Cara Bersyukur Pada Allah

imageedit_33_6498153213
spreadthepearl.com

 

بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ

Pengantar

Ketika memikirkan dan merenungkan secara mendalam tentang kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya terutama manusia, maka dapatlah kita memahami dan menyadari betapa besar dan luasnya kebaikan, cinta dan kasih sayang Allah itu untuk manusia. Pada diri kita Allah telah menyempurnakan nikmat penciptaannya baik secara fisik maupun psikis sehingga menjadilah kita makhluk dengan sosok dan bentuk yang sebaik-baiknya. Dan, karena nikmat Allah berupa iman dan Islam, maka manusia bisa menjadi makhluk atau hamba yang melambung tinggi derajatnya di sisi Allah, tetapi juga bisa jatuh terjerembab dalam lumpur dosa bila kufur nikmat, sehingga ia berada pada derajat yang paling rendah di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Tin ayat 4-5 berikut ini :

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4

5) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

Dalam tulisan ini, istilah cinta, kasih sayang dan kebaikan Allah itu, saya sebut sebagai nikmat atau lebih jelasnya nikmat Allah. Jadi oleh karena itu, alangkah sombong dan tidak tahu dirinya manusia jika ia tidak mau bersyukur atas semua pemberian Allah itu padanya. Kalau bukan karena kebaikan Allah berupa taufik dan hidayahNya maka pastilah kesesatan dan kegelapan jualah yang akan kita alami dalam kehidupan di dunia ini. Sesat karena tak tahu kemana arah yang seharusnya dituju, dan gelap karena tak ada cahaya iman yang akan menerangi jalan yang dilalui. Oleh karenanya, adalah sudah sepantasnyalah kalau kita pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah tanpa diperintah oleh si pemberi nikmat, apalagi ada perintah  yang sifatnya wajib. Kenapa? karena setiap saat tanpa di sadari, kita selalu mendapat curahan rahmat dan nikmat Allah, seperti setiap halaan atau keluar masuknya nafas kita, itu pertanda bahwa kita mendapat curahan nikmat Allah berupa oksigen yang sangat kita butuhkan untuk keberlangsungan hidup kita, belum lagi nikmat-nikmat Allah yang lainnya yang tak terbilang.

Pengertian

Yang dimaksud pada judul di atas adalah cara mensyukuri nikmat. Sudah pasti yang dimaksud adalah nikmat Allah yang kita nikmati sepanjang hidup kita. Apa yang dimaksud dengan syukur nikmat, dan apa pula yang dimaksud dengan kufur nikmat? Secara sederhana syukur nikmat adalah merawat dan menggunakan segala nikmat yang ada pada kita sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhananhu wata’ala. Sebaliknya kufur nikmat adalah kebalikannya, yaitu mengingkari atau tidak mau merawat dan menggunakan segala nikmat Allah yang ada padanya  sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Syukur nikmat atau mensyukuri nikmat Allah tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kalimat syukur alhamdulillah, akan tetapi adalah dengan menggunakan segala nikmat Allah itu sesuai dengan fungsi dan peruntukkannya yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Hal ini dapat kita ambil sebagai salah satu contoh misalnya, nikmat mata. Allah telah memberi kita sepasang mata yang fungsinya untuk melihat. Pertanyaannya, sudahkah kita menggunakan mata kita untuk melihat hal-hal yang sesuai dengan ketentuan dan diridhai oleh Allah? Kalau ya/sudah, maka berarti kita telah mensyukuri nikmat Allah berupa mata tadi, dan itulah syukur nikmat. Tetapi kalau belum/tidak, maka itu artinya kita belum atau tidak mensyukuri nikmat Allah berupa mata, dan itulah kufur nikmat. Saya berikan penegasan di sini, bahwa mensyukuri nikmat itu adalah menggunakannya sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dan diridhai oleh Allah. Jadi penggunaan di luar batasan tersebut tidak bisa disebut sebagai syukur nikmat akan tetapi kufur nikmat.

Cara Mensyukuri Nikmat

Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif, iHaqi, Ustaz Erick Yusuf mengatakan bahwa ucapan hamdallah hanya satu cara. Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah SWT.

Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta’ati aturan Allah dalam segala aspek kehidupan

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini dapat mengingatkan kita untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong tak tahu diri, dan mereka adalah orang-orang yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Penjelasan Al Qur’an

Mensyukuri nikmat adalah perintah Allah yang wajib diimplementasikan oleh setiap orang yang beriman, sebagaimana firman Allah berikut ini : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. 2:172)

Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) pada sesama manusia yaitu kepada kedua orang ibu bapak kita, sebagaimana Allah menjelaskan dalam firmanNya berikut ini :“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12)

Penutup

Sebagai penutup, saya ingin mengajak saudaraku muslim semuanya yang kebetulan mampir dan membaca tulisan singkat ini, marilah kita saling ingat-meningatkan tentang apapun perihal Islam ini. Karena masih banyak sekali tentunya, hal-hal yang masih perlu kita sama-sama ketahui dan dalami tentang agama ini. Di sini saya mengajak pada kita semua, pikirkanlah dan renungkanlah dengan hati yang bersih dan jernih tentang betapa besar dan luasnya kasih sayang dan kebaikan Allah subhanahu wata’ala kepada kita semua, yang mana itu semua adalah nikmat Allah yang telah kita nikmati selama ini dalam hidup kita. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Mengapa dan apa pentingnya kita saling ingat-mengingatkan? Pentingnya, adalah karena tidak jarang di antara kita masih ada bahkan masih banyak yang tidak juga mau bersyukur, meskipun sebenarnya dia sudah tahu dan paham tentang hal itu, tetapi karena godaan dan bisikan syetan yang senantiasa mengajak kita kepada kufur nikmat, maka sering kali kita kalah dalam mempertahankan kebenaran yang kita yakini. Subhanallah, kalau sudah demikian dan tidak juga mau bersyukur, maka Allah Azza wajalla bertanya kepada kita, فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan? Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  Pertanyaan ini berulang sampai 31 kali dalam Al Qur’an surat Ar-Rahman dari awal hingga akhir surat. Betapa ini menunjukkan bahwa Allah Azza Wajalla sungguh ingin mengingatkan kita agar jangan sampai kita kufur nikmat.

Demikianlah sekelumit goresan pena ku malam ini, semoga ada manfaatnya bagi pembaca dan mohon maaf dan koreksinya bila ada kekurangan dan kekeliruan  di dalamnya. Allahu a’lam 

 

AL-HADITS :

“Apabila seseorang melihat orang cacat lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi) Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhlukNya”, maka dia tidak akan terkena ujian seperti itu betapapun keadaannya.” (HR. Abu Dawud)

Baca juga 

Barisan Hizbullah Peran Jihad Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Begini analisa menarik penulis Tionghoa soal kasus Ahok

Desa di Sulawesi mendadak jadi kampung cina

Syukurilah Semua Pemberian Allah Pada Kita

th (6)
pixabay.com

Dalam buku “Tazkiyatun Nafs” yang memaparkan intisari Ihya Ulumuddin Al-Ghazali, Said Hawwa menuliskan bahwa syukur adalah mengerahkan secara total segenap potensi yang ada untuk hal yang paling dicintai oleh Allah Swt.

Di kala kita berada dalam suasana penuh kesenangan, kegembiraan dan segala macam kemudahan sering kali kita lalai dari bersyukur kepada Allah Swt yang telah memberikan segala kenikmatan itu. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an yang artinya, “…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (QS.Saba[34]:13).

Setan juga menggunakan segala macam cara untuk membuat manusia lalai dari bersyukur kepada Allh Swt. Sebagaimana dijelaskan Allh dalam Al Qur’an yang artinya, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’ay).” (QS.Al A’raf[7]:17)

Untuk itu semua, sudah seharusnya kita menggunakan seluruh nikmat yang telah Allah Swt berikan itu di jalan yang diridhoi-Nya dan tidak menggunakannya untuk perbuatan maksiat kepada Allah. Inilah perwujudan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Kita hendaknya menyadari, bahwa segala yang kita miliki mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, semuanya adalah pemberian gratis dari Allah, dan dengan itu pula kita dapat mengelola dan memanfaatkan akal dan pikiran kita untuk mendapatkan atau memenuhi kebutuhan kita. Kita boleh memiliki apa saja yang kita inginkan sepanjang kita mampu untuk mendapatkannya. Tapi jangan pula dilupakan bahwa untuk mendapatkanya hendaklah dengan cara-cara yang diridhoi oleh Allah, jangan sampai menghalalkan segala cara.

Jika kita orang yang beriman dan mengharapkan pertemuan dengan Allah di akhirat kelak dalam suasana yang menyenangkan dalam surga, maka mulai detik ini syukurilah semua pemberian Allah dan gunakanlah semua itu untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.

 

Dan jangan pernah bermain-main atau meremehkan pemberian Allah. Dialah yang menyediakan untuk kita oksigen secara gratis sehingga kita bisa tetap bernafas dan jantung kita dapat terus berdetak memompa darah agar bisa dialirkan ke seluruh jaringan tubuh kita. Sadarkah kita akan semua itu? lalu nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kau dustakan? Subhaanallah…

Penglihatan, pendengaran, tangan dan kaki kita adalah bagian dan nikmat Allah Swt yang diberikan-Nya kepada kita. Sudahkah kita mensyukurinya? Dan, bisakah kita menerima dengan ikhlas seandainya Allah Swt mencabut kembali pemberian-Nya itu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.Saya dan juga anda hanya berkewajiban untuk saling mengingatkan sebagai sesama muslim. Karena itu, marilah mulai detik ini juga, kita tunduk rukuk dan bersujud kepada Allah. Bayangkanlah semua kelalaian kita selama ini, dari mengingat dan menyukuri pemberian-Nya Yang Maha Luas itu untuk kita dan segeralah beristigfar dan mohonlah pengampunan atas dosa dan kesalahan kita selama ini. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Bentuk lain dari rasa syukur kita kepada Allah Swt adalah dengan menjaga lisan yang juga merupakan nikmat pemberian Allah Swt. Menjaganya dari hal-hal yang dapat mengundang murka Allah Swt, seperti membicarakan kejelekan orang, menfitnah, berdusta, mengolok atau mencaci maki. Kita juga hendaknya menggunakan lisan untuk berkata yang baik-baik, seperti mengajak orang pada kebaikan, mengucapkan kalimat thoyibah seperti dzikir kepada Allah juga saling menasihti untuk kebenaran, kebaikan dan kesabaran. Ingatlah selalu, bahwa “Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan taubatan yang sebenar-benarnya.”

Cinta Dan Benci Karena Allah

tulip-landscape-1405386__180
Pixabay.com

Sebenarnya, cinta dan benci hanyalah dua sisi dari satu mata uang yang sama (just two sides of the same coin). Tetapi, cinta tidak selalu membawa kebaikan, demikian pula benci tidak selalu merupakan keburukan. Keduanya bergantung pada apa dasar atau alasan dari keduanya. Tentu kita sepakat bahwa apabila keduanya (cinta dan benci) didasarkan pada ridho Allah shubhanahu wata’ala semata dan bukan karena nafsu, harta maupun kecantikan/ kegantengan, maka pastilah keduanya menjadi kebaikan dan keberkahan. Itulah yang akan dikupas dalam artikel berikut ini mudah-mudahan bermanfaat.

Straight Path

Artikel ini saya salin dari media Bulletin At Tauhid, yang di dalamnya berbicara tentang Cinta dan Benci karena Allah. Jadi bukan karena selain Allah, Bukan karena kecantikan/ ketampanan, jabatan, kekayaan,atau hal-hal lain selain dari pada “karena” Allah Subhanahu wataala Azza wa Jalla. Menarik untuk dipahami lebih lanjut, semoga bermanfaat.

Ini teksnya :

Cinta dan benci karena Allah. Dengan kecintaan semacam itulah seorang hamba akan bisa meraih manisnya iman. Setiap mukmin tentu mencintai Allah. Karena Allah lah yang paling berjasa kepada umat manusia dan alam semesta seluruhnya. Konsekuensi dari kecintaannya kepada Allah adalah dia akan mencintai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci. Maka, dia akan mencintai keimanan, ketaatan, dan sunnah. Sebagaimana dia akan membenci kekafiran, kemaksiatan, dan bid’ah.

Oleh sebab itu orang yang beriman (bertauhid) akan mencintai orang beriman yang lain. Dan sosok yang paling layak dia cintai adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesudah…

Lihat pos aslinya 961 kata lagi