sepeninggalnya, anak keturunannya berlaku tidak pantas dengan saudara-saudaranya sesama Muslim. Detik-detik menjelang wafatnya, Sa’ad bin Al Ash berpesan kepada anak-anaknya, ” Anakku, jangan engkau lupakan saudara-saudaraku sepeninggalku. Berlakulah kepada mereka sebagaimana aku berlaku kepada mereka…”

Saudaraku, Perhatikanlah bagaimana perkataan Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah kepada para tahanan yang dipenjara bersamanya. “Semoga Allah meridhoi kalian. Saya tidak suka bila ada salah seorang yang disakiti. Apalagi ia adalah salah satu sahabat kita. Saya tidak menyukai kondisi itu, lahir dan batin. Saya tidak mengecam siapapun dari mereka, saya juga tidak akan mengeluarkan kata-kata mencaci mereka. Bagi saya mereka tetap terhormat dan mulia.” (Qawa’id Dzahabiyah fi Al Ukhuwwah Al Islamiyah, Abdullah Farraj Allah)

Ingat saudaraku, Semoga, bila kita mendapatkan fitnah dan tuduhan keras dari seseorang, kita bisa mengatakan padanya dengan tenang, “Jika apa yang engkau katakan tentang diriku itu benar, aku berharap Allah mengampuni kesalahanku itu. Tapi jika apa yang engkau katakan tentang diriku itu tidak benar, semoga Allah mengampunimu.@

Source : Tarbawi Edisi 151-15 Maret 2007

Mereka Adalah Kaum Anshar

christmas-934167__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Mereka itu siapa sih? Itu mungkin pertanyaan kita ketika sepintas mendengar kabar atau informasi tentang mereka. Penasaran siapa mereka? Mereka itu adalah kaum Anshar. Begitu pemurah dan penolong pada saudara seiman. Pemilik rumah yang memberikan segalanya. Tidak ada golongan manusia yang begitu mudah memberikan pertolongan sepenuh kemampuan seperti orang-orang Anshar. Sebelumnya, mereka sedikitpun tidak mengenal orang-orang yang mereka tolong. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka adalah sesama muslim.

Sifat-Sifat Kaum Anshar ini begitu istimewa dan mulianya seperti yang Allah jelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajrin) ; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang di pelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.Al Hasyr : 9)

Saudara macam apa ini, yang bersedia membagi dua semua miliknya. Dari kebun, toko, rumah, budak, bahkan jika isterinya disukai ia akan ceraikan segera dan menikahkannya dengan sang saudara. Masya Allah…

Itsar adalah mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri meski sangat membutuhkan. Ini adalah amal kedermawanan tertinggi dari diri seorang muslim. Kaum Anshar adalah contoh konkret yang dicatat sejarah sebagai pemilik sifat ini.

Setelah diizinkan Allah berhijrah, kaum muslimin Mekkah menetap di Kota Madinah. Kaum Anshar sangat antusias menerima saudara-saudara seiman mereka, kaum Muhajirin. Mereka membagi tempat tinggal dan makanan dengan senang hati. Bahkan, mengutamakan segala sesuatu bagi kaum Muhajirin melebihi diri mereka sendiri.

Mengenai hal ini Abdurrahman bin ‘Auf ra menceritakan kisahnya sendiri, “Ketika kami tiba di Madinah, Nabi SAW. telah mempersaudarakan saya dengan Said bin Rabiah. Beliau berkata kepada saya, “Saya adalah orang yang paling kaya dikalangan kaum Anshar. Ambillah setengah dari harta kekayaan saya. Saya juga memiliki 2 orang istri, pilihlah salah seorang yang kamu senangi, saya akan menceraikannya. Jika iddahnya selesai maka kamu dapat mengawininya” (HR.Al-Bukhari)

Sifat istimewa yang kedua ialah mereka sangat mencintai kaum Muhajirin. Jika seseorang membaca sejarah permulaan Islam, maka ia akan heran dengan keadaan kasih sayang
yang terjalin dikalangan sahabat.
Ketika hijrah ke Madinah Nabi SAW. telah mengadakan hubungan persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajrin sehingga setiap seorang Muhajirin mendapat saudara seorang Anshar sebagai saudara kaitan khusus. Setiap orang Muhajrin dipersaudarakan dengan seorang Anshar, karena kaum Muhajirin adalah para pendatang sedangkan kaum Anshar adalah orang-orang setempat (Madinah). Ditempat baru ini kaum Muhajirin akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kaum Anshar sebagai orang tempatan membantu kaum Muhajrin jika mereka mengalami kesulitan sehingga mereka akan mendapat kemudahan. Betapa suatu aturan yang sungguh istimewa yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW dimana kaum Muhajirin mendapat kemudahan dan kaum Anshar pun tidak mendapat kesulitan. Karena seseorang bertanggung jawab atas seseorang adalah mudah.

Sifat ketiga, dalam ayat suci diatas yang menerangkan tentang orang Anshar ialah bahwa jika kaum Muhajirin mendapatkan sesuatu dari harta rampasan perang atau dari yang lainnya, maka hati orang-orang Anshar tidak merasa sempit dan cemburu. Hasan Basri rah a berkata, “Maksudnya ialah jika kaum Muhajirin memperoleh kelebihan umum daripada kaum Anshar, maka hal ini tidak menyusahkan hati orang Anshar”. (Durrul Mantsur)

Sifat keempat yang diterangkan diatas ialah walaupun mereka dalam kemiskinan dan kelaparan tetapi mereka masih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Banyak cerita-cerita seperti itu yang dapat ditemui didalam sejarah hidup mereka.

Seorang sahabat telah datang kepada Nabi SAW dan mengadukan kelaparan dan kesempitannya. Nabi SAW telah mengirim utusan kepada istri-istri Beliau untuk mencari makanan, tetapi diberitahukan bahwa tidak ada makanan disana. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada orang-orang yang berada diluar “Adakah diantaramu yang sanggup melayani tamu ini?”
Seorang Anshar yang disebut dalam beberapa riwayat bernama Abu Thalha ra telah membawa tamu itu kerumahnya. Lalu ia berkata kepada istrinya, “Ini adalah tamu Nabi SAW kita mesti melayaninya dengan baik dan hidangkanlah apapun makanan yang kita miliki”.
Istrinya menjawab “Dirumah kita hanya ada sedikit makanan untuk anak-anak kita. Selain itu tidak ada apa-apa lagi”.
Abu Thalha ra berkata “Tidurkanlah anak-anak. Dan jika saya telah duduk dengan tamu untuk makan, maka padamkanlah lampu dengan berpura-pura untuk membetulkannya, supaya tamu dapat makan dengan puas dan kita tidak perlu makan,” maka demikianlah yang dilakukan oleh istrinya.

Masih adakah manusia-manusia seperti ini di zaman sekarang? Jawabannya pastilah sudah tak ada, atau paling tidak, masih ada tapi bisa dihitung dengan jari.

Itulah sekelumit kisah persaudaraan sejati di antara orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar. Semoga bermanfaat. @spreading the pearl.wordpress.com

|=====================================================|

KOMENTAR DI SINI VIA AKUN FB ANDA

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (3/3)

caravan-339564__340 (1)
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, ada empat tokoh besar yang duduk bertemu. Dua orang di antaranya telah kita uraikan di tulisan sebelumnya. Banyak pelajaran yang kita dapati dan kaji dari keduanya. Pelajaran yang bisa kita adaptasi dengan realita kekinian. Berikutnya, tokoh ketiga adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Abu Thalib

Mungkin, penolakan Abu Jahal terhadap Islam membuat kita terheran. Bagaimana seorang yang dijuluki Abu al-Hakam, bapak kebijaksanaan, bisa menolak Islam dengan alasan gengsi kesukuan. Sebaliknya, kita juga takjub dengan Abdullah bin Abi Umayyah. Bagaimana lika-liku kehidupan yang ia alami hingga mengantarkannya pada hidayah dan syahid di akhir hayat. Tapi, kisah Abu Thalib akan membuat kita lebih terheran lagi. Bagaimana ia bisa menolak Islam?!

Begitu banyak jalan dan sebab yang memungkinkan Abu Thalib menerima Islam dan menjadi seorang mukmin. Ia seorang yang cerdas. Matanya menyaksikan, bagaimana wahyu turun pada anak saudaranya sejak hari pertama. Ia tahu dan yakin wahyu itu benar. Tak pernah ia dustakan keponakannya yang mengklaim diri sebagai nabi. Rasulullah sangat mencintainya. Demikian juga dia, keponakannya ini berada di tempat istimewa di hatinya. Ia laki-laki terhormat. Tokoh bani Hasyim yang turut berbangga, terlahir seorang nabi dari kabilahnya. Rasulullah berjanji membelanya di hari kiamat jika ia mengucapkan laa ilaaha illallaah. Tapi tak diindahkannya. Setelah semua itu, ia akhiri hayatnya dengan berpegang pada agama ayah dan kakek-kakeknya.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)

caravan-339564__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Di tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana peristiwa wafatnya paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Bagaimana Nabi berusaha mendakwahi sang paman di akhir hayat. Dan bagaimana pula tokoh-tokoh kekufuran, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tak mau kalah menyerukan kekufuran untuk teman mereka.

Orang pertama yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini adalah Abu Jahal.

Abu Jahal

Namanya adalah Amr bin Hisyam al-Makhzumi. Ia dikenal sebagai seorang yang bijaksana. Mampu menyelesaikan perselisihan antara dua orang dengan putusan yang membuat keduanya lapang. Karena itu ia digelari Abul Hakam (tokoh yang bijaksana) oleh orang-orang Mekah. Saat risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, ia menolaknya. Alasannya, hanya dengan alasan fanatik kesukuan. Sehingga dalam Islam ia disebut dengan Abu Jahal (bapak kebodohan).

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, kita bisa mengetahui bahwa Abu Jahal adalah seorang yang sangat bersemangat turut andil dalam peristiwa penting di Mekah. Ia senantiasa memperhatikan setiap perkembangan yang dapat mengokohkan syiar kekufuran. Ia gelontorkan seluruh daya upaya. Kesungguhan maksimal, waktu siang dan malam yang bernilai, harta hasilnya berniaga, tak membuatnya reda rasa luka, ia tahan kantuk yang membuat mata tekatup, semua itu ia lakukan demi menghalangi dakwah Rasulullah.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (1/3)

caravan-339564__340 (1).jpg
Pixabay.com

Bismillaaahir Rahmaanir Raahiim

Saat Abu Thalib mendekati akhir usia, berkumpullah tokoh-tokoh besar di sekitarnya. Penghulu manusia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tokoh kekafiran juga pemuka Quraisy, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Kehadiran para tokoh yang kontradiktif inilah, membuat peristiwa wafatnya Abu Thalib memuat banyak pelajaran.

Ketika ajal Abu Thalib telah dekat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menuju rumah sang paman. Beliau berharap pamannya yang turut memperjuangkan dakwah ini, melisankan syahadat di akhir hayat. Meninggalkan dunia dengan menyandang status seorang muslim. Sehingga menjadi sebab bergantinya keadaan, dari berhadapan dengan ancaman neraka berganti dengan nikmat surga.

Akan tetapi bukan hanya Rasulullah saja yang mengetahui Abu Thalib sedang menghadapi sakaratul maut, Abu Jahal pun tahu kabar itu. Jadilah peristiwa wafatnya Abu Thalib sebuah pertemuan antara kebenaran dan tokohnya dengan kebatilan juga dan dedengkotnya.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Minyak Kayu Putih di Bulan Puasa

asparagus-2169305__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dulu ada pengalaman lucu yang kami alami di bulan puasa. Waktu itu kami berlima tinggal di sebuah kontrakan sederhana milik orang Betawi di wilayah Kelurahan Cilandak Jakarta Selatan. Kami berlima masih bujangan semua, biasa kalau urusan belanja keperluan dapur kami sudah tak aneh kalau pergi ke pasar Mede untuk sekedar beli sayur dan segala macam bumbu masaknya. Apalagi di bulan puasa kami berlima tetap konsekuen melaksanakan perintah agama untuk berpuasa, apapun kondisinya.

Di antara kami berlima tentu ada salah seorang yang kami anggap sebagai yang kami tuakan/senior yaitu abang kami, dia sudah bekerja sebagai pegawai negeri guru di sebuah sekolah dasar (SD) dan SMP di wilayah kelurahan Cilandak. Beliaulah yang dulu mengajak kami ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah dan alhamdulillah kami berlima bisa menyelesaikan sekolah sampai SMA dan bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri di beberapa instansi yang berbeda. Beliau meninggal dunia sekitar tahun 1998, semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, amien.

Kita kembali saja ke fokus, ceritanya di meja dapur ada sederetan botol yang tersimpan di situ ada botol minyak kelapa/goreng, ada botol minyak tanah dan juga ada botol minyak kayu putih. Nah, bagaimana ceritanya sampai bisa lucu. Begini, ketika waktu bangun untuk mempersiapkan santap sahur, waktunya sudah mauh imsyak makanya saya bersama seorang teman sebut saja A buru-buru mulai memasak nasi, waktu itu hidup masih prihatin jadi harus masak nasi pake kompor belum punya rice cooker yang praktis.

Kemudian sambil memasak nasi saya langsung memasak sayur/tumisan kangkung yang sudah tersedia dan dibersihkan oleh teman tadi. Saya ambil penggorengan lalu saya tuangkan minyak goreng ke penggorengan. Tak lama setelah kangkung dibolak-balik akhirnya tumisan pun matang. Lalu dilanjutkan dengan memasak/menggoreng ikan, rupanya masih menggunakan minyak di botol yang sama tapi tak kusadari juga kalau itu minyak kayu putih. Mungkin karena hidung belum normal daya menciumnya karena masih setengah ngantuk. Singkat cerita semua masakan sudah siap beres semua tersaji di atas meja makan.

Kini tiba giliran saya membangunkan kakak untuk bersama-sama makan sahur. Kakakpun bangun, dan kami berlima pun sudah berada di meja siap untuk santap sahur bersama. Setelah sejenak berdoa, Bismillah…kami mulai menyantap hidangan yang ada. Anehnya tak ada satupun di antara kami berlima yang merasakan adanya keanehan. Kamipun terus melanjutkan makan hingga selesai. Tak ada di antara kami yang mencium bau minyak kayu putih dalam masakan malam itu. Kami semua fokus menikmati masakan santap sahur yang alhamdilillah cukup enak, tak tercium sedikitpun rasa ataupun bau minyak kayu putih malam itu.

Sayangnya, kenapa setelah kami selesai makan barulah sedikit demi sedikit aroma itu terasa begitu kuat menyengat hidung kami, sehingga membuat kami penasaran. Dan, akhirnya ternyata setelah dicek kembali ke sisa tumisan kangkung dan juga gorengan ikan yang masih tersisa di piring, barulah ketahuan bahwa minyak kayu putih lah sebenarnya yang saya pake sebagai minyak goreng kami malam itu, subhanallah.

Itulah saudara, sekelumit kisah masa lalu saya di Jakarta bersama Almarhum abang saya juga teman-teman serta adik-adiknya di perantauan. Sungguh aneh dan lucu kisahnya, tapi dengan meninjau kembali cerita ini saya jadi bisa mengingat kembali perjalanan hidup saya bersama mereka yang penuh dengan suka dan duka.

 

Islamlah Yang Terbaik

camel-316894__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dulu ketika Islam disebut maka siapapun yang mendengar akan langsung berkata “woowww,, hebat, kotanya maju, ilmuwannya banyak, sistem pemerintahannya mantap.

Kini ketika Islam disebut maka kebanyakan yang terpikir adalah teroris, bodoh, tertinggal, dan sederet stigma negative lainnya.

Banyak yang menganggap bahwa kejayaan umat Islam hanyalah romantisme sejarah. Ok, tidak ada masalah. Yang jelasnya, saat ini tugas kita adalah ambil bagian untuk bergerak melawan musuh Islam dan menyadarkan kaum muslim akan kekeliruannya. Hingga Islam kembali berjaya dalam naungan Khilafah Islamiyah sesuai bisyarah Rasululah Muhammad SAW. Mari kita kembali ke Islam.

Awalnya saya pun tak pernah tahu bahwa ada suatu masa dimana kejayaan Islam meliputi 2/3 dunia selama 13 abad atau 1300 tahun. Silau sensai dunia barat membuat saya selalu berdecak kagum, terlebih setiap penemu dalam buku pelajaran pasti non muslim. Padahal peradaban itu baru beberapa saat saja. Hingga akhirnya saya seolah menemukan Islam melalui ceramah dan buku-buku karya Ust. Felix Y Siauw.

Baca teks selengkapnya di sini