Dzikir Pagi Dan Petang Dan Keutamaannya

imageedit_93_8195141125
pixabay.com

Berdzikir berarti mengingat.  Berdzikir kepada Allah atau dzikrullah adalah mengingat kepada Allah shubhanahu wata’ala, zat yang maha pencipta alam semesta ini termasuk di dalamnya kita manusia. Pada dasarnya semua makhluk senantiasa berdzikir kepada Allah shubhanahu wata’ala dengan caranya masing-masing. Tetapi manusialah seharusnya yang paling berkewajiban untuk selalu mengingat atau berdzikir kepada Allah shubhanahu wata’ala. Mengapa, karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk-makhluk yang lain. Berikut ini saya sajikan sebuah artikel yang membahas tentang keutamaan dzikir pagi dan petang, semoga bermanafaat bagi kita dalam mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Straight Path

Sangat banyak ayat ataupun hadits yang menerangkan keutamaan berdzikir kepada Allah. Bahkan Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan dan menganjurkan kepada kita agar senantiasa berdzikir dan mengingat-Nya (lihat edisi 29/III tentang dzikir-dzikir setelah shalat wajib). Jangan sampai harta, anak-anak ataupun kegiatan duniawi melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun:9)

Di antara dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk dibaca dan diamalkan adalah dzikir pagi dan sore. Dzikir pagi dilakukan setelah shalat shubuh sampai terbit matahari atau sampai matahari meninggi saat waktu dhuha, kira-kira jam tujuh atau jam delapan. Adapun dzikir sore dilakukan setelah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari atau sampai menjelang waktu ‘isya.

Banyak sekali keutamaan dzikir pagi dan sore…

Lihat pos aslinya 1.660 kata lagi

Bersafar Atau Bepergian Dan Etikanya

imageedit_28_3106255020
pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setiap orang pasti membutuhkan sesuatu yang baru yang hanya ada di luar dirinya. Ia membutuhkan pengetahuan, wawasan, ilmu dan suasana yang baru. Memang kebutuhan akan wawasan, pengetahuan dan juga ilmu bisa kita dapatkan dalam rumah bahkan dalam kamar tidur kita, karena semua itu bisa kita akses melalui berbagai media elektronik dan internet yang ada dalam rumah kita, tetapi sebagai manusia kita tidak akan pernah puas dengan cara pemenuhan kebutuhan seperti itu. Kita pasti ingin mengalami dan marasakan sesuatu itu langsung di lapangan. Khusus yang berkaitan dengan kebutuhan akan suasana, maka untuk memenuhinya, mau atau tidak mau kita harus keluar meninggalkan rumah.

Kita butuh rekreasi untuk merefresh jiwa dan raga kita, misalnya pada suasana pergantian tahun yang di situ ada waktu luang yang cukup panjang (long weekend). Misalnya ada hari libur nasional di mana sangat bermanfaat sekali bagi para pegawai pemerintah maupun swasta untuk memulihkan kembali kondisi fisik maupun mentalnya setelah sekian lama dijejali dengan tugas dan pekerjaanya.

Tetapi tentu saja, yang dimaksud dengan safar atau bepergian di sini tidak hanya untuk rekreasi akan tetapi menyangkut juga bepergian yang berkaitan dengan ibadah yang khusus, seperti haji dan umrah dan lain-lain yang memerlukan perjalanan panjang.

Semua ini adalah hal yang wajar kita lakukan bersama anggota keluarga pergi ke suatu tempat atau obyek wisata tertentu. Tetapi sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah, kita perlu mengetahui apa dan bagaimana seharusnya safar atau bepergian yang sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah.

Saudara, sebenarnya saya masih sangat awam tentang hukum agama, dan saya masih terus belajar, termasuk mengenai aturan atau etika dalam bebergian. Namun demikian, saya coba membuka dan membaca buku dan literatur terkait dan juga tentunya melalui googling, akhirnya saya mendapatkan yang saya butuhkan.  Dan pada postingan kali ini saya akan coba berbagi dengan anda tentang hal dimaksud. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala  meridhoinya, aamiin.

Saudara, ada sebuah ungkapan yang mengatakan, bahwa hidup ini bagaikan roda yang terus berputar, ada yang datang dan ada pula yang pergi, ada suka dan ada pula duka. Semua itu bukanlah sesuatu peristiwa atau kejadian yang terjadi secara kebetulan, akan tetapi merupakan ketetapan Allah Subhanahu wata’ala yang berlaku di alam semesta. Dunia adalah tempat persinggahan sementara kita dalam perjalanan menuju akhirat. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang tersebut. Dalam Al Qur’an Allah berfirman :

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah:197)

Saudara, dalam surat lain Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman;

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.( QS. Al-Jumu’ah: 10).

Sesuai dengan pokok bahasan atau judul postingan di atas, pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan  beberapa etika atau adab bepergian sesuai tuntunan Al Qur’an dan Sunnah;

1. Berpamitan kepada keluarga dan kerabat.

Ketika  hendak bepergian, dianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga, kerabat dan kawan-kawan. Sebab Allah menjadikan berkah di dalam doa mereka. Inilah sunnah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin pada hari ini, yaitu melepas kepergian dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَ اَمَانَتَكَ وَ خَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan penuntup amalmu”.[HR. Abu Dawud (2600). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 14)]

Al-Imam Ath-Thibiy –rahimahullah– berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menjadikan agama dan amanah seseorang sebagai titipan, karena di dalam safar seseorang akan tertimpa rasa berat, dan takut sehingga hal itu menjadi sebab tersepelekannya sebagian perkara-perkara agama. Lantaran itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan kebaikan bagi orang yang safar berupa bantuan dan taufiq. 

Seseorang dalam safarnya tersebut tak akan lepas dari kegiatan yang ia perlukan di dalamnya berupa mengambil dan memberi sesuatu, bergaul dengan manusia. Karena itulah, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakannya agar dipelihara sifat amanahnya, dan dijauhkan dari sifat khianat.

Kemudian, jika ia kembali kepada keluarganya, maka akhir urusannya aman dari sesuatu yang membuatnya buruk dalam perkara agama dan dunianya”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidziy (8/338)]

Inilah hikmahnya seseorang saling mendoakan saat seseorang bepergian. Selain itu, berpamitan juga memiliki manfaat lain, yaitu ia merupakan kesempatan untuk memberi wasiat, pesan, dan lainnya. Sebab banyak orang yang pergi, dan tak diketahui lagi rimbanya sehingga putuslah hubungan silaturahim, atau lainnya

2. Hendaklah bepergian secara berjamaah

Islam menyerukan kepada pemeluknya untuk senantiasa bersatu dan berjama’ah, bukan berpecah belah. Begitu pula ketika bersafar dianjurkan untuk berjama’ah dan berombongan. Oleh karena itu, jika seseorang ingin melakukan suatu perjalanan, maka hendaklah ia mencari teman-teman dalam perjalanan dan jangan ia pergi seorang diri. Sebab dalam perjalanan banyak ditemukan kesusahan, bahaya, dan penderitaan.

AlKhoththobiy –rahimahullah– berkata, “Orang yang bepergian sendiri, andaikan ia meninggal, maka tidak ada yang memandikannya dan menguburkannya serta mengurus segala sesuatunya. Juga tidak ada orang yang bisa menerima wasiatnya untuk mengurus harta bendanya dan membawanya kepada keluarganya serta tidak ada yang memberi kabar kepada keluarganya. Tidak ada orang yang membantu membawa perbekalannya selama perjalanannya. Sedangkan jika ia pergi bertiga atau berombongan, maka mereka bisa saling membantu, bahu-membahu, berbagi tugas, bergiliran jaga, melaksanankan shalat secara berjama’ah dan memperoleh bagian dari berjama’ah.”[Lihat ‘Aunul Ma’bud (7/125) cet.Daar Ihya’ At-Turats Al-Arabiyyah.]

Lantaran itu, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– melarang seseorang untuk bepergian sendiri  dalam sabdanya,

لَوْ يَعْلَمُ اْلنَّّاسُ مَا فِيْ اْلوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ                                                   

 Andaikata manusia mengetahui apa (bahaya) kesendirian sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak ada seorang pengendara pun yang akan berjalan di malam hari dalam keadaan seorang diri. ” [HR. Al-Bukhoriy (no. 2998). ]

Larangan dalam hadits ini mencakup pengendara maupun pejalan kaki. Penyebutan pengendara dalam hadits ini disebabkan karena kebanyakan orang yang bepergian itu memakai kendaraan. Larangan ini pula berlaku pada waktu malam maupun siang hari. Sebab disebutkan dalam hadits ini pada waktu malam, karena malam hari lebih rawan kejahatan dan lebih besar resikonya.

3. Hendaklah ada salah seorang sebagai ketua rombongan

Tatkala melakukan safar secara berombongan maka ia memiliki keterikatan diantara banyak orang. Oleh karenanya, dianjurkan bagi orang yang bepergian secara berombongan dan yang berjumlah tiga atau lebih, agar menunjuk salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan. Tugasnya ialah memimpin dan mengurus segala sesuatu untuk kepentingan mereka bersama. Keputusannya harus dipatuhi oleh seluruh anggota rombongan dengan syarat tidak memerintahkan berbuat maksiat kepada Allah.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ,

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍفَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

Apabila ada tiga orang yang keluar dalam sebuah perjalanan, maka hendaklah mereka menunjuk salah satu dari mereka menjadi amir(ketua rombongan).”[HR. Abu Dawud (2608). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-shohihah (no. 1322)]

4. Larangan bepergian tanpa ada mahram bagi wanita.

Di dalam syariat Islam, seorang wanita tidak boleh bersafar tanpa disertai oleh mahramnya. Sebab hal itu akan menimbulkan fitnah (malapetaka) bagi dirinya dan para lelaki yang ada disekelilingnya. Oleh karenanya, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لاَيَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيْرَةً يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sepanjang sehari semalam tanpa ditemani mahram.“ [HR. Al-Bukhari(1088)]

Bahkan Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu– pernah mendengar Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِاِمْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرَنَّ اِمْرَأَةٌ إِلاََّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اُكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا وَخَرَجَتِ امْ رَأَتِيْ حَاجَةً قَالَ اِذْهَبْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

“Jangan sekali-kali seorang lelaki berada di tempat yang sepi dengan seorang wanita, dan jangan sekali-kali seorang wanita safar (bepergian jauh), kecuali bersama mahramnya.”

Kemudian ada seorang lelaki berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku sudah mendapat tugas dalam perang begini dan begini,sementara istriku pergi haji. Beliau lantas bersabda,”Berangkatlah pergi haji berrsama istrimu!!”. [HR.Al-Bukhari (3006)]

Hadits diatas adalah dalil yang paling tegas menunjukkan haramnya seorang wanita bersafar tanpa ada mahram yang meyertainya. Sebab Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– lebih mendahulukan sahabatnya untuk menemani istrinya pergi berhaji daripada ikut berperang. Wallahu a’lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat, aamiin.

SPARK OF CONTENT:

Appropriate guidance or according to the Qur’an and Sunnah there are some ethics in traveling, among them: 1. Inform the family and relatives before leaving. 2. Let go congregation, 3. Let someone as a head of the group, 4. Prohibition traveling without a mahram (some one who can not be maried) for women. “Never a man to be in a quiet place with a woman, and never a woman Safar (traveling distance), except along with her mahram.” In Islamic law, a woman should not traveling without being accompanied by a mahram. Because it will cause fitnah (catastrophe) for herself and the men around her.

Riya’ Dan Cara Menghindarinya

imageedit_5_8457466341
Pixabay

Riya’ atau boleh juga disebut pamer amal. Jadi, apapun yang kita miliki, kita lakukan, kita tampakkan kepada manusia dengan tujuan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, adalah riya’. Salah satu, atau mungkin satu-satunya sifat manusia yang sulit dihindari kemunculannya dari dalam hati kita adalah sifat riya’. Saking sulitnya untuk dihindari, hingga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun sangat mengkhawatirkan sifat riya’ ini akan menghinggapi umatnya di dalam beribadah dan melakukan amal-amal kebaikan mereka.

Kekhawatiran Nabi ini bisa kita ketahui dari sabdanya, berikut ini :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

Yang artinya : “Sesungguhnya yang paling ditakuti dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashgar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashgar ya Rasulullah? Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab ‘ar riya’.” (HR Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid no.27742).

Strategi Atau Cara Mengatasi Riya’

Dari beberapa referensi yang ada, cukup banyak cara atau strategi untuk mengatasi sifat riya’. Pada postingan ini, saya mengutip 4 (empat) strategi atau cara yang bisa kita upayakan untuk mengatasi bahaya dari sifat riya’ ini, yaitu sebagai berikut :

Pasang niat dalam hati kita, agar semua amal ibadah yang akan kita kerjakan tidak untuk mengharapkan sanjungan dan pujian dari orang lain, tetapi semata-mata ikhlas karena Allah Ta’ala.
Upayakan amalan-amalan yang sekiranya bisa disekitambunyikan pelaksanaannya, agar disembunyikan atau dirahasiakan dari mata orang lain. Misalnya amalan seperti sedekah, berdzikir, puasa, dan lain-lain.
Menyadari akan bahaya riya. Dengan kesadaran bahwa sifat riya; sesungguhnya merupakan sebuah virus penyakit yang dapat menggerogoti semua amal kebaikan , yang dengan kesadaran itu insya Allah kita akan dapat mengontrol hati kita untuk tetap fokus beramal hanya untuk mengharapkan ridho dan rahmat Allah.
Iringi selalu semua amal ibadah yang kita lakukan dengan do’a. Bacalah do’a untuk menghindari riya’ atau syirik kecil ini, sesuai yang diajarkan oleh Nabi kita, berikut ini.
اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه

“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”(HR.Ahmad)

Beberapa Bentuk Riya’

Bentuk-bentuk riya’ beraneka ragam warnanya dan coraknya. Bisa berupa perbuatan, perkataan, atau pun penampilan yang diniatkan sekedar mencari popularitas dan sanjungan orang lain, maka ini semua tergolong dari bentuk-bentuk perbuatan riya’ yang dilarang dalam agama Islam.

Hukum Riya’

Riya’ merupakan dosa besar. Karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil. Sebagaimana hadits di atas dari shahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.”
Selain riya’ merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam mara bahaya.

Jika terlintas di hati kita keinginan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang lain, maka sadarlah bahwa hal itu adalah salah satu penyakit riya yang membawa kepada kemurkaan Allah, dan segeralah mengusirnya dari pikiran dan hati kita, karena itu bisikan syetan. Sebagaimana diketahui bahwa keinginan agar orang lain mengetahui dan menyanjung apa yang kita lakukan merupakan syahwat yang dihembuskan setan untuk membawa kepada perbuatan riya. Oleh karenanya, dengan mengetahui bahaya dari perbuatan riya semoga akan menimbulkan kebencian terhadap melakukan perbuatan itu.
Riya’ atau syirik kecil ini sangat berbahaya bagi keikhlasan amal ibadah kita kepada Allah, karena itu hendaknya kita bisa membangun komitmen dan tekad yang kuat untuk melawan dan menolak kehadirannya dalam hati kita. Itulah riya’ dengan segala bentuk rupa, dan bahayanya. Semoga dengan empat cara di atas, kita bisa mengatasi bahaya riya’ dan semoga tulisan ini bermafaat, aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab
Dikutip dari beberapa sumber terkait…

SPARK OF CONTENT :

One, or perhaps the only human nature that is difficult to avoid emergence of our hearts is the nature of riya ‘. Because of the difficulty to be avoided, until our Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam was very concerned about the nature of riya’ will befall his people in worship and doing their good deeds. When it comes to our hearts the desire for adulation and praise from others, then realized that it was one of riya disease that leads to wrath, and immediately expelled from our minds and hearts, as it satanic whispers. As we know that the desire to let others know and flatter what we do is lust exhaled devil to bring to deed riya. Therefore, knowing the dangers of the act of riya hopefully will lead to hatred against committing such crimes.
Riya ‘or minor shirk is very dangerous for our deeds sincerity to God, therefore we should be able to build commitment and determination to resist and reject the presence in our hearts. That riya ‘with all such forms, and all of its dangerous impacts.

Berjanji ? Yuk, Kita Tepati Jangan diingkari

imageedit_30_7116062443
Pixabay.com

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dalam hidup ini, setiap orang pasti pernah berjanji, atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, dan hal itu adalah sesuatu yang lazim dalam hubungan kita dengan orang lain atau hidup bermasyarakat. Apakah janji itu berupa iming-iming suatu pemberian yang membuat orang lain merasa senang dan sangat mengharapkannya, atau hanya berupa janji untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat dan waktu tertentu, dan tentu masih banyak lagi macam janji.

Yang pasti janji atau lebih tepatnya berjanji itu boleh dan tidak dilarang dalam Islam, asalkan janji itu ditepati. Yang dilarang adalah mengingkari janji dan apabila itu terjadi, maka itu adalah dosa.

Dalam Al qur’an Allah Subhanahu wata’aala berfirman,

“Dan tunaikanlah janji kalian. Sungguh, janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra`:34).

Kemudian di surat lain dalam Al Qur’an Allah berfirman,

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (QS. An-Nahl:91).

Lalu Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengobral janji mereka (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka, mereka itu tidak akan mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan menyapa mereka dan tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka.

Bagi mereka azab yang pedih” (QS. Ali ‘Imran:77).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka” (QS. Annisa:145).

Itulah beberapa ayat suci Al ur’an yang menerangkan tentang janji, dimana apabila janji ditepati maka pelakunya akan diganjar dengan pahala berupa ditempatkan di surga, dan orang yang tidak menepati janji atau ingkar janji, maka dia termasuk golongan orang munafik, maka tempatnya adalah di neraka, bahkan di neraka paling bawah.

Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalaam dalam sabdanya,

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Muslim)

“Tiga hal, siapa pun yang ada pada tiga hal itu disebut munafik, kendati ia berpuasa, mengerjakan shalat, dan mengaku dirinya Muslim. Yaitu apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyalahi janji, dan apabila dipercayai ia berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim).

Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati. Oleh karena itu, Allah SWT. memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah SWT., janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar.

Itulah perbedaan antara seorang mukmin dan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya, bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)

Semua orang tidak akan suka kepada orang yang “ingkar janji”. Karenanya, cepat atau lambat dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka. Karena Ingkar janji terhadap siapapun tidak dibenarkan dalam Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela.

imageedit_4_2315913699
Pixabay.com

Dari penjelasan Al Qur’an dan hadits di atas, kita dapat mengatakan bahwa berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain (untuk kebaikan) itu tidaklah dilarang, asalkan yang membuat janji itu menepatinya, dan menepati janji itu hukumnya wajib. Oleh karena itu, ketika berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, maka biasakanlah berjanji, dengan mengucapkan kalimat, Insya Allah. semoga Allah mengijinkan kita.

Apabila karena ada satu dan lain hal janji tersebut tidak atau belum bisa ditepati, maka hendaknya harus ada penjelasan kembali mengenai alasan-alasan mengapa sebuah janji belum bisa dipenuhi, termasuk di dalamnya penjadwalan kembali (rescheduling) waktu-waktunya. Ini semua harus dilakukan agar orang lain di mana janji tersebut ditujukan, tidak merasa dibohongi dan tidak kecewa.

Semoga kita tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang suka mengingkari janji untuk selamanya hingga ajal menjemput, aamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

SPARK OF CONTENT :

In Islam, the promise is actually equal to the debt. So it must be kept and shall not be denied. As in the case of the debt, if we owe something to someone then let the debt was paid in accordance with the contract or agreement that was created earlier. So, keeping promises is part of the faith. Those who do not keep the agreement then there is no religion for him. So anyway such broken promises, including signs and proof of their hypocrisy that ugly treason and destruction of the heart. Therefore, Allah the Almighty God commanded His believing servants to always keep, maintain, and carry out his promise. This includes the appointment of a servant to Allah, promise slave with a slave, and a promise to himself as nadzar.

Ingat Dan Pelihara Selalu Tujuan Baik

imageedit_1_3529510941
pixabay.com

Bismillaah Hirahmaanir Rahiim

Setiap orang pasti akan pergi meninggalkan rumah, entah karena ada kebutuhan yang amat penting atau karena hanya sekedar berjalan mengitari rumah atau komplek di lingkungan tempat tinggal kita. Oleh karena itu, melangkahkan kaki meninggalkan rumah, entah untuk jarak yang cukup jauh atau hanya beberapa langkah saja hendaknya selalu dalam bingkai kebaikan. Karena kebaikan itulah yang akan menjadikan setiap langkah dalam perjalanan kita akan bernilai pahala.

Bukan hanya itu, perlindungan Allah swt atas keselamatan kita pun akan selalu turut serta dalam setiap langkah kita di luar rumah.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak seorangpun yang keluar dari rumahnya kecuali ada dua panj-panji (yang mengiringinya), salah satu di antaranya berada di tangan malaikat. Sedang yang lainnya berada di atangan syetan, Maka jika keluarnya untuk sesuatu urusan yang diridhoi Allah swt, ia akan diiringi oleh malaikat dengan panji-panjinya. Demikianlah ia akan selalu berada di bawah panji-panji malaikat sampai ia kembali ke rumah. Sebaliknya jika keluarnya untuk sesuatu hal yang dimurkai Allah, maka orang itu akan diiringi syetan dengan panji-panjinya. Dan demikianlah ia akan selalu di baah panji-panji syetan sampai ia pulang kembali ke rumahnya.” (HR.Ahmad dan Thabrani)

Hadits di atas tidak saja menegaskan pentingnya niat dan maksud baik sebelum melangkah, tetapi juga mengandung pengajaran agar kita senantiasa menjaga dan memeliharanya. Karena dengan mengingat dan memelihara niat dan maksud baik, tentu kita juga akan terpelihara dari pertarungan-pertanrungan yang banyak bertebaran di sepanjang jalan-jalan yang kita lalui dan tempat-tempat yang kita singgahi. Dan tentu pula kita tidak ingin langkah-langkah kita yang tadinya telah disertai dengan niat dan maksud baik, menjadi sis-sia dan ternoda oleh pertarungan-pertarungan yang remeh-temeh. Oleh karena itu, tetaplah mengingat dan memelihara niat baik yang telah kita pasangkan sejak awal di hati kita.

Al Qur’an memberikan contoh sebuah niat dan amal yang baik, yang kemudian rusak oleh pertarungan yang sia-sia. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melihat perniagaan dan permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu yang sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dari permainan dan perniagaan,” dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS.Al Jumu’ah: 11)

Pertarungan sia-sia karena sebab yang sepele, di luar sana sungguh banyak. Dan sejatinya kitapun sudah mengenalnya dengan baik, karena hidup kita yang barangkali setiap hari tidak pernah lepas dari menyusuri jalan-jalan yang panjang; untuk mengais rezeki, berdagang, menuntut ilmu, mengajar, berdakwah, dan sebagainya.

Berada di luar rumah untuk tujuan-tujuan itu, hendaknya semua berada dalam lingkaran kebaikan, yang harus terus terpelihara dengan kebaikan pula; yaitu dengan mengingat dan memelihara niat awalnya. Maka itu, sikap ini harus terus-menerus terpelihara dengan baik… Catatan ini dimaksudkan untuk mengingatkan diri saya pribadi, dan tentu saja pastilah untuk mengingatkan kita semua, semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007<

Menghargai Hak Dan Kepentingan Orang Lain

peony-800109__180Untuk berada di luar rumah bagi masing-masing orang tentu berbeda-beda porsentasenya. Hal ini semua bergantung pada pekerjaan dan profesi masing-masing. Ada yang karena tuntutan pekerjaan dan profesinya, sesorang harus berada di luar rumah atau meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang lama. Misalnya, dalam kurun waktu berhari-hari dan berminggu-minggu, bahkan ada yang bulanan dan juga tahunan.

Berada di luar rumah, sudah tentu berbeda situasinya dengan ketika kita berada di dalam rumah. Di dalam rumah kita hanya berhubungan dengan orang-orang yang kita kenal dekat seperti anggota keluarga sendiri ataupun anggota keluarga besar kita. Di luar, kita akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.

Dan di saat itu pula kita akan menemukan banyak karakter manusia yang berbeda-beda, banyak kepentingan, dan banyak hak orang lain yang tentu saja tetap harus terpenuhi, sehingga kita harus mengerti dan memahami kondisi itu demi memudahkan urusan dan kepentingan kita sendiri, menjauhkannya dari gesekan dan pertarungan yang tidak perlu.

Begitu pentingnya kesadaran ini harus dihadirkan, dan agar kita tidak menjadi pemicu munculnya pertarungan-pertarungan di perjalanan. Rasulullah saw bahkan mengingatkan kita untuk tidak memarkir kendaraan di pinggir jalan ketika ingin beristirahat. Beliau bersabda,”Bila kamu berjalan di tempat yang subur (banyak rerumputan), maka berikanlah unta itu haknya. Bila kamu berjalan di tempat yang kering maka percepatlah jalanmu. Dan jika kamu ingin beristirahat, maka menjauhlah dari jalan.”(HR.Abu Daud)

Bahkan untuk mempercepat kendaraan pun, sebagaimana hadits di atas, Rasulullah juga membolehkan dan melakukannya sendiri, tetapi tentu dengan memperhatikan kondisi jalan yang akan dilewati. Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Usamah bin Zaid ra yang pernah dibonceng Rasulullah saw dari Arafah. Zubair bertanya kepadanya, “Bagaimana perjalanan Rasulullah saw ketika beliau keluar dari Arafah?” Usamah menjawab, “Beliau berjalan tidak terlalu cepat, tetapi jika beliau menemukan jalan yang kosong beliau berjalan lebih cepat.” (HR.Muslim)
Di dalam berjalan dan mengendarai kendaraannya, menurut Anas ra, Rasulullah saw sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan.” (HR.Abu Daud)

Ini baru satu contoh. Hanya di perjalanan. Di tempat-tempat lain sama saja etikanya. Hak dan kepentingan orang lain selalu ada dan kita pun harus pandai menghargainya, demi menghindarkan diri dari pertarungan yang sis-sia . Jadi, hargailah hak dan kepentingan orang lain…Semoga bermanfaat.

Source : Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007

Bersikap Tenang Dan Kendalikan Emosi

boy-183306__180
Pixabay.com

Kondisi di luar rumah; di pasar, di jalan, dan di tempat-tempat umum lainnya yang ramai dan terkadang semrawut, tentu akan sangat melelahkan fisik. Dan ketika kondisi ini yang terjadi, jiwa kita akan mudah diguncang amarah dan emosi yang sulit dikendalikan, dan telah pula menyatu dengan berbagai kepentingan yang harus segera terlaksana.

Di sana, di luar rumah kita, kita akan bertemu dan bergesekan dengan orang-orang yang punya waktu singkat dan kebutuhan yang sangat mendesak; sedang menuju ke tempat kerja, sedang dinanti oleh keluarga yang sakit, sedang ada janji dengan orang lain, sedang mengejar jadwal keberangkatan, sedang bersiap menghadapi ujian, dan sederetan kepentingan yang mungkin tidak bisa ditunda. Sama seperti kita yang juga sedang berpacu dengan waktu untuk urusan dan kepentingan yang berbeda.

Situasi seperti itu seringkali memancing timbulnya pertarungan-pertarungan yang melelahkan, namun tidak penting dan tidak menghasilkan apa-apa. Dan kalau kita terbawa dengan adegan itu, tidak bersikap tenang, terburu-buru, dan tidak pandai meredam amarah dan emosi, tentu akan melibatkan kita sebagai petarung yang ketika kalah dihina, tetapi jika menangpun tidak dihargai.

Ini sebenarnya bukan perkara rumit, hanya butuh beberapa sikap; kesadaran, ketenangan, dan pengendalian emosi. Tetapi mungkin tidak sempat kita lakukan karena terpikir oleh kita, bagaimana kita bisa segera sampai di tujuan dan menyelesaikan urusan-urusan kita, tanpa mau tahu urusan dan kepentingan orang lain. Padahal sesungguhnya di sinilah pertarungan-pertarungan itu biasanya bermuara. Karena kita saling mempertahankan ego; ingin saling mendahului, berebut di tempat yang terdepan, pada possi yang sebenarnya tidak memberi keuntungan apa-apa.

Padahal, andaikata kita mau bersikap tenang, tidak terburu-buru, dan mau menahan emosi mungkin urusan kita akan lebih cepat selesai, dan pasti kita tidak akan terlibat dalam pertarungan yang remeh-temeh. Sebab, jika kita tetap dalam kekeukeuhan kita yang tidak berdasar itu, sebenarnya apa yang ada di benak kita juga ada dibenak orang lain. Sehingga pertarungan pun akan sulit kita hindari.

Alangkah indahnya, jika mau mendengarkan nasehat Rasulullah seperti yang diceritakan oleh Usamah bin Zaid. Ia berkata, “Aku pernah dibonceng Rasulullah menjelang malam dari Arafah. Tatkala matahari hendak tenggelam beliaupun melangkah, dan ketika mendengar hiruk-pikuk orang-orang di belakangnya, beliau berkata, “Pelan-pelanlah kalian! hendaklah kalian tetap tenang, karena kebaikan itu bukanlah ketika kalian memacu tunggangan kalian.”

Demikianlah beberapa catatan yang saya ambil dari Majalah Tarbawi-Edisi 149/15 Pebruari 2007, semoga bermanfaat.

Keutamaan Menjaga Lisan Dan Buah hasilnya

imageedit_49_5248624719
pixabay.com

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )

Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya.

Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

  1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
  2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
  3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
  4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
  5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
  6. Abu Hatim : “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya.Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
  7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”
  8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”

(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

Buah Menjaga Lisan

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

  1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah Rad. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)

  1. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

  1. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk masuk ke surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d :

Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah Rad. , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalambersabda:

Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

  1. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah Rad. :

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu a’lam.