Mereka Adalah Kaum Anshar

christmas-934167__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Mereka itu siapa sih? Itu mungkin pertanyaan kita ketika sepintas mendengar kabar atau informasi tentang mereka. Penasaran siapa mereka? Mereka itu adalah kaum Anshar. Begitu pemurah dan penolong pada saudara seiman. Pemilik rumah yang memberikan segalanya. Tidak ada golongan manusia yang begitu mudah memberikan pertolongan sepenuh kemampuan seperti orang-orang Anshar. Sebelumnya, mereka sedikitpun tidak mengenal orang-orang yang mereka tolong. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka adalah sesama muslim.

Sifat-Sifat Kaum Anshar ini begitu istimewa dan mulianya seperti yang Allah jelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajrin) ; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang di pelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.Al Hasyr : 9)

Saudara macam apa ini, yang bersedia membagi dua semua miliknya. Dari kebun, toko, rumah, budak, bahkan jika isterinya disukai ia akan ceraikan segera dan menikahkannya dengan sang saudara. Masya Allah…

Itsar adalah mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri meski sangat membutuhkan. Ini adalah amal kedermawanan tertinggi dari diri seorang muslim. Kaum Anshar adalah contoh konkret yang dicatat sejarah sebagai pemilik sifat ini.

Setelah diizinkan Allah berhijrah, kaum muslimin Mekkah menetap di Kota Madinah. Kaum Anshar sangat antusias menerima saudara-saudara seiman mereka, kaum Muhajirin. Mereka membagi tempat tinggal dan makanan dengan senang hati. Bahkan, mengutamakan segala sesuatu bagi kaum Muhajirin melebihi diri mereka sendiri.

Mengenai hal ini Abdurrahman bin ‘Auf ra menceritakan kisahnya sendiri, “Ketika kami tiba di Madinah, Nabi SAW. telah mempersaudarakan saya dengan Said bin Rabiah. Beliau berkata kepada saya, “Saya adalah orang yang paling kaya dikalangan kaum Anshar. Ambillah setengah dari harta kekayaan saya. Saya juga memiliki 2 orang istri, pilihlah salah seorang yang kamu senangi, saya akan menceraikannya. Jika iddahnya selesai maka kamu dapat mengawininya” (HR.Al-Bukhari)

Sifat istimewa yang kedua ialah mereka sangat mencintai kaum Muhajirin. Jika seseorang membaca sejarah permulaan Islam, maka ia akan heran dengan keadaan kasih sayang
yang terjalin dikalangan sahabat.
Ketika hijrah ke Madinah Nabi SAW. telah mengadakan hubungan persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajrin sehingga setiap seorang Muhajirin mendapat saudara seorang Anshar sebagai saudara kaitan khusus. Setiap orang Muhajrin dipersaudarakan dengan seorang Anshar, karena kaum Muhajirin adalah para pendatang sedangkan kaum Anshar adalah orang-orang setempat (Madinah). Ditempat baru ini kaum Muhajirin akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kaum Anshar sebagai orang tempatan membantu kaum Muhajrin jika mereka mengalami kesulitan sehingga mereka akan mendapat kemudahan. Betapa suatu aturan yang sungguh istimewa yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW dimana kaum Muhajirin mendapat kemudahan dan kaum Anshar pun tidak mendapat kesulitan. Karena seseorang bertanggung jawab atas seseorang adalah mudah.

Sifat ketiga, dalam ayat suci diatas yang menerangkan tentang orang Anshar ialah bahwa jika kaum Muhajirin mendapatkan sesuatu dari harta rampasan perang atau dari yang lainnya, maka hati orang-orang Anshar tidak merasa sempit dan cemburu. Hasan Basri rah a berkata, “Maksudnya ialah jika kaum Muhajirin memperoleh kelebihan umum daripada kaum Anshar, maka hal ini tidak menyusahkan hati orang Anshar”. (Durrul Mantsur)

Sifat keempat yang diterangkan diatas ialah walaupun mereka dalam kemiskinan dan kelaparan tetapi mereka masih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Banyak cerita-cerita seperti itu yang dapat ditemui didalam sejarah hidup mereka.

Seorang sahabat telah datang kepada Nabi SAW dan mengadukan kelaparan dan kesempitannya. Nabi SAW telah mengirim utusan kepada istri-istri Beliau untuk mencari makanan, tetapi diberitahukan bahwa tidak ada makanan disana. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada orang-orang yang berada diluar “Adakah diantaramu yang sanggup melayani tamu ini?”
Seorang Anshar yang disebut dalam beberapa riwayat bernama Abu Thalha ra telah membawa tamu itu kerumahnya. Lalu ia berkata kepada istrinya, “Ini adalah tamu Nabi SAW kita mesti melayaninya dengan baik dan hidangkanlah apapun makanan yang kita miliki”.
Istrinya menjawab “Dirumah kita hanya ada sedikit makanan untuk anak-anak kita. Selain itu tidak ada apa-apa lagi”.
Abu Thalha ra berkata “Tidurkanlah anak-anak. Dan jika saya telah duduk dengan tamu untuk makan, maka padamkanlah lampu dengan berpura-pura untuk membetulkannya, supaya tamu dapat makan dengan puas dan kita tidak perlu makan,” maka demikianlah yang dilakukan oleh istrinya.

Masih adakah manusia-manusia seperti ini di zaman sekarang? Jawabannya pastilah sudah tak ada, atau paling tidak, masih ada tapi bisa dihitung dengan jari.

Itulah sekelumit kisah persaudaraan sejati di antara orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar. Semoga bermanfaat. @spreading the pearl.wordpress.com

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (3/3)

caravan-339564__340 (1)
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, ada empat tokoh besar yang duduk bertemu. Dua orang di antaranya telah kita uraikan di tulisan sebelumnya. Banyak pelajaran yang kita dapati dan kaji dari keduanya. Pelajaran yang bisa kita adaptasi dengan realita kekinian. Berikutnya, tokoh ketiga adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Abu Thalib

Mungkin, penolakan Abu Jahal terhadap Islam membuat kita terheran. Bagaimana seorang yang dijuluki Abu al-Hakam, bapak kebijaksanaan, bisa menolak Islam dengan alasan gengsi kesukuan. Sebaliknya, kita juga takjub dengan Abdullah bin Abi Umayyah. Bagaimana lika-liku kehidupan yang ia alami hingga mengantarkannya pada hidayah dan syahid di akhir hayat. Tapi, kisah Abu Thalib akan membuat kita lebih terheran lagi. Bagaimana ia bisa menolak Islam?!

Begitu banyak jalan dan sebab yang memungkinkan Abu Thalib menerima Islam dan menjadi seorang mukmin. Ia seorang yang cerdas. Matanya menyaksikan, bagaimana wahyu turun pada anak saudaranya sejak hari pertama. Ia tahu dan yakin wahyu itu benar. Tak pernah ia dustakan keponakannya yang mengklaim diri sebagai nabi. Rasulullah sangat mencintainya. Demikian juga dia, keponakannya ini berada di tempat istimewa di hatinya. Ia laki-laki terhormat. Tokoh bani Hasyim yang turut berbangga, terlahir seorang nabi dari kabilahnya. Rasulullah berjanji membelanya di hari kiamat jika ia mengucapkan laa ilaaha illallaah. Tapi tak diindahkannya. Setelah semua itu, ia akhiri hayatnya dengan berpegang pada agama ayah dan kakek-kakeknya.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)

caravan-339564__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Di tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana peristiwa wafatnya paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Bagaimana Nabi berusaha mendakwahi sang paman di akhir hayat. Dan bagaimana pula tokoh-tokoh kekufuran, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tak mau kalah menyerukan kekufuran untuk teman mereka.

Orang pertama yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini adalah Abu Jahal.

Abu Jahal

Namanya adalah Amr bin Hisyam al-Makhzumi. Ia dikenal sebagai seorang yang bijaksana. Mampu menyelesaikan perselisihan antara dua orang dengan putusan yang membuat keduanya lapang. Karena itu ia digelari Abul Hakam (tokoh yang bijaksana) oleh orang-orang Mekah. Saat risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, ia menolaknya. Alasannya, hanya dengan alasan fanatik kesukuan. Sehingga dalam Islam ia disebut dengan Abu Jahal (bapak kebodohan).

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, kita bisa mengetahui bahwa Abu Jahal adalah seorang yang sangat bersemangat turut andil dalam peristiwa penting di Mekah. Ia senantiasa memperhatikan setiap perkembangan yang dapat mengokohkan syiar kekufuran. Ia gelontorkan seluruh daya upaya. Kesungguhan maksimal, waktu siang dan malam yang bernilai, harta hasilnya berniaga, tak membuatnya reda rasa luka, ia tahan kantuk yang membuat mata tekatup, semua itu ia lakukan demi menghalangi dakwah Rasulullah.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Pelajaran Dari Wafatnya Abu Thalib (1/3)

caravan-339564__340 (1).jpg
Pixabay.com

Bismillaaahir Rahmaanir Raahiim

Saat Abu Thalib mendekati akhir usia, berkumpullah tokoh-tokoh besar di sekitarnya. Penghulu manusia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tokoh kekafiran juga pemuka Quraisy, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Kehadiran para tokoh yang kontradiktif inilah, membuat peristiwa wafatnya Abu Thalib memuat banyak pelajaran.

Ketika ajal Abu Thalib telah dekat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menuju rumah sang paman. Beliau berharap pamannya yang turut memperjuangkan dakwah ini, melisankan syahadat di akhir hayat. Meninggalkan dunia dengan menyandang status seorang muslim. Sehingga menjadi sebab bergantinya keadaan, dari berhadapan dengan ancaman neraka berganti dengan nikmat surga.

Akan tetapi bukan hanya Rasulullah saja yang mengetahui Abu Thalib sedang menghadapi sakaratul maut, Abu Jahal pun tahu kabar itu. Jadilah peristiwa wafatnya Abu Thalib sebuah pertemuan antara kebenaran dan tokohnya dengan kebatilan juga dan dedengkotnya.

Baca teks selengkapnya di sini>>

Minyak Kayu Putih di Bulan Puasa

asparagus-2169305__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dulu ada pengalaman lucu yang kami alami di bulan puasa. Waktu itu kami berlima tinggal di sebuah kontrakan sederhana milik orang Betawi di wilayah Kelurahan Cilandak Jakarta Selatan. Kami berlima masih bujangan semua, biasa kalau urusan belanja keperluan dapur kami sudah tak aneh kalau pergi ke pasar Mede untuk sekedar beli sayur dan segala macam bumbu masaknya. Apalagi di bulan puasa kami berlima tetap konsekuen melaksanakan perintah agama untuk berpuasa, apapun kondisinya.

Di antara kami berlima tentu ada salah seorang yang kami anggap sebagai yang kami tuakan/senior yaitu abang kami, dia sudah bekerja sebagai pegawai negeri guru di sebuah sekolah dasar (SD) dan SMP di wilayah kelurahan Cilandak. Beliaulah yang dulu mengajak kami ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah dan alhamdulillah kami berlima bisa menyelesaikan sekolah sampai SMA dan bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri di beberapa instansi yang berbeda. Beliau meninggal dunia sekitar tahun 1998, semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, amien.

Kita kembali saja ke fokus, ceritanya di meja dapur ada sederetan botol yang tersimpan di situ ada botol minyak kelapa/goreng, ada botol minyak tanah dan juga ada botol minyak kayu putih. Nah, bagaimana ceritanya sampai bisa lucu. Begini, ketika waktu bangun untuk mempersiapkan santap sahur, waktunya sudah mauh imsyak makanya saya bersama seorang teman sebut saja A buru-buru mulai memasak nasi, waktu itu hidup masih prihatin jadi harus masak nasi pake kompor belum punya rice cooker yang praktis.

Kemudian sambil memasak nasi saya langsung memasak sayur/tumisan kangkung yang sudah tersedia dan dibersihkan oleh teman tadi. Saya ambil penggorengan lalu saya tuangkan minyak goreng ke penggorengan. Tak lama setelah kangkung dibolak-balik akhirnya tumisan pun matang. Lalu dilanjutkan dengan memasak/menggoreng ikan, rupanya masih menggunakan minyak di botol yang sama tapi tak kusadari juga kalau itu minyak kayu putih. Mungkin karena hidung belum normal daya menciumnya karena masih setengah ngantuk. Singkat cerita semua masakan sudah siap beres semua tersaji di atas meja makan.

Kini tiba giliran saya membangunkan kakak untuk bersama-sama makan sahur. Kakakpun bangun, dan kami berlima pun sudah berada di meja siap untuk santap sahur bersama. Setelah sejenak berdoa, Bismillah…kami mulai menyantap hidangan yang ada. Anehnya tak ada satupun di antara kami berlima yang merasakan adanya keanehan. Kamipun terus melanjutkan makan hingga selesai. Tak ada di antara kami yang mencium bau minyak kayu putih dalam masakan malam itu. Kami semua fokus menikmati masakan santap sahur yang alhamdilillah cukup enak, tak tercium sedikitpun rasa ataupun bau minyak kayu putih malam itu.

Sayangnya, kenapa setelah kami selesai makan barulah sedikit demi sedikit aroma itu terasa begitu kuat menyengat hidung kami, sehingga membuat kami penasaran. Dan, akhirnya ternyata setelah dicek kembali ke sisa tumisan kangkung dan juga gorengan ikan yang masih tersisa di piring, barulah ketahuan bahwa minyak kayu putih lah sebenarnya yang saya pake sebagai minyak goreng kami malam itu, subhanallah.

Islamlah Yang Terbaik

camel-316894__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dulu ketika Islam disebut maka siapapun yang mendengar akan langsung berkata “woowww,, hebat, kotanya maju, ilmuwannya banyak, sistem pemerintahannya mantap.

Kini ketika Islam disebut maka kebanyakan yang terpikir adalah teroris, bodoh, tertinggal, dan sederet stigma negative lainnya.

Banyak yang menganggap bahwa kejayaan umat Islam hanyalah romantisme sejarah. Ok, tidak ada masalah. Yang jelasnya, saat ini tugas kita adalah ambil bagian untuk bergerak melawan musuh Islam dan menyadarkan kaum muslim akan kekeliruannya. Hingga Islam kembali berjaya dalam naungan Khilafah Islamiyah sesuai bisyarah Rasululah Muhammad SAW. Mari kita kembali ke Islam.

Awalnya saya pun tak pernah tahu bahwa ada suatu masa dimana kejayaan Islam meliputi 2/3 dunia selama 13 abad atau 1300 tahun. Silau sensai dunia barat membuat saya selalu berdecak kagum, terlebih setiap penemu dalam buku pelajaran pasti non muslim. Padahal peradaban itu baru beberapa saat saja. Hingga akhirnya saya seolah menemukan Islam melalui ceramah dan buku-buku karya Ust. Felix Y Siauw.

Baca teks selengkapnya di sini

Mendurhakai Orang Tua

care-2024469__340.png
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Walaupun hanya sampai usia balita, seorang anak tidak akan mampu menghitung dan membalas jasa orang tuanya terkhusus ibunya. Jika ibunya mau, dia akan menggugurkan kandungannya ketika usia awal kehamilannya, namun tidak, dia tetap merawat  kehamilannya dengan sangat payah hingga perutnya membesar dan tidak enak dipandang. Kemudian sang ibu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, mengalirkan darah dan air mata, nafas yang hampir terputus serta 57 del rasa sakit yang mana sesungguhnya manusia hanya sanggup menerima 45 del rasa sakit. Bisa dibayangkan betapa sakitnya seorang ibu melahirkan, 57 del adalah setara sakitnya dengan 7 tulang yang patah secara bersamaan. Kemudian ibu tetap tersenyum melihat seorang bayi yang hampir membunuhnya. Seorang ibu tidak akan pernah membeda-bedakan senyumnya terhadap setiap kelahiran anaknya. Kemudian ibu memberikan darahnya melalui air susu kepada anaknya, sangat sakit dan nyeri ketika pertamakali air susu itu dihisap oleh sang anak. Sungguh tidaklah pantas dan teramat durhaka jika seorang anak merasa bisa hidup atas jerih payahnya sendiri, kemudian meniadakan peran orang tuanya apalagi ibunya.

Baca teks selanjutnya di sini

 

Catatan Selayang Pandang 2017

061324300_1480648520-20161202-Aksi-Damai-2-Desember-Jakarta-Monas-FP2 (1)
Sumber gambar : Di sini

Bismillaahir Raahmaanir Rahiim

Sebenarnya, tulisan ini sudah agak  telat diposting alias sudah tak hangat lagi yah, mengingat kejadiannya di penghujung tahun 2016, sementara tahun 2017 sudah lewat kurang lebih tiga bulan. Namun demikian, saya merasa tidak enak di hati jika saya tidak membuat catatan untuk dikenang. Apalagi di tahun 2017 banyak peristiwa yang terjadi di negeri ini yang nyaris saja membuat kita terpecah belah sebagai satu bangsa. Apalagi kalau bukan peristiwa paling menggemparkan yang dipicu oleh kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Cahaya Purnama alias Ahok.

Kita semua tahu bahwa kasus yang satu ini begitu menarik dan menyita perhatian publik. Kasus penodaan agama ini telah menimbulkan kemarahan umat Islam di seluruh tanah air bahkan yang ada di luar negeri, yang merasa kitab sucinya dinodai dan agamanya dilecehkan. Karena itu, maka terjadilah peristiwa yang sangat menegangkan kita semua dengan digelarnya berbagai aksi protes. Aksi damai ini dilakukan karena penanganan proses hukum bagi si pelaku penista agama sangat lamban dirasakan oleh umat Islam, sehingga berbagai aksi unjuk rasa damai dilakukan oleh umat Islam bersama Ormas Islam di Jakarta.

Aksi 4 November 2016 disebut juga Aksi Bela Al-Qur’an atau Aksi Damai 4 November (Aksi Damai 411) terjadi pada 4 November 2016 ketika demonstran berjumlah antara 50.000–200.000 turun ke jalan-jalan di Jakarta untuk memprotes pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (atau yang dikenal sebagai “Ahok”) yang dianggap menghina agama Islam. (wikipedia.com)

Ada dua aksi damai yang digelar umat Islam pada waktu itu, yaitu ada Aksi Damai 411 alias 4 November 2016 dan Aksi Damai 212 alias 2 Desember 2016. Meski kedua aksi damai ini masih di tahun 2016, tapi gaungnya masih terasa hingga sekarang di tahun 2017. Mengacu pada berita Liputan6.com ada perbedaan antara Aksi Damai 411 dengan Aksi Damai 212. Aksi damai 212 telah berlangsung damai di silang monas Jakarta Pusat. Jutaan orang tumpah ruah memadati kawasan monumen nasional yang menjadi icon ibu kota itu. Namun aksi kali ini berakhir dengan tertib dan damai.

Jika dibandingkan dengan aksi sebelumnya pada 4 November 2016, banyak perbedaannya, misalnya pada aksi Bela Islam jilid II berakhir ricuh, tapi pasti yang membuat ricuh bukan peserta demo akan tetapi provokator yang mencoba mengacaukan aksi damai menjadi sebuah konflik, sementara pada aksi damai jum’at itu berakhir dengan tertib. Ini sesuai julukannya sebagai aksi super damai yang menakjubkan karena melibatkan jutaan orang, (jumlah pastinya saya tidak tahu).

Yang lebih menggembirakan lagi pada aksi damai 212 ini presiden Jokowi turun menemui para pendemo, sementara pada aksi 411 presiden Jokowi tidak menemui para pengunjuk rasa karena alasan menghadiri acara peninjauan proyek. Saat peserta melakukan demonstrasi di depan Istana Merdeka, Joko Widodo tidak ada di dalam Istana. Ia pergi meninjau proyek hanggar pesawat dan kereta Bandara Soekarno Hatta. Ah… entahlah, saya tidak tahu apa yang ada di benaknya presiden Jokowi sehingga tidak mau menemui para pendemo yang sungguh sangat ingin menyampaikan aspirasinya pada beliau.

Sebelum aksi damai 212 berlangsung, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) sempat merencanakan aksi akan digelar di sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin termasuk menggelar sholat Juma’at.

Polda Metro Jaya bersama GNPF-MUI akhirnya sepakat aksi damai digelar di Monas. Larangan tersebut berkaitan dengan kepentingan umum dan merugikan orang banyak. Jika aksi damai 411 ada sedikit ricuh di saat-saat akhir, aksi damai 212 berlangsung super damai. Dan kedua aksi damai ini terkait kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok, yang kali ini hanya diisi dengan orasi dan doa bersama atau istighosah. Setelah sholat Jum’at massa langsung membubarkan diri dengan tertib hingga pada pukul 17.00 WIB. Lalu lintas di kawasan itu berjalan normal.

Jakarta (SI Online) –  Islam kembali melakukan aksi unjuk rasa yang dikenal dengan Aksi 313 di kawasan Patung Kuda, JL MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (31/3/2017). Massa kembali menuntut kepada aparat penegak hukum (kepolisian) agar segera menahan tersangka penista agama yakni Ahok yang masih menjadi Gubernur DKI Jakarta non aktif. (Suara-Islam.com)

Untuk itu tuntutan umat Islam hanya satu yakni segera copot dan penjarakan Ahok selaku penista agama. Ia meminta agar pemerintah melalui Mendagri Tjahjo Kumolo segera mencopot Ahok. Demikian juga pihak kepolisian sebagai kepanjangan tangan presiden untuk segera menangkap dan memenajarakan Ahok. (Suara-Islam.com).

Aksi_313_b.jpg
Gambar : Di sini

Meski saya tidak terjun langsung di lapangan dan hanya menonton di TV namun atmosfir dari dua aksi damai itu, betul betul membuat hati saya berharap-harap cemas, jangan sampai ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memprovokasi massa yang begitu banyak. Tapi alhamdulillah Allah Swt tidak ngantuk dan tidak tidur, Dia senantiasa bersama saudara-saudara kita yang hatinya ikhlas hanya menuntut keadilan atas sebuah pelanggaran hukum, bukan yang lain.

Demikian catatan selayang pandang peristiwa yang terjadi di penghujung tahun 2016 itu yang hingga memasuki tahun 2017 ini, gaungnya masih kita rasakan sampai saat ini. Semoga peristiwa dan kejadian seperti ini (penodaan agama) tidak terulang lagi di masa-masa yang datang. Dan berharap ini dapat kita jadikan pelajaran berharga agar semua pihak bisa saling menghormati agama dan keyakinan masing-masing demi kerukunan bersama di antara kita semua anak bangsa, amien..

Referensi :

1. news.liputan6.com

2. wikipedia.com

3. Suara-Islam.com

Kisah Para Pemuda Penghuni Gua yang Hidup Selama 309 Tahun

amazing-736877__340
Pixabay.com

Kisah paling kesohor se dunia, khususnya di kalangan umat Islam, yaitu kisah para pemuda penghuni gua (Ashabul Kahfi) yang hidup selama 309 tahun dalam gua. Kisah ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi (18). Kisahnya sudah didokumentasikan dalam berbagai bentuk file cetak maupun audio visual dan di sini saya hanya ingin menyajikan kembali kisahnya agar bisa menjadi bahan renungan dan pelajaran bagi kita, semoga bermanfaat.

INSPIRASIKU

Kisah ini begitu kesohor. Dengan kekuasaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menidurkan sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua selama 309 tahun,kisah ini trmaktub dalam Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi. Simak kisah ini dan Apa hikmah di balik ini semua?

Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:

رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)

Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan…

Lihat pos aslinya 1.009 kata lagi

Iman Adalah Energi Kehidupan

camel-train-163727__340.jpg
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tulisan pendek ini mencoba mengajak kita pada penjelasan tentang satu kata yang sangat istimewa. Satu kata yang tidak bisa disebandingkan dengan dunia dan seisinya, apalagi jika hanya ditukar dengan nilai uang miliaran atau triliunan. Satu kata yang sangat istimewa itu tiada lain adalah IMAN. Iman itu tempatnya di dalam hati. Dialah yang menjadi kekuatan yang mengatur dan mengarahkan sikap dan perilaku seseorang. Pada saat situasi normal, datar dan aman, tidak banyak masalah, sikap seseorang belum terlihat. Tapi tatkala menghadapi banyak musibah, di situlah keimanan dan keyakinan yang ada dalam hati berbicara lewat sikap dan perilaku lahir.

Manusia, menurut Hasan Al Bashri, dalam situasi aman kondisinya sama. Tapi jika diturunkan ujian, maka seorang mukmin akan berlindung pada keimanannya, sedangkan munafik akan kembali pada kemunafikannya. Oleh karena itu, maka marilah saudaraku kita sama-sama menjaga dan memelihara iman kita agar jangan sampai hilang tergerus oleh arus deras globalisasi. Dan, itulah yang akan dibicarakan secara singkat dalam artikel berikut ini. Meskipun singkat namun cukup untuk mencerahkan dan menambahkan energi dan kekuatan kita dalam menjalani hidup dan keislaman kita di era globalisasi ini. Mari kita ikuti teks selengkapnya berikut ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Hanya ada satu cara untuk mensucikan hati dan mengusir kecemasan di saat tertimpa bencana dan kesulitan adalah dengan keyakinan dan keimanan yang sempurna kepada-Nya, Rabb segala sesuatu. Rabb yang memiliki janji yang pasti ditepati akan kebahagiaan di hari akhirat berupa surga bagi yang sukses melewati kesulitan itu dengan keimanan dan kesabaran.

Kehidupan ini tidak lagi memiliki arti dan makna yang hakiki jika keimanan dalam hati kita telah tiada. Orang yang celaka bukanlah orang yang kehilangan harta benda, kekuasaan dan jabatan karena kesulitan yang menimpanya. Tetapi orang yang celaka adalah orang yang kehilangan iman atau keimanannya karena kesulitan itu. Betapa hinanya kehidupan ini tanpa keimanan.

Dengan memperhatikan tingkat keimanan kita, maka kita akan dapat menentukan kebahagiaan dan ketenangan jiwa kita sendiri. “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,” (QS.An Nahl :97). “Kehidupan yang baik ” yang dimaksud pada ayat di atas merujuk kepada keimanan yang kuat terhadap janji Allah dan hati yang teguh untuk mencintai-Nya. Orang yang menjalani kehidupan yang baik” ini juga akan memiliki jiwa yang tenang ketika tertimpa kesulitan. Mereka akan puas dengan segala sesuatu yang akan terjadi pada mereka, karena hal itu sudah ditentukan oleh takdirnya.

Ketegaran menghadapi kesulitan telah dibuktikan oleh mereka, para sahabat yang tergolong pertama kali masuk Islam. Mereka yang jumlahnya sangat terbatas itu, disiksa dengan siksaan yang luar biasa perihnya dan dipaksa meninggalkan agama barunya. Tetapi dengan keimanan yang menghunjam dalam dada mereka, mereka tetap tegar dan bahkan “tersenyum” menikmati siksaan itu. Sebagian mereka mendapatkan kemenangan sebagai syahid di jalan Allah, dan sebagian lagi mendapat kemenangan dengan pembebasan dari penyiksaan orang-orang kafir itu.

Anda tentu kenal atau pernah mendengar kisah ketegaran seorang Bilal yang disiksa oleh kafir Kuraisy di tengah padang pasir yang panas terik ditimpakan sebuah batu di dadanya. Dia tidak merasakan sakitnya siksaan itu kecuali hanya kenikmatan iman pada Allah, dengan mengucapkan satu kata ahad..ahad..ahad, hingga tercabut ruh dari jasadnya. Iman yang diliputi rasa cinta dan rindu yang begitu luar biasa pada Allah dan rasul-Nya. Kisah Bilal hanya satu dari beberapa kisah ketegaran dan dahsyatnya energi iman bagi kehidupan orang-orang beriman.

Demikian secuil goresan tentang energi iman bagi kehidupan kita, semoga bermanfaat, amien.

Sumber : Majalah Tarbawi edisi 1 Pebruari 2007

Ulama Adalah Pewaris Para Nabi

advent-1577139__340
Gambar  di sini

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa ulama adalah pewaris nabi-nabi,sebagaimana beliau bersabda berikut ini :

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu), Para ulama semakin langka, dan semakin banyak orang-orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Apa yang akan terjadi bila ulama sudah dicabut oleh Allah dengan mewafatkan mereka, siapa yang akan memberikan penjelasan dan fatwa-fatwanya tentang berbagai persoalan umat bila para ulamanya sudah tiada dan digantikan oleh orang-orang yang mengaku ulama tetapi tidak punya kompetensi sebagai ulama? Untuk jelasnya simak risalah selengkapnya berikut ini, semoga bermanfaat.

Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rahmat dan pertolongan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi muslimin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”

Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60)

Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan barakah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ

Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Kita telah mengetahui bagaimana kedudukan mereka dalam kehidupan kaum muslimin dan dalam perjalanan kaum muslimin menuju Rabb mereka. Semua ini disebabkan mereka sebagai satu-satunya pewaris para nabi sedangkan para nabi tidak mewariskan sesuatu melainkan ilmu.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Ilmu merupakan warisan para nabi dan para nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar, akan tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan ilmu tersebut, sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi tersebut. Dan engkau sekarang berada pada kurun (abad, red) ke-15, jika engkau termasuk dari ahli ilmu engkau telah mewarisi dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ini termasuk dari keutamaan-keutamaan yang paling besar.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 16)

Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Quran) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/577)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi Al-’Ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: Maknanya adalah: “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu… dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para shahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.” (Fathul Qadir, hal. 1418)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)

Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali mengatakan: “Kebijaksanaan Allah atas makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas mereka. Maka barang siapa yang mendapat hidayah maka itu wujud fadhilah (keutamaan) dari Allah dan bentuk rahmat-Nya. Barangsiapa yang menjadi tersesat, maka itu dengan keadilan Allah dan hikmah-Nya atas orang tersebut. Sungguh para pengikut nabi dan rasul menyeru pula sebagaimana seruan mereka. Mereka itulah para ulama dan orang-orang yang beramal shalih pada setiap zaman dan tempat, sebab mereka adalah pewaris ilmu para nabi dan orang-orang yang berpegang dengan sunnah-sunnah mereka. Sungguh Allah telah menegakkan hujjah melalui mereka atas setiap umat dan suatu kaum dan Allah merahmati dengan mereka suatu kaum dan umat. Mereka pantas mendapatkan pujian yang baik dari generasi yang datang sesudah mereka dan ucapan-ucapan yang penuh dengan kejujuran dan doa-doa yang barakah atas perjuangan dan pengorbanan mereka. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya atas mereka dan semoga mereka mendapatkan balasan yang lebih dan derajat yang tinggi.” (Al-Manhaj Al-Qawim fi At-Taassi bi Ar-Rasul Al-Karim hal. 15)

Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin. Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya. Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 140)

Ulama Pelita dalam Kegelapan

Waktu senantiasa mengikuti perjalanan umat manusia. Termasuk di dalamnya adalah umat Islam, yang kini telah sampai pada perjalanan yang demikian panjang. Hari demi hari, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, jarak antara mereka dengan zaman risalah semakin jauh. Jarak antara mereka dengan zaman keemasan umat ini telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Sungguh, melihat keadaan umat ini sekarang, benar-benar membuat hati pilu dan dada sesak.

Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.

Dulu, di saat ilmu agama menguasai peradaban manusia dan ulama terbaik umat memandu perjalanan hidup mereka, para pelaku kesesatan dan kebatilan seolah-olah tersembunyi di balik batu yang berada di puncak gunung dalam suasana malam yang gelap gulita. Namun ketika para penjahat agama tersebut melihat peluang, mereka pun dengan sigap memanfaatkan peluang tersebut, turun dari tempat “pertapaan” mereka dan menampilkan diri seakan-akan mereka adalah para “penasihat yang terpercaya.”

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengobrak-abrik kekuatan dan keyakinan kaum muslimin. Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan mereka. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam keterlenaan, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak, gugur dalam amukan kesesatan tersebut. Para guru dengan merasa aman menggandeng tangan murid-muridnya menuju kegagalan hidup. Sementara orang tua dengan bangga melihat anaknya berjalan di tepi jurang menuju kehancuran dan kebinasaan.

Di masa-masa sekarang ini, gambaran kebenaran menjadi kejahatan yang harus dilabrak dan dihanguskan, sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bid’ah yang harus di kubur dan dimumikan. Tauhid menjadi lambang kesyirikan yang harus ditumbangkan dengan segala cara. Situasi dan kondisi kini telah berubah. Para pengikut kebenaran menjadi asing di tengah-tengah kaum muslimin. Kebatilan menjadi Al-Haq dan Al-Haq menjadi batil, berikut terasingnya orang yang bertauhid dan mengikuti sunnah. Di sinilah letak ‘kehebatan’ para penyesat dalam mengubah kebenaran hakekat agama, sehingga kaum muslimin menjalankan agama ini bagaikan robot yang berjalan membawa anggota badannya.

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak akan membiarkan para pelaku dan penyebar kesesatan itu merusak agama dan menyesatkan mereka secara menyeluruh. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji di dalam Kitab-Nya dan di dalam Sunnah Rasul-Nya untuk menjaga agama-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْناَ الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لحَاَفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Ad-Dzikri (Al-Qur’an) dan Kami pula yang menjagannya.” (Al-Hijr: 9)

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِئُوا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُوْرِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

Mereka berkeinginan memadamkan cahaya (Agama) Allah dan Allah tetap akan menyempurnakannya walaupun orang-orang kafir itu benci.” (Ash-Shaff: 8)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk Allah menangkan atas seluruh agama.” (Ash-Shaff: 9)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada Khabbab bin Art radhiallahu ‘anhu:

وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا اْلأَمْرَ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعاَءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخاَفُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ

Demi Allah, Allah akan benar-benar menyempurnakan urusan-Nya (agama) sehingga orang yang berkendaraan dari Shan’a1 menuju Hadhramaut (Yaman) tidak takut melainkan hanya kepada Allah atau kepada serigala yang akan menerkam kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR. Al-Bukhari)

Bentuk pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap agama-Nya

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Segala puji bagi Allah, tidaklah seseorang melakukan kebid’ahan melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pemberian nikmat-Nya membangkitkan orang yang akan membongkar kebid’ahan tersebut dan akan melumatkan dengan kebenaran. Dan ini merupakan perwujudan dari firman-Nya: “Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Adz-Dzikr dan Kami pula yang akan menjaganya.” Inilah bentuk pemeliharaan Allah terhadapnya.” (Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 25)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهاَ دِيْنَهاَ

Sesungguhnya Allah akan membangkitkan di setiap awal seratus tahun orang yang akan memperbaharui agama umat ini.” (HR. Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1874)

Dari sini diketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kemurniaan agama-Nya dari rongrongan para perusak agama dengan mengangkat ulama pada tiap generasi yang akan menjadi pembimbing umat ini.

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah mengatakan: “Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit. Apabila muncul, manusia akan diterangi jalannya dan bila gelap manusia akan mengalami kebingungan.” (Tadzkiratus Sami’, hal 34)

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan: “Telah sampai kepada kami bahwa Abu Dawud adalah termasuk ulama dari ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya sehingga sebagian imam mengatakan bahwa Abu Dawud serupa dengan Ahmad bin Hanbal dalam hal bimbingan dan kewibawaan. Dalam hal ini Ahmad menyerupai Waki’, dalam hal ini pula Waki’ menyerupai Sufyan dan Sufyan menyerupai Manshur dan Manshur menyerupai Ibrahim, Ibrahim serupa dengan ‘Alqamah dan ‘Alqamah dengan Abdullah bin Mas’ud. ‘Alqamah berkata: “Ibnu Mas’ud menyerupai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bimbingan dan arahannya.” (Tadzkiratul Huffadz, 2/592, lihat Wujub Irtibath bil ‘Ulama karya Hasan bin Qashim Ar-Rimi)

Dalam setiap generasi dan jaman, Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih sejumlah orang yang dikehendaki-Nya sebagai pelita dan lentera kegelapan dan perahu dalam mangarungi lautan yang diliputi guncangan ombak dahsyat sebagai tali penghubung antara diri-Nya dengan para hamba-Nya. Sebagai penunjuk jalan dan pemandu dalam perjalanan setiap insan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka adalah ulama.

Kedudukan Ulama

Permbahasan ulama, kedudukan mereka dalam agama berikut di hadapan umat, merupakan permasalahan yang menjadi bagian dari agama. Mereka adalah orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabbnya, agama dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sederetan orang yang akan menuntun umat kepada cinta dan ridha Allah, menuju jalan yang dirahmati yaitu jalan yang lurus. Oleh karena itu ketika seseorang melepaskan diri dari mereka berarti dia telah melepaskan dan memutuskan tali yang kokoh dengan Rabbnya, agama dan Rasul-Nya. Ini semua merupakan malapetaka yang dahsyat yang akan menimpa individu ataupun sekelompok orang Islam. Berarti siapapun atau kelompok mapapun yang mengesampingkan ulama pasti akan tersesat jalannya dan akan binasa.

Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah dalam muqaddimah kitab Akhlaq Al-Ulama mengatakan: “Amma ba’du, sesungguhnya Allah dengan nama-nama-Nya yang Maha Suci telah mengkhususkan beberapa orang dari makhluk yang dicintai-Nya lalu menunjuki mereka kepada keimanan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memilih dari seluruh orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang dicintai-Nya dan setelah itu memberikan keutamaan atas mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, mengajarkan kepada mereka ilmu agama dan tafsir Al-Qur’an yang jelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala utamakan mereka di atas seluruh orang-orang yang beriman pada setiap jaman dan tempat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat mereka dengan ilmu, menghiasi mereka dengan sikap kelemahlembutan. Dengan keberadaan mereka, diketahui yang halal dan haram, yang hak dan yang batil, yang mendatangkan mudharat dari yang mendatangkan manfaat, yang baik dan yang jelek. Keutamaan mereka besar, kedudukan mereka mulia. Mereka adalah pewaris para nabi dan pemimpin para wali. Semua ikan yang ada di lautan memintakan ampun buat mereka, malaikat dengan sayap-sayapnya menaungi mereka dan tunduk. Para ulama pada hari kiamat akan memberikan syafa’at setelah para Nabi, majelis-majelis mereka penuh dengan ilmu dan dengan amal-amal mereka menegur orang-orang yang lalai.

Mereka lebih utama dari ahli ibadah dan lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang zuhud. Hidup mereka merupakan harta ghanimah bagi umat dan mati mereka merupakan musibah. Mereka mengingatkan orang-orang yang lalai, mengajarkan orang-orang yang jahil. Tidak pernah terlintas bahwa mereka akan melakukan kerusakan dan tidak ada kekhawatiran mereka akan membawa menuju kebinasaan. Dengan kebagusan adab mereka, orang-orang yang bermaksiat terdorong untuk menjadi orang yang taat. Dan dengan nasihat mereka, para pelaku dosa bertaubat.

Seluruh makhluk butuh kepada ilmu mereka. Orang yang menyelisihi ucapan mereka adalah penentang, ketaatan kepada mereka atas seluruh makhluk adalah wajib dan bermaksiat kepada mereka adalah haram. Barangsiapa yang mentaati mereka akan mendapatkan petunjuk, dan barang siapa yang memaksiati mereka akan sesat. Dalam perkara-perkara yang rancu, ucapan para ulama merupakan landasan mereka berbuat. Dan kepada pendapat mereka akan dikembalikan segala bentuk perkara yang menimpa pemimpin-pemimpin kaum muslimin terhadap sebuah hukum yang tidak mereka ketahui. Maka dengan ucapan ulama pula mereka berbuat dan kepada pendapat ulama mereka kembali.

Segala perkara yang menimpa para hakim umat Islam maka dengan hukum para ulama-lah mereka berhukum, dan kepada ulama-lah merekalah kembali. Para ulama adalah lentera hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, lambang2 sebuah negara, lambang kekokohan umat, sumber ilmu dan hikmah, serta mereka adalah musuh syaithan. Dengan ulama akan menjadikan hidupnya hati para ahli haq dan matinya hati para penyeleweng. Keberadaan mereka di muka bumi bagaikan bintang-bintang di langit yang akan bisa menerangi dan dipakai untuk menunjuki jalan dalam kegelapan di daratan dan di lautan. Ketika bintang-bintang itu redup (tidak muncul), mereka (umat) kebingungan. Dan bila muncul, mereka (bisa) melihat jalan dalam kegelapan.”

Dari ucapan Al-Imam Al-Ajurri di atas jelas bagaimana kedudukan ulama dalam agama dan butuhnya umat kepada mereka serta betapa besar bahayanya meninggalkan mereka.

Dalil-dalil tentang keutamaan ilmu dan ulama

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ

Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu ke beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “(Kedudukan) ulama berada di atas orang-orang yang beriman sampai 100 derajat, jarak antara satu derajat dengan yang lain seratus tahun.” (Tadzkiratus Sami’, hal. 27)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِصْطِ

Allah telah mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia dan para malaikat dan orang yang berilmu (ikut mempersaksikan) dengan penuh keadilan.” (Ali ‘Imran: 18)

Al-Imam Badruddin rahimahullah berkata: “Allah memulai dengan dirinya (dalam persaksian), lalu malaikat-malaikat-Nya, lalu orang-orang yang berilmu. Cukuplah hal ini sebagai bentuk kemuliaan, keutamaan, keagungan dan kebaikan (buat mereka).” (Tadzkiratus Sami’, hal 27)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang keutamaan ilmu dan ulama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka secara khusus dari manusia lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan persaksian mereka dengan persaksian diri-Nya dan malaikat-malaikat-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan persaksian mereka (ulama) sebagai bukti besar tentang ketauhidan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agama, dan balasan-Nya. Dan wajib atas setiap makhluk menerima persaksian yang penuh keadilan dan kejujuran ini. Dan dalam kandungan ayat ini pula terdapat pujian kepada mereka (ulama) bahwa makhluk harus mengikuti mereka dan mereka (para ulama) adalah imam-imam yang harus diikuti. Semua ini menunjukkan keutamaan, kemuliaan dan ketinggian derajat mereka, sebuah derajat yang tidak bisa diukur.” (Tafsir As-Sa’di, hal 103).

Al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Di dalam ayat ini ada dalil tentang keutamaan ilmu dan kemuliaan ulama. Maka jika ada yang lebih mulia dari mereka, niscaya Allah akan menggandengkan nama mereka dengan nama–Nya dan nama malaikat-malaikat-Nya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan nama ulama.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2/27)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ

Katakan (wahai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” (Az-Zumar: 9)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan unsur kesamaan antara ulama dengan selain mereka sebagaimana Allah menafikan unsur kesamaan antara penduduk surga dan penduduk neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakan, tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” (Az-Zumar: 9), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Tidak akan sama antara penduduk neraka dan penduduk surga.” (Al-Hasyr: 20). Ini menunjukkan tingginya keutamaan ulama dan kemuliaan mereka.” (Miftah Dar As-Sa’adah, 1/221)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

Maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir (ahlinya/ ilmu) jika kalian tidak mengetahui.” (An-Naml: 43)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mengetahui untuk kembali kepada mereka (ulama) dalam segala hal. Dan dalam kandungan ayat ini, terdapat pujian terhadap ulama dan rekomendasi untuk mereka dari sisi di mana Allah memerintahkan untuk bertanya kepada mereka.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 394)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ

Dan tidak ada yang mengetahuinya (perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh Allah) melainkan orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Melainkan orang-orang yang berilmu secara benar di mana ilmunya sampai ke lubuk hatinya.” (Tafsir As-Sa’di, hal 581)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمآءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya aku mengira bahwa terlupakannya ilmu karena dosa, kesalahan yang dilakukan. Dan orang alim itu adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hal. 28)

Abdurrazaq mengatakan: “Aku tidak melihat seseorang yang lebih bagus shalatnya dari Ibnu Juraij. Dan ketika melihatnya, aku mengetahui bahwa dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hal 28)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa mereka (para ulama) adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan mereka dari mayoritas orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28). Ayat ini merupakan pembatasan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah ulama.” (Miftah Dar As-Sa’adah 1/225)

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهً عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Ganjaran mereka di sisi Allah adalah jannah Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah, demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al-Bayyinah: 8)

Badruddin Al-Kinani rahimahullah berkata: “Kedua ayat ini (Fathir ayat 28 dan Al-Bayyinah ayat 8) mengandung makna bahwa ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang-orang yang takut kepada Allah adalah sebaik-baik manusia. Dari sini disimpulkan bahwa ulama adalah sebaik-baik manusia.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 29)

Ucapan yang serupa dan semakna dibawakan oleh Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Miftah Dar As-Sa’adah, jilid 1 hal. 225.

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah akan mengajarkannya ilmu agama.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Hadits ini menunjukkan, barangsiapa yang tidak dijadikan Allah faqih dalam agama-Nya, menunjukkan bahwa Allah tidak mengijinkan kepadanya kebaikan.” (Miftah Dar As-Sa’adah, 1/246)

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Badruddin Al-Kinani rahimahullah mengatakan: “Cukup derajat ini menunjukkan satu kebanggaan dan kemuliaan. Dan martabat ini adalah martabat yang tinggi dan agung. Sebagaimana tidak ada kedudukan yang tinggi daripada kedudukan nubuwwah, begitu juga tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan pewaris para nabi.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 29)

Dan masih banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang kedudukan mereka dalam agama dan peran mereka dalam kehidupan umat.

Wallahu a’lam.

1 Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Shan’a di Syam, dan sebagian yang lain mengatakan Shan’a di Yaman. Adapun Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang kedua, yaitu yang dimaksud adalah Shan’a di Yaman.

Link Sumber : di sini

Siapakah Yang Menyesal?

3685174927_8db0d385d1_z
Gambar di sini

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Apa jawaban dari pertanyaan judul di atas? Ya..pasti ada jawabannya, nanti pada hari kiamat akan diperlihatkan oleh Allah Azza wajalla semua apa yang menjadi kesudahan dari kehidupan ini. “Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari, (di waktu mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.”(QS Yunus:45) Yaitu, di hari pembalasan nanti akan ada orang-orang atau sekelompok orang yang menyesal, mereka meminta untuk dikembalikan lagi ke dunia agar mereka bisa melakukan amal-amal kebaikan yang belum atau tidak sempat atau bahkan tidak mau (enggan) mereka tunaikan selama di dunia. Semacam si tersangka meminta penangguhan penahanan pada polisi, tapi tentu saja permintaan seperti ini hanya mungkin bisa dikabulkan oleh polisi berdasarkan pertimbangan tidak melarikan diri ke luar negeri atau menghilangkan barang bukti, misalnya.  Tetapi bagaimana dengan permintaan orang-orang yang menyesal di hari pembalasan nanti, apakah dikabulkan oleh Allah? Tentu mustahil Allah mau mengabulkannya….dan untuk penjelasan selengkapnya ikuti paparan pada artikel berikut ini.

 

Onabasite

Pada hari itu, siapakah yang menyesal? Siapakah yang merugi? Jawaban spontan kita pastilah, bahwa yang menyesal ialah mereka orang-orang yang sewaktu di dunia tidak percaya akan adanya hari pembalasan. Bahkan mereka mengingkari adanya kehidupan sesudah kematian. Itu memang betul, bahkan 100% betulnya. Tapi juga bukan hanya mereka itu saja yang menyesal, bahkan orang-orang yang percaya akan adanya hari pembalasan pun akan menyesal, mereka berbuat baik sekalipun akan menyesal, mengapa?

Lihat pos aslinya 551 kata lagi

Cara Bersyukur Pada Allah

imageedit_33_6498153213
spreadthepearl.com

 

بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ

Pengantar

Ketika memikirkan dan merenungkan secara mendalam tentang kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya terutama manusia, maka dapatlah kita memahami dan menyadari betapa besar dan luasnya kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah itu untuk manusia. Pada diri kita Allah telah menyempurnakan nikmat penciptaannya baik secara fisik maupun psikis sehingga menjadilah kita makhluk dengan sosok dan bentuk yang sebaik-baiknya. Dan, karena nikmat Allah berupa iman dan Islam, maka manusia bisa menjadi makhluk atau hamba yang melambung tinggi derajatnya di sisi Allah, tetapi juga bisa jatuh terjerembab dalam lumpur dosa bila kufur nikmat, sehingga ia berada pada derajat yang paling rendah di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Tin ayat 4-5 berikut ini :

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4

5) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

Dalam tulisan ini, istilah cinta, kasih sayang dan kebaikan Allah itu, saya sebut sebagai nikmat atau lebih jelasnya nikmat Allah. Jadi oleh karena itu, alangkah sombong dan tidak tahu dirinya manusia jika ia tidak mau bersyukur atas semua pemberian Allah itu padanya. Kalau bukan karena kebaikan Allah berupa taufik dan hidayahNya maka pastilah kesesatan dan kegelapan jualah yang akan kita alami dalam kehidupan di dunia ini. Sesat karena tak tahu kemana arah yang seharusnya dituju, dan gelap karena tak ada cahaya iman yang akan menerangi jalan yang dilalui. Oleh karenanya, adalah sudah sepantasnyalah kalau kita pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah tanpa diperintah oleh si pemberi nikmat, apalagi ada perintah  yang sifatnya wajib. Kenapa? karena setiap saat tanpa di sadari, kita selalu mendapat curahan rahmat dan nikmat Allah, seperti setiap halaan atau keluar masuknya nafas kita, itu pertanda bahwa kita mendapat curahan nikmat Allah berupa oksigen yang sangat kita butuhkan untuk keberlangsungan hidup kita, belum lagi nikmat-nikmat Allah yang lainnya yang tak terbilang.

Pengertian

Yang dimaksud pada judul di atas adalah cara mensyukuri nikmat. Sudah pasti yang dimaksud adalah nikmat Allah yang kita nikmati sepanjang hidup kita. Apa yang dimaksud dengan syukur nikmat, dan apa pula yang dimaksud dengan kufur nikmat? Secara sederhana syukur nikmat adalah merawat dan menggunakan segala nikmat yang ada pada kita sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhananhu wata’ala. Sebaliknya kufur nikmat adalah kebalikannya, yaitu mengingkari atau tidak mau merawat dan menggunakan segala nikmat Allah yang ada padanya  sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Syukur nikmat atau mensyukuri nikmat Allah tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kalimat syukur alhamdulillah, akan tetapi adalah dengan menggunakan segala nikmat Allah itu sesuai dengan fungsi dan peruntukkannya yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Hal ini dapat kita ambil sebagai salah satu contoh misalnya, nikmat mata. Allah telah memberi kita sepasang mata yang fungsinya untuk melihat. Pertanyaannya, sudahkah kita menggunakan mata kita untuk melihat hal-hal yang sesuai dengan ketentuan dan diridhai oleh Allah? Kalau ya/sudah, maka berarti kita telah mensyukuri nikmat Allah berupa mata tadi, dan itulah syukur nikmat. Tetapi kalau belum/tidak, maka itu artinya kita belum atau tidak mensyukuri nikmat Allah berupa mata, dan itulah kufur nikmat. Saya berikan penegasan di sini, bahwa mensyukuri nikmat itu adalah menggunakannya sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Jadi penggunaan di luar batasan tersebut tidak bisa disebut sebagai syukur nikmat akan tetapi kufur nikmat.

Cara Mensyukuri Nikmat

Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif, iHaqi, Ustaz Erick Yusuf mengatakan bahwa ucapan hamdallah hanya satu cara. Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah SWT.

Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta’ati aturan Allah dalam segala aspek kehidupan

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini dapat mengingatkan kita untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong tak tahu diri, dan mereka adalah orang-orang yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Penjelasan Al Qur’an

Mensyukuri nikmat adalah perintah Allah yang wajib diimplementasikan oleh setiap orang yang beriman, sebagaimana firman Allah berikut ini : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. 2:172)

Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) pada sesama manusia yaitu kepada kedua orang ibu bapak kita, sebagaimana Allah menjelaskan dalam firmanNya berikut ini :“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12)

Penutup

Sebagai penutup, saya ingin mengajak saudaraku muslim semuanya yang kebetulan mampir dan membaca tulisan singkat ini, marilah kita saling ingat-meningatkan tentang apapun perihal Islam ini. Karena masih banyak sekali tentunya, hal-hal yang masih perlu kita sama-sama ketahui dan dalami tentang agama ini. Di sini saya mengajak pada kita semua, pikirkanlah dan renungkanlah dengan hati yang bersih dan jernih tentang betapa besar dan luasnya kasih sayang dan kebaikan Allah subhanahu wata’ala kepada kita semua, yang mana itu semua adalah nikmat Allah yang telah kita nikmati selama ini dalam hidup kita. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Mengapa dan apa pentingnya kita saling ingat-mengingatkan? Pentingnya, adalah karena tidak jarang di antara kita masih ada bahkan masih banyak yang tidak juga mau bersyukur, meskipun sebenarnya dia sudah tahu dan paham tentang hal itu, tetapi karena godaan dan bisikan syetan yang senantiasa mengajak kita kepada kufur nikmat, maka sering kali kita kalah dalam mempertahankan kebenaran yang kita yakini. Subhanallah, kalau sudah demikian dan tidak juga mau bersyukur, maka Allah Azza wajalla bertanya kepada kita, فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan? Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  Pertanyaan ini berulang sampai 31 kali dalam Al Qur’an surat Ar-Rahman dari awal hingga akhir surat. Betapa ini menunjukkan bahwa Allah Azza Wajalla sungguh ingin mengingatkan kita agar jangan sampai kita kufur nikmat.

Demikianlah sekelumit goresan pena ku malam ini, semoga ada manfaatnya bagi pembaca dan mohon maaf dan koreksinya bila ada kekurangan dan kekeliruan  di dalamnya. Allahu a’lam 

 

AL-HADITS :

“Apabila seseorang melihat orang cacat lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi) Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhlukNya”, maka dia tidak akan terkena ujian seperti itu betapapun keadaannya.” (HR. Abu Dawud)

Baca juga 

Barisan Hizbullah Peran Jihad Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Begini analisa menarik penulis Tionghoa soal kasus Ahok

Desa di Sulawesi mendadak jadi kampung cina

Enytime Reflection

water-880462__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pernahkah saat kau duduk santai menikmati harimu lalu terpikir untuk berbuat kebaikan untuk seseorang? Dan, percayalah bahwa itu adalah #ALLAH ﷻ yang sedang berbicara denganmu dan mengetuk pintu hatimu. Dan, percayalah bahwa apabila itu adalah niat baik yang belum tuntas kau tunaikan, maka kamu sudah mendapatkan pahala untuk niat baikmu itu. Dan pahala dari pikiran dan niat baik akan menjadi berlipat ganda ketika kamu merealisasikannya dalam sekecil apapun kebaikan untuk sesama. Sebaliknya jika kamu berniat untuk melakukan kejahatan namun tidak jadi kamu laksanakan maka tidak berdosa, tetapi jika kamu merealisasikan keinginan jahat itu, maka ia berdosa. Seperti dijelaskan dalam hadits berikut ini :

Dan dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda :

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً ، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، لَـمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا ، كُتِبَتْ سَيِّـئَةً وَاحِدَةً.

Barangsiapa menginginkan kebaikan kemudian tidak mengerjakannya, maka satu kebaikan ditulis untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, maka sepuluh kebaikan ditulis baginya. Dan barangsiapa menginginkan kesalahan kemudian tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis apa-apa baginya. Jika ia mengerjakan kesalahan tersebut, maka ditulis satu kesalahan baginya.

Pernahkah kau merasa hidupmu penuh masalah, kacau, kau jenuh, dan semua tidak menyenangkan dan kosong? Itu adalah #ALLAH ﷻ Yang Maha Penyayang yang sedang mengujimu. Dan #ALLAH ﷻ ingin mendengar rintihanmu dalam doa kepadaNya. Agar kamu menyadari keberadaanNya. Karena Dia tahu kau sudah mulai melupakanNya dalam kesenangan dunia.

Kehidupan ini tidak pernah sepi dari kesulitan. Selalu ada bencana baru yang menjadikan kita tertekan, yang mengakibatkan naiknya tekanan darah memikirkan semuanya. Mungkin bencana itu berupa naiknya harga-harga kebutuhan primer kita, atau banjir dan kemarau panjang yang mengakibatkan seluruh tanaman kita gagal panen, atau kebakaran yang menghanguskan seluruh harta dan tempat tinggal kita. Semua itu, jika selalu menjadi fokus perhatian dalam kehidupan kita maka selamanya kita akan tersiksa.

Dunia tidak akan pernah berhenti menghadirkan cobaannya. Maka janganlah kita terlalu menanggung beban dunia di atas pundak kita. Biarkan saja dunia ini menanggung beban segala sesuatu yang telah dan atau yang akan terjadi. Jika kita selalu berpegang teguh kepada prinsip dan senantiasa berada di jalan yang benar, kita tidak akan tergoyahkan oleh kesulitan. Justru sebaliknya, kesulitan akan membantu kita memperkuat ketetapan hati dan keyakinan kita. Namun jika kita berhati lemah, dan selalu pesimis karena dunia yang kita kejar kelihatannya semakin jauh, maka menghadapi kesulitan adalah masalah yang akan menambah rasa takut kita sendiri.

Di saat malapetaka tiba, tidak ada yang lebih bermanfaat bagi diri kita selain memiliki hati yang berani dan jiwa yang penuh dengan kepuasan (qana’ah). Orang yang memilki hati yang berani dan jiwa yang qana’ah, berarti ia memilki dirinya sendiri. Ia memiliki keyakinan yang kuat dan dan sel-sel saraf yang tenang. Sementara, orang yang hatinya pengecut dan jiwa yang tidak pernah puas akan anugerah Allah, ia akan berkali-kali membunuh dirinya sendiri dengan kekhawatiran dan firasat malapetaka yang akan tiba.

Karenanya, jika kita meninginkan hidup yang stabil di dunia dan mengharapkan keberuntungan dari kesulitan, kita harus berani menghadapi segala situasi dengan penuh keberanian dan ketabahan. Tidak menjadikan fokus utama kehidupan kita untuk mengejar dunia sebanyak-banyaknya.

Kita harus bersikap tegas terhadap kondisi lingkungan dan dengan berani menghadapi segala angin malapetaka. Orang yang terlalu rakus dengan dunia ia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah atas setiap bencana yang menimpanya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba pada kehidupan (dunia).” (QS.Al Baqarah :96)

Sebaliknya, bagi mereka yang tegar, merasa cukup dengan karunia Allah kepadanya, mereka akan mendapatkan pertolongan dari Allah dan dilimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya. “Lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan atas mereka.” (QS.Al Fath; 18)

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan #ALLAH ﷻ, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya #ALLAH ﷻ menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Al- Qur’an 2:195
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan #ALLAH ﷻ, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Al- Qur’an 4:114

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan #ALLAH ﷻ kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana #ALLAH ﷻ telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Al- Qur’an 28:77

Pernahkah saat kau sedang sedih namun kau tak memiliki seorang pun untuk kau ajak bicara dan berbagi keluh kesah? Itu adalah #ALLAH ﷻ sedang rindu padamu dan ingin kau berbicara padaNya lewat doa.

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada #ALLAH ﷻ aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari #ALLAH ﷻ apa yang kamu tiada mengetahuinya”.

Al-Qur’an 12:86

Pernahkah kau merindukan seseorang, lalu tiba-tiba kamu mendapat telpon/pesan darinya, atau kau bertemu dengannya? Itu adalah #ALLAH ﷻ sedang menghiburmu. Karna tak ada yg namanya kebetulan.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Al- Qur’an 3:190
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Al- Qur’an 3:191
رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. –

Al- Qur’an 3:192

Pernahkah kau mendapatkan sesuatu yang selama ini kau inginkan tapi sangat sulit untuk kamu dapatkan? Itu adalah #ALLAH ﷻ Yang Maha Mengetahui dan mengabulkan doa yang telah kau tabur sebelumnya.

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena #ALLAH ﷻ. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada #ALLAH ﷻ dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada #ALLAH ﷻ niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Al- Qur’an 65:2
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada #ALLAH ﷻ niscaya #ALLAH ﷻ akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya #ALLAH ﷻ telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

Al- Qur’an 65:3
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Al- Qur’an 32:21

Hidayah selalu datang bagi hambaNya yang mau berfikir. #ALLAH ﷻ itu sangat dekat. Selalu dekat. Tulisan ini, kita baca sekarang juga bukan kebetulan. Pilihan ada ditangan kita, ingin menjadi golongan yang lalai atau bukan. Bahkan ketika engkau lalai, kau telah diberi nikmat yang begitu berlimpah.

Hasbunallah wanikmal wakil-Wasslamu’alaikum warahmatullah wabaraktuh.

A Very Touching Story Of Two Orphans

child-60766__340
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pada postingan kali ini saya hadirkan satu kisah inspiratif tentang dua orang anak kecil yang baru sebulan ditinggal mati oleh ayahnya. Tidak diketahui dalam kisah ini tentang ibunya, apakah masih hidup tapi berada di tempat yang jauh, atau apakah ibunya pun sudah meninggal. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk reot peninggalan orang tuanya di sebuah perkampungan kumuh. Tak ada lagi orang lain di rumah itu selain mereka berdua. Apa yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidup mereka? Siapa atau adakah orang-orang yang melihat dan mengetahui keadaan mereka? Adakah orang-orang yang memberikan mereka makan dan minum? Jawaban nya ada pada kisah berikut ini, semoga bermanfaat.

Dunia memang aneh dan penuh dengan selimut misteri. Misteri dunia yang sungguh memang sudah menjadi rahasia Allah ini, hendaknya membuat manusia senantiasa waspada, mengontrol segala aktivitas, baik aktivitas yang positif maupun yang negatif. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari. Kadang kala, tanpa diduga dan tanpa dinyana, kita dipertemukan dengan suatu peristiwa yang membuat hati kita tersentuh, terenyuh dan tergugah lalu kemudian melakukan satu kebaikan yang lebih besar dari sebelumnya.

Peristiwa yang sempat menyentuh perasaan ini, pernah dialami oleh seorang tokoh sufi yang bernama Abdullah bin Mubarrak. Pada suatu ketika dia pergi menempuh perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji sunat. Sebab ia telah melakukan ibadah haji fardu pada tahun sebelumnya dan pada tahun ini ia melakukan ibadah haji sunat.

Dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji kali ini, ia melewati suatu perkampungan kumuh dan terpencil. Bekal yang dibawanya dalam perjalanan hajinya adalah termasuk seekor ayam, yang akan disembelihnya sewaktu-waktu apabila dirinya merasa lapar. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Karena, ketika dia melewati perkampungan kumuh itu, ayam yang dibawanya mati. Apa boleh buat, tanpa pikir panjang lagi, Abdullah bin Mubarrak segera membuang bangkai ayam ke tempat sampah yang terdekat dengan posisinya pada saat itu. Agak menyesal juga dia, mengapa ayamnya harus mati sebelum dia sempat menikmati dagingnya. Andaikata ayam itu ia sembelih dari kemarin-kemarin, pastilah dia tidak akan membuang bangkai ayam seperti ini.

Cukup lama juga ia merenung, dan di tengah-tengah renungannya, alangkah terkejutnya ia karena bangkai ayam yang baru saja dibuangnya ke tempat sampah itu langsung disambut oleh seorang anak perempuan kecil, kemudian dibawanya lari dengan sangat kencangnya. Sungguh, ia benar-benar tersentak dan kaget setengah mati. Dengan perasaan yang penuh tanda tanya Abdullah bin Mubarrak segera lari menyusul anak kecil itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Seperti bermain petak umpet, Abdullah bin Mubarrak berlari adu kecepatan dengan anak perempuan kecil itu. Bukannya hendak meminta kembali bangkai ayamnya yang dibawa lari, tetapi rasa ingin tahunya, untuk apakah anak itu membawa lari bangkai ayam yang baru saja dibuangnya..?

Setelah dekat dia segera memegang anak kecil itu dari belakang, lalu bertanya, “Wahai anakku sayang, apakah engkau mau memakan bangkai ayam ini?”.

Dengan bangkai ayam yang masih terpegang di tangannya, anak kecil itu menjawab, “Banar, aku akan memakannya karena sejak sebulan yang lalu bangkai dihalalkan bagi kami. Ayahku tercinta telah mati terbunuh, tak ada siapa pun di pondok ini kecuali aku dan adikku yang masih kecil. Kami berdua tidak memiliki keluarga. Untuk mendapatkan makanan, aku selalu duduk di tempat sampah itu. Jika ada orang yang melemparkan sesuatu, aku akan cepat-cepat mengambilnya, kemudian aku dan adikku makan !”

Rasa haru biru segera merambahi relung hati Abdullah bin Mubarrak, begitu mendengar penuturan anak perempuan kecil itu. Hatinya tergerak untuk membahagiakan anak kecil itu beserta adiknya dengan memberinya sedekah. Air matanya mengucur deras, karena rasa empati dan ikut merasakan betapa hebatnya penderitaan anak kecil dan adiknya dalam memperjuangkan hidup mereka yang harus tetap berlangsung. Mereka yatim piatu dan masih kecil. Tidak ada tempat untuk memperlindungkan diri mereka, kecuali gubuk reot warisan orang tua mereka. Tidak ada lagi tangan kekar ayah mereka dan tidak ada tangan lembut ibu mereka yang membelainya untuk menghapus duka laranya. Demi kelangsungan hidup dirinya sendiri dan juga adiknya yang harus tetap dipertahankan, dan demi memenuhi tuntutan perut keroncongan mereka, apa saja dimakan. Tak terkecuali sisa-sisa makan orang yang seharusnya menjadi bagian nya ulat-ulat sampah. Dan juga bangkai ayam yang bagi sebagian orang adalah haram. Yah,..hidup memang selalu diselimuti misteri tak terpecahkan akal dan pikiran manusia, kecuali dengan bimbingan iman kepada Allah Swt. Apakah kedua anak yatim piatu ini akan terus mengalami hidup yang seperti ini, ataukah dalam sekejap mereka akan mengalami hidup yang bahagia? Itu, rahasia Allah dan Dia pula yang punya kuasa dan berkehendak.

Rasa belas kasihan segera memenuhi rongga dada Abdullah bin Mubarrak. Kemudian dengan ucapan yang terbata-bata, dia berkata :”Demi Dzat yang memelihara diriku, aku akan menyedekahkan semua harta benda yang aku bawa ini, kecuali sebagian kecil saja untuk bekal pulang ke negeri ku. Akan aku sedekahkan biaya ibadah hajiku tahun ini kepada anak yatim piatu ini. Mudah-mudahan Engkau memberikan pahala ibadah haji kepada ku dan kepada kedua anak yatim piatu ini, ya Allah..!”

Dengan kemurahan hati Abdullah bin Mubarrak itu,senanglah hati kedua anak yatim-piatu ini. Dengan sedekah yang baru diterimanya, minimal ia tak usah lagi menunggui tong sampah, menanti ada orang yang melepar sesuatu, lalu diambilnya untuk dimakan bersama adik tercintanya.

Rupanya matinya ayam Abdullah bin Mubarrak, hanyalah isyarat dari Allah Ta’ala untuknya. dimana Dia hendak menunjukkan kepadanya sebuah amal yang paling utama di dunia, yakni bersedekah pada anak yatim-piatu. Dimana sedekahnya tersebut bisa memberikan kebahagiaan bagi keduanya.

Kejadian seperti ini bisa juga terjadi pada lingkungan masyarakat kita atau pada diri kita sendiri, yang hidup di zaman sekarang ini. Cuma konteksnya yang mungkin berbeda. Yang terpenting adalah intinya, yaitu menyedekahkan harta benda yang dimiliki kepada orang-orang yang membutuhkannya atau membelanjakannya di jalan Allah, adalah sifat orang-orang yang berhati mulia, berakhlak agung yang dalam hatinya telah tertanan suatu keyakinan bahwa sedekah bisa mendatangkan berbagai keajaiban hidup di dunia.

Kisah ini tidak harus membuat kita malu untuk meneteskan air mata haru dan sedih serta tidak pula harus membuat kita ragu akan balasan pahala yang akan diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala nanti di akhirat kelak, atas sedekah tulus kita kepada yatim piatu seperti mereka. Allahu a’lam.

Wassalam, semoga bermanfaat.

Hari Berbangkit Dan Padang Mahsyar

camel-train-163727__340
Pixabay.com

Bismillahirr Rahmaanir Rahiim.

Postingan ini adalah mengenai hari berbangkit dan padang mahsyar, dan berbagai peristiwa atau kejadian yang akan terjadi atau yang akan kita alami kelak di yaumul ba’ts. Yaumul Ba’ts adalah saat di mana semua manusia dibangkitkan dari kubur mereka untuk menuju sebuah tempat untuk berkumpul, atau yang dikenal dengan padang mahsyar.

Pada satu masa nanti, yang kita kenal dengan hari berbangkit, yaitu ketika sangkakala pertama ditiup dan matinya semua mahluk, maka mereka tetap seperti itu untuk masa tertentu sebelum ba’ts atau hari berbangkit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radiyyallahu anhu, Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Jarak antara dua tiupan itu 40 (empat puluh). Mereka bertanya, ‘Wahai Abu Hurairah apakah 40 hari?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh bulan?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh tahun?’ Dia berkata, ‘Saya menolak.’ Kemudian Allah menurunkan air dari langit, maka mereka bermunculan seperti tumbuhnya sayuran. Dia berkata, ‘Tidak ada bagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘Ajbudz-dzanab, darinya makhluk itu disusun kembali pada hari kiama.” (HR.Muslim IV/2270-2271).

Saat tiba hari kiamat, umat manusia panik, nampak seperti orang-orang yang mabuk padahal mereka tidak mabuk. Mereka berhamburan bagai anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung hancur bagai bulu yang dihambur-hamburkan, kemudian manusia mati semua.

Manusia dibangkitkan dengan berusia 33 tahun (sebagaimana dalam riwayat Muslim), dan hamba Allah yang pertama kali bangkit dan keluar dari kuburnya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagaimana dalam hadis riwayat Muslim). Untuk jelasnya ikuti teks selengkapnya berikut ini.

Mutiara Inspirasi

Pada satu masa nanti, yang kita kenal dengan hari berbangkit, yaitu ketika sangkakala pertama ditiup dan matinya semua mahluk, maka mereka tetap seperti itu untuk masa tertentu sebelum ba’ts atau hari berbangkit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radiyyallahu anhu, Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Jarak antara dua tiupan itu 40 (empat puluh). Mereka bertanya, ‘Wahai Abu Hurairah apakah 40 hari?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh bulan?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh tahun?’ Dia berkata, ‘Saya menolak.’ Kemudian Allah menurunkan air dari langit, maka mereka bermunculan seperti tumbuhnya sayuran. Dia berkata, ‘Tidak ada bagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘Ajbudz-dzanab, darinya makhluk itu disusun kembali pada hari kiama.” (HR.Muslim IV/2270-2271).

Ketika Ajbudz-dzanab sudah tumbuh dan jasad-jasad sudah utuh kembali seperti semula, maka ditiuplah sangkakala yang kedua. Lalu kembalilah semua ruh ke dalam jasadnya masing-masing. Allah berfirman…

Lihat pos aslinya 1.250 kata lagi

Bangga Menjadi Muslim

bangsa_arab_dakwah-730x430
Gambar: dari sini

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Sebagai muslim, kita memang sangat pantas untuk bangga. Mengapa kita harus bangga dan apa yang membuat kita bangga menjadi muslim? Salah satu alasannya adalah fakta bahwa Islam ini diturunkan sebagai misi di mana Muhammad sebagai Rasul-Nya, juga diturunkan ke muka bumi dengan misi membagi-bagikan dan menebarkan rahmat ke seluruh muka bumi ini. Dan fakta bahwa Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam raya ini. Karena itu, kita harus bangga dengan identitas ini dan kitalah yang dinanti-nantikan oleh umat manusia. Kitalah rahmat bagi alam semesta ini. Kitalah sungai rahmat yang mengalirkan air yang sangat dinantikan oleh manusia yang dalam kehausan. Kita adalah makanan yang sedang sangat diharapkan oleh manusia yang tengah dilanda kelaparan.

Selain itu ada fakta lain yang membuat kita bangga sebagai seorang muslim. Fakta itu adalah bahwa kita mempunyai kitab suci yang bernama Al-Qur’an. Kitab yang menjamin dirinya tetap terpelihara, tidak akan pernah ternodai, tidak satu huruf atau titikpun yang akan berubah dari keaslian dan kesuciannya. Itu karena Al-Qur’an sudah dipelihara oleh Allah subhanahu wata’ala. Al-Qur’an yang ada dan dibaca di Indonesia adalah juga Al-Qur’an yang ada dan dibaca di Arab Saudi, di Mesir, dan di berbagai tempat lainnya. Karena itu, Al-Qur’an terpelihara keaslian dan kesuciannya. Oleh karena itu, kitapun mempunyai alasan untuk mengklaim bahwa kita lah pihak yang paling berhak menyampaikan kebenaran dari Allah kepada manusia.

Kita dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan Al-Qur’an, sebuah kita suci yang mudah dimengerti.  Allah subhanahu wata’ala memuliakan kita dengan kemuliaan dan kesucian Al-Qur’an yang diturunkan di muka bumi ini. Allah subhanahu wata’ala memuliakan kita dengan utusan paling baik kepada manusia yaitu Muhammad sallallahu’alaihi wasallam, yang diutus dengan misi rahmatan lil’alamin.

Allah subhanahu wata’ala sungguh telah memberikan kepada kita nikmat yang luar biasa dan karunia yang tak terhitung jumlahnya. “Dan jika engkau menghitung nikmat Allah (kepadamu), niscaya engkau tak akan mampu menghitungnya.” Di antara nikmat yang tidak terhitung itu adalah, pertama, ni’matul wujud atau nikmat kehidupan. Kita dijadikan-Nya salah satu makhluk-Nya yang hidup di alam raya ini. Kedua, ni’matul insan atau nikmat dijadikan-Nya sebagai manusia yang ditetapkan sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dari makhluk-makhluk yang lain, di mana seluruh alam raya ini dihamparkan untuk manusia. Karunia, ketiga yang Allah berikan kepada kita adalah ni’matul ‘aql atau karunia akal. Kita diberikan kemampuan dengan akal itu mampu membaca dan menulis serta menjelaskan fenomena dan fakta-fakta yang ada di alam raya ini.

Tapi di atas semua karunia itu, ada karunia yang sangat besar, yaitu ni’matul hidayah ilal Islam, karunia petunjuk menjadi seorang muslim. Inilah nikmat yang paling mulia, dan ini tidak diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada semua manusia, melainkan hanya kepada kita. Karena itu, kita harus bersyukur dengan petunjuk ini. Inilah jalan satu-satunya yang Allah berikan kepada kita agar bisa mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

Semoga kebanggaan kita sebagai muslim tidak hanya dalam kata-kata dan  pengakuan saja, kita tidak cukup hanya berkata-kata bahwa kita bangga menjadi muslim, tetapi kita harus bisa menyampaikan kepada orang, bahwa kita adalah terjemahan hidup dari Al-Qur’an, dan harus bisa memastikan bahwa sikap dan prilaku keseharian kita dalam masyarakat adalah cerminan dari ajaran dan akhlak Al-Qur’an yang mulia. Ya Allah muliakan kami dengan Al-Qur’an, amien.

Referensi : Tarbawi edisi 148 /1 Pebruari 2007

================

Baca juga :

Kisah Mualaf, Febi Kusuma Ariesta

Sisi lain perjalanan Mualaf, masuk Islam karena menikah.

Dari Pemeluk Hindu Hingga Menjadi Profesor Hadits Universitas Madinah

amazing-736886__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tidak ada yang menyangka, seorang anak laki-laki yang terlahir di sebuah keluarga Hindu di kemudian hari menjadi guru hadits di Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi. Profesor Azmi merupakan orang yang istimewa. Perjalanan hidupnya mengajarkan kita bahwa kehidupan ini bagaikan roda yang berputar. Seseorang bisa di berada di putaran bawah menghadapi kesulitan. Kemudian berada di bagian atas menikmati kesuksesan. Seseorang harus berusaha menyelesaikan putaran kesulitan yang ia hadapi sampai ia berhasil membuktikan kepada dunia -dengan izin Allah-, ia mampu berkontribusi untuk peradaban.

Kesederhanaan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Karena kesederhanaan mampu menahan seorang untuk berbuat yang tidak semestinya ia lakukan. Kesederhanaan juga menjadi perisai yang menghalangi sifat sombong. Kesederhanaan adalah kunci untuk kesalehan dan baiknya perbuatan. Kesederhanaan, sopan santun, dan kerendahan hati begitu tampak pada sosoknya.

Baca teks lengkapnya di sini.

Cinta Allah Kepada Manusia

heart-283146__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setiap orang pada pemahamannya masing-masing, pasti mengenal cinta. Di kala bayi kita semua cinta atau suka pada yang namanya (maaf) puting susu ibu kita, karena dapat mengenyangkan perut kecil kita. Ketika usia bocah kita mengenal dan mencintai orang tua (ibu dan bapak) kita karena mereka melindungi kita dari berbagai ancaman. Begitu pula ketika kita mulai memasuki usia remaja (aqil balik) kita mulai mengenal, menyukai dan mencintai lawan jenis, dan selanjutnya ketika dewasa kita mulai mengenal, menyukai dan mencintai hal-hal yang bersifat duniawi seperti harta, wanita dan tahta. Demikianlah hakikat rasa cinta manusia pada apa yang dilihat dan didengar serta dipahaminya sebagai yang menyenangkan hatinya. Cinta kita tidak sepenuhnya tulus, ada pamrihnya yaitu ingin dapat ridha Allah dan pahala surga di akhirat kelak.

Lalu kita bertanya di sini, bagaimana dengan cinta Allah kepada manusia, atau bagaimanakah Allah mencintai manusia? Dan bagaimana pula manusia mencintai Allah? Samakah kadar rasa cinta di antara keduanya? Ketahuilah saudaraku, bahwa sesungguhnya cinta Allah pada kita tak mampu akal dan pikiran kita untuk membayangkannya, dan harus kita yakini seyakin-yakinnya bahwa cinta Allah tak terbatas, sedangkan cinta kita adalah terbatas. Meskipun kita sangat ingin mencintai Allah dengan sepenuh jiwa dan raga kita (dan itu wajib), namun pastilah cinta kita kepada-Nya tidaklah sebanding dengan cinta dan kasih sayang Allah kepada manusia.

Saudaraku, oleh karena itu janganlah pernah kita berpikir atau mengklaim bahwa kita sudah berbuat baik pada Allah, sudah mencintai Allah karena kita telah melaksanakan semua perintah-Nya seperti shalat, zakat, puasa dan juga haji, misalnya. Lalu dengan serta merta kita mengklaim bahwa semua ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah dan lalu kita berpikir kita sudah mencintai Allah,  belum saudara.

Ketahuilah saudara, bahwa kita bisa melaksanakan semua ibadah-ibadah itu, sesungguhnya itu adalah karena kebaikan dan kecintaan Allah kepada kita, bukan karena kebaikan dan kecintaan kita semata kepada Allah. Karena ketika kita merasa sangat mencintai Allah, itupun pasti terlebih dahulu atas rahmat Allah jua (taufik dan hidayah-Nya) yang tercurahkan dalam hati kita. Apatah lagi diklaim karena kehebatan dan kekuasaan kita. Cinta dan kebaikan kita tidaklah seberapa atau hanya secuil saja bila dibandingkan dengan luasnya cinta dan kasih sayang serta kebaikan Allah kepada kita.

“ Dari Anas r.a. dari Nabi saw. Bersabda: “ Barang siapa ada tiga perkara padanya, ia telah mendapatkan manisnya iman, yaitu hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya dari apa yang selain keduanya, hendaklah ia mencintai dan membenci seseorang semata karena Allah, dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana ia benci jika akan dicampakkan ke dalam neraka”. (H.R. Bukhari Muslim).

Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa ada tiga kriteria atau syarat yang dapat menjelaskan seseorang bisa mendapatkan atau merasakan manisnya iman, itu baru kita bisa merasakan manisnya iman, tetapi itu belumlah berarti bahwa itu pertanda kadar rasa cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya sudah sempurna. Saudara, kita masih harus terus berikhtiar  untuk mendekat dan mendekat lagi dan belajar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mari kita terus belajar mensyukuri segala nikmat-Nya belajar membalas cinta dan kebaikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan jangan pernah telah marasa berbuat baik kepada dan telah mencintai Allah dan rasul-Nya.

Ketika kita berpikir bahwa cinta adalah perasaan yang tumbuh karena ada daya tarik, itu artinya kita belum benar-benar paham hakikat cinta. Jika kita berpikir bahwa cinta bisa patah, bisa berkurang, bahkan cinta bisa menghilang. Lalu bagaimana kita bisa mengerti cinta Allah?…Hakikatnya, kita tidak benar-benar mengerti apa makna cinta sesungguhnya sampai kita paham cinta Allah…Yang mengalir terus tanpa henti untuk kita.

Dia menciptakan kita, memberi kita pakaian, mengajari kita bicara, memberi kita ilmu, nikmat tiada henti, menjaga kita, mengampuni dosa-dosa kita, mengasihi kita…Dia memberi kita ujian sebagai kebaikan untuk kita, membuat kita dekat dengan-Nya lagi setelah kita menjauh, melihat kita berbuat dosa, mengampuni saat kita memohon ampunan. Dia tersenyum pada kita, takkan kita temui Dia lelah mendengar segala keluh kesah kita, selalu peduli.

Dia ijinkan kita berdoa, membuat kita kembali..Maka ingatlah berapa kali kita berpaling dari-Nya, dari peringatan-Nya, namun tak pernah sekalipun Dia berpaling dari kita. It was love!~Berapa sering kita tidak mematuhi-Nya, namun tak pernah sekalipun Dia menahan rezeki-Nya dari mencapai piring kita, dan mencukupi kebutuhan kita. .Berapa kali kita meminta pada-Nya, dan Dia tak pernah meminta apapun dari ciptaan-Nya, Maha Kaya Allah. 

Yang memerlukan adalah kita, bukan Dia..Lalu bagaimana mungkin kita mengklaim bahwa kita paham hakikat cinta, mengaku sedang mencinta, sedang kita belum mengerti besarnya cinta Sang Pencipta?…Renungan buat kita. dengan perasaan cinta tanpa tuntunan syariat, yang kita tahu hanya bagaimana memahami cinta Allah dan menjaganya…Saudaraku, sesungguhnya Allah tahu kalau cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya tidaklah pernah sebanding dengan cinta Allah kepada kita.

Saudaraku, memang cinta bagaikan sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Cinta bagaikan rembulan yang tak pernah padam, ia selalu menerangi hati yang sedang dilanda asmara. Seperti dikatakan di awal, bahwa setiap manusia memiliki perasaan cinta, cinta kepada Ayah dan Ibu, cinta kepada kakak adik, cinta sanak keluarga, dan juga cinta pada hal-hal duniawi. Tetapi lebih dari semua itu cinta yang paling utama adalah cinta kepada sang Pencipta, Allah SWT.dan juga Rasul-Nya. Maka rawat dan tumbuhkanlah  terus cinta kita itu hingga ajal menjemput.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqarah :165)

Kandungan dari Al-Quran di atas menerangkan bahwa manusia menyembah dan mencintai selain Allah, maka ia termasuk orang-orang yang zhalim yang di akhirat nanti akan mendapatkan siksa yang pedih, niscaya mereka akan menyesal. Sebaliknya jika manusia itu tulus menyembah dan mencintai hanya kepada Allah SWT, maka mereka adalah termasuk golongan orang yang beriman.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran : 31)

Kandungan ayat Al-Quran di atas bahwasanya kita umat muslim harus benar-benar mencintai Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni segala dosa-dosa kita karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

“… tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat : 7)

Kandungan dari ayat Al-Quran di atas adalah bahwa cinta ini datangnya dari Allah dan Allah menjadikan cinta-Nya ini untuk keimanan karena keimanan itu akan menjadi indah di dalam hati kita serta menjadikan kita ini benci terhadap kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan (naudzubillahmindzalik). Sehingga kita termasuk orang-orang yang mengikuti jalan Allah yang lurus.

Bukti paling aktual dan dahsyatnya cinta Allah kepada kita (manusia) adalah bahwa Allah telah menurunkan kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya yaitu Al-Qur’an dan telah mengutus seorang hamba dan kekasih-Nya yang bernama Muhammad bin Abdullah sebagai pembawa berita gembira dan penyelamat bagi manusia yang mau mendengarkan dan menerima seruannya….Saudaraku, itulah Al-Qur’an, itulah surat cinta sejati Sang Khaliq kepada kita hamba-Nya yang bernama manusia. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, amien.

The Power Of Giving For Health

hand-1549224__340
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

[Yang dimaksud dengan giving adalah sedekah]. Dalam hidup ini banyak hal yang menurut logika kita sebagai manusia nampak seperti mustahil atau tidak mungkin terjadi. Tidak sedikit kita menyaksikan atau mengetahui, bahwa ada suatu penyakit atau sebut saja luka yang sudah sekian lama diderita oleh sesorang dan sudah sekian banyak pula macam obat yang digunakan untuk mengobatinya namun tidak kunjung sembuh. Tetapi setelah bertanya dan berkonsultasi kesana kemari pada orang-orang yang mengerti ilmu agama, dan menyarankan agar ia perlu bersedekah kemudian ia melaksanakan saran tersebut, maka penyakit luka tersebut akhirnya sembuh dan bahkan kesehatan orang tersebut secara ruhani dan jasmani menjadi jauh lebih baik dan segar dari sebelumnya.

Fenomena seperti ini nampaknya hanya bisa kita pahami dengan kacamata iman yang murni dan kuat kepada Zat Yang Maha Pencipta, yaitu Allah Swt. Karena iman itu sendiri adalah sebuah energi hidup yang memiliki daya atau kekuatan dahsyat menyemangati kita dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Dan, sedekah itu sendiri merupakan implementasi dari semangat yang digelorakan oleh kekuatan iman yang murni dan kuat hanya kepada Allah Swt.

Terkait dengan fenomena di atas, ada sebuah kisah di jaman Rasulullah Saw bahwa seseorang datang kepada Abdullah bin Mubarrak, memberitahukan bahwa,” sudah tujuh tahun lamanya ia menderita luka di lututnya tidak sembuh-sembuh, meski ia sudah mengobatinya dengan berbagai macam obat oleh tabib yang ahli, namun tidak sembuh juga.” Lalu Abdullah bin Mubarrak menyarankan, “Agar ia menggali sumur di tempat orang-orang yang kekurangan air. Saya berharap kepada Allah semoga ketika air memancar dari sumur, maka darah di lutut anda akan segera berhenti mengalir.” Dan, setelah anjuran itu dilaksanakan yaitu bersedekah dengan air, maka kemudian luka itu pun segera sembuh.

Kisah yang lain, Abu Abdullah Hakim ra adalah seorang ahli hadits yang terkenal. Ia sudah menderita luka di wajahnya selama satu tahun tidak sembuh-sembuh meski sudah diobati. Pada suatu hari Jum’at ia mendatangi Ustadz Abu Utsman Shabuni, untuk meminta didoakan. Dan Abu Utsman pun mendoakan dengan doa yang panjang sekali dan diamini oleh semua yang hadir di majlis. Kemudian, pada hari Jum’at berikutnya salah seorang wanita anggota majlis, datang memberitahukan bahwa sepulang dari mesjid hari Jum’at kemarin, ia mendoakan dengan sungguh-sunguh untuk kesembuhan Hakim. Pada malam harinya ia bermimpi didatangi oleh Rasulullah saw. Dalam mimpinya ia melihat Rasulullah saw bersabda :…Suruhlah Hakim agar memberikan kemudahan air bagi kaum muslimin…Begitu mendengar berita itu, Abu Abdullah Hakim segera membuat tangki di depan rumahnya yang selalu dipenuhi air dan es batu. Al hasil, setelah berlalu satu minggu, luka diwajahnya berangsur-angsur dan segera membaik, bahkan keadaannya menjadi lebih tanpan dari sebelumnya.

Al Faqih Abu Laits As Samarqandi berkata, “Rajinlah bersedekah sedikit atau banyak, karena sesungguhnya dalam sedekah itu ada sepuluh hal yang terpuji. Lima berlaku di dunia dan lima lagi berlaku di akhirat. Dan lima yang berlaku di dunia adalah :1). Sedekah bisa mensucikan harta, seperti dalam sabda Nabi Saw, “Ketahuilah, sesungguhnya jual beli itu tidak terlepas dari main-main, bersumpah, dan berbohong. Karena itu, bersihkanlah ia dengan sedekah.” 2). Sedekah bisa membersihkan badan dari dosa sebagaimana firman Allah Swt, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (harta benda).” 3). Sedekah dapat menolak bala atau musibah danberbagai macam penyakit, seperti sabda Rasulullah Saw, “Obatilah penyakitmu dengan bersedekah.” 4). Sedekah bisa memberikan kegembiraan bagi orangt-orang miskin. Dan, itulah bentuk amal yang mulia dan yang paling utama. 5). Sedekah bisa mendatangkan berkah pada harta yang kita miliki dan melapangkan rezki, yang difirmankan Allah Swt, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.”

Kemudian lima yang akan berlaku di akhirat kelak adalah sebagai berikut : 1). Sedekah kelak akan menjadi tempat berteduh dari panas yang sangat membara bagi orang-orang yang mengelaurkannya. 2). Sedekah dapat meringankan proses hisab atau perhitungan amal. 3). Sedekah dapat menambah bobot pada amal kebaikan yang kita kerjakan selama hidup di dunia. 4). Sedekah dapat menolong kita dalam melewati jembatan neraka yang bergitu menakutkan. 5). Sedekah dapat meningkatkan derajat surga.

Jadi, jika keutamaan atau manfaat sedekah itu sedemikian besarnya bagi kita sebenarnya karena ia mendapatkan doa restu dari orang-orang yang fakir dan miskin yang bisa kita bayangkan betapa berbahagia dan senangnya mereka ketika mendapatkan sedekah dari sesamanya yang berkecukupan. Karena mereka setiap saat bergulat dengan berbagai persoalan apa yang harus dimakan di waktu pagi, siang dan sore. Sementara masih ada di sekitar mereka orang-orang yang berkecukupan dan bahkan berkelebihan. Subhaanallah…karena itu marilah kita segera bersedekah untuk mereka dengan apa saja yang bisa kita sedekahkan. Sedikit atau banyak tidak menjadi masalah karena tentu sangat bergantung pada kemampuan yang kita miliki, asalkan diberikan dengan keikhlasan hati pasti akan dicatat oleh Allah Swt sebagai amal kebaikan yang menolong kita di akhirat kelak. Wallaahu a’lam.

Kebenaran hanya milik Allah, semoga bermanfaat, amien ya Rabbal ‘Aalamien.

Anak-Anak Dalam Keluarga Tanpa Ayah

imageedit_13_8103248644.jpg
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Ketika kita memikirkan tentang keluarga, maka mungkin yang ada dalam pikiran kita adalah sebuah keluarga utuh ada ayah dan ibu serta dua anak atau lebih, hidup dalam suasana menyenangkan berkecukupan secara fisik, psikis dan sosial. Ini adalah contoh sebuah keluarga yang relatih ideal, bukan keluarga ideal. Dan, mungkin tak sempat terpikir bahwa di sana ada banyak keluarga dengan anak-anak tanpa kehadiran figur seorang ayah. Pemikiran atau anggapan seperti itu adalah biasa/wajar karena kita bukanlah kelompok pemerhati atau peneliti sosial atau keluarga. Bagi pemerhati dan peneliti masalah sosial, keluarga tanpa ayah adalah sebuah masalah atau ancaman yang sangat serius bagi anak-anak yang tumbuh dan berkembang di dalamnya, baik anak laki-laki maupun perempuan. Pada anak-anak (laki-laki) dalam sebuah keluarga tanpa ayah, di sana ada masalah sosial dan psikologis yang sangat serius yang dihadapi oleh anak-anak selain masalah sekonomi.

Seorang anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk belajar berbagai hal yang tidak dia dapatkan dari ibunya, begitu pun dengan anak perempuan, ada sesuatu yang dia butuhkan dari kehadiran figur ayah, misalnya bagaimana ia belajar membangun relasi interpersonal pria dan wanita yang sesuai etika dan tatakrama yang ada dalam masyarakat. Namun beberapa hasil penelitian menjelaskan, bahwa ketiadaan figur ayah sangat berpengaruh buruk pada anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Mengapa, karena bagi anak laki-laki ketiadaan figur ayah adalah sama halnya dengan kehilangan objek contoh atau tempat dia untuk belajar bagaimana menampilkan peranan sebagai seorang laki-laki. Sementara bagi anak perempuan, kehilangan figur ayah meskipun berpengaruh buruk akan tetapi tingkatan bed efffectnya agak rendah, karena objek belajar peranan sebagai perempuan masih ada, yaitu si ibu.

Di sisi lain, ketiadaan ayah atau figur ayah akan berkonsekuensi pada kedudukan ibu dalam keluarga itu menjadi orang tua tunggal. Pertanyaannya, apakah seorang ibu mampu mengemban kedua peran itu dalam keluarga, dalam merawat, membesarkan dan mendidik serta mengawasi anak-anaknya? Karena kesiapan si ibu dalam menjalani perannya sebagai orangtua tunggal juga akan mempengaruhi bagaimana dia bersikap terhadap anaknya. Para ibu yang tidak siap dengan keadaan dan merasa terpaksa menjalaninya akan cenderung menyalahkan kehadiran si anak, dan inilah bahayanya.

Belum lagi jika si ibu memiliki sifat pencemas dan mudah panik, hal ini tentu saja berpengaruh pada si anak, terlebih anak- anak masih memiliki keterbatasan kemampuan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan perasaannya. Di sinilah diperlukan komunikasi terbuka dan kepekaan dari si ibu untuk menggali perasaan si anak dan mencari tahu apa kebutuhan anaknya. Menjadi orangtua tunggal berarti harus siap menjadi tulang punggung keluarga, tak jarang karena ingin memenuhi kebutuhan finansial, seorang ibu bekerja terlalu keras sehingga tidak punya waktu lagi untuk anak-anaknya, dan inilah pula bahayanya.

Apa masalah sosial psikologis yang akan menimpa anak-anak dalam keluarga tanpa ayah ini? Sebagai gambaran tentang masalah ini, saya kemukakan beberapa hasil penelitian di Amerika, yang mengungkapkan bahwa anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga tanpa ayah berkecenderungan tinggi dalam hal-hal sebagai berikut:

Sexual activity. In a study of 700 adolescents, researchers found that “compared to families with two natural parents living in the home, adolescents from single-parent families have been found to engage in greater and earlier sexual activity.”
Source: Carol W. Metzler, et al. “The Social Context for Risky Sexual Behavior Among Adolescents,” Journal of Behavioral Medicine 17 (1994).

Dalam sebuah penelitian tentang 700 remaja, para peneliti menemukan bahwa keluarga tanpa ayah berkecenderungan melahirkan remaja dengan aktivitas seksual yang lebih besar dan lebih dini, ketimbang anak-anak dari keluarga utuh ada ayah dan ibu (sumber data di atas).

A myriad of maladies. Fatherless children are at a dramatically greater risk of drug and alcohol abuse, mental illness, suicide, poor educational performance, teen pregnancy, and criminality.
Source: U.S. Department of Health and Human Services, National Center for Health Statistics, Survey on Child Health, Washington, DC, 1993.

Kemudian dalam penelitian lain menemukan, bahwa anak-anak tanpa ayah secara daramatik lebih beresiko lebih tinggi pada penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, sakit mental, bunuh diri, prestasi akademik rendah, kehamilan usia dini, dan kriminalitas (sumber data di atas).

Drinking problems. Teenagers living in single-parent households are more likely to abuse alcohol and at an earlier age compared to children reared in two-parent households
Source: Terry E. Duncan, Susan C. Duncan and Hyman Hops, “The Effects of Family Cohesiveness and Peer Encouragement on the Development of Adolescent Alcohol Use: A Cohort-Sequential Approach to the Analysis of Longitudinal Data,”Journal of Studies on Alcohol 55 (1994).

Anak-anak remaja dari keluarga tanpa ayah berkecenderungan lebih besar untuk penyalahgunaan obat-obatan di usia dini ketimbang anak-anak dari keluarga utuh (sumbar data di atas).

Suicidal Tendencies. In a study of 146 adolescent friends of 26 adolescent suicide victims, teens living in single-parent families are not only more likely to commit suicide but also more likely to suffer from psychological disorders, when compared to teens living in intact families.
Source: David A. Brent, et al. “Post-traumatic Stress Disorder in Peers of Adolescent Suicide Victims: Predisposing Factors and Phenomenology.” Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry 34, 1995.

Keluarga tanpa ayah tidak hanya mengakibatkan anak-anak mengalami masalah bunuh diri, tetapi juga menyebabkan kekacauan mental dibandingkan anak-anak dari keluarga utuh (sumber data di atas).

Confused identities. Boys who grow up in father-absent homes are more likely that those in father-present homes to have trouble establishing appropriate sex roles and gender identity.
Source: P.L. Adams, J.R. Milner, and N.A. Schrepf, Fatherless Children, New York, Wiley Press, 1984.

Anak laki-laki dari keluarga tanpa ayah lebih berkecenderungan mengalami masalah dalam penyesuaian peranan seksual dan identitas gender mereka ketimbang anak-anak dari keluarga utuh (sumber data di atas).

Oleh karena itu, saya mengutip pendapat yang mengatakan atau menyarankan, bahwa ‘Para ayah sebaiknya memiliki waktu dan kesempatan untuk bercengkerama dengan buah hati, minimal 15 – 30 menit per harinya. Keterlibatan dengan anak ini bisa termasuk mengajaknya bercerita, bermain, mengungkapkan rasa cinta dan sayang, serta mengajaknya berdiskusi ringan. Percayalah, ini akan sangat bermakna bagi perkembangan jiwa anak. Ayah yang positif akan memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang anak. Seperti yang dikatakan Irma Gustiana A, M.Psi., psikolog Anak dan Keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Peran ayah dalam kehidupan anak sangat berarti, terutama dalam membangun kecerdasan emosi, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan motivasi anak di kemudian hari. Buat para ibu, ayo bantu ayah dan berikan kesempatan agar ia dan anak menjalin hubungan yang hangat. Pasalnya, anggapan bahwa masalah pengasuhan hanya ranah ibu, sementara bekerja dan mencari nafkah adalah ranah ayah, mengakibatkan anak mengalami ketiadaan peran ayah. “Ini sangat disayangkan karena ketiadaan peran ayah (fatherless) dalam kehidupan anak, memungkinkan anak mengalami masalah perilaku sosial emosi yang semakin besar. Anak cenderung berperilaku tidak adaptif sehingga timbul istilah kenakalan anak.”  Irma mengalaskan pendapatnya pada hasil penelitian yang menyebutkan tentang dampak buruk dari ketiadaan peran ayah, seperti hasil studi tentang peran ayah dalam kehidupan anak yang dilakukan Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan. Dikemukakan, apabila tak ada peran ayah dalam kehidupan anak, dampaknya tak bisa dianggap sepele. Apa saja?

– 63 persen anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati yang mudah berubah, fobia, dan depresi.

– 56 persen anak memilik kemampuannya berada di bawah rata-rata.

– 43 persen anak melakukan agresi terhadap orangtua.’ (Sumber : tabloidnova.com).

Dan saya berpendapat, bahwa sebenarnya masalah ketiadaan figur ayah bagi anak-anak, terutama bagi anak laki-laki dapat diatasi dengan menyediakan figur pengganti ayah. Siapa itu? Ini bisa kakeknya, pamannya, atau figur pria lain dalam sebuah keluarga yang bisa menampilkan diri sebagai pelindung, pengawas dan pendidik bagi mereka. Tapi masalahnya, tidak selalu tersedia dalam setiap keluarga figur-figur penganti seperti itu, karena berbagai faktor dan situasi. Oleh karena itu, barangkali perlu dicarikan alternatif pelayanan sosial yang diberikan oleh negara disesuaikan dengan tingkat usia dan kebutuhan mereka, sehingga anak-anak dari keluarga tanpa ayah ini, khususnya yang ibunya tidak mampu mengakomodir semua kebutuhan anak karena berbagai alasan, bisa terselamatkan dari ancaman bahaya kemanusiaan seperti diuraikan di atas.

Nabi kita Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam, adalah seorang fatherless boy, bahkan beliau telah yatim piatu tak lama setelah kelahiran, karena ayahnya Abdullah telah meninggal dunia sebelum beliau lahir dan ibunya pun menyusul tak lama setelah melahirkan Muhammad. Tapi alhmadulillah, beliau masih punya kakek yang bisa menggantikan figur ayahnya, yaitu Abdul Muthallib. Setelah kakeknya meninggal, Muhammad diambil dan pelihara serta dilindungi oleh pamannya Abu Thalib meskipun pamannya bukan muslim, tetapi ia sangat menyayangi keponakannya. Subhanallah. walhamdulilah, wa laa ilaha illallah, wallahuakbar.

Demikian, semoga bermanfaat, amien Ya Rabbal ‘alamin.

Keberkahan Yang Tak Pernah Pudar

italy-2080072__340
Pixabay.com

Bismilllaahir Rahmaanir Rahiim

[Yang dimaksud adalah keberkahan waktu pagi]. Pagi adalah bagian dari waktu-waktu Allah yang terus berputar. Ia juga merupakan ungkapan yang sangat lekat dengan makna kesegaran, keceriaan, semangat, dan hidup baru. Begitu banyak makna positif yang memberi spirit dan optimisme dalam hidup yang datang menyertai pagi. Mungkin masih banyak lagi hikmah dan keistimewaan di balik pujian Allah terhadapnya, “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS.At Takwir: 18), yang mungkin belum dapat kita singkap karena keterbatasn ilmu kita.

Bertemu pagi adalah sebuah keniscayaan. Tetapi mengambil manfaat dari keistimewaannya adalah sesuatu yang harus diupayakan. Jalannya hanya satu, bangun lebih pagi, Lalu mengintip apa saja kebaikan-kebaikan yang dapat kita petik di pagi itu.

Karena Suatu Pagi Bisa Merubah Hidupmu

Waktu adalah wadah pembentukan. Di sanalah garis edar hidup kita, tumbuh dan menjadi dewasa, dari lahir hingga kembali ke hadirat-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Waktu memiliki tiga makna dan dilandaskan pada tiga derajat. Di antara makna-makna itu adalah saat mampu dan benar, karena melihat cahaya karunia yang ditarik kebersihan harapan, atau karena ada perlindungan yang ditarik kebenaran ketakutan, atau karena kobaran rindu yang ditarik cinta.” (Madarijus Salikin)

Satu di antara bagian-bagian waktu yang menghimpun makna-makna itu, yang memiliki urgensi pembentukan adalah pagi. Ia adalah simbol permulaan dan perubahan, kepada dan terhadap apa saja, termasukbabak-babak kehidupan kita. Kisah seorang wanita Nashrani yang bersahabat dan hidup serumah dengan seorang wanita Muslimah, adalah contoh perubahan yang dibawa oleh pagi.

Sahabat Muslimah si wanita tadi, sering terbangun di penghujung malam untuk melaksanakan qiyamulail, bermunajat dan berdoa kepada Allah swt. Terkadang, selesai berdoa ia teruskan lagi dengan tilawah Al Qur’an, hingga menjelang shalat subuh.

Awalnya, si wanita nashrani sering merasa terganggu dengan suara temannya yang kerap menangis tersedu-sedu dalam shalat malamnya, atau saat melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, yang begitu asing di telingannya. Suara “berisik” itulah yang sering memangkas jatah tidurnya.

Tetapi lama kelamaan, dalam diamnya ia mulai menyimpan rasa cemburu dan kagum kepada sahabatnya itu. Betapa tidak, sebagai seorang yang beragama ia merasa tidak begitu akrab dengan tuhannya. Jauh berbeda dengan sahabatnya yang selalu rajin menyapa Sang Penciptanya di kala orang-orang masih terlelap dalam tidurnya. Ia kagum karena sahabatnya begitu mudah terbangun di waktu pagi dan menyelesaikan sebagian tugas-tugasnya, sementara dia sendiri terkadang baru beranjak dari kasur empuknya saat matahari sudah meninggi.

Di sinilah awal mula hidayah itu datang, di kegelapan subuh, di tengah dinginnya udara pagi, rasa cemburunya menyeruak. Si wanita nashrani mulai ntertarik, menanti lantunan kalimat-kalimat “asing” dari mulut sahabatnya. Karena seperti ada ketenteraman batin yang datang bersamanya.

Suatu ketika, sahabatnya sedang tidak di rumah. Saat itu rasa penasarannya menggodanya untuk mengetahui isi Al Qur’an. Ia lalu memberanikan diri membuka lembaran-lembaran Al Qur’an, bacaan favorit sahabanya itu. Ketika ia buka, yang tampak hanya garis-garis hitam yang entah apa arti dan maksudnya. Tetapi ketika ia membaca terjemahannya, di situlah ia menemukan petunjuk yang luar biasa. Ayat-ayat dalam surat Al Ikhlas seakan menghentak batinnya untuk mengakui kebenaran konsep ketuhanan yang diajarkan kitab di tangannya.

Di suatu pagi berikutnya, di sahabatnya baru saja usai menjalankan shalat Shubuhnya, si wanita nashrani datang menghampiri. Ia duduk bersimpuh di dekat sahabatnya dan mendekapnya, seraya memohon agar dituntun untuk mengucapkan syahadat. Begitu cepat dan mudah hidayah itu datang. Suasana menjelang pagi telah mengubah semuanya.

Karena Kehidupan Pagi Adalah Ciri Orang-Orang Shalih

Tidur, bagi manusia adalah sifat kesempurnaan. Orang yang tak bisa tidur berarti memiliki kekurangan; kesehatan fisiknya sedang terganggu. Tetapi memperpanjang jatah tidur juga bukan ciri manusia yang baik. Tidur berlama-lama akan membuat badan terasa berat, membuang waktu secara percuma, membentuk jiwa yang lalai dan malas, serta banyak hal negatif lainnya. Karena itu, hidup ini perlu keseimbangan.

Manusia terbaik di bumi ini adalah mereka yang beriman kepada Allah. Mereka yang mendisiplinkan waktunya,yang mengatur keseimbangan antar hak dan kewajibannya. Ketika malam tiba, mereka bersegera tidur supaya di penghujung malam bisa terbangun dan bercengkerama dengan keindahan dan kedamaian pagi. Muawiyah bin Qurrah menirukan nasehat bapaknya ketika mereka sekeluarga telah melaksanakan shalat Isya, “Wahai anak-anakku, tidurlah sekarang. Semoga Allah menganugerahkan kepada kalian kebaikan malam ini.”

Ada banyak hal yang dilakukan orang-orang shalih di kala pagi, setelah mereka mendirikan shalat malam, mereka duduk berdoa dan bermunajat “menagih” janji-janji Allah, membaca dan mentadabur Al Qur’an. Fudhail bin Iyad pernah menceritakan,”Aku menjumpai suatu kaum yang malu kepada Allah di kegelapan malam karena kelamaan tidur. Pasalnya, mereka terbiasa hanya rebahan dan jika terjaga mereka berkata,”Ini bukanlah untukmu, maka bangkitlah untuk mengambil bagianmu di akhirat.”

Tidur bagi mereka hanyalah sisa waktu yang sangat dibatasi dan melaksanakan amal-amal ketaatan di pagi hari adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kehilangan pagi bagi mereka adalah kerugian yang bisa memunculkan banyak sekali dugaan keburukan. Sampai-sampai Ibnu Umar mengatakan, “Jika kami kehilangan seseorang pada shalat shubuh dan Isya (di masjid), kami mempunyai prasangka buruk kepadanya.”

Karena Ilmu-Ilmu Allah Turun Pada Waktu Pagi

Setiap fase waktu, antara siang dan malam yang telah dibentangkan oleh Allah swt untuk kita, memiliki kualifikasi dan keistimewaan yang tak tergantikan dengan fase-fase waktu yang lain. Antara mencari nafkah, ibadah, belajar, dan berisitirahat semua telah diatur oleh Allah. Hanya saja, kita kadang tidak memahami hikmah di balik ketentuan-ketentuan itu, atau bahkan sengaja tidak mempedulikannya dengan bermacam alasan, sehingga sering kali kita melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan nhasil yang maksimal, yang tentu saja hal itu akan merugikan diri kita sendiri.

Rasulullah saw yang selalu mengajak umatnya untuk bangun sebelum shubuh, melaksanakan shalat sunnah dan shalat Shubuh berjamaah, bukan tanpa alasan. Di sana, dibalik heningnya suasana pagi  ada banyak hikmah yang mendalam. Di antaranya, berlimpahnya pahala dari Allah, kesegaran udara Shubuh yang menyehatkan fisik, konsentrasi pikiran dan daya ingat yang kuat untuk menyambut datangnya hikmah dan ilmu-ilmu Allah swt.

Konsentrasi dan kemampuan memahami di waktu shubuh yang tenang, adalah suasana yang tidak pernah dilewatkan oleh para ulama. Mereka mendalami suatu ilmu, menggali dan merenungi hikmah dari banyak peristiwa yang mereka saksikan, sehingga benar-benar paham dan menguasai banyak ilmu. Ibnu Jarir Ath Thabari, misalnya, seperti diceritakan Al Khatib Al Baghdadi, selama  empat puluh tahun dari usianya yang terakhir, ia mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari.

Yang istimewa dari prestasi Ibnu Jarir ini, meskipun ia menulis artikelnya selepas zhuhur hingga waktu ashar tiba. Tetapi murajaahnya akan ilmu serta ide-ide yang akan ia tuangkan dalam tulisannya, ia dapatkan di awal-awal Shubuh, setelah menunaikan qiyamullail.

Salah seorang murid Ibnu Jarir, Abu Bakar Asy Syajari mengisahkan, “Setelah selesai sarapan pagi, Ibnu Jarir Ath Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun, ia mengerjakan shalat zhuhur, lalu menulis hingga waktu Ashar. Kemudian keluar untuk shalat Ashar. Selanjutnya ia duduk di majelis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu Maghrib. Setelah itu mengajar fiqh serta pelajaran-pelajaran lain sampai masuk shalat Isya. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat. Tengah malam ia bangun shalat malam dan medalami ilmu-ilmunya.”

Kemuliaan pagi serta mudahnya akal menyerap ilmu di saat itu, pernah pula diingatkan Lukman Al Hakim kepada putranya, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.” (Tafsir Al Qurthubi)

Karena Pagi Tidak Berubah, Yang Berubah Adalah Kita

Pagi seperti tak pernah bosan menyapa kita. Kala kita sakit, bersedih, berduka, atau sedang bersuka cita, pagi selalu datang dengan  sejuta optimisme dan harapan.

Hingga sekarang mungkin tak terhitung lagi, sudah berapa kali pagi menyambangi kita. Suasananya tak pernah berubah, pagi yang dulu tetap pagi yang sekarang, penuh dengan kesejukan dan kesegaran. Tetapi itulah karakter waktu. Ia tidak akan pernah berubah kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain, atau masa yang telah ditentukan telah tiba, yang berarti keberlangsungan dunia ini akan segera berakhir.

Tanpa kita sadari, ternyata pagi telah mengantarkan kita pada usia yang sekarang. Usia yang barangkali tidak lagi bisa dikatakan muda, karena kekuatan fisik yang dulu kita banggakan kini mulai melemah, ketampanan dan kecantikan mulai memudar, ketajaman panfangan mata mulai berkurang, rambut juga mungkin sudah mulai berganti warna, dan anak-anak di sekitar kita sudah semakin besar. Itu semua menjadi pertanda bahwa kita semakin tua, meskipun belum tentu dewasa.

Waktu memang terkadang menggilas kita. Tetapi, tentu karena ulah kita sendiri yang sering lupa, sering hilang kesadaran, bahwa kita harus berubah;  lebih dewasa, lebih berilmu, lebih beriman, dan lebih dekat kepada Allah swt karena kualitas ibadah yang terus meningkat. Karena itu Rasulullah mengingatkan kita, “Jangan sekali-kali mencela waktu, karena sesungguhnya Akulah waktu itu.” (HR.Ahmad)

Seorang salafushalih memberi nasihat, “Beramallah untuk diri kalian di malam yang gelap gulita ini. Karena sesungguhnya orang yang tertipu adalah orang yang tertipu oleh kebaikan siang dan malam. Orang yang terhalangi adalah orang yang tidak mampu memperoleh kebaikan yang ada pada keduanya. Ia merupakan jalan kebaikan bagi kaum Muslimin untuk mentaati Rabbnya, dan bencana bagi mereka yang melalaikan dirinya. Maka, hidupkanlah diri kalian dengan selalu mengingat Allah.”

Tidak ada jalan lain memang, bahwa kita harus berani melihat pagi. Karena bisa jadi pagi ini adalah pagi yang terakhir untuk kita, sebelum sempat memperbaiki diri.

Karena Pagi Adalah Sumber Keberkahan

Kesegaran Shubuh tidak hanya menemani kekhusyukan ibadah kita, atau mengiringi terkabulnya untaian doa dan munajat kita, atau mengasah ketajaman akal dan kemampuan berpikir kita. Tetapi kesegaran shubuh juga membuka pintu-pintu rezeki yang telah Allah hamparkan di hari itu. Karena itu, Islam mengajak kita untuk berlomba menyambut dan mendapatkan rezeki Allah dengan bersegera bangun pagi.

Fatimah ra. putri Rasulullah saw pernah bercerita, “Ayahku lewat di sampingku, sedang aku masih berbaring di waktu pagi. Lalu beliau menggerakkan badanku dengan kakinya dan berkata, “Wahai anakku, bangunlah, saksikan rezeki Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai karena Allah membagikan rezeki kepada hamba-Nya, antara terbit fajar dan terbit matahari.” (HR.Ahmad dan Baihaqi)

Ini pula yang dilakukan Nabi Daud as. Ia membagi waktu hidupnya sehari untuk urusan dunia dan sehari lagi untuk akhiratnya, dengan berpuasa dan beribadah. Ketika harus memenuhi urusan dunianya, pagi-pagi sekali Nabi Daud sudah bangun, ia bersiap lalu berangkat mencari nafkah. Rasulullah saw memujinya dengan sabdanya, “Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan yang lebih baik dari pada hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya Nabi Daud adalah makan dari hasil usahanya sendiri.”

Keberkahan Shubuh bukan hanya pada rezeki. Rasulullah saw jika ingin mengirimkan tentaranya ke medan perang, dilepaskannya di waktu pagi. Ketika berhijrah ke Madinahpun beliau berangkat pada waktu pagi. Shakar, salah seorang sahabat beliau yang meriwayatkan hadits di atas, adalah seorang saudagar.  Jika ia ingin mengirimkan barang-barang dagangannya, selalu ia lakukan di pagi hari, dan itulah puncaknya Allah memberikan banyak kekayaan kepadanya.

Aisyah ra berkata, “Rasulullah bersabda, “Berpagi-pagilah mencari rezeki, karena sesungguhnya berpagi-pagi itu membawa berkah dan menghasilkan kemenangan.”

Kunci keberkahan dimulai dari membiasakan diri mendirikan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Dan bisa dibayangkan, jika setiap Muslim di negeri ini melakukan shalat Shubuh berjamaah di masjid dan mereka rajin melakukan dzikir, maka keberkahan akan muncul di mana-mana. Karena itu, cariilah keberkahan dan kemenangan di waktu pagi, dan hindarilah tidur di saat itu, karena sebenarnya kebiasaan itu hanya akan menjauhkan kita dari rezeki Allah swt.@

Sumber : Tarbawi-Edisi 103  3 Maret 2005

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

dalil-tentang-berbakti-kepada-orang-tua-140x100
Yahoo.image

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Salah satu jalan untuk menggapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla adalah berbuat baik pada kedua orang tua (birrul walidain). Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Berbakti atau berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perbuatan yang sudah sepantasnya untuk dilakukan oleh setiap umat muslim, karena hal ini merupakan salah satu dari tiga hal yang sangat dicintai dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Yaitu pertama, mendirikan shalat fardhu lima waktu pada awal waktu, kedua, Birrul walidain, dan ketiga, Jihad fi sabilillah. Jelasnya seperti dalam hadits berikut ini.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata.

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّالْوَالِدَيْنِ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

Seperti tersurat dalam surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24)

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa’ ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil , dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (An-Nisaa’ : 36)

Berbakti kepada kedua orang tua tidak dibatasi saat mereka masih hidup, setelah mereka meninggal pun kita masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepadanya, seperti dijelaskan dalam hadits berikut ini.

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi r.a., ia berkata: Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba datang seorang laki-laki dari suku Bani Salamah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada sesuatu yang dapat aku lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya wafat?” Beliau bersabda, “Ya, yaitu mendo’akan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, menunaikan janji keduanya setelah mereka tiada, menyambung persaudaraan yang tidak disambung kecuali karena keduanya, dan memuliakan kawan keduanya.” (HR.Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya)

Berikut ada 3 cara berbakti kepada orang tua yang masih hidup dan sudah meninggal, berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal yaitu:

Mendo’akannya

Mendo’akan agar mereka diampuni dosa-dosaNya, dirahmati, diberi kemuliaan di sisi-Nya, dan dilapangkan di alam kuburnya. Do’a ini bisa kita panjatkan kapan dan di mana saja kita mau.ini bisa kita doakan kapan saja,terlebih selesai shalat fardhu,

Mendo’akan orang tua yang telah wafat tidak dibatasi dengan ziarah kubur, karena tujuan utama ziarah kubur adalah untuk mengingatkan akhirat (mati). Nabi saw bersabda: fazuuruha fainnaha tudzakkirul aakhirah (ziarahi kubur, karena dapat mengingatkan kepada akhirat) (HR. Tirmidzi) Tapi sayang, banyak yang beranggapan tujuan ziarah kubur untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal.

Pernyataan di atas tidak bermaksud menafikan do’a kepada almarhum saat ziarah, kita tegaskan bahwa berdo’a untuk orang tua yang telah wafat bukan saat ziarah, tapi kapan dan di mana pun kita dianjurkan untuk selalu mendo’akannya. Berdo’a bisa menggunakan bahasa arab (dikutip dari Qur’an atau hadits) ataupun dengan bahasa apa saja yang bisa kita fahami.
Kemudian hal yang perlu diingat, apabila orang tua yang telah wafat itu berbeda agama (non-muslim), kita dilarang mendo’akannya sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut,

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam.” (At-Taubah 9: 113).

Tapi kalau orang tua yang berbeda agama itu masih hidup, kita diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk mendo’akannya agar diberi hidayah oleh Allah swt. (masuk Islam). Rasulullah saw. pernah mendo’akan agar pamannya, Abu Thalib masuk Islam, ini bukti bahwa kita boleh mendo’akan non muslim agar masuk Islam.

Menunaikan janjinya

Kemudian apabila kita pernah mendengar orang tua mempunyai janji atau niat untuk melakukan suatu kebajikan, namun belum terlaksana karena maut menjemputnya, kita sebagai anaknya dianjurkan untuk merealisasikan niat baiknya itu. Misalnya, mereka pernah berniat mendirikan panti asuhan, sebelum niat baik ini terwujud, Allah swt. memanggilnya, sebagai wujud bakti anak terhadap orang tua adalah merealisasikan niat baiknya tersebut.

Silaturrahim

Kemudian Sebagai makhluk sosial,kedua orang tua kita tentu mempunyai Sodara, sahabat, wujud ber bakti kepada mereka yaitu menyambungkan silaturahmi dengan orang-orang yang biasa bersilaturahmi dengannya. Misalnya, saat hidup orang tua suka bersilaturahmi kepada pak Ridwan, bila orang tua kita telah meninggal, kitalah yang menggantikannya berkunjung ke rumah pak Ridwan.

Demikian uraian singkat tentang birrul walidain, wallahu a’lam bishshawab, semoga bermanfaat.

*RAHASIA BESAR SEORANG AYAH YANG TIDAK DIKETAHUI SEORANG ANAK, BAHKAN SETIAP ANAK DI DUNIA*

Rahasia besar seorang ayah. Mengapa disebut rahasia, karena kenyataan ini memang benar-benar nyata ada, akan tetapi seringkali mungkin tidak diketahui atau tidak disadari oleh setiap orang, tetapi pasti dan terutama oleh anak-anak kita karena sifatnya hanya tersirat. Karena perhatian, kepedulian, cinta dan kasih sayang seorang ayah pada anak-anaknya biasanya tidak nampak, namun disalurkan melalui ibunya dan jarang sekali ditunjukkan langsung oleh ayah kepada anak. Mengapa ini dikatakan besar, karena kehadiran seorang ayah mempunyai pengaruh besar pada kepribadian anak-anak di dalam satu keluarga, tentunya sama sekali tanpa meremehkan peranan dan pengaruh seorang ibu. Postingan di bawah ini saya reblog dari blog teman karena menurut saya tulisan ini bagus dan mempunyai nilai edukatif, dan saya turut menyebarkannya semoga bermanfaat dan selamat mengikuti kisah berikut ini.

Ummu Yasir|Syahrul|Hasna|Khansa|Tazkiya

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh…
Bismillahirrahmanirrahim

INI ADALAH SEPENGGAL KISAH. TENTANG AYAH. KUNCI SURGA YANG KERAP KITA…LUPA

RAHASIA BESAR SEORANG AYAH YANG TIDAK DIKETAHUI SEORANG ANAK, BAHKAN SETIAP ANAK DI DUNIA

Mungkin ibuku lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibuku lah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku Sudah diberitahu, Jangan minum es!

Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis di depan ibu.
Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan…

Lihat pos aslinya 471 kata lagi

Benefits Of Prayer Movement

th
Yahoo image

Bismillahir Rahmanir Rahim !

Thank God for all the outpouring of His grace to this point where I can write again an article in English. Now I would like to offer you a rarely but very useful infomation about the benefits of the prayer movement for you physically as well as mentally. Surely among comrades still do not understand why should such prayer movement, which started from takbiratul ikhram, bowing, i’tidal, prostration, sit and greetings. The movement is not a movement that is arbitrary, but behind it all there is meaning and benefits are so great. Here are the contents .

The five daily prayers is one of the obligations for Muslims. Shalat turned out to not only be a major practice in the hereafter, but it turns out the movements of prayer is the most proportional movement to the anatomy of the human body. Even from the medical side, the prayer is the storehouse of drugs of various diseases.

During this prayer is performed five times daily by Muslims, have made an investment in health for those who perform the prayers. Prayer movement with regards to the meaning is amazingly good for physical health, mental and even spiritual and emotional balance. But unfortunately only a few of Muslims who understand it.

Here are some of the benefits of prayer movement for human health:

1. Prayer intentions

On meaningful prayer intentions to leave the decision to the heart to pray the totality of our humanity which is always physical and spiritual worship to Allah.

2. Takbiratul ihram.

Posture: upright, raised both arms parallel to the ear, and then folded in front of the abdomen or lower chest. By voicing takbir or Allahu Akbar, then it means that we leave and resigned on all matters that we have done and ask for protection and love of Allah

Benefits: This movement is blood flow, lymph and arm muscle strength. The position of the heart below the brain allows blood to flow smoothly to all part of the  body. When held up both hands, stretching the shoulder muscles so that the flow of oxygen-rich blood to be smooth. Then the hands folded in front of the abdomen or lower chest. This avoids the attitude of various joint problems, especially in the upper body. In takbiratul ihram, we stand upright position of the body, raising both hands parallel to the ear, and then folded the front area of the abdomen or lower chest. This position is beneficial for blood circulation, and to train the arm muscle strength. The position of the heart that is under the brain would allow blood to flow smoothly leads into the whole body. At the time raised both hands, shoulder muscles are stretched so that the flow of blood containing rich-oxygen will move smoothly. Then on both hands brought together closer to the front or chest area .This movement is to avoid of all kinds of joint problems, especially in the upper body.

3. Bow.

Posture: The perfect bow marked a straight spine so when placed in a glass of water on the back will not be spilled. Head position with the spine straight. In this position, the man representing the worship of angels who always worship God in this position by consistently and animals always stand in their four feet below them. Bowing interpret majesty of the Creator with the whole universe that always hang ourselves as human beings is creature the weak and did not have anything to mention “Subhana robbial ‘adzim” .. for always trying to instill Godly values in our hearts and when we looked up of bowing then we will obtain the grace of God by repeating Allah the great.

Benefits: This posture is to maintain the perfection of the position and function of the spine (vertebrae corpus) as a buffer body and nerve centers. Heart position parallel to the brain, the maximal blood flow in the middle of the body. At the position of bowing where that perfect bow marked the spine is straight so that when placed on the back of a glass of water then the water will not spill. Then the position of the head should be straight as straight as the spine. Bowing movement is beneficial for keeping the shape perfect position and function of the spine (vertebrae corpus) as a way to support the body and central nervous system. The position will align with the heart of the brain, so that blood can flow optimally in the middle of the body. Then the hands are resting on the knee will serve to relax the muscles of the shoulder to bottom, except that the bow is bladder training to prevent prostate disorders. Hand resting on the knee function of relaxation for the muscles shoulder to bottom. In addition, the bow is bladder training to prevent disruption of the prostate.

4. I’tidal

Posture: Wake up from the bow, the body back upright after, raised both hands as high as the ears.

Benefits: Itidal is a variation of posture after bowing and before prostration. The motion stood hunched standing bow down is exercise good digestion. Digestive organs in the abdomen experienced massage and relaxation alternately. In effect, the digestion becomes more smoothly. In i’tidal position or get up from bowing, which the body re-enforced, then raised both hands as high as the ear helpful to train our digestive tract where the organs contained in the abdomen will experience a massage and relaxation alternately and affect digestion.

5. Prostration

Posture: Prostration by putting both hands, knees, toes, and forehead on the floor.

Benefits: On the motion of prostration in which we will prostrate by putting both forehead, forehands, knees and ujung kaki on the floor. Prostration movement is beneficial to drain the lymph and pumping leads to the armpits and neck. Then for the position of the heart that are above the brain causing the brain to be fed oxygen-rich blood. Blood flow to the brain will affect a person’s thinking. Therefore, do prostrations with tuma’ninah, do not be in a hurry so that blood can fulfill all the spaces in the brain. In prostration also would avoid disruption of hemorrhoids. Especially for women, the bow and prostrate have extraordinary benefits for fertility and health of the female organs
lymph flow pumped into the neck and armpits. The position of the heart over the brain causes oxygen-rich blood to the brain flowing or circulating maximum. This flow effect on a person’s thinking. Therefore, do prostrations with tuma’ninah not to run – so that the blood rushed insufficient capacity in the brain. This posture is also avoiding disruption of hemorrhoids. Especially for women, both bowing and prostrating to have tremendous benefits for fertility and health of the female organs.

6. Sit

Posture: There are two kinds of sitting, namely iftirosy (tahiyyat early) and tawarruk (tahiyyat end). The difference lies in the position of the feet.

Benefits: When iftirosy, we rely on the groin that are connected with nerve Ischiadius. This position to avoid pain in the groin that often causes the sufferer unable to walk. Sitting tawarruk very good for men because the heel to suppress your bladder (urethra), male sex glands (prostate) and channel vas deferens. If done. correctly, posture IRFI prevent impotence. Variations in the position of the feet on iftirosy and tawarruk helped cause the entire limb muscles stretched and then relaxed again. Harmonic motion and pressure is keeping. Flexibility and strength organs of our movement in a sitting position consists of two kinds, namely begining tahiyat and ending tahiyat. The difference in the position of her feet. This movement which time iftrosy or tahiyya beginning where we rely diarea groin linking with nerve nerve Ischiadius. Tahiyyat initial position will also avoid pain in the groin that often causes the sufferer unable to walk. Then in a sitting position or tahiyyat end tawarruk have excellent benefits for men because the heel will suppress your bladder (urethra), male sex glands (prostataa) and channel vas deferens. If it can be done properly then this position may prevent impotence. The soles position of the feet on iffirosy and tawarruk will cause the entire limb muscles will also be stretched and relaxed again. Harmonious motion and pressure is what will keep the strength and elasticity of the organs of our body movement.

7. Regards

Movement: Rotate the head to the right and left to the fullest.

Benefits: Muscles relaxation around the neck and head improve blood flow in the head. This movement to prevent headaches and keep the facial skin firmness. Continuous worship manner is not only nourish the faith, but women beautify themselves outside and inside. In regards movement where we rotate the head pointing to the right and left maximally useful to relax the muscles in the neck and head area will optimize blood flow in the head. This movement can also prevent the occurrence of headaches and will be maintaining firmness on the skin.

If you perform it correctly and slowly and also sincere and patient, you will get the benefits of the prayer movement,  may God bless you.

This is the prayer times you can use to do the prayer five times daily.

PERCIKAN :

Shalat dapat mencegah kepikunan, karena gerakannya meningkatkan brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Yakni sejenis protein yang berfungsi menguatkan neuron. Otak yang mengandung banyak BDNF mampu menampung lebih banyak informasi. Bila shalat dilakukan dengan terburu-buru maka akan memperberat kerja jantung dan paru-paru. Karena itu, lakukanlah sahalat dengan tenang. Peregangan otot perut saat sujud dan rukuk memperlancar sistem pencernaan karena organ pencernaan dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian.

Sumber : Majalah Ummi No.2/XXI/April 2010/1431

Aku Menyambutmu Yaa Ramadhan

th (80)
Yahoo image

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Alhamdulillah masih bisa berjumpa lagi Ramadhan di tahun 2016. Ketika menulis artikel ini tepat pukul 03.00 wita jadi sambil menunggu menu santap sahur yang disediakan oleh istri, saya menulis artikel pendek ini untuk menyambut Ramadhan 2016, Marhaban Ya Ramadhan!

Saya sendiri dalam kondisi agak kurang fit karena terserang flu dan batuk-batuk juga sedikit demam. Badan terasa sakit pada semua sendi-sendi mulai dari pundak, punggung, pinggang, pinggul hingga lutut. Oleh karena itu pula, hari ini Senin tanggal 6 Juni 2016 saya terpaksa minta ijin untuk istirahat dari kantor, mudah-mudahan kondisi kesehatan saya bisa segera kembali pulih. Minggu-minggu ini ke depan memang cukup banyak kesibukan dengan pekerjaan di kantor, mulai merealisasikan semua rencana dan program yang ada, melakukan evaluasi pelaksanaannya dan juga membuat laporan pertanggungjawaban.

380124_354x50Itulah salah satu bentuk kesibukan duniawi kita yang tanpa terasa telah menghabiskan sekian banyak waktu dan tenaga kita. Kembali kita pada pembicaraan tentang Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan yang kehadirannya sangat dinanti-nantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Marhaban Ya Ramadhan. Ramadhan sudah  tiba menemui kita. Selamat datang wahai Ramadhan, bulan yang penuh berkah, maghfirah dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya Allah menurunkan kitab mulia, petunjuk dan cahaya. Di dalamnya pula Allah memberikan kemenangan besar bagi hamba-Nya pada saat perang Badar.

Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa jika dibanding dengan bulan-bulan yang lain. Sungguh merupakan nikmat yang sangat besar jika seorang muslim dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Karena itu, memakmurkannya dengan berbagai amal shaleh demi mencapai ridha Allah, adalah sikap yang tepat sesuai tuntunan syariat.

Namun sebaliknya, sungguh sangatlah merugi orang-orang yang tidak bisa meraih keutamaan-keutamaan tersebut dan menyamakan bulan Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain. Marilah kita berlomba-lomba untuk mendapatkan semua keutamaan tersebut agar kita mendapatkan ridha Allah subhanahu wata’ala.

Kini Ramadhan telah tiba kembali untuk menemui kita. Oleh karenanya, hal-hal yang sudah harus dipersiapkan untuk menyambut Ramadhan, agar Ramadhan tahun ini lebih bermakna dan kita bisa meraih kemuliaan Ramadhan adalah :

Pertama, Persiapan Rohani: Adalah suatu hal yang sangat penting untuk mengosongkan hati dan jiwa kita dari hal-hal yang mengotorinya, seperti rasa iri, dengki, hasad, atau rasa dendam yang mungkin masih tersimpan dalam hati kita terhadap sesorang. Jika rasa dendam itu memang masih ada sebaiknya kita meminta maaf dengan ikhlas padanya, mudah-mudahan dan insyaAllah jika dia orang yang beriman, maka pastilah dia akan menerima permintaan maaf kita dengan ikhlas pula. “Dan beruntunglah orang uang mensucikan jiwanya” (Asy-Syams :9)

Kedua, Pemahaman tentang Raamadhan : Segalah sesuatu pasti memerlukan pemahaman yang konperehensif tentang hal tersebut agar kita dapat mengaplikasikannya dengan lebih baik dan maksimal.

Begitu pula dengan ibadah di bulan Ramadhan, akan lebih maksimal dan meresap apabila kita mengerti dan memahami ilmu dan manfaat yang berkaitan dengan bulan Ramadhan yang dapat membekali kita untuk menjalani ibadah di bulan ini, terutama pemahaman tentang amalan-amalan di bulan Rammadha seperti hikmah puasa Rammadha, Tadarusan atau membaca Al ur’an, Shalat Taraweh, Lailatul Qodar, serta I’tikaf di Masjid.

Ketiga, Persiapan Fisik. Fisik yang kuat dan prima adalah prasyarat utama dalam melaksanakan setiap pekerjaan berat. Puasa identik dengan ibadah yang memerlukan fisik yang prima.

Orang yang fisiknya kuat akan lancar dalam menjalankan puasa.

Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan fisik kita dalam menjalankan ibadah Ramadhan kita, agar bisa menjalankannya  dengan lancar hingga selesai. “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR.Muslim, Baihaki, Ibnu Majah).

Keempat, Persiapan Harta : Persiapan harta yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan keperluan secukupnya untuk ibadah di bulan Ramadhan, bukan persiapan harta yang banyak dan berlebihan dalam bentuk membeli makanan yang banyak,

tetapi hanya untuk menambah kuantitas dan kualitas amal ibadah ramadhan kita misalnya infak/shadaqah, zakat mal dan zakat fitrah serta menyediakan makanan berbuka puasa untuk orang lain.

Kelima, Perbaharui Taubat : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.”

Taubat menunjukkan tanda totalitas seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan.

Keutamaan Berpuasa 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah SAW pernah bersabda,” Puasa adalah perisai (dari api neraka). Maka orang yang berpuasa janganlah berhubungan badan dengan istrinya atau berbuat jahil, dan apabila seseorang memaki atau mengajak berkelahi, katakan kepadanya,’aku sedang berpuasa’. Nabi Muhammad Saw. menambahkan,”demi Dia yang menggenggam jiwaku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi misk. (dan inilah perkataan Allah terhadap orang yang sedang berpuasa), ‘ia tidak makan dan minum dan meninggalkan nafsunya karena Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipatnya’.”

Diriwayatkan dari (Abu Hurairah r.a.) : Rasulullah SAW pernah bersabda, “ ketika Ramadhan tiba, semua gerbang surga dibuka, semua pintu neraka ditutup, semua setan dibelenggu”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda,” siapa pun yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan jahat (pada bulan Ramadhan) Allah tidak membutuhkan puasanya”
“semua ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, (yang dilakukan) untuk Ku, dan Aku akan memberikan pahala untuknya”.
Ada dua kegembiraan untuk orang yang berpuasa ; pertama pada saat berbuka (ifthar) puasa, dan kedua pada saat bertemu dengan Tuhannya, pada saat itulah ia akan menemukan kegembiraan karena puasanya.

Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat, karena taubat wajib dilakukan setiap saat. Allah ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31).

Taubat perlu kita lakukan setiap saat, karena sebenarnya sadar atau tidak sadar kita melakukan perbuatan dosa itu setiap saat, baik di kala seorang diri maupun ketika bersama banyak orang, baik dosa kecil maupun dosa besar.Wallahu A’lam Bish Shawab.

380124_354x50

Demikian catatan singkat menyambut Ramadhan kali ini mudah-mudahan bermanfaat, aamien ..Marhaban Ya Ramadhan Syahrul Mubarak!

SPARK OF CONTENT :

So many virtues and opportunities for change in the presence of Allah in Ramadan, so Ramadan often figured with the Great special guest parable. Parables and privilege it not only shows its holiness compared to other months. However, it contains a more tangible understanding of the important aspects of their opportunities for human education inwardly and outwardly to improve the quality of life of spiritual and physical a long his life. Therefore, the Month of Ramadan can be referred to as Syahrut Tarbiyah or Education Month. Emphasis on Education says this is important because in this we are taught directly by Allah SWT. The study includes the actual activity of a general nature such as meals on time so that our health is maintained. Or we taught in order to set the time in our lives. When to eat, when to work, when to rest and when to worship. So, education is directly related to the realignment of our lives in all areas.

Selalu Ada Kebahagiaan Di Penghujung Kesedihan

download (15)
pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Ini merupakan kelanjutan dari kisah sedih yang keluarga saya alami atas kematian putra tercinta kami Muhammad ‘Alauddin Ramiz, yang saya tulis pada postingan sebelumnya dengan judul “Semuanya Sudah Sangat Terlambat”. Ikutilah kisah selanjutnya berikut ini.

Malam itu, ba’da shalat maghrib, kami berempat, saya bersama istri dan anak serta bibi-nya berangkat menuju rumah sakit Bio Medika Mataram. Beberapa saat sesampai di sana dan mendaftarkan, saya langsung dipanggil masuk oleh dokter, lalu sayapun masuk bersama anak. Setelah memeriksa anak saya, dokter menyuruh saya untuk mengantarkan anak keluar ke ibunya di ruang tunggu, karena ada yang mau dibicarakan hanya berdua dengan saya saja. Melihat kejadian itu, rupanya istriku dan kakaknya yang berada di ruang tunggu merasa aneh dengan gelagat yang terjadi. Mereka merasa ada yang tak beres, mengapa dokter harus berbicara berdua saja dengan suamiku, tanpa boleh didengar oleh pasien (anakku).”Ini pasti ada yang dirahasiakan”. Itu perasaan mereka pada waktu itu.

Hal ini adalah wajar, karena sebelumnya mereka memang tak menyangka kalau penyakit yang diderita anak kami (Amy) belumlah separah itu. Sayapun sebenarnya punya anggapan seperti itu sebelum diberitahu oleh dokter. Mengapa demikian?karena pada kurung waktu kurang lebih 3 minggu sebelumnya, belum nampak perubahan drastis pada kondisi fisik putra kami, (seperti yang terjadi di saat-saat terakhir kami membawanya ke dokter). Namun, karena saya sudah terlebih dahulu mengetahui hasil pemeriksaan dokter, jadi saya sudah punya sedikit kesiapan mental untuk menghadapi apapun yang terjadi.

Ketika saya selesai berbicara dengan dokter,  saya pun keluar untuk menemui mereka di ruang tunggu. Saat itu saya bingung, bagaimana saya harus menjelaskan hal ini kepada mereka, agar mereka tidak sampai sok dan juga tidak sampai didengar oleh anak kami Amy. Pasti mereka akan sok jika saya langsung memberitahukan status penyakit anakku.

Karena itu, saya coba “bersandiwara” mengajak istri ke kamar kecil sebentar, sambil ke apotik untuk membayar obat agar masalah ini tidak sampai diketahui oleh anak kami dan di sana saya bisa menjelaskan masalah ini kepada istriku. Di situlah saya memberitahukan hal itu kepada istriku, bahwa penyakit anak kami sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk bisa disembuhkan. Mendengar itu, istriku langsung berurai air matanya dan kami berdua saling berpelukan dalam kesedihan yang amat sangat.

Orang-orang yang melihat kami tidak ada yang bertanya, mungkin karena mereka tidak mengenal kami.  Karena tidak enak dengan banyak orang di tempat itu (toilet), kami pun kembali ke ruang tunggu sambil mengusap dan membersihkan bekas linangan air mata di wajah kami berdua. Setelah ngobrol sebentar dengan anak kami dan tantenya, lalu kamipun pulang. Dalam perjalanan pulang ke kos kakaknya tempat kami menginap selama di Mataram, kami mampir dulu di agen bis “Dunia Mas” untuk memesan tiket pulang ke Dompu lusa paginya. Waktu itu kami menginap lagi dua malam di Mataram, berhubung besok paginya kami harus menghadiri upacara wisuda kakaknya (anak saya yang pertama). Tentunya, dalam acara semacam itu, seharusnya kami semua merasa bahagia dan gembira, apalagi anak pertama kami yang diwisuda pada acara itu, lulus dengan predikat Cumlaude. Sesuatu yang tentunya, layak dibanggakan dan juga membanggakan kami kedua orang tuanya.

Akan tetapi apa yang terjadi? Suasana bahagia dan gembira yang dirasakan orang pada saat itu sama sekali tidak bisa kami rasakan. Yang kami rasakan dan pikirkan hanyalah nasib si bungsu yang telah divonis oleh dokter. Yang umurnya hanya tinggal tiga bulan lagi hidup bersama dengan kami. Meski demikian, kami dan terutama saya masih punya keyakinan, bahwa sesungguhnya di penghujung kesedihan itu akan selalu ada kebahagiaan. Karena sesuai dengan janji Allah yang saya yakini, bahwa kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Kita harus terus berusaha apa pun dan bagaimanapun kondisinya. Itulah kurang lebihnya, yang saya rasakan dan yakini dalam merawat anak kami sepulang dari Mataram. Kurang lebih satu setengah bulan setelah kami kembali dari Rumah Sakit Bio Medika Mataram dan merawatnya, si bungsu anak kami tercinta meninggal dunia. Hal ini berarti lebih cepat dari perkiraan dokter pada waktu itu, yaitu kurang lebih 3 bulan menurut vonis dokter.

Meskipun kami sekeluarga telah menemani dan merawatnya dengan segala usaha pengobatan alternatif yang ada di daerah kami, namun tetaplah Allah Swt yang menentukan. Pada hari itu, almarhum terakhir memberi tahu ibunya bahwa ia pengen istirahat dulu (tidur). Ibunya yang selalu setia menemani disampingnya mengiayakan. Iapun tidur, dan mamanya seperti biasa selalu standby di samping anaknya. Saya sendiri, pada hari itu kebetulan menyempatkan diri ke kantor karena sudah cukup lama tidak masuk kantor secara rutin selama menjaga dan merawat dia di rumah, dan pihak kantorpun memberikan dispensasi untuk itu. Pada waktu itu, sekitar jam 11.00 siang, saya pamit pulang sama teman-teman di kantor, karena ada perasaan tidak nyaman dalam hati, seperti ada yang “menyuruh” untuk segera pulang. Setiba di rumah, saya langsung ke kamar untuk mengecek keadaan, ternyata benar ia sedang tidur. Mamanya bilang, bahwa ia minta diri untuk istirahat tidur.

Mendengar itu sayapun ke belakang dan berwudhu’ untuk shalat sunnat dhuha. Selesai shalat sayapun langsung kembali melihat keadaannya. Apa yang terjadi, ternyata anak kami dalam sakratul maut. Dan saya pun segera membimbing ruhnya dengan kalimat Laa ilaaha illallaah, dan akhirnya iapun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Innaa lillaahi wa innaa ilaihiraaji’uun. Ia telah berpulang ke rahmatullah dengan damai. Suara tangisan dari semua anggota keuarga-pun segera bergema mengantarkan kepergian anak kami untuk selamanya.

Dia telah pergi meninggalkan kami. Kami semua dalam keadaan duka dan kesedihan yang amat dalam. Kami sekeluarga semuanya sangat berduka atas kehilangan ini. Namun yang paling terpukul adalah istriku. Sementara saya sendiri tidak bisa menangis secara terbuka seperti dia. Hanya bisa menangis dalam hati dan itulah yang membuat saya sedikit kurus pada saat itu.

Bagi istri, peristiwa ini betul-betul sangat membuatnya berduka hingga nyaris lupa diri. Tiada hari tanpa menangis, tanpa berurai air mata, bahkan meskipun peristiwa itu sudah berlangsung dalam kurun waktu bulanan hingga tahunan, dia belum bisa segera rikaveri.

Hari berganti minggu dan selanjutnya berganti bulan, sang waktu terus bergulir. Hingga tiba saatnya, kami sekeluarga diberi beberapa kegembiraan (hiburan) oleh Allah Swt. Di mana putri kami yang nomor 2 lulus dari SMA dan selanjutnya dalam proses mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, ia pun lulus di IKIP Mataram.

Kemudian hiburan yang cukup besar lagi adalah bahwa putri kami yang nomor 1 yang baru saja diwisuda beberapa bulan sebelumnya dan mendapat predikat cumlaude juga dalam proses mengikuti seleksi penerimaan PNS lulus test CPNS sebagai tenaga pendidikan Kimia. Itulah beberapa kejadian yang menurut saya merupakan hikmah di balik musibah yang menimpa keluarga saya. Subhaanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallaahuakbar. Dan kutulis puisi ini untuk mengenangnya.

SPARK OF CONTENT :

Having passed all this time, our grief because of the death of my beloved son was finally relieved. There was some consolation that God has given to us. Our daughter number two who has just graduated from high school accepted at a university and our daughter number 1 has passed the test as a candidate for a civil servant or a high school chemistry teacher. So this is the entertainment given by God to us so that we are increasingly convinced that in this life, there is always happy at the end of sadness, like the phrase that I use as the title of this article.

Selalu Berdoa Setiap Kali Akan Melangkah

imageedit_29_9916784469
Pixabay.com

Hidup ini adalah perjalanan panjang. Tetapi dalam keseharian kita ada perjalan-perjalanan singkat yang memaksa kita keluar dari rumah. Hidup ini juga merupakan pertarungan-pertarungan besar. Tetapi dalam keseharian kita ada pula pertarungan-pertarungan kecil yang tidak semestinya menyita banyak energi dan perhatian, apalagi sampai mengakhiri hidup kita yang belum banyak memberikan arti buat diri kita sendiri

Oleh karean itu, perjalanan-perjalanan singkat yang mengharuskan kita keluar rumah, semestinya dihindarkan dari pertarungan-pertarungan yang tidak perlu, yang bisa jadi akan memberikan banyak kerugian. Dan agar itu bisa terwujud dalam setiap langkah kita, hal berikut mudah-mudahan bisa menjadi pengingat.

Keluar dari rumah, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan. Kalaulah bukan karena ingin menjemput kesenangan, kemudahan, atau mencari dan mengambil pembelajaran hidup, tentulah kita lebih memilih untuk tinggal di rumah, bercengkerama bersama sana-anak dan keluarga, lebih aman dan lebih nikmat.

Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda, “Perjalanan itu bagian dari azab. Ia menghalangi seseorang dari tidurnya, dari makan dan minumnya. Apabila seseorang telah memenuhi kebutuhan dan keinginannya hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR.Bukhari)

Akan tetapi kita butuh makan, kita butuh ilmu, kita butuh bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang dan dunia luar, kita butuh wawasan dan informasi, kita buth suasana yang berbeda dengan yang kita rasakan dalam keseharian, atau karena kita butuh sesuatu yang lain dalam hidup ini, yang semuanya itu sulit untuk dipenuhi tanpa keluar rumah, maka mau tidak mau kita harus melangkahkan kaki, berjalan dan keluar meninggalkan rumah.

Untuk memenuhi kebutuhan kita yang banyak itu, kita butuh rasa aman, ketenangan dan juga keselamatan dalam setiap langkah kita. Sementara di luar sana telah menanti banyak rintangan yang siap mengacaukannya. Untuk itu, agar kita selalu mendapatkan perlindungan dari Allah, dan agar kita senantiasa dalam rasa aman dan selamat hingga kembali ke pangkuan keluarga, maka hendaklah ingatan kita tidak pernah lepas pada Allah swt, sejak kali pertama kaki kita melangkah keluar rumah, lalu menaiki kendaraan, hingga kita kembali lagi ke rumah.

Abdullah bin Umar ra mengajarkan para sahabatnya satu doa yang ia dengar dari Rasulullah ketika akan keluar rumah. Katanya, ketika Rasulullah saw telah duduk di atas untanya saat hendak melakukan perjalanan, beliau bertakbir sebanyak tiga kali, lalu membaca doa, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan, dan dari amal perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah mudahkanlah pada perjalanan kami, dan pendedkkanlah jauhnya perjalanan. Ya Allah, Engkau teman dalam perjalanan dan pemimpin bagi keluarga. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari susahnya perjalanan, buruknya pemandangan dan jeleknya kesudahan pada harta dan keluarga.”

Ketika akan pulang, kata Ibnu Umar pula, beliau membaca doa serupa dan ditambah, “Kami kembali, bertaubat, beribadah dan memuji kepada Allah.”(HR.Muslim)

Keharusan berdoa bukan hanya kepada kita yang akan keluar rumah. Akan tetapi orang-orang yang kita tinggalkan; orang tua, ibu, atau anak hendaknya selslu diminta doanya demi keselamatan kita selama dalam perjalanan hingga kita kembali ke rumah. Meski perjalanan itu tidak terlalu jauh atau mungkin perjalanan yang memang setiap hari kita lakukan.

Doa itu mungkin hanya sejemput kata, tetapi itu tetap penting. Paling tidak akan menyelamtakan kita dari pertarungan-pertarungan sia-sia yang banyak berserakan di luar rumah sana. Sebab, tidak selamnya kita mampu menguasai diri kita sendiri, sehingga kita butuh akan penguasaan Allah atas hal-hal yang tidak kita sadari, sangat kita butuhkan@

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007

SPARK OF CONTENT :

Prayer (do’a) is maybe only a little bit of  words, but it is still important. At least,it will be in saving us from the struggles in vain that many scattered outside the house there. Therefore, we always unable to control ourselves, so we need God’s mastery over the things that we do not realize, so we need. A prayer that is done properly then the petitioner will have the strength and power to change is very remarkable. A hadith says, “No one can change destiny but pray and nothing can extend the life cycle but kindness.” So every good prayer will always be granted, as narrated by Imam Ahmad in a hadith, “No Muslim can pray to God, that is where his prayers are not directed to disobedience or sin and severing the rope families, except that Allah will grant it . ” Must pray not only for us to be out of the house, but the people we leave behind such as parents, mother, or child should always requested prayer for our salvation during the journey until we return home, eventhough the trip was not too far away, or maybe a trip that is every day we do.

 

Rabbanaa Atmim Lanaa Nuurana

imageedit_32_6486245959
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

رَبَّنا أَتمِم لَنا نورَنا وَاغفِر لَنا ۖ إِنَّكَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ

“Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah dosa kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu”. Demikianlah do’a orang-orang beriman di akhirat kelak, ketika mereka berjalan di atas Shirath Almustaqiem.  Betapa pentingnya cahaya dalam gelap. Betapa berharganya secercah cahaya di tengah gulita. Betapa mahalnya memiliki pelita cahaya yang bisa menuntun kita berjalan di antara gelap yang tak menyisakan sinar sama sekali.

Di hari akhir yang gelap gulita nanti, hanya orang-orang beriman yang memiliki cahaya. Yang dengan sinar cahaya itu, mereka sangat tertolong untuk meniti perjalanan melintasi ash shiraat (jembatan). Itulah salah satu dari dua cahaya yang disebutkan Sayyid Quthub dalam kitab Fii Dzilaali Al Qur’aan. 

Ia menyebutkan dua kategori cahaya, pertama, adalah nuur hissy atau cahaya materil berupa cahaya Allah swt yang menyinari semua alam semesta. Tanpa Nuur Allah, maka alam semesta ini gelap gulita dan tak ada yang dapat dilihat.

Kedua, adalah nuur ma’nawi atau cahaya immateril. “Ia adalah cahaya yang terbit dalam hati orang beriman dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw yang menyinari hati, pendengaran dan penglihatan hamba Allah yang beriman. lalu cahaya itu pula yang akan menjadi penerang seorang hamba di dunia dan akhirat.(Fii Dzilalil Qur’an, Sayyid Quthub,6/3485)

Ya. Cahaya itulah yang disinggung oleh Allah swt dalam firmanNya surat Al Hadiid ayat 12. “Yaitu pada hari ketika kalian melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan disebelah kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Betapa benderangnya secuil cahaya yang diperoleh di tengah gelapnya kiamat. Saat sinar cahaya berkilauan dan menerangi jalan orang-orang beriman, sementara di sekeliling mereka hanya kegelapan di atas kegelapan. Betapa besar rasa syukur orang-orang yang mendapatkan cahaya dan mendengar berita gembira dari Allah swt, tentang kenikmatan surga yang tak pernah bisa tergambarkan.

Ini adalah informasi tentang kondisi kaum mukminin yang shadiq di hari kiamat. Bahwa amal-amal merekalah yang menyebabkan mereka memiliki cahaya, yang memandu mereka berjalan di tengah gelapnya hari itu. Dalam sebuah atsar, Abdullah bin Mas’ud ra pernah mengatakan, “Sebatas amal-amal yang mereka kerjakan, mereka  meliwati ash shiraat (jembatan). 

Adh Dhahak mengatakan, “Tak seorangpun yang diberikan cahaya di hari kiamat. Jika mereka telah tiba di ash shirat, cahaya untuk orang munafiqin dimatikan. Lalu ketika kondisi mereka terlihat oleh orang-orang, mereka berharap agar cahaya mereka  tidak dimatikan sebagaimana cahaya orang-orang munafiqin itu. Mereka lalu berucap, “Rabbana atmim lanaa nuuranaa” (ya Allah, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami)

Perhatikanlah bagaimana bunyi firman Allah swt yang menceritakan situasi tersebut. “Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama denganya, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim :8)

Orang-orang munafiq, cahaya yang mereka miliki mati saat mereka berada di ash shiraat. Berkata Abul Qashim Ath Thabrani, dari ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda…”Ketika sampai di ash shiraat, Allah memberikan setiap orang mukmin cahaya dan setiap orang munafiq cahaya.

Tapi ketika mereka berada di tengah-tengah ash shiraat, Allah mematikan cahaya orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sehingga mereka mengatakan kepada orang-orang mukmin, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Lalu orang-orang beriman mengatakan, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.” (lihat surat Al Hadiid ayat 13)

Saudaraku, tergambarkah dalam benak kita betapa kesedihan dan hancurnya orang-orang yang tak mendapatkan cahaya ketika itu? Bagaimana dahsyatnya rasa takut dan kengerian mereka orang-orang yang cahayanya dimatikan oleh Allah di tengah gelap gulitanya ash shiraat itu?

Saudaraku,  cahaya orang mukmin adalah salah satu di antara cara atau tanda bagi Rasulullah saw untuk mengenal umatnya. Berkata ibnu Abi Hatim, “Smoga Allah merahmati Abdurrahman bin Jabir. Dia mendengar Abu Darda dan Abu Dzar memberitakan dari Rasulullah saw, “Aku orang pertama yang diijinkan untuk bersujud di hari kiamat. Dan orang pertama yang dijinkan mengangkat kepalanya. lalu aku melihat siapa yang ada dihadapanku, yang di belakangku, yang ada disebelah kananku, yang berada di sisi kiriku. Aku mengenal umatku di antara sekian banyak umat manusia. “Berkatalah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, bagaimana engkau mengenal umatmu di antara sekian banyak umat manusia dari zaman Nabi Nuh hingga umatmu?” Ralulullah mengatakan, “Aku mengenal mereka bersinar karena bekas air wudhu, dan hal itu tidak dialami seorangpun selain mereka. Aku juga mengenal mereka karena mereka menerima kitab mereka dari tangan kanan mereka. Aku mengenal mereka dengan tanda-tanda sujud di wajah mereka. Aku mengenal mereka dengan cahaya mereka yang ada di hadapan mereka.” (HR.Ahmad)

Saudaraku, mari tengadahkan tangan dan sama-sama berdoa, رَبَّنَا أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ “Rabbanaa atmim lanaa nuuranaa waghfir lanaa innaka ‘alaa kulli syaiinqodiir…“Ya Tuhan kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu”@

Sumber : Tarbawi Edisi Spesial-Rasa, karya, Cinta dari Muslim Berbeda Bangsa.

SPARK OF CONTENT :

This is the information about the true condition of the believers are in the Day of Judgment. Deeds that they were the cause of their own light, which leads them to walk in the dark of the day. In an atsar, Abdullah bin Mas’ud ra said, “To the extent deeds that they do, they are crossing the ash shiraat (bridge). Notice how the Almighty God tells the situation. “On the day when God does not humiliate the Prophet and the believers were together with him, being light they radiate in front and to the right of them, while they say,” Our Lord! Perfect for us our light and forgive us, verily Thou Supreme power over all things. “(QS. At Tahrim: 8) How bright the light piece acquired in the dark apocalypse. When light rays sparkle and shine the way the believers, while all around them only darkness over darkness. How thankful people get light and hear the glad tidings of Allah, about the pleasures of heaven that could never be portrayed.

Etika Memberi Nama Anak Dalam Islam

th (45)
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tulisan ini saya salin dari blog Qur’an dan Sunnah Agama Itu Nasihat, yang menurut saya sangat bermanfaat dan penting untuk diketahui oleh para orang tua muslim dalam hal pemberian nama bagi anak-anak mereka. Mengapa ini penting, karena sebuah nama bukan hanya sebagai penanda bagi orang lain untuk mengenal diri kita, akan tetapi nama juga merupakan sebuah doa dan harapan dari kedua orang tuannya agar anak tersebut bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah atau anak-anak yang baik, yang menyenangkan hati kedua orang tuanya, dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan agamanya.

Teks selengkapnya berikut ini…

Pengantar

Menanggapi e-mail dari seorang ikhwan tentang etika memberi nama dalam Islam, maka berikut kami susun makalah yang berkenaan dengan masalah yang dimaksud.Kami mengira permasalahan ini sangat penting untuk diketahui oleh kaum muslimin dikarenakan banyaknya kaum muslimin yang masih asal-asalan atau salah dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Akhirnya semoga makalah yang ringkas ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amiin.

Pentingnya Pemberian Nama

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan.  Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (tidak dikenal) oleh masyarakat.

Waktu Pemberian Nama

Telah datang sunnah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu pemberian nama, yaitu:

  1. Memberikan nama kepada anak pada saat ia lahir.
  2. Memberikan nama kepada anak pada hari ketiga setelah ia lahir.
  3. Memberikan nama kepada anak pada hari ketujuh setelah ia lahir.

Pemberian Nama Kepada Anak Adalah Hak (Kewajiban) Bapak.

Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (=tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.

Nasab Anak Kepada Bapak Bukan Kepada Ibu

Sebagaimana hak memberikan nama kepada anak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya, oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah.

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ (5) سورة الأحزاب

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5)

Oleh karena itu manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: Fulan bin fulan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 2).

Memilih Nama Terbaik Untuk Anak

Kewajiban bagi seorang bapak adalah memilih nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai dengan syar’iy dan lisan arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh telinga/pendangaran akan tetapi nama tersebut tidak sesuai dengan syari’at.

Tata Tertib Pemberian Nama Seorang Anak

  1. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Dua Suku Kata, misalAbdullah, Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimanaditerangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll. Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah.

Dan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.

  1. Disukai Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim.

Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.

  1. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi.

Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi3).

Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih.

Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya penggabungan dua nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama kunyahnya, Muhammad Abul Qasim.

Berkata Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah:”Dan yang benar adalah pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad, pent) adalah boleh. Sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang dan pelarangan menggunakan kunyahnya pada saat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan kunyah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga terlarang”4).

  1. Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.

Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:

أنهم كانوا يسمون بأسماء أنبيائهم والصالحين (رواه مسلم).

Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim).

Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang-orang sholih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.

Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak-anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.

Syarat-syarat Dalam Pemberian Nama

  1. Nama tersebut menggunakan bahasa arab.
  2. Nama tersebut dibangun dengan makna yang baik secara bahasa dan syari’at. Oleh karenanya dengan adanya syarat ini tidak boleh menggunakan nama-nama yang haram atau makruh baik dalam segi lafadz ataupun maknanya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik dari segi lafadz dan maknanya.

Nama-nama yang Diharamkan

  1. Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, missal: Abdur Rasul (=hambanya Rasul), Abdun Nabi (=hambanya Nabi) dll. Sedangkan selain nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, misal: Abdul ‘Izza (=hambanya Al-‘Izza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (=hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (=hmabanya Matahari) dll.
  2. Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dll.
  3. Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
  4. Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Ta’ala, misal: Al-Lat, Al-‘Uzza dll.
  5. Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dll.
  6. Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إن أخنع إسم عند الله رجل تسمى ملك الأملاك (رواه البخاري؛ مسلم).

Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (=rajanya diraja)” (HR. Bukhori; Muslim).

  1. Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.

Nama-nama Yang Dimakruhkan

  1. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.
  2. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.
  3. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’un, misal: Fir’un, Qarun, Haman.
  4. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifat-sifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.
  5. Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama” (الدين) , dan lafadz “Islam” (الإسلام), misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.
  6. Dimakruhkan memberi nama ganda5), misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id dll.
  7. Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.

Jalan Keluar Dari Pemberian Nama-nama Yang Diharamkan Dan Yang Dimakruhkan

Jalan keluar dari kedua hal ini adalah merubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/depertemen yang mengurusi masalah ini.6)

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah kepada nama-nama Islamiy, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhaiallahu ‘anha, ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغير الإسم القبيح إلى الإسم الحسن (رواه الترمذي).

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).

Demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang baik, seperti beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti merubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll….Semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Giving the name of both parents to a child is very important in Islam. Why this is important, because a name not only as a marker for others to know ourselves, but the name is also a prayer and expectations of both their parents so that the child could be good kids or shaleh dan shalehah, pleasing to both parents, society, nation and religion. The name is a feature or a sign, meaning the person named can recognize himself or known by others. In Qur’an Al Kareem mentioned; يا زكريا إنا نبشرك بغلام اسمه يحيى لم نجعل له من قبل سميا (7) سورة مريم “O Zakaria! We give thee glad tidings will (receive) a child whose name is Yahya, who previously We have not been creating people who are similar to him” (QS. Maryam: 7) And the essence of giving a name to the child is that he is known and glorify it. Therefore, the scholars agreed will be obligatory to give a name hello to the boys and girls. Therefore, if a person is not named, then he will be a majhul (unknown) by the public.

Semuanya Sudah Sangat Terlambat

imageedit_104_9604955624
pixabay.com

Pada judul di atas, saya hendak mengungkapkan betapa ikhtiar dan usaha yang kami lakukan dalam mengobati penyakit yang diderita anak kami sudah sangat terlambat, mengapa terlambat? Ikuti kisah selengkapnya berikut ini.

Sebenarnya tidak ingin mengingatnya kembali. Karena hanya akan membuat hati ini sedih, lalu lebih baik melupakannya. Mungkin ada saja orang yang berpikiran seperti itu. Tapi rasanya..tidak tega hati ini, bila kenangan manis bersama orang-orang yang kita cintai, bahkan amat kita cintai dibiarkan sirna begitu saja dari memori kita. Karena apa? Ya karena tidak adil rasanya. Dan, kalau itu yang kita lakukan, sepertinya kita sudah tak mencintai dia lagi dan tidak mau lagi mengingatnya. Karena itu, meski harus menahan rasa rindu dan sedih, saya coba merangkai kembali kisah sedih 6 tahun silam dalam artikel ini.

Saya coba merangkai dan menghadirkan kembali kisah-kisah bersamanya. Sedih memang, tapi saya menikmatinya, menikmati rasa sedih dan rindu itu karena mencintainya, karena menyayanginya. Dia anak bungsu tercinta kami (Muhammad ‘Alauddin Ramiz). Dia sudah tiada.

Kurang lebih 13 tahun kami telah bersama dalam sebuah keluarga yang menurutku amat bahagia, sebelum ia pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Saya sendiri termasuk orang yang betah di rumah, senang berkumpul dengan mereka, makan bersama, bepergian bersama, pokoknya selalu bersama. Tentu, sebagai seorang ayah yang hanya punya anak laki-laki satu-satunya, saya menjadi begitu protektif terhadapnya.

Saya juga tidak jarang menegur agak keras, bahkan marah bila kakak-kakanya membuat dia menangis. Saya sering mencemaskan ketiga anak ku, lebih-lebih si bungsu. Menghawatirkan keamanannya dan keselamatannya. Bahkan tidak jarang dalam tidur, saya bermimpi dan melihat dia mendapat musibah, seperti jatuh di sumur dan banyak mimpi-mimpi buruk lain sejenisnya. Tapi untuk menghibur diri, saya menganggap itu hanya mimpi dan bunga tidur saja. Dia, anak baik dan penurut, dan tidak pernah bermasalah dengan teman sebaya, namun terkadang justru ada di antara teman-temannya yang menjahili dia. Namun kebanyakan menyenangi dia, bahkan di hari-hari libur sekolah mereka datang menemuinya di rumah untuk bermain.

Ketika di SD, dia aktif ikut serta dalam berbagai kegiatan sekolahnya. Berbagai kegiatan lomba yang diselenggarakan pada setiap peringatan hari-hari besar nasional di kabupaten, seperti lomba gerak jalan, lomba upacara bendera, dan sejenisnya, baik lokal kabupaten maupun tingkat provinsi,, selalu dilibatkan oleh sekolahnya. Bahkan sekolah memilihnya sebagai komandan, baik komandan upacara maupun komandan regu gerak jalan. Dari berbagai lomba yang dikutinya, dia bersama timnya, selalu mendapat piagam pernghargaan. Tentunya, semua ini merupakan hal yang menyenangkan bagi kami, kedua orang tuanya.

Ada satu ketika di tahun 2007, dimana pihak sekolah sudah sekian lama mempersiapkan mereka, dalam arti melatih mereka dalam sebuah tim lomba upacara bendera tingkat provinsi, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustusan, dan dia lagi-lagi terpilih sebagai komandan dalam lomba upacara bendera itu.

Tetapi sialnya, lomba yang sudah lama dipersiapkan itu, tiba-tiba batal diselenggarakan, karena ada sesuatu hal yang menurut pihak sekolahnya, kalau tidak salah pada saat itu, menyangkut masalah dana transportasi, konsumsi dan akomodasi mereka di sana. Karena dia dipercaya sebagai komandan, maka pada saat pertemuan dengan pihak sekolah untuk memberitahukan pembatalan itu, diapun diundang dalam pertemuan itu termasuk saya sebagai orang tua murid turut diundang. Disitu, sepertinya dia tidak terima dan kelihatan sangat kecewa sekali. Mungkin karena dia bersama timnya sudah sangat yakin untuk berlaga di tingkat provinsi dan siap untuk mempersembahkan kembali piagam penghargaan untuk mengangkat nama daerahnya dan juga nama sekolahnya. Pertemuan selesai dan kamipun pulang. Dia nampak masih sangat kecewa, apalagi di luar, teman-teman timnya sudah menunggu untuk menanyakan berita hasil pertemuan itu.

Dia hanya menjelaskan kepada teman-temanya, “batal”. Melihat situasi itu, saya putuskan untuk mengajak dia pulang ke rumah. Dia sempat mengelak pulang, mungkin karena pikirannya masih kacau. Tapi akhirnya dia mau, dan saya langsung membonceng dia pulang. Di tengah jalan, saya memberi semangat dia, bahwa masih ada kesempatan lain, kalian belum gagal, hanya kesempatan ini tertunda, karena ada sesuatu halangan. Itulah, kisah terakhir dia berlaga di berbagai kegiatan lomba sekolahnya di SD.

Dari segi kesehatan, memang sakit yang sering diderita adalah demam. Bahkan demamnya cenderung berulang dalam kurung waktu satu hingga dua bulanan, tapi saya mengira itu sakit panas biasa seperti malaria atau tipes, sesuai penjelasan dokter yang memeriksanya pada beberapa tahun sebelumnya. Tidak ada sakit yang lain, hanya demam itu, dan setelah berobat ke dokter, biasa sakit panasnya, segera sembuh dan biasa kembali lincah bermain dengan teman-temannya.

Memang pernah ada kecurigaan dan kekhawatiran dalam hati saya, jangan-jangan ada penyakit dalam yang berat. Tapi kecurigaan dan kekhawatiran saya itu, lambat laun hilang, karena melihat keadaan dia yang kian hari semakin lincah bermain dan tidak menunjukkan tanda-tanda ada penyakit lain selain demam tipes seperti yang dijelaskan dokter. Ketika di SD, memang saya hanya membawa dia ke dokter umum, karena pada kala itu di daerah kami belum ada dokter spesialis penyakit dalam. Barulah pada akhir -akhir dia di sekolah dasar, yakni pada saat dia kelas 5 dan kelas 6, ada dokter spesialis penyakit dalam. Saya coba bawa dia ke dokter itu dan pada saat itu, dokter mengatakan bahwa yang diderita oleh anak saya adalah penyakit hepatitis.

Karena pada saat itu, wawasan saya tentang hepatitis ini masih bleng alias awam, maka saya pun menanyakan pada dokter, sebenarnya hepatitis itu penyakit apa dokter? dokter bilang bahwa hepatitis itu kalau istilah yang umum dikenal masyarakat kita, adalah penyakit kuning. Dalam hati saya berkata, kalau yang ini, saya sering mendengarnya, namun demikian saya masih juga awam tentang apa dan bagaimana sifat penyakit ini. Karena itu sayapun bertanya lagi pada dokter, jadi penyakit anak saya ini bisa disembuhkan atau tidak , dokter? Kata dokter pada waktu itu, “bisa , bisa disembuhkan dengan obat saya”, begitu jawab dokter pada saat itu. Tidak ada penjelasan atau nasihat dokter yang menganjurkan agar saya segera memeriksakan penyakit anak saya ke dokter/rumah sakit lain yang lebih tinggi misalnya di provinsi. Karena itu, sayapun yakin kalau penyakit anak saya akan bisa sembuh di tangan dokter spesialis itu.

Di pertengahan tahun 2007, dia tamat sekolah dasar, dan saya melanjutkan sekolahnya di SMP negeri 1 Dompu, yang merupakan SMP favorit di daerah kami. Di sanapun (di SMP negeri 1 Dompu) dia masih dipakai oleh sekolahnya dalam berbagi kegiatan lomba terutama untuk memperkuat tim lomba gerak jalan dan upacara bendera. Hari demi hari waktu terus berlau, dia pun sudah hampir naik ke kelas yang lebih tinggi yaitu kelas 2. Pada kala itulah, saya melihat kondisi kesehatannya terus menurun. Pakaian seragam sekolahnya yang selama ini pas dengan badannya, sekarang sudah mulai longgar, karena badannya mulai kurus karena asupan makanan sudah tak bisa banyak lagi akibat terganjal oleh kanker.

Ternyata, stadium penyakitnya pada saat itu sudah berada pada stadium lanjut, dan segera saya putuskan untuk membawa ke Mataram tepatnya di Rumah Sakit Bio-Medika Mataram. Di sana, diketahui setelah melalui pemeriksaan darah dan USG, ternyata penyakitnya sudah berubah nama, yaitu menjadi Hepatoma atau biasa dikenal dengan kanker hati, yang tingkat keparahannya sudah mencapai 80 %. Namun, sebelum semua itu menjadi jelas, yaitu pada saat saya bersama dia menunggu giliran dipanggil oleh dokter, dia sempat memberi tahu saya, kalau di perut bagian ulu hatinya mengeras dan membengkak. Saya kaget dan penasaran, lalu saya coba meraba di bagian tubuh yang dikatakannya, dan ternyata memang ada benjolan besar sekira buah mangga. Lalu dengan nafas sesak karena terkejut, saya tanya dia, kenapa tidak bilang papa sejak dulu nak? Dia menjawab, tidak tau papa. Di saat itu pula, dokter memanggil, dan kami berduapun masuk. Setelah saya memberi tahu dokter tentang maksud kami, lalu dokter menyuruh dia tidur telentang di ranjang.

Di saat itulah pertama kali saya melihat dan mengetahui bahwa sebenarnya penyakit anak saya sudah sangat parah. Setelah melihat dan memeriksa, dokter hendak memberitahu saya apa dan bagaimana status penyakit anak saya, namun untuk tidak didengar oleh anak saya, dokter meminta saya untuk berbicara berdua saja dengan saya, dan anak disuruh menunggu di luar bersama mama nya. Setelah mengantar anak ke mama nya, saya kembali lagi ke dokter. Dokter bilang, bahwa penyakit anak saya sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk bisa disembuhkan. Mendengar perkataan dokter itu, saya merasa seperti disambar petir, dunia seakan kiamat, karena merasa kaget, tidak percaya bercampur sedih…”cepat atau lambat dalam kurun waktu tiga bulan, anak saya akan meninggal dunia”, itu vonis dokter pada saat itu. Jadi, Bapak bersabar yah, sambil berdoa mudah-mudahan ada keajaiban. Itu saran dokter pada saya saat itu. Mendengar itu, saya pun teringat pada sebuah ungkapan :

“Anak adalah anugerah terindah. Kehilangannya membuat duka tak terperi. Namun anak kita bukan milik kita, anak hanyalah titipan dari Allah Swt Yang Maha Pencipta. Allah Swt dapat mengambilnya kapan saja Dia mau. Anak bisa menjadi ujian buat kita dan bila kita bersabar menerima ketentuan Allah Swt maka Allah Swt menyukai hamba-hamba-nya yang sabar.”

Sebenarnya, kisah ini masih cukup panjang untuk diuraikan di sini, namun untuk segmen ini saya cukupkan sampai di sini saja, dan kelanjutan kisah ini bisa anda baca di sini dengan judul “Selalu Ada Kebahagiaan Di Penghujung Kesedihan”.

SPARK OF CONTENT :

Maybe there are people who think that death no longer need to remember, but for me it’s not fair, because if so then it means we have hated him or forget him. , when the sweet memories with those we love, even so we love left just vanished from our memory. Because of what? Yes because it would be grossly unfair. And, if that’s what we do, we seem to have not love him anymore and no longer want to remember. Therefore, although I had to withstand a sense of longing and sadness, I tried reassembling the sad story six years ago in this an article. I try to assemble and bring back stories with him. Sad indeed, but I enjoyed it, enjoyed the feeling of sadness and longing that because of love, because love him. He was our beloved youngest son (Muhammad Alauddin Ramiz). He was gone. Approximately 13 years we have been together in a very happy family, at least on my thought, before he left us for ever. I myself among those who feel at home happy hanging out with them, eating together, traveling together, just be together. Naturally, as a father who just had a son the only one, I become so protective of him. I write this article and also a poem to remember him.

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan

download (36)
Yahoo image

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Berbagai penelitian telah mengungkapkan adanya mukjizat puasa ditinjau dari perspektif medis modern. Dalam penelitian ilmiah tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin hemotologi dan fungsi neuro psikiatri.

Penelitian untuk analisis atau penelitian terhadap berbagai abstrak terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait

Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehtan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi ke dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Bulan Ramadha adalah bulan yang paling dinanti oleh umaat muslim.Ia adalah bulan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Saat itu dianggap sebagai bulan yang penuh berkah, rahmah dan ampunan. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang, ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah Swt berupa kebahagiaan, pahala berlipat dan bahkan terdapat mukjizat dalam kesehatan

Bulan ramadhan adalah bulan yang spesial bagi umat Islam, kedatangannya merupakan suatu kegembiraan. Pantas saja, karena pada bulan ini Allah Subhanahu Wata’alamelimpahkan segala rahmat dan ampunan-Nya.

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi, dari Abu Mas’ud Rasulullah bersabda: “Seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang tersedia di bulan Ramadhan, niscaya dia berharap bulan Ramadhan itu sepanjang tahun.”

Hadits tersebut jelas menggambarkan akan betapa banyaknya keutamaan yang terdapat pada bulan ramadhan. Namun ternyata, tidak saja keutamaan yang berdimensi ukhrowi, ramadhan dengan ibadah puasanya juga memberikan keutamaan ilmiah bagi kesehatan tubuh manusia yang menjalaninya.

Berbagai penelitian dan analisa medis telah menyebutkan bahwa puasa -sebagai salah satu ibadah utama pada bulan ramadhan- memiliki dampak positif yang sangat besar bagi kesehatan organ tubuh.

380124_354x50

Berikut adalah 10 manfaat puasa bagi kesehatan:

1. Membuang Racun Dalam Tubuh

Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya hidup pada zaman seperti sekarang ini cenderung lebih mengedepankan segala sesuatu yang bersifat instan, termasuk dalam hal makanan. Dan faktanya, makanan yang bersifat saji ini banyak mengandung zat kimia yang bisa menjadi racun serta berbahaya bagi tubuh.

Ternyata aktivitas puasa mampu menghilangkan racun yang sebagian besar tersimpan dalam lemak tubuh. Pada saat puasa lemak akan dibakar, dan terjadilah proses detoksifikasi atau pembuangan racun dalam tubuh.

2. Menjaga Kesehatan Jantung

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada saat berpuasa, terjadi peningkatan HDL (High Density Lipoprotein) dan apoprotein alfa 1, serta penurunan LDL (Low Density Lipoprotein) atau yang sering disebut koleterol jahat. Yang mana proses tersebut baik untuk jantung dan pembuluh darah.

Tingginya kadar LDL akan berbahaya bagi jantung, dikarenakan hal tersebut berpotensi penumpukan di dinding pembuluh nadi koroner, yang akan menyebabkan penyempitan dan penyumbatan aliran darah (arteriosclerosis). Akibatnya jantung akan kesulitan memompa darah. Namun aktivitas puasa mampu menurunkan LDL pada tubuh.

3. Baik untuk Kesehatan Mental

Dr. Ehret seorang ilmuwan bidang kejiwaan mengatakan: “Beberapa hari berpuasa akan memberikan dampak pada kesehatan fisik, dan lebih lanjut untuk mendapatkan kesehatan mental, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari.” Hal tersebut -sebagaimana pernyataan Dr. Ehret- terjadi, dikarenakan otak manusia memiliki fungsi pembersih dan penyehat otak dengan bantuan sel yang disebut “neuroglial cells”. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang sakit atau mati akan “dimakan” oleh sel-sel neurogial ini, yang mana hal tersebut akan berdampak baik pada mental seseorang.

4. Memperlancar Sistem Pencernaan

Selama berpuasa, maka organ-organ pencernaan akan beristirahat. Namun fungsi fisiologis pencernaan tetap berjalan normal, terutama produksi sekresi pencernaan. Sehingga membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan membersihkan tubuh dari sisa-sisa atau endapan makanan. Pengolahan makanan dalam sistem pencernaan juga relatif tetap stabil, pelepasan energi juga mengikuti pola yang bertahap.

Puasa juga akan membuat sistem pencernaan memperoleh waktu untuk merevitalisasi dan meningkatkan fungsinya. Namun untuk diperhatikan, aktivitas puasa tidak menghentikan produksi asam lambung. Sehingga bagi penderita maag terutama yang sudah akut, disarankan untuk tetap berkonsultasi dengan ahlinya sebelum memilih berpuasa.

5. Mengurangi Gula Darah dan Lemak

Selama berpuasa tubuh melakukan peningkatan glukosa agar bisa memperoleh energi. Glukagon juga diproduksi untuk membantu pemecahan glukosa. Hal ini berdampak pada pengurangan produksi insulin, yang dengan demikian maka akan mengurangi gula darah dalam tubuh. Dan ketika produksi glukosa habis, lemak yang tersimpan juga akan dibakar untuk menghasilkan energi. Ternyata puasa pun mampu membakar lemak tanpa harus melakukan diet berlebihan.

6. Menurunkan Hipertensi

Puasa juga menjadi salah satu metode untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Suasana spiritual yang tenang dan jauh dari amarah membuat adrenalin menurun dan menjadikan hormon lebih stabil. Hal ini mampu menurunkan tekanan darah dalam tubuh.

7. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Berdeda dengan Starvasi atau kelaparan yang dalam keadaan tertentu dapat mengganggu kesehatan tubuh, puasa justru sebaliknya. Ketika berpuasa maka terjadi peningkatan Limfosit dalam tubuh, yang mampu memberikan pengaruh sangat baik terhadap sistem kekebalan tubuh. Sehingga imunitas tubuh menjadi lebih kuat dan tidak mudah terserang virus dan penyakit.

8. Meningkatkan Hormon Seksual

Dalam sebuah penelitian, dikatakan bahwa terdapat hubungan antara puasa dengan hormone dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati terjadinya penurunan kadar hormon kejantanan (testoteron_, perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH) pada awal minggu pertama puasa. Namun dalam jangka panjang setelahnya, hormon testoteron dan performa seksual justru meningkat pesat melebihi sebelumnya.

9. Memperbaiki Fungsi Ginjal

Pengurangan konsumsi air selama puasa, ternyata sangat efektif untuk meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal, juga meningkatkan kekuatan osmosis urin mencapai 12.000 ml osmosis/kg air. Hal ini sangat baik bagi kinerja dan fungsi ginjal. Selain itu, pengurangan konsumsi air juga dapat meminimalkan volume air dalam darah, sehingga mampu memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang akhirnya akan memacu fungi dan kerja sel darah merah.

10. Meningkatkan Kinerja Otak

Aktivitas puasa juga mampu meningkatkan neurotropik yang dapat membantu tubuh untuk memproduksi lebih banyak sel-sel otak, sehingga dapat meningkatkan fungsi otak. Juga kaitannya otak dengan pikiran, puasa yang mampu membuat pikiran menjadi lebih tenang dan melambat, ternyata justru mampu membuat pikiran menjadi lebih tajam.

Dalam penelitiannya, Mark Mattson, Ph.D ilmuwan bidang neurologi yang juga seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging menunjukkan bahwa secara signifikan puasa bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson.

Tidak hanya sebagai implementasi keimanan, dalam hal menjalankan perintah Allah. Ibadah puasa nyatanya juga mempunyai banyak keistimewaan termasuk manfaat kesehatan bagi tubuh manusia.

Dengan niat yang lurus puasa tidak saja mengharap pahala, tetapi juga kesehatan yang harganya mahal itu. Semoga dengan ini, mampu membuat kita untuk lebih bersemangat dalam menjalani ibadah puasa. Wallahu ‘alam bishawab.

380124_354x50

Sumber : http://www.hidayatullah.com/

SPARKS :

Ramadan is a special month for Muslims, it’s arrival was a joy. No wonder, because in this month, God gives all the glory to Him bestow His mercy and forgiveness. As in the hadith narrated by Ath-Thabrani, Ibn Khuzaimah and Al-Bayhaqi, from Abu Mas’ud Prophet said: “If the man knows the amount of reward available in the month of Ramadan, surely he wished Ramadan was the time of year.” This hadith clearly will illustrate how many virtues contained in the month of ramadhan. However it turns out, not only virtue dimension ukhrowi, Ramadan with fasting worship also provide scientific primacy to human health is living it.

Dzikir Pagi Dan Petang Dan Keutamaannya

imageedit_93_8195141125
pixabay.com

Berdzikir berarti mengingat.  Berdzikir kepada Allah atau dzikrullah adalah mengingat kepada Allah shubhanahu wata’ala, zat yang maha pencipta alam semesta ini termasuk di dalamnya kita manusia. Pada dasarnya semua makhluk senantiasa berdzikir kepada Allah shubhanahu wata’ala dengan caranya masing-masing. Tetapi manusialah seharusnya yang paling berkewajiban untuk selalu mengingat atau berdzikir kepada Allah shubhanahu wata’ala. Mengapa, karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk-makhluk yang lain. Berikut ini saya sajikan sebuah artikel yang membahas tentang keutamaan dzikir pagi dan petang, semoga bermanafaat bagi kita dalam mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Straight Path

Sangat banyak ayat ataupun hadits yang menerangkan keutamaan berdzikir kepada Allah. Bahkan Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan dan menganjurkan kepada kita agar senantiasa berdzikir dan mengingat-Nya (lihat edisi 29/III tentang dzikir-dzikir setelah shalat wajib). Jangan sampai harta, anak-anak ataupun kegiatan duniawi melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun:9)

Di antara dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk dibaca dan diamalkan adalah dzikir pagi dan sore. Dzikir pagi dilakukan setelah shalat shubuh sampai terbit matahari atau sampai matahari meninggi saat waktu dhuha, kira-kira jam tujuh atau jam delapan. Adapun dzikir sore dilakukan setelah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari atau sampai menjelang waktu ‘isya.

Banyak sekali keutamaan dzikir pagi dan sore…

Lihat pos aslinya 1.660 kata lagi

Sabar Adalah Karunia Terindah

imageedit_10_2887677930

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa, “Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” Hal ini bisa terjadi karena pada diri orang tersebut ada karunia yang amat berharga dari Allah shubhanahu wata’ala, yaitu sabar. Jadi di sini yang memegang peranan penting adalah sabar. Karena hanya dengan kesabaranlah kita dapat mengendalikan diri kita dalam situasi yang menekan (stressful situation). Kesabaran menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang silih berganti.

Meski terkadang pahit dan getir dalam menjalaninya, namun satu hal yang menyemangati kita untuk terus bersabar adalah buah manis dari kesabaran itu sendiri. Amat disayangkan jika kita tidak dapat meraihnya, karena Allah Swt telah berjanji akan memberikan ganjaran yang sangat besar bagi orang-orang yang bersabar dalam menghadapi ujian-Nya.

Sabar adalah akhlak yang sangat mulia. Ia menjadi hiasan para Nabi untuk menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang. Berhias diri dengan sabar hanyalah akan membuahkan kebaikan.

Inilah firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu beruntung. (QS.Ali-‘Imran [3]:200).

“Bersabarlah!”

Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad  di dalam Al Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan sabar kaitannya dengan keimanan kepada Allah dan kaitannya dengan perwujudan iman tersebut dalam kehidupan dan terlebih sebagai pemikul amanat dakwah. Tentu jika anda menyambut seruan tersebut niscaya anda akan berhasil sebagaimana berhasilnya Rasulullah, keberhasilan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Al Ahqaf: 35)

Sabarnya Ulul ‘Azmi

Siapakah yang dimaksud oleh Allah dengan ulul ‘azmi yang kita diperintahkan untuk mencontohnya?

  1. Nabi Nuh ‘Alahi salam sebagai rasul yang pertama kali diutus ke muka bumi ini adalah salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada kaum yang pertama kali menumbuhkan akar kesyirikan di muka bumi. Tahukah anda bagaimana besar tantangan yang dihadapi? Coba anda renungkan ketika seseorang ingin mencabut sebuah pohon yang sangat besar yang akarnya telah menjalar ke segala penjuru, sungguh betapa berat pengorbanannya. Allah sendiri telah memberitahukan kepada kita dengan firman-Nya:

Dan demikianlah kami menjadikan bagi setiap para nabi seorang musuh dari syetan baik dari kalangan jin dan manusia.”(Al An’am: 112)

Yang dipilih pertama kali dari sederetan kaumnya yang menghadang dakwah beliau adalah keluarga yang paling dekat anak dan isterinya. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, beliau dengan kesabaran bisa meraih kemenangan di dunia dan di akhirat. Allah mengatakan tentang beliau:

Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” ( Al Isra’: 3)

  1. Nabi Ibrahim  sebagai bapak orang-orang yang bertauhid juga sebagai salah satu ulul ‘azmi. Mendobrak keangkaramurkaan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri dan kaumnya yang dipimpin oleh seorang raja yang dzalim.Bagaimanakah perasaan anda jika anda diusir dari belaian kasih sayang dan perlindungan bapak anda? Bapaknya yang dipilih oleh Allah untuk menghadang dakwah beliau yang berada di bawah cengkeraman raja yang mengaku diri sebagai tuhan. Dia harus menelan pil pahit angkara murka kaumnya yang dengan tega melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat. Namun apakah yang mereka bisa perbuat terhadap jasad beliau? Sia-sialah perbuatan mereka.

Di sisi lain beliau harus juga menerima ujian yang lebih pahit yaitu amanat dari Allah untuk menyembelih putra yang disayangi dan diharapkan sebagai calon penerusnya.

Bisakah anda membayangkan hal yang demikian itu? Kesabaranlah yang menyelamatkan dari semua ujian dan cobaan yang menimpa beliau.

  1. Nabi Musa dan ‘Isa adalah dua rasul yang diutus kepada Bani Israil dan sekaligus sebagai ulul ‘azmi. Tantangan yang dihadapi beliau berdua, tentu tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan para rasul Allah. Siapa yang tidak mengenal Fir’aun si raja kufur yang menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, raja tak berperikemanusiaan yang membunuh anak-anak yang menurutnya akan bisa menggoyahkan tahta kekuasaannya. Kesabaranlah yang menjadi kuncinya sehingga beliau berdua dibebaskan dari segala bentuk tantangan dan ujian yang sangat dahsyat.
  2. Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dan imam para rasul juga termasuk salah satu dari ulul ‘azmi. Yang diutus kepada semua umat yang berada di atas dekadensi moral, kejahiliyahan dan keberingasan. Tentu tantangan yang beliau hadapi tidak kalah hebat dengan para rasul pendahulu beliau. Para rasul pendahulu beliau hanya diutus kepada kaum tertentu sedangkan beliau diutus kepada seluruh umat. Ini menggambarkan betapa besar tantangan yang beliau harus hadapi. Allah memilih keluarga beliau yang paling dekat menjadi penjegal perjalanan dakwah beliau. Mereka tidak berbeda dengan kaum sebelumnya dalam memusuhi para rasul Allah. Kesabaranlah yang menjadi kunci semua perjuangan beliau.

Anda pasti menginginkan keberhasilan dalam setiap usaha yang anda lakukan. Maka dari itu jadikanlah seluruh para Nabi dan Rasul Allah sebagai suri tauladan anda dalam kesabaran sehingga anda akan mendapatkan keberhasilan seperti apa yang mereka telah dapatkan.

Abdurrahman As Sa’di mengatakan di dalam tafsir beliau: “Dan adapun orang yang telah diberikan taufiq oleh Allah untuk bersabar ketika ditimpa ujian lalu dia menahan dirinya untuk tidak benci terhadap ketentuan tersebut baik dengan ucapan dan perbuatan dan berharap pahala dari Allah dan dia mengetahui bahwa apa yang dia dapatkan dari pahala karena kesabaran tersebut atas musibah yang menimpanya, bahkan baginya ujian itu menjadi nikmat karena telah menjadi jalan terwujudnya sesuatu yang lebih baik, maka sungguh dia telah melaksanakan perintah Allah dan berhasil meraih ganjaran yang besar dari sisi-Nya.”

Kemalangan yang menimpa kita, misalnya kerupa kehilangan orang-orang yang amat kita cintai, kehilangan harta benda yang telah lama dan dengan susah payah kita kumpulkan, ketika tubuh kita yang sebelumnya sehat dan kuat harus terbaring lemah tanpa daya. Apa yang harus dilakukan? Pasrah tanpa usaha, berputus asa, merasa kecewa dan jengkel kepada Allah, kemudian menjauhkan diri dari-Nya? Tidak, tapi tetaplah kita bersabar dan terus berusaha untuk keluar dari kesulitan itu.

Tetap bersabar dan menerima semua ketentuan Allah Swt dan semakin taqarrub kepada Allah, sambil terus berusaha dan berdoa hingga Allah Swt mengabulkan doa dan memberikan pertolongan-Nya. Dengan merapat kepada Yang Maha Perkasa, maka kita akan menjadi semakin kuat.

Allah Swt menjanjikan dalam firman-Nya, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah [94]:5-6) Bila bersabar, kita akan menjadi orang yang kuat, meski bukan kuat secara fisik, tetapi kesabaran menjadikan kuat dalam menghadapi segala ketentuan Allah Swt. Dengan bekal kesabaran, kita akan kuat bertahan dalam menjalani hidup yang tidak selamanya mulus.

Jangan sampai kesulitan membuat kita berpaling dari Allah Swt, justru sebaliknya membuat kita semakin merapatkan diri kepada Allah Swt. Sesungguhnya kesabaran itu dibutuhkan pada saat awal kejadian yang menimpa kita agar perlindungan Allah Swt selalu menyertai kita dan roda kehidupan tetap dapat berjalan pada jalur yang benar dan di diridhoi oleh Allah Swt. Tetaplah percaya, bahwa Allah Swt sangat mencintai dan mengasihi hamba-Nya dan mustahil Ia memberikan ujian dan cobaan yang melebihi kadar kesanggupan hamba-Nya. Jadi, sepahit apapun ujian dan cobaan yang dialami, dengan bekal kesabaran, kita akan kuat dan mampu menghadapinya, karena Allah Swt selalu bersama orang-orang yang sabar. Innallaha ma’ashshaabiriin. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

PERCIKAN :

Limitations of the circumstances that exist in ourselves, material or physical is not a barrier to doing good deeds. If we accept this provision patiently then Allah will continue to provide guidance and mercy. With guidance from Allah the narrow path became widespread, it is difficult becomes easy and the darkness was lit up. Satan is upset not to play when looking at the man began to find the light of truth. Instantly they launched various actions to turn us from the straight path. Only those who know Allah, have a strong faith with patience thick to be saved from the trap of the devil. Faith and patience to make a weak man become mighty. Cruel torment, all scorn, and offer worldly possessions do not mean anything because the pleasures of heaven is waiting for these holy souls.

Saudariku, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu

download-39

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Islam datang untuk menyempurnakan segalanya di muka bumi ini. Memperbaiki yang belum baik melengkapi yang belum lengkap, dan menyempurnkan segala sesuatu yang belum disempurnakan oleh risalah dan ajaran-ajaran sebelumnya. Ajaran dan risalah para nabi dan rasul sebelum Muhammad ditujukan hanya untuk kaumnya masing-masing, seperti nabi Musa dengan risalahnya hanya untuk bani Israil demikian pula dengan nabi Isa hanya untuk kaumnya saja. Dan setelah datang Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad maka selesailah berlakunya risalah nabi Isa karena semua masalah dan segala urusan sudah tercakup dalam dan oleh ajaran Muhammad.

Baca juga, artikel ini

Asmadi Tsaqib

Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Allah Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justeru jelek menurut Allah. Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216).

Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.

Lihat pos aslinya 428 kata lagi

Gerahamku Yang Ditambal Kumat lagi

dentist-428649__180
Pixabay.com

Kemarin sore, tepatnya jam 15.30 wita gigi gerahamku yang sebelah kanan atas kumat lagi. Dulu, kurang lebih 8 bulan yang lalu saya ke dokter untuk memeriksakan, dan pada waktu itu berniat untuk mencabutnya, karena sudah sangat menyiksa sekali yah. Pada saat itu, dokter  bilang gigi saya masih cukup kuat untuk mengunyah karena memang belum sampe goyang. Hanya masalahnya ada lobang kecil namun cukup dalam katanya.Karena itu, dokter bilang ditambal saja agar gigi saya masih bisa dipake mengunyah. Memang benar, seandainya gigi gerahamku yang satu itu dicabut saya sudah nggak bisa ngunyah makanan dengan sempurna lagi. Saat itu, saya agak bingung juga memutuskan ditambal atau dicabut.

Akhirnya, saya coba bilang sama dokter, bagaimana ya dok, kalau ditambal apa nanti nggak kumat lagi karena infeksi misalnya. Dokter bilang waktu itu, oh nggak pak, kan tambalannya yang bagus pake semen gigi yang berkualitas. Tapi hati saya kok nggak yakin yah dengan saran dokter.

Soalnya dulu, sewktu di SMA, waktu itu tahun 1976 saya pernah  ditambal gigi geraham saya yang sebelah kanan bawah, dan hanya bertahan beberapa tahun saja terus jebol. Baiklah kita lanjutkan cerita ini kembali, akhirnya setelah berpikir-pikir tentang apa yang dikatakan dokter tadi, yaitu agar gigi saya ditambal saja, saya setuju. Karena pada waktu itu bukan hanya sakit yang saya rasakan, tetapi juga muka saya bagian sebelah kanan sudah mulai gemuk eh bengkak. Lagi pula kalau gerahamku dicabut pastilah tidak ada lagi untuk mengunyah.

Tapi kata dokter waktu itu, tambalnya nggak bisa sekarang ya pak, karena masih sakit dan juga bengkaknya perlu disembuhkan dulu. Singkat cerita setelah doktder memberikan resep sayapun segera pulang ke rumah sembari ke apotik untuk membeli obat. Kurang lebih 3 hari kemudian rasa sakitnya sudah sembuh, namun bengkaknya masih nampak pada wajah saya sebelah kanan, sehingga membuat pemandangan yang asimetris juga pada wajahku pada saat itu.

Dengan penuh harap semoga kali ini gigiku benar-benar bisa ditambal oleh dokter dan saya bisa kembali beraktivitas dengan nyaman. Tapi apa yang terjadi, ternyata saya harus kembali minum obat untuk menyembuhkan bengkaknya. Ini berarti kali yang kedua saya pulang ke rumah tanpa hasil seperti yang saya harapkan tadi, yaitu gigi saya ditambal. Di sisi lain dompet kumalku terus memuntahkan isinya keluar, hehe…, dan itu memang sudah seharusnya begitu, gumamku dalam hati, dan tidak perlu harus menyakahkan siapa-siapa. Dan saya percaya, memang itulah prosedur kerja seorang dokter. Hanya mungkin saya pikir, kita perlu sedikit bersabar untuk bolak-balik ke dokter meski dengan kondisi yang cukup prihatin. Soal biaya tentu seberapapun kita harus ikhlas dan merelakannya, karena yang penting adalah kesehatan kita bisa pulih kembali.

Akhirnya, setelah minum obat selama kurang lebih 3 hari bengkaknya pun sembuh, dan saya segera kembali lagi ke dokter agar gigi saya bisa segera ditambal. Dalam hati, saya berdoa semoga tidak terjadi suatu kesalahan atau malpraktek pada proses penambalan gigi saya. Dan alhamdulillah, memang benar proses penambalan berjalan lancar. Selesai penambalan dokter hanya menyarankan agar saya tidak dulu mengunyah makanan keras karena kondisi tambalan belum sepenuhnya kuat.

Setelah berlalu 7 bulan saya merasakan adanya keanehan pada gigi saya yang ditambal. Yaitu seperti ada rasa ngilu ketika kena makanan yang keras. Ternyata memang benar, tambalannya udah jebol. Hanya yang dirasakan pada waktu itu adalah rasa ngilu dan tidak ada rasa sakit yang serius. Tapi bagaimanapun keadaan seperti itu cukup mengganggu bagi saya.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke dokter tadi, dengan niat agar gigi saya dicabut saja, dan segera ke dokter untuk minta dicabut. Dokterpun menyetujuinya dan proses pencabutan segera dilakukan. Tapi apa yang terjadi, sekali lagi terjadi kesalahan pada proses pencabutan itu, dimana gigi saya yang seharusnya dicabut tidak dicabut, yang dicabut adalah gigi saya yang masih kuat dan sehat dan tidak berlobang. Tapi karena pada waktu itu saya tidak mengetahui gigi mana yang dicabut, karena tidak bisa melihat dan hanya merasakan ada gigi yang tercabut, maka tentu saya tidak mengajukan protes atau mempersoalkannya.

Anehnya lagi, gigi saya yang seharusnya dicabut itu dalam beberapa bulan lamannya bisa pulih kembali fungsinya untuk mengunyah makanan yang agak keras sekalipun. Cukup lama juga dia bertahan, hingga akhirnya iapun harus kembali bermasalah dan minta agar segera dicabut. Untuk pencabutan yang ini saya berniat untuk pergi ke dokter yang lain saja, bukan berarti saya berprasangka buruk pada dokter yang pertama, sama sekali tidaklah…Itu hanyalah ikhtiar saya, semoga berjalan lancar dan gigi saya bisa berfungsi kembali dengan baik, aamiin.

Mohon doa dari sahabat semua.

SPARK OF CONTENT :

Talk about tooth pain sometimes is annoying, especially if we want to pull the tooth was wrong revoked by the doctor. At that time I did not realize that the
deprived of even healthy teeth next to them. I realized after a few days treatment and appears to have started to recover and then I touch turns teeth would be revoked was still there. Finally I went to the doctor again and I protest, why my teeth are still healthy revoked while the pain is not revoked? The doctor said that it was also his teeth hurt and hollow. I say, then what should be stripped of my teeth that have already started hurting again because it hollow? The doctor said, I’ll give you medicine and you should be diligent brush your teeth every time after eating and when going to bed. And alhamdulillah as I follow the doctor’s advice my teeth no longer hurt and healthy until now.

Translate this !

inggris Espanol French Italian

Bersafar Atau Bepergian Dan Etikanya

imageedit_28_3106255020
pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setiap orang pasti membutuhkan sesuatu yang baru yang hanya ada di luar dirinya. Ia membutuhkan pengetahuan, wawasan, ilmu dan suasana yang baru. Memang kebutuhan akan wawasan, pengetahuan dan juga ilmu bisa kita dapatkan dalam rumah bahkan dalam kamar tidur kita, karena semua itu bisa kita akses melalui berbagai media elektronik dan internet yang ada dalam rumah kita, tetapi sebagai manusia kita tidak akan pernah puas dengan cara pemenuhan kebutuhan seperti itu. Kita pasti ingin mengalami dan marasakan sesuatu itu langsung di lapangan. Khusus yang berkaitan dengan kebutuhan akan suasana, maka untuk memenuhinya, mau atau tidak mau kita harus keluar meninggalkan rumah.

Kita butuh rekreasi untuk merefresh jiwa dan raga kita, misalnya pada suasana pergantian tahun yang di situ ada waktu luang yang cukup panjang (long weekend). Misalnya ada hari libur nasional di mana sangat bermanfaat sekali bagi para pegawai pemerintah maupun swasta untuk memulihkan kembali kondisi fisik maupun mentalnya setelah sekian lama dijejali dengan tugas dan pekerjaanya.

Tetapi tentu saja, yang dimaksud dengan safar atau bepergian di sini tidak hanya untuk rekreasi akan tetapi menyangkut juga bepergian yang berkaitan dengan ibadah yang khusus, seperti haji dan umrah dan lain-lain yang memerlukan perjalanan panjang.

Semua ini adalah hal yang wajar kita lakukan bersama anggota keluarga pergi ke suatu tempat atau obyek wisata tertentu. Tetapi sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah, kita perlu mengetahui apa dan bagaimana seharusnya safar atau bepergian yang sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah.

Saudara, sebenarnya saya masih sangat awam tentang hukum agama, dan saya masih terus belajar, termasuk mengenai aturan atau etika dalam bebergian. Namun demikian, saya coba membuka dan membaca buku dan literatur terkait dan juga tentunya melalui googling, akhirnya saya mendapatkan yang saya butuhkan.  Dan pada postingan kali ini saya akan coba berbagi dengan anda tentang hal dimaksud. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala  meridhoinya, aamiin.

Saudara, ada sebuah ungkapan yang mengatakan, bahwa hidup ini bagaikan roda yang terus berputar, ada yang datang dan ada pula yang pergi, ada suka dan ada pula duka. Semua itu bukanlah sesuatu peristiwa atau kejadian yang terjadi secara kebetulan, akan tetapi merupakan ketetapan Allah Subhanahu wata’ala yang berlaku di alam semesta. Dunia adalah tempat persinggahan sementara kita dalam perjalanan menuju akhirat. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang tersebut. Dalam Al Qur’an Allah berfirman :

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah:197)

Saudara, dalam surat lain Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman;

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.( QS. Al-Jumu’ah: 10).

Sesuai dengan pokok bahasan atau judul postingan di atas, pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan  beberapa etika atau adab bepergian sesuai tuntunan Al Qur’an dan Sunnah;

1. Berpamitan kepada keluarga dan kerabat.

Ketika  hendak bepergian, dianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga, kerabat dan kawan-kawan. Sebab Allah menjadikan berkah di dalam doa mereka. Inilah sunnah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin pada hari ini, yaitu melepas kepergian dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَ اَمَانَتَكَ وَ خَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan penuntup amalmu”.[HR. Abu Dawud (2600). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 14)]

Al-Imam Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menjadikan agama dan amanah seseorang sebagai titipan, karena di dalam safar seseorang akan tertimpa rasa berat, dan takut sehingga hal itu menjadi sebab tersepelekannya sebagian perkara-perkara agama. Lantaran itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan kebaikan bagi orang yang safar berupa bantuan dan taufiq. 

Seseorang dalam safarnya tersebut tak akan lepas dari kegiatan yang ia perlukan di dalamnya berupa mengambil dan memberi sesuatu, bergaul dengan manusia. Karena itulah, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakannya agar dipelihara sifat amanahnya, dan dijauhkan dari sifat khianat.

Kemudian, jika ia kembali kepada keluarganya, maka akhir urusannya aman dari sesuatu yang membuatnya buruk dalam perkara agama dan dunianya”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidziy (8/338)]

Inilah hikmahnya seseorang saling mendoakan saat seseorang bepergian. Selain itu, berpamitan juga memiliki manfaat lain, yaitu ia merupakan kesempatan untuk memberi wasiat, pesan, dan lainnya. Sebab banyak orang yang pergi, dan tak diketahui lagi rimbanya sehingga putuslah hubungan silaturahim, atau lainnya

2. Hendaklah bepergian secara berjamaah

Islam menyerukan kepada pemeluknya untuk senantiasa bersatu dan berjama’ah, bukan berpecah belah. Begitu pula ketika bersafar dianjurkan untuk berjama’ah dan berombongan. Oleh karena itu, jika seseorang ingin melakukan suatu perjalanan, maka hendaklah ia mencari teman-teman dalam perjalanan dan jangan ia pergi seorang diri. Sebab dalam perjalanan banyak ditemukan kesusahan, bahaya, dan penderitaan.

AlKhoththobiy –rahimahullah– berkata, “Orang yang bepergian sendiri, andaikan ia meninggal, maka tidak ada yang memandikannya dan menguburkannya serta mengurus segala sesuatunya. Juga tidak ada orang yang bisa menerima wasiatnya untuk mengurus harta bendanya dan membawanya kepada keluarganya serta tidak ada yang memberi kabar kepada keluarganya. Tidak ada orang yang membantu membawa perbekalannya selama perjalanannya. Sedangkan jika ia pergi bertiga atau berombongan, maka mereka bisa saling membantu, bahu-membahu, berbagi tugas, bergiliran jaga, melaksanankan shalat secara berjama’ah dan memperoleh bagian dari berjama’ah.”[Lihat ‘Aunul Ma’bud (7/125) cet.Daar Ihya’ At-Turats Al-Arabiyyah.]

Lantaran itu, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– melarang seseorang untuk bepergian sendiri  dalam sabdanya,

لَوْ يَعْلَمُ اْلنَّّاسُ مَا فِيْ اْلوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ                                                   

 Andaikata manusia mengetahui apa (bahaya) kesendirian sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak ada seorang pengendara pun yang akan berjalan di malam hari dalam keadaan seorang diri. ” [HR. Al-Bukhoriy (no. 2998). ]

Larangan dalam hadits ini mencakup pengendara maupun pejalan kaki. Penyebutan pengendara dalam hadits ini disebabkan karena kebanyakan orang yang bepergian itu memakai kendaraan. Larangan ini pula berlaku pada waktu malam maupun siang hari. Sebab disebutkan dalam hadits ini pada waktu malam, karena malam hari lebih rawan kejahatan dan lebih besar resikonya.

3. Hendaklah ada salah seorang sebagai ketua rombongan

Tatkala melakukan safar secara berombongan maka ia memiliki keterikatan diantara banyak orang. Oleh karenanya, dianjurkan bagi orang yang bepergian secara berombongan dan yang berjumlah tiga atau lebih, agar menunjuk salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan. Tugasnya ialah memimpin dan mengurus segala sesuatu untuk kepentingan mereka bersama. Keputusannya harus dipatuhi oleh seluruh anggota rombongan dengan syarat tidak memerintahkan berbuat maksiat kepada Allah.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ,

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍفَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

Apabila ada tiga orang yang keluar dalam sebuah perjalanan, maka hendaklah mereka menunjuk salah satu dari mereka menjadi amir(ketua rombongan).”[HR. Abu Dawud (2608). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-shohihah (no. 1322)]

4. Larangan bepergian tanpa ada mahram bagi wanita.

Di dalam syariat Islam, seorang wanita tidak boleh bersafar tanpa disertai oleh mahramnya. Sebab hal itu akan menimbulkan fitnah (malapetaka) bagi dirinya dan para lelaki yang ada disekelilingnya. Oleh karenanya, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لاَيَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيْرَةً يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sepanjang sehari semalam tanpa ditemani mahram.“ [HR. Al-Bukhari(1088)]

Bahkan Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu– pernah mendengar Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِاِمْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرَنَّ اِمْرَأَةٌ إِلاََّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اُكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا وَخَرَجَتِ امْ رَأَتِيْ حَاجَةً قَالَ اِذْهَبْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

“Jangan sekali-kali seorang lelaki berada di tempat yang sepi dengan seorang wanita, dan jangan sekali-kali seorang wanita safar (bepergian jauh), kecuali bersama mahramnya.”

Kemudian ada seorang lelaki berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku sudah mendapat tugas dalam perang begini dan begini,sementara istriku pergi haji. Beliau lantas bersabda,”Berangkatlah pergi haji berrsama istrimu!!”. [HR.Al-Bukhari (3006)]

Hadits diatas adalah dalil yang paling tegas menunjukkan haramnya seorang wanita bersafar tanpa ada mahram yang meyertainya. Sebab Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– lebih mendahulukan sahabatnya untuk menemani istrinya pergi berhaji daripada ikut berperang. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat, aamiin.

SPARK OF CONTENT:

Appropriate guidance or according to the Qur’an and Sunnah there are some ethics in traveling, among them: 1. Inform the family and relatives before leaving. 2. Let go congregation, 3. Let someone as a head of the group, 4. Prohibition traveling without a mahram (some one who can not be maried) for women. “Never a man to be in a quiet place with a woman, and never a woman Safar (traveling distance), except along with her mahram.” In Islamic law, a woman should not traveling without being accompanied by a mahram. Because it will cause fitnah (catastrophe) for herself and the men around her.

My Honda Supra X 125 Stolen Last Night

imageedit_8_8874795950
pixabay.com

Tidak ada yang bisa mendeteksi apa yang akan terjadi pada diri kita ke depan. Tapi apapun yang telah terjadi pada diri saya atau pada siapapun, itu adalah sebuah ketetapan yang telah Allah tetapkan dan yang pasti terjadi, tidak bisa dimundurkan dan juga tidak bisa dimajukan waktunya. Tadi malam, hari Selasa 19 Januari 2016 sekitar pukul 03.30 wita honda kesayangan saya Supra X 125 dicuri, sedih juga rasanya. Ikhtiar untuk mengamankan segalanya sudah dilakukan, namun Tuhan berkehendak dan telah menentukan lain. Setelah shalat isya tadi malam saya biasa nonton beberapa acara di televisi kurang lebih satu jam. Lalu dilanjutkan dengan membaca beberapa halaman dari buku-buku literatur yang ada kurang lebih satu jam juga.

Sebelum berlanjut ke laptop saya terlebih dahulu mengunci pintu pagar dan juga pintu rumah. yang pada saat itu waktu menunjukkan pukul 23.30 wita.

Sedikit melebar dari fokus, bahwa lingkungan tempat tinggal kami terhitung aman dan bahkan sangat aman bila dibandingkan dengan lingkungan-lingkungan lain di wilayah kelurahan kami. Saking amannya, bahkan barang-barang milik kami seperti sandal dan sepatu, yang biasa kalau sepulang dari bepergian selalu di simpan begitu saja di emperan rumah tanpa ada yang hilang. Demikian juga jemuran yang seringkali kami tidak angkat berada di tempat jemuran sampai larut malam bahkan sampai pagi. Kami terlena, ternyata diam-diam mereka mengetahui keadaan tersebut, tapi yang diincar bukanlah barang-barang itu melainkan “Si biru-putih” motor honda kesayangan saya.

Kembali ke fokus pembicaraan semula, yaitu setelah mengunci semua pintu-pintu, saya lalu menuju ke laptop kesayangan saya, Toshiba tua pula dan segera saya menuju menu login untuk masuk ke mene-menu berikutnya. Ada beberapa pengunjung yang datang meninjau dan memberi komentar mereka pada malam itu. Saya segera membalas komentar-komentar mereka dan tidak terlalu banyak yang harus saya jawab, yang agak banyak adalah penyuka atau yang memberikan like-nya. Karena tidak banyak yang harus saya balas, maka sayapun segera menuju tempat tidur. Pada saat itu waktu menunjukkan pukul 24.30 wita, sayapun segera merebahkan tubuh untuk tidur.

Pada pukul 02.00 istri saya bangun untuk buang hajat (pipis) dan keadaan sekitar rumah kami masih dalam keadaan normal sebagaimana biasa, tidak ada keganjilan atau hal-hal yang mencurigakan, dia juga sempat menengok lewat jendela muka, semua dalam  keadaan aman dan biasa saja.

Pada pukul 03.10 wita saya terbangun namun saya tidak sampai beranjak dari tempat tidur karena tidak kepengen apa-apa hanya terbangun saja lalu kembali tidur. Namun tepat pada pukul 04.00 wita, istri saya bangun lagi untuk keperluan yang sama, dan pada saat itulah istri saya melihat pintu pagar sudah terbuka selebar untuk keluar sepeda motor. Melihat itu, istri lalu berteriak cukup keras sehingga membangunkan saya dan juga anak saya yang ada di kamar sebelah. Dengan keadaan pandangan mata dan juga pendengaran yang masih samar dan sayup, lalu saya mencoba melongok ke luar dan ternyata memang pintu pagar sudah dibuka si pencuri dan motor Honda Supra X 125 kesayangan saya telah raib dibawa kabur oleh pencuri. Kejadiannya kira-kira 30 menit sebelum istri saya bangun.

Dari kejadian ini, saya seperti tersadarkan, bahwa sewaspada apapun kita dalam mengamankan semua yang kita punya, kalau sudah menjadi kehendak Yang Maha Memiliki, tetaplah akan terjadi juga. Situasi lingkungan yang aman selama ini telah melenakan saya, sehingga tak ada keinginan atau pemikiran untuk memindahkan motor ke dalam kamar misalnya. Dan, yang ini adalah yang pertama kali saya alami selama hidup, karena itu juga mungkin yang  membuat kita terlena dengan keadaan dan kebiasaan yang telah berlangung cukup lama dalam hidup saya. Saya hanya bisa mengatakan kepada anak dan istri, bahwa ini satu peringatan supaya lebih berhati-hati lagi. Dan, syukur alhamdulillah kita semua masih selamat karena ternyata Allah Shubhanahu wata’ala  masih menginginkan kita hidup dan tidak membiarkan si pencuri masuk dan mencelakai kita. Kita masih bisa menghirup udara pagi yang segar dengan kandungan oksigen yang maksimal untuk bekal berbagai aktivitas kita ke depan berikutnya. Dan yang paling penting dari setiap kejadian semacam ini, adalah  mengambil hikmahnya, yaitu bisa lebih hati-hati dan waspada lagi ke depannya. Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang kembali di masa-masa akan datang, amien.

SPARK OF CONTENT :

Whatever we have done in an attempt to secure our belongings, the decisive factor is the will of God. In a sense if Allah the Almighty God wants something happen, then something must have happened. And that is what has happened to my bike. I’ve been trying to save Honda Supra X motorcycle 125 of my favorite in the garage next to my house. It is an usual habit I do every day until today, and because it was used as it was then I fall asleep and is not expected if the event of loss or theft could occur. But however the incident has happened and I do not have a bike again. Buy a new one? if yes, there are only two choices, buy by cash or credit. Incidentally still had a balance of savings is enough to buy the cash and finally I decided to cash only. Without another thought, I went straight to the Honda dealership and now I have to get a replacement for my lost beloved with the same brand and cilinder honda. Thank God, now I can move back in the office with the help of my new honda, hahaa …

Mestinya Kita Malu Pada Se-ekor Lebah

imageedit_3_3161357522
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Belajar Dari Seekor Lebah

Seekor hewan kecil mungil yang bermanfaat besar bagi mahluk yang lainnya terutama manusia. Itulah dia seekor lebah, yang pola dan gaya hidupnya penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan. Cara kerjanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya begitu mengagumkan, bukan hanya karena ia selalu memakan sari bunga yang bersih dan manis, tapi juga ia tak pernah membawa masalah atau kerusakan pada dahan dan ranting pohon atau bunga tempat ia mengambil sarinya. Ia hanya mengambil sari dari setiap bunga secukupnya, tidak akan pernah berlebihan, sehingga pohon dan bunganya tetap hidup dan tidak akan terganggu hidupnya karena dihisap sarinya oleh seekor lebah. Dan, di sini “mestinya kita malu pada seekor lebah.”

Masya Allah, mengapa kita harusnya malu? Ya karena manusia (kita ini), sudah diberi akal dan pikiran dan juga hati untuk membaca dan menganalisa serta merenungkan ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’ala, baik ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah-Nya yang bisa kita jadikan pelajaran (ibrah) sebagaimana halnya pada seekor lebah. Memang sih, seekor lebah yang pola dan gaya hidupnya yang penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan itu sudah diseting sedemikian rupa dari sananya oleh Allah Shubhanahu wata’ala, tapi pertanyaannya, apakah kita tidak merasa malu pada Tuhan yang telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya pada kita? Tentu saja kita pasti merasa malu jika kita memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Karena hanya orang-orang beriman yang memiliki rasa malu.

Agar kehidupan ini menjadi indah, menyenangkan dan sejahtera tentu membutuhkan manusia-manusia seperti itu, yang sifat dan karakter dirinya seperti lebah.  Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Hal ini memberi inspirasi dan pelajaran kepada kita, bagaimana seharusnya kita mencari dan mendapatkan rezeki yang halal dan baik untuk kita dan anak serta istri kita di rumah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)-(Dakwatuna.com)

Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)-(Dakwatuna.com)

Ada beberapa sifat dan karakter dari seekor lebah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dan sebagai pola hidup, di antaranya :

1.  Kehadirannya bermanfaat dan tidak merusak.

Tubuhnya yang kecil mungil membuat ia mampu terbang dan hinggap di mana saja tanpa merusak tempat di mana ia berhenti. Sekecil apapun dahan dan ranting pada pohon atau bunga yang ia hinggapi tak akan ada yang patah. Hal ini memberikan inspirasi kepada kita untuk selalu bisa beradaptasi dengan baik di manapun kita berada, dan tidak membawa masalah atau kerusakan di lingkungan itu dan sedapat mungkin bisa membawa manfaat dan kebaikan bagi lingkungan di manapun kita berada.

2.  Tidak mengganggu jika tidak diganggu.

Yang ini adalah sifat kesatria, di mana ia akan bersikap bersahabat dan tidak membahayakan siapapun sepanjang tidak diganggu. Tetapi sekali ia diganggu, maka mereka serempak akan menyerang dan mengejar musuh atau pengganggunya ke manapun pergi meskipun musuhnya bersembunyi (menyelam)di sungai, mereka tetap akan menunggu hingga muncul kembali dan segera menyerang dan menyengat. Hal ini merupakan pelajaran bagi kita dalam mempertahankan harga diri dan kehormatan diri maupun keluarga, bangsa dan negara kita apabila ada orang atau pihak yang mencoba menggangu dan menginjak-injak kehormatan diri dan bangsa, maka taruhannya adalah nyawa sekalipun.

3.  Tidak menghasilkan kecuali yang terbaik.

imageedit_13_9838238824
Pixabay.com

Seekor lebah dalam mencari bahan makanan tidak akan pernah mendatangi tempat atau sumber yang kotor. Ia akan selalu memilih sumber-sumber makanan yang bersih, segar dan tentunya yang manis, sehingga ia tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali dengan kualitas terbaik. Dengan sifat dan karakter lebah seperti ini, maka kita dapat mengambil pelajaran, tentang bagaimana seharusnya kita memilih yang terbaik di antara sekian banyak rezeki dan karunia yang disediakan oleh Allah shubhanahu wata’ala untuk kita persembahkan buat keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Dengan demikian kita bisa berharap akan menghasilkan juga kemanfaatan dan kebaikan bagi keluarga dan mansyarakat di lingkungan kita.

Demikian catatan singkat ini, semoga bermafaat dan kita bisa mengambil pelajaran dari sifat dan falsafah hidup seekor lebah. Wallah a’lam.

SPARK OF CONTENT :

Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam said, “The Parable of the believers are like bees. He is eating clean, pull something clean, perched on a clean and does not damage or break (its host). “(Ahmad, Al-Hakim, and al-Bazzar). There are several nature and character of a bee that we can take it as a lesson and as a pattern of life, including: 1. It’s beneficial presence and not damage  2. Unobtrusive if it is not  disturbed  3. It does not produce but the best. How it works in meeting their needs so remarkable, not just because he always takes the nectar of flowers were clean and sweet, but he never brought any problems or damage to the branches and twigs of trees or flowers where he took the juice. He just took the essence of each flower to taste, will never be excessive, so the trees and flowers are still alive and will not be disrupted her life because the juice is sucked by a bee. And, “we should be ashamed of a bee.”

Related articles :

  1. Ya Allah, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami
  2. Mengenal dan memiliki visi ke surga
  3. Demi masa
  4. Manfaat puasa bagi kesehatan
  5. Syukurilah semua pemberian Allah pada kita
  6. Maafkanlah orang lain dengan ikhlas, anda akan sehat
  7. Cinta dan benci karena Allah
  8. Belajar ikhlas dalam beramal dan beribadah
  9. Bait-bait rindu
  10. Ijinkan aku bercerita

Riya’ Dan Cara Menghindarinya

imageedit_5_8457466341
Pixabay

Riya’ atau boleh juga disebut pamer amal. Jadi, apapun yang kita miliki, kita lakukan, kita tampakkan kepada manusia dengan tujuan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, adalah riya’. Salah satu, atau mungkin satu-satunya sifat manusia yang sulit dihindari kemunculannya dari dalam hati kita adalah sifat riya’. Saking sulitnya untuk dihindari, hingga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun sangat mengkhawatirkan sifat riya’ ini akan menghinggapi umatnya di dalam beribadah dan melakukan amal-amal kebaikan mereka.

Kekhawatiran Nabi ini bisa kita ketahui dari sabdanya, berikut ini :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

Yang artinya : “Sesungguhnya yang paling ditakuti dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashgar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashgar ya Rasulullah? Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab ‘ar riya’.” (HR Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid no.27742).

Strategi Atau Cara Mengatasi Riya’

Dari beberapa referensi yang ada, cukup banyak cara atau strategi untuk mengatasi sifat riya’. Pada postingan ini, saya mengutip 4 (empat) strategi atau cara yang bisa kita upayakan untuk mengatasi bahaya dari sifat riya’ ini, yaitu sebagai berikut :

Pasang niat dalam hati kita, agar semua amal ibadah yang akan kita kerjakan tidak untuk mengharapkan sanjungan dan pujian dari orang lain, tetapi semata-mata ikhlas karena Allah Ta’ala.
Upayakan amalan-amalan yang sekiranya bisa disekitambunyikan pelaksanaannya, agar disembunyikan atau dirahasiakan dari mata orang lain. Misalnya amalan seperti sedekah, berdzikir, puasa, dan lain-lain.
Menyadari akan bahaya riya. Dengan kesadaran bahwa sifat riya; sesungguhnya merupakan sebuah virus penyakit yang dapat menggerogoti semua amal kebaikan , yang dengan kesadaran itu insya Allah kita akan dapat mengontrol hati kita untuk tetap fokus beramal hanya untuk mengharapkan ridho dan rahmat Allah.
Iringi selalu semua amal ibadah yang kita lakukan dengan do’a. Bacalah do’a untuk menghindari riya’ atau syirik kecil ini, sesuai yang diajarkan oleh Nabi kita, berikut ini.
اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه

“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”(HR.Ahmad)

Beberapa Bentuk Riya’

Bentuk-bentuk riya’ beraneka ragam warnanya dan coraknya. Bisa berupa perbuatan, perkataan, atau pun penampilan yang diniatkan sekedar mencari popularitas dan sanjungan orang lain, maka ini semua tergolong dari bentuk-bentuk perbuatan riya’ yang dilarang dalam agama Islam.

Hukum Riya’

Riya’ merupakan dosa besar. Karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil. Sebagaimana hadits di atas dari shahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.”
Selain riya’ merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam mara bahaya.

Jika terlintas di hati kita keinginan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, maka sadarlah bahwa hal itu adalah salah satu penyakit riya yang membawa kepada kemurkaan Allah, dan segeralah mengusirnya dari pikiran dan hati kita, karena itu bisikan syetan. Sebagaimana diketahui bahwa keinginan agar orang lain mengetahui dan menyanjung apa yang kita lakukan merupakan syahwat yang dihembuskan setan untuk membawa kepada perbuatan riya. Oleh karenanya, dengan mengetahui bahaya dari perbuatan riya semoga akan menimbulkan kebencian terhadap melakukan perbuatan itu.
Riya’ atau syirik kecil ini sangat berbahaya bagi keikhlasan amal ibadah kita kepada Allah, karena itu hendaknya kita bisa membangun komitmen dan tekad yang kuat untuk melawan dan menolak kehadirannya dalam hati kita. Itulah riya’ dengan segala bentuk rupa, dan bahayanya. Semoga dengan empat cara di atas, kita bisa mengatasi bahaya riya’ dan semoga tulisan ini bermafaat, aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab
Dikutip dari beberapa sumber terkait…

SPARK OF CONTENT :

One, or perhaps the only human nature that is difficult to avoid emergence of our hearts is the nature of riya ‘. Because of the difficulty to be avoided, until our Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam was very concerned about the nature of riya’ will befall his people in worship and doing their good deeds. When it comes to our hearts the desire for adulation and praise from others, then realized that it was one of riya disease that leads to wrath, and immediately expelled from our minds and hearts, as it satanic whispers. As we know that the desire to let others know and flatter what we do is lust exhaled devil to bring to deed riya. Therefore, knowing the dangers of the act of riya hopefully will lead to hatred against committing such crimes.
Riya ‘or minor shirk is very dangerous for our deeds sincerity to God, therefore we should be able to build commitment and determination to resist and reject the presence in our hearts. That riya ‘with all such forms, and all of its dangerous impacts.

Berjanji ? Yuk, Kita Tepati Jangan diingkari

imageedit_30_7116062443
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam hidup ini, setiap orang pasti pernah berjanji, atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, dan hal itu adalah sesuatu yang lazim dalam hubungan kita dengan orang lain atau hidup bermasyarakat. Apakah janji itu berupa iming-iming suatu pemberian yang membuat orang lain merasa senang dan sangat mengharapkannya, atau hanya berupa janji untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat dan waktu tertentu, dan tentu masih banyak lagi macam janji.

Yang pasti janji atau lebih tepatnya berjanji itu boleh dan tidak dilarang dalam Islam, asalkan janji itu ditepati. Yang dilarang adalah mengingkari janji dan apabila itu terjadi, maka itu adalah dosa.

Dalam Al qur’an Allah Subhanahu wata’aala berfirman,

“Dan tunaikanlah janji kalian. Sungguh, janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra`:34).

Kemudian di surat lain dalam Al Qur’an Allah berfirman,

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (QS. An-Nahl:91).

Lalu Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengobral janji mereka (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka, mereka itu tidak akan mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan menyapa mereka dan tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka.

Bagi mereka azab yang pedih” (QS. Ali ‘Imran:77).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka” (QS. Annisa:145).

Itulah beberapa ayat suci Al ur’an yang menerangkan tentang janji, dimana apabila janji ditepati maka pelakunya akan diganjar dengan pahala berupa ditempatkan di surga, dan orang yang tidak menepati janji atau ingkar janji, maka dia termasuk golongan orang munafik, maka tempatnya adalah di neraka, bahkan di neraka paling bawah.

Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalaam dalam sabdanya,

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Muslim)

“Tiga hal, siapa pun yang ada pada tiga hal itu disebut munafik, kendati ia berpuasa, mengerjakan shalat, dan mengaku dirinya Muslim. Yaitu apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyalahi janji, dan apabila dipercayai ia berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim).

Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati. Oleh karena itu, Allah SWT. memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah SWT., janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar.

Itulah perbedaan antara seorang mukmin dan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya, bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)

Semua orang tidak akan suka kepada orang yang “ingkar janji”. Karenanya, cepat atau lambat dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka. Karena Ingkar janji terhadap siapapun tidak dibenarkan dalam Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela.

imageedit_4_2315913699
Pixabay.com

Dari penjelasan Al Qur’an dan hadits di atas, kita dapat mengatakan bahwa berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain (untuk kebaikan) itu tidaklah dilarang, asalkan yang membuat janji itu menepatinya, dan menepati janji itu hukumnya wajib. Oleh karena itu, ketika berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, maka biasakanlah berjanji, dengan mengucapkan kalimat, Insya Allah. semoga Allah mengijinkan kita.

Apabila karena ada satu dan lain hal janji tersebut tidak atau belum bisa ditepati, maka hendaknya harus ada penjelasan kembali mengenai alasan-alasan mengapa sebuah janji belum bisa dipenuhi, termasuk di dalamnya penjadwalan kembali (rescheduling) waktu-waktunya. Ini semua harus dilakukan agar orang lain di mana janji tersebut ditujukan, tidak merasa dibohongi dan tidak kecewa.

Semoga kita tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang suka mengingkari janji untuk selamanya hingga ajal menjemput, aamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

SPARK OF CONTENT :

In Islam, the promise is actually equal to the debt. So it must be kept and shall not be denied. As in the case of the debt, if we owe something to someone then let the debt was paid in accordance with the contract or agreement that was created earlier. So, keeping promises is part of the faith. Those who do not keep the agreement then there is no religion for him. So anyway such broken promises, including signs and proof of their hypocrisy that ugly treason and destruction of the heart. Therefore, Allah the Almighty God commanded His believing servants to always keep, maintain, and carry out his promise. This includes the appointment of a servant to Allah, promise slave with a slave, and a promise to himself as nadzar.

Untuk Apa Kita Diciptakan?

imageedit_1_4036582253.jpg
pixabay.com

Sebuah pertanyaan penting yang harus segera kita temukan jawabannya agar hidup kita di dunia yang fana ini terarah dan memiliki tujuan yang jelas. Bila kita sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan ini, maka kita sudah memiliki pemahaman tentang makna dari pertanyaan judul di atas, dan dengan demikian minimal kita sudah memiliki arah yang jelas dan pasti untuk dituju dalam perjalanan panjang atau pendek hidup kita di dunia ini. Untuk itu, berikut ini saya ambilkan sebuah artikel yang saya reblog dari bekas blog saya yang sudah tidak bisa lagi saya kelola karena akunnya sudah disuspend yah. Namun masih bisa diakses dari luar untuk melihat dan membaca kembali konten-konten yang ada di sana. Selamat membaca!

Straight Path

Kehidupan di dunia pada dasarnya hanyalah senda gurau atau main-main saja. Orang akan semakin merugi bila tidak tahu untuk apa ia diciptakan Allah dan menjalani kehidupan di dunia ini.

Kalau kita melihat besarnya kekuasaan Allah, niscaya kita akan segera mengucapkan “Allahu Akbar”, “Subhanallah”. Allah menciptakan langit tanpa tiang serta semua bintang yang menghiasinya dan Allah turunkan darinya air hujan dan tumbuh dengannya segala jenis tumbuh-tumbuhan. Bumi terhampar sangat luas, segala jenis makhluk bertempat tinggal di atasnya, berbagai kenikmatan dikandungnya dan setiap orang dengan mudah bepergian ke mana yang dia inginkan.

Binatang ada dengan berbagai jenis, bentuk, dan warnanya. Tumbuh-tumbuhan dengan segala jenisnya dan buah-buahan dengan segala rasa dan warnanya. Laut yang sangat luas dan segala rizki yang ada di dalamnya semuanya mengingatkan kita kepada kebesaran Allah dan ke-Mahaagungan-Nya.

Kita meyakini bahwa Allah menciptakan semuanya itu memiliki tujuan dan tidak sia-sia. Maka dari itu mari kita berlaku jujur pada…

Lihat pos aslinya 1.235 kata lagi

Empty Nest Syndrome

imageedit_10_2305972535
Pixabay

Dulu sewaktu masa-masa kuliah, saya masih ingat ada pelajaran atau mata kuliah yang membahas tetang topik seperti yang saya jadikan judul tulisan ini. Iya, ini mata kuliah psikologi karena membahas perilaku manusia sebagai refleksi dari kondisi emosional dan sosialnya. Saya juga masih ingat betul ketika dosen mata kuliah tersebut menjelaskan, bahwa sindroma atau gejala perasaan kehilangan yang dialami oleh orang tua (parent) pada saat dimana anak-anak mulai meninggalkan rumah mereka (orang tua mereka) karena berbagai alasan. Pada saat itu, orang tua akan mengalami apa yang disebut dengan Empty Nest Syndrome.

Mereka merasa seakan berada di sebuah sarang kosong atau rumah tanpa seorangpun kecuali mereka berdua. Dalam wikipedia.com yang saya kutip dijelaskan bahwa, “Empty nest syndrome is a feeling of grief and loneliness parents may feel when their children leave home for the first time, such as to live on their own or to attend a college oruniversity. It is not a clinical condition.”

Perasaan seperti ini memang akan dialami oleh setiap orang tua terutama si ibu ketika anak-anak mulai meningalkan rumah karena berbagai alasan, misalnya mereka pergi merantau ke luar kota atau keluar negeri untuk kuliah, menikah dan membentuk rumah tangga sendiri, meninggal dunia atau karena berbagai sebab lainnya. Orang tua akan merasa sedih dan rindu serta kesepian yang cukup bahkan sangat menekan perasaan untuk pertama kali, namun simptom ini biasanya akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Adalah hal yang wajar dan normal ketika anak-anak dewasa muda ini pergi meninggalkan rumah untuk sesuatu alasan seperti yang dipaparkan di atas. Namun akan dirasakan sekali oleh orang tua mereka, terutama oleh si ibu yang biasanya hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurus dan merawat anak-anak mereka sejak kecil hingga dewasa.

Pertanyaannya, apakah semua orang tua atau pasangan usia lanjut ini akan mengalami sindroma sarang kosong ini? Jawabannya relatif, bergantung pada kesiapan mental dan juga pemahaman dan penghayatan mereka tentang nilai-nilai dan agama yang mereka anut. Juga tergantung apakah mereka tergolong orang tua yang sulit menerima perubahan yang terjadi dalam hidup mereka, atau sebaliknya. Karena ada orang tua yang tidak terlalu peduli dengan perasaan kehilangan semacam itu dan mereka bisa menyiasatinya dengan membuat agenda-agenda kesibukan sendiri untuk mengisi waktu luang di hari tua mereka, misalnya setelah pension dari pekerjaan, meskipun di rumah hanya tinggal mereka berdua.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa seorang ibu yang bertindak sebagai pengasuh

utama bagi anak-anaknya lebih mungkin akan mengalami sindroma sarang kosong ini dibanding seorang ayah. Namun penelitian lain juga menunjukkan bahwa beberapa ayah mengungkapkan perasaan bahwa mereka tidak siap dalam menghadapi transisi emosional yang terjadi sebagai akibat anak-anak mereka meninggalkan rumah. Sementara yang lain menyatakan perasaan bersalahnya atas kehilangan kesempatan untuk lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka, sebelum mereka meninggalkan rumah.

Menurut Rahmah (2006), penyesuaian awal yang harus dilakukan adalah penyesuaian terhadap keluarga yang dalam hal ini berarti pasangan hidup atau suami, dan secara otomatis menyebabkan harus dilakukannya perubahan peran.

Perubahan peran seorang ibu akan menjadi awal penyesuaian diri menghadapi sindrom sarang kosong. Seorang ibu yang masih memiliki pasangan, cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan ibu yang sudah tidak memiliki pasangan. Keberadaan pasangan sangat berpengaruh dalam mencapai keseimbangan diri seorang ibu setelah kepergian anak, karena orientasi peran dalam hidup kembali berpusatkan pada pasangan. Selain itu, keberadaan pasangan juga mampu mereduksi kesedihan dan rasa sepi pada diri seorang ibu. Untuk ibu yang sudah tidak didampingi pasangan, cenderung mengorientasikan diri pada kegiatan diluar rumah. Dengan melibatkan diri pada kesibukan dan keramaian di luar rumah, seorang ibu mendapatkan kompensasi atas rasa kehilangannya terhadap anak-anak.

Kemudian bersamaan dengan berjalannya waktu sebagai pemicu munculnya kebiasaan, seorang ibu akan keluar dari sindrom sarang kosong. (Rahmah, N. (2006) Penyesuaian Diri Ibu Menghadapi Sindrom Sarang Kosong. http://www.adln.lib.unair.ac.id. Diakses 26 Agustus 2008.)

Dari uraian di atas saya hanya bisa mengatakan bahwa gejala sarang kosong ini tidak perlu menjadi momok bagi siapapun, asalkan kita bisa menyiasati masa-masa itu dengan berbagai aktivitas positif dan bisa membangun kembali hubungan yang lebih baik lagi dengan pasangan kita, juga dengan orang lain di sekitar rumah kita.

Demikian beberapa coretan singkat di pagi hari ini, semoga bermanfaat. Atau ada pandangan dan pemikiran yang berbeda dari para pembaca? silakan dishare di kolom komentar di bawah ini.

SPARK OF CONTENT :.

In wikipedia.com I quoted an opinion that explains that, “Empty nest syndrome is a feeling of grief and loneliness parents may feel when Reviews their children leave home for the first time, such as to live on their own or to Attend a college or university. It is not a clinical condition. “This kind of feeling will indeed be experienced by every parent, especially the mother when the children started leaving home for various reasons, for example, they go wander out of town or out of state for college, marry and form households alone, dies or for various other reasons. From the above, I can only say that the symptoms of empty nest does not have to be a scourge for anyone, as long as we can get around that period with a variety of positive activities and can rebuild a better relationship again with our partner, also with others in around our homes and with our social environment more broadly.

Artikel lainnya :

  1. Keutamaan menjaga lisan
  2. Cara membuat halaman depan statis pada blog
  3. Bolehkan menonton permainan sulap?
  4. Menyegerakan berbuat kebaikan dan bahaya menundanya
  5. Semuanya sudah sangat terlambat
  6. Selalu ada bahagia di penghujung kesedihan
  7. Riya’ dan cara menghindarinya
  8. Dikir pagi dan petang dan keutamaannya
  9. Untuk apa kita diciptakan?
  10. Munajat tak pernah putus

Bahagia Itu Milik Orang Beriman

6335767853_8074207337_z
Yahoo image.com

Sungguh kebahagiaan itu benar-benar menjadi dambaan setiap orang, siapapun dia  dan apapun agama dan keyakinan yang dianutnya. Maka berimanlah anda secara penuh pada agama yang anda peluk saat ini, jangan setengah-setengah, insya Allah anda pasti bahagia. Bahagia yang dimaksudkan pada judul tersebut adalah kebahagiaan yang hakiki dan langgeng yang letaknya di dalam hati setiap orang yang beriman. Jadi bahagia itu betul-betul hanya miliki orang-orang beriman. bukan milik orang-orang yang tidak beriman. Mengapa bisa begitu keadaannya? Karena kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang beriman itu adalah bersumber dari keimanannya kepada Tuhan (Allah Shubhanahu wata’ala) untuk muslim/mukmin.

Terkait hal ini saya mengutip beberapa alenia dari tulisan Ibnu Anwar berikut ini.

“Kebahagiaan adalah sebuah keadaan di mana hati manusia merasakan kedamaian dan ketenteraman. Keadaan tersebut tidak bergantung pada wujud kebendaan atau raga manusia, melainkan bergantung pada suasana dan keadaan ruhani mereka masing-masing. Semenjak kebahagiaan selalu terletak di dalam hati, maka keterbatasan raga seperti apapun yang dimiliki oleh manusia pada dasarnya tak akan pernah menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka.” (Era Muslim-Media Islam Rujukan)

Ketenangan dan kebahagiaan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Tentang hal ini Allah berfirman:

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al Fath [48]: 4)

Demikian Allah shubhanahu wata’ala menjelaskan dalam firman-Nya bahwa orang-orang beriman akan mendapatkan tambahan dalam hati mereka ketenangan (sakinah) dari Allah shubhanahu wata’ala sehingga keimanan mereka akan selalu bertambah dari waktu ke waktu, tentu saja sesuai dengan keteguhan hati (istiqomah) mereka dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)

Mengapa orang-orang beriman selalu bahagia? Beberapa kutipan berikut ini adalah jawabannya, juga karena :

  1. Visi dan misi hidupnya di dunia yang sebentar ini sangat jelas arah tujuannya yaitu ingin sekali ridho Alloh, tidak geer karena pujian, tidak sakit hati karena hinaan, tidak minder karena keadaan, tidak mudah menyerah menghadapi ujian hidup (QS. Al-Bayyinah : 5) “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
  2. “Al iimaan al amnu”, iman kepada Alloh itu membuat hidupnya tenang, damai, aman dan bahagia sekali (QS. al-An’am : 82) Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
  3. Tidak ada yang ditakutinya selain Alloh (QS. Al-Baqoroh : 150) “Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”
  4. Ia serius taat, tidak maksiat (QS. Yunus : 62). “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
  5. Selalu baik sangka, tidak berprasangka buruk, tidak ada dengki dan tidak suka mencari aib orang lain, justru ia sibuk dan asyik muhasabah diri (QS. Al-Hujarat : 12) “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
  6. Keinginannya yang kuat untuk bahagia di akhirat itulah yang membuatnya sibuk dengan ibadah, amal sholeh, kemuliaan akhlak dan semangat dalam perbaikan dan kebaikan (QS. Al-Ankabut : 69) Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
  7. Tawakkalnya yang kuat kepada Alloh sehingga ia pun dalam perlindungan Alloh (QS. Ath-Tholaq : 3). “……Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Muhammad W.Budiman, Cahaya Wahyu-Menerangi Seluruh Alam Raya)
th (85)
Yahoo image

Dari urairan di atas dapat saya simpulkan bahwa bahagia itu hanya milik orang-orang beriman. Mengapa, karena orang-orang beriman sajalah yang senantiasa inggat pada Allah Shubhanahu wata’ala. “ALAA BIDZIKRILLAHI TATHMAINNUL QULUB” Yang artinya : “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang” (QS. Ar Ra’du :28). Tidak akan pernah ada kebahagiaan dalam diri dan hati orang-orang yang tidak beriman, selain hanya kesenangan dan kepuasan yang sifatnya sesaat karena hanya bersumber dari harta dan dunia. Karena mereka tidak punya visi yang ingin di raih di akhirat kelak@ Wallahu a’lam.

Demikian yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini, barangkali ada pandangan yang berbeda dari para pembaca, saya tunggu share-nya.

SPARK OF CONTENT :

Tranquility and happiness is a gift of God which is given only to those who believe. Concerning this Allah says: “It is He Who sent down tranquility into the hearts of the believers so that their faith to grow in addition to their faith (which already exist). And Allah belong the armies of heaven and earth and Allah is ever Knower, Wise. “(QS. Al-Fath [48]: 4) Why are people of faith are always happy? because: 1. The vision and mission of his life in a world that is very clear briefly toward his goal of wanting all the blessings of Allah, 2. “Al iimaan al amnu” faith in Allah that makes life calm, peaceful, secure and happy once, 3. No feared besides Allah, 4. he seriously disobedient, immoral, 5. Always good thought, no prejudice, no envy and dislike looking disgrace of others, instead he was busy and engrossed muhasabah themselves, 6. strong desire to happy in the afterlife that’s what makes it busy with worship, pious charity, moral glory and the spirit of improvement and kindness, 7. Strong faith to Allah that he was under the protection of Allah Almighty God.

Related articles :

  1. Bertaubatlah sebelum ajal menjemput
  2. Etika memberi nama anak dalam Islam
  3. Ingat dan pelihara selalu tujuan baik
  4. Bersikap tenang dan kendalikan emosi
  5. Menghargai hak dan kepentingan orang lain

Lihatlah Ke Bawah

children-63175__340
Pixabay

Dengan sedikit menyimak judul di atas, anda sudah bisa menebak apa sebenarnya makna yang terkandung dalam ungkapan itu. Dalam sebuah hadisnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan para sahabatnya dan tentunya kepada kita semua, agar melihat ke bawah yaitu melihat dengan mata hati akan orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Beliau juga mengingatkan bahwa ketika anda melihat orang-orang di level atas yang memiliki beberapa kelebihan harta dan segala fasilitas yang tidak atau belum kita miliki, maka segeralah anda merenungkan bahwa ternyata kita masih lebih beruntung dibandingkan orang-orang di level bawah kita dalam hal harta dan dunia.

Dengan demikian, mudah-mudahan kita tersadarkan dan segera bersyukur atas begitu banyak nikmat Allah shubhanahu wata’ala yang telah kita terima selama hidup. Dan insya Allah kita akan tetap merasa bahagia secara batiniah meski tidak berlimpah harta.

Dalam hidup ini kita pasti menginginkan punya harta dan segala fasilitas yang memudahkan kita untuk mendapatkan kenyamanan hidup atau boleh disebut dengan kebahagiaan hidup di dunia (sifatnya materi). Dan hal ini adalah sesuatu yang wajar, dan agama juga tidak melarang kita untuk itu, asalkan tidak sampai berlebihan dan menghalalkan segala cara dalam mendapatkanya. Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil, dan seterusnya sampai pesawat pun dia inginkan. Itulah watak manusia yang tidak pernah puas.

Agar kita tidak mudah melupakan atau meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan-Nya kepada kita, maka Rasulullah mengingatkan kita sebagaimana sabdanya berikut ini :

Rasulullah SAW bersabda: “lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari pada kamu dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka hal itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah atasmu.” (Muutafaq ‘Alaih)

Penjelasan Hadits

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menyuruh kaum muslimin agar memandang orang yang berada di bawah mereka, baik mengenai bentuk dan rupa tubuhnya, kesehatan dan kesejahteraannya, harta dan kekayaannya maupun yang lain-lainnya. Dengan cara demikian, mereka akan merasa beruntung dan lebih baik keadaan mereka dibandingkan dengan yang dibawah standar nasib mereka.

Sebaliknya Rasulullah SAW melarang kaum muslimin memandang orang yang di atas mereka sebab dapat menimbulkan rasa kecil hati dan rendah diri dan bahkan bukan mustahil dapat menimbulkan rasa kecewa, menyesal diri dan mungkin timbul persangkaan yang buruk kepada Allah SWT bahwa Dia tidak memperhatikan keadaan dirinya atau pilih kasih dalam pemberian nikmat.

Jika orang sudah tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia punya, maka dia akan terus berangan-angan dan bahagiakah yang dia rasakan? Hanya dia yang tahu jawabannya, tetapi umumnya orang mengatakan bahwa orang seperti itu, tidak bahagia karena tidak pernah merasa puas. Karena itu, sekali lagi saya harus mengatakan di sini, bahwa bahagia itu sederhana sekali, yaitu cukup menerima apa yang kita miliki, lalu mensyukurinya karena itu pemberian Allah shubhanahu wata’ala.

Melihat ke atas, tidak juga dilarang asalkan dalam hal-hal yang bisa memotivasi kita untuk mendapatkanya, seperti melihat orang-orang yang tingkat pendidikannya tinggi. Kaum muslimin dibenarkan melihat orang yang lebih tinggi derajatnya, khusus dalam masalah ketaatan dalam menjalankan agama (dalam hal kebaikan yang bernilai agama) atau dalam menuntut ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan yang bernilai agama. Melihat ke bawah, sebenarnya adalah sebuah jalan menuju kebahagiaan batin, yang pada gilirannya akan menjadikan badan kita sehat. Melihat ke bawah dalam hal harta dan dunia insya Allah akan membuat kita bisa lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi hidup ini…Wallahu a’lam.

Demikian catatan singkat sebagai refleksi hari-hari ku, semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Look down, to those who are less fortunate than us. Thus, hopefully we awakened and immediately give thanks to Allah Almighty God for so many blessings that we have received during our life. And God willing, we will continue to feel happy inwardly though not abundant treasures. Looking up, nor prohibited as long as the things that can motivate us to obtain them, such as seeing people who are high-level education and we are motivated. Looking down, is actually a path to inner happiness, which in turn will make our body healthy. Looking down the world in terms of wealth and God willing, will allow us to be wise and prudent in dealing with this life.

Mau Bahagia? Buatlah Orang Lain Bahagia

imageedit_22_4533264037
Spreadthepearl.com

Hanya Bila Anda Sungguh Percaya. Ada semacam hukum kausalitas, sebab akibat atau apalah istilahnya. Dan itu, memang demikianlah adanya hidup ini. Jika kita ingin senang maka buatlah orang lain senang. Berbagilah kesenangan itu sekecil apapun dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, jika ingin hidup kita sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Lalu, Siapa sih yang dimaksud dengan orang lain itu? Orang lain itu adalah semua orang selain diri kita sendiri. Mulai dari orang-orang di lingkungan keluarga kita sendiri, hingga seluas-luasnya (semampu kita) untuk menjangkaunya.

Kembali pada kalimat sebelumnya, bahwa jika kita ingin hidup sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Ah sadis benar, masa sih ada orang yang mau sengsara, tak mungkinlah itu, pasti semua pengen senang dan bahagia, nah itu yang benar. Dan Lakukanlah itu, hanya jika anda sungguh-sungguh percaya akan kebenaran pernyataan judul artikel di atas.

Memang, hukum atau rumus seperti yang kita diskusikan di atas juga bisa terbantahkan oleh sebagian realita kehidupan sosial kita. Kenyataannya, ada loh orang atau sebagian orang yang baru merasakan senang atau sukacita apabila melihat teman atau tetangganya susah. Percaya nggak anda, bahwa ada kenyataan semacam itu? Subhanallah, tapi kenyataan seperti itu memang ada, namun tidak perlu kita perpanjang membahasnya di sini.

Contoh Kecil Saja

Lalu yang penting kita bicarakan di sini adalah, bagaimana kita bisa menyenangkan orang lain, itu dulu.

Mengapa? karena hal ini amat sangat erat kaitannya dengan diri kita sendiri. Sesungguhnya, pada saat kita menyenangkan hati orang lain,  maka orang yang pertama kali merasakan kesenangan itu adalah diri kita sendiri, benarkan? Tapi dengan cara apa kita bisa menyenangkan orang lain? Anda tentu mengerti, bahwa untuk menyenangkan hati orang lain, tidak perlu dengan memberinya sesuatu yang mahal, atau yang sifatnya material, tapi mungkin cukup dengan hanya senyum yang tulus dan sapaan yang ramah tatkala bertemu. Atau juga ketika anak-anaknya rewel minta sesuatu, kebetulan ada uang receh di saku kita lalu dengan itu anaknya diam. Contoh kecil saja, Betapa senangnya anda, atau kita, ketika blogwalking kemana-mana, memberikan like dan juga komentar di blog teman, lalu temannya membalas memberikan komentar dan juga likenya, tidak hanya itu diapun membalas mengunjungi blog kita dan memberikan komentar dan likenya di blog kita, masya Allah, Indahnya hidup yang diwarnai silaturrahmi semacam ini. Sungguh, mungkin ini skenario Allah Shubhanahu wata’ala, yang menggerakkan hati dan juga tangan saya untuk menuliskan sekelumit catatan akhir tahun ini. Semoga menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi saya ke depan.

Karakter Manusia Beda-Beda

Tapi ingat, jangan terlalu banyak berharap pada sesama manusia, karena jika anda terlalu berharap banyak pada sesama manusia, anda akan kecewa. Mengapa, karena manusia karakternya beda-beda. Ada yang humanis, religius, egois, sosial, individualis dsb. Ada yang kejam, bengis, dan banyak lagi yang lainnya. Tapi jika digolongkan secara garis besar, maka karakter manusia itu hanya ada dua, yaitu manusia yang berkarakter baik dan manusia yang berkarakter buruk. Tapi di sini, kita juga perlu hati-hati dalam melihat dan menilai kondisi seseorang dengan siapa kita berinteraksi. Sebab belum tentu niat baik kita ingin menyenangkan orang lain akan direspon dengan baik pula. Karena akan sangat tergantung pada kondisi sosial psikologis seseorang pada saat itu. Ah…kejauhan pembahasannya. Saya hanya ingin membicarakan karakter manusia yang baik, karena dialah yang bisa diharapkan bisa memberikan atau membuat orang lain merasa bahagia, dan tak akan pernah bisa diemban oleh orang-orang dengan karakter buruk kecuali dia telah mendapatkan hidayah dari Tuhan. Tapi tentu, dengan banyak berharap kepada Allah, bukan berarti kita tidak lagi membutuhkan sesama, nah yang ini justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jadi yang benar adalah keseimbangan atau keselarasan antara hubungan kita dengan sesama dan hubungan kita dengan Allah. “Hablum minannaas wa hablum minallaah”.

Berharaplah Kepada Allah Swt

Berharap kepada manusia atau orang lain adalah hal yang lumrah bagi kita, karena kita saling membutuhkan dan saling ketergantungan dengan orang lain dalam hidup kita bermasyarakat. Tapi jangan terlalu berharap banyak. Berharaplah banyak-banyak kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang, maka anda dan kita semua pasti tidak akan pernah kecewa. Karena Dia-lah yang menjamin dan mengenggam di tangan-Nya nasib dan peruntungan semua hamba-Nya. Karena itu, jika anda ingin bahagia maka buatlah orang lain bahagia. Buatlah mereka senang ketika bersama anda, jangan pernah anda membuat mereka kecewa apalagi sengsara, dan berharaplah sebanyak-banyaknya kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah menyalahi janji-“Innallaha laa yukhliful mii’aad.

Demikianlah sekelumit cetusan pemikiran saya minggu ini, semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Share the slightest pleasure with others to see you happy, and vice versa if you want to be miserable then make others difficult. Why is that? because we as a people can not be separated from the others and therefore, their happiness is our happiness too

Hati-Hati Mencari Kebahagiaan

imageedit_6_3146320875
pixabay.com

Terinspirasi oleh fenomena sosial yang saya lihat setiap saat baik yang dijumpai langsung dalam masyarakat maupun melalui media cetak dan online, lalu sayapun menulis artikel ini dengan judul seperti di atas. Apa sih fenomena sosial itu ? Dia adalah gaya hidup atau life style sebagian masyarakat kita di era-era terakhir ini. Saya tidak mengatakan bahwa gaya hidup sebagai sebuah fenomena sosial yang tidak boleh ditiru atau dilakukan. Tetapi ada kecenderungan orang-orang menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tak peduli apakah cara yang mereka tempuh halal atau haram. Demi mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang bersifat materi dan hanya sementara sifatnya.

Benarkah dengan mendapatkan harta atau kekayaan berlimpah dari cara-cara yang tidak halal bisa membahagiakan mereka dalam arti sebenarnya ?  Jangan salah, dan harus berhati-hati dalam menggapai kebahagiaan. Sebab, jika salah dalam memilih cara menggapai bahagia, petualangan anda dalam mencari kebahagiaan akan berakhir dengan kekecewaan. Ada contoh, yang bisa kita ceritakan di sini bahwa ada orang atau sebagian orang yang berakhir kecewa, setelah petualangannya dalam mencari bahagia melalui korupsi, penipuan, pelacuran dan lain-lain, lalu ditangkap KPK atau polisi dan berakhir di penjara, entah berapa lama.

Padahal, kebahagiaan adalah hal yang amat sederhana. Karena dengan membangun pikiran positif dalam diri kita, maka bahagia itu segera kita gapai. Dan kebahagiaan adalah banyak bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan banyak anugerah dan karunia-Nya pada kita.

Begitu pun Islam mengajarkan umatnya, bagaimana cara memiliki dan mencari harta. Seorang Muslim dilarang untuk mencari harta dengan cara menipu, korupsi, mencuri dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah berikut ini.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 2 : 188)

Sadarkah kita bahwa pada diri kita begitu banyak, lengkap dan sempurnanya nikmat itu diberikan, ada mata, telinga, otak, hati, jantung dan lain-lain. Sudahkah semua nikmat itu kita syukuri dan kita gunakan sesuai dengan peruntukannya ?

Terkait dengan rasa syukur, saya mengutip pendapat yang mengatakan bahwa, “Syukur itu penting. Ketika kita memilih dan membangun pikiran syukur, kita tidak hanya mengubah sudut pandang kita, tetapi juga keadaan menjalani rasa syukur tersebut. Bersyukur adalah cara yang sangat baik untuk mengubah “anggapan kegagalan” kita; syukur dapat menolong untuk mengeluarkan kita dari suasana hati yang murung, membawa kita kembali ke jalur yang tepat, dan membuat kita maju terus ke arah yang positif. Emosi dari syukur, singkatnya, mempunyai pengaruh yang ajaib terhadap cara kita memandang dunia dan kehidupan ini.” (Roni Ismail, Menjadi bahagia dalam 60 menit, hal. 12).

imageedit_22_5788432557
pixabay.com

Gaya hidup yang mengedepankan kemewahan materi sebenarnya hanyalah kesenangan dan kebahagiaan yang semu dan tidak sejati sifatnya.  Mungkin kita mengira kalau yang punya rumah mewah, mobil mewah itu lebih bahagia dari si pemulung yang setiap hari hanya dapat cukup untuk makan hari itu, belum tentu, demikian pula sebaliknya. Jadi, berhati-hatilah dalam mencari kebahagiaan.

Alhamdulillah, mari senantiasa bersyukur atas segala rahmat dan karunia yang Allah berikan pada kita hingga saat ini, agar tetap bisa merasakan kebahagiaan dalam hati kita, yaitu kebahagiaan yang sejati@..Wallahu a’lam.

Demikian coretan singkat, semoga bermanfaat, amien.

Munajat Tak Pernah Putus

Oleh: M.Anis Matta

imageedit_51_9447566304
Pixabay.com

Beginilah sang musafir, bila mulai terbangun dari tidur panjangnya. Ia mulai membersihkan wajahnya dengan wudhu dan menjalani hari-harinya dengan menujat yang tak pernah putus. Hatinya telah terbang tinggi ke langit dan terpaut di sana. Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat lain dalam bumi, hatinya bercengkerama di ketinggian langit.

Kini, sang Musafir telah menyadari bahwa doa bukanlah pekerjaan sederhana. Doa bukanlah kumpulan kata yang kering. Doa bukanlah harapan yang dingin. Doa bukanlah sekadar menengadahkan kedua tangan ke langit.

Tidak! Kini, sang musafir menyesali mengapa ia terlambat memahami makna dan hakikat doa. Ternyata doa adalah “surat” dari sang jiwa yang senantiasa terpaut pada langit. Doa adalah rindu kepada Allah yang tak pernah selesai. Maka, setiap kata dalam doa adalah gelombang jiwa yang getarannya niscaya terdengar ke semua lapisan langit. Di sini, tiada tempat bagi kepura-puraan. Di sini, tak ada ruang bagi kebohongan. Begitulah jiwa sang musafir, terus berlari ke perhentian terakhir, ketika raganya masih berada dalam gerbong kereta waktu. Dengarlah munajat sang musafir. “Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan menyembah-Mu dengan cara yang baik.” (h.r. Abu Dawud dari Muadz bin Jabal)-

Persahabatan

imageedit_36_3099932659
Pixabay

Persahabatan, pertemanan atau perkawanan, itu adalah sebuah kata bahasa Indonesia yang bila dijadikan kata kerja menjadi bersahabat, berteman dan berkawan. Saya tidak atau belum tahu betul apa sebenarnya makna juga hikmah dibalik kata persahabatan. Tapi yang pasti, yang saya ketahui bahwa membangun persahabatan adalah sesuatu yang positif sifatnya. Terlepas dari apa maksud dan tujuan orang dalam membangun persahabatan itu sendiri. Di dunia maya yang kini sedang kita geluti begitu marak istilah ini muncul di berbagai komentar kita untuk menunjukkan rasa persahabatan ini. Seperti ucapan salam, salam kenal, salam persahabatan, salam hormat, salam takzim, salam untuk keluarga dan lain-lain.

Ada yang bilang atau kalau saya tidak salah, dalam satu puisi yang pernah saya baca di salah satu postingan teman mengatakan, bahwa pertemanan di dunia maya sekarang ini semakin marak, sementara dengan tetangga kiri-kanan jarang bertegur-sapa. Subhanallah, saya kira sebait puisi di atas adalah peringatan atau teguran yang sangat bermanfaat. Mengapa demikian, karena memang kecenderungan pola hidup atau gaya hidup manusia di era sekarang ini sedang mengarah atau bahkan sudah berada pada pola hidup yang individualistis dan hedonistis. Terutama dalam pola hidup dan gaya hidup masyarakat di perkotaan, yang mana sedikit demi sedikit akan merambat juga pada gaya hidup masyarakat pedesaan. Terkait dengan gaya hidup individualistik ini berikut saya mengutip pendapat seorang tokoh.

“Sikap individualistik tidak sejalan dengan nilai Islam. Dalam hidup bermasyarakat, Islam mengajarkan untuk hidup berdampingan secara harmonis, saling menghargai, toleran, dan tolong menolong,” seru Prof. Anas.Gaya hidup individualistik yang berujung pada materialistik kini telah merebak di Indonesia. Menurut Prof. Anas, gaya hidup ini lebih mengutamakan nafsu duniawi sebagai tujuan hidup. Akibatnya, kebahagiaan yang didapat justru hanya melahirkan sebuah kebahagiaan semu.”

Jadi, mari kita membangun pola hidup atau gaya hidup yang egaliter saja jangan yang individualistik, karena seperti kata beliau di atas bahwa gaya hidup individualistis tidak akan menghasilkan kecuali hanya kebahagiaan yang semu.

Kemudian terkait dengan arti atau makna dari kata pertemanan atau persahabatan saya mengutip dari http://www.bacaislam.com.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Maukah aku tunjukkan pada kalian tentang sesuatu yang derajatnya lebih utama daripada sholat, puasa, sedekah?”

Para sahabat: ‘Mau, wahai Rasulullah!’
Beliau saw: “perbaiki pergaulan, karena rusaknya hubungan baik berarti mencukur, aku tidak mengatakan mencukur rambut, tapi mencukur AGAMA”
(HR At-Tirmidzi)
Seorang ulama  mengatakan :
  1. Seorang sahabat adalah orang yang tidak ingin dirimu menderita, akan terus memberimu semangat ketika engkau sedang terpuruk.
  2. Tidak ikut mencaci ketika orang lain mencacimu.

Lalu bagaimana kriteria sahabat yang baik?

Lukman alhakim menasihati anaknya:
  1. Wahai anakku setelah kau mendapatkan keimanan pada Allah, maka carilah teman yg baik dan tulus..
  2. Perumpamaan teman yg baik seperti “pohon” jika kau duduk di bawahnya dia dpt menaungimu, jika kau mengambil buahnya dpt kau makan.
  3. Jika ia tak bermanfaat untuk mu ia juga tak akan membahayakan-mu.

Kembali pada fokus pembicaraan kita tentang persahabatan, bahwa kita dalam hidup bisa bersahabat atau berteman dengan siapa saja, kapan saja  dan di mana saja. Mau di dunia maya atau dunia nyata yang penting dalam membangun persahabatan adalah dengan niat yang baik, syukur-syukur punya niat berteman karena Allah shubhanahu wata’ala dan berharap untuk mendapatkan pahala di akhirat kelak, yakni sama-sama diperkenankan untuk memasuki surga-Nya. Karena sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits, bahwa ” Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niat.” Jadi, peranan niat dalam segala amal ibadah kita sangatlah vital.

Karena itu, kita bersahabat di mana saja dengan siapapun asalkan dengan niat seperti yang dijelaskan di atas adalah sesuatu yang baik (positif). Dan bagi saya, justru ada nilai plus bagi yang juga membangun persahabatan di dunia maya dari sekedar hanya punya sahabat atau teman di dunia nyata. Asalkan, sekali lagi dengan niat yang baik dan mengharapkan ridho dan kasih sayang dari Allah shubhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Demikian catatan singkat saya mengenai persahabatan, mudah-mudahan bermanfaat. aamien.

Ingat Dan Pelihara Selalu Tujuan Baik

imageedit_1_3529510941
pixabay.com

Bismillaah Hirahmaanir Rahiim

Setiap orang pasti akan pergi meninggalkan rumah, entah karena ada kebutuhan yang amat penting atau karena hanya sekedar berjalan mengitari rumah atau komplek di lingkungan tempat tinggal kita. Oleh karena itu, melangkahkan kaki meninggalkan rumah, entah untuk jarak yang cukup jauh atau hanya beberapa langkah saja hendaknya selalu dalam bingkai kebaikan. Karena kebaikan itulah yang akan menjadikan setiap langkah dalam perjalanan kita akan bernilai pahala.

Bukan hanya itu, perlindungan Allah swt atas keselamatan kita pun akan selalu turut serta dalam setiap langkah kita di luar rumah.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak seorangpun yang keluar dari rumahnya kecuali ada dua panj-panji (yang mengiringinya), salah satu di antaranya berada di tangan malaikat. Sedang yang lainnya berada di atangan syetan, Maka jika keluarnya untuk sesuatu urusan yang diridhoi Allah swt, ia akan diiringi oleh malaikat dengan panji-panjinya. Demikianlah ia akan selalu berada di bawah panji-panji malaikat sampai ia kembali ke rumah. Sebaliknya jika keluarnya untuk sesuatu hal yang dimurkai Allah, maka orang itu akan diiringi syetan dengan panji-panjinya. Dan demikianlah ia akan selalu di baah panji-panji syetan sampai ia pulang kembali ke rumahnya.” (HR.Ahmad dan Thabrani)

Hadits di atas tidak saja menegaskan pentingnya niat dan maksud baik sebelum melangkah, tetapi juga mengandung pengajaran agar kita senantiasa menjaga dan memeliharanya. Karena dengan mengingat dan memelihara niat dan maksud baik, tentu kita juga akan terpelihara dari pertarungan-pertanrungan yang banyak bertebaran di sepanjang jalan-jalan yang kita lalui dan tempat-tempat yang kita singgahi. Dan tentu pula kita tidak ingin langkah-langkah kita yang tadinya telah disertai dengan niat dan maksud baik, menjadi sis-sia dan ternoda oleh pertarungan-pertarungan yang remeh-temeh. Oleh karena itu, tetaplah mengingat dan memelihara niat baik yang telah kita pasangkan sejak awal di hati kita.

Al Qur’an memberikan contoh sebuah niat dan amal yang baik, yang kemudian rusak oleh pertarungan yang sia-sia. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melihat perniagaan dan permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu yang sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dari permainan dan perniagaan,” dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS.Al Jumu’ah: 11)

Pertarungan sia-sia karena sebab yang sepele, di luar sana sungguh banyak. Dan sejatinya kitapun sudah mengenalnya dengan baik, karena hidup kita yang barangkali setiap hari tidak pernah lepas dari menyusuri jalan-jalan yang panjang; untuk mengais rezeki, berdagang, menuntut ilmu, mengajar, berdakwah, dan sebagainya.

Berada di luar rumah untuk tujuan-tujuan itu, hendaknya semua berada dalam lingkaran kebaikan, yang harus terus terpelihara dengan kebaikan pula; yaitu dengan mengingat dan memelihara niat awalnya. Maka itu, sikap ini harus terus-menerus terpelihara dengan baik… Catatan ini dimaksudkan untuk mengingatkan diri saya pribadi, dan tentu saja pastilah untuk mengingatkan kita semua, semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007<

Message And Hope In 2016

book-1112467__180
:Pixabay.com

Entering the new year 2016 is identical or similar to opening a new chapter in our lives. A new sheet waiting to be filled with a variety of work and positive creativity. There were a number of new opportunities and challenges that we face. But there also exist a number of duties and responsibilities that we may not finish in the previous year.

Opportunities And Challenges

There are certainly many opportunities, hopes and dreams we were in previous years we can not make happen. Challenges and opportunities that would more or less the same as we’ve ever faced in the previous year.

If, in previous years we have not been able to do good, can not for example carry out all the duties and responsibilities of the wife and our children, because the kinds of obstacles and barriers, then it is time for us to move quickly take up the opportunities that exist for fulfilling all of that.

If in previous years we have not had the opportunity to visit our families or bersilaturrahmi (in Islamic terms)  and distant relatives, then it is time to set aside time to be met and formed friendships with them. Remember friends, the opportunity will never come twice. It is time for us to just share happiness with them no matter how small it is.

Messages And Hope

Do not be put off when an opportunity came up. Also, do not shy away when the guidance came knocking on the door of our hearts.

Immediately welcome his presence and many are thankful to Allah for all His gift to us.
We hope that everything can not we make happen in 2015, may God give us the ability to be able to make it happen this year, and hope that there is always a blessing and God guidance in every things we do. We hope there is always God’s guidance at every step and effort we are doing and hopefully given the ability and also the ease by Allah on every things we do. We also hope that spared of all disasters and calamities.

Thus, a bit late as the introductory notes entered the year 2016, may be useful. Aamiin.

Kita Tak Pernah Tahu Kapan Ajal Kita Datang

imageedit_23_8376141630
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dengan postingan ini mudah-mudahan kita semua tidak sampai melupakan kematian. Karena sesungguhnya ia sangatlah dekat dengan kita, bahkan ia akan senantiasa mengikuti kita kemanapun kita pergi. Tapi seringkali kita tidak menyadarinya atau bahkan luput dari ingatan kita karena kesibukan dan keasyikan kita dengan dunia. Dunia dengan segala pernak-pernik nya mampu membuai dan melenakan manusia sehingga seringkali manusia menganggap itulah kebahagiaan yang sebenarnya. Karena itu, manusia rela mengorbankan kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti demi kebahagian semu dunia yang hanya fana, bahkan mereka berani menghalalkan segala cara demi mendapatkan kebahagiaan yang mereka dambakan. Semoga bermanfaat.

Straight Path

Yang akan saya uraikan dalam postinganku kali ini adalah soal kematian, tepatnya adalah kisah-kisah kematian. Saya angkat masalah kematian semata-mata untuk mengingatkan kita bahwa dia (kematian) itu pasti akan datang menemui kita…jangan serem dulu aahhh. Ikuti kisahnya berikut ini :

Sebuah Surat kabar Al-Qasham yang telah lama terbit di Saudi–menyebutkan bahwa seorang pemuda di Damaskus telah bersiap-siap untuk melakukan sebuah perjalanan. Dia memberi tahu ibunya bahwa waktu take off pesawat adalah jam sekian. Ibunya diminta untuk membangunkannya jika telah dekat waktunya. Pemuda itu pun tidur. Sementara itu si ibu mengikuti berita cuaca dari radio yang menjelaskan bahwa angin bertiup kencang dan langit sedang mendung. Sang ibu merasa sayang pada anak satu-satunya itu.

Lihat pos aslinya 551 kata lagi

Menanti Kelahiran Cucu Pertama

imageedit_2_5971544966Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Kehadirannya adalah sebuah anugerah sekaligus amanah bagi kedua orang tuanya, yang harus mereka jaga dengan baik dan merawat serta mendidiknya agar kelak menjadi manusia yang berguna bagi dirinya, kedua orang tua, masyarakat, bangsa dan agama. Artikel ini saya reblog dari blog saya yang lain, karena bagi kami sekeluarga kelahiran cucu pertama merupakan peristiwa yang sangat kami dambakan bersama, dan merupakan momen yang perlu selalu kami ingat karena punya kisah tersendiri. Apa yang terjadi dan bagaimana kisah yang kami alami dalam menantikan kelahiran cucu pertama kami, mari kita ikuti bersama kisah atau cerita singkatnya berikut ini, selamat membaca.

INSPIRASIKU

mata qTulisan ini sengaja saya posting untuk mengingatkan kami pada sebuah peristiwa yang begitu menegangkan. Peristiwa ini sebenarnya sudah berlalu lebih kurang empat tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 Desember 2011, tetapi direkam ulang melalui postingan ini sebagai pengingat. Mengapa peristiwa ini begitu menegangkan kami semua? Jawabannya, adalah :

Lihat pos aslinya 217 kata lagi

Dua Ribu Enam Belas

background-1009243__180
pixabay.com

Pergantian tahun sudah berlangsung semalam pada pukul 01.00 wita. Ada banyak harapan yang semoga terwujud di tahun yang baru. Di sekitar rumah telah bersahut-sahutan bunyi petasan dan juga mercon, hampir-hampir rasa ngantuk tak mampu mengajakku untuk segera tidur. Ya, itulah eforia anak-anak dan kita semua dalam menyambut tahun baru. Di internet apalagi, berseliweran kata-kata uacapan selamat tahun baru 2016 dan juga harapan dan doa, semogalah Allah Shubhanahu wata’ala segera mendengarkan dan mengabulkan doa-doa itu.

Ucapan selamat tahun baru merupakan ungkapan yang menggambarkan lembaran sejarah hidup kita, yang secara rinci kelak akan disodorkan kepada kita untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Dengan demikian, semoga momentum yang mengandung nilai-nilai postif ini bisa kita manfaatkan sebaik mungkin untuk menjadi insan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya langkah hidup kita senantiasa dipenuhi keraguan, maka inilah saatnya di tahun baru 2016 untuk memupuk keyakinan dan keberanian dalam berbuat baik.

Harapan dan Doa

Berharap dan berdoa untuk memohon kebaikan di tahun yang baru dan waktu-waktu yang akan datang adalah hak setiap orang, bahkan hal ini adalah wajib bagi seorang muslim, karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan hal itu. Doa adalah senjata orang beriman. Doa adalah harapan hamba yang disampaikan kepada Khaliknya dengan kata-kata yang merayu dan memelas sekalipun. Jika doa berangkat dari hati hamba-hamba yang ikhlas di bumi, maka itulah yang bisa menembus langit.

Berharap kebaikan yang banyak adalah naluiri manusiawi kita, namun kadang sering melalaikan kita dari hal-hal yang utama. Ada yang utama dari banyak hal yang kita idam-idamkan. Misalnya, kita ingin sukses di banyak hal di luar sana, yaitu kesalehan sosial. Tetapi kadang sering lupa membenahi keluarga kita, anak-anak kita, pendidikannya, kesehatannya, terutama agamanya.

Ukirlah Prestasi Terbaik

Maka di tahun yang baru ini, iringilah doa dan harapan itu dengan kebaikan yang banyak. Ukirlah prestasi terbaik sesuai dengan kapasitas dan kemampuan di mana saja kita berkiprah.

Kita bangga pada berbagai keberhasilan yang kita capai secara pribadi dalam masyarakat. Tapi, jangan pernah melupakan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai pemimpin dalam rumah tangga, yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah di akhirat kelak. Istri dan anak-anak kita, juga harta dan ilmu yang ada pada kita bisa mengantarkan kita ke surga dan sekaligus juga bisa menjerumuskan kita ke neraka.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam urusan ini. Kendalikanlah mereka dengan penuh kearifan, jangan biarkan mereka tanpa pemahaman agama yang baik. Jangan sampai mereka terjebak dalam berbagai kenikmatan dunia yang menipu. Melupakan tugas utamanya sebagai hamba yang harus menghambakan diri kepada Sang Khalik.

Saya akhiri tulisan ini dengan beberapa kutipan beriktu ini,

Hidup adalah kesempatan yang harus di ambil, jalan yang harus dilalui, dan teka-teki yang harus dipecahkan. Selamat memulai tantangan baru di tahun ini***Jangan pernah menyerah dan temukanlah ribuan alasan untuk tetap berjuang menyambut awal yang baru***Apalah arti tahun baru jika tanpa semangat dan tantangan baru serta pencapaian dan kesuksesan***Selamat tahun baru kawan semoga tahun ini menjadi ajang pembuktian atas segala usaha yang kita lakukan sepenuh hati***Jadikanlah hidupmu lebih bermakna dan bermanfaat di tahun ini*** Ingat kebohongan hanya akan menyelamatkanmu sebentar lalu menghancurkanmu selamanya. Semoga kita terhindar dari kebohongan yang menghancurkan itu.

Demikianlah coretan singkat menyambut tahun baru 2016, semoga bermanfaat. Selamat tahun baru 2016 semoga keselamatan dan kesuksesan selalu menyertai kita semua, amien.

Cerita Ta’aruf (Akhwat Version)

ronald-van-der-meulen-1232510__180

Ta’aruf dari bahasa Arab لِتَعَارَفُوا “Ta’aruf” = Saling Mengenal. Menurut rujukan Al Quran sebagai sumber hukum tertinggi, kata Ta’aruf ada di Surah Al Hujurat ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَلِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Lihat, di bawah ini satu contoh pola pacaran atau lebih tepatnya ta’aruf dalam Islam, yang saya reblog dari blog teman mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa pun yang mengaku muslim/muslimah,…aamiin.

 

Portal Wong Sukses

27 November 2011

Hari Ahad pagi, mbak SF teman satu kantorku tiba-tiba meminta saya untuk datang ke rumahnya.Meskipun  sedikit bingung saya langsung katakan iya. Sekitar jam 2 siang, dengan rasa penasaran saya segera meluncur ke rumah mbak SF. Setelah sampai di rumahnya, tanpa basa basi mbak SFlangsung menyerahkan sebuah ampop besar berwarna coklat. Sambil senyum-senyum beliau bilang, “Mau dibuka sekarang atau di rumah terserah Vita.”Saya  berfikir sejenak, karena saya orang yang tidak bisa dibuat penasaran, akhirnya:

Lihat pos aslinya 1.185 kata lagi

Menghargai Hak Dan Kepentingan Orang Lain

peony-800109__180Untuk berada di luar rumah bagi masing-masing orang tentu berbeda-beda porsentasenya. Hal ini semua bergantung pada pekerjaan dan profesi masing-masing. Ada yang karena tuntutan pekerjaan dan profesinya, sesorang harus berada di luar rumah atau meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang lama. Misalnya, dalam kurun waktu berhari-hari dan berminggu-minggu, bahkan ada yang bulanan dan juga tahunan.

Berada di luar rumah, sudah tentu berbeda situasinya dengan ketika kita berada di dalam rumah. Di dalam rumah kita hanya berhubungan dengan orang-orang yang kita kenal dekat seperti anggota keluarga sendiri ataupun anggota keluarga besar kita. Di luar, kita akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.

Dan di saat itu pula kita akan menemukan banyak karakter manusia yang berbeda-beda, banyak kepentingan, dan banyak hak orang lain yang tentu saja tetap harus terpenuhi, sehingga kita harus mengerti dan memahami kondisi itu demi memudahkan urusan dan kepentingan kita sendiri, menjauhkannya dari gesekan dan pertarungan yang tidak perlu.

Begitu pentingnya kesadaran ini harus dihadirkan, dan agar kita tidak menjadi pemicu munculnya pertarungan-pertarungan di perjalanan. Rasulullah saw bahkan mengingatkan kita untuk tidak memarkir kendaraan di pinggir jalan ketika ingin beristirahat. Beliau bersabda,”Bila kamu berjalan di tempat yang subur (banyak rerumputan), maka berikanlah unta itu haknya. Bila kamu berjalan di tempat yang kering maka percepatlah jalanmu. Dan jika kamu ingin beristirahat, maka menjauhlah dari jalan.”(HR.Abu Daud)

Bahkan untuk mempercepat kendaraan pun, sebagaimana hadits di atas, Rasulullah juga membolehkan dan melakukannya sendiri, tetapi tentu dengan memperhatikan kondisi jalan yang akan dilewati. Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Usamah bin Zaid ra yang pernah dibonceng Rasulullah saw dari Arafah. Zubair bertanya kepadanya, “Bagaimana perjalanan Rasulullah saw ketika beliau keluar dari Arafah?” Usamah menjawab, “Beliau berjalan tidak terlalu cepat, tetapi jika beliau menemukan jalan yang kosong beliau berjalan lebih cepat.” (HR.Muslim)
Di dalam berjalan dan mengendarai kendaraannya, menurut Anas ra, Rasulullah saw sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan.” (HR.Abu Daud)

Ini baru satu contoh. Hanya di perjalanan. Di tempat-tempat lain sama saja etikanya. Hak dan kepentingan orang lain selalu ada dan kita pun harus pandai menghargainya, demi menghindarkan diri dari pertarungan yang sis-sia . Jadi, hargailah hak dan kepentingan orang lain…Semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007

Tidak Meremehkan Hal-Hal Yang Berbahaya

burglar-1216195__180
Pixabay

Tulisan ini saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007. Saya kira ini bermanfaat sebagai bahan renungan bagi kita semua, karena apa yang dibahas dalamnya sangat relevan dengan aktivitas kehidupan kita semua, terutama tatkala  berada di luar rumah. Bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku dan apa konsekwensi jika kita bersikap dan berperilaku tertentu di luar sana…Ikuti teks selengkapnya berikut ini.

Pertarungan remeh-temeh yang kerap kita saksikan di jalan-jalan, sesungguhnya tidak jarang terjadi karena hal-hal yang memang berbahaya, tetapi sebagian orang menganggapnya sepele dan biasa saja. Ini barangkali masalah persepsi, kesenangan, atau kepentingan pribadi sehingga membuat seseorang merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Akan tetapi ketika kita sedang berada di tengah jalan, di mana keselamatan dan nyawa sedang kita pertaruhkan, maka egoisme tidak boleh lagi dikedepankan. Hal yang memang serius harus dianggap serius. Tidak boleh diremehkan. Kita tidak boleh berfikir bahwa, yang penting orang lain tidak tahu, atau alasan apa saja yang kesannya tidak menghargai kondisi dan situasi yang memang tidak kondusif un tuk melakukan hal-hal tertentu.

Ada berita menarik tentang situasi perjalanan yang dimuat oleh sebuah media harian untuk membuktikan hal ini. Di sana ditulas sebuah survey di Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa pengendara mobil menggunakan salah satu tangannya untuk memegang kemudi. Sebaliknya, tangan yang lain lagi usil melakukan aktivitas yang lain. Perilaku demikian, ternyata dilakukan oleh lebih dari 81 porsen pengemudi di negeri itu.

Survey yang dilakukan terhadap 1.200 penegmudi berusia antara 18 sampai 60 tahun, itu menunjukkan delapan dari sepuluh pengemudi mengaku mengubah stasiun radio saat mengemudi. Kemudian 73 porsen mengaku berbicara di telepon, 68 porsen makan,19 porsen mengirim SMS, dan 5 porsen membuka e-mail. Sebanyak 19 porsen pengemudi menyisir rambutnya, 12 porsen memakai riasan, dan 2 porsen mencukur kumis ketika mengemudi. Wakil presiden lembaga survey itu, Bil Windsor mengatakan, “Gejala itu menunjukkan bahwa saat ini orang mempunyai banyak kesibukan, tetapi hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit.”

Orang boleh saja berpendapat seperti itu, yang seolah membenarkan dan mentoleransi perileku-perileku itu terjadi, dan setiap pengendara bisa semaunya beraktivitas untuk menuntaskan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan, meskipun di sela-sela waktunya di tengah perjalanan. Namun, semua kita pasti sepakat bahwa hal-hal itu tidak saja akan mengundang pertarungan-pertarungan kecil, bahkan bencana yang lebih besar pun bisa saja terjadi.

Sering ada hal-hal yang kita anggap kecil padahal berakibat pada masalah-masalah besar, haruslah dianggap sebagai perkara besar. Seperti yang difirmankan Allah swt, “Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah dia adalah besar.” (QS.An Nur:15)

Tulisan ini mungkin hanya sebuah peringatan yang relatif biasa sifatnya bagi semua atau setiap orang, namun bagi saya pribadi ini menjadi pengingat ketika hendak melangkahkan kaki keluar meninggalkan rumah untuk selalu berdo’a memohon keselamatan dan perlindungan dari Allah subhanahu wata’ala untuk kita dan keluarga yang kita tinggalkan. Semoga bermanfaat.

Bersikap Tenang Dan Kendalikan Emosi

boy-183306__180
Pixabay.com

Kondisi di luar rumah; di pasar, di jalan, dan di tempat-tempat umum lainnya yang ramai dan terkadang semrawut, tentu akan sangat melelahkan fisik. Dan ketika kondisi ini yang terjadi, jiwa kita akan mudah diguncang amarah dan emosi yang sulit dikendalikan, dan telah pula menyatu dengan berbagai kepentingan yang harus segera terlaksana.

Di sana, di luar rumah kita, kita akan bertemu dan bergesekan dengan orang-orang yang punya waktu singkat dan kebutuhan yang sangat mendesak; sedang menuju ke tempat kerja, sedang dinanti oleh keluarga yang sakit, sedang ada janji dengan orang lain, sedang mengejar jadwal keberangkatan, sedang bersiap menghadapi ujian, dan sederetan kepentingan yang mungkin tidak bisa ditunda. Sama seperti kita yang juga sedang berpacu dengan waktu untuk urusan dan kepentingan yang berbeda.

Situasi seperti itu seringkali memancing timbulnya pertarungan-pertarungan yang melelahkan, namun tidak penting dan tidak menghasilkan apa-apa. Dan kalau kita terbawa dengan adegan itu, tidak bersikap tenang, terburu-buru, dan tidak pandai meredam amarah dan emosi, tentu akan melibatkan kita sebagai petarung yang ketika kalah dihina, tetapi jika menangpun tidak dihargai.

Ini sebenarnya bukan perkara rumit, hanya butuh beberapa sikap; kesadaran, ketenangan, dan pengendalian emosi. Tetapi mungkin tidak sempat kita lakukan karena terpikir oleh kita, bagaimana kita bisa segera sampai di tujuan dan menyelesaikan urusan-urusan kita, tanpa mau tahu urusan dan kepentingan orang lain. Padahal sesungguhnya di sinilah pertarungan-pertarungan itu biasanya bermuara. Karena kita saling mempertahankan ego; ingin saling mendahului, berebut di tempat yang terdepan, pada possi yang sebenarnya tidak memberi keuntungan apa-apa.

Padahal, andaikata kita mau bersikap tenang, tidak terburu-buru, dan mau menahan emosi mungkin urusan kita akan lebih cepat selesai, dan pasti kita tidak akan terlibat dalam pertarungan yang remeh-temeh. Sebab, jika kita tetap dalam kekeukeuhan kita yang tidak berdasar itu, sebenarnya apa yang ada di benak kita juga ada dibenak orang lain. Sehingga pertarungan pun akan sulit kita hindari.

Alangkah indahnya, jika mau mendengarkan nasehat Rasulullah seperti yang diceritakan oleh Usamah bin Zaid. Ia berkata, “Aku pernah dibonceng Rasulullah menjelang malam dari Arafah. Tatkala matahari hendak tenggelam beliaupun melangkah, dan ketika mendengar hiruk-pikuk orang-orang di belakangnya, beliau berkata, “Pelan-pelanlah kalian! hendaklah kalian tetap tenang, karena kebaikan itu bukanlah ketika kalian memacu tunggangan kalian.”

Demikianlah beberapa catatan yang saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007, semoga bermanfaat.

Ijinkan Aku Bercerita

Oleh : Ar Syamsuddin

4824771251_ffaf803327_z

Amy, pada puisi ini ijinkan aku bercerita. Bercerita tentang kelabunya awan yang mengiringi kepergianmu. Atau gerimis yang membasahi batu nisanmu. Pohon kamboja yang mulai meranggas dan bunga-bunga kecil yang berteduh di bawahnya. Amy, pada puisi ini aku datang menemuimu. Aku datang bukan untuk menggugat takdir kematianmu. Atau menghujat Sang Pemilik maut. Aku datang hanya untuk mengatakan. Bahwa kepergianmu adalah pelajaran penuh makna. Perjalanan panjang untuk direnungkan.

Bahwa hidup adalah pembuktian. Atau perwujudan sabar dan ikhlas. Ketika harus menjalani skenario-Nya. Amy, pada puisi ini aku kembali menemuimu. Lewat goresan pena untuk menumpahkan segala rinduku padamu. Engkau telah pergi untuk menghadap Tuhan Pencipta. Kepergian yang juga mengajariku tentang hakikat kematian. Meski kepergianmu adalah kepedihan dalam hatiku.

Amy, aku akan kembali bersama mu lewat untaian kata-kata rinduku yang tak bertepi. Kau telah pergi, dan kini kewajibanku hanya tersisa doa. Sementara kelalaian dan kehilafanku hanya menjadi tumpukan sesal. Dalam helaan nafas saat kutulis puisi ini, aku berdoa. Semoga kau bahagia bersama teman-teman sebayamu dalam belain kasih sayang Ilahi di surga.

Di balik nisan yang mengukir namamu, kau hanya diam membisu. Kepada-Nya aku memohon semoga engkau selalu bahagia. Walau kini kita tak bisa bersua, namun kau selalu di hatiku. Amy, aku tak mampu menatap tempat-tempat di mana dulu kau bermain. Tempat-tempat di mana dulu kau bersekolah. Tempat-tempat di mana dulu kau kuantar untuk berobat. Bahkan, aku tak sanggup menatap jasadmu memasuki liang lahat. Langit mendung, meredup turut berduka. Riuh rendah orang-orang bercerita tentang kisah-kisah hidup mu. Walau masa hidupmu tak sepanjang kami merindukanmu.

Dompu, 17 Mei 2013

!

Keutamaan Menjaga Lisan Dan Buah hasilnya

imageedit_49_5248624719
pixabay.com

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )

Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya.

Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

  1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
  2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
  3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
  4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
  5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
  6. Abu Hatim : “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya.Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
  7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”
  8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”

(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

Buah Menjaga Lisan

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

  1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah Rad. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)

  1. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

  1. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk masuk ke surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d :

Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah Rad. , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalambersabda:

Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

  1. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah Rad. :

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu a’lam.

Cara Membuat Halaman Depan Statis Blog Wp Anda

autumn-1004868__340
Pixabay

Membuat halaman depan suatu website atau blog, sebenarnya merupakan pilihan (optional) sifatnya. Apakah anda ingin atau tidak, membuat halaman depan (Front page) pada blog WordPress, itu terserah anda saja. Tetapi jika anda menginginkan adanya satu halaman depan pada blog anda, maka ada beberapa tahapan yang perlu anda ketahui dan ikuti. Untuk jelasnya,  silakan ikuti penjelasan teknis berikut ini.

Read more

Bait-Bait Rindu

Oleh : Ar Syamsuddin

3708039769_52e531968b_m
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Hai Amy, sudah sekian lama kita tak bersama, apa kabar kau di sana? Amy, apa kau ingat hari apa ini ? Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke 15 (semestinya). Atau hari ulang tahun kepergianmu yang ke -2. Pada hari ini aku menemuimu kembali lewat goresan pena. Pena yang senatiasa mengukir setiap bait rinduku padamu. Amy, apa kau merasakan hembusan angin yang membawa seribu pesan rinduku untukmu?.

Apa kau melihat ribuan bintang yang melukiskan betapa besar kerinduanku padamu. Amy, masih terbayang tatapan lembut matamu. Dalam bingkai yang mengangtarku ke masa lalu. Melintas bayang ke saat itu. Saat kau terbaring lemah namun kau sabar menghadapi lara. Meski dengan nafas yang tersisa. Duka yang kau simpan, lebur dalam senyuman.

Kau yang tegar melawan pilu. Meski maut menantimu. Melewati detik demi detik yang menghantam harapan. Katika jerit tangis menjadi irama yang akan mengiringi kepergianmu. Hari ini, mata kembali tak dapat membendung linangannya. Selaras detik demi detik berjalan. Sejalan dengan menit demi menit yang terus berlalu. Seiring dengan jam demi jam yang terus bergulir. Seirama dengan waktu yang terus menampakkan kekejamannya.

Tanpa terasa, sudah hampir tiga tahun berlalu semenjak kepergianmu. Hari-hariku terasa begitu sepi dan hampa. Dan, hatiku masih sangat merindukanmu. Kata-katamu di hari-hari menjelang kepergianmu masih terngiang. Terayun lemah tanganmu menggapai dan merangkul tubuhku. Kau hendak berkata, “Maafkan Amy Papa”. Dan itu sudah terucap sayang. Aku membalas ucapanmu, ” Papa memaafkanmu Amy. Tapi kau belum ada dosa sayang”.

Saat itu, jiwaku menjerit. Hatiku hancur terkeping-keping. Aku sadar, saat-saat yang menakutkan itu akan segera tiba. Dan, Innalillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Aku membimbing roh mu dengan kalimat Laa ilaha illallah…Amy selamat jalan sayang. Selamat jalan anakku. Berbahagialah engkau di sisi Tuhanmu. Nafas rindu dan doa papa menyertaimu. Meski kau tidak lagi berada di sini, tapi di hatiku kau tak akan pernah sirna…Baca juga puisi ini !

Dompu, 17 Mei 2010

 

Belajar Ikhlas Dalam Beramal Dan Beribadah

imageedit_119_9047593072
pixabay.com

Kata ikhlas adalah mudah untuk diucapkan namun tidak mudah atau cukup sulit untuk dilaksanakan. Seperti sering kita mendengar orang mengatakan, “Saya ikhlas menerima apapun keputusan pimpinan atas kesalahan saya”. Pertanyaannya, apakah benar dia ikhlas atau tidak? tentu jawabannya hanya dia yang tahu dan tentunya Tuhan saja yang maha mengetahuinya. Mengapa demikian, karena ikhlas merupakan perbuatan atau fungsi dari hati. Dengan demikian berarti untuk bisa kita melakukan amal kebaikan dengan ikhlas, kita perlu mengetahui cara atau kiat-kiatnya melalui proses belajar. Untuk itu, mari sama-sama kita ikuti pembahasan tentang hal tersebut pada artikel berikut ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Butir-Butir Mutiara

Berbuat sesuatu diawali dengan niat, apakah itu niat baik atau niat tidak baik. Jika kita ingin mendapatkan ganjaran pahala dari apa yang akan kita kerjakan, maka tentu niatnya harus baik dulu, lalu kemudian niat baik itu dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala (lillahi ta’aala), bukan karena mengharapkan pujian dari manusia.

Setiap amal perbuatan baik yang kita lakukan akan memperoleh imbalan sesuai dengan tingkat kesulitannya. Semakin berat amalan itu untuk dilakukan maka pahalanyapun semakin besar. Karena pada sejatinya, saat kita berupaya secara maksimal untuk melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala, saat itu pulalah kita sedang melakukan pertempuran yang maha dahsyat dengan menghadapi hawa nafsu.

Hawa nafsu adalah musuh yang amat berbahaya, selain karena dia tidak tampak saat menyerang. Dan hawa nafsu memiliki ribuan cara untuk mengelabuhi kita agar terperosok dalam hasutannya, bahkan terkadang dia mengelabuhi kita dengan asupan pahala yang justru kemudian untuk menyesatkan kita.

Dalam menyikapi tentang bahaya hawa nafsu…

Lihat pos aslinya 733 kata lagi

Mutiara Hikmah

board-953154__340Bersyukurlah atas apa yang telah anda peroleh dalam hidup ini. Jangan terlalu merisaukan yang belum ada. Karena tidak akan pernah ada yang bisa menghentikan keinginan anda. @arsyam’58

Hargailah orang lain, meskipun itu mungkin tidak penting bagi anda. Tetapi percayalah bahwa bagi mereka itu adalah amat berati. @arsyam’58

Lupakanlah sesuatu yang telah anda berikan kepada orang lain dan janganlah melupakan sekecil apapun pemberian mereka. @arsyam’58

Anda tidak akan bisa memperbaiki hidup anda jika tetap berada dalam kondisi yang menyandera diri anda. @arsyam’58

Terimalah apa adanya diri anda karena Tuhan telah berkehendak, yang pada saatnya anda akan mengetahui apa alasannya. @arsyam’58

Tuhan tidak melihat pada sukses atau gagalnya apa yang anda usahakan, tetapi Dia hanya melihat pada niat dan kontinuitas serta kesungguhan anda. @arsyam’58

Jangan pernah mengorbankan kebahagian anda yang langgeng dan abadi, hanya karena bujukan kesenangan semu kehidupan dunia yang akan segera berlalu. @arsyam’58

Berdzikir dan berdoalah kepada-Nya sebagai tanda rasa syukur atas segala pemberian Tuhan, bukan hanya pada saat anda membutuhkan-Nya. @arsyam’58

Jika anda tidak bisa atau sulit untuk menghargai orang lain, maka bayangkanlah apa yang akan terjadi pada anda tanpa mereka. @arsyam’58

Kegagalan tidak selalu karena faktor kesalahan, tetapi mungkin itulah yang terbaik yang bisa anda lakukan. Kesalahan yang sesungguhnya adalah apabila anda berhenti berusaha. @arsyam’58

Janganlah anda kafir atau berhenti beriman karena tidak bisa melihat Tuhan, karena nyatanya anda masih terus bisa bernafas meskipun anda tidak bisa melihat udara. @arsyam’58

Hidup ini terlalu singkat untuk menunda atau menyembunyikan perasaan-perasaan anda, karena itu janganlah takut dan nyatakanlah apa yang anda rasakan itu sekarang juga. @arsyam’58

Kebahagiaan itu bukanlah karena anda memperoleh apa yang anda inginkan sepanjang waktu, tetapi karena anda menerima dan mensyukuri pemberian Tuhan. @arsyam’58

Adalah sulit untuk menunggu sesuatu yang anda tahu itu tidak terlalu penting bagi anda, tetapi akan lebih sulit lagi untuk tidak menunggu sesuatu yang sangat berarti bagi anda. @arsyam’58

Syukurilah Semua Pemberian Allah Pada Kita

th (6)
pixabay.com

Dalam buku “Tazkiyatun Nafs” yang memaparkan intisari Ihya Ulumuddin Al-Ghazali, Said Hawwa menuliskan bahwa syukur adalah mengerahkan secara total segenap potensi yang ada untuk hal yang paling dicintai oleh Allah Swt.

Di kala kita berada dalam suasana penuh kesenangan, kegembiraan dan segala macam kemudahan sering kali kita lalai dari bersyukur kepada Allah Swt yang telah memberikan segala kenikmatan itu. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an yang artinya, “…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (QS.Saba[34]:13).

Setan juga menggunakan segala macam cara untuk membuat manusia lalai dari bersyukur kepada Allh Swt. Sebagaimana dijelaskan Allh dalam Al Qur’an yang artinya, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’ay).” (QS.Al A’raf[7]:17)

Untuk itu semua, sudah seharusnya kita menggunakan seluruh nikmat yang telah Allah Swt berikan itu di jalan yang diridhoi-Nya dan tidak menggunakannya untuk perbuatan maksiat kepada Allah. Inilah perwujudan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Kita hendaknya menyadari, bahwa segala yang kita miliki mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, semuanya adalah pemberian gratis dari Allah, dan dengan itu pula kita dapat mengelola dan memanfaatkan akal dan pikiran kita untuk mendapatkan atau memenuhi kebutuhan kita. Kita boleh memiliki apa saja yang kita inginkan sepanjang kita mampu untuk mendapatkannya. Tapi jangan pula dilupakan bahwa untuk mendapatkanya hendaklah dengan cara-cara yang diridhoi oleh Allah, jangan sampai menghalalkan segala cara.

Jika kita orang yang beriman dan mengharapkan pertemuan dengan Allah di akhirat kelak dalam suasana yang menyenangkan dalam surga, maka mulai detik ini syukurilah semua pemberian Allah dan gunakanlah semua itu untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.

 

Dan jangan pernah bermain-main atau meremehkan pemberian Allah. Dialah yang menyediakan untuk kita oksigen secara gratis sehingga kita bisa tetap bernafas dan jantung kita dapat terus berdetak memompa darah agar bisa dialirkan ke seluruh jaringan tubuh kita. Sadarkah kita akan semua itu? lalu nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kau dustakan? Subhaanallah…

Penglihatan, pendengaran, tangan dan kaki kita adalah bagian dan nikmat Allah Swt yang diberikan-Nya kepada kita. Sudahkah kita mensyukurinya? Dan, bisakah kita menerima dengan ikhlas seandainya Allah Swt mencabut kembali pemberian-Nya itu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.Saya dan juga anda hanya berkewajiban untuk saling mengingatkan sebagai sesama muslim. Karena itu, marilah mulai detik ini juga, kita tunduk rukuk dan bersujud kepada Allah. Bayangkanlah semua kelalaian kita selama ini, dari mengingat dan menyukuri pemberian-Nya Yang Maha Luas itu untuk kita dan segeralah beristigfar dan mohonlah pengampunan atas dosa dan kesalahan kita selama ini. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Bentuk lain dari rasa syukur kita kepada Allah Swt adalah dengan menjaga lisan yang juga merupakan nikmat pemberian Allah Swt. Menjaganya dari hal-hal yang dapat mengundang murka Allah Swt, seperti membicarakan kejelekan orang, menfitnah, berdusta, mengolok atau mencaci maki. Kita juga hendaknya menggunakan lisan untuk berkata yang baik-baik, seperti mengajak orang pada kebaikan, mengucapkan kalimat thoyibah seperti dzikir kepada Allah juga saling menasihti untuk kebenaran, kebaikan dan kesabaran. Ingatlah selalu, bahwa “Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan taubatan yang sebenar-benarnya.”

Mengenal Dan Memiliki Visi Ke Surga

 

imageedit_13_5735186126
Spreadthepearl.wordpress.com

Indahnya Surga! Ketika umat muslim telah mengenal surga dan memiliki visi ke surga, maka hal itu akan memberikan motivasi untuk melakukan hal-hal yang mendukung untuk tercapainya maksud tersebut, diantaranya :

Pertama, Menjadikan Allah sebagai tujuan. Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan selalu mencari ridha-Nya disetiap amal yang dilakukan.

KeduaMenjadikan Rasulullah SAW sebagai tauladan dalam semua sisi kehidupan, mengikuti dan menjalankan semua sunnahnya serta menjauhi semua bentuk bid’ah dalam ibadah.

Ketiga. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan dan petunjuk hidup. Berinteraksi dengan cara membacanya, memahami dan mengamalkannya.

Keempat. Melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar mulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Kelima. Selalu memberikan manfaat dan keselamatan kepada orang lain.

Keenam. Menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Memahami bahwa dunia adalah tempat untuk beramal. Berusaha bersungguh-sungguh untuk kerja dunia sebagaimana kesungguhan dalam beramal untuk akhirat.

Ketujuh. Selalu berusaha mencapai prestasi yang terbaik dalam semua hal. Baik dalam menuntut ilmu, bekerja, ataupun yang lainnya.

Kedelapan. Mengatur dan memanfaatkan waktu dengan benar dan teliti. Tidak memmanfaatkan waktu untuk hal-hal yang sia-sia apalagi untuk maksiat.

Kesembilan. Selalu bermuhasabah (mengoreksi diri) dengan cara mengingat apa yang dilakukan selama ini. Yang kurang baik diperbaiki dan yang sudah baik ditingkatkan lagi.

Kesepuluh. Selalu berdoa kepada Allah agar selalu mendapat petunjuk-Nya dan dianugerahkan kesudahan yang baik atau khusnul khotimah.

Visi Ke Surga

Sudah selayaknya seseorang itu memiliki visi kehidupan yang jelas. Karena visi yang jelas dapat menuntun dia untuk berusaha mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuannya. Di samping itu juga akan menjadikan seseorang lebih fokus terhadap hasil akhir tanpa mudah goyah ketika mendapat gangguan atau hambatan.

Visi adalah tujuan jangka panjang yang bersifat umum yang akan dicapai melalui perjuangan yang panjang. Ia berbeda dengan misi, karena misi lebih bersifat khusus dan perwujudannya hanya untuk mendukung visi.

Seseorang yang memiliki visi selalu melihat semua kegiatan sepanjang hidupnya sama atau sudah sesuai pada jalan yang akan membawa dirinya kepada visi atau belum. Sekiranya belum, maka ia akan segera memutar arah(hijrah) menempuh jalan yang mampu membawanya pada visi yang sudah ditargetkan.

Karena hidup ini diibaratkan sebuah perjalanan, sedangkan di dunia adalah tempat persinggahan untuk mengumpulkan bekal untuk dibawa ke kehidupan yang mendatang.

Ketika hidup tanpa visi maka akan memungkinkan seseorang lalai terhadap tujuan hidup itu sendiri atau pun lupa terhadap tujuan utama manusia diciptakan yakni untuk mengabdi kepada Allah swt.

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada Ku” (QS Adz Dzariyat (51) : 56).

Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa kehidupan ini mempunyai tuga fase. Pertama, adalah fase ketika manusia berada dalam rahim. Pada fase ini manusia bergantung kepada individu lain yakni ibu. Meskipun demikian sudah sempurna sebagai satu kehidupan.

Kedua, kehidupan dunia yang diawali dengan kelahiran manusia sampai pada kematiannya. Pada fase ini manusia mampu berdiri sendiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya. Ketiga, fase kehidupan setelah kematian. Pada fase ini manusia memeroleh hasil dari usahanya di fase kedua.

Pada fase pertama waktunya sangat terbatas kurang lebih hanya sembilan bulan atau pada beberapa kasus ada yang lebih cepat  dari itu. Kemudian fase kedua juga memiliki waktu yang tebatas. Tidak bisa ditentukan secara pasti, namun secara rata-rata adalah antara enam puluh sapai tujuh puluh tahun umur manusia. Tentu saja ada yang lebih dari itu namun sangat sedikit.

Dan yang kurang dari umur rata-rata juga sangat banyak. Kalau diibaratkan seperti buah kelapa. Lalu jatuhnya buah kelapa itu sebagai kematian, maka yang memiliki kemungkinan jatuh itu semestinya  kelapa yang sudah tua dan berwarna coklat. Tetapi kelapa yang muda atau yang masih bunga juga sangat berkemungkinan gugur.

Sedangkan fase kehidupan setelah kematian tidak terbatas waktunya. Dan inilah sebenarnya tempat kehidupan yang hakiki. Cuma terkadang manusia mudah melalaikan fasei ini. Padahal fase ini disediakan hanya untuk dua tempat saja, surga dan neraka. Tidak ada pilihan lain. Dan untuk menetapkan tempat yang mana manusia akan menuju, semuanya bergantung pada visi yang telah dibuat ketika di dunia dan sejauh mana usaha yang dilakukan untuk mencapainya.

Mengenal Surga

Hal yang penting untuk menumbuhkan rasa tertarik dan mencintai sesuatu adalah dengan mengenalnya. Demikian juga dengan surga. Jika ingin berusaha memasukinya sudah sepantasnya kita untuk mengenalnya. Sebagai umat yang memiliki petunjuk berupa wahyu Al Qur’an, kita dapat mengenal surga melalui apa yang disampaikan dalam wahyu.

Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menceritakan tentang surga, baik tentang keberadaan, keindahan dan kenikmatannya. Namun semuanya berupa gambaran, karena surga adalah hal ghaib. Yang tidak mungkin dilihat oleh mata, tidak mampu didengar oleh telinga dan tidak terbayangkan oleh hati dan pikiran.

Surga identik dengan keindahan dan kenikmatan. Sebagaimana fitrah manusia juga sangat mencintai keindahan dan kenikmatan, maka surga disediakan sebagai balasan bagi umat yang taat.

Keindahan dan kenikmatan surga sungguh luar biasa, hal ini bisa dipahami karena ia tidak dapat disetarakan dengan keindahan dan kenikmatan dunia yang sifatnya fana dan menipu, sementara keindahan dan kenikmatan surga bersifat kekal. Maka bagi orang yang sudah mengenal surga, baginya dunia tidak memiliki nilai apa-apa. Sebagai contoh adalah asiah istri Fir’aun, ia tidak gentar disiksa oleh Fir’aun karena ia yakin pada Allah dan mengenal surganya, maka ketika itu ia berdoa supaya dibangunkan rumah untuk nya di surga.

Segala keindahan dan kenikmatan yang terlihat di dunia akan ada di surga bahkan jauh lebih baik. Misalnya tempat tinggal, di surga telah disediakan rumah-rumah dan istana yang megah. Makan dan minuman, di surga tersedia buah-buahan dan segala minuman yang paling lezat, seperti madu dan susu bahkan minuman yang di dunia haram di surga bisa dinikmati, seperti khamara. Wanita, di surga akan ada  bidadari-bidadari cantik yang akan mendampingi manusia. Perhiasan, di surga semua peralatan makan dan minum terbuat dari emas dan perak. Pakaian, di surga akan dipakaikan pakaian yang indah dari sutera.

Puncak Kenikmatan Surga

Puncak kenikmatan surga adalah melihat wajah Allah secara langsung dan jelas (QS 75,22-23). Inilah yang paling diimpikan oleh semua umat. Dan masih banyak lagi keindahan yang lain seperti sungai-sungai yang mengalir dan pohon-pohon yang rindang. Dan surga adalah sebaik-baik  tempat di akhirat…..Itulah sebabnya, doa yang dianjurkan bagi kita adalah : “Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.”@

Demikian gambaran singkat tentang indahnya surga, semoga dapat mengispirasi dan memotivasi kita untuk terus beramal saleh dan beribadah hanya kepada Allah sebagai syarat untuk masuk surga, amien.

Cinta Dan Benci Karena Allah

tulip-landscape-1405386__180
Pixabay.com

Sebenarnya, cinta dan benci hanyalah dua sisi dari satu mata uang yang sama (just two sides of the same coin). Tetapi, cinta tidak selalu membawa kebaikan, demikian pula benci tidak selalu merupakan keburukan. Keduanya bergantung pada apa dasar atau alasan dari keduanya. Tentu kita sepakat bahwa apabila keduanya (cinta dan benci) didasarkan pada ridho Allah shubhanahu wata’ala semata dan bukan karena nafsu, harta maupun kecantikan/ kegantengan, maka pastilah keduanya menjadi kebaikan dan keberkahan. Itulah yang akan dikupas dalam artikel berikut ini mudah-mudahan bermanfaat.

Straight Path

Artikel ini saya salin dari media Bulletin At Tauhid, yang di dalamnya berbicara tentang Cinta dan Benci karena Allah. Jadi bukan karena selain Allah, Bukan karena kecantikan/ ketampanan, jabatan, kekayaan,atau hal-hal lain selain dari pada “karena” Allah Subhanahu wataala Azza wa Jalla. Menarik untuk dipahami lebih lanjut, semoga bermanfaat.

Ini teksnya :

Cinta dan benci karena Allah. Dengan kecintaan semacam itulah seorang hamba akan bisa meraih manisnya iman. Setiap mukmin tentu mencintai Allah. Karena Allah lah yang paling berjasa kepada umat manusia dan alam semesta seluruhnya. Konsekuensi dari kecintaannya kepada Allah adalah dia akan mencintai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci. Maka, dia akan mencintai keimanan, ketaatan, dan sunnah. Sebagaimana dia akan membenci kekafiran, kemaksiatan, dan bid’ah.

Oleh sebab itu orang yang beriman (bertauhid) akan mencintai orang beriman yang lain. Dan sosok yang paling layak dia cintai adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesudah…

Lihat pos aslinya 961 kata lagi

Hiburan Bagi Orang Tua Yang Anaknya Meninggal Dunia

imageedit_27_8640467446

Kehilangan orang-orang yang kita cintai sudah pasti akan membawa kesedihan dan duka yang mendalam, seolah menghapus semua kebahagiaan yang selama ini kita rasakan ketika masih bersamanya. Itu yang kita rasakan ketika ada salah satu dari keluarga kita meninggal dunia, apalagi dia adalah tulang punggung dalam keluarga, misalnya ayah atau suami,atau juga anak-anak serta orang-orang yang sangat kita cintai dan mempunyai arti yang sangat signifikan dalam hidup kita (significant others).

th (39).jpg
Pixabay.com

Memang tidak ada yang menyangkal, bahwa kita pasti akan sangat sedih ketika anak, orang tua, saudara atau kerabat dekat kita tiba-tiba saja di panggil oleh sang Khaliq? Tentu sedih dan mungkin putus asa karena kehilangan seseorang yang kita sayangi dan bahkan menjadi tumpuan hidup kita. Kehilangan orang tercinta memang sungguh menyedihkan tapi taukah anda, ada berkah di balik setiap peristiwa, seperti juga kematian tentu jika kita mampu menyikapinya secara bijak, penuh kesabaran dan keikhlasan.

Coba renungkanlah lebih dalam makna sepotong ayat al Qur’an berikut ini,

”Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Sesungguhnya kita milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya, (Allah Ta’ala).

th (40)
Pixabay.com

Mungkin karena ayat ini sudah sangat familiar di telinga kita sehingga mungkin kita menggangapnya hal yang biasa, padahal sesungguhnya inilah hakikat keberadaan kita di dunia ini. Dengan menghayati ayat ini insya Allah kita akan dapat menyikapi setiap musibah yang menimpa kita dengan tenang dan bijak. Tidak berlebih-lebihan dalam kesedihan, karena sesungguhnya yang pergi atau hilang itu bukan milik kita, tapi milik Allah. Kita hanya dititipi amanat untuk merawat dan mendidiknya untuk sementara waktu dan pada saatnya Allah pasti akan mengambil kembali milik-Nya itu.

Lalu apa hiburan yang dijanjikan untuk orang tua yang anaknya meninggal dunia?

imageedit_13_8103248644
pixabay.com

Baiklah,  kita coba dengarkan sabda Rasulullah berikut ini: ’Diriwayatkan dari Anas ra, dia berkata : ”Rasulullah saw bersabda, tidaklah seorang muslim yang kematian tiga anaknya yang belum baligh, kecuali, Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayang-Nya kepada anak-anaknya tersebut, ”(HR Bukhori muslim).

Ada beberapa hal yang mesti diketahui oleh orang tua juga kita semua, agar kematian tersebut tidak hanya menjadi sebuah peristiwa yang menyedihkan, tetapi juga bisa membawa berkah bagi kedua orang tuanya dan mengantarkan kita menuju surga Allah. Diantaranya, seperti yang telah saya katakan diawal,

1. Orang tua mesti sabar dan iklas menerima kepergian sang anak, tidak meratapi kepergiannya secara berlebihan boleh menangis dan bersedih asal tidak berlarut-larut sehingga dapat menimbulkan keburukan bagi kesehatanya.

2). Sadar dan memuji Allah

imageedit_45_5963919360.jpg
pixabay.com

Yaitu dengan mengucapkan kalimat istirja (Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun) dan merenungi kandungan maknanya seperti yang singgung di atas.. Kita , anak kita, dan segala sesuatu yang ada disekitar kita semuanya adalah milik Allah. Anak adalah amanah, titipan dari Allah, yang mesti kita jaga dan pelihara dengan sebaik-baiknya. Karena anak ibarat barang titipan tentu suatu saat jika sang pemilik akan mengambil kembali miliknya tersebut kita mudan berlapang dada menyerahkan barang titipan tersebut kepada sang pemilik

3) Mengharap pahala atas kematian sang anak.

Seperti yang telah saya katakan diawal, bahwa, kematian seorang anak bukanlah suatu musibah melainkan himpunan berkah yang mesti dipetik oleh orang yang di tinggalkan. Orang tua semestinyalah memohon pahala dan keberkahan dari peristiwa tersebut, maka dengan senang hati Allah akan melimpahkan banyak kebaikan dan pahala kepada hambanya yang meminta dengan setulus hati.

imageedit_3_7720537137.jpg
pixabay.com

Nah, bukankah hal ini merupakan kabar gembira bagi orang tua yang ditinggal mati oleh anak-anaknya yang belum baligh dan janji Allah tersebut merupakan bukti karunia dan kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan jika pun mendatangi neraka, itu hanya bagian dari janji Allah yang telah menjadi ketetapannya.

Lho, menetapi janji apa ?

Mungkin saudara bertanya-tanya akan hal ini. Janji ini berkaitan dengan firman Allah dalam surat maryam (19) : 71 ”dan tidak seorang pun dari kalian, melaikan dia pasti mendatangi neraka itu ”.

Belum jelas?

th (35)
Pixabay.com

Maksud mendatangi disini adalah menyeberanginya di atas shiraat, yaitu sebuah jembatan yang di bentangkan di atas neraka jahanam, tidaklah akan mencapai pintu surga, seorang hamba mesti melewati jembatan tersebut ? dan ketahuilah wahai para orang tua, anak-anak anda yang telah meninggalkan anda terlebih dahulu tersebut, kelak akan menunggu anda di pintu tersebut (surga-red).

Haruskah tiga anak ?

Apakah mesti tiga atau 2 anak baru orang tua dapat menikmati kemewahan surga? Kalau begitu bagaimana dengan orang tua yang kematian satu anak ? atau malah tidak kematian sama sekali?

Sesungguhnya Allah Maha pemurah lagi Maha Bijaksana, hal di atas ternyata tak hanya berlaku bagi orang tua yang kehilangan 3 atau 2 anaknya, maka orang tua yang hanya kehilangan satu anak pun dapat merasakan nikmatnya surga lalu bagaimana dengan orang yang tidak kematian anak sama sekali dari umat Rasullullah ? ingat ! Rasulullah adalah pemberi syafaat (pertolongan ). Dan syafaat Rasulullah ini akan di bagikan bagi umatnya yang Rasulullah kehendaki, jadi tenanglah orang tua yang tidak di tinggal mati oleh anaknya, karena syafaat Allah akan menjadi penolong kita di akhirat kelak.

Meski kematian anak membuka jalan bagi orang tua di taman surga, namun tidak diperkenankan orang tua kemudian mengharapkan agar anaknya meninggal dunia. Surga ini hanya pengganti anaknya yang di minta oleh Allah. Sesunguhnya anak merupakan ladang berkah, ketika masih hidup ataupun telah mati, anak senantiasa memberikan manfaat bagi orang tua…Wallaahu a’lam bishawab.

Demikian semoga artikel ini bisa bermanfaat.

SPARKS :

Kids are the most beautiful grace. Disappearance made untold grief. But our children are not ours, children are on loan from Allah the Creator. Allah can take it anytime he wants. Children can be a test for us and if we are patient accepts the provisions of Allah then Allah likes the servants of his patient

Menyegerakan Berbuat Kebaikan Dan Bahaya Menundanya

imageedit_99_9358591601.jpg
pixabay.com

Kata menyegerakan ini mengandung suatu makna bukan hanya penting tetapi harus segera dilaksanakan pada waktu itu juga. Jadi berkaitan dengan hal itu, maka apapun bentuk kebaikan yang ingin dan bisa kita lakakukan, segeralah dilaksanakan jangan ditunda-tunda lagi, karena apabila kita menundanya maka berarti kita telah kehilangan satu momentum yang seharusnya bisa kita manfaatkan untuk berbuat kebaikan dan pasti ada balasan kebaikan/pahala pula dari perbuatan itu. Di sisi lain, hal ini juga mengandung makna sebuah bahaya atau kerugian, karena sang waktu akan terus berjalan dan jatah usia kita akan terus berkurang untuk melakukan kebaikan-kebaikan sebagai bekal perjalanan panjang setelah kita meninggalkan dunia ini. Berikut ini saya sajikan sebuah artikel yang saya reblog dari blog saya yang lain, sebagai inspirasi bagi para pembaca dan terutama bagi saya sendiri, mudah-mudahan bermanfaat.

Straight Path

Tulisan ini saya ambil dari buku Ihya ‘Ulumuddin karangan imam Al Gazali. Saya angkat topik ini karena sangat bermanfaat sebagai pengingat kita agar tidak terlalaikan oleh kesibukan dunia, sehingga melupakan bekal perjalanan panjang menuju alam baqa nanti. Semoga kita bisa senantiasa mengingatkan diri kita akan pentingnya menyegerakan diri untuk berbuat kebaikan.

Rasulullah saw bersabda, “Rebutlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara, yaitu : Selagi engkau muda sebelum datang masa tuamu, selagi engkau sehat sebelum datang masa sakitmu, selagi engkau kaya sebelum datang masa miskinmu, selagi engkau lapang sebelum datang masa sempitmu, selagi engkau masih hidup sebelum datang masa kematianmu.” (HR.Baihaqi, ibnu Abuddun-ya dan ibnu Mubarak)

Semua kita menyadari bahwa memang kesibukan kita sehari-hari untuk urusan dunia kita begitu banyak menyita waktu atau umur kita. Bahkan kesibukan yang kita lakukan seringkali merupakan hal yang sia-sia dan juga kemaksiatan.

Lihat pos aslinya 405 kata lagi

Ikhlas Memaafkan Orang lain

imageedit_13_5836585853

Judul asli artikel ini adalah “Maafkanlah Orang Lain Dengan Tulus Agar Anda Menjadi Sehat,” tetapi saya mengubahnya sedikit menjadi seperti yang anda lihat pada judul di atas, agar lebih ringkas dan padat, namun tentunya tidak menghilangkan substansi kandungan makna yang ada di dalamnya. Artikel ini saya blog ulang (reblog) dari bekas blog saya sendiri (https://webarsyam.wordpress.com) yang sudah diblok akunnya. Mengapa saya masih memerlukan artikel ini ? Jawabannya bukan karena apa-apa, tetapi memang saya senang membacanya berulang-ulang dan untuk mengingatkan saya agar terus berusaha belajar memaafkan orang lain dengan ikhlas, khususnya pada orang-orang yang mungkin pernah menyakiti hati kita atau keluarga kita. Banyak hikmah dan manfaat apabila kita mampu melakukan hal ini, terutama untuk kesehatan kita baik secara fisik maupun psikis. Untuk itu baca dan renungkanlah pembahasan selengkapnya pada artikel berikut ini, semoga bermanfaat.

Butir-Butir Mutiara

Pada artikel ini dijelaskan tentang memaafkan orang lain yang telah menyakiti kita. Yaitu, bagaimana agar rasa marah atau rasa ingin balas menyakiti orang yang telah menyakiti kita diubah, dimodifikasi atau dikelola sehingga menjadi sebuah rasa empati, rasa memahami keadaannya pada saat itu. Karena dalam hubungan kita dengan orang lain bisa terjadi kesalahan yang disengaja dan juga tidak disengaja. Dan tidak jarang hanya karena persoalan sepele bisa menjadi besar dan meluas eskalasinya, dan kalau sudah demikian keadaannya memang sangat sulit untuk diselesaikan, apalagi hanya dengan kata maaf.

Itulah sebabnya, maka sebelum mengambil suatu tindakan, kita harus menurunkan tensi emosi agar bisa berfikir jernih dan tenang.  Memang memaafkan orang lain tak semudah kita mengucapkanya. Kadang.. tangan telah berjabat, bibir telah mengatakan “Aku sudah memaafkanmu,” tetapi bagaimana dengan hati kecil Anda, apakah Anda telah memaafkan orang lain dengan tulus?

Apakah Anda sudah merelakannya dan tidak akan mengungkit hal itu di kemudian hari? Sekalipun…

Lihat pos aslinya 764 kata lagi

Demi Masa

alarm-clock-1193291__340
Pixabay.com

  

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”.(QS.Al’Ashar :1-3).

Demikianlah arti dari sebuah firmah Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Ashr ayat 1-3, yang menjelaskan bahwa Allah Yang Maha Benar (AL-Haqqu) itu sudah bersumpah demi waktu (masa) atas kebenaran firman-Nya akan begitu pentingnya sang waktu. Tentang dan untuk siapakah ini ? Sudah pasti semuanya tentang manusia dan untuk manusia. Tersirat namun amatlah nyata dalam firman ini, bahwa betapa Allah sangat mencintai kita manusia, agar memperhatikan dengan sungguh-sungguh akan waktu. Agar manusia tidak menyia-nyiakan umur yang amat terbatas ini untuk diisi dengan kebaikan sekecil apapun. Agar kita tidak mengalami penyesalan yang abadi di akhirat kelak.

Apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita perbuat di dunia ini, hendaknya selalu dalam koridor iman dan taqwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala. Karena semuanya senantiasa dalam pantauan dan pengawasan-Nya.

Sudah sejak lama saya ingin menulis tentang topik di atas. Namun, terkendala oleh keraguan dalam hati saya sendiri karena mempertimbangkan keluasan wawasan dan pemahaman agama saya yang masih sangat minim. Akan tetapi sayapun teringat akan penjelasan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah sendiri memerintahkan kepada kita umatnya, untuk “menyampaikan atau mengabarkan berita atau pesan yang datang dari beliau walau hanya satu ayat”. Dari situlah saya mencoba untuk menulis ini untuk yang pertama kali menyangkut soal-soal keagamaan. Mudah-mudahan saya diberikan kesehatan dan umur yang panjang serta pemahaman yang baik oleh Allah tentang Islam, aamiin.

Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, “ Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru, “wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh karena itu, manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak akan kembali lagi hingga hari pengadilan ( HR. Turmudzi).”

Iman dan amal shaleh, kebenaran dan kesabaran adalah karunia Allah yang amat berharga untuk kita masnusia. Mereka yang memilikinya akan tampil di dunia ini dalam sosok yang cemerlang dan berkilau. Uraian dalam tulisan ini sangat sederhana dan mungkin belum sampai pada kedalaman yang sesungguhnya dari sosok orang-orang yang memiliki ke empat karunia Allah di atas. Namun, saya berharap dari yang sedikit ini bisa mendorong kita untuk terus meningkatkan iman dan amal shaleh kita juga untuk terus saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, agar tidak hanya sekadar menjadi catatan belaka. Buatlah satu langkah dahulu, mudah-mudahan jejak langkah pertama kita akan diikuti oleh jejak-jejak langkah berikutnya hingga sampai pada alkhir masa di dunia dan kita memperoleh keberuntungan karena telah menjadi orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, dan saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

Lama sebelum menulis artikel ini saya banyak belajar dan mengamati tentang peristiwa dan kisah orang-orang yang memiliki dan mengamalkan karunia iman, amal shaleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Di antaranya ialah saya melihat banyak sekali di sekitar kita mutiara-mutiara yang berkilau, yaitu orang-orang yang bisa menjadi guru dalam bersabar. Saya melihat sosok Ferrasta’Pepeng’Soebardi, seorang komedian dan presenter yang sangat aktif, siapa yang mengira dan bahkan dirinya pun tidak menyangka kalau beliau akan menderita penyakit langka bernama multiple sceleriosis yang menyebabkan dirinya tidak lagi bisa aktif seperti dulu. Namun, bagaimana beliau menghadapi penyakitnya itulah satu hal yang sungguh luar biasa.

Sungguh luar biasa, karena meski penyakit tersebut telah melumpuhkan raganya, namun kreativitasnya tetap hidup. Jiwanya semakin bersinar cemerlang dengan kesabarannya.

Pelajaran yang lain pun bisa kita ambil dari kesabaran isteri beliau, Mbak Tami beserta anak-anaknya yang sungguh luar biasa. Tidak semua orang bisa menghadapi hal seperti itu sebagaimana Mas Pepeng dan Mbak Tami menghadapinya.

Di sisi lain, ialah bagaimana kita saling menasihati untuk terus menetapi kebenaran. Berfikir, bersikap, dan bertindak dengan senantiasa bersandar pada nilai-nilai keberanan. Tentu, kebenaran yang dimaksud adalah sesuai dengan ajaran Islam bukan kebenaran ilmiah yang bersifat relatif. Hal ini hendaknya dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari meski tentu banyak sekali godaan dan tantangannya dalam menegakkan kebenaran. Tetapi jika dalam diri kita sudah terbangun fondasi iman yang kuat, maka godaan dan tantangan tersebut dapat kita abaikan dan kebenaran akan tetap dapat kita tegakkan.

Menegakkan kebenaran tidak hanya mendatangkan keuntungan dan manfaat bagi kehidupan kita di akhirat kelak, akan tetapi dapat kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan dunia. Nabi menyuruh kita untuk berkata benar walau akibatnya pahit. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menetapi atau menegakkan kebenaran itu dalam kehidupan bersama manusia. Dan, barang siapa yang berkata dan bertindak benar dalam hubungannya dengan sesama, maka akan lahir suatu masyarakat yang aman, tenteram dan damai.

Kemudian, sayapun menyoroti diri saya, apakah saya sudah berlaku sabar? Apa yang saya ucapkan ketika lsitrik mati saat saya mengetik naskah artikel ini di laptop? Apakah saya marah, kesal, atau mengucap inna lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’uun?. Saya banyak mengoreksi diri bahwa saya masih harus banyak berlatih menjadi penyabar karena bila dibandingkan dengan mereka semua saya bukanlah apa-apa. Namun, saya semakin yakin bahwa ujian dan cobaan yang Allah Swt berikan kepada setiap hamba-Nya pastilah sesuai dengan kapasitas dan kesanggupan masing-masing. Siapa saja yang mendapatkan suatu ujian tertentu, itu berarti dia memang mampu dan bisa melewati ujian tersebut jika bersabar.

Jika kebetulan saat ini kita mendapatkan ujian kesenangan misalnya, hidup berkecukupan, anak-anak yang sehat, suami yang ganteng dan istri yang cantik, karir bagus, maka kita perlu bersyukur tetapi juga perlu waspada. Dengan waspada bukan berarti kita terus berjaga-jaga sehingga kita malah menjadi tidak tenang dalam menjalani hidup karena khawatir semua kenikmatan yang sedang kita rasakan akan hilang. Namun yang perlu kita tanamkan dalam hati, adalah apapun yang akan menimpa kita, baik senang ataupun susah, berkecukupan atau berkekurangan, suka ataupun duka, semuanya harus kita hadapi dengan sabar bila kita ingin menjadi orang yang beruntung. Terima saja semua keteapan Allah untuk diri kita, selalu berprasangka baik atau berpikir positif saja. Sedih dan tangis jangan berlebihan, tawa dan gembira juga jangan berlebihan.

Ar-Razi menulis pula dalam tafsirnya: “Dalam Surat ini terkandung peringatan yang keras. Karena sekalian manusia dianggap rugilah adanya, kecuali barangsiapa yang berpegang dengan keempatnya ini. Yaitu: Iman, Amal Shalih, Pesan-memesan kepada Kebenaran dan Pesan-memesan kepada Kesabaran. Itu menunjukkan bahwa keselamatan hidup bergantung kepada keempatnya, jangan ada yang tinggal. Dan dapat juga diambil kesimpulan dari Surat ini bahwa mencari selamat bukanlah untuk diri sendiri saja, melainkan disuruh juga menyampaikan, atau sampai-menyampaikan dengan orang lain. Menyeru kepada Agama, Nasihat atas Kebenaran, Amar ma’ruf nahyi munkar, dan supaya mencintai atas saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya. Dua kali diulang tentang pesan-memesan, wasiat mewasiati, karena pada yang pertama menyerunya kepada jalan Allah dan pada yang kedua supaya berteguh hati menjalankannya. Atau pada yang pertama menyuruh dengan ma’ruf dan pada yang kedua mencegah dari yang munkar. Di dalam Surat Luqman, 21:17 dengan terang-terang ditulis wasiat Luqman kepada anaknya agar dia suka menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat munkar dan bersabar atas apa pun jua yang menimpa diri.

Menurut keterangan Ibnu Katsir pula di dalam tafsirnya: “Suatu keterangan daripada Ath-Thabrani yang ia terima dari jalan Hamaad bin Salmah, dari Tsabit bin ‘Ubaidillah bin Hashn: “Kalau dua orang sahabat Rasulullah SAW bertemu, belumlah mereka berpisah melainkan salah seorang di antara mereka membaca Surat Al-‘Ashr ini terlebih dahulu, barulah mereka mengucapkan salam tanda berpisah.”

Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan Hadis pertemuan dan perpisahan dua sahabat ini berkata: “Ada orang yang menyangka bahwa ini hanya semata-mata tabarruk (mengambil berkat) saja. Sangka itu salah. Maksud membaca ketika akan berpisah ialah memperingatkan isi ayat-ayat, khusus berkenaan dengan pesan-memesan Kebenaran dan pesan-memesan atas Kesabaran itu, sehingga menimbulkan kesan yang baik.”

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Kalau manusia seanteronya sudi merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya.”

Syaikh Muhammad Abduh menafsirkan Surat ini dengan tersendiri, dan Sayid Rasyid Ridha pernah mencetak tafsir gurunya ini dengan sebuah buku tersendiri pula, dan menjadi salah satu pelajaran kami di Sumatera Thawalib, Padang Panjang pada tahun 1922.

Selanjutnya tetaplah berpegang pada tali agama Allah, bersandar pada kekuatan-Nya dan serahkan segala urusan pada-Nya, maka Allah akan membukakan jalan-Nya un tuk kita.

Lain bila kita marah, kesal dan berpikir negatif kepada Allah, maka semuanya akan terlihat jelek. Kita tidak bisa melihat jalan keluar walau sebenarnya sudah ada di depan mata kita. Ini baru kerugian kecil yang akan dialami bila kita tidak pandai bersabar. Belum lagi kerugian dan penyesalan yang akan menimpa kita di akhirat. Mereka yang mendapat ujian, kemudian bersabar adalah orang-orang pilihan karena tidak semua kita bisa bersikap seperti itu. Mereka, adalah guru bagi sesama untuk terus belajar berbuat kebaikan, berlaku sabar dan kita harus senantiasa menguatkan iman agar bisa seperti mereka, karena iman adalah energi hidup itu sendiri.

Sebagai sesama muslim, kita berkewajiban untuk saling menasihati agar senantiasa berada di jalan lurus yang diridhoi Allah Swt. Menasihati dengan tulus dan sabar agar kelak kita bisa bersama-sama meraih kemenangan dan keberuntungan yang dijanjikan Allah, yaitu kenimatan surga

Demikianlah beberapa hal yang bisa saya sampaikan melalui tulisan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallah a’lam.

SPARKS:

Who is sincere in its efforts to find the truth, always be patient and do not despair then Allah will show him the way. Goodness will be gained not only in the world, but also in the hereafter.

Living a family life like across the ocean. The water was not always calm, there will be a small wave, even that hit ark. Therefore, patience is needed because the test can come from any direction, including from our spouse. When we put Allah above all else then Allah will always keep us and Allah will not waste the good deeds of His servants

Bolehkah Menonton Permainan Sulap ?

magician-33922__340
Pixabay.com

Ternyata menonton permainan sulap itu hukumnya haram ya, saya dan mungkin juga para pembaca artikel ini pasti pernah menonton sulap kan ? Semoga Allah mengampuni saya dan kita semua yang pernah menonton karena belum tahu hukumnya, aamiin. Artikel berikut ini akan mengupas lebih jauh tentang permasalahan ini dari perspektif Islam.

Seringkali kami mendengar tentang apa yang dilakukan oleh para penyulap berupa atraksi-atraksi mereka yang disaksikan oleh anak-anak muslimin, baik melalui layar televisi atau secara langsung di sebagian daerah dengan atraksi yang cepat dan tersembunyi sehingga mengundang perhatian mata.

Seperti mematikan dan menghidupkan burung, mengeluarkan telur dari dua tangan, dan hal-hal semacam ini. Lantas apa hukum dari menyaksikan hal itu dan apakah hal tersebut termasuk sihir?

Jawab:

Ya, itu termasuk salah satu macam sihir, yang disebut sihir takhyil (pengkhayalan/ilusi) semacam sihir yang dilakukan para tukang sihir Fir’aun, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan dalam surat Thaha ayat 66:

يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى

Terbayang kepada Musa seakan-akan ia (tali-tali dan tongkat-tongkat mereka) merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (Thaha: 66)

Juga firman-Nya:

قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Musa menjawab: ‘Lemparkanlah (lebih dahulu)!’ Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (Al-A’raf: 116)

Hal-hal yang dilakukan para tukang sulap dalam sihir jenis ini adalah tidak sebenarnya. Bahkan hanya penipuan khayalan yang dilakukan penyulap untuk mengundang perhatian mata orang kepada apa yang dilakukannya dengan kecepatan tangannya.

Adapun itu disebut sebagai sihir, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya demikian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang para tukang sihir Fir’aun:

وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

…Serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (Al-A’raf: 116)

Akan tetapi, tanpa diragukan, tidak boleh menyaksikannya dan haram bagi seseorang melihatnya. Semestinya seseorang memperingatkan anak-anaknya agar tidak melihat yang semacam itu. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka mengalihkan pada pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.

Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (An-Nisa’: 140)

Melihat sesuatu yang mungkar, padahal kita tidak mampu mengingkari. Kita juga dilarang duduk-duduk bersama orang yang melakukannya, karena dengan duduk di situ mengisyaratkan bahwa ia rela dengan perbuatan tersebut. Sementara sihir merupakan kemungkaran yang besar. Semestinya kita menjauhi tempat-tempatnya dan orang yang melakukannya. Demikian pula dalam permainan ini terkandung kesyirikan dan kekafiran, karena pesulap yang melakukan hal ini beranggapan bahwa ia memiliki sifat Rububiyyah (ketuhanan) yaitu kemampuan untuk menghidupkan sesuatu yang mati.

Orang yang menganggap dirinya mampu melakukan demikian maka dia telah kafir, karena ini adalah kekhususan Rabb yang Maha Suci dan Tinggi.

Yang penting di sini, kami katakan bahwa tidak boleh menyaksikan permainan yang dilakukan para pesulap dan mengandung sihir takhyil yang juga memuat hal-hal yang kufur (kekafiran), syirik, atau haram, baik melalui media penyiaran atau yang lain. (Diambil dari kitab Kaifa Tatakhallas minas Sihr)

Sumber Asysyariah.com Penulis : Redaksi Judul: Bolehkah Menonton Sulap?

Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya

kartun-dua-akhwat-putih-kuning
Yahoo image

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.(QS. Al Waqiah : 22-23)

Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

  1. Bertakwa.
  2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
  3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
  4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
  5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
  6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
  7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
  8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
  9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
  10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
  11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
  12. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
  13. Berbakti kepada kedua orang tua.
  14. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu A’lam Bish shawab

Bertaubatlah Sebelum Ajal Menjemput

imageedit_1_3292212132
Pixabay

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Jika telah datang kematian dan kita belum sempat bertaubat, maka jangan kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengadzabnya di alam kubur, maka Allah mengadzabnya dengan keadilan. Jika Allah menghimpitkan bumi ke tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, maka Allah menyiksanya dengan keadilan-Nya. Dan jika mereka merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Dan ketika mereka diadzab di neraka, itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Allah tetap Maha Adil dan tidak berbuat dhalim kepada makhluk-Nya.

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

قَالَ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا بْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا بْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغْتَ ذُنُوْبَكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا بْنَ آدَمَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. (رواهالترمذيوحس

“Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” (HR. Tirmidzi dan di Hasankan oleh beliau).

Pintu Taubat Belum Ditutup

Setelah kita mengetahui, bahwa kematian adalah suatu kepastian, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan dan semua telah tertulis dalam catatan takdir, maka seorang yang beriman tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian itu.

Untuk itu perbanyaklah bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala, wahai saudaraku kaum muslimin dan beramallah! Minta ampunlah kepada Allah dari dosa- dosa yang telah lalu dengan bertekad untuk menempuh hidup baru di jalan Allah Ta’ala. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang pasti akan mengampuni dan menyayangi hamba-nya yang mau bertaubat.

Allah berfirman: Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan. (HR. Tirmidzi –dan beliau menghasankannya).

Bertaubatlah! Dan janganlah putus asa dari rahmat Allah. Rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosamu, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengatakan dengan kasih sayang-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. ]الزمر: 53[

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (az-Zumar: 53)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالَ لاَ تَخْتَصِمُوْا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيْدِ. مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَآ أَنَا بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ. ]ق: 28-29[

Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat dhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (Qaf: 28-29)

Allah Subhanahu wata’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya. Allah telah memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.

Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang bermudharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: كُلُّ أُمَتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. فَقَالُوْا: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى. (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan”. (HR. Bukhari)

Dengan demikian orang-orang yang enggan untuk masuk surga adalah mereka yang memilih kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغَ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ. (أخرجه ابن أبي عاصم في السنة)

“Telah kutinggalkan bagi kalian petunjuk yang nyata. Malamnya seperti siangnya sama (terangnya), tidaklah menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”-nya)

Hanya orang yang sombonglah yang engan untuk masuk surga. Hanya manusia yang kejilah yang mengingkari kenikmatan Allah dan tidak mensyukurinya.

Saat Pintu Taubat Akan Ditutup

Ingatlah wahai saudaraku, kematian terus mendekat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; hal itu berarti pintu taubat semakin dekat untuk ditutup.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه الترمذي وقال حديث حسن)

Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab (semoga Allah meridhai keduanya) dari Nabi beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya. (HR. Tirmidzi dan beliau katakan haditsnya hasan).

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ. (رواه مسلم)

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang terlalu yakin umurnya akan panjang, maka dia akan kecewa. Barangsiapa yang merasa akan terus hidup dan tidak akan mati pasti dia akan merugi. Dan barangsiapa yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka dialah Yahudi yang cinta dunia dan takut mati.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

…يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللهُ بَصِيْرٌ بِمَا يَعْمَلُوْنَ. ]البقرة: 96[

“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. “(Al-Baqarah: 96).

Dengan iman dan amal shalih-lah seharusnya kita menyongsong kematian ini dengan tenang, hingga kita akan dipanggil oleh Allah dengan ucapan:

يَآ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ]27[ ارْجِعِيْ إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَّةً مَرْضِيَّةً. ]الفجر: 27-28[

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. “(al-Fajr: 27-28).

Lebih rinci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam riwayat dari al- Bara’ bin ‘Azib: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila dia menghadap kematian dan meninggalkan dunia, turunlah para malaikat kepadanya, seakan-akan wajah-wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan kapur barus dari surga, dan duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai ruh yang baik, keluarlah engkau kepada ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan kisahnya: “Maka keluarlah ruh tersebut, mengalir bagaikan aliran air dari bibir ceret (tempat air minum). Kemudian malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Dan ketika mengambilnya dia tidak membiarkannya di tangannya, bahkan mereka langsung mengambil dan memasukannya ke dalam kafan dan kapur barus yang mereka bawa. Keluarlah dari jiwa tersebut wewangian yang lebih harum dari misik yang terbaik di muka bumi ini”.

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan: “Kemudian mereka membawa naik ruh tersebut ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat, kecuali mereka berkata: “Ruh siapakah yang harum ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan”. Mereka menyebutkan dengan sebaik-baik nama yang dia dipanggil dengan nama tersebut di dunia sampai berakhir di pintu langit.

Dan mereka minta untuk dibukakan untuknya, maka dibuka-kanlah pintu langit untuknya. Seluruh penduduk langit dari kalangan malaikat yang didekatkan mengantarkan ruh tersebut ke langit yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai berakhir pada langit yang di atasnya Allah beristiwa’. Allah pun berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyin….”

Adapun tentang orang kafir Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ketika orang kafir akan mati, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah yang hitam. Mereka membawa kain kafan, dan duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut dari sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Maka berpencarlah ruh itu di seluruh jasadnya (menolak untuk keluar –pent.)

Kemudian dicabutlah ruhnya seperti dicabutnya duri dari bulu- bulu wol yang basah. Setelah (ruh itu) diambil, tidak dibiarkan di tangannya sekejap mata pun, hingga diletakkannya di kafan tadi yang mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Kemudian mereka naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata: “Siapakah ruh yang jelek ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan” dengan disebutkan sejelek-jelek nama yang dia dipanggil di dunia sampai berakhir ke akhir langit dunia dan meminta untuk dibukakan langit, tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat Alllah Subhanahu wata’ala:

…لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ… ]الأعراف: 40[

sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum(al-A’raaf: 40)

Kemudian Allah berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling rendah”. Kemudian dilemparkan ruhnya dengan satu lemparan, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ… ]الحج: 31[

Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh(al-Hajj: 31)

Maka kembalilah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya: “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi: “Siapakah orang yang diutus kepadamu?” Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Maka dikatakan oleh penyeru dari langit: “Dia berdusta. Hamparkanlah hamparan dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka”. Maka sampailah kepadanya hawa panas api neraka…. (HSR. Imam Ahmad , Abu Dawud, Hakim, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah)

Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 56/Th. II, tgl 28 Shafar 1426 H, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli: Menyongsong Kematian.

Sumber : http://qurandansunnah.wordpress.com/

SPARKS:

Once we know that the death is a certainty, can not be moved forward and become irreversible and all have been written in the notes destiny, then the believer would be preparing for the arrival of death. So ask forgiveness of Allah glory to Him, O my brother Muslims and do more goodness! Ask Allah! Forgive the sins of the past by committing to a new life in the path of Allah Ta’ala. Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful will accept the repentance of His servants for whatever sins.

==================