Selalu Ada Kebahagiaan Di Penghujung Kesedihan

download (15)
pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Ini merupakan kelanjutan dari kisah sedih yang keluarga saya alami atas kematian putra tercinta kami Muhammad ‘Alauddin Ramiz, yang saya tulis pada postingan sebelumnya dengan judul “Semuanya Sudah Sangat Terlambat”. Ikutilah kisah selanjutnya berikut ini.

Malam itu, ba’da shalat maghrib, kami berempat, saya bersama istri dan anak serta bibi-nya berangkat menuju rumah sakit Bio Medika Mataram. Beberapa saat sesampai di sana dan mendaftarkan, saya langsung dipanggil masuk oleh dokter, lalu sayapun masuk bersama anak. Setelah memeriksa anak saya, dokter menyuruh saya untuk mengantarkan anak keluar ke ibunya di ruang tunggu, karena ada yang mau dibicarakan hanya berdua dengan saya saja. Melihat kejadian itu, rupanya istriku dan kakaknya yang berada di ruang tunggu merasa aneh dengan gelagat yang terjadi. Mereka merasa ada yang tak beres, mengapa dokter harus berbicara berdua saja dengan suamiku, tanpa boleh didengar oleh pasien (anakku).”Ini pasti ada yang dirahasiakan”. Itu perasaan mereka pada waktu itu.

Hal ini adalah wajar, karena sebelumnya mereka memang tak menyangka kalau penyakit yang diderita anak kami (Amy) belumlah separah itu. Sayapun sebenarnya punya anggapan seperti itu sebelum diberitahu oleh dokter. Mengapa demikian?karena pada kurung waktu kurang lebih 3 minggu sebelumnya, belum nampak perubahan drastis pada kondisi fisik putra kami, (seperti yang terjadi di saat-saat terakhir kami membawanya ke dokter). Namun, karena saya sudah terlebih dahulu mengetahui hasil pemeriksaan dokter, jadi saya sudah punya sedikit kesiapan mental untuk menghadapi apapun yang terjadi.

Ketika saya selesai berbicara dengan dokter,  saya pun keluar untuk menemui mereka di ruang tunggu. Saat itu saya bingung, bagaimana saya harus menjelaskan hal ini kepada mereka, agar mereka tidak sampai sok dan juga tidak sampai didengar oleh anak kami Amy. Pasti mereka akan sok jika saya langsung memberitahukan status penyakit anakku.

Karena itu, saya coba “bersandiwara” mengajak istri ke kamar kecil sebentar, sambil ke apotik untuk membayar obat agar masalah ini tidak sampai diketahui oleh anak kami dan di sana saya bisa menjelaskan masalah ini kepada istriku. Di situlah saya memberitahukan hal itu kepada istriku, bahwa penyakit anak kami sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk bisa disembuhkan. Mendengar itu, istriku langsung berurai air matanya dan kami berdua saling berpelukan dalam kesedihan yang amat sangat.

Orang-orang yang melihat kami tidak ada yang bertanya, mungkin karena mereka tidak mengenal kami.  Karena tidak enak dengan banyak orang di tempat itu (toilet), kami pun kembali ke ruang tunggu sambil mengusap dan membersihkan bekas linangan air mata di wajah kami berdua. Setelah ngobrol sebentar dengan anak kami dan tantenya, lalu kamipun pulang. Dalam perjalanan pulang ke kos kakaknya tempat kami menginap selama di Mataram, kami mampir dulu di agen bis “Dunia Mas” untuk memesan tiket pulang ke Dompu lusa paginya. Waktu itu kami menginap lagi dua malam di Mataram, berhubung besok paginya kami harus menghadiri upacara wisuda kakaknya (anak saya yang pertama). Tentunya, dalam acara semacam itu, seharusnya kami semua merasa bahagia dan gembira, apalagi anak pertama kami yang diwisuda pada acara itu, lulus dengan predikat Cumlaude. Sesuatu yang tentunya, layak dibanggakan dan juga membanggakan kami kedua orang tuanya.

Akan tetapi apa yang terjadi? Suasana bahagia dan gembira yang dirasakan orang pada saat itu sama sekali tidak bisa kami rasakan. Yang kami rasakan dan pikirkan hanyalah nasib si bungsu yang telah divonis oleh dokter. Yang umurnya hanya tinggal tiga bulan lagi hidup bersama dengan kami. Meski demikian, kami dan terutama saya masih punya keyakinan, bahwa sesungguhnya di penghujung kesedihan itu akan selalu ada kebahagiaan. Karena sesuai dengan janji Allah yang saya yakini, bahwa kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Kita harus terus berusaha apa pun dan bagaimanapun kondisinya. Itulah kurang lebihnya, yang saya rasakan dan yakini dalam merawat anak kami sepulang dari Mataram. Kurang lebih satu setengah bulan setelah kami kembali dari Rumah Sakit Bio Medika Mataram dan merawatnya, si bungsu anak kami tercinta meninggal dunia. Hal ini berarti lebih cepat dari perkiraan dokter pada waktu itu, yaitu kurang lebih 3 bulan menurut vonis dokter.

Meskipun kami sekeluarga telah menemani dan merawatnya dengan segala usaha pengobatan alternatif yang ada di daerah kami, namun tetaplah Allah Swt yang menentukan. Pada hari itu, almarhum terakhir memberi tahu ibunya bahwa ia pengen istirahat dulu (tidur). Ibunya yang selalu setia menemani disampingnya mengiayakan. Iapun tidur, dan mamanya seperti biasa selalu standby di samping anaknya. Saya sendiri, pada hari itu kebetulan menyempatkan diri ke kantor karena sudah cukup lama tidak masuk kantor secara rutin selama menjaga dan merawat dia di rumah, dan pihak kantorpun memberikan dispensasi untuk itu. Pada waktu itu, sekitar jam 11.00 siang, saya pamit pulang sama teman-teman di kantor, karena ada perasaan tidak nyaman dalam hati, seperti ada yang “menyuruh” untuk segera pulang. Setiba di rumah, saya langsung ke kamar untuk mengecek keadaan, ternyata benar ia sedang tidur. Mamanya bilang, bahwa ia minta diri untuk istirahat tidur.

Mendengar itu sayapun ke belakang dan berwudhu’ untuk shalat sunnat dhuha. Selesai shalat sayapun langsung kembali melihat keadaannya. Apa yang terjadi, ternyata anak kami dalam sakratul maut. Dan saya pun segera membimbing ruhnya dengan kalimat Laa ilaaha illallaah, dan akhirnya iapun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Innaa lillaahi wa innaa ilaihiraaji’uun. Ia telah berpulang ke rahmatullah dengan damai. Suara tangisan dari semua anggota keuarga-pun segera bergema mengantarkan kepergian anak kami untuk selamanya.

Dia telah pergi meninggalkan kami. Kami semua dalam keadaan duka dan kesedihan yang amat dalam. Kami sekeluarga semuanya sangat berduka atas kehilangan ini. Namun yang paling terpukul adalah istriku. Sementara saya sendiri tidak bisa menangis secara terbuka seperti dia. Hanya bisa menangis dalam hati dan itulah yang membuat saya sedikit kurus pada saat itu.

Bagi istri, peristiwa ini betul-betul sangat membuatnya berduka hingga nyaris lupa diri. Tiada hari tanpa menangis, tanpa berurai air mata, bahkan meskipun peristiwa itu sudah berlangsung dalam kurun waktu bulanan hingga tahunan, dia belum bisa segera rikaveri.

Hari berganti minggu dan selanjutnya berganti bulan, sang waktu terus bergulir. Hingga tiba saatnya, kami sekeluarga diberi beberapa kegembiraan (hiburan) oleh Allah Swt. Di mana putri kami yang nomor 2 lulus dari SMA dan selanjutnya dalam proses mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, ia pun lulus di IKIP Mataram.

Kemudian hiburan yang cukup besar lagi adalah bahwa putri kami yang nomor 1 yang baru saja diwisuda beberapa bulan sebelumnya dan mendapat predikat cumlaude juga dalam proses mengikuti seleksi penerimaan PNS lulus test CPNS sebagai tenaga pendidikan Kimia. Itulah beberapa kejadian yang menurut saya merupakan hikmah di balik musibah yang menimpa keluarga saya. Subhaanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallaahuakbar. Dan kutulis puisi ini untuk mengenangnya.

SPARK OF CONTENT :

Having passed all this time, our grief because of the death of my beloved son was finally relieved. There was some consolation that God has given to us. Our daughter number two who has just graduated from high school accepted at a university and our daughter number 1 has passed the test as a candidate for a civil servant or a high school chemistry teacher. So this is the entertainment given by God to us so that we are increasingly convinced that in this life, there is always happy at the end of sadness, like the phrase that I use as the title of this article.

Bahagia Itu Milik Orang Beriman

6335767853_8074207337_z
Yahoo image.com

Sungguh kebahagiaan itu benar-benar menjadi dambaan setiap orang, siapapun dia  dan apapun agama dan keyakinan yang dianutnya. Maka berimanlah anda secara penuh pada agama yang anda peluk saat ini, jangan setengah-setengah, insya Allah anda pasti bahagia. Bahagia yang dimaksudkan pada judul tersebut adalah kebahagiaan yang hakiki dan langgeng yang letaknya di dalam hati setiap orang yang beriman. Jadi bahagia itu betul-betul hanya miliki orang-orang beriman. bukan milik orang-orang yang tidak beriman. Mengapa bisa begitu keadaannya? Karena kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang beriman itu adalah bersumber dari keimanannya kepada Tuhan (Allah Shubhanahu wata’ala) untuk muslim/mukmin.

Terkait hal ini saya mengutip beberapa alenia dari tulisan Ibnu Anwar berikut ini.

“Kebahagiaan adalah sebuah keadaan di mana hati manusia merasakan kedamaian dan ketenteraman. Keadaan tersebut tidak bergantung pada wujud kebendaan atau raga manusia, melainkan bergantung pada suasana dan keadaan ruhani mereka masing-masing. Semenjak kebahagiaan selalu terletak di dalam hati, maka keterbatasan raga seperti apapun yang dimiliki oleh manusia pada dasarnya tak akan pernah menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka.” (Era Muslim-Media Islam Rujukan)

Ketenangan dan kebahagiaan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Tentang hal ini Allah berfirman:

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al Fath [48]: 4)

Demikian Allah shubhanahu wata’ala menjelaskan dalam firman-Nya bahwa orang-orang beriman akan mendapatkan tambahan dalam hati mereka ketenangan (sakinah) dari Allah shubhanahu wata’ala sehingga keimanan mereka akan selalu bertambah dari waktu ke waktu, tentu saja sesuai dengan keteguhan hati (istiqomah) mereka dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)

Mengapa orang-orang beriman selalu bahagia? Beberapa kutipan berikut ini adalah jawabannya, juga karena :

  1. Visi dan misi hidupnya di dunia yang sebentar ini sangat jelas arah tujuannya yaitu ingin sekali ridho Alloh, tidak geer karena pujian, tidak sakit hati karena hinaan, tidak minder karena keadaan, tidak mudah menyerah menghadapi ujian hidup (QS. Al-Bayyinah : 5) “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
  2. “Al iimaan al amnu”, iman kepada Alloh itu membuat hidupnya tenang, damai, aman dan bahagia sekali (QS. al-An’am : 82) Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
  3. Tidak ada yang ditakutinya selain Alloh (QS. Al-Baqoroh : 150) “Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”
  4. Ia serius taat, tidak maksiat (QS. Yunus : 62). “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
  5. Selalu baik sangka, tidak berprasangka buruk, tidak ada dengki dan tidak suka mencari aib orang lain, justru ia sibuk dan asyik muhasabah diri (QS. Al-Hujarat : 12) “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
  6. Keinginannya yang kuat untuk bahagia di akhirat itulah yang membuatnya sibuk dengan ibadah, amal sholeh, kemuliaan akhlak dan semangat dalam perbaikan dan kebaikan (QS. Al-Ankabut : 69) Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
  7. Tawakkalnya yang kuat kepada Alloh sehingga ia pun dalam perlindungan Alloh (QS. Ath-Tholaq : 3). “……Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Muhammad W.Budiman, Cahaya Wahyu-Menerangi Seluruh Alam Raya)
th (85)
Yahoo image

Dari urairan di atas dapat saya simpulkan bahwa bahagia itu hanya milik orang-orang beriman. Mengapa, karena orang-orang beriman sajalah yang senantiasa inggat pada Allah Shubhanahu wata’ala. “ALAA BIDZIKRILLAHI TATHMAINNUL QULUB” Yang artinya : “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang” (QS. Ar Ra’du :28). Tidak akan pernah ada kebahagiaan dalam diri dan hati orang-orang yang tidak beriman, selain hanya kesenangan dan kepuasan yang sifatnya sesaat karena hanya bersumber dari harta dan dunia. Karena mereka tidak punya visi yang ingin di raih di akhirat kelak@ Wallahu a’lam.

Demikian yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini, barangkali ada pandangan yang berbeda dari para pembaca, saya tunggu share-nya.

SPARK OF CONTENT :

Tranquility and happiness is a gift of God which is given only to those who believe. Concerning this Allah says: “It is He Who sent down tranquility into the hearts of the believers so that their faith to grow in addition to their faith (which already exist). And Allah belong the armies of heaven and earth and Allah is ever Knower, Wise. “(QS. Al-Fath [48]: 4) Why are people of faith are always happy? because: 1. The vision and mission of his life in a world that is very clear briefly toward his goal of wanting all the blessings of Allah, 2. “Al iimaan al amnu” faith in Allah that makes life calm, peaceful, secure and happy once, 3. No feared besides Allah, 4. he seriously disobedient, immoral, 5. Always good thought, no prejudice, no envy and dislike looking disgrace of others, instead he was busy and engrossed muhasabah themselves, 6. strong desire to happy in the afterlife that’s what makes it busy with worship, pious charity, moral glory and the spirit of improvement and kindness, 7. Strong faith to Allah that he was under the protection of Allah Almighty God.

Related articles :

  1. Bertaubatlah sebelum ajal menjemput
  2. Etika memberi nama anak dalam Islam
  3. Ingat dan pelihara selalu tujuan baik
  4. Bersikap tenang dan kendalikan emosi
  5. Menghargai hak dan kepentingan orang lain

Mau Bahagia? Buatlah Orang Lain Bahagia

imageedit_22_4533264037
Spreadthepearl.com

Hanya Bila Anda Sungguh Percaya. Ada semacam hukum kausalitas, sebab akibat atau apalah istilahnya. Dan itu, memang demikianlah adanya hidup ini. Jika kita ingin senang maka buatlah orang lain senang. Berbagilah kesenangan itu sekecil apapun dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, jika ingin hidup kita sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Lalu, Siapa sih yang dimaksud dengan orang lain itu? Orang lain itu adalah semua orang selain diri kita sendiri. Mulai dari orang-orang di lingkungan keluarga kita sendiri, hingga seluas-luasnya (semampu kita) untuk menjangkaunya.

Kembali pada kalimat sebelumnya, bahwa jika kita ingin hidup sengsara maka buatlah orang lain sengsara. Ah sadis benar, masa sih ada orang yang mau sengsara, tak mungkinlah itu, pasti semua pengen senang dan bahagia, nah itu yang benar. Dan Lakukanlah itu, hanya jika anda sungguh-sungguh percaya akan kebenaran pernyataan judul artikel di atas.

Memang, hukum atau rumus seperti yang kita diskusikan di atas juga bisa terbantahkan oleh sebagian realita kehidupan sosial kita. Kenyataannya, ada loh orang atau sebagian orang yang baru merasakan senang atau sukacita apabila melihat teman atau tetangganya susah. Percaya nggak anda, bahwa ada kenyataan semacam itu? Subhanallah, tapi kenyataan seperti itu memang ada, namun tidak perlu kita perpanjang membahasnya di sini.

Contoh Kecil Saja

Lalu yang penting kita bicarakan di sini adalah, bagaimana kita bisa menyenangkan orang lain, itu dulu.

Mengapa? karena hal ini amat sangat erat kaitannya dengan diri kita sendiri. Sesungguhnya, pada saat kita menyenangkan hati orang lain,  maka orang yang pertama kali merasakan kesenangan itu adalah diri kita sendiri, benarkan? Tapi dengan cara apa kita bisa menyenangkan orang lain? Anda tentu mengerti, bahwa untuk menyenangkan hati orang lain, tidak perlu dengan memberinya sesuatu yang mahal, atau yang sifatnya material, tapi mungkin cukup dengan hanya senyum yang tulus dan sapaan yang ramah tatkala bertemu. Atau juga ketika anak-anaknya rewel minta sesuatu, kebetulan ada uang receh di saku kita lalu dengan itu anaknya diam. Contoh kecil saja, Betapa senangnya anda, atau kita, ketika blogwalking kemana-mana, memberikan like dan juga komentar di blog teman, lalu temannya membalas memberikan komentar dan juga likenya, tidak hanya itu diapun membalas mengunjungi blog kita dan memberikan komentar dan likenya di blog kita, masya Allah, Indahnya hidup yang diwarnai silaturrahmi semacam ini. Sungguh, mungkin ini skenario Allah Shubhanahu wata’ala, yang menggerakkan hati dan juga tangan saya untuk menuliskan sekelumit catatan akhir tahun ini. Semoga menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi saya ke depan.

Karakter Manusia Beda-Beda

Tapi ingat, jangan terlalu banyak berharap pada sesama manusia, karena jika anda terlalu berharap banyak pada sesama manusia, anda akan kecewa. Mengapa, karena manusia karakternya beda-beda. Ada yang humanis, religius, egois, sosial, individualis dsb. Ada yang kejam, bengis, dan banyak lagi yang lainnya. Tapi jika digolongkan secara garis besar, maka karakter manusia itu hanya ada dua, yaitu manusia yang berkarakter baik dan manusia yang berkarakter buruk. Tapi di sini, kita juga perlu hati-hati dalam melihat dan menilai kondisi seseorang dengan siapa kita berinteraksi. Sebab belum tentu niat baik kita ingin menyenangkan orang lain akan direspon dengan baik pula. Karena akan sangat tergantung pada kondisi sosial psikologis seseorang pada saat itu. Ah…kejauhan pembahasannya. Saya hanya ingin membicarakan karakter manusia yang baik, karena dialah yang bisa diharapkan bisa memberikan atau membuat orang lain merasa bahagia, dan tak akan pernah bisa diemban oleh orang-orang dengan karakter buruk kecuali dia telah mendapatkan hidayah dari Tuhan. Tapi tentu, dengan banyak berharap kepada Allah, bukan berarti kita tidak lagi membutuhkan sesama, nah yang ini justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jadi yang benar adalah keseimbangan atau keselarasan antara hubungan kita dengan sesama dan hubungan kita dengan Allah. “Hablum minannaas wa hablum minallaah”.

Berharaplah Kepada Allah Swt

Berharap kepada manusia atau orang lain adalah hal yang lumrah bagi kita, karena kita saling membutuhkan dan saling ketergantungan dengan orang lain dalam hidup kita bermasyarakat. Tapi jangan terlalu berharap banyak. Berharaplah banyak-banyak kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang, maka anda dan kita semua pasti tidak akan pernah kecewa. Karena Dia-lah yang menjamin dan mengenggam di tangan-Nya nasib dan peruntungan semua hamba-Nya. Karena itu, jika anda ingin bahagia maka buatlah orang lain bahagia. Buatlah mereka senang ketika bersama anda, jangan pernah anda membuat mereka kecewa apalagi sengsara, dan berharaplah sebanyak-banyaknya kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah menyalahi janji-“Innallaha laa yukhliful mii’aad.

Demikianlah sekelumit cetusan pemikiran saya minggu ini, semoga bermanfaat.

SPARK OF CONTENT :

Share the slightest pleasure with others to see you happy, and vice versa if you want to be miserable then make others difficult. Why is that? because we as a people can not be separated from the others and therefore, their happiness is our happiness too